SHINee FF: HELLO SMART PLAYBOY [ CHAP 13 ]

Untitled-2 copy

HELLO SMART PLAYBOY

Author: Shin Heera

Cast:

  • SHINee
  • Choi Sarang (YOU)

Minor Cast:

  • G-Dragon (Big Bang)

Keterangan:

  • Lee Taemin at Replay Japan era
  • Choi Minho at now on era
  • Kim Keybum at Barcelona era
  • Kim Keybom at RDD wears black tuxedo era
  • Lee Jinki at Shawol 1st Japan concert
  • Kim Jonghyun at SMTB era
  • G-Dragon at Heartbreaker era

Disclaim: Tuhan yang menciptakan mereka, lima bintang besar yang bersinar, SHNee. Pemeran lain hanyalah fiksi yang tidak diketahui keberadaan aslinya. Tapi itu terserah dirimu.

Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Selamat membaca!

………………………………………………………

Last chapter…

Taemin melangkah masuk ke dalam ruang tes ujian nasional ini dengan semangat setelah beberapa bulan ke belakang keadaan dirinya membaik dengan cepat. Ya, setelah Minseok memberikan semangatnya sebagai seorang ayah.

“Sarang, selangkah lagi aku datang..” ucap Taemin dengan senyuman. Ya, dia sangat merindukan gadis itu. Sangat.

…………………………………………

CHAPTER 13

>Play Super Junior-No Other NOW!>

Taemin bersorak dengan keras bersama murid lainnya. Mereka lulus ujian nasional. Siapa yang tidak senang? Momok menakutkan itu akhirnya sudah terlewat. Tapi sepertinya itu bukan hal yang sulit untuk Taemin dan Jinki.

“Hyung, bagaimana dengan tes universitasmu?” tanya Taemin sambil menyampirkan jas sekolahnya di pundak kiri dan berjalan menyamakan langkah Jinki.

“Besok pengumuman dibuka. Doakan saja. Ini kesempatan agar aku dan Jiyoung berada di satu negara. Bersama-sama. Tidak seperti dulu,” jawab Jinki sambil tersenyum ke arah Taemin.

“Amerika? Kalau begitu kau juga akan satu negara denganku, Hyung.”

“Kau lolos?”

“Tentu saja. Tes masuk Oxford tidak sesulit seperti yang ku bayangkan sebelumnya. Mudah sekali jika kau ingin tahu, Hyung,” jawab Taemin dengan tawa nakal di akhir. Jinki mendorong lengan Taemin pelan.

“Lalu bagaimana dengan Sarang?”

Taemin melambatkan langkahnya. Jinki menoleh dan membulatkan matanya. Aku tidak salah bicara, bukan?

“Maaf..” ucap Jinki. Taemin menengadahkan wajahnya lalu tersenyum.

“Jangan berlebihan. Aku tidak secengeng yang kau kira. Haha!”

Jinki ikut tertawa namun sedikit canggung.

“Aku akan mencarinya jika aku sudah sukses, Hyung. Baiklah, aku pulang. Ah, aku yakin kau lolos tes universitas itu. Bagaimana, calon dokter hebat?”

Jinki tersenyum lepas sambil menatap Taemin yang memasuki mobil sport putih ceper namun sangat keren.

Taemin membuka kaca mobil lalu memakai kacamata hitam yang selalu dipakainya jika mengambil kemudi. Bibirnya tersenyum sangat tampan. “Akan ku buktikan, Hyung. Aku akan mendapatkan Sarang hanya untukku,” ucap Taemin lalu menancap gas dengan cepat.

“YA!! TAEMIN-AH!” teriak Jinki. “Apa maksudnya?” Tapi beberapa detik kemudian Jinki tertawa kecil dan menggeleng sampai mobil yang dikendarai Taemin menghilang di gerbang utama sekolah.

Ponselnya bergetar. Dengan terburu Jinki merogoh saku celananya. Matanya berbinar ketika melihat siapa pemanggil itu. Jiyoung.

“Ne, Chagiya? Aaaahh, jeongmal bogoshippoyo..” ucap Jinki manja lalu tertawa dan berjalan menuju mobilnya.

*

“Dad bangga padamu, Nikky..” ucap Minseok yang menyempatkan menghubungi Taemin melewati webcam di tengah kesibukannya.

Taemin hanya tersenyum. “Bagaimana kabarmu, Dad?”

“Seperti yang kau lihat. Semakin hari Dad semakin tua. Cepatlah dewasa, Nak. Mungkin kau bisa meringankan sedikit pekerjaanku di Amerika.”

“Aku akan bekerja keras.”

“Jika saham bertambah pesat dan grafik pemasukkan meningkat, Dad akan memberikan Toyoto sepenuhnya untukmu. Kau tahu semua kakakmu tidak tertarik dengan perusahanku.”

Taemin terdiam dengan jantungnya yang berdegup kencang. Apa yang didengarnya tidak salah? Toyoto? Untuknya? Sepenuhnya? Ini mustahil.

“Baiklah. Akan ku buktikan padamu. Jangan khawatir. Anakmu ini sangat cerdas, kau tahu itu,” ujar Taemin sambil tertawa dengan santai.

“Ya, Dad tahu. Kau yang terbaik..”

Taemin kembali tersenyum lalu menggigit bibir bawahnya sambil menghembuskan napas panjang.

“Bagaimana dengan Sarang? Sudah tiga bulan. Kau masih berharap banyak dia kembali?”

