SHINee FF: HELLO SMART PLAYBOY [ CHAP 14 – END ]

Untitled-2 copy

HELLO SMART PLAYBOY

Author: Shin Heera

Cast:

  • SHINee
  • Choi Sarang (YOU)

Minor Cast:

  • G-Dragon (Big Bang)

Keterangan:

  • Lee Taemin at Replay Japan era
  • Choi Minho at now on era
  • Kim Keybum at Barcelona era
  • Kim Keybom at RDD wears black tuxedo era
  • Lee Jinki at Shawol 1st Japan concert
  • Kim Jonghyun at SMTB era
  • G-Dragon at Heartbreaker era

Disclaim: Tuhan yang menciptakan mereka, lima bintang besar yang bersinar, SHINee. Pemeran lain hanyalah fiksi yang tidak diketahui keberadaan aslinya. Tapi itu terserah dirimu.

Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Selamat membaca!

………………………………………………………

Last chapter…

“Mengapa kau belum juga datang menemukanku, Taemin? Aku sudah menunggumu lama sekali. Apa kau sudah benar-benar melupakanku?”

Taemin merasakan saluran darahnya seperti tersendat kerikil-kerikil kecil. Napasnya berat dan tercekat. Matanya memanas. Bibirnya bergetar. Apa yeoja yang memunggunginya ini adalah Sarang?

…………………………………………

CHAPTER 14

Taemin mencoba untuk melangkah lebih dekat meskipun dirinya merasakan getaran hebat di telapak kakinya.

Yeoja itu tetap tidak menyadari bahwa seseorang tengah mengawasinya dari belakang. Taemin merasakan hampir semua bagian tubuhnya tidak terasa dan sukar untuk bergerak dengan wajar. Bergetar dan panas dingin yang menjalar membuatnya gugup. Selain itu kedutan di matanya mulai terasa. Ya, berani bertaruh? Dia akan menangis.

Ingin sekali Taemin memeluk yeoja yang berada di hadapannya tidak lebih dari dua meter ini. Tapi entah mengapa dia ingin menatap sosoknya lebih lama lagi. Apakah dia benar-benar Sarang? Taemin masih tidak yakin. Karena dia pikir, ini terlalu tiba-tiba.

Angin pantai berhembus semakin kencang sampai mengeluarkan suara gemuruh cukup  mengganggu. Yeoja itu menyibakkan rambutnya yang beterbangan dengan tangan kanannya. Jantung namja itu berdebar keras. Mulutnya setengah terbuka dan matanya berkaca-kaca dengan cepat.

Air mata Taemin sudah membendung ketika melihat cincin pemberiannya terpasang di jari manis yeoja itu. Ya, dia memang benar-benar Sarang. Taemin tersenyum sambil menarik napas sebisanya lalu dikeluarkan dengan tenang.

Dengan perlahan tapi pasti, Taemin merangkulkan tangan kanannya di bahu Sarang dan mengecup kepala bagian kiri Sarang dengan penuh kasih sayang sambil menutup matanya. Air matanya terjatuh sudah, membasahi lengan Sarang.

Tangannya bergetar dengan air mata yang terus saja mengalir. Isakan Taemin terdengar sesekali.

“Sarang..” ucap Taemin nyaris berbisik di telinga Sarang dengan suara bergetar. Napas hangatnya menyembur ke leher Sarang dan membuat yeoja itu mempererat genggamannya di lengan Taemin yang melingkar di bahunya.

“Taemin..” ucap Sarang, nyaris tidak terdengar. Masih belum berani menatap dan berbalik untuk memastikan apakah tangan yang tengah memeluknya ini adalah Taemin?

“Ya, ini aku. Aku menemukanmu..” ucap Taemin sambil memutar tubuh Sarang dengan perlahan, dengan jantung yang berdebar keras, dengan perasaan bahagianya yang tidak terkira karena telah bertemu dengan yeoja yang sangat dirindukan dan dicintainya selama ini.

Akhirnya mata mereka bertemu dan saling menatap satu sama lain dengan penuh kasih sayang. Keduanya belum mengeluarkan segurat senyuman. Terlalu shock!

Jemari Taemin mengelus pipi Sarang lalu mengusap rambut Sarang dengan sayang. Tanpa menunggu apapun, Taemin memeluk Sarang dengan erat.

“Aku merindukanmu, Sarang..”

“Taemin..” gumam Sarang. Jemarinya mencengkram baju Taemin dengan sangat erat.

Hening. Hanya isakan tangis mereka berdua yang terdengar jelas berkontaminasi dengan berisiknya suara ombak yang menggulung di sana.

“Mengapa kau pergi, hm?” tanya Taemin, masih memeluk Sarang. Akhirnya satu topik muncul. Biasanya dalam keadaan seperti ini, ide sulit didapat. Terkalahkan oleh perasaan senang dan tetap memeluk pasangan dengan erat.

“Kau tahu..” jawab Sarang sambil terisak dan mempererat pelukannya. Kedua matanya tertutup berlebihan. Ya, dia tidak ingin Taemin pergi dari sisinya, yang telah menunggu selama dua tahun.

“Tapi kau tidak tahu bagaimana keadaanku ketika kau pergi. Aku seperti orang gila, Sarang..” ucap Taemin penuh emosi seraya air matanya yang keluar.

“Maafkan aku.” Hanya itu kata yang keluar dari mulut Sarang.

Taemin melepas pelukannya. Namun kini kedua tangannya dengan cepat menggenggam kedua tangan Sarang.

Sarang menatap Taemin dengan seksama dari atas sampai bawah dengan bibir tersenyum manis.

Kini Sarang yang memeluk Taemin dengan sedikit berjinjit. “Kau bertambah tinggi saja..” bisik Sarang dengan tawa kecil.

Taemin mengerutkan keningnya karena jemari Sarang tidak berada di genggamannya cukup lama.

Setelah beberapa menit berlalu Sarang baru melepas pelukannya. Kini semua terasa tidak secanggung sebelumnya. Hanya saja keadaan berbeda. Mereka tidak seakrab dulu. Tentu saja dengan perasaan yang berbeda.

“Lama sekali kita tidak bertemu.” Taemin membuka percakapan kembali. Rambutnya beterbangan dan menambah kesan seksi. Apalagi dengan kaus putih berlengan panjangnya yang membuat warna merah di rambutnya lebih terang mencolok.

“Kau mengubah model rambutmu?” tanya Sarang tidak memperdulikan topik awal.

“Ini yang kau mau, bukan?”

Sarang hanya tertawa kecil.

“Kau juga mengubah warna rambutmu.”

“Ya, aku lebih suka warna natural. Tapi tidak untukmu. Kau terlihat dewasa dengan rambut merah dan potongan rambut seperti ini..” jelas Sarang sambil mengusap rambut Taemin.

Tiba-tiba Taemin mencengkram tangan Sarang yang terjulur ke arah rambutnya dengan lembut lalu menarik Sarang untuk mendekat.

Kedua matanya menatap dalam mata yeoja itu. Jantung keduanya berdebar. Ada satu keseriusan di dalam mata mereka masing-masing.

“Ya~!” seru Sarang sambil mendorong dada Taemin lalu menjauh ketika tiba-tiba akal sehatnya kembali berjalan.

Taemin tersadar lalu tersenyum gugup dan mengajak Sarang untuk duduk di atas pasir putih.

“Bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Sarang sambil melihat tangan kanannya yang digenggam oleh Taemin.

“Aku sudah lulus college,” jawab Taemin dengan senyuman sambil memainkan cincin di tangan kanan Sarang.

“Jangan berbohong. Kau baru saja lulus shs, Bambino.”

Taemin tertawa lalu kembali memeluk Sarang yang berada di sampingnya. “Aku merindukan panggilan itu, Singa betina..”

“Ya! Aku tidak bisa bernapas! Lepaskan aku!”

Taemin melepasnya masih dengan sisa tawa.

“Cepat ceritakan!”

“Ceritanya sangat panjang. Intinya aku mengikuti kelas percepatan di senior high school dan lulus bersamaan dengan Jinki hyung. Lalu aku diterima di Oxford dan lulus dengan cepat. Sampai akhirnya.. aku bekerja dan menemukanmu di sini..” ucap Taemin sambil menatap Sarang dengan lembut lalu bibirnya tersenyum sangat mempesona.

“Aku bahkan tidak melanjutkan sekolahku ke perguruan tinggi.” Sarang tersenyum lalu membuang wajahnya ke arah laut dengan tawa miris.

Taemin mengerutkan keningnya. “Lalu?”

Sarang tersenyum kembali dan menatap Taemin. “Aku menjadi pemilik hotel Alamanda di sini..”

Kedua alis Taemin berkerut dalam. “Jangan berbohong, singa betina. Aku tahu siapa pemilik hotel Alamanda.”

“Siapa?”

“Deara.”

“Oh..” gumam Sarang lalu tertawa di dalam hatinya. Bambino tidak tahu bahwa Deara adalah nama Indonesianya sekarang.

Taemin mendengus singkat. “Mengapa kau tidak melanjutkan ke perguruan tinggi?” tanya Taemin sedikit meninggi.

Sarang tertawa. “Memangnya kenapa?”

“Aku tidak percaya. Kau jenius, Sarang!”

“Karena aku jenius jadi aku tidak melanjutkannya.”

“Sudahlah, lupakan..” Kini jemarinya bermain dengan pasir pantai, dia kesal.

“Hahaha! Lihat! Kau masih kekanakan. Aku tidak yakin kau sudah menyelesaikan college, Bambino! Seharusnya kau belum lulus shs!”

Taemin melirik Sarang dengan tatapan membunuh lalu menggelitik pinggang yeoja itu.

“Kau menyebalkan, Sarang!”

“STOOOPP!!” teriak Sarang disela-sela tawanya. Akhirnya Taemin berhenti menggelitik nunanya itu. “Kau datang ke Indonesia sengaja untuk mencariku?” tanya Sarang. Tangannya dikaitkan di lengan kiri Taemin sambil menyandarkan kepalanya dengan nyaman.

“Kau ingin sekali aku cari rupanya?” tanya Taemin dengan senyuman jahil ke arah Sarang.

Sarang yang tengah menyandar di lengan Taemin langsung saja melepasnya dengan ragu dan membuang muka ke arah pantai. Yeoja itu malu.

“Jawab aku,” pinta Taemin yang tetap saja tidak berhenti menggodanya.

“Aku hanya bertanya, Taemin. Tidak berharap lebih.” Sarang menggigit bibir bawahnya gemas. Ingin sekali dia memukul Taemin dengan keras. Tapi apakah perlakuan itu masih pantas di umur mereka yang sudah dewasa ini?

“Jawab aku..”

“Aku sudah menjawabnya.”

“Tapi aku tahu kau berbohong. Jujur saja jika kau ingin aku mencarimu dan menemukanmu seperti ini. Karena memang benar, aku mencarimu. Bahkan sudah lama. Semenjak kau meninggalkanku..”

Sarang terdiam dan menoleh ke arah Taemin sedikit ragu. Apakah semua yang dikatakan Taemin itu benar? Terlintas di pikirannya, apakah Taemin juga mencintaiku?

“Kemarilah, sandarkan kembali kepalamu.” Taemin menghela napas panjang setelah Sarang sudah kembali bersandar di lengannya. “Aku datang ke Indonesia selain untuk mencarimu juga untuk mempromosikan Mal baruku. Kau harus tahu,” jawab Taemin sambil mencium kepala Sarang sekilas.

“Jangan menciumku!” seru Sarang.

Taemin tertawa. “Kalau begitu sini, kucium bibirmu,” ucapnya sambil menarik dagu Sarang.

Dengan cepat Sarang memukul lengan Taemin kesal. “Kau memang tidak bosan menggodaku, Bambino!”

Posisi kembali seperti semula setelah Taemin berhenti tertawa.

“Kau akan tetap tinggal di Indonesia?” tanya Taemin.

“Tentu saja..”

“Semua merindukanmu, Sarang. Ikut aku ke Amerika..”

Sarang terdiam sambil merasakan angin pantai yang sejuk menyerbunya.

“Kapan kau kembali?” tanya Sarang mengabaikan ajakan Taemin.

“Besok pagi..”

“Aku akan merindukanmu..”

Kini Sarang memeluk Taemin sangat erat. Taemin membalasnya. Keduanya menutup mata dan dalam posisi itu cukup lama.

“Kau tahu, Sarang? Sepertinya.. Sepertinya aku..” Taemin menarik napas dalam dan dihembuskan dengan cepat. Kedua matanya menyorot Sarang dengan serius.

“Ne?”

“Aku..”

Tiba-tiba ponsel  sialan Taemin berbunyi. Sementara Sarang mengangkat sebelah alisnya karena kebingungan dengan kata Taemin yang menggantung.

“Ya? Okay,”

KLIKK!!

“Aku.. harus kembali,” sambung Taemin sambil bangkit berdiri. Sarang mengikutinya. “Itu yang akan ku katakan tadi,” tambah Taemin dengan hidung kembang-kempis. Ya, dia berbohong sekaligus menyembunyikan salah tingkah.

“Kembali?”

“Ke hotel..” jawab Taemin cepat.

“Oh..” gumam Sarang sambil membuang napas lega.

“Ini semua akan terasa cepat, kau tahu?” Taemin menghembuskan napasnya sambil menggenggam tangan Sarang dengan erat. Terasa berbeda.

Sarang hanya tersenyum. “Aku tahu kau masih ingin berada dekat denganku, bukan?”

“Ya. Karena banyak yang harus kau ceritakan padaku. Jangan terlalu percaya diri,” jawab Taemin sambil menarik tubuh Sarang mendekat.

Taemin mengeluarkan ponselnya dan bergaya. Sarang ikut bergaya dengan senyumannya yang sempurna.

