EXO FF: POOR PRINCESS [ CHAP 1 ]

POOR PRINCESS

POOR PRINCESS

Cast:

  •  Dio (EXO)
  •  Byun Baekhyun (EXO)
  • Lee Ryuee, YOU

Minor Cast:

  • EXO
  • Lee Hyora (fictional)

Disclaim:

yang menciptakan mereka, dua belas bintang besar yang eksotis, EXO. Pemeran lain hanyalah fiksi yang tidak diketahui keberadaan aslinya. Tapi itu terserah dirimu.

Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Happy reading!

…………………………………………………………………….

CHAP 1

(Your POV)

“Alenaaaaa~”

Dimana dia? Apa dia tidak tahu kalau lima belas menit lagi aku akan terlambat masuk sekolah? Dammit.

“Alenaaaa!!!” panggilku lebih keras.

“Maaf, nona. Aku baru menemukan sepatu yang nona inginkan. Ini, nona.”

“Tapi bisa cepat sedikit, bukan? Aku sudah sangat terlambat, Alena.”

Setelah memakai sepatu itu dengan tergesa, aku lari menuju mobil yang sudah siap dengan pintunya yang terbuka di depan pintu utama rumahku. Aku masuk dan pintu mobil tertutup otomatis. Sopir pribadiku menancap gasnya dengan cepat. Dia tahu kalau aku sangat—sangat—sangat terlambat.

*

Dan benar saja. Pintu gerbang sekolah sudah tertutup dengan sangat rapat. Security berjaga. Ada beberapa murid yang terlambat juga disana.

Aku turun dari mobilku dan berjalan menghampiri security itu.

“Bolehkah aku masuk, Sir?” tanyaku.

“Maaf. Kau terlambat, jadi kau tidak di perbolehkan masuk, nona. Tunggu sampai jam pelajaran pertama selesai.”

Aku mendengus dan memilih untuk menghubungi dad. Tidak lama nada sambung terdengar.

“Yes, honey?” tanya dad dari sebrang.

“Dad, aku terlambat dan tidak diijinkan masuk.”

“Baiklah, dad akan menelpon pihak sekolah. Great day, Ryuee.”

“Thankyou, dad. I love you.”

Setelah aku menutup sambungan telepon, tidak lama seorang guru datang dari arah dalam sekolah dan memperbolehkanku masuk tanpa mendapat sanksi sedikitpun. Yeah, it’s me. Lisaria Fairy Plaincassie. Kau bisa memanggilku Lee Ryuee.

*

(Author POV)

Lee Ryuee. Seorang wanita kelas 3 SMA yang cukup sempurna di usianya. Dibanding dengan anak-anak lain, Ryuee mempunyai banyak kelebihan. Semua tipe yang diinginkan lelaki ada padanya.

Dia cantik, menarik, enerjik. Banyak bakat, pintar, baik hati. Tapi ada satu sifat yang mungkin kurang disuka oleh sebagian orang di saat-saat tertentu. Dia sangat manja dan selalu memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Terutama pada ayah dan kakak laki-lakinya yang memang sangat memanjakan Ryuee. Meskipun terkadang ayahnya bersikap sangat tegas.

Lelaki mana yang tidak ingin mendapatkannya? Ryuee adalah anak bungsu dari tiga bersaudara dari pengusaha kaya terkenal, Lee Jongwoon. Tapi saking sempurnanya dia, tidak sedikit lelaki yang tidak percaya diri dan memilih untuk diam dan tidak menyatakan perasaannya. Meskipun mereka mempunyai harta berlimpah.

Ryuee mempunyai satu kakak laki-laki dan satu kakak perempuan yang bernama Xiumin dan Lee Hyora. Sementara ibunya telah meninggal dunia ketika dia berumur tujuh tahun.

Kakak lelakinya ini sedang melanjutkan pendidikannya di universitas terbaik di Korea jurusan management. Ayahnya menyuruhnya agar bisa memimpin perusahaan besarnya nanti.