“Tentu saja. Aku akan membawanya pulang setelah aku sukses..” jawab Taemin sambil menghisap susu murni yang segar dan menyimpan gelas itu kembali.

“Kau sudah tahu dia berada dimana?”

“Tidak. Tapi yang pasti aku akan menemukannya.”

“Kau mengambil kelas percepatan kembali di sana?”

“Ya. Aku mengikuti kelas percepatan seperti Keybumbom dan Minho hyung.”

“Itu jalan yang kau ambil. Ternyata putra bungsuku sudah dewasa..”

Taemin kembali tersenyum. “Dad, saranghamnida..”

Minseok hanya tertawa rendah dengan air mata yang sudah membendung.

**

New York

Taemin menarik koper merah menyala yang cukup besar sambil memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri. Kacamata hitam dan headset tidak juga terlepas dari jam keberangkatan sampai sekarang.

“Taemin-ah!” panggil seseorang. Taemin menoleh lalu tersenyum lepas.

“Hyung!”

Minho memeluknya dengan erat lalu mereka melanjutkan dengan ber-high five. Tidak mempedulikan dengan orang yang sedang berlalu-lalang di bandara ini.

“Kau semakin tampan saja,” puji Minho sambil merapikan outfit putih bersih yang  dikenakan Taemin.

“Memang. Dan kau kalah jauh,” timpal Taemin. Kontan Minho mengacak rambut Taemin tanpa perasaan.

“Ya!” pekik Taemin. Minho tertawa dengan lepas.

“Kajja! Aku akan membawamu ke apartemen kita yang baru. Ku jamin kau tidak akan bosan tinggal di sana.”

“Yayaya, kau sudah mengatakannya lebih dari sepuluh kali sebelum aku tiba di sini, Hyung,” ucap Taemin yang kembali berusaha mendorong kopernya.

“Kau tahu aku sangat senang! Akhirnya kita bisa kembali berkumpul!”

“Aku ingin tahu apa yang sedang Sarang lakukan sekarang..” ucap Taemin dan berjalan lebih dulu.

Minho sempat terdiam tapi dengan cepat menyusul Taemin.

*

“TAEMIIIINNN!!!” teriak Keybom yang tengah membaca majalah full porn langganannya tiap hari. Disimpannya majalah itu sembarang lalu berhambur untuk memeluk Taemin.

“Bom hyung!” seru Taemin membalas pelukan Keybom lalu berjalan masuk ke dalam apartemen yang besar dan mewah namun sangat simple itu.

Taemin menumbangkan tubuhnya di atas sofa panjang berwarna biru elegan yang sangat nyaman. Ya, tempat duduk yang Keybom duduki sebelumnnya.

“Ah, apa ini?” Taemin memasang posisi duduk dan mendapati satu majalah dewasa yang tidak sengaja ia tiduri. “Omo, omo!” serunya dengan mata berbinar.

“Ya! Neiden (Keybom’s intl name)! Sudah ku katakan sebelumnya padamu. Jangan membaca majalah itu ketika Taemin akan tiba. Dia belum cukup umur.” Minho merebut majalah itu dari tangan Taemin lalu menyimpannya di atas meja makan tidak jauh dari sana, ruang keluarga.

Taemin terdiam. ‘Haha. Belum cukup umur? Kalau begitu aku masih anak kecil? Ya, memang. Bambino..’

“Ya! Dia sudah lulus senior high school, Elias..” timpal Keybom sambil berjalan menuju pintu keluar dan mengambil mantelnya. “Antivirus buatanku sudah sempurna. Aku pergi..”

“Ya..” Minho menggeleng lalu duduk di samping Taemin sambil bergerak-gerak, mencari posisi nyaman.

“Hyung.. bagaimana dengan pekerjaanmu? Sepertinya Keybom hyung sudah menemukan titik sukses.”

“Mengapa kau bertanya tentang itu?”

“Kau terlihat santai. Tidak seperti Keybom dan Keybum hyung.”

“Haha! Kau tidak tahu bagaimana ruang kerjaku? Banyak sekali gedung abstrak, tata letak kota, Mal di dalam laut. Itu semua projek besarku. Dan dollar yang masuk ke dalam rekening tabunganku tidak sedikit. Miliyaran per minggu.” Minho tertawa kecil lalu menutup matanya. “Dan aku sangat mengantuk. Begadang memang melelahkan. Aku tidur, Taem. Kau istirahat saja dulu..” Akhirnya Minho bangkit dan masuk ke dalam kamarnya.

Sementara Taemin masih duduk termenung. Janji Minseok padanya teringat kembali. Toyoto akan menjadi miliknya. Sebenarnya Taemin juga tidak ingin mengandalkan warisan perusahaan itu. Dia ingin menjadi semua hyungnya. Membangun pekerjaan sendiri.

“Nanti akan ku pikirkan.”

Taemin memejamkan matanya di atas sofa itu.

*

“Ya! Bangun! Bambino!”

Taemin membuka matanya perlahan lalu menutupnya kembali dengan berlebihan. Mengapa sangat silau?

“Bambino, aku di sini.”

Kini dia mempertajamkan pendengarannya. Suara ini.. Apakah mungkin.. Sarang?!

“Sarang?”

“Ya.. ini aku..”

Matanya sukses terbuka dan mendapati Sarang yang tengah duduk di sampingnya, tersenyum sangat manis lalu menyandarkan kepala di bahunya.

