EXO FF: POOR PRINCESS [ CHAP 2 ]

POOR PRINCESS

POOR PRINCESS

Cast:

  • Dio (EXO)
  • Byun Baekhyun (EXO)
  • Lee Ryuee, YOU

Minor Cast:

  • EXO
  • Lee Hyora (fictional)

Disclaim:

yang menciptakan mereka, dua belas bintang besar yang eksotis, EXO. Pemeran lain hanyalah fiksi yang tidak diketahui keberadaan aslinya. Tapi itu terserah dirimu.

Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Happy reading!

…………………………………………………………………….

CHAPTER 2

 

WHATT?!! ANDWAEEE!! THIS GUY!!!

“You? Hahahaha. Selamat malam, nona malang. Ternyata kau bekerja disini? Dimana kau simpan mobil mewahmu?”

SHIT!!

“I’m the owner of this caffe!” bantahku. Lelaki itu hanya tertawa renyah.

“Hm? God, I’m so surprised!” jawab lelaki itu dengan memasang wajah terkejut lalu tertawa meremehkan.

“Sudahlah, Dio. Kau hobi sekali mengganggunya,” ucap temannya yang kemarin kulihat, dia berada di samping lelaki itu. Oh, Dio. Namanya Dio. What a simple.

“Owner? Kau terlalu terobsesi rupanya. Lebih cocok seperti ini. Benarkan, Suho hyung?”

Sialan! Aku menghembuskan nafasku perlahan ketika dia melanjutkan perkataannya. Rasanya ingin aku banting buku menu tebal ini pada wajahnya.

“Ah, Lee Ryuee.” Dia membaca nametagku. “Baiklah aku ingin memesan sesuatu. Sekarang kau sedang melayaniku, bukan?”

“Argh, apa yang kau mau? Cepat katakan!” tanyaku lebih dengan nafsu amarah. Apalagi dengan melihat mimik wajahnya yang menjijikkan. Sombong!

“Woo, be calm, lady. Haha. Philandera steak dan Gordon bleu satu, ditambah ocean blue dan vanilla late satu. Ingat, waitress! Aku tidak suka menunggu lama.”

Hah apalah katamu aku tidak peduli! Dengan langkah keras aku berjalan menuju penunggu pesanan.

“Kau kenapa, nona?” tanya Soeun yang sedang menunggu kedatangan pengunjung baru.

“Orang itu! Dia! Dia sangat menyebalkan! Huaaaa~,” jawabku sambil menunjuk Dio lalu  meremas celemekku kuat-kuat.

“Maksud nona, Dio?” aku mengangguk dan menatapnya heran. Mengapa dia bisa tahu?

“Bingo! Who’s he?” tanyaku.

“Dia sering mengunjungi cafe ini dari dua bulan yang lalu. Dia juga sangat terkenal. Dio anak bangsawan yang sangat kaya, nona. Banyak yeoja yang mengunjungi cafe ini hanya untuk melihat atau menemui Dio dan juga kakaknya yang sangat populer. Menurutku, dia  sangat tampan dan cool!” ceritanya sambil memasang wajah yang ceria. Hilangkan ekspresi itu Soeun!

“Mereka populer? Mengapa aku tidak tahu?” tanyaku lebih pada diri sendiri. “Hmm, Dari luar tampak sempurna. Tapi jika kau mengetahui sifatnya, aku yakin kau tidak akan pernah menyukainya lagi, Soeun!”

“Nona mengenalnya? Jeongmal?” tanya Soeun sangat antusias.

“Aku baru bertemu tadi siang dengannya,” jawabku. Dia mengangguk paham. “Sepertinya kau tidak terbiasa memanggil namaku. Yasudah nona saja.”

Tiba-tiba ada seorang yeoja yang melambaikan tangannya kearahku. Aku menghampirinya dan membawa buku menu. Wah ternyata Hyuna. Dia adalah seorang artis.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku seramah mungkin dengan senyum terbaik. Kelima teman-temannya menatapku remeh. What the hell!

“Tolong berikan ini kepada namja yang memakai sweater hitam longgar yang disana! Meja nomor tujuh.”

Aku menerima sebuah amplop berwarna putih bersih dan wangi. Aku mendongak siapa namja yang duduk di bangku nomor tujuh.

Dio. ANDWAEEE!!!!