Lee Xiumin juga sangat peduli dan memanjakan Ryuee di banding dengan Hyora. Mungkin karena Xiumin tidak suka dengan sifatnya Hyora yang sangat berlebihan karena Hyora adalah seorang artis dari girlband yang sangat terkenal sekarang ini. Berbeda dengan Ryuee yang mempunyai banyak bakat dan sama sekali tidak tertarik dengan dunia entertain.

Hmm, Lee Hyora. Dia berkuliah di universitas yang sama dengan Xiumin. Tapi berbeda jurusan. Dia tidak tertarik dengan dunia bisnis. Tapi di bidang entertain. Yeah, perfilman. Jadi ayahnya tidak terlalu memanjakannya Hyora yang susah di atur. Ditambah dengan sifat Hyora yang pemarah dan egois pada saudaranya.

Tidak jarang Hyora selalu merasa cemburu pada Ryuee yang selalu mendapat perhatian lebih dari dua orang lelaki yang sangat disayanginya. So, dia tidak terlalu dekat dengan Ryuee. Malah sering mengadu domba pada ayahnya itu dan membuat Ryuee terkena hukuman.

Pernah suatu hari Hyora mengadakan pesta kecil bersama teman para artisnya di rumah besar bak istana itu ketika ayahnya sedang bertugas keluar negeri.

Ada seorang aktor muda yang juga salah satu member dari boyband yang sudah sangat terkenal dan semua orang tahu padanya.  Baekhyun.

Lelaki itu mempunyai jutaan lebih fans wanita yang tersebar luas di dunia ini. Siapapun dapat dengan mudah tersihir dengan ketampanannya. Suara yang indah dan berwajah sangat tampan dengan mata yang tajam.

Yeah, lelaki itu menyimpan perasaan pada Ryuee. Sang adik dari Hyora, teman satu entertainer.

Baekhyun selalu menjemput Ryuee untuk pulang bersama di sekolahnya dan mengantarnya sampai rumah jika dia mempunyai waktu luang dari pekerjaannya. Terkadang Baekhyun mengajaknya hanya sebatas untuk mengobrol di cafe milik keluarga Ryuee di dalam ruangan khusus. Karena Ryuee tidak ingin media mengetahui kalau dia sedang berduaan dengan Baekhyun, artis yang sedang berada di puncak karirnya. Dia takut di serang penggemarnya yang termasuk ‘buas’.

Ryuee sama sekali tidak mempunyai rasa yang lebih sedikitpun kepada Baekhyun. Bukan apa-apa. Dia hanya menganggapnya sebagai seorang oppa. Karena saat mereka saling mengenal, Baekhyun memperlakukan Ryuee seperti pada adiknya sendiri. Ryuee nyaman dengan itu. Tapi setelah Baekhyun menyatakan perasaannya, Ryuee menolak dan menjadi sedikit segan. Tapi Baekhyun tetap tidak melepasnya.

Ryuee mempunyai seorang sahabat yang sangat setia berada di sampingnya ketika ia membutuhkan. Sebenarnya dia masih satu saudara dengannya. Dia bernama  Lay. Uncle Ryuee adalah ayahnya Lay.

Mereka satu sekolah dan satu kelas. Dua orang populer ini sangat sering menjadi sorotan penting di sekolah. Apalagi ketika mereka menunjukkan bakatnya di depan umum terutama saat pertunjukkan atau perlombaan.

Tidak berbeda dengan Ryuee, Lay juga berasal dari keluarga yang dibilang sangat kaya dan dihormati banyak orang. Ayahnya seorang dokter bedah yang handal dan mempunyai rumah sakit kelas internasional yang tersebar di berbagai negara besar. Sementara ibunya adalah seorang designer artis yang terkenal dan juga designer yang membuat design khusus untuk kelompok girlband Hyora.

Sudah satu bulan ini ayahnya sedang tidak berada di Korea, melainkan di tempat kelahirannya ketika Ryuee di beri nama Lisaria Fairy Plaincassie. Yeah, Amerika. Untuk apalagi kalau bukan urusan bisnis.

Dia hanya tinggal bersama Xiumin, Hyora dan para pelayan pribadi juga pelayan yang lain di rumahnya. Rumah yang sangat sempurna. Berbagai fasilitas tersedia.