CKREKK!!

Taemin melihat hasil jepretannya dengan senyuman dan dikirim pada seseorang. Kini matanya melirik Sarang yang tidak berjarak dengan tajam. “Tunggu aku pukul sembilan malam di sini.”

Suasana terasa semakin serius ditambah deru ombak yang tenang. Seakan dapat menghipnotis dan membuat Taemin masuk ke dalamnya. Perlahan namja itu mendekatkan bibirnya ke arah bibir Sarang dengan perlahan dan dengan penuh rasa keraguan. Kedua tangannya tetap saling menggenggam erat. Lebih erat.

Sarang mengetahui apa yang akan Taemin lakukan padanya. Jantungnya berdetak sangat keras. Dan dia tidak bisa! Dia tidak bisa menutup matanya dan membiarkan Taemin menciumnya.

Napas Taemin mulai terasa. Dan dengan cepat Sarang membuang wajahnya. Kini bibir Taemin mendarat di pipi kanan Sarang dengan lembut.

“Kutunggu. Berdandanlah yang tampan, Bambino..” ucap Sarang dengan senyuman riang sambil berlalu ke dalam.

Taemin berdiri mematung di tempatnya. Lalu dengan perlahan bibirnya tersenyum dengan dengusan kecil keluar di akhir.

Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana lalu berlalu untuk kembali ke hotel. Kini dirinya tidak sabar menunggu pukul sembilan malam.

**

(Sarang POV)

BLAM!!

Aku menutup pintu kamarku dengan tidak terkontrol. Hei, aku sangat senang! Aku senang sekali! TAEMIN MENEMUKANKU!!!!!

Aku beranjak naik ke atas ranjang dan lompat-lompat tidak peduli berkepala berapa umurku sekarang.

“Yeaaaah!!! Taemin menemukankuuu, Mooom!!!”

Akhirnya aku terduduk di atas ranjang yang sudah tidak tertata cantik ini. Bibirku tersenyum dengan sendirinya. Aku bersumpah! Aku juga tidak tahu mengapa bibirku tersenyum sendiri seperti ini.

Tiba-tiba bayanganku memutar dimana tinggal beberapa senti lagi Taemin akan menciumku. Tuhan, jantungku kembali berdebar. Aku benar-benar takut.

Apakah Taemin hanya menggodaku saja seperti dulu? Atau dia benar-benar akan menciumku dengan hatinya? Apa? Hati? Bambino dengan hati? Itu mustahil. Aku tahu. Tapi tadi itu. Matanya tidak bisa berbohong. Dan dia sudah dewasa. Penampilannya, cara dia berbicara, cara dia menggodaku, intonasinya, tingkah lakunya,…. tatapannya..

Aku… mencintainya.

CKLEK!!

“Non..?”

“Bibi!!!” Aku menghampiri Bi Asih dengan tergesa dan memeluknya.

“Kenapa, Non?”

“Bi, Taemin, Bi. Bibi tahu Taemin, ‘kan? Cowok yang suka aku ceritain! Dia dateng, Bi! Dan nanti jam sembilan malem dia mau dateng ke sini!” ceritaku panjang lebar.

“Waah, dia pasti tampan ya, Non?”

“Kau benar! Anak itu memang bertambah tampan sekarang.”

“Nona besar sudah tahu?”

Aku mengerutkan keningku lalu menggeleng pelan. “Kalo aku nelfon takutnya Bunda lagi kerja. Nanti jam istirahat aja.”

“Non, jangan lupa kenalin dia ke Bibi ya!”

“Kenalin nggak, ya? Aku takut Bibi suka sama dia. Hahahaa!”

*

(Taemin POV)

Malam ini pesta terakhir. Dan aku harus kembali besok. Jika aku tidak kembali, aku takut Toyoto tidak terkendali.

Sarang..

Tuhaaan, aku senang sekali! Akhirnya aku menemukan Sarang. Dia benar-benar tidak berubah meskipun usianya yang sudah menginjak dua puluh. Bahkan dia terlihat semakin cantik dan dewasa.

Dan mengapa mengakui perasaanku padanya terasa sangat sulit? Tidak biasanya. Ini bukan aku yang dulu. Aku yang dengan mudah mengatakan cinta pada banyak yeoja dan menjadi kekasih mereka.

Sarang, sespesial itukah dia berada di dalam kehidupanku?

Aku semprotkan parfume Bvlgari di sekitar tuxedo hitam kasualku. Bercermin sebentar. Baiklah, penampilanku sudah sempurna untuk closing party malam ini.

Kurogoh ponsel di dalam saku celanaku ketika mendengarnya berdering. Ternyata satu pesan dari Minho hyung.

‘Akhirnya kau menemukannya, Taemin. Jangan sampai kau biarkan dia lepas. Foto kalian berdua yang kau kirim padaku, aku melihat Sarang semakin cantik dan sepertinya aku menyukainya. Hahaha.’

Aku tersenyum sambil mendengus kecil. ‘Dia hanya mencintaiku, Hyung. Hahaha!’

SEND!

Baiklah, aku harus cepat menuju ball room, lalu pukul sembilan aku akan pergi hanya berdua bersama Sarang. Bali tidak pernah mati sampai pagi.

Seperti biasa Fariz ahjusshi menyambutku sambil memberiku satu minuman di dalam gelas elit.

“Mister, maaf aku tidak bisa mengikuti pesta ini sampai akhir. Aku mempunyai janji bersama seseorang,” ucapku lalu meneguk minuman ini satu teguk. Harus tetap terlihat berwibawa meskipun umurku belum cukup matang untuk menjadi direktur umum. Itu pesan Dad. Tapi jika ini semacam pesta keluarga, mungkin aku sudah menghabiskan minuman ini beberapa gelas dalam sekali teguk.

“Baiklah, Mister..” jawab Fariz ahjusshi selalu dengan senyuman. “Ah! Pemilik hotel ini sudah menunggu Anda di meja sebelah sana,” tunjuk Fariz ahjusshi pada seorang yeoja yang mengenakan long dress putih dengan rambut hitam digulung.

Aku berjalan melangkah mendekati yeoja itu bersama Fariz ahjusshi. Sedangkan manager dan sekretarisku tengah berbincang dengan staff Toyoto lain.

“Selamat malam, Miss..” sapaku.

Yeoja itu bangkit dari tempat duduknya lalu berbalik.

*

(Sarang POV)

Sudah dua gelas kuhabiskan minuman segar ini. Dimana pimpinan Toyoto itu? Kapan datang? Aku sudah pegal dengan dandanan heboh ini.

Tapi kau harus bersabar, Sarang. Kau harus meminta maaf untuk pesta kemarin karena terlambat datang untuk menemuinya.

“Selamat malam, Miss..”

Hah, finally. Aku menghembuskan napas singkat dari mulut lalu bangkit dan berbalik ke arahnya.

“Selamat malam, Mis.. ter… BAMBINO?!” teriakku lagi-lagi tidak terkontrol sampai banyak pasang mata tertuju padaku. Cepat-cepat aku menutup mulut.

Sepertinya Taemin tidak kalah terkejut denganku. Mata dan mulutnya membulat. Atau mungkin dia tengah kebingungan mencari sosok yang bernama Deara? Haha.

“Kalian sudah saling mengenal?” tanya Pak Fariz sangat antusias. Aku hanya tersenyum seperlunya.

Taemin tertawa. “Tentu saja. Aku tahu luar dalamnya.”

Mwo?

Aku membelalakkan mataku ke arah Taemin dengan ganas. Bambino bodoh! Bagaimana jika Pak Fariz mengetahui bahwa aku adalah putri Toyoto yang menghilang dua tahun lalu. Ini semua akan menjadi suguhan  terbaik untuk penghidang berita. Aku hanya bersiap tenar saja.

“Sedekat itu? Dunia ini benar-benar sempit.”

“Dan apa kau tahu? Sore tadi kami bertemu di penginapan yang kau tunjukkan padaku. Selama kami berbincang, aku sama sekali tidak mengetahui bahwa dia pemilik hotel ini,” cerita Taemin full bahasa inggris pada Fariz panjang lebar.

“Itu karena kau yang tidak mempercayaiku, Bambino..”

“Oke, memang. Karena aku yang tidak tahu namamu telah berubah di Indonesia..”

“Seharusnya kautanyakan padaku siapa Deara itu..”

“Mengapa kau tidak menjelaskan sendiri saja padaku?”

“Aku ingin tahu seberapa besar keingintahuanmu.”

Tidak ku sangka! Aku masih mengingat bahasa Korea! Padahal sudah lama sekali aku tidak menggunakannya.

“Ah, I’m sorry..” kata Taemin pada Pak Fariz. Ah, ya. Aku lupa Pak Fariz masih berdiri dengan kami dan dia tidak mengerti sekata pun dari bahasa Korea.

Tapi sepertinya aku lebih nyaman memakai bahasa Korea. Apa karena Taemin menggunakannya juga?

“Tidak apa-apa. Kalau begitu, saya tinggal dulu, Mister. Selamat menikmati pestanya..”

Taemin membungkuk dengan senyuman yang terarah padaku. Apa maksudnya? Tiba-tiba dia mendekat. Terdiam sambil menatapku. Mengapa senyumannya tenggelam? Ini benar-benar membuatku takut. Aku takut mati berdiri.

Oke, ini semua sukses membuat jantungku berdebar sangat cepat dan keras. Bagaimana ini? Aku tidak ingin terlihat salah tingkah di hadapannya. Apalagi Taemin selalu mengetahui apa yang aku rasakan.

Ah! Sirup! Kuangkat gelas yang sedari tadi tersangkut di jemari tangan kananku dan meminumnya.

What the hell!! Isinya kosong! Aku tahu, aku semakin terlihat bodoh saja. Aku berharap Taemin tidak berpikiran yang macam-macam.

Tiba-tiba aku merasakan tangannya memelukku dengan perlahan. Tawa kecilnya terdengar seperti bisikan setan. Lalu aku merasakan tangan kanannya mengelus kepala belakangku dengan sayang. Tidak lama kecupan terasa. God. Taemin benar-benar.. senyumannya, tawanya, tatapannya, suaranya yang lembut, wangi tubuhnya.. Ini membuatku mati perlahan.

“Ayo kita keluar dari tempat ini..”

Taemin menarik pergelangan tangan Sarang keluar dari ball room menuju kamarnya yang terletak di lantai paling atas.

“Bagaimana kabar Dad?” tanyaku sambil duduk di atas sofa mewah di ruang duduk Taemin yang luas ini. Kugerakan badanku, mencari posisi nyaman. Kunikmati sesaat. Hm, hotelku benar-benar eksklusif.

“Dia harus lebih memperhatikan kesehatannya. Maka dari itu Dad memberikan Toyoto padaku,” jawab Taemin sambil membuka tuxedo dan kemejanya dan berlalu ke dalam kamar.

Mataku beralih membuntutinya masuk ke dalam kamar dengan pintu yang dibiarkan terbuka. Hah, God. Mengapa lemari diletakkan sejajar dengan pintu? Itu.. terlihat! Sangat jelas!

Jantungku kembali berdetak keras melihat punggung Taemin yang terlihat lebih bidang dan berotot. Ternyata aku sudah melewatkan banyak waktu berharga sebatas untuk melihat Taemin tumbuh menjadi seorang namja.

Diluar dugaanku. Taemin benar-benar tumbuh menjadi namja sukses dan sempurna di umurnya yang masih muda ini. Tanpa disadari bibirku tersenyum. Tuhan, mengapa mataku sulit berpindah? Padahal hanya punggungnya saja yang terlihat.

“Jangan menatap punggungku seperti itu.”

Jleb. Sumpah kini aku gondok abis deh!

“Kau tidak bertanya bagaimana keadaan Youngjin ahjusshi?” tanya Taemin sambil berjalan dan duduk di sampingku.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata lalu berdeham kecil untuk memusnahkan bayangan punggung bidang berotot itu dan mencoba kembali tidak terlihat canggung.

God, mengapa Taemin masih dalam keadaan topless? Dan kini aku terdiam. Ini membuatku.. sulit bernapas.

“Youngjin.. ahjusshi? Wae?” Aku balas bertanya dengan sedikit terbata. Ku lirik dirinya yang kini memegang segelas anggur di dalam gelas cantik. Mengapa dia terlihat lebih mempesona?

“Wae?” Taemin tertawa kecil. “Bukankah dia ayah kandungmu?”

“Kau sudah tahu..” jawabku sambil menelan ludah sebisa mungkin.

Tuhan, sejak kapan Taemin memiliki six pack itu? Aaarrghh, lebih baik aku cepat pulang. Ah, tidak! Lebih baik Taemin cepat memakai bajunya! Aku tidak ingin malam ini berakhir dengan cepat. Besok dia harus kembali ke Amerika.

“Ya, aku sudah tahu.” Taemin meneguk anggurnya lalu menoleh, melihat wajahku lebih jelas. Aku hanya balas melirik tajam padanya. God, aku salah tingkah dan ini sangat memalukan!

“Taemin-ah..”

DEG!!!

Taemin mendekapku. Kini aku benar-benar berada dalam pelukannya. Harum tubuh maskulinnya tercium sangat jelas dan membuatku nyaman. Taemin sudah dewasa. Ya, aku mengakui itu.

Kututup kedua mataku. Suara tegukan anggur terdengar jelas. Tentu saja, lehernya berada tepat di samping telingaku. Jantungku ikut berdebar keras. Ah, aku takut Taemin mabuk. Tunggu! Taemin tidak akan mabuk. Aku bertaruh nyawa untuk itu!

“Have been 2 years, Sarang. Please, I beg you. I will not let you go! Stay here with me.. tonight..”

BRRRRRRRZZ..