Bagaimana bisa Dio dikenali artis yang terkenal seperti Hyuna? Apakah mereka sudah saling kenal? Tapi itu tidak mungkin. Kalau mereka saling kenal, mungkin mereka sudah berbincang. Tidak dengan amplop putih ini.

“Sekarang?” tanyaku ragu.

“Tentu saja, pabo!”

Aku memanyunkan bibirku dan melangkah ragu menuju meja dimana Dio duduk bersama temannya itu. Hah, ternyata Hyuna orang yang sangat tidak ramah. Menyesal aku tersenyum padanya.

“Mana? Dimana pesananku?” tanyanya ketus setelah melihatku yang berdiri di sampingnya tanpa membawa pesanannya.

“Ini untukmu.”

Aku menyimpan amplop itu di atas mejanya dan kembali menuju dimana Soeun berdiri di dekat cashier.

“Disini banyak juga artis yang datang,” gumamku pada Soeun yang sepertinya sedang mengincar satu lelaki.

“Yeah.”

“Ya! Kau! Kemari!” aku menoleh ke asal suara yang sepertinya memanggilku. Tentu saja. Itu Dio. Aku menghampirinya setelah mendengus kesal.

“Ada apa lagi? Aku malas melayanimu.”

“Apa maksud isi dari surat ini?” tanyanya sambil memperlihatkan isi surat itu padaku.

Aku menyukaimu disaat pertemuan pertama kita’

“Aku tidak tahu,” jawabku apa adanya.

“Jangan berbohong. Kau tulis ini untukku, kan? Bukan pada Suho hyung?” tanyanya dengan nada jahil. Matanya menyipit.

“MWO??!! Sorry ya. Gengsi!” tukasku.

“Jujur saja. Aku tahu banyak sekali yeoja yang menyukaiku,” katanya sambil memperlihatkan senyuman itu lagi. Senyuman kematian tepatnya. Yaks.. si bibir tebal.

“Bukan aku yang menulis itu!!! Tapi dia!!!” tunjukku pada Hyuna yang sedang bercanda dengan teman-temannya.

“Hyuna?” tanyanya. Aku mengangguk cepat.

SREKK!!!

WHAT??!!! Dia menyobekkan amplop serta kertas itu dan di remasnya asal lalu di buang sembarangan begitu saja.

“Cepat antarkan pesananku!”

Aku tidak menggubrisnya dan kembali untuk membawa pesanan Dio yang sepertinya sudah siap. Hm, aku masih heran dengan kelakuannya tadi. Ada apa dengannya juga Hyuna? Sudahlah, Ryuee. Urusan orang lain jangan terlalu kau pikirkan! Tidak penting. Apalagi orang kaya sombong seperti dia.

*

Sudah pukul sembilan dan saatnya aku pulang! Meskipun cafe masih sangat ramai dengan pengunjung yang berdatangan, tapi aku tetap akan pulang. Lelah sekali. Apalagi Sehun sudah menjemputku.

Aku berjalan menuju lokerku dan berganti baju. Setelah semuanya selesai, aku mulai melangkah keluar. Dan namja itu, Dio, dia sudah pergi. Tentu saja. Dari sore dia berada disini.

DUG!!

Tiba-tiba ada satu pundak yang menyenggolku secara sengaja. Hyuna.

“Kau! Kau mengatakan apa pada Dio sampai dia berani menyobek kertas pemberian dariku, hah?!” bentak Hyuna sambil mendorongku dan mengacungkan sobekan kertasnya.

**

Aku masih menangis. Tapi kali ini tidak ada Alena di sampingku. Tapi Sehun. Adikku yang baru.

“Nuna, jangan menangis,” ucap Sehun. Aku masih menenggelamkan wajahku di antara kedua kaki yang kulipat ke atas.

“Kau tidur saja, Sehun. Ini sudah malam.”

“Tidak, nuna. Aku akan tidur kalau nuna berhenti menangis.”

“Baiklah, nuna tidak menangis lagi,” ucapku sambil menghapus air mataku dan tersenyum manis padanya. Aku memeluknya sayang. “Thankyou,” gumamku padanya. Air mataku keluar lagi. Tapi ini air mata bahagia karena ada Sehun di sampingku sekarang.

“Nuna berbohong. Nuna masih menangis.” Aku menggeleng dan menghapus lagi air mataku.

“Nuna ingin meminta keringanan pada dad. Tunggu sebentar.”

Nada sambung sudah terdengar dan akhirnya dad mengangkat panggilanku ini.