Tapi setiap pulang sekolah dia selalu menemukan kondisi rumah yang sepi. Kedua kakaknya belum datang dari kegiatan di luar. Sibuk dengan kegiatan masing-masing. Apa yang dia kerjakan? Dia menunggu guru les pribadi yang datang ke rumahnya dan belajar. Lagi dan lagi mencari bakat terpendam. Ryuee paling benci di kalahkan oleh siapapun.

Waktunya istirahat. Kegiatan belajar-mengajar tidak efektif karena para murid sudah menjalani ulangan semester dan hanya menunggu pembagian raport.

Ryuee dan Lay berjalan menuju kantin sekolah yang lebih mirip seperti cafe. Seperti biasa mereka duduk di pojok, dekat spiker. Ryuee senang bisa mendengar musik dari dekat.

“Kau ingin memesan apa?” tanya Lay sambil membuka menu. Waitress menunggunya dan bersiap untuk mencatat pesanan.

“Aku sudah sarapan. Pearlescent blue saja,” jawab Ryuee yang sedang sibuk membalas senyuman yang berikan teman-teman yang melewatinya meskipun dia tidak mengenali siapa mereka.

“Okay, pearlescent blue 2 buah dan Piddlywoks ice satu,” pesan Lay. Pelayan wanita itu menulis sambil mencuri pandangannya untuk melihat Lay dari dekat.

“Are you serious?” tanya Ryuee tidak yakin dengan pesanan Lay.

“Tenang saja. Ada kau yang akan membantuku menghabiskannya.” Lay tertawa pelan.

Tidak lama pesanan datang. Ryuee menganga melihat pesanan Piddlywoks ice pesanan Lay. Benar-benar es krim yang sangat besar di dalam mangkuk lebar. Ditambah dengan potongan brownies dan coklat batangan. Terlihat sedikit menggiurkan.

“Lay, ada seorang wanita, aku tidak tahu namanya. Dia mengirim pesan lewat e-mail padaku tadi malam,” kata Ryuee memulai pembicaraan.

“Pesan?”

“Yeah. Dia sangat membuatku ketakutan dan serasa dihantui.”

“Memangnya apa yang dia katakan?” tanya Lay sambil melahap es krim jumbonya itu.

“Sepertinya dia mengetahui kalau aku pernah di antar pulang oleh Baekhyun oppa. Atau mungkin dia pernah melihatku dengan Baekhyun oppa di tempat lain.”

“Jadi wanita itu fansnya, eh?”

“His freak fan exactly. Dia sampai mengatakan kalau dia tidak akan segan-segan melakukan apapun padaku jika aku merebut Baekhyun oppa darinya. Bodoh! Apa Baekhyun oppa mengenalnya? Tidak kurasa.”

“Bukannya Xiumin hyung sudah melarangmu jangan dekat-dekat dengan aktor itu?”

“Aku hanya tidak enak saja jika menolak ajakannya. Lay…”

“What?”

“Apa mungkin perempuan itu bersekolah di sekolah ini?”

*

(Your POV)

Bel pulang sekolah berbunyi begitu nyaringnya. Para murid berlomba-lomba keluar pintu gerbang sekolah. Hah, aku lebih betah di sekolah. Banyak teman yang bisa di ajak untuk berbincang.

Drrrtt drrtt…

From: Baekhyun oppa :3

Ryuee ^^ oppa akan menjemputmu. Wait me..

Setelah mendapat pesan dari Baekhyun oppa, aku mengirim pesan pada supirku agar tidak menjemputku siang ini. Wah sial handphoneku lowbat.

“Ryuee. Kau di jemput si artis itu?  Byun Baekhyun?” tanya Lay sambil menggendong tasnya.

“Yeah. Seperti biasa.”

“Baiklah aku duluan.”

Aku mengangguk dan tersenyum. Suasana kelas yang sangat hening ini membuatku sedikit risih dan aku memilih untuk menunggu di luar saja.

“Lay tunggu!”

*

Aku melambaikan tanganku kearah Lay yang tersenyum padaku, membawa motornya keluar gerbang sekolah.