Bulu kudukku berdiri kaku! Aku yakin, balon pun akan sukses meledak dengan heboh. Apalagi setelah Taemin berhasil membuka gulungan rambutku. Apa yang akan dia lakukan?

Dengan perlahan Taemin melepaskan pelukannya dan menuangkan anggur itu ke dalam gelas kembali. Aku masih terdiam kaku. Tidak dapat berbuat apa-apa. Aku tidak tahu harus berbuat apa! Molla molla mollaaaaa~!! (~x.x)~

“Would you like to somenthin’ drink?” tanya Taemin dengan suara rendahnya. Dadaku sesak. Mengapa terdengar sangat seksi?

“Mineral water, please..”

Taemin tertawa kecil lalu menyodorkan gelas berisi anggur itu padaku. Ah, aku tidak terbiasa mabuk. Satu teguk saja sudah tepar. Bagaimana ini?

“Arasso. Geunde.. jebal..” Aku membuang napas dengan perlahan melewati mulutku dan menerima gelas yang dia sodorkan dengan paksa kali ini.

Aku tidak terbiasa mabuk. Aku takut! Aku takut tidak sadarkan diri dan.. Hiaaaah, molla molla mollaaaaa~!! Xo

“Ppalli..” Taemin tersenyum kecil dan itu membuat dirinya sangat tampan!

Beberapa saat kutatap air berwana ungu pekat ini di dalam gelas berukuran medium. Baiklah, sedikit saja.

Dengan perlahan aku mengarahkan bibir gelas itu ke dalam mulutku sambil menutup mata. Merasakan air memabukkan itu masuk ke dalam mulut dan terasa di lidahku.

Eh.. Aku membuka mataku ketika gelas yang kupegang menghilang. Taemin membawanya dan diletakkan di atas meja berkaki rendah.

“Kau tidak perlu seperti itu. Jika kau tidak suka, jangan meminumnya..” ucapnya sambil menatap permukaan wajahku. Ya, aku melihat matanya berlarian. Aku yakin, wajahku pasti memerah.

Tidak lama aku merasakan jemarinya mengelus pipi kiriku dengan lembut. Menelusurinya hingga kini telapak tangannya yang lebar menutupi pipiku.

Aku menatapnya dengan mata terbuka lebar. Ya, Taeminnie! Aku ingin bertanya! Ada apa denganmu? Apa yang akan kau lakukan padaku? Kau tahu? Aku merasakan sakit di perutku. Haihh!!

Tanganku beralih mencengkram lengannya dengan kuat ketika tangan kirinya masuk menelusup di balik leherku dan wajahnya semakin mendekat.

Aku menutup mata. Napasnya terasa jelas menyapu wajahku.

“Sarang.. Jika kau juga tidak suka dengan ini, kau bisa menolaknya. Hm?”

Bisikannya di telinga kananku terasa sangat dalam dan jelas. Membuatku sesak napas! Tuhan, apa yang harus aku jawab? Taemin.. namja yang ternyata aku suka. Seharusnya aku jangan menolak. Tapi ini terlalu tiba-tiba dan.. kyaaaah!!

“Memangnya.. apa yang akan  kau lakukan?” tanyaku dengan suara bergetar. Kau tahu? Aku benar-benar gugup.

Kini jarak wajah kami sangat dekat sampai ujung hidung Taemin menyentuh ujung hidungku. God, please.. jangan mengambil nyawaku sekarang. Rasanya aku sedang dilanda ajal!

Dia mendesah lalu menyapukan bibirnya yang sedikit terbuka itu di permukaan wajahku dengan perlahan. Ketika bibirnya berada di pipi kananku, keseimbanganku sedikit goyah sampai akhirnya aku tertidur di lengan sofa. Kini Taemin menindihku dalam keadaannya yang topless itu. Jantungku berdebar. Tanganku tersangkut di pinggangnya kali ini.

Aku mendesah ketika bibir lembutnya berada di daguku. Mataku tertutup sedari tadi. Merasakan sentuhannya yang sepertinya mengandung sihir. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Tidak ada. Bibirnya tidak berada di wajahku. Dengan perlahan aku membuka mataku.

DEG!!!

Taemin.. dia.. mencium bibirku..

Mataku tetap terbuka ketika dia memainkan bibirnya pada bibirku yang sedikit terbuka. Shock.

“Shireo?” tanya Taemin. Gerakan bibirnya terasa di bibirku. Menggelitik. Menggelitik perutku >,<

Tanganku menarik kepalanya agar kembali menciumku. Benar-benar lembut dan hangat. Aku membalasnya sebisaku. Aku tidak pandai dalam bidang ini.

Erangannya terdengar seksi di telingaku. Tangannya tidak kalah aktif. Meremas lenganku dan membelai dimana pun dia mau.

“Aaahh, Sarang..” bisiknya lalu kembali menciumku. Kini lidahnya ikut bermain. Tangannya meremas pinggangku gemas.

“Aaaaaa..” desahku tertahan.

(Taemin POV)

Aku bangkit dari tubuhnya dan meraih gelas berisi anggur lalu meminumnya dalam sekali tegukan. Tadi itu.. benar-benar menguras tenagaku. Ini ruangan ber-AC dan aku dalam keadaan topless. Heran. Mengapa aku berkeringat hebat seperti ini?

Aku menoleh ke arahnya yang masih terdiam dan dalam keadaan tertidur di atas sofa. Mengambil napas sejenak, eh? Aku tertawa kecil.

Hm, Sarang bisa terlihat cantik, elegan, lucu dan seksi dalam satu posisi seperti ini.

Gaun putih panjangnya. Dia pasti tidak merasakan ketika gaunnya terbuka seperti itu. Kini aku dapat melihat seluruh kakinya dengan sempurna. Tidak hanya dalam foto. Benar-benar jenjang dan hampir menyerupai Barbie.

Sarang membuang wajahnya ketika aku menatapnya. Apa dia tidak suka dengan apa yang kulakukan padanya? Mustahil. Aku tahu Sarang menikmatinya sampai banyak desahan seksi keluar beberapa kali. Hahaha.

Aku tertawa kecil lalu meraih gaunnya agar kembali menutupi kaki indahnya. Dia terperanjat sampai memasang posisi duduk.

“Kau sengaja membiarkan gaunmu terbuka seperti itu?” tanyaku bermaksud jail. Dia mengerucutkan bibirnya.

“Terserah..”

Aku hanya tertawa mendengarnya. Sepertinya di sebal dan malu.

Lalu aku membawa air mineral dari dalam kulkas dan memberikannya pada Sarang.

“Aku tahu kau lelah setelah berciuman denganku, Sarang.” Kukeluarkan senyuman terjailku. Entah mengapa aku sangat menyukainya jika dia tengah sebal seperti itu.

Dia tidak menjawab. Hanya menghabiskan air mineral yang ku berikan dengan cepat. Apa aku terlalu berani mengatakan kata ‘berciuman’? Dengan kata apa aku harus menggantinya? Haha.

Aku duduk di sofa sebrang dan bersandar dengan sangat nyaman sambil meminum anggur dengan santai. Menikmati kembali bayangan  ketika aku menyentuhnya seperti tadi, yang ku lakukan padanya. Itu benar-benar menyenangkan.

“Bambino-ya~…” ucapnya. Aku tersenyum melihat bibirnya yang merah itu.

“Mwo? Kau menginginkan yang lebih?”

“YA!!!”

Aku tertawa tidak tertahan dan kembali menatapnya dengan senyuman memojokkan.

“Apa yang kau lakukan padaku, Bambino? Kau mempermainkanku, hah? Sama seperti dulu?”

“Hmm.. aku tidak tahu. Mungkin karena aku sangat merindukanmu?” jawabku. Nampaknya Sarang terlihat sangat kesal.

Dengan terburu dia mengikat rambut panjangnya tinggi-tinggi dan bangkit dari sofa.

Aku berjalan menghampirinya lalu mengangkat tubuhnya ke dalam kamar. Dia meronta tapi aku  menghiraukannya. Ternyata dia sama saja. Tidak bertambah berat.

Tubuh indahnya aku hempaskan di atas kasur super empuk ini. Dia kembali mencoba bangkit dengan lemas. Menangis. Sarang menangis.

“Ini sudah malam. Aku harus pulang, Taemin..” ucapnya sambil berusaha menyingkirkanku yang tengah menghalanginya untuk pergi.

“Kau tidak boleh pergi..”

“Wae?” tanyanya sambil menatapku sendu dengan air mata yang mengalir. “Wae?!” ulangnya kini dengan nada lebih tinggi.

“Aku membutuhkanmu..” jawabku. Tidak ada senyuman yang keluar. Untuk apa? Aku menikmati ini. Sarang memang tidak berubah. Selalu membuatku tertarik dan terkejut setelahnya.

“Membutuhkanku? Membutuhkanku sebagai nunamu, hah? Maaf, aku tidak bisa..”

“Nuna? Memangnya selama ini aku menganggapmu sebagai nunaku?”

Sarang bernapas dengan tidak sabar sambil menuruni tempat tidur dan berdiri di hadapanku dengan keningnya yang mengerut dalam.

“Jadi apa maksudmu, Taemin?”

“Jika kau nunaku, mungkin aku akan memanggilmu nuna. Sarang nuna. Tapi selama ini aku tidak memanggilmu nuna, bukan?” tanyaku masih dengan tanpa senyuman. Lihat.. tangisannya semakin hebat.

“Jadi kau membutuhkanku untuk apa?!” Teriakannya terdengar menyayat. Aku tahu dia tengah marah besar.

“Menjadi milikku..”

Hening.

Hanya isakannya yang terdengar sesekali. Matanya menatapku dalam. Bibirnya bergetar. Aku tahu dia akan terkejut seperti ini. Okay, dan sekarang aku tidak tahu, apa yang harus aku lakukan.

“Ne?”

“Kita pergi dari sini, menjadi sepasang kekasih, lalu tinggal di satu negara, menikah, mempunyai banyak anak, bahagia, bahagia, bahagia dan… mati bersama..”

Tanganku meraih pinggang rampingnya untuk lebih mendekat. Dia terkesiap lalu menundukkan kepalanya.

“Hei hei hei, lihat aku..”

Dengan paksa aku menengadahkan  wajahnya agar dapat melihat keseriusanku untuk memilikinya.

“Sarang..hae..” Ku gigit bibir bagian dalamku cemas. Apa reaksinya setelah mendengar ini.

Jantungku berdebar lebih keras ketika Sarang membuka mulutnya dan mulai untuk berbicara.

“Nado..”

DEG!!!

“Nado?”

“Nado saranghaeyo, Taeminn-aaah!!” teriaknya.

Tanpa menunggu lama, dengan cepat aku memeluknya dengan erat. Kini senyumanku muncul dengan sangat lebar. Tuhan, aku senang! Akhirnya aku dapat memilikinya.

“Singa betina, kau milikkuu!!!” seruku sambil memeluknya. Aku bisa merasakan dia kehabisan napas. Lalu aku melepas pelukanku.

“Tapi bagaimana bisa.. Ndo! Yunhanam..” ucapnya sambil menghapus air mata.

Aku tertawa lalu mengangkat tubuhnya dan kembali dihempaskan di atas tempat tidur. Dengan cepat aku berbaring di sampingnya sambil melingkarkan lengan kananku di pinggangnya.

“Sejak kapan kau mencintaiku, hm?” tanyaku sambil memperhatikan wajahnya yang sangat cantik dan natural ini. Posisiku benar-benar tepat.

“Sejak aku pergi meninggalkanmu..” jawabnya sambil ikut memasang posisi miring, berhadapan denganku dan kepala yang dia sandarkan di tangannya. “Ndo?”

“Naega? Hm.. sejak dirimu menjadi kekasih Jinki hyung..”

Sarang tertawa kecil. Tapi tawanya itu meledak sekarang. “Bagaimana bisa?”

“Aku merasa kehilangan..” jawabku sambil tersenyum simpul. Tawanya benar-benar indah.

“Arasso.. Ah, bagaimana kabar GD oppa, Keybom oppa, Keybum oppa, Minho oppa, Jinki oppa, Jonghyun oppa, Jiyoung onnie dan Hara?” tanyanya nyaris tanpa jeda.

“GD hyung sudah mendapatkan kepopuleran dan sukses besar sebagai artis dunia. Dia juga sudah mendapatkan yeoja chingu. Yoona nuna. Kini dia menetap di Korea.

“Lalu Keybom hyung, Keybum hyung dan Minho hyung. Mereka tidak kalah sukses dan menggebrak dunia baru dalam ilmu pengetahuan. Apa kau sudah mengetahui bahwa mereka sudah bertunangan?”

“Ya, aku mengetahuinya.”

Aku mengangguk lalu menarik napas. “Lalu Jonghyun hyung dengan Hara nuna. Kau pasti terkejut mendengarnya. Mereka sudah mempunyai satu anak lelaki dan kabarnya Hara nuna sudah melahirkan bayi kembar namja.”

“MWO?! Mengapa.. mengapa bisa secepat itu?”

“Molla..”

“Ah, lalu bagaimana dengan Jinki oppa? Aku benar-benar masih merasa bersalah padanya. Dan sekarang aku sangat merindukannya,” ucapnya sambil tersenyum. Senyuman ini. Aku tahu dia tengah membuatku cemburu. Dan itu berhasil.

“Jangan melirik namja lain, Chagiya! Aku di sini. Kekasihmu!”

“Hahaha! Kekanakan..”

“Mwo? Mworago?”

“Bambino. Kau masih pantas memegang jabatan itu. Hahaha!”

Dia benar-benar menggemaskan. Aku mengecup kepalanya dengan tiba-tiba. Sarang kehilangan keseimbangan mendadak dan kini kepalanya berada di atas bantal. Aku kembali menatapnya. Dengan perlahan senyumanku keluar dan memeluknya.