“Dad, aku ingin pindah. Please dad, jangan cafe!” pintaku.

Dad masih tidak setuju. Tapi lama-lama setelah aku memintanya dengan sungguh-sungguh, akhirnya dad memindahkan aku untuk kerja di restaurant. Hah. Hidup memang melelahkan.

“Okay, good night, Sehunnie… Saranghae…”

“Good night, nuna… nado…”

**

Hari ini sekolah libur. Seharian aku dan Sehun mendekorasi kamarku seindah mungkin. Dan akhirnya semua sudah beres. Kamarku bernuansa biru muda dan biru tua.

“Sehun!” panggilku pada Sehun yang sedang membuang sisa-sisa keperluan yang tidak terpakai.

“Ya, nuna?” sahutnya.

“Thankyou. Dan kau tahu tugasmu selanjutnya?”

“Mengantar nunaku bekerja. Haha.”

Kami tertawa bersama. Aku pikir, aku lebih suka berada disini, di rumah sederhana bersama Sehun. Dari pada di rumah besar yang dihuni juga oleh nenek sihir si perusak kebahagiaanku.

Tidak terasa sudah pukul enam sore. Aku berganti baju. Okay, tempat kerja baru. Aku mempunyai prediksi baik. Restaurant tidak akan penuh oleh anak muda, kan? Haha.

**

“Nuna, fighting!” semangat Sehun. Aku menjadi tersemangati.

“Okay! Bye! Seperti biasa, jemput nuna pukul sembilan malam!”

Aku mulai memasuki pintu masuk restaurant mewah milik dad ini. Seperti biasa para pelayan menyambutku. Aku tersenyum dan balas membungkukkan badan. Tidak lama manager datang dan mengantarku ke ruang karyawan.

Lima belas menit kemudian aku sudah berpakaian seragam karyawan. Seperti biasa lebih berbeda dan mencolok pastinya.

Aku sudah mulai terbiasa melayani para pengunjung. Jadi sudah tidak perlu lagi bantuan karyawan lain.

Pukul tujuh malam. Restaurant sangat ramai dan aku sedikit kewalahan melayani pelanggan. Sampai-sampai keringat mulai mengucur dari peluhku.

“Nona, meja nomor lima sudah di Baekhyunani?” tanya salah satu karyawan.

“Oh, sepertinya belum. Baiklah aku saja. Kau cari yang lain!”

Aku berjalan cepat menuju meja nomor lima yang ditempati sepasang suami istri dan dua anak lelakinya yang sudah besar.

“Selamat malam. Silakan tuan dilihat dulu menu spesial kami hari ini. Ada…” tiba-tiba kata-kataku terhenti ketika melihat siapa yang duduk di sebelahku ini.

Dio! MENGAPA DIA ADA DIMANA-MANA??!!! Juga dengan namja di sebelahnya. Suho.

“Ada?” tanya ahjumma yang sangat cantik ini dan tentu saja dia umma Dio.

“Uh, ada sirloin steak khas Italia,” lanjutku.

Aku sempat salah tingkah karena Dio melihatku dengan tatapan kau—tidak—bisa—menghindar—dariku. Tapi aku berusaha agar terlihat wajar.

Aku menulis pesanan keluarga bangsawan ini. Termasuk pesanan Dio yang tidak berubah dari hari kemarin sewaktu aku menemuinya di cafe. Yeah, Philandera steak. Cukup berkelas. Aaaahhh wait! Kenapa aku jadi memperhatikannya?

“Anak muda, kau terlihat tidak asing,” ucap ahjusshi. Ahjumma ikut mengangguk dan melihatku seksama.

“Jeongmal? Mungkin ahjusshi dan ahjumma salah orang. Aku hanya pelayan disini. Baiklah, pesanan akan segera di sampaikan. Jika ada tambahan, panggil saya saja. Terimakasih…”

Aku masih heran. Memangnya aku pernah bertemu dengan mereka? Atau bisa saja mereka adalah temannya daddy. Yeah, itu bisa saja.

*

(Author POV)

 

“Yeobo. Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana?” tanya ahjumma pada suaminya. Diam-diam Dio dan Suho menguping.

“Yaahh… Aku lupa,” jawab ahjusshi.

“Mana mungkin yeoja secantik itu menjadi seorang waitress. Benarkan, anakkku?” tanya ahjumma pada dua jagoannya. Suho mengangguk.