Drrtt drrt…

From: xxxxx

Aku tahu kau akan di jemput oleh Baekhyun, bukan? Awas kalau aku melihatmu menaiki mobilnya sekarang. Aku tidak akan segan-segan, tuan putri!

DEG DEG!!

Sepertinya pengirim sms ini adalah orang yang sama. Aku tidak boleh mencari masalah dengannya. Lebih baik aku pulang saja.

Cepat-cepat aku ketik pesan untuk supirku. Please, jangan mati. But, shit! Handphoneku mati. Seharusnya aku tidak membiarkan handphoneku menyala seharian ini. Kalau seperti ini aku tidak bisa menghubungi supirku untuk menjemput. Kalau saja Lay menungguku sebentar saja.

Aku jelajahi sekitar sekolah dengan mataku. Tapi sama sekali tidak ada yang mencurigakan dari murid-murid yang berada di sekelilingku.

Baiklah aku langkahkan kakiku perlahan, menjauh dari sekolah ini. Makin cepat, makin jauh, dan makin banyak ketakutan berputar di dalam pikiranku.

Aku takut tiba-tiba Baekhyun oppa menemukanku dan fans itu melihatnya. Atau bisa saja fans itu melihatku jalan sendiri dan dia akan menghabisiku. Stay cool, Ryuee.

Iyuh, aku baru menyadari jalanan disini banyak genangan air. Membuatku susah berjalan. Bagaimana ini? Bisa-bisa sepatu kesayanganku kotor. Hah, apakah tidak ada orang yang kasihan padaku dan menawarkan untuk pulang bersama?

BRUUSSSHH!!

“Ya!! Tidak sopan!!!!! Ah…”

Sial! Dimana pengendara mobil itu memasang matanya?! Hah, nasibku… Aku sibuk membersihkan rok dan seragamku yang terkena cipratan air dari genangan itu. Tidak sedikit. Aku yakin penampilanku tidak jauh seperti roti yang dilumuri coklat panas.

Ha, wajahku! Rambutku! Bagaimana ini. Aku butuh cermin. Setidaknya terlihat sedikit rapi. Meskipun aku kurang yakin dengan itu.

Tidak jauh dari tempatku berdiri, ada satu buah mobil yang berkaca gelap dan sepertinya memang sengaja di parkir di pinggir jalan ini oleh pemiliknya.

Aku berjalan sambil menundukkan kepalaku. Bagaimana kalau ada murid atau orang yang tahu kalau seorang Lisaria Fairy Plaincassie alias Lee Ryuee berpakaian seperti anak yang tidak terurus oleh ayahnya, Lee Jongwoon. Huah, memalukan!

Oh God! Aku hampir tidak mengenali sosokku yang terpantul di kaca gelap mobil ini. Dengan perlahan aku membersihkan wajahku dengan sapu tangan yang selalu kubawa. Setelah itu aku rapikan rambutku dengan jemariku.

By the way, mobil hitam ini terlihat keren dan mewah sekali. Pasti mahal. Tapi sepertinya seharga dengan mobil Xiumin oppa yang berwarna merah itu.

SREEEEEEEETT…

“Sudah selesai, nona?”

MWO?!!??

Ternyata sedari tadi mobil ini tidak kosong. Berarti… huaaa aku malu sekali. Yakin kali ini wajahku sangat merah. Aku merasa panas menjalar di wajahku.

Kaca pintu mobil itu terbuka perlahan. Terlihat satu sosok namja yang sedikit menarik? Yeah! Dia tampan.

“Baru menemukan mobil semewah ini?” tanyanya dengan tampang sombong. Hah, ternyata masih ada lelaki berspesies seperti ini. Aku yakin jika aku berpenampilan seperti biasa, dia tidak akan seperti itu padaku. Baru saja aku memujinya. Dan sekarang aku sudah ilfeel padanya. Aku tarik semua ucapanku. Dia sama sekali tidak menarik bahkan tampan!

“Sorry? Aku mempunyai mobil yang lebih banyak, mewah dan mahal dari pada mobilmu ini!”

Lelaki itu keluar dari mobilnya. Terlihat ada seorang lelaki lainnya di dalam mobil itu. Dia hanya tersenyum melihat kelakuan lelaki pengecut ini.