“Taemin.. aku harus pulang..”

“Tetaplah di sini, tidur bersamaku..”

Aku menutup mataku. Memang ini sudah tengah malam dan aku mengantuk. Apalagi Sarang. Jenis yeoja manja seperti dia mana mungkin tidur terlalu larut.

Haah. Memeluknya seperti ini benar-benar nyaman. Tuhan, aku ingin malam ini berjalan sangat panjang. Bila perlu, hentikan waktu saja.

Suasana sangat sepi sampai terdengar dengungan di telingaku. Benar-benar mengganggu.

“Sarang?”

“Hm?”

“Kau belum tidur?”

“Belum. Ada apa?”

“Apa hotel ini menyediakan kondom?”

“Ha? Kondom?” tanyanya terdengar gugup.

Aku tertawa kecil dan tetap menutup mataku. “Ya. Kau setua ini tidak tahu kondom?”

“Shut up! Tentu saja aku tahu. Tapi.. untuk apa?”

“Kau tidak tahu apa fungsi kondom? Jeongmalleo? Aaah, jinjja!”

“Anniii~ bukan itu maksudku..”

Kini aku mendesakkan wajahku di lehernya. “Aaaah, aku sudah tidak sabar, Sarang. Kajja~ kita lakukan sekarang..”

“KYAAAA!! JANGAAAN!!” teriaknya sambil mendorong dadaku dengan kuat dan mencoba bangkit. Tapi usahanya itu sia-sia. Selalu begitu.

“Jangan? Jangan memakai kondom maksudmu? Baiklah, kita kalahkan Jonghyun hyung!!”

“ANDWAAAAEEYOOO!! SHIREOYOOO!!!”

“START!!”

“HEEELPP!!”

Hahaha. Dan aku menikmatinya.

**

(Author POV)

Ternyata malam berlangsung dengan cepat. Tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan.

Sesosok namja tampan tengah tersenyum pada seorang yeoja yang masih terbaring di atas tempat tidur. Ingatannya kembali berputar tentang semalam. Benar-benar indah dan dia masih tidak percaya bahwa kini mereka mempunyai hubungan spesial.

Taemin memakai kardigan putihnya yang tergantung di balik pintu. Tapi six pack di perutnya masih terlihat sangat manly. Benar-benar seksi.

Kakinya melangkah ke arah dapur dan menyeduh coklat panas di pagi yang sangat spesial ini. Ya, karena ketika dia terbangun, Sarang berada di sampingnya.

Tapi ini tidak akan berlangsung lama. Dirinya harus kembali ke Amerika. Banyak pekerjaan yang menunggunya. Belum menghadiri negara-negara lain untuk rapat besar seperti di Indonesia ini.

Sarang terbangun dalam keadaan masih mengenakan long dress putih cantik. Make upnya menghilang dengan sendirinya. Dan kini dia harus benar-benar merapikan diri karena sangat acak-acakan.

Matanya menyipit, melihat seseorang berambut merah yang kini tengah menyandar di daun pintu, menatapnya. Bibirnya tersenyum dan kembali menyelimuti dirinya dengan selimut.

“Mornin’, my lady..” sapa Taemin sambil menghampiri Sarang yang kini sudah sukses tertutupi selimut.

Bukan apa-apa. Sarang hanya tidak ingin terlihat bodoh hanya karena jantungnya yang berdetak kencang ketika melihat Taemin yang selalu mempesona seperti itu. Apalagi jika topless. Aaaah..

“Kau tidak ingin melihatku? Jangan membuang kesempatan ini. Di pagi hari, aku terlihat sangat tampan,” ucap Taemin dengan tawa kecil di akhir. Tangannya membuka selimut yang dikenakan Sarang. Kini dirinya dapat melihat wajah Sarang yang terlihat lemas.

“Hmh, baby boy..” Sarang bangkit dari posisinya dan menuruni tempat tidur, lalu berlalu ke dapur bersama Taemin di sampingnya.

“Aku kembali pukul sembilan pagi.” Taemin membuka percakapan setelah Sarang duduk di sampingnya, di atas sofa, dengan coklat panas.

“Pasti akan menjadi perjalanan yang panjang dan melelahkan..”

“Dan menyakitkan,” tambah Taemin lalu menghisap coklatnya.

Sarang mengertutkan keningnya lalu menoleh ke arah Taemin. “Mengapa bisa menyakitkan?” Kini Sarang ikut menghisap coklat.

“Karena aku harus meninggalkanmu.”

“Kita akan bertemu lagi, Taemin-ah..”

Mereka berdua tidak berani menatap satu sama lain. Hanya sibuk dengan coklatnya masing-masing.

“Aku tidak yakin aku akan mempunyai banyak waktu untuk menemuimu di Indonesia. Kau tahu sebagai apa posisiku di Toyoto sekarang. Tanggung jawabku besar.”

“Aku tahu. Karena aku sudah merasakan bagaimana Dad tidak mempunyai waktu luang untuk menemui kita di Korea.”

“Yeah, dan mengapa Dad hanya membiarkan kita yang tinggal di Korea. Tidak seperti hyungs.” Taemin menggoyang-goyangkan cangkirnya agar coklat kembali bercampur.

“Aku juga tidak tahu. Tapi sekarang kau tinggal di Amerika bersama mereka.”

“Hm. Mungkin sedari dulu Dad sudah berniat untuk menjodohkan kita?” tanya Taemin lalu terkekeh pelan.

“Atau mungkin karena Dad tidak ingin aku jauh dari ayah kandungku dan membiarkanmu tetap bersamaku..”

“Ya, mungkin saja. Kau sudah berniat untuk menemui ayahmu di Korea?”

Hening.

“Mungkin setelah kau sudah mendapatkan kepastian untuk bertunangan denganku. Aku akan pergi ke Korea. Meminta restu Youngjin-sshi.”

“Aku tidak ingin bertunangan denganmu..”

DEG!!

Sarang menoleh ke arah Taemin dengan cepat. Dia terkejut.

“Aku ingin kita langsung menikah. Aku ingin lebih dulu menikah dari semua hyungku. Aku harus menjadi nomor satu, Sarang-ah. Bagaimana?” tanya Taemin dengan senyum kekanakannya.

“Mwo? Yaaa~ apa tidak terlalu cep..”

“Aku penyayang, perhatian, penuh cinta, bertubuh tinggi, berambut merah, berparas tampan, jenius, cerdas, selalu berpikir kritis, eksekutif muda yang sukses, bisa menghidupi istrinya dengan baik, menyukai anak-anak dan aku sempurna. Apalagi?”

Sarang tersenyum lebar di hadapan wajah Taemin yang kini tengah menatapnya.

“Kau tidak romantis.”

“I love you..” sahut Taemin cepat sambil melingkarkan tangannya di pinggang Sarang.

“Yaaa! Menjauhlaaah~. Tetap tidak romantiiiss.”

“Shireo!” Taemin semakin mempererat rangkulannya. “Ya, Sarang! Kita akan menikah di hari ulang tahunku, di Korea. Aku akan mengurusnya dengan cepat. Bersiaplah..”

Sarang terdiam beberapa saat.

“MWO?!! 3 MINGGU LAGI?!”

Ditengah keterkejutan Sarang, dengan cepat Taemin menciumnya.

*

“Ingat, tetap hidupkan laptopmu. Aku ingin melihat wajahmu setiap hari. Juga sering-seringlah memberiku kabar. Arasso?” tanya Taemin yang sudah sangat ditunggu oleh manajer dan staffnya di pintu keberangkatan.

“I’ll miss ya, Bambino~,” ucap Sarang dengan mata yang berkaca-kaca.

“Ohh..” Taemin memeluk Sarang kembali dengan erat. “Jangan menangis. Aku akan cepat kembali. Hm?” Taemin mencium singkat kepala Sarang dengan sayang.

“Berjanjilah..”

“Apa aku harus menciummu, hm?” tanya Taemin dengan tawa.

Sarang ikut tertawa dan memukul dada Taemin pelan.

“Mister! Kita sudah sangat ditunggu! Pesawat telah tiba!” teriak manajer dari kejauhan.

Taemin kembali menatap Sarang. “Tetaplah menjadi singa betina yang jinak, Sarang. Saranghae..”

Sarang hanya tersenyum ketika Taemin berlari kecil meninggalkannya. Mengapa ini terasa sangat sakit? Bertemu hanya dengan waktu yang singkat seperti ini. Waktu memang tidak bersahabat dengannya.

**

H-20

“Saraaaaaang!! Saraaang!! Ya! Kau dimanaaa?”

Sarang yang tengah membereskan dokumen bulan ini tiba-tiba terperanjat kaget karena video call dari Taemin di komputernya.

Dengan cepat Sarang berlari dan kini wajah cantiknya terlihat di hadapan Taemin. Namja itu tersenyum dan memberikan kecup jauh sambil menutup kedua matanya berlebihan pada Sarang. Neomu kyeoptaa~

“Kau sudah kembali bekerja?” tanya Sarang sambil menopangkan dagunya di atas meja dengan cantik.

“Tentu saja.”

“Tidak sibuk?”

“Uang akan datang sendiri menghampiriku..” jawab Taemin dengan tawa. Ya, mereka tertawa bersama. Memang benar jika dipikir-pikir.

“Kau merindukanku?” tanya Sarang manja. Matanya berbinar.

“Tidak. Bukan itu saja. Merindukan tatapanmu, senyumanmu, suaramu..”

“Dan setelah kau melihatnya?”

“Aku semakin jatuh cinta. Bagaimana menurutmu?” tanya Taemin dengan wajah tampannya yang tersenyum tulus pada Sarang.

“Kamsahamnida..”

“Ya!” Kini air wajah Taemin berubah kembali menjadi kekanakan. “Mengapa kau tidak mengatakan kau juga cinta padaku, Sarang?!”

“Untuk apa? Kau sudah tahu, bukan?” balas Sarang dengan tawa.

“Tapi tidak seperti itu. Aku ingin kau mengatakannya berulang-ulang dan berulang-ulang..” jawab Taemin sambil memanyunkan bibirnya dan tidak ingin menatap Sarang.

“Ternyata bos Toyoto bisa terlihat imut seperti ini. Hahaha!”

Taemin hanya mencibirkan bibirnya sampai terlihat gemas.

“Non!” panggil Bi Asih.

“Ya, Bi?”

“Dipanggil pihak hotel..”

“Oh, iya, tolong bilangin bentar lagi aku berangkat..” jawab Sarang lalu kembali menatap Taemin. “Aku harus bekerja. Menjemput uang..”

Taemin tersenyum dan mengangguk kecil sambil menutup kedua matanya.

“Saranghae..”

“Nado..”

“Nado?”

“Nado saranghaeyo, nae Bambino-yaaa~,” jawab Sarang. Kini dirinya merasa sangat dekat dengan Taemin. Dimanapun.

Dan seterusnya, dan seterusnya. Video call dimanapun.  Tidak pernah terlewat. Setiap jam, menit, bahkan detik. Tapi keduanya asyik dengan itu. Merasakan kedekatan satu sama lain. Terkecuali satu. Taemin tidak dapat mencium Sarang secara langsung.

**

H-17

Kini Sarang berada di Jepang. Tanpa sepengetahuan Taemin. Ya, dia pergi seorang diri, tanpa sang bunda. Dirinya memang berniat menemui Minseok secara pribadi. Sekaligus ini kejutan. Bagaimanapun, Sarang adalah anak Minseok, bukan? Minseok-lah yang selama ini dengannya, memberikan perhatian yang berlebihan untuknya. Bukan Youngjin.

Ah, ya. Untuk hari ini bebas video call. Karena Taemin sedang pergi ke suatu negara—tentu saja urusan Toyoto dan tidak bisa diganggu.

Sarang menaikkan kedua ujung bibirnya dengan manis, Akhirnya dia sudah sampai di depan rumah Minseok yang sangat besar ini. Tentu saja.

“Maaf, Anda siapa? Ada keperluan apa?” tanya keamanan sebelum Sarang memasuki halaman rumah besar itu. Pagar besar itu tetap tertutup.

“Aku Choi Sarang. Tapi sudah berubah menjadi Han Sarang meskipun aku tidak rela dengan  itu,” jawab Sarang yang tidak perlu penting di akhir. “Aku ingin bertemu dengan Mr. Miseok. Apakah beliau ada di dalam? Tolong ijinkanlah aku untuk menemuinya..” jawab Sarang dengan bahasa Jepang yang cukup lancar meskipun akan terdengar aneh untuk warga Jepang.

“Apakah Anda sudah membuat janji dengan Tuan besar?”

Sarang terdiam. Berpikir. Apa itu perlu? Ya, dia menyadarinya, Dad adalah mantan pemilik Toyoto. Tapi tetap saja mengapa harus dengan janji sebelum bertemu?

“Tidak ada perjanjian sebelumnya. Tapi aku harus bertemu dengan Mr. Minseok. Ini sangat penting!” tegas Sarang. Tangannya semakin mengepal erat dorongan koper yang sedari tadi ia dorong.

“Silakan pergi dan jangan membuat keributan..”

“YA!! MR. MINSEOK!! MR. MINSEOK!! INI AKUUUU!! AKU DATANG MENEMUIMU, MR. MINSEOK!! HAN SARAAAAANGG!! MR. MINSEOOOOKKK!!” teriak Sarang dengan sangat keras sambil menggoyang-goyangkan pagar dan cukup menarik perhatian warga elit di sekitarnya.

“Anak muda! Pergi!”

“MR. MINSEOOOOOKK!! AKU HAN SARAAANG!! BIARKAN AKU MASUUUKK!!”