“Tidak juga, mom. Mungkin nasibnya saja yang kurang beruntung,” ucap Dio. Ibunya hanya menggeleng sedangkan Suho dan ayahnya tertawa kecil.

“Dio mengenalnya, mom, dad.” Kali ini Suho ikut berbincang.

“Really?” tanya ahjumma.

“Dia orang biasa yang mengaku kaya. Aku tidak menyukainya.”

Semua terdiam dan sibuk dalam kegiatannya masing-masing. Dio dan Suho memainkan iPhone sementara kedua orangtuanya berbincang sedikit serius. Rupanya mereka masih penasaran dengan gadis cantik tadi. Siapa lagi kalau bukan Ryuee.

Tidak lama Ryuee mendorong troli yang membawa semua pesanan keluarga Dio. Dengan sangat hati-hati dia mendorong troli itu sampai tepat di sebelah meja nomor lima.

“Silakan…”

Perlahan kedua tangannya sibuk menyimpan piring-piring lebar di atas meja dan terakhir adalah minuman. Meja yang hampir tidak menyisakan tempat dan dua tangan yang kurang seimbang benar-benar menyulitkan Ryuee.

“HUAAA MIANHAEYO~!!” teriak Ryuee. Tidak sengaja dia menumpahkan sedikit juice anggur pesanan Dio tepat di kemeja putih milik Dio.

“AAAIIISSSHHH!!!”

“Sudah, tidak apa-apa. Hanya sedikit. Thankyou, dear,” ucap ahjumma sambil tersenyum sangat ramah pada Ryuee.

“Mom!” sergah Dio. Ibunya membantu membersihkan noda di kemejanya dan berusaha menenangkan Dio.

Dengan cepat Ryuee berjalan kearah ruang karyawan dan terdiam sebentar.

‘Bagaimana ini? Aku akan mati tidak lama lagi. Untung saja ibunya sangat baik padaku,’ batin Ryuee.

Tidak lama manager datang menghampiriku.

“Nona, tuan besar menyuruhku untuk memecat nona. Dan nona di perintahkan untuk pindah lagi ke cafe Plaincassie. Maafkan saya, nona. Saya tidak bermaksud. Tuan besar yang menyuruhku.”

“Terimakasih banyak, dad. Kau sangat menyayangiku.”

**

“Dimana, Ryuee?” tanya Baekhyun pada Hyora yang sedang duduk santai di ruang riasnya. Baekhyun sengaja menghampirinya untuk bertanya tentang keberadaan Ryuee.

“Dia dihukum oleh dad. Sekarang dia menjadi waitress, Baekhyun. Kau masih menyukainya? Haahh,” jawab Hyora sambil menyimpan majalah tebal dari tangannya.

“What? Waitress? Apa yang dia perbuat?” tanya Baekhyun penasaran dan duduk di samping Hyora.

“Tidak terlalu penting, Baekhyun. Yang penting, kau lupakan saja dia!”

“Kau aneh. Apa maksudmu?”

“Baekhyun, dengar! Kau tahu mengapa selama ini dia tidak menerimamu? Dia megatakan kalau dia tidak menyukai artis yang hanya mengandalkan suara,” kata Hyora. Dia tersenyum puas diam-diam. Sementara Baekhyun terdiam. Jantungnya berdetak keras. Dia tidak percaya kalau Ryuee mengatakan itu semua.

“Kau serius?” tanya Baekhyun memastikan.

“Tentu saja, Baekhyun. Aku kakaknya. Sudahlah, apa bedanya denganku?”

‘Ryuee. Aku membencimu. Aku tidak terima kau mengatakan aku hanya mengandalkan suaraku. Aku tidak menyangka ternyata sifatmu seperti itu. Haahh, Hyora. Benar. Apa bedanya Ryuee dengan Hyora? Apalagi Hyora lebih populer,’ batin Baekhyun dengan tangannya yang terkepal.

“Besok kau bebas?” tanya Hyora mulai genit.

“Aku ada shooting di starking. Kenapa?”

“Tidak. Aku hanya ingin mengajakmu… refreshing?”

“Baiklah. Hari jumat aku bebas. Aku akan menjemputmu. Sampai nanti.”

“Yes!!! I did it!!!” pekik Hyora setelah Baekhyun keluar dari ruang riasnya.