Lelaki ini melihat penampilanku dengan teliti dari ujung rambut sampai ujung kaki. Matanya menyipit. Tidak lama kemudian…

“Hahahaha! Sepertinya cermin pun kau tidak punya. Mana mungkin orang berpenampilan kotor sepertimu mempunyai mobil yang lebih banyak, mewah dan mahal.”

“Jadi kau tidak percaya padaku?”

“Buktinya? Mana mobilmu? Kau berjalan, hello~! Jangan banyak bermimpi, nona malang,” ucapnya pedas dan menusuk sambil masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya yang hampir  tidak terdengar itu.

“Bagaimana dengan pesanan kita?” tanya temannya. Namja ini  hanya mendengus. Aku melirik ke salah satu kedai ramen berkelas di sebrang.

“Akan aku buktikan padamu kalau aku lebih kaya darimu, pengecut!” teriakku.

Mobilnya melaju dengan sangat cepat dan menjadi pusat perhatian orang-orang yang dilewatinya.

Baru kali ini aku mengalami pengalaman buruk dengan seorang namja sombong. Biasanya aku diperlakukan baik oleh mereka. Tapi dia? Dasar. Mungkin lelaki hanya melihat wanita dari luarnya saja. Haha, ya itu benar.

*

Dan akhirnya setelah berjalan cukup jauh, aku menemukan satu taksi dan membayarnya di rumah.

“Alena, tolong bayar. Aku lelah,” suruhku dengan lemas. Alena hanya mengangguk dan membayar jumlah argo ke supir taksi itu.

Hmm, mobil daddy terparkir rapi di depan garasi utama. Daddy sudah pulang rupanya. Begitu juga dengan Hyora. Tumben sekali dia sudah ada di rumah. Biasanya pulang tengah malam.

“Hai, Dad, I miss you!” sapaku ketika menemukan daddy dan Hyora sedang duduk di ruang keluarga. Sepertinya mereka tengah berbicara serius.

“Ryuee. Dad kira kau akan menggunakan kartu kredit itu dengan baik. Tapi ternyata tidak. Dad menerima tagihan dari kartu kreditmu. Hyora saja yang seorang artis tidak seboros dengan apa yang kamu keluarkan!”

“Dad… aku tidak mengerti.”

“Sudah! Dad kecewa padamu, Ryuee. Sepertinya dad harus memberimu sedikit hukuman. Kau harus bisa merasakan bagaimana susahnya mencari uang.”

“Apa? Dad…”

“Sudah dad tentukan. Mulai sekarang  dan satu bulan kedepan kau tidak lagi tinggal disini. Tapi di rumah Alena. Selain itu kau mempunyai pekerjaan untuk bekerja di cafe kita. Setiap hari, setelah kau pulang sekolah sampai malam. Kau mengerti? Tolong jangan banyak protes atau akan dad tambah. Ini demi kebaikannmu, Ryuee. Ah ya, sebentar lagi sekolahmu libur, bukan? Sangat kebetulan. Baiklah besok dad akan pergi ke Jepang. Baik-baik.”

Aku hanya tertunduk dan meneteskan air mataku yang sudah tidak bisa tertahan lagi. Setelah dad berjalan meninggalkanku dan Hyora, aku mengangkat kepalaku dan menemukan Hyora yang tengah tersenyum licik kearahku. Ini pasti ada yang tidak beres.

Aku berlari menuju kamarku yang terletak di lantai dua. Alena mengikutiku di belakang. Wanita berumur 25 tahun itu lebih cocok menjadi kakakku.

Aku menangis dan menenggelamkan wajahku di atas bantal berbulu tebal yang terdapat di sofa kamarku. Terasa Alena mengelus rambutku.

“Nona, jangan menangis. Mungkin tuan besar sedang kelelahan dengan pekerjaannya.”

“Tidak, Alena. Aku tahu bagaimana sifat daddy. Dia benar-benar marah padaku. Padahal aku sama sekali tidak menggunakan kartu kreditku. Bagaimana bisa. Satu minggu yang lalu kartu kreditku hilang,” ucapku sambil terisak.

CKLEKK!!