“Percuma! Jika dia datang, dia juga akan mengusirmu!”

Tiba-tiba sesosok pria paruh baya terlihat dengan kimono simple. Terdiam. Menatap dengan seksama yeoja yang berada di luar gerbang. Tidak lama senyumnya mengembang dengan bergetar. Ya, Minseok menangis.

“Putriku..”

Minseok memerintahkan salah satu karyawannya untuk membukakan pintu gerbang agar Sarang dapat masuk.

Tidak lama Sarang berlari meninggalkan kopernya menuju Minseok.

“Mr. Minseok..” ucap Sarang dengan sedikit ragu dan asing. Ya, dia tidak terbiasa memanggil sosok ini dengan Mr. Minseok.

“Kau putriku. Mengapa tidak memanggilku Dad dan cepat memelukku?” tanya Minseok sambil membuka tangannya lebar-lebar.

“Daddy!” seru Sarang sambil memeluk Minseok dengan erat lalu menangis haru. “Maafkan aku, Dad..”

“Sudahlah, kita masuk ke dalam saja. Di dalam hangat. Kau bisa beristirahat.”

Minseok menuntun Sarang untuk masuk ke dalam rumah tradisional Jepang namun terlihat sangat antik dan unik ini dari arah depan.

Sarang terbelalak dan terkesiap. Termyata cover depan sangatlah menipu. Rumah ini benar-benar modern dan sangatlah besar. Kolam renang, padang rumput yang terlihat sangat luas, haaa. Membuatnya sesak napas.

“Ini kamarmu..” tunjuk Minseok pada salah satu kamar di lorong ini.

“Woaa, tradisional. Aku menyukai ini. Terlihat seperti di kartun-kartun.” Sarang terkekeh pelan ketika Minseok mengusap kepalanya dengan sayang. “Dad, beri aku waktu untuk kembali menyegarkan tubuhku. Aku benar-benar lelah selama perjalanan..”

“Silakan, anakku. Pukul tujuh malam kita makan bersama. Dad akan menyediakan makanan spesial untukmu.”

Sarang tersenyum dan menutup pintu yang bermodel geser itu. Dia mengambil napas panjang, merasa lega karena akhirnya dia dapat bertemu kembali dengan Minseok.

*

“Dad..”

Setelah memberikan segelas teh hangat pada Minseok, Sarang ikut duduk di samping ayahnya itu, menghadap matahari yang tengah terbenam. Sangat indah.

“Cherry. Ah, Sarang, kau sudah besar, Nak..” ucap Minseok memanjakan putrinya itu. “Sudah besar dan akan menikah dengan Nikky Choi,” tambah Minseok dengan tawa jail di akhir. Sarang hanya menunduk malu.

“Tujuanku kemari, untuk memastikan bahwa kau memberikan restu. Bagaimana? Apa kau menyetujui aku menikah dengan putramu, Mr. Minseok?”

“Ya~ jangan memanggilku seperti itu lagi, Dear. Kau tetap putriku. Dan aku sangat senang jika kalian berdua memang saling menyukai dan berencana untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.

“Nikky terlihat tidak sabar, kau tahu. Yang dia inginkan hanya waktu berjalan sangat cepat sampai tidak terasa hari pernikahan kalian datang.”

Sarang hanya tersenyum sambil membuang napas dengan tenang. Suasana benar-benar nyaman.

“Kau sudah memberi tahu ibumu?”

“Tentu saja. Bunda selalu mendukung apapun keputusan yang sudah aku pilih. Aku tidak akan membuatnya kecewa.”

Alamanda sudah mengenal Taemin lama sekali. Tentu saja dia mengetahui bagaimana sifat Taemin luar dan dalam. Dan itu tidak buruk untuk Sarang. Terlebih lagi Taemin adalah seorang pebisnis muda terkaya orde ini.

“Dad, apa persiapan untuk pertunangan  kami sudah diurus?” tanya Sarang. Jemarinya tidak bisa diam. Cemas.

“Pertunangan?”

“Ya, pertunangan. Lalu?”

“Dia tidak mempersiapkan acara pesta untuk pertunangan. Tapi pernikahan,” jawab Minseok dengan tawa rendah.

“Pernikahan? Dia tidak mengatakannya padaku..”

“Tapi dia mengatakannya pada Dad. Dia ingin lebih dulu menikah dari semua hyungnya. Anak itu.. selalu seperti itu. Menunjukkan pada semua hyungnya bahwa dia bisa menjadi nomor satu.”

Sarang hanya bisa terdiam dengan mata membulat. Menikah? Yang benar saja. Tanpa bertunangan? YANG BENAR SAJA!

Ottokkhae? Ottokkhae? Hiaaah!!

Umur dua puluh memang terlihat sudah biasa bagi yeoja untuk menikah. Ya, cukup umur. Tapi untuk Taemin? Bahkan dia lebih muda darinya. Sembilan belas! Di umur sembilan belas sudah menikah? Bagaimana jika mempunyai anak beberapa bulan sesudah menikah? Taemin menjadi seorang ayah di umur nya yang masih belia? Yang seharusnya menikmati bagaimana masa muda dan tidak mempunyai banyak pikiran mengurusi perusahaan besar. Taemin pasti tersiksa.

“Sarang..”

Sarang terbangun dari lamunannya dan cepat mengeluarkan senyuman simetris pada Minseok.

“Kita makan malam..”

*

(Sarang POV)

Aku yeoja yang akan menikah.

Menikah.

Di umur dua puluh tahun.

Menikah dengan namja di bawah umurku.

Sembilan belas.

Micheosoooo!!!

Taemiinaaaaaah!!

Mengapa tidak bertunangan lebih dulu, menunggu beberapa tahun sampai kita berdua siap menikah. Minimal menunggu umurmu sedikit matang. Dua puluh dua tahun misalnya? Ah, tapi nanti aku yang terlihat tua.

Ottokkhaeee? Molla molla mollaaa~

Tuhan, mengapa jantungku selalu berdegup kencang? Apakah secepat ini? Bagaimana reaksi oppadeul jika mengetahuinya? Mendahului mereka yang telah bertunangan.

PUINGPUING~

Ada e-mail masuk!

Taemin..

T : Chagiyaa~ aku lelah sekali. Pekerjaanku belum juga selesai. Tapi aku harus berusaha. Untuk masa depan kita *blink

Haaaaiiissh.. masa depan? Taemin memang masih kekanakan.

S : Taeminnie, hwaiting!!

T : Hanya itu? Tidak mengucapkan kata-kata romantis pada orang yang kau cintai ini? Aigoo~

S : Aku merindukannmu, Taemin-ah. Cepatlah pulang dan tetap di sampingku. Saranghae..

T : OMOOOO!!! XD

S : -___-

T : nado neomu neomu saranghaeyo chagiyaaaaa.. Aku akan cepat menyelesaikan pekerjaanku dan pulang. Cepatlah pergi tidur! Ini sudah larut malam, sayang.

S : Kau mulai belajar bahasa Indonesia? Kkk. Ne, aku tidur sekarang. Cepat pulang yeoboo~

T : Aku dapat mengatasinya. Selamat malam dan bermimpilah yang indah. Jangan mencemaskanku di sini. Aku baik-baik saja dan akan segera kembali ke Amerika untuk mengurus acara spesial kita..

S : Hm. Jagalah kesehatanmu.. malam..

T : :***********

 

Haaaiiisshh, jinjja!

Aku tidak dapat menutup mataku. Setiap aku mencoba untuk menutupnya, bayangan Taemin dengan kata pernikahan selalu muncul dan membuatku tersentak.

Yang aku takutkan jika menikah itu.. Proses. Proses dalam pembuatan anak/plakshtdhztsht.

Bobo.

*

(Taemin POV)

Hari ini benar-benar melelahkan. Lihat! Sudah pukul sebelas malam dan pekerjaanku baru saja selesai. Jepang memang sedikit rumit.

Kuturuni mobil Camry hitam ini dengan tas kerja yang masih terlihat kece dan jas yang di sampaikan di tangan kananku.

Ketika aku mulai memasuki pintu utama, aku melihat satu pasang witches cantik. Siapa? Apa milik Mom Kirei? Ah, tidak mungkin. Dia sedang berada di Korea dengan Mom. Lalu?

Abaikan saja. Yang pasti, ini bukan milik calon istri Dad yang baru. Haha. Lucu. -__-

Setelah membuka sepatu sneakers biru menyala milikku, seorang pelayan datang menghampiri dan membantu membawa tas dan jasku ke dalam ruangan dress room.

“Ah, ini milik siapa?” tanyaku sambil menunjuk sepatu asing itu.

“Oh. Milik putri Mr. Miseok yang saya tahu.. Permisi..”

“Ah, ya.” Putri Dad? Sarang? SARANGGG?!! SARANG ISTRIKU DIMANA SEKARANG? APA DI KAMAR BAWAH? APA DI KAMAR ATAS? DIMANAAA!!

Aku benar-benar senang, Tuhan!

“Ya! Kau!” teriakku pada salah satu pelayan yang tengah berdiri di samping pintu masuk samping. Dia membungkukkan badannya.

“Di mana istriku tidur? Aku ingin tidur dengannya malam ini..”

Senyum di bibirku sulit menghilang. Dengan jantung berdebar aku mengikuti langkah pelayan di depanku sampai akhirnya satu pintu dimana Sarang tengah terlelap sudah berada di depanku.

“Terimakasih, kau bisa kembali..”

Dengan perlahan aku menggeser pintu ini dan terlihatlah Sarang yang tengah tertidur menyamping. Mengapa dia tidak memakai selimutnya?

Hari ini benar-benar melelahkan. Tapi dengan tidur di samping istriku mungkin akan membuatku menjadi  lebih baik.

Kubuka kemeja hitam yang terlihat pas di badanku ini. Baiklah, aku topless sekarang. Dan celana ini mengganggu. Kubuka saja dan hanya tersisa boxer. Ini terlihat lebih baik.

Aku mendekati Sarang dan tidur di sampingnya, diukuran kasur lipat yang berukuran single ini.

“Ayolah, jangan menghadap ke sana~ aku di belakangmu, Sarang..”

Tidak. Sarang tidak merubah posisinya dan tetap tidur menyamping seperti itu. Akhirnya dengan paksa aku menarik bahunya sampai dia menghadap ke arahku. Aigoooo. Cantik sekali. Aku tidak dapat memejamkan mataku kalau seperti ini. Akan kuhabiskan malam hanya dengan menatapnya dari dekat seperti ini.

Aku benar-benar merindukannya berada di dekatku.

Seperti ini.

**

(Author POV)

Sarang mengerutkan keningnya. Matanya belum juga terbuka. Hanya indra penciumannya yang tengah bekerja aktif.

Baunya, baunya seperti parfume milik seseorang. Sarang lebih menghisap aroma parfume itu sambil berangsur naik menuju dagu namja yang tengah memeluknya itu.

Kini matanya terbelalak dan sontak berteriak dengan keras sambil menutup matanya dan berlari ke pojokan kamar.

“Aaarrgghh..” erang Taemin yang baru saja tersadar dari tidurnya yang singkat itu. “Istriku.. kau sudah bangun, hm?” tanya Taemin sambil memasang posisi duduk dan bergeliat. Dia menguap dan membuat hidungnya memerah, matanya berair. Sangat lucu.

Sarang hanya bisa terdiam dan melongo melihat Taemin berada di depannya.

Taemin tersenyum sangat genit ke arah Sarang dan itu membuat Sarang ingin sekali melempar apapun ke arah Taemin agar menyingkirkan mimik itu.

“Kau.. di Jepang?” tanya Sarang yang masih belum dapat menghilangkan rasa shock!

“Hm..” jawab Taemin dengan senyuman terimutnya. “Selain menyelesaikan urusannku dengan Toyoto Jepang, aku juga harus berkonsultasi dengan Dad untuk masalah pekerjaan dan.. pernikahan.”

“Oh..”

“Sarang~” panggil Taemin manja.

“Mwo?” Sarang berbalik ketus.

“Popppoooo~,” ucap Taemin sambil memanyunkan bibirnya dan menutup matanya berlebihan.

“Yaaaa~ jangan sok imut!”

*

“Aku benar-benar senang melihat kalian berdua saling mencintai seperti ini. Selain itu aku juga bisa selalu dekat dengan putri tercinta yang sempat menghilang beberapa tahun yang lalu,” ucap Minseok. Sarang yang merasa tersindir hanya tersenyum malu.

“Seperti yang aku bilang, Dad. Aku ingin pernikahan diadakan tepat di hari ulang tahunku ke 20 dengan tema white paradise. Hm, kalian tahu aku sangat maniak dengan warna putih.” Taemin memasukkan satu buah susshi ke dalam mulutnya.

Suasana sarapan pagi sedikit berbeda. Karena Minseok dapat melihat kedua anaknya yang akan menjadi sepasang suami istri dalam waktu dekat ini.

“Tapi, Taemin.. Apa tidak terlalu cepat? Mengapa tidak bertunangan lebih dulu?” tanya Sarang yang masih ragu dengan keputusan Taemin. Ini semua terlalu cepat. Jika mereka menikah di tanggal ulang tahun Taemin, mereka sama-sama berumur dua puluh dan itu terlau muda untuk… Aaarggh..

“Chagiya, dengarkan aku. Bertunangan itu tidak wajib. Cepat menikah, itu lebih baik. Selain itu juga tidak membuang-buang uang. Benar, bukan? Yang penting kau sudah mempunyai cincin pemberian dariku itu..” jawab Taemin dengan senyuman jahil di akhir sambil melirik cincin pemberiannya di jemari manis Sarang.

“Tapi Taemin, aku takut..”

“Aaaahh..” desah Minseok berlebihan. “Aku sudah tidak sabar mempunyai cucu..” gumamnya.