**

(Your POV)

 

“Wajahmu kenapa, nuna?” tanya Sehun yang menghampiriku. Malam ini cukup indah. Tapi hatiku sedang dalam keadaan yang kurang baik. Jadi langit tidak terlihat sempurna.

Kali ini aku sedang duduk di balkon lantai atas. Sehun duduk di sebelahku.

“Kenapa? Apa mataku berpindah tempat?”

“Tidak lucu, nuna. Bagaimana? Kau belum bercerita pengalaman pertamamu bekerja di restaurant. Ceritakan padaku!” pinta Sehun semangat. Dia memang selalu begitu.

“Nuna di pecat.”

“MWO??! Bagaimana bisa?”

“Nuna tidak sengaja menumpahkan minuman ke baju pengunjung. Dan akhirnya nuna pindah lagi ke tempat semula. Plaincassie caffe.”

“Mungkin memang seharusnya kau bekerja di sana.”

“Ya, mungkin saja. Sebaiknya kau tidur.”

Sehun mengangguk dan akhirnya dia sudah mulai mengantuk dan beranjak untuk tidur ke kamarnya. Sedangkan aku masih asyik merenung di balkon ini meskipun cuaca sedikit dingin.

Dio. Namja itu. Tiga hari berturut-turut aku menemuinya di tempat yang berbeda. Dan sikapnya tidak berubah. Dia namja yang sombong. Berbeda dengan Lay juga Baekhyun oppa.

Haah Lay. Aku merindukanmu. Mungkin lebih baik aku menceritakan ini semua pada Lay, dan mencari usulnya apa yang harus aku lakukan.

Aku memencet nomor ponselnya. Tidak lama nada sambung terdengar dan Lay menyapaku.

“Hello~”

**

Sudah empat hari aku lewati untuk bekerja di caffe ini setelah aku di pecat di restaurant. Dan kau tahu? Uang sakuku terus menerus berkurang. Memang benar apa yang dikatakan dad. Mencari uang itu sangat sulit.

Hari ini adalah hari kelima. Jumat tepatnya. Empat hari yang lalu berjalan seperti biasa. Dio tidak pernah absen bersama kakaknya untuk datang kemari. Dan juga keributan kecil antara aku dengannya pasti terjadi.

Pukul delapan malam. Yeah! Sepertinya Dio tidak datang. Aku bebas lagi hari ini. Thanks God!

Aku tengah membersihkan meja nomor tujuh setelah pelanggan selesai dan pergi. Ternyata masih ada pengunjung yang datang. Aku melayani mereka.

“Waitress!”

“Okay wait for a minutes…”

ANDWAEEEE!!

Why God?! Dia datang. Dio. Namja cerewet. Aku tidak menyukainyaaa~

“Mengapa kau kesini setiap hari?” tanyaku sambil berkacak pinggang. Woo kakaknya tidak ada. Dia hanya sendiri.

“All is up to me. Who are you?”

“Asshh..”

“Cepat ambilkan aku Philandera steak dan Pearlescent blue, waitress!”

“Jangan memanggilku dengan waitress!” Dio tertawa.

Aku meninggalkannya. Pesanannya tidak pernah berubah. Philandera. Tapi minumannya. Whoaw minuman termahal disini. Wajaaar, dia orang kaya. Harga untuk satu gelas Pearlescent tidak seberapa.

Sepuluh menit berlalu dan aku berjalan untuk memberikan pesanan Dio.

Perlahan aku meletakkan steak di depannya. Lalu minumannya tapi sesuatu mendorongku dari belakang dan….

Byurr!!

“Ryuee!!!”

NO GOD!! FOR THE SECOND!!

Segera aku menoleh kebelakang. Melihat siapa yang sudah menyenggolku keras tadi.

DEG!!

Dia. Lee Hyora. Dia bersama Baekhyun oppa sekarang.

Refleks aku balas mendorongnya pelan. Aku masih bisa menahan emosiku. Apalagi ini tempat umum.

“Hey kau!!! Berani-beraninya kau mendorong Hyora seperti itu! Kau itu hanya pelayan. Tolong jaga kelakuanmu!”

Haaaaaah? Baekhyun oppa…. apa aku tidak salah? Baekhyun oppa menyentakku seperti itu.

Aku berusaha menahan air mataku keluar meskipun sangat sulit. Hyora tersenyum kemenangan kearahku lalu berlalu bersama Baekhyun oppa kearah pub.