“Kemasi barangmu sekarang juga! Besok pagi kau sudah harus pergi dari rumah ini, nona maha sempurna.”

Aku menyipitkan mataku kearahnya dengan sinis. Aku melihat raut bahagia di wajahnya. She is a very very bad sister ever!

“Aku tahu kau yang mengambil kartu kreditku!” bentakku padanya. Aku sudah tidak memperdulikan sebutan ‘kakak’ lagi untuknya. Tidak cocok.

“Sopan sekali.”

“Katakan, Hyora! Ini semua pasti kau pelakunya. Aku membencimu! Keluar kau dari kamarku!”

Aku mendorongnya dengan kasar sampai dia tersungkur keluar kamarku. Dengan cepat aku mengunci pintu kamarku dan menangis lagi. Kesal dengan sikapnya yang tidak pernah baik padaku. Xiumin oppa… dimana kau? Aku membutuhkan sosok kakak di sampingku sekarang.

“Alena. Aku akan tinggal dengan siapa di rumahmu?” tanyaku pada Alena yang tengah memberi senyumannya.

“Aku mempunyai adik lelaki yang duduk di kelas 2 SMA sekarang. Satu umur di bawahmu. Dia anak yang baik. Kau bisa berteman dengannya.”

Tapi jika dipikir-pikir banyak untungnya juga. Aku bisa jauh dari peneror itu. Fans Baekhyun oppa. Juga jauh dari saudara perempuanku yang sangat jahat. Lee Hyora.

Bagaimana dengan dua orang lelaki yang sangat aku cintai? Dad dan Xiumin oppa. Sudahlah. Kalau dad merindukanku, aku juga akan di suruh pulang lagi ke rumah, mungkin. Jika Hyora tidak mengadu dombakan aku dengan dad.

Dan what? Aku harus bekerja di cafe? Yang benar saja. Cafe itu selalu dipenuhi oleh anak muda dari sore sampai malam. Tidak sedikit dari mereka yang sebatas hanya mengetahuiku. Okay, mungkin mereka akan ilfeel melihatku menjadi seorang pelayan. Hidupku yang sebenarnya akan dimulai besok.

**

“Maaf, Ryuee. Oppa tidak di bolehkan menjengukmu disana oleh dad. Maafkan oppa, Ryuee,” bisik Xiumin oppa ketika aku sudah berdiri di depan pintu utama. Malam berganti sangat cepat.

“Tidak apa-apa, oppa. Yasudah, aku pergi.”

“Jangan banyak basa-basi dan cepat pergi!” ucap Hyora tajam. Aku menarik nafasku panjang dan menghembuskannya perlahan. Mencoba sabar.

“Ya, Hyora! Shut up your fucking mouth!” sergah Xiumin oppa dan merangkulku. Hyora hanya mendengus ketus.

“Saranghae, oppa. I’ll be okay.”

“Nado saranghae, Ryuee.”

Aku menarik koperku dan masuk ke dalam mobil. Mungkin ini untuk keterakhir kalinya aku menaiki mobilku selama satu bulan kedepan ini.

Ah, jadi apa yang akan aku kerjakan nanti setelah sampai di rumah Alena? Alena hanya mengatakan dia mempunyai adik lelaki yang umurnya satu tahun di bawahku. Dan dia tinggal sendiri.

Hari ini adalah hari sabtu. Sekolahku libur. Gosh! Mulai hari ini aku mulai bekerja di Plaincassie Cafe, cafe keluargaku sendiri. Ini bukan cabang yang selalu aku kunjungi jika Baekhyun oppa mengajakku bersantai. Tapi cafe yang ini adalah cafe yang besar dan selalu dibanjiri anak muda termasuk artis. Mati aku.

Tidak lama sopirku memberhentikan mobil ini di depan rumah yang tidak terlalu besar tapi terlihat nyaman dan rapi.

“Nona, jaga dirimu,” ucap supirku. Aku tersenyum.

“Thankyou, sir! I’ll be back again soon. So, wait me,” candaku. Supirku terkekeh.

“Yes, no, yes, no.”