“Aku merindukanmu, Bambino. Mengapa kau belum juga menemukanku?” tanya Sarang terdengar manja. Jemarinya mengelus dada Taemin dengan lembut.

“Sarang..”

Sarang semakin mempererat pelukannya. “Apa kau tidak tahu? Setiap malam aku selalu menangis. Dimana Bambinoku..” ujar Sarang. Masih dengan suara lembutnya.

Taemin tidak bisa berbuat apa-apa. Shock! Sarang memutar kepala Taemin dengan jemarinya yang cantik.

Mata indahnya menatap mata Taemin dengan dalam. “Aku akan selalu menunggumu untuk kembali padaku, Taemin.”

“Sarang.. Sarang.. Sarang. Sarang!”

“Ya! Taemin-ah!” seru Keybum sambil menepuk pipi Taemin beberapa kali.

Tiba-tiba Taemin tersadar dari mimpinya dan memutar kepalanya ke kanan ke kiri. Tidak ada. Sarang tidak berada di sampingnya. Bahkan di dalam apartemen ini.

“Ah, Keybum Hyung..”

“Hello! Maaf, aku baru menyambutmu. Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku di kantor pusat. Bagaimana kabarmu, Dude?” tanya Keybum.

Taemin sedikit terkejut dengan penampilan Keybum kali ini. Sedikit terlihat bad boy. Tidak seperti saat pertama mereka bertemu.

“Seperti yang kau lihat, Hyung. Kau?” tanya Taemin sambil merapikan  rambutnya.

“Kurang baik. Aku sangat merindukan Soona.”

‘Ya.. Aku juga merindukan Sarang..’ ucap Taemin dalam hati.

“Mengapa kau tidak menyempatkan untuk menemuinya di Korea?”

“Aku terlalu sibuk. Baiklah, bersenang-senanglah. Jika kau mencariku, aku berada di ruang kerjaku. Yo!”

Setelah Taemin berhigh-five bersama Keybum, dirinya terdiam sejenak dan mengedarkan pandangannya.

Sekitar matanya mulai terasa panas. Hidung sudah memerah. Ya, dia menangis. Cepat-cepat Taemin memejamkan matanya sebelum banyak air mata keluar.

“Haaah!!” teriaknya sambil mengambil napas panjang dan melompat beberapa kali. “Menangis tidak akan membawanya datang. Kau harus sukses, Taemin! Setelah itu kau akan menemukannya..”

**

Indonesia

“Okay, wadah, air, coklat..”

Sarang mendesah panjang. Ingatannya kembali pada saat itu..

~~~

“Tolong ambil air dan sendok,” pinta Keybum.

“Anything else?”

“Kau diam saja. Simpan semua dalam otakmu, bagaimana urutan membuat pudding by Cheff Key! Haha..” seru Keybum sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

Tidak lama..

“Ya!” seru Keybum sambil mengoleskan coklat kental di ujung hidung Sarang dengan sengaja.

“Keybum oppaaaa!”

~~~

Sarang kembali melanjutkan kegiatannya di hari minggu ini. Membuat pudding coklat seperti apa yang Keybum ajarkan. Dan dia sangat merindukannya.

Sama seperti saat kemarin. Ketika dirinya tengah mengecek keadaan hotel, dia melihat adik-kakak yang sedang berolahraga di gym hotelnya. Teringat Keybom.

Berjalan ke pantai dan melewati taman bermain, teringat Minho. Semuanya selalu saja membuatnnya tidak tenang. Ingin sekali ia pergi ke Korea. Setidaknya rasa rindu itu bisa terobati hanya dengan melihat lingkungan di sana.

Oh! Kini Hotel Alamanda cabang Indonesia di pimpin oleh Sarang. Pekerjaan barunya membuat sedikit melupakan masalah lalu yang tidak pernah bosan mengganggunya. Ya, masalah karena merindukan Taemin.

Meskpiun seperti itu, Sarang tetap mengharapkan Taemin dapat menemukannya di Indonesia. Sebelum menutup mata untuk tidur, dia selalu berdoa. Semoga saja besok Taemin datang. Selalu saja seperti itu, terulang kembali. Tapi Taemin tetap tidak ada.

“Non, hapenya bunyi, Non,” ucap Bi Asih lalu melanjutkan membuat fla.

“Ah! Mengapa aku sering melamun seperti ini? Tunggu ya, Bi.”

Sarang berjalan menuju meja makan dan menatap layar ponselnya.

Jantungnya berdetak keras. Napasnya sulit di atur. Kini air mata sudah jatuh membasahi layar ponselnya.

“Saengil chukkae, Taemin-ah..”

**

New York

“YEAAAHH!!”

Mereka berempat mengangkat gelas berisi wine tinggi-tinggi lalu meminumnya dalam satu tegukkan.

“Kau memang hebat, Taemin. Kami bangga padamu..”

Taemin hanya tersenyum. “Thanks, Hyung..”

Usia Taemin semakin bertambah. Sisa satu tahun lagi untuk menyelesaikan studi bisnis di Amerika ini. Dirinya benar-benar sudah tidak sabar untuk pergi kemana pun untuk mencari Sarang. Meskipun belum terpikirkan tujuan pertama.

Bertambah usia, Taemin mendapat kepercayaan dari Minseok untuk memegang perusahaan Toyoto di Amerika.

Jadwal kuliah yang dimiliki Taemin hanya dua kali dalam seminggu dan sisanya praktik. Mudah sekali untuknya mendapatkan tempat kerja praktik. Perusahaan milik Minseok lah yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.