“Maafkan aku. Sekali lagi. Aku akan mengganti minumanmu dan biarkan aku mencuci jaketmu, Dio,” ucapku. Air mataku tidak bisa berhenti keluar. Sangat deras.

“Baiklah…”

“Maafkan aku..”

“Okay…”

Dengan cepat aku mengambil jaket biru tua yang sudah di lepasnya dari tangannya lalu berlalu menuju ruang karyawan. Aku menyuruh Soeun untuk mengambil alih.

Kali ini aku sedang tidak bisa bekerja dengan pikiran yang gelap. Ada apa dengan Baekhyun oppa? Dia bukan seperti yang aku kenal biasanya.

Apa karena sekarang aku menjadi seorang waitress dan dia tidak ingin kalau orang  di sekitar tahu kalau dia mengenalku?

Aku baru menyadari kalau sedari tadi aku menggenggam jaket Dio. Parfumenya sangat khas. Ah, dia. Tumben dia tidak memarahiku? Padahal aku sudah menumpahkan minumannya dua kali.

Sudahlah, mungkin ada satu malaikat yang sedang masuk ke dalam tubuhnya.

Drrtt…

 

From: xxxxxx

 

Rasakan! Hahaahhhaha..

 

Okay yeoja itu lagi. Sepertinya dia selalu ada dimana Baekhyun oppa berada. Sebenarnya siapa dia? Hyora?

**

“Ini jaket siapa, nuna? Keren,” tanya Sehun. Aku tersenyum sambil menjemur jaket yang terlihat mahal itu dengan baik.

“Nanti akan nuna belikan kalau nuna sudah mendapat gaji.”

“Hah? Tidak usah, nuna. Aku hanya mengomentari saja. Tidak bermaksud untuk meminta.”

“Haha. Kau lucu sekali, Sehun,” kataku sambil mencubit pipi Sehun gemas lalu mengacak rambutnya pelan.

“Nuna… tanganmu hangat.”

Sehun menyentuh keningku.

“Kau demam, nuna. Sebaiknya malam ini nuna jangan bekerja.”

“Nuna harus tetap kerja, Sehun.”

“Aku tidak akan mengantar nuna.”

“Ayolah…”

“Tidak! Ayo, sebaiknya nuna tidur. Aku akan mencari obat yang cocok untuk nuna.”

Sifatnya tidak jauh dengan Alena. Sehun sangat perhatian.

**

(Dio POV)

 

Dimana yeoja itu? Sudah seminggu dia tidak masuk kerja. Padahal setiap hari aku datang ke caffe ini.

Kau ingin aku jujur atau tidak?

Jika aku tidak jujur, aku datang ke cafe ini hanya untuk menunggu Ryuee mengembalikan jaketku yang di cucinya.

Dan jika aku jujur, aku sangat merindukannya. Memang sangat bodoh. Pertama aku sangat tidak menyukainya. Tapi setelah kita lebih sering bertemu, aku merasa tertarik dengannya.

Diam-diam aku selalu memperhatikannya jika dia sedang melayani pelanggan. Senyumnya sangat manis dan mampu membuat jantungku berdesir. Memang terdengar berlebihan. Tapi itu yang kurasakan. Jarang-jarang terjadi padaku.

“Silakan…”

Seorang waitress yang kutahu paling dekat dengan Ryuee mengantar pesananku dan meletakannya hati-hati di atas mejaku.

“Sorry… Dimana temanmu itu?” tanyaku ragu.

“Mmmaksud tuan… nona Ryuee?” ucap yeoja ini sedikit terbata.

“Nona?”

“Yang tuan maksud nona Ryuee? Lee Ryuee?”

“Yeah. But… nona? Okay forget it! Bisa tolong beri aku alamatnya? Aku sangat butuh.”

Yeoja itu berpikir cukup lama. Matanya tiba-tiba terbelalak dan menutup mulutnya dengan tangan telapak tangan kanannya. Kenapa dia?

“Ba..bbaaiklah..”

Yeoja itu menulis satu alamat yang cukup ku kenal di balik kertas bon pesananku. Tempat itu sedikit jauh dari caffe ini.

Aku akan pergi ke rumahnya besok siang.

**

Suho hyung sedang pergi ke Spore untuk acara reuni bersama teman sekolahnya dulu. So, dia tidak bisa menemaniku untuk bepergian sekarang.

Tangan kananku memegang kertas bon yang tertulis alamat lengkap Ryuee. Jujur, aku sangat penasaran. Ada apa dengannya?