“Apa banget deh. Okay, aku akan masuk. Ah, kau tahu? Aku akan bahagia disini tanpa Hyora, si nenek sihir jelek itu. Katakan padanya, salam jari tengah dariku!”

Supirku hanya terkekeh. Yeah, dia sudah setia selama 15 tahun sebagai supirku sejak kecil.

Mobilku sudah menghilang. Aku melangkahkan kakiku perlahan sambil menjelajahi rumah ini dan sekitarnya. Perumahan yang sederhana. Banyak orang yang memperhatikanku. Oh, please jangan seperti itu. Aku jadi risih dibuatnya. Aku tahu aku cantik, menarik tapi ga gitu juga kale /?

TOK TOK TOK!!!

Aku mengetuk pintu rumah Alena. Tidak lama seorang namja bertubuh lebih tinggi dariku membuka pintunya. Dia tersenyum dan membungkukkan punggungnya.

“Nona besar. Silakan masuk!” aku masih terkejut dengan panggilannya padaku. Nona besar. Sedikit berlebihan.

Aku duduk di ruang tamu rumah mungil ini setelah anak itu memperbolehkanku.

Waw, nyaman sekali. Tidak terlalu besar. Ternyata rumah Alena berubah dengan sangat drastis. Terakhir aku lihat biasa saja dan sangat kecil lima tahun yang lalu. Tapi sekarang sudah bertambah menjadi dua lantai juga bertambah panjang ke belakang.

“Aku sudah mendapat kabar dari Alena nuna kalau nona besar akan tinggal di rumah ini bersamaku. Selamat datang!”

“Tolong jangan memanggilku dengan sebutan nona besar. Whats your name?” tanyaku sambil tersenyum senang. Dia benar-benar polos dan menggemaskan.

“Oh Sehun imnida. Nona bisa memanggilku Sehun. Hmm, jadi aku harus memanggil nona besar apa?”

“Panggil saja… nuna…” saranku hati-hati. Tapi tidak lama namja bernama Sehun ini tersenyum lebar.

“Baiklah. Nuna besar. Sekarang rumah ini adalah rumah nuna besar juga. Jadi jangan segan.”

“Sehun, jangan simpan kata besar di akhirnya. Nuna saja -__-.”

“Ah, baiklah, Ryuee nuna.”

“Wuaaaahh  akhirnya aku di panggil nunaaa. Terimakasih, Sehun!” ucapku kegirangan sambil mencubit pipi Sehun gemas.

Baiklah. Hidupku yang sebenarnya akan dimulai dari sekarang!!!!

*

“Nuna sudah siap?” tanya Sehun yang sepertinya sudah siap juga mengantarku. Senyumnya membuatku tenang.

“Tentu saja. Let’s go!”

Setelah mengunci pintu, Sehun memboncengku dengan motor maticnya. Jujur, aku sangat takut. Lalu aku lingkarkan tanganku di pinggangnya. Padahal kecepatannya di bawah standar.

Setelah menempuh  beberapa mil dari rumah Alena, akhirnya kita sampai di depan Plaincassie cafe ini. Sekarang pukul empat sore. Dan aku masih mengenakan baju bebas. Yang pasti nanti aku akan berganti baju menjadi seorang pelayan. Yeah, pelayan cantik. Aku harus pintar-pintar menghibur diri sekarang. Hiks..

“Thankyou, namdongsaeng. Pukul sembilan jemput nuna. Okay? Tidak apa-apa, kan?”

“Tidak apa-apa, nuna besar,” jawabnya dengan senyum yang selalu di pamerkan. Manis sekali dia.

“Jangan lagi, Sehun. Ryuee nuna.”

“Mianhaeyo, Ryuee nuna. Aku belum terbiasa. Hehe.”

“Okay, bye! Becareful, Sehunnie.”

Baiklah. Aku langkahkan kakiku perlahan  memasuki cafe yang terlihat sudah ramai ini. Mobil-mobil terparkir rapi. Oh, aku baru menyadari malam ini adalah satnight.

Para pelayan menghampiriku, membungkukan badannya kearahku dan cukup menarik perhatian pengunjung. Aku balas membungkukkan punggungku.

“Where is Sir Kim? I wanna meet him.”