Tidak hanya Taemin yang sedang menempuh jalan sukses.

Minho mempunyai perusahaan mebeler yang sangat unik juga berbagai design taman, rumah dan apapun! Pegawainya sudah mencapai ribuan dalam beberapa bulan ini. Sampai-sampai dirinya sudah dapat membeli rumah mewah di daerah patung Liberty yang harganya jangan ditanya.

Keybum mempunyai perusahaan robotic. Ya, dia membuat satu gedung besar dimana banyak robot yang hilir mudik di dalam sana. Berbicara dengan manusia dan melayani mereka. Banyak sekali perusahaan pabrik dan dari kesehatan yang datang untuk membeli produknya. Juga para manusia super sibuk yang membutuhkan robot untuk menjaga anak-anaknya di rumah. Sampai-sampai Keybum mendapat penghargaan dari Presiden Amerika, Oh Bama, karena telah meningkatkan pemasukkan di negara itu.

Sementara Keybom menjadi bahan rebutan perusahaan komputer yang selalu saja bersaing untuk menjadi yang terbaik. Dan kini dirinya membuat merk Neiden. Semacam dengan Apple namun ini lebih canggih dengan pemograman dan skill yang dia miliki.

Laptop, iPad, portable dan tentu saja antivirus. Bahkan Keybom membuat virus yang amat sangat ganas untuk memusnahkan antivirus lain di dalam komputer. Jadi, orang berlomba membeli antivirus buatannya dan otomatis dollar pun mengalir dengan cepat.

Hari semakin larut. Minho dan Keybom sudah menyerah dan mereka tertidur. Mabuk. Keybum hanya meminum satu tegukan dan dirinya langsung tidak sadarkan diri.

Sementara Taemin masih meneguk air keras Jack Daniel itu di balkon apartemen. Bukan taman indah yang kini berada di hadapannya. Tapi suasana New York yang tidak pernah mati. Lampu terlihat warna-warni dan bertebaran. Sangat indah.

Taemin kembali meneguk air keras itu lalu memejamkan matanya. Mencoba bernapas dengan  teratur. Tangannya semakin menggenggam besi pembatas dengan keras.

“Aissh..” gumamnya tertahan. “Hari ini ulang tahunku. Tanpa adanya dirimu.. semua sama saja. Tidak ada yang spesial. Apa kau mengingat hari ini?” tanya Taemin pada Sarang, yang entah berada dimana, lalu tertawa kecil frustasi.

*

Indonesia

“Apa yang sedang kau lakukan di hari ulang tahunmu, Taemin? Berpesta? Seperti dulu? Mengundang banyak yeoja ke dalam rumah dan bersenang-senang? Membuat keributan bersama GD, Minho dan Keybom oppa?” tanya Sarang bertubi-tubi lalu tertawa, teringat saat itu.

“Kau dimana, Taemin? Korea? Ya, tentu saja. Dia belum menyelesaikan sekolahnya. Kalau begitu, tidak ada yang menemaninya? Ottokkhae?”

Sarang menggigit bibir bawahnya, cemas. Tapi dengan cepat Sarang menggeleng. Tidak. Dia baik-baik saja. Jangan terlalu berlebihan, Sarang. Khayalanmu tingkat tinggi.

*

New York

“Apa kau mencemaskanku, Sarang? Apa kau mengira aku masih menetap di Korea dan merayakan ulang tahun hanya seorang diri?”

Taemin tertawa kecil sambil menggigit bibir bawahnya. Diteguknya kembali minuman itu. Habis. Matanya melirik ke arah meja, tempat dimana semua botol kosong tersimpan.

“Sudah botol ke tujuh. Aku masih belum mabuk. Tidak pernah berubah.”

Taemin menutup pintu balkon lalu berjalan masuk dan membaringkan tubuhnya di atas sofa, sementara Minho dan Keybom di atas karpet beralas badcover.

“Selamat malam, Sarang..”

*

Indonesia

“Selamat malam, Taemin..”

**

New York

“Total berapa unit mobil yang terjual hari ini?” tanya Taemin pada bawahannya.

“Tujuh ratus tiga puluh tujuh, Sir.”

“Great. Baiklah, kita akhiri rapat laporan hari ini. Semua bekerja dengan sempurna. Semoga kita dapat bekerjasama dengan baik. Selamat malam..”

Taemin tersenyum sambil menyambut jabatan tangan dari para staff Toyoto cabang Amerika ini.

Setelah semua selesai, sekretarisnya menyerahkan semua laporan yang telah di rangkum menjadi detail.

“Terimakasih, kau boleh pulang.”

“Baik, Sir!”

Taemin melangkah keluar ruangan meeting sambil melonggarkan dasi dan melepas kancing kemeja yang teratas. Bibirnya tersenyum puas. Penjualan mobil meningkat dengan baik dari hari ke hari. Minseok pasti bangga padanya.

*

“Taemin, Dad di rawat inap..”

“Mwo..?”

“Ya..” jawab Minho.

“Mengapa sampai dirawat inap?”

“Kita pergi ke Jepang sekarang juga. Biarkan Aiden dan Neiden menyusul.”

Taemin segera melepas kemejanya dan bergegas pergi ke Jepang bersama Minho.

*

(Taemin POV)

Japan

“Kau melihatnya, kan, Nikky?” tanya Dad padaku. Aku hanya menggenggam tangan Dad dan menatapnya penuh dengan kekhawatiran.

“Melihat apa, Dad?”