Aku tetap berkonsentrasi menatap lurus kedepan walau sesekali aku melirik satu jalan, mencari Jalan Dokyung ^^v

Kubelokkan mobilku setelah kutemukan jalan yang kucari. Terlihat perumahan EXO Planet, dimana Ryuee tinggal. Yeah, perumahan yang bersih. Okay kali ini aku mencari Jalan Kaito. Tidak sulit. Hanya satu belokan kearah kanan dari pintu masuk.

Aku mengetuk pintu rumah sederhana ini perlahan. Tidak lama seorang namja membukanya dan tersenyum kearahku.

“Mencari siapa?” tanyanya sambil melirik kearah mobilku yang terparkir tepat di depan rumahnya.

“Ryuee. Dia tinggal disini?”

“Oh, nona besar. Ne, dia tinggal disini. Tapi dia sedang tidur. Nona sedang sakit.”

“What? Boleh aku masuk? Melihat keadaannya?”

Anak itu mempersilakan aku masuk dan melihat keadaan Ryuee ke dalam kamarnya.

Aku melihat sosok gadis cantik itu tertidur lemas di atas ranjangnya. Wajahnya terlihat pucat. Dan setelah aku periksa, ternyata suhu tubuhnya memang tinggi.

Sehun mengajakku untuk mengobrol sebentar di ruang tamu dan membiarkan Ryuee untuk beristirahat karena dia baru saja tertidur, ucapnya.

“Maaf, sebenarnya Ryuee itu siapa? Mengapa kau memanggilnya nona  besar?” tanyaku. Matanya terbelalak.

“Ha? Aku kira kau saudaranya. Kau bukan Lay?”

“Lay? Siapa dia? Bukan. Aku Dio. Ayo katakan padaku, siapa dia sebenarnya? Aku hanya mengenalnya sebagai waitress di cafe langgananku.”

“Nuna adalah puteri kedua dari Tuan Lee Jongwoon.”

DEG!!

“MWO??! Lee Jongwoon… bangsawan yang kaya raya? Pengusaha sukses? Dia puteri keduanya?”

“Ne…”

My God..

 

TBC ;]

 

 

38 thoughts on “EXO FF: POOR PRINCESS [ CHAP 2 ]

  1. Wah dio mulai suka nih sm ryuee. Hyora jahat bgt ya dasar. Baekhyun kok percaya aja gitu. Lanjut ya thorrr

  2. Aaaaaggggghhhh..
    Hyora minta dibejek2 deh..

    Eh si do sudah mulai memberi rasa.
    Gpp uda ga usa sama baekyun sama do aja..

    Lama-lama ntr ryuee ga mau balik ke rumah gara2 kerasan di rumah sederhananya..

  3. wah.. jarang² rbaca ff yg main cast-nya d.o.
    I like it.. But I hate hyora #emosi
    Baekhyun jd jahat T.T
    good job deh bwt author :)

  4. Hyora licik banget sih minta dijorokin dari Namsan Tower tuh -__- Hayo kenapa orang tua nya D.O kenal sama Ryuee ? Sehun polos banget, mau dong dipanggil noona >,< Chapter 3 ditunggu !!

  5. agioooo… hyora kau memqng sangat berbisa…. ryuee… fhigthing biarkan baek jgn pedulikn dia…
    wooowww… d.o mulai jtuh cinta yh kekekeke… skrg sudah tau kan makax jgn remehkan ryuee nti g bisa berpaling kan berabe kekekek

  6. Baekhyun pengen gue timpuk pake sendal weh lah -,-
    nge bayangin pas dio tau kalo ryuee anak bangsawan ekspresinya pasti O.O
    wkwkwk xD
    tapi aku pengen ada romance nya gitu diantara sehun sama ryuee xD

  7. wah ada yaa kakak macam hyora yang begitu sama adiknyaa….
    endingnya bikin jambak2 rambut sendiri nih gara2 penasaran abis hehe
    jan lama2 dong next chapnya, ditunggu banget lohhh

  8. Hyora jahat bnget sih,sma saudarax sndiri koq gtu,:@
    yeeii,aku dah tebak pasti akhirx si Dio jatuh cinta juga sma *Nona Besar*ckckc
    mkin keren ajah ni critax
    pnsran liat wjah Dio saat tau kenytaan yg sbenarx,matii kau Dio,skarang baru nyadar hah,?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s