Tidak lama orang yang aku cari, Tuan Kim, Manager cafe ini datang, membungkukkan punggungnya dan tersenyum kearahku. Para pelayan mulai bekerja dengan pekerjaannya masing-masing.

“Ikuti saya, nona.”

Aku di bawanya ke dalam ruangan karyawan. Aku di beri baju dan semua perlengkapan lengkap pelayan disini.

“Maafkan aku, nona. Ini semua perintah dari Tuan besar.”

“Okay, I know. Dimulai sekarang? Baiklah kau boleh kembali bekerja.”

*

Rambut panjangku kugeraikan. Kupakai bandu putih berpita besar. Kulipat beberapa lipatan lengan baju seragam kemeja berwarna putih ini agar tidak terlihat longgar. Kupakai celemek hitam yang bergambar khas cafe ini dan kuberi name tag yang kubawa. Rok hitam di atas lutut serta sepatu hak tinggi yang kubawa juga khusus dari rumah.

Memang terlihat sangat berbeda dan mencolok dari pelayan yang lain. Rambut mereka di gulung, berpakaian sewajarnya. Kemeja, celemek tanpa name tag, rok di bawah lutut, sepatu pentofel. Sudahlah, aku tidak ingin selera fashionku hilang.

“Soeun!” panggilku pada salah satu pelayan di cafe ini yang sudah mengorder pesanan. Dia menghampiriku dan sedikit menundukkan kepalanya.

“Angkat saja wajahmu. Sekarang posisi kita sama. Anggap saja aku bukan putri pemilik cafe ini. Dan jangan panggil aku nona. Okay?”

“Ah, baiklah, Ryuee. Eh, ada yang perlu saya bantu?” tanyanya sedikit canggung.

“Hmm, apa yang harus kulakukan sekarang?”

Soeun memberiku buku kecil dan pulpen panjang berbulu putih untuk menulis pesanan. Lalu dia menjelaskan apa yang harus kulakukan sebagaimana menjadi pelayan.

Aku mengangguk mengerti dan menghampiri para pengunjung yang baru datang. Menyapa mereka dan memberi buku menu lalu mencatat pesanan mereka. Tidak terlalu sulit.

“Ryuee! Sebelah sana!” teriak Soeun. Aku mengacungkan jempolku. Haahh, aku mulai menikmati pekerjaanku yang baru ini.

Aku menghampiri meja yang baru di duduki oleh dua namja sambil melihat sekeliling kalau-kalau ada lagi pengunjung baru. Cafe sangat ramai malam ini.

“Selamat malam. Ada yang bisa kami bantu? Kami mempunyai menu spesial untuk malam ini. Mungkin Anda…..”

WHATT?!! ANDWAEEE!! THIS GUY!!!

“You? Hahahaha. Selamat malam, nona malang. Ternyata kau bekerja disini? Dimana kau simpan mobil mewahmu?”

SHIT!!

TBC ;]

38 thoughts on “EXO FF: POOR PRINCESS [ CHAP 1 ]

  1. Wahh D.O nya blom keluar nih..Hmmm lanjutanya jgn lama” ya author cantik *cuyus ga boong ikhlas* hehe….

  2. Aaagh -_- TBC..

    Sepertinya ff ini akan jadi ff yang harus ditunggu ..
    Baru kali ini ada cast DO yang super.. Hahha.. Dia terbiasa jadi melankolis soalnya.. Wkwk..

  3. Cowok sombong itu D.O ya, thor. Trus cewek yang ngeganggu ryuee itu siapa ? Hyora menyebalkan ! Padahal sama ade sendiri. Ff nya penuh pertanyaan nih. Lanjut secepatnya, thor

  4. Dio, , kau ga cocok sama skali dpat peran cwo sinis gitu. .
    Trnyta versi exo nya seru juga ya!!
    Next part dtnggu!
    Electric nya mana neh?

  5. Daebaek..
    Aku sukaaaa..
    Hyora nyebelin banget, oouuh Xiumin Oppa sayang banget sama Ryuee.. dan WHAT 2 namja yg waktu itu Ryuee numpang ngaca di kaca mobilnya ? Seruu abis nih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s