“Dad semakin tua.”

Aku menunduk dan menelan ludahku meskipun cukup sulit. Aku yakin pembicaraan ini akan berlanjut serius.

“Jangan menunduk.”

Aku tersenyum simpul dan menatapnya kembali.

“Dad sudah menerima laporan  dari manager Toyoto di Amerika. Kerjamu sangat maksimal. Bahkan melebihi apa yang sudah Dad lakukan untuk Toyoto Amerika.”

Baiklah, masalah pekerjaan. Jantungku mulai berdetak tidak normal. Apa mungkin?

“Kau tahu.. tidak mudah membuat Toyoto menjadi sebesar ini. Dad harus banting tulang, berusaha dan selalu berusaha. Jika tidak ada penerus, usaha Dad untuk Toyoto selama ini tidak berarti.”

Benar.

“Mulai besok, Dad memintamu untuk mengambil alih Toyoto. Ku berikan semua cabang Toyoto yang tersebar di dunia ini padamu.”

“Ah?!”

Tiba-tiba napasku tercekat. Aku tidak tahu. Apa aku senang? Apa aku terkejut? Apa aku sedang bermimpi?

“Ah, Dad. Apa kau tidak akan berpikir dua kali? Umurku baru saja delapan belas dan..”

“Kau menyukai percepatan, bukan?” tanya Dad dengan senyuman khasnya lalu tertawa rendah.

Baiklah, aku kalah.

“Nikky.. Selamat ulang tahun, Nak. Kemari, mendekatlah. Aku ingin memelukmu..”

Aku berhambur dan memeluk Dad yang tengah terbaring. Tidak terasa air mataku jatuh dan isakanku terdengar jelas di ruangan ini.

“Aku menyayangimu, Dad..”

“Anakku.. Ya, Dad tahu itu. Berusahalah menjadi yang terbaik dimana pun dan apapun posisimu. Jangan mencoba untuk sombong. Tundukkanlah kepalamu sesekali, balas sapaan orang-orang yang menyeganimu. Jangan lupa untuk selalu tersenyum meskipun kau dalam keadaan terpuruk. Karena itu akan membuatmu sedikit tenang dalam menghadapi apapun. Mengerti?”

“Ya, Dad. Aku mengerti..”

“Sudah, jangan menangis. Kau tidak berubah. Selalu menangis di dalam pelukanku sejak TK.”

Aku melepas pelukanku dan menghapus air mataku dengan tergesa lalu tersenyum ke arahnya.

“Get well soon, Dad. I want you to know that I’am the best for you. I’ll never give up to make you proud of me. I give my words on it..”

Dad tersenyum dan mengusap kepalaku.

“Nikky.. ada satu lagi yang akan Dad sampaikan padamu.”

“Apa?”

“Dad dan Mom Alamanda telah bercerai..”

“….hm?”

**

Setahun kemudian di hari ulang tahun Sarang..

Aku merapikan toga putih yang menjulur sampai menutupi mata kakiku saat namaku terpanggil. Lalu aku berjalan di atas karpet merah yang terbentang dengan penuh percaya diri. Telingaku masih mendengar sorakan para wisudawan.

Aku berhenti di depan mikrofon dan berdeham kecil. Memulai pidato sebagai lulusan terbaik fakultas bisnis Oxford ini.

*

Hah, bekerja memang tidak semudah seperti apa yang aku kira. Sepulang acara wisuda, aku sudah harus sampai di kantor sebelum pukul sebelas siang karena aku harus presentasi dan mengadakan rapat besar satu bulan sekali.

Tapi aku merasakan kepuasan tersendiri. Hey, aku sudah 19. Tidak banyak namja seumuranku dapat memegang perusahaan besar seperti Toyoto.

Apa kau tahu? Kini aku mempunyai rencana untuk membuat perusahaan baru. Ini murni perusahaanku. Bukan warisan yang Dad berikan.

Sebenarnya pembangunan gedung sedang dalam proses. Diperkirakan 89% telah selesai. Ya, hotel, tempat perbelanjaan dan masih banyak lagi.

Bangunan yang sangat unik dan terlihat menarik. Bukan berbentuk kotak. Melainkan bola berwarna-warni. Gedung itu sangat besar dan terdapat enam bola yang terlihat menumpuk, menjulang ke atas. Kau tahu siapa yang mempunyai ide ini? Tentu saja Minho hyung. Dan aku memberinya lahan untuknya membuka kantor arsitek di sana.

Robot akan membuat pengunjung semakin  tertarik. Robot ciptaan Keybum hyung menjadi banyak variasi dengan rancangan software yang telah disetting oleh Keybom hyung. Mereka memang sangat kompak.

Tentu saja aku juga memberi mereka lahan untuk mendirikan perusahaan di sana.

Aku memberi nama gedung itu.. Bambino. Lucu sekali, bukan? Ya, seperti orang yang diberi nama panggilan itu oleh seorang yeoja yang menyerupai singa betina. Haha! Sarang. Sudah dua tahun kita tidak bertemu.

Ku raih fotonya yang selalu menemaniku saat bekerja. Dia selalu menyemangatiku jika aku sedang jenuh. Pikiranku selalu kembali pada saat-saat kami selalu bertengkar, bercanda, beradu mulut. Dan itu sangat mengasyikkan.

“Saengil chukkae, Sarang.. Saranghaeyo..”

Tidak sadar bibirku tersenyum sambil menatap matanya yang indah di foto ini. Ku letakkan kembali foto itu pada tempat semula dan menutup mataku.