DEG!!!

Itu yang aku takutkan! Ituuuu!! Prosesss!!!

Taemin tersenyum penuh arti. “Kau ingin mempunyai berapa, Dad? Kau harus tahu aku mempunyai pelajaran yang baik untuk ini..” Taemin tertawa keras bersama Minseok lalu berhighfive. Sarang hanya terdiam dan cemas.

“Usahakan namja..” saran Minseok lalu meminum teh hangatnya.

“Bisa diusahakan. Tapi aku ingin mempunyai yeoja. Yeoja juga dapat memimpin satu perusahaan dengan baik, bukan? Seperti yeoja cantik di sampingku yang sedang cemas dan bertanya-tanya bagaimana rasanya proses dalam pembuatan anak,” ujar Taemin yang kembali disusul tawanya.

“Taemiiiinn!!” teriak Sarang sambil mencubit lengan Taemin cukup keras.

“Aaaahh! Chagiya!”

“Ini terlalu cepat, Taemin! Mengapa kita tidak membiarkan Minho oppa, Keybum oppa dan Keybom oppa menikah lebih dulu? Bahkan GD oppa belum bertunangan dan kita sudah menikah? Kau anak bungsu!”

“Lalu jika aku anak bungsu? Aku tidak boleh mendahului mereka? Aniya. Aku heran. Bukankah kau ingin selalu menjadi nomor satu?”

Sarang terdiam. Itu memang benar.

“Tapi situasi berbeda. Kita bukan anak sekolahan lagi, Taemin-ah..” Sarang melahap susshinya dengan tidak sabar karena kesal dengan Taemin.

Minseok menarik napas. “Menurutku tidak masalah. Menikahlah dengan cepat. Aku takut Sarang berpindah ke hati namja lain. Bukan begitu, Nikky? Dad juga seorang namja. Haha.”

“Kau benar, Dad. Bahkan aku takut semua hyungku menjadi terobsesi pada Sarang. Chagiya, itu yang aku takutkan. Aku juga takut kau kembali menyukai Minho hyung. Karena sampai kapanpun hyungku yang satu itu selalu terlihat tampan.”

Kini Sarang yang tertawa puas. “Bambino..”

“Mworago?”

“Bambino. Sampai kapan pun kau selalu seperti ini. Kecemasanmu berlebihan, Bambino. Seperti anak kecil.” Sarang menghabiskan tawanya lalu kembali menyumpit satu susshi.

Dengan cepat Taemin meraih tangan Sarang yang tengah menyumpit susshi itu dan memasukannya ke dalam mulutnya dengan perlahan dan tatapan membunuh. Mengunyah susshi itu dengan kuat dan ganas.

“Woooo. Seraaam. Tapi entah mengapa kau masih tetap terlihat imut,” komentar Sarang lalu mengacak rambut Taemin dengan sayang.

Minseok hanya tersenyum melihatnya. Ya, bapak itu bahagia. Mungkin Taemin akan lebih betah di rumah dan menemui istrinya.

Tapi tiba-tiba Minseok terperanjat dan pertanyaan itu muncul. Apa dia harus menanyakan ini?

“Nikky.. Kau berencana mempunyai istri berapa?”

“Ah?” Taemin tersentak dengan Sarang yang menatapnya cemas.

“Apa kau rela dimadu, Singa betina?” tanya Taemin pada Sarang tanpa basa-basi.

“….”

*

Mereka berdua sudah memutuskan untuk pergi ke Korea pagi ini setelah sarapan dan berbincang banyak.

Tujuannya adalah untuk menemui Youngjin, ayah kandungnya dan meminta restu juga untuk pernikahan yang akan berlangsung tidak lama lagi.

Di dalam pesawat, Sarang hanya terdiam. Pertanyaan Minseok yang terakhir itu benar-benar membuatnya galau. Benar juga. Bagaimana jika Taemin ingin seperti Dad? Mempunyai istri empat. Atau bahkan lebih.

“Ya~ mengapa kau diam seperti itu? Aku di sampingmu, Sarang. Apa ada masalah? Aku suamimu. Katakanlah padaku..”

Sarang berdecak mendengar kata ‘suami’ yang keluar dari mulut Taemin. Kau masih anak kecil, Taemin! Embel-embel suami masih belum pantas bergelar padamu.

“Katakanlah dengan jujur. Kau ingin mempunyai lebih dari satu? Seperti Dad?”

Taemin terdiam. Tapi tiba-tiba dia tertawa. “Aku tidak akan mempunyai banyak istri jika kau mampu memberikan banyak anak untukku.” Taemin menempatkan dagunya di pundak kiri Sarang dengan manja dan itu membuat jantung Sarang berdebar keras. “Bagaimana? Kau sanggup?”

Jujur saja, Sarang tidak ingin mempunyai banyak partner untuk mendampingi Taemin. Tapi anak? Bagaimana ini?

“Berapa buah yang kau inginkan?” tanya Sarang terdengar menantang dan Taemin menyukainya.

“Dad mempunyai enam anak. Lima namja satu yeoja. Hm, Aku ingin mempunyai sepuluh bagaimana?” tanya Taemin sambil memainkan jemari Sarang.

“Tapi Dad mempunyai enam anak dari empat istri. Sementara kau..”

“Ah!” potong Taemin. “Tujuh namja dan tiga yeoja. Atau lima namja lima yeoja? Aaah terlalu merata. Enam namja empat yeoja? Hm, tanggung. Tiga namja tujuh yeoja? Itu tidak baik untuk perusahaan. Tujuh namja tiga yeoja. Ya! Sempurna!”

Sarang mendesah panjang. “Kau sudah menyebutkan opsi itu di awal, Bambino!”

“Ah, maaf. Aku terlalu bersemangat dan tidak sabar untuk membuat anak.”

Sarang hanya mengeluarkan ekspresi -___-

“Singa betina! Aku akan membawamu menuju rumah Jonghyun hyung. Ajak Sera, Heera dan Soona nuna! Aku yakin anak kembar mereka sudah besar! Ah, kita harus mengalahkan mereka!”

“Huaaaa.. God, help me! Kids again and over again..”

*

“SERAAAAAAA!!!” seru Sarang yang akhirnya bertemu dengan sahabat yang sangat dirindukannya itu.

“SARAAAAAANGGG!!!”

Mereka berpelukan sangat erat dan menangis bahagia.

“Kau kemana saja, Sarang? Menghilang tanpa kabar dan tahu-tahu kau berada di depanku. Aaah, kau sangat cantik!” seru Sera yang kembali memeluk Sarang dengan berlebihan. “Ya! Bocah! Duduklah dan pesan beberapa menu,” ucap Sera pada Taemin.

Taemin menghirup napas panjang, tidak terima dipanggil bocah oleh Sera. Bambino saja sudah cukup menyayat hati/plaks.

“Aku sudah bukan bocah lagi, Nuna! Aku dan Sarang akan menikah beberapa hari lagi. Kau dan Keybom oppa kapan menyusul?” tanya Taemin pada Sera sambil duduk di cafe milik Sera itu dan menlihat-lihat menu.

“Mwo? Kalian akan segera menikah? Tanpa bertunangan?”

Kini mereka semua duduk di satu meja.

Sarang sudah membuka mulutnya, hendak mengeluarkan protes blak-blakan karena pernikahannya terlalu cepat. Tapi dengan segera Taemin menjawab.

“Ya, itu benar. Bahkan Sarang sudah siap mempunyai anak banyak dariku.”

“MWO?!!”

*

“Ini dia rumah Jonghyun oppa..” tunjuk Sera setelah turun dari mobil Taemin.

“Woaaw. Seniman. Rumahnya pun unik seperti ini,” komentar Sarang.

Ah, ya. Soona tidak bisa ikut karena kesibukannyua menjadi dokter di rumah sakit. Ya, yeoja yang hampir menyerupai barbie itu memang super sibuk. Sama seperti Heera yang sibuk dengan usahanya, mempunyai toko besar pernak-pernik fangirling.

Mereka bertiga masuk ke dalam rumah Jjong dan bertemu dengan Hara. Sarang kembali berpelukan dengan Hara. Komentar Sarang yang tiba-tiba menghilang keluar juga dari mulut Hara dan itu membuat Sarang semakin merasa bersalah.

“Kyaaaaahh!! Kyeoptaaaaaa!” jerit Sarang tertahan ketika melihat bayi kembar Jonghyun yang tengah bermain dengan mainannya masing-masing di dalam box.

Tidak lama Jonghyun datang menuruni tangga rumahnya dan tersenyum lebar melihat kehadiran Sarang bersama Taemin.

“Sarang!” seru Jonghyun.

Di belakang Jonghyun mengekor Kim Jjonghara, anak lelakinya yang berumur empat tahun. “Aunty Barbie!” panggilnya pada Sera dan memeluk Sera layak kakaknya.

Sarang dan Taemin hanya mengerutkan keningnya lalu tertawa bersama. Memang mereka pasangan yang cocok. Apalagi ketika Taemin merangkul Sarang dari belakang dan menggenggam jemari Sarang dengan erat.

“Jonghyun oppa. Bagaimana kabarmu?” tanya Sarang pada Jonghyun setelah mereka saling menyapa.

“Aku bahagia!” jawab Jonghyun sangat ceria sambil merangkul pinggang Hara sekilas. “Karena aku mempunyai banyak anak. Haha!”

“Hyung! Beberapa hari lagi aku dan Sarang akan menikah.”

“Jeongmal?” tanya Jonghyun dengan mata yang membulat.

“Ya. Dan kami akan menyusulmu. Lahir satu anak, tambah, lahir, tambah, lahir, tambah,” lanjut Taemin dengan wajah meyakinkan.

“Hara! Kita harus segera membuatnya kembali!”

“Aaaaah, aku iri! Mengapa Keybom oppa tidak juga menikahiku? Aku juga ingin mempunyai banyak anak!” ucap Sera sambil memijit keningnya.

“ANDWAE!!! BERHENTI MEMBICARAKAN  ANAK, ANAK DAN ANAK!!”

*

Jantung Sarang bergedup dengan sangat kencang ketika pintu rumah ayahnya sudah berada tepat di depan mata. Tapi Taemin tetap memberikannya ketenangan dengan menggenggam calon istrinya itu.

Akhirnya Sarang berhasil memencet tombol bel dan tidak lama pintu terbuka. Satu pelayan membungkukkan badannya dan mempersilakan mereka berdua untuk masuk dan menunggu di ruang tamu.

“Kami dari keluarga Toyoto. Ingin bertemu dengan Mr. Youngjin,” ucap Taemin dengan wibawanya sebagai pemilik Toyoto.

Sarang terlihat sangat cemas. Ditambah dengan suasana malam hari yang dingin dan membuatnya semakin gugup.

Tidak lama sosok Youngjin terlihat. Ayahnya itu terbelalak, tidak dapat berkata apa-apa ketika melihat putrinya datang menemuinya.

“Dad..” panggil Sarang sambil bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Youngjin dengan erat. “Maafkan aku..”

“Anakku.. Sarang.. Dad yang harus meminta maaf padamu karena tidak mengurusmu, Nak. Dad merasa sangat berdosa. Maafkanlah kesalahan Dad, putriku..”

Sarang tidak menangis. Hanya tersenyum dan mengangguk beberapa kali. “Semuanya sudah berlalu. Bagaimanapun aku adalah anak kandungmu.”

Setelah mereka duduk dengan nyaman di ruangan itu, Taemin membukan pembicaraan. “Youngjin-sshi, kedatangan kami kemari bertujuan untuk meminta restu darimu. Karena aku dan Sarang akan segera menikah beberapa hari lagi, tepat di hari ulang tahunku. 18 Juli..” ujar Taemin yang secara tiba-tiba terlihat dewasa dan aura kepemimpinannya keluar seketika. Membuat Sarang sedikit mengerutkan keningnya. Ini benar-benar Bambino?

“Ah? Secepat itukah? Tapi tidak masalah untukku. Bagaimana putriku? Kau sudah yakin?” tanya Youngjin pada Sarang.

“Uh.. tentu saja. Keputusan Taemin tidak akan salah. Aku akan menikah dengannya, Dad..” jawab Sarang sedikit malu-malu.

“Dimana kalian akan melangsungkan resepsi? Apa semuanya sudah disiapkan dari sekarang?” tanya Youngjin dengan wajah berbinar. Tentu saja. Dia sangat senang karena anak kandungnya itu akan segera menikah.

“Aku sudah menyiapkan ini dibantu dengan saudara-saudaraku di Amerika. Tempatnya tentu saja di Korea.”

“Siapa saja yang diundang?”

“Para pejabat, termasuk Presiden Korea—ayah dari Jinki hyung, para menteri negara, beberapa dari pihak Kerajaan, semua pengusaha besar yang menjalin kerjasama dengan Toyoto, artis dari teman-teman GD hyung juga Jonghyun hyung  untuk mengisi acara hiburan, teman-teman sekolah dulu, dan teman-temanku ketika berkuliah di Amerika. Mungkin ditambah dari pihak Anda, perusahaan besar tekstil di Korea. Bagaimana, Ahjusshi? Apakah masih kurang?”

Youngjin hanya terdiam karena terkejut mendengar jawaban Taemin. Yang benar saja. Ini pesta akan berlangsung sangat meriah. Tapi tidak lama Youngjin mengangguk dan tertawa. “Joa.. Sepertinya Dad harus membeli tuxedo baru yang spesial untuk pernikahan putriku.”

Mereka semua tertawa dan suasana pun menjadi hangat.

*

Kini mereka berdua tengah melepas lelah di rumah yang menyimpan banyak sekali kenangan mereka dari kecil sampai akhirnya berpisah yang sangat tidak diinginkan keduanya, sebenarnya.