*

Indonesia

(Sarang POV)

“Selamat ulang tahun, Non..” ucap Bi Asih padaku. Semua yang berada di sini, para pegawai hotel juga ikut merayakan.

Bunda memelukku sangat erat dan mencium kedua pipiku.

“Sarang, Bunda mau ngasih kamu nama baru untuk di Indonesia.”

“Hah? Jeongmal?” tanyaku terkejut dan tidak menyangka Bunda akan memberikan nama baru untukku.

“Ya. Karena Bunda akan memberi hotel ini buat kamu. Mulai hari ini, kamu pemilik sah hotel Alamanda cabang Indonesia.” Bunda tersenyum sambil mengusap rambutku lembut.

“Bunda.. Makasih..” seruku sambil memeluknya erat lalu beralih memeluk Bi Asih yang kini tampil cantik dengan baju kebaya.

“Nama kamu sekarang adalah.. Deara Putri Alamanda..”

Aku menyukai nama itu!

Dan akhirnya kami melanjutkan pesta ulang tahun di ball room ini.

Beberapa jam kemudian..

“Udah malem, Dear. Kamu belum ngantuk?” tanya Bunda sambil menghampiriku yang tengah duduk di sofa kamar.

“Belum, Bunda. Bunda belum tidur?”

“Masih ada kerjaan. Lagi mikirin apa, sih?” tanya Bunda penuh perhatian. Aku hanya terdiam.

“Nggak, kok.”

“Udah, jujur aja sama Bunda, Sayang.”

Aku menatap mata Bunda dengan penuh pengharapan.

“Bunda.. sepertinya.. aku menyukai Taemin.”

“Hm?”

Sudah kuduga. Bunda pasti terkejut mendengarnya.

“Ya. Mungkin bukan menyukai tapi.. mencintai? Menyayangi? Tapi itu bukan perasaan seperti seorang noona kepada adiknya. Melainkan..”

“Dear..”

“Aku sama Taemin bukan saudara kandung, kan, Bunda? Jadi boleh dong kalo aku suka sama Taemin?”

Bunda menatapku tidak percaya. Tapi beberapa saat Bunda mengangguk lalu memelukku. “Ya, Taemin memang anak yang baik, jenius dan ceria. Bunda bisa liat itu, kok. Tapi, Sayang, kalo kamu sama Taemin, gimana kalo status kamu kebongkar?”

“Aku udah nggak peduli, Bunda. Biarin aja semua orang tau. Yang penting aku bisa sama Taemin.”

“Terus sekarang kamu maunya gimana? Pergi nyamperin Taemin?”

“Nggak. Aku bakal nunggu Bambino itu ke sini. Nemuin aku.. Kalo dia emang ke sini, berarti dia juga suka sama aku, Bunda..”

Bunda hanya tersenyum.

“Bunda ngijinin, kan?”

“Iya, Sayang..”

*

New York

(Taemin POV)

Suasana tidak juga berubah. Tetap sama seperti tahun lalu. Lampu bertebaran dengan berbagai macam warna, berkelap-kelip di bawah sana. Tapi entah mengapa kini lampu-lampu kota itu terlihat sangat indah. Mungkin karena suasana hatiku yang sedang baik?

Hm, tapi aku masih tidak percaya sampai saat ini. Bagaimana bisa aku baru mengetahui Sarang pergi dari rumah karena mengetahui Mom Alamanda dan Dad berpisah?

Tapi kurasa bukan hanya itu alasannya. Tidak mungkin Sarang lemah seperti itu. Ini selalu menjadi misteri.

“Sarang.. apa yang sedang kau lakukan di hari ulang tahunmu ini, hm? Apakah ada seseorang yang bernyanyi untukmu tepat jam 12 malam? Memberimu cincin cantik? Apa terjadi perang kue?” tanyaku bertubi-tubi lalu tertawa kecil. “Apa kau mengingat itu?

“Kau dimana, Sarang? Korea?”

Aku menggigit bibir bawahku, cemas kembali melanda. Desahan keluar. Aku benar-benar merindukannya.

*

Indonesia

(Author POV)

Sarang benar-benar sulit untuk menutup matanya dan tertidur malam ini. Kini dirnya tengah duduk dengan kaki terlipat ke atas di pinggir pantai. Tidak takut dengan angin malam yang terkesan buas menerbangkan rambutnya.

Ingatannya menerawang..

~~~

“Jika kau berpakaian seperti ini, akan banyak namja yang terpikat. Dan kini kau sudah berhasil memikatku, Sarang..”

DEG!

“Terserahlah.”

Tiba-tiba Taemin mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum penuh arti. “Kau cantik,” bisiknya nyaris tidak terdengar.

Kini kedua tangannya memainkan jemari kanan Sarang.

“Hm, Sarang. Kau suka pelajaran matematika, ya?”

“Ya, mengapa?” jawab Sarang yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Taemin.

“Karena kau telah mengintegralkan hatiku,” jawab Taemin.

“Hah?! PLEASE DEH LO YA, NGGAK BANGET! Belajar ma siapa sih?”

~~~

(Sarang POV)

Taemin, sebenarnya saat itu jantungku berdegup sangat cepat. Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu padaku?

Aku mengatakan itu karena aku tidak ingin terlihat salah tingkah dan tidak tahu apa yang harus aku katakan. Tapi akhirnya aku membuatmu kecewa. Maafkan aku..

~~~

(Author POV)

Kini terlihatlah Sarang yang tengah terikat di satu kursi sambil menatap Taemin sayu. Cepat bebaskan aku!

“Cepat buka talinya!” perintah Taemin pada dua bodyguard setelah dirinya berhasil membuka ikatan kain di mulut Sarang dan memeluk nunanya itu.

“Sarang.. kau baik-baik saja?” tanya Taemin. Sarang hanya terisak dan memeluk Taemin seerat mungkin. “Aku tahu Jiyoung yang melakukan ini..”

Sarang belum juga melepas pelukannya. Tapi Taemin yang mendengar  isakan Sarang yang juga sedikit bergetar karena kedinginan langsung saja membuka tuxedonya dan dipakaikan ke pundak Sarang.

“Kita pulang..”

Taemin menggendong nunanya itu dengan mudah. Tidak lama dua bodyguard yang lain datang.

“Geledah gudang ini dan ikat mereka! Aku tahu ada manusia lain yang berkomplot dengan Jiyoung..” perintah Taemin sambil keluar menuju gudang dengan satu bodyguard yang mengikuti di belakangnya.

~~~

Sarang hanya tersenyum miris setelah mengingat kejadian itu. Tapi Taemin benar-benar sangat keren dan dewasa.  Semua yang dilakukan oleh Taemin, Sarang menyukainya. Sifat kekanakan, jail, manja.

“Hari ulang tahunku ke 20. Sama seperti yang lalu. Tapi berbeda dengan 18. Sangat mengesankan..” ujarnya sambil memainkan pasir putih.

“Taemin.. apa kau merindukanku? Aku selalu menunggumu. Tapi kau tidak juga datang. Sampai kapan aku harus selalu seperti ini?”

Menangis. Yeoja itu menangis sambil menenggelamkan wajahnya.

**

>Play Mblaq-Monalisa NOW!<

Sudah lebih dari lima menit Taemin berdiri di depan cermin kamar mandi dalam keadaan topless. Bibirnya tersenyum tenang, mengeluarkan aura yang sangat pekat di bawah sinar lampu yang terpasang di sekitar cermin. Kini dia benar-benar tampan.

Jemarinya terangkat, merapikan rambutnya yang sebenarnya tetap seperti awal. Tidak berubah. Tetap seperti itu. Tapi ada satu yang berbeda.

Taemin sudah merubah model rambutnya. Kembali menjadi seperti dulu. Berwarna merah. Model rambut yang sangat disukai Sarang.

Lalu dipakainya kemeja longgar berwarna putih, lengan panjang dan diangkatnya sampai sikut.

Dengan perlahan jemarinya memakai kancing itu satu persatu dari bawah. Matanya tidak lepas menatap matanya sendiri yang terpantul di permukaan cermin.

Tiga kancing dari kerah dibiarkannya terbuka. Dan itu menambah kesan seksi dengan rambut merah menyalanya.

“Sarang.. apa kau mencintaiku? Setelah aku merubah rambutku kembali menjadi seperti yang kau mau?”

Hening. Tidak ada jawaban. Taemin menarik napas panjang dan dikeluarkannya melewati mulut secara perlahan. Dikulumnya bibir berwarna kemerahan itu.

“Annyeong!”

Keningnya mengerut dalam sambil mempertajam pendengaran. Siapa yang datang? Berbicara dengan sapaan bahasa Korea?

Dengan cepat dia keluar dari dalam kamar mandi dan membuka pintu kamarnya dengan tergesa.

Jantungnya berdetak cepat. Tapi seketika Taemin mendesah panjang setelah melihat siapa tamu yang datang. “Jiyoung..” Wajah wanita itu selintas mirip dengan Sarang.

“Taemin! Sudah lama tidak bertemu!” seru Jiyoung sambil menepuk pundak Taemin beberapa kali. “Kau semakin tampan saja..”

“Dimana Jinki hyung?”

“Annyeong haseo!!” teriak Jinki sambil membawa makanan dalam keranjang cukup besar. Minho berjalan cepat membantu Jinki.

“Apa yang kau bawa?”

“Burger chicken,” jawab Jinki sambil menyimpan keranjang itu di atas meja makan.

Mata sipitnya melirik sosok Taemin dengan ragu. “Ah, Taemin?! Kau Taemin?! Ya! Taemin!!” seru Jinki lalu memeluk Taemin dengan sangat erat.

“Hyung~”

Mereka berada dalam satu benua namun berbeda negara dan jaraknya cukup jauh. Itu yang tidak memungkinkan mereka  mudah berjumpa.

“Taemin, kau bertambah tinggi, bertambah tampan dan berwibawa. Haha! Mr. Toyoto, pengusaha sukses termuda di Amerika. Hebat!”

Taemin hanya tersenyum. Ya, dirinya menyadari kini ia semakin dewasa. Tidak seperti dulu, ketika dirinya duduk di bangku shs. Sifat kekanakan hampir menghilang sekarang.

“Bagaimana kabarmu, Hyung?” tanya Taemin dengan satu tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya.

“Kau mendahuluiku, Taemin. Butuh dua tahun untuk menjadi seorang dokter.”

“Taemin! Gawat! Tidak ada satu wine pun yang tersisa.”

“Baiklah, aku akan keluar mencarinya. Tunggu sebentar..”

Setelah mengambil kardigan dan kunci mobilnya, Taemin keluar dari pintu apartemen. Sekaligus membersihkan pikiranku dari penat pekerjaan, batin Taemin.