Sarang memasuki kamarnya yang sangat dia rindukan. Sementara Taemin berada di balkon, melihat labirin yang masih tetap terurus seperti dulu.

Bibir Sarang tersenyum melihat boneka-boneka pelampiasan Jinki dan Taemin. Tapi kini dia tidak memukuli kedua boneka itu. Malah memeluknya dan menyimpannya di atas tempat tidur dengan manis.

Sarang terperanjat ketika Taemin memeluknya dari belakang secara tiba-tiba. Mengagetkan saja.

Seperti biasa Taemin menopangkan dagunya di atas bahu kanan Sarang dengan manja dan bibir yang dibuat sok imut.

“Singa betina..” ucap Taemin manja. Sarang hanya membalasnya dengan gumaman singkat. “Bagaimana.. kalau kita percepat saja?”

“Tanggal pernikahan, maksudmu?”

“Ani.. Maksudku..”

“Mwo? Kembali ke Amerika dan aku kembali ke Indonesia?”

“Ani, ani, ani!” Taemin menggeleng layak anak kecil.

“Lalu?”

“Untuk mempunyai satu..” bisiknya yang sontak membuat Sarang merinding hebat.

Sarang berusaha sekuat tenaga melepas pelukan Taemin yang merangkul di pinggangnya sangat kuat.

“Lepaskan, Taemiiin! Aku tidak mauuuu!! Kita belum sah!!”

“Aaaa~~ jebaaal~,” ucap Taemin sambil memeluk Sarang lebih erat lagi.

“Kau menakutkan!”

Kini Taemin membiarkan Sarang lepas dari pelukannya. Tiba-tiba Taemin tertawa renyah. “Baiklah, aku akan bersabar. Wajar saja kau seperti ini. Kita belum menikah. Tapi lihat saja, jika kita sudah menikah dan kau tetap menolak..”

“Apa yang akan kau lakukan, ha?” tanya Sarang terdengar menantang. Tapi dengan perlahan Sarang melangkah mundur karena Taemin yang berjalan mendekatinya.

“Ikut denganku ke Amerika besok pagi..”

“Shireo!” bantah Sarang matang-matang.

“Kenapa?” tanya Taemin yang kini sudah berhasil mengapit Sarang di antara meja dan dirinya. Matanya menatap Sarang dengan tajam dan penuh nafsu.

“Aku.. Bambino-ya!” teriak Sarang sambil menunduk karena takut dengan perlakuan Taemin padanya.

Taemin tersenyum lalu memeluk Sarang dengan sayang. “Aku mencintaimu..”

“Eh?”

**

“Kita bertemu lagi di sini. Korea. Untuk resepsi pernikahan kita. Ingat, jangan mencoba berpindah ke lain hati, Chagiya. Karena aku tidak akan pernah melepaskanmu. Arachi?” tanya Taemin yang mempunyai jadwal keberangkatan lebih awal. Sementara Sarang setengah jam lagi.

“Seharusnya aku yang berkata seperti itu. Amerika banyak sekali menampung yeoja seksi dan cantik,” timpal Sarang sambil tersenyum pasrah.

“Aku tidak menyukai orang asing bermata biru atau merah sekali pun. Mereka sangat menyeramkan,” jawab Taemin dengan tawa kecil. “Aku menyukai dirimu. Hanya dirimu, Sarang. Kau tahu yeoja sepertimu tidak ada lagi di dunia ini.”

“Jika ada?”

“Aku bilang tidak ada. Jangan mulai keras kepala.”

“Kau gombal. Dan aku sudah tidak mempan dengan itu.” Sarang tertawa sambil mendorong dada Taemin pelan.

Taemin tersenyum lalu mencium Sarang dengan perlahan. Kedua matanya tertutup, menikmati bibir Sarang yang selalu terasa manis di lidahnya.

“Saranghae..” bisik Taemin di bibir Sarang. Dan itu membuat Sarang mati berdiri saat itu juga.

**

Akhirnya dunia tahu bahwa Sarang bukanlah anak dari Choi Minseok, mantan pemilik Toyoto setelah berita pernikahan Sarang dan Taemin sudah tersebar.

Tapi itu semua membuat Sarang lega karena tidak perlu lagi bersembunyi untuk menutupi dirinya yang dikabarkan menghilang beberapa tahun.

Dan berita Taemin akan menikahi kakaknya sendiri itu juga cukup mencengangkan. Bagaimana pun juga mereka adalah adik-kakak selama belasan tahun. Bagaimana bisa Taemin merasakan perasaan lain selain perasaan sayang pada kakaknya? Tapi itu semua tidak mustahil.

Acara pernikahan yang diadakan di padang rumput hijau yang sangat luas dan indah ini akan berlangsung secara mewah dan istimewa. Seperti yang dikatakan oleh Taemin, dia maniak putih. Maka dari itu semua  peralatan pesta berwarna putih begitu juga dengan dresscode para tamu. Tidak terkecuali dengan para robot pelayan, ciptaan Keybom dan Keybum dan desain pesta oleh Minho.

Hanya yang mendapatkan undangan yang boleh masuk dan mengikuti pesta. Begitu pun dengan para wartawan yang tidak ingin ketinggalan berita heboh ini.

Acara akad telah selesai. Para artis boyband dan girlband sudah mulai tampil dan banyak sekali anak-anak dari para konglomerat itu tertarik melihatnya dari dekat.

Para tamu menikmati hidangan lezat dan mewah yang tersebar di atas meja-meja hidangan.

Youngjin dan Minseok terlihat sangat bahagia. Mereka berbincang di area pengantin, di atas panggung yang tidak terlalu tinggi, hanya dua jengkal kurang lebih.

Begitu juga dengan empat istri Minseok dan Mrs. Youngjin. Mereka sangat cantik dengan memakai hanbok mewah.

Tidak lama Taemin keluar dengan memakai baju tradisional dari Indonesia. Kopiah putih yang elegan menghiasi kepalanya dan itu membuat Taemin semakin tampan. Juga dengan baju berkerah ciangi—yang juga berwarna putih dan celana sepasang. Gagah.

Sarang menyusul mengenakan kebaya modern yang tidak kalah mewah dan elegan. Begitu juga dengan gaya rambutnya yang disanggul cantik. Semua orang terpesona dibuatnya. Ya, selain memukau, gaya itu jarang dilihat di pesta pernikahan Korea.

Mereka berdua berdiri berdampingan dan menyambut tamu yang datang dengan senyuman bahagia.

Dari kejauhan Minho, Keybum dan Keybom beserta pasangan mereka hanya bisa menggeleng melihat adiknya yang tidak bisa bersabar sedikit saja. Setidaknya membiarkan mereka lebih dulu menikah.

“Sera, Soona onnie! Bagaimana kalau kalian menemaniku melihat acara hiburan? SHINee akan tampil beberapa menit lagi! Kajja~!” ajak Heera, sang fans fanatik SHINee. Minho yang mendengar itu hanya menghembuskan napasnya sambil memutar bola mata. Lalu memijit keningnya yang mendadak pusing.

“Dia tidak pernah berubah. Padahal aku lebih tampan dari namja-namja lebay itu..” komentar Minho yang lebih membanggakan dirinya sendiri. Keybom dan Keybum terkekeh.

“Mengapa kau tidak menjadi artis saja seperti GD hyung?” tanya Keybum sambil meminum minumannya.

“Tidak menantang dan penghasilan yang didapatkan tidak terlalu memuaskan untuk namja kosmopolitan, ekstraordinari dan highclass sepertiku,” jawab Minho dengan angkuhnya dan mendapat pukulan dari dua saudara kembarnya itu bersamaan.

“Ya~ apa kalian tidak lihat? Sarang sangat cantik. Malah dia bertambah cantik saja.” Ini baru komentar. Keybom mengulum bibirnya sambil memandang sepasang pengantin yang tengah berbahagia.

Keybum mengangguk. “Hm. Tapi aku tidak menyesal. Yang penting aku pernah menciumnya.” Keybum yang kini sudah berubah menjadi bad boy sepenuhnya hanya tertawa kecil.

Keybom ikut tertawa. “Ya. Aku juga mendapatkan yang cukup istimewa saat itu. Bagaimana denganmu, Elias?” tanya Keybom sambil menoleh dengan tatapan meledek. Kapan Minho mendapatkannya?

“Aku senang karena menyayangi adik perempuan sepertinya. Dia benar-benar spesial. Begitu juga dengan Taemin. Meskipun dia jail, tapi aku menyukainya. Dia ceria dan tumbuh menjadi namja yang tampan dan sukses.”

“Oooo~” Keybom dan Keybum bergumam bersamaan. Terdengar bijak.

Terlihat Jinki dan Jiyoung tengah mengobrol dengan Sarang. Ketiga kakaknya hanya bisa tertawa kecil. Musuh yang paling Sarang benci adalah kakaknya sendiri.

“Jinki..” ucap Sarang pada Jinki lalu berpelukan beberapa saat.

“Aku merindukanmu, Sarang..” ujar Jinki sambil memandang Sarang penuh perasaan. Tentu saja. Sarang adalah yeoja yang pernah sangat dia cintai. Dan kini dirinya melihat Sarang sudah bersanding dengan namja lain.

“Aku juga merindukanmu, Jinki-ya..”

“EHEM!!!” deham Taemin berlebihan dan itu membuat Jinki, Jiyoung dan Sarang tertawa bebas.

Selang tiga puluh menit, Sarang dan Taemin berganti baju menjadi baju adat Amerika dan Jepang lalu memakai hanbok. Penutup memakai baju longdress berwana hitam elegan. Karena mereka akan pergi sekaligus berbulan madu.

Mobil limosin berwarna hitam dan gagah itu sudah terparkir rapi di depan pintu masuk utama rumah mereka. Para pelayan membantu menaikkan barang-barang menuju bagasi mobil.

“Selamat tinggal semua!” seru Sarang sambil melambaikan tangannya pada semua orang yang tengah berdiri, menunggunya pergi. Siapa lagi kalau bukan keluarga besar.

“Hati-hati, Sarang! Taemin akan berubah menjadi ganas jika malam hari!” teriak Minho lalu tertawa keras.

“Ingat apa yang sudah selama ini aku ajarkan padamu, Taemin-ah! Jangan mudah menyerah!” Kini Keybum yang berseru.

“Usahakan pelurumu tetap berdiri!”

Krik.

Teriakan Keybom mendapatkan tatapan tajam dari segala arah.

“Aku serius! Kau ingin mempunyai banyak anak, bukan?” Keybom mengangkat kedua bahunya dengan ekspresi arogan.

Kini Taemin tertawa dan mengacungkan jari tengahnya pada Keybom. “ Terimakasih, Hyung. Aku akan melakukan yang terbaik. Bukan begitu, Chagiya?” Taemin mendekat dan tertawa di telinga Sarang. Itu membuat siapapun bersorak.

“Baiklah, kami pergi. Bye!”

**

(Sarang POV)

Mengapa perjalanan Korea-Indonesia terasa begitu cepat? Tujuh jam! Dan kini aku sudah berada di dalam kamar pengantin, tepatnya di tempat penginapan milik alm kakekku. Taemin yang meminta bulan madu pertama di tempat ini. Bulan madu ke dua kita berencana ke Jepang. Bulan madu ketiga kita akan ke Manhattan. Dia benar-benar mengeluarkan banyak uang untuk ini.

CKLEKK!!

DEGG!!!

Dengan cepat aku berbalik ke arah pintu kamar mandi. Taemin keluar dari dalam sana hanya terbalut handuk dan rambut merahnya yang basah.

Aku tundukkan kepalaku dan berjalan menuju masuk ke dalam kamar mandi. Tapi ternyata itu tidak mudah. Taemin menghalangi jalanku!

“Permisi..” ucapku. Aiihh, mengapa terdengar seperti itu?

Taemin tertawa renyah. “Formal sekali..” lalu, “mandi?”

“Hm..”

“Mungkin aku bisa membantu menggosokkan sabun di punggungmu. Bagaimana?” tawar Taemin yang dibalas dengan pukulan cukup keras di lengan Taemin. “Aaawcchh..”

“Jangan harap, Bambino!”

BLAM!!

“Oooo~,” gumam Taemin sambil terkekeh dan cepat mengeringkan rambut dan memakai boxernya. Hanya boxer.

20 menit kemudian.

Sarang belum juga keluar dari kamar mandi. Membuat Taemin tambah gelisah dan bertanya-tanya, apa yang sedang Sarang lakukan di dalam? Luluran? Mandi kembang tujuh rupa? Bersemedi? Atau tertidur? Masturbasi? KYAAAHH!!

Sambil mengacak rambut basahnya, Taemin berjalan menuju pintu kamar mandi dan mengetuknya dengan keras.

“KYAA!!!” teriak Sarang yang tiba-tiba mendapat serangan jantung beberapa detik. “Kau mengagetkanku!”

“Apa yang sedang kaulakukan? Aku menunggumu sudah lama sekali, Singa betinaaa. Ayolah..” Taemin mengeluh panjang dan tetap mengetuk pintu kamar mandi lebih keras.

Dan dengan terpaksa Sarang keluar dari dalam kamar mandi tersebut dalam keadaan memakai baju handuk dengan rambut setengah basah.

Taemin bersiul menggoda. “Kau sudah siap beraksi di atas ranjang, Baby?” tanya Taemin sambil memainkan tali baju handuk yang dikenakan Sarang dan menggigit bibir bawahnya sendiri.

Sarang mendesah panjang. “Aku lelah,” ucap Sarang mencari alasan sambil berlalu menuju lemari untuk mengambil baju tidur.

Tapi tanpa disadarinya Taemin menarik tali itu sampai akhirnya membuat Sarang berteriak hebat karena baju handuknya terbuka.

“ANDWAEEEE!! BAMBINO-YA! KAU TIDAK SOPAAAN!!”

Taemin tertawa kecil. “Kau istriku. Kau tahu salah satu tugas istri? Melayani suami..” ujar Taemin sambil berjalan perlahan dan mengapit Sarang di antara tembok.

“Moreugesso!” seru Sarang sambil mendorong dada Taemin untuk menjauh. “Kita terlalu muda! Tunggu sampai umurku menginjak dua puluh dua, Bambino!”

“MWO?! Ndo.. jinjja! Kau harus diberi pelajaran!!” Taemin terlihat sangat marah karena dirinya tidak dilayani dengan baik oleh istri.

Sarang merasakan takut yang sangat hebat. Apalagi ketika Taemin menggenggam pergelangan tangannya dengan sangat erat.

“YA!! Ini KA DE ER TE!! Jika kau berani menyiksaku, aku tidak akan segan-segan melaporkan pada polisi!!” teriak Sarang.

“Siapa yang akan menyiksamu? Percaya diri sekali..”

“Argghh,” kesal Sarang yang tertahan. Tapi dirinya tetap mencoba melepaskan jeratan Taemin.

Kini Taemin tengah mengobrak-abrik tasnya. Setelah benda yang dicarinya ditemukan, Taemin tersenyum iblis dan mengacungkannya pada Sarang.

“Ini pelajaran yang kumaksud. Ayo kita menonton yadong!” ajak Taemin sambil mendudukkan Sarang di atas sofa, depan TV kamar itu. Lalu dirinya melangkah, menyalakan televisi dan memasukkan CD ke dalam DVD player.

“Bambino-ya.. apa kau tidak tahu jika kita melihat blue film seperti ini, kita akan berdosa!” teriak Sarang tiba-tiba kerasukan malaikat nyasar.

“Tidak untuk kali ini. Aku yakin Tuhan akan memaklumi bagi seseorang yang awam sepertimu.” Taemin menoleh ke arah TV yang tengah menayangkan sepasang manusia yang tengah bermesraan di atas sofa. “Ow, ow, ow!” jerit Taemin sedikit tertahan sambil menyenderkan kepalanya di kepala Sarang.

Sarang hanya dapat menutup matanya dan berharap Taemin tidak memaksanya untuk melihat film sialan itu.

“Sebentar lagi! Lihat, Sarang! Ini benar-benar menarik! Cara pembuatan anak!” teriak Taemin sambil berusaha membuka kedua telapak tangan Sarang yang menutupi wajah istrinya itu.

“SHIREOO!!”

“HAIIISSSHH!!”

Sentakkan Taemin yang tadi benar-benar membuat Sarang terkejut dan takut. Belum pernah melihat Taemin marah seperti ini. Apalagi kini wajahnya berada sangat dekat dengan tangannya yang kembali digenggam Taemin dengan kasar.

Mata bulatnya menatap Sarang dengan tajam dan desahan kesal sesekali keluar.

Sepi. Hanya suara TV yang mengisi kamar pengantin itu. Desahan-desahan sepasang manusia itu benar-benar mengganggu akal sehat Taemin. Sarang yang merasa penasaran mencoba menoleh ke arah televisi.

DEG!!

“Yaks..” pekiknya tertahan.

Taemin mematikan televisinya dan mengangkat tubuh Sarang dengan paksa ke atas ranjang.

Dengan sekali gerakan, Taemin mencium Sarang sambil membuka baju handuk Sarang dengan cekatan.

*sensor*

**

Manhattan-New York

Bulan madu hari ke tiga akhirnya datang. Sekarang Sarang sudah mulai biasa melakukan itu dengan Taemin. Apalagi ketika di Indonesia. Taemin benar-benar bertempur dengan sangat hebat. (huakakak bambino >.<)

“Kau sudah siap?” tanya Taemin yang tengah membuka baju lengan panjangnya yang selalu pas di badan itu.

“Tunggu. Sepertinya.. aku.. HOEK!!”

Dengan langkah yang sulit sambil memegang perutnya yang mual, Sarang menuju ke dalam kamar mandi hotel berbintang tujuh di Manhattan itu.

Dia muntah.

“Kau baik-baik saja, Chagiya?” tanya Taemin sambil mengelus punggung Sarang dengan sayang. “Aku akan ambil obat. Tunggu di sini..”

Tanggung jawab Taemin sebagai seorang suami sudah terbukti. Sarang hanya bisa tersenyum dan dirinya menyadari bahwa cintanya untuk Taemin bertambah besar setiap saat!

“Minum ini. Antangin JE ER GE. Mungkin kau masuk angin. Perjalanan memang sangat panjang dari Jepang kemari.”

Sarang tidak banyak berbicara dan langsung saja meminum obat yang diberi Taemin.

Taemin tetap mengelus rambut Sarang dengan sayang dan menatapnya lembut. “Sudah? Kau merasa lebih baik?”

Sarang mengangguk pelan beberapa kali. Dirinya tidak yakin. Karena rasa mual terus saja menguasai perutnya.

“Baiklah, kita bisa memulainya, bukan?” tanya Taemin dengan senyuman jahil dan menuntun Sarang ke atas ranjang. “Kita harus memakai banyak gaya kali ini. Doggy, 69..”

“UWOOK!!”

Sarang kembali berlari menuju wastafel kamar mandi. Taemin mengerutkan keningnya dalam-dalam. Dia cemas. Bagaimana ini? Apa yang terjadi dengan Sarang?

“Ottokkhae?” tanyanya lebih pada diri sendiri.

“UWOOOKKK!!”

Taemin semakin cemas dan kembali menghampiri Sarang. “Chagiya..” ucap Taemin sambil memeluk Sarang dari  belakang dan menatap pantulan dirinya dengan Sarang di cermin wastafel. “Kau sakit, hm? Baiklah, kita tidak akan melakukannya malam ini. Kau harus banyak beristirahat. Besok kita pergi ke tempat Jinki hyung. Dia membuka praktik di rumahnya.”

Suasana sepi..

“Mengapa tiba-tiba aku ingin pasta?” ujar Sarang tiba-tiba.

Taemin melongo. “Mwo?”

“Aku ingin pasta, Bambino! Buatkan pasta untukku!”

“Ah, uh… okay..” Dengan langkah ragu, Taemin berjalan menuju dapur dengan segala firasat yang dipikirkannya sekarang. Apa Sarang masuk angin? Atau kurang makan? Diare? Lambung? Ah, aku tidak berpengalaman..

**

Taemin tidak melepaskan genggamannya di tangan Sarang. Sebagai suami, Taemin tahu harus membuat istrinya nyaman berada di sampingnya.

“Giliran Anda..” ucap seorang karyawan di tempat praktik Jinki ini. Ya, namja itu telah lulus menjadi seorang dokter dengan cukup singkat.

Taemin dan Sarang memasuki ruang periksa. Jinki yang menemui sosok mereka berdua terkejut setengah mati. Ya, dia senang mendapatkan pasien yang ternyata adalah sahabatnya.

Sementara Taemin membawa Sarang kemari adalah bertujuan mudah-mudahan Sarang sembuh tanpa mengeluarkan biaya sedikit pun. Kau tahu. Kekekekeke!

“Pengantin baru yang terlihat sangat romantis,” komentar Jinki sambil membenarkan jas putihnya. Senyumannya tidak pernah luput, seperti biasa.

“Tentu saja. Tapi lain kali saja kau meneruskan pujian itu untuk kami, Hyung. Sarang sakit. Dia selalu muntah setiap jam bahkan belasan menit. Aku takut terjadi apa-apa padanya,” jelas Taemin.

Jinki terdiam. Tapi beberapa saat kemudian, Jinki tersenyum penuh arti. “Apa kalian sudah melakukan hubungan suami istri?” tanya Jinki.

Sarang terperanjat. “Mworago? Mengapa kau bertanya masalah pribadi seperti itu, Jinki-ya!” bantah Sarang dengan pipinya yang mulai memerah.

“Tentu saja, Hyung. Sudah lima kali. Kita melakukannya dimana saja.”

“Wow.. sepertinya akan ada anggota baru di keluargamu, Taemin-ah..” ujar Jinki. “Chukkae..”

DEG!!

“Maksudmu, aku akan menjadi seorang ayah?”

Jinki mengangguk dengan senyuman lebar. Taemin terdiam tidak mempunyai gagasan untuk mengeluarkan ekspresi. Senang? Terkejut? Tidak menyangka. Semua bercampur aduk.

Sarang memegang perutnya lalu tersenyum manis dan menoleh ke arah Taemin.

Taemin berkaca-kaca dan menggenggam jemari Sarang dengan erat. “Thankyou, Chagi..”

**

Suasana malam di Manhattan benar-benar indah. Apalagi untuk Taemin dan Sarang yang sudah mendapatkan anugerah luar biasa yang tidak semua orang dapat memilikinya dengan mudah.

Taemin memeluk Sarang dari belakang dengan sayang di balkon rumahnya ini. Ya, mereka sudah pindah ke rumah sendiri, berada di Manhattan, kawasan elit.

Kondisi kandungan Sarang pun sudah mulai membesar tiga bulan lamanya. Dan selama itu Taemin selalu ingin pulang lebih cepat dari kantor dan memilih menghabiskan waktu di rumah istana itu.

“Tidak kusangka. Perjalanan kita untuk menjadi bersatu dan membuat keluarga seperti ini sangatlah panjang dan mengalami banyak masa sulit. Kau menyadarinya?” tanya Taemin sambil mengelus perut Sarang dengan sayang.

“Hm. Tidak tertebak. Awalnya hubungan namdongsaeng dengan nuna. Adik yang tidak pernah bosan menjahili dan menggoda nunanya. Lalu berpisah karena aku bukan anak kandung Dad, saling merasa kehilangan, dan ternyata kita saling mencintai. Itu sangatlah random menurutku..”

Taemin tertawa kecil dan semakin merapatkan pelukannya.

“Aku berjanji, aku akan selalu bersamamu, dan anak-anak kita..”

Taemin mulai menjalarkan bibirnya di permukaan leher Sarang dan menciumnya dengan lembut dan penuh perasaan.

“Mom! Dad! Stop being like a teenager couple!! Valian is crying! I can’t closed my eyes exactly! Same as Jesse and Jessy!! They both are always kick me when their fall asleep!! I wanna have a different bedroom with them!” protes Daren, anak lelaki pertamanya yang kini sudah tumbuh menjadi remaja yang sangat tampan dan cerdas di New York JHS.

“Baiklah, besok Dad akan menyuruh Uncle Elias untuk mendesain kamar barumu. Bagaimana jagoanku?” tanya Taemin sambil mengacak rambut anak sulungnya itu.

“Really? Thanks, Dad! Ah, by the way, I love your red hair. Bagaimana jika aku juga memiliki warna dan model rambut seperti itu?” tanya Daren sambil merapikan rambutnya agar menyerupai Taemin.

“Not bad.” Taemin tersenyum. “Ah! Ada pertandingan bola! Bagaimana kalau kita melihatnya bersama malam ini, Kiddy? Besok freeday, bukan?”

“Yeah!” seru Daren kelewat senang.

Sementara Sarang tengah menggendong Valian, anak bungsu lelakinya yang masih berumur satu tahun. Dan kini dirinya tengah hamil tiga bulan dan diperkirakan akan lahir kembar! Sama seperti Jesse dan Jessy.

Dunia mereka akan semakin ramai dan menyenangkan dengan banyak anak di rumah.

Tidak hanya itu. Perusahaan Toyoto tidak perlu khawatir mencari pengganti untuk mengambil alih perusahaan jika Taemin telah menjadi seperti Minseok.

Hm, akhirnya semua hidup berbahagia. Sera, Soona dan Heera dibawa ke Amerika. Mereka juga sudah menikah dengan pasangannya masing-masing. Begitu juga dengan Jinki dan Jiyoung.

Semua baru saja memiliki satu anak. Kecuali Keybom dan Sera yang juga terobsesi tidak ingin kalah dari seorang Bambino. Apakah mereka akan berhasil?

Oh, tidak bisa..

THE END

……………………………………………..

14 thoughts on “SHINee FF: HELLO SMART PLAYBOY [ CHAP 14 – END ]

  1. Astagaaaaaaa bambinoooo -_____-
    Udaaah punya 4 bocah di tambah yang di perut :3
    Kyaaaaa ini kenapa harus end ? Padahal lagi seruiserunya :D tapi gapapa deh di tunggu ff barunya :D

  2. huaaaahhh finally happy endinggggggg =D miapeh sarang udah punya anak sebanyaj ituuu??aaakkkk bambinoooo ternyata sudah besar yaa :3 best fanfict i ever read ya eonni :D:))))))

  3. Ngakaggggg…pas perkataan keybom ttg peluru itu=_= akhirnya indah bgt. Ahh.. pdhl aku selalu berharap fiction ini ga ada akhirnya…. TOP BEGETE EONNI. itu fanfic barunya bakalan jadi favoritku selanjutnya deh kayanya…..fighting~~~~♥♥♥♥♥

  4. taemin udh nikah duluan,anak pling bnyk,emg mau buat kesebelasan apah?? haha tpi ini lucu ,keep writing thor

  5. “Usahakan pelurumu tetap berdiri!”
    Ige mwoya?! huahahahahhaha xD kagak berubah yee dasar maniak yadong!!! xD

    Bambino daebak baru 5 kali langsung gol(?)
    Trs skrg udh punya 4 anak? tambah 1 yg bntr lg mau brojol? wahh serius mau bikin 10 xD

    God job authornim… akhirnya end jg yaa..berasa g rela masa…. bkln kangen nihh sama bambino yg kekanakn…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s