Minho membereskan ruang keluarga yang bersebelahan dengan balkon yang menghadap kota besar New York dari atas sini. Sedangkan jinki dan Jiyoung tengah membuat burger.

“Minho, bagaimana kabar Taemin? Apakah dia sudah melupakan Sarang?” tanya Jinki sambil menggoreng ham.

“Mustahil. Setiap hari dia selalu bertanya padaku dimana Sarang, dia sedang apa, apa Sarang merindukannya, blablablah..” jawab Minho. “Ah, aku hubungi Keybum dan Keybom dulu. Mereka super sibuk akhir-akhir ini.”

Beberapa belas menit kemudian, Minho, Jinki, Jiyoung dan Keybom sudah berkumpul di ruang keluarga. Belum memulai penyantapan burger yang sepertinya lezat terhidang di depan mata. Sayangnya, gelas masih dalam keadaan kosong.

“Jiyoung-sshi, apa kau mendapat satu petunjuk saja dimana keberadaan Sarang? Barangkali Youngjin ahjusshi pernah bercerita sesuatu atau apa..” tanya Keybom.

Mereka duduk berempat dengan serius. Layaknya mengadakan forum resmi.

“Tidak sepertinya. Appa terlalu hebat menyimpan rahasia. Apa mungkin sebenarnya Sarang mengikuti Mom Alamanda?” Jiyoung mengerutkan kedua alisnya.

“Itu yang kucurigai. Mungkin saja Mom Alamanda menyembunyikan Sarang,” tambah Minho.

“Menyembunyikan? Maksudmu?” tanya Jinki yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya.

“Bahwa sebenarnya Sarang bukan anak kandung dari Minseok ahjusshi. Aku kira kau mengerti, Jinki..”

“Mian, Chagiya. Aku sedang mengerjakan tugas..”

*

“Bahwa sebenarnya Sarang bukan anak kandung dari Minseok ahjusshi. Aku kira kau mengerti, Jinki..”

“Mian, Chagiya. Aku sedang mengerjakan tugas..”

Jantung Taemin  berdetak sangat cepat. Napasnya sulit di atur. Disimpannya kantong berisi wine di atas meja sedikit tidak terkontrol dan mengeluarkan suara gaduh.

Keybum yang berada di belakangnya hanya terdiam. Ya, dia mengetahui Taemin mendengar perbincangan mereka dari awal sampai akhir.

“Taemin..”

“Mengapa kau menyembunyikan ini dariku, Hyung?” tanya Taemin dengan mata berkaca-kaca.

“Taemin.. dengarkan aku, ini..”

“Aku pergi. Kumohon, jangan menggangguku untuk saat ini.”

Taemin beranjak kembali keluar apartemen dengan wajah muram.

“Taemin!” teriak Keybum yang masih diam di tempat. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

“Ada apa, Keybum?” tanya Keybom.

“Dia mendengarnya. Dan sepertinya dia terlihat marah,” jawab Keybum dengan desahan panjang di akhir.

“Biarkan saja. Dia bukan anak yang duduk di bangku college lagi,” ucap Jinki.

Tidak ada yang mengeluarkan suara, pendapat bahkan gumaman kecil di antara mereka berlima.

*

(Taemin POV)

Kurang lebih sudah dua puluh menit aku terdiam di atas cup mobilku ini. Tidak! Aku tidak menangis. Aku bingung. Atau marah? Kesal? Aku tidak tahu pasti. Atau senang? Hm, mungkin.

Sarang bukanlah anak kandung Dad. Kalau begitu dia sama sekali tidak mempunyai hubungan saudara kandung denganku. Dengan begitu aku tidak salah jika selama ini aku mencintainya. Dua tahun aku baru saja menyadari perasaanku.

Mataku kembali menyaksikan tebaran lampu. Namun kini lampu-lampu itu berjalan sangat cepat di bawah sana. Ya, lampu-lampu mobil yang melintas. Aku tengah berada di satu bukit sepi ditengah ramainya New York.

Kini aku memasang posisi selonjoran. Memang dingin sekali malam ini. Tapi itu tidak malasah. Suasana seperti ini selalu membuatku tenang dan konsentrasi berjalan untuk berpikir.

“Tega sekali Dad tidak memberitahuku bahwa Sarang bukanlah anak kandungnya. Apa dia tidak menyadari aku menyukai yeoja itu?”

Baiklah, jangan terlalu dipikirkan.

Mataku beralih mengamati bintang yang bertaburan di atas sana. Malam yang cerah. Sulit sekali menemukan suasana seindah ini.

Dengan tidak sadar aku merasakan bibirku tersenyum lalu aku menutup mataku. Membayangkan Sarang yang ikut berbaring di sampingku. Ini mengasyikkan.

Tiba-tiba ponselku berdering menandakan pesan masuk. Nomor tidak dikenal. Hah, mengganggu saja.

‘Taemin-ah, aku Jiyoung. Maafkan kami tidak memberitahu ini dari awal. Karena ini permintaan ayahmu juga. Kami bukannya jahat padamu. Hanya tidak ingin status Sarang terbongkar. Hanya itu. Dan sebenarnya, aku adalah kakak perempuan Sarang.’

What the hell!

*

Aku melangkah masuk ke dalam apartemen. Semuanya  gelap. Apa mereka sudah tertidur? Pukul sembilan malam? Tidak mungkin.

“Taemin..”

See! Keybom hyung masih hidup. Aku berjalan menghampirinya yang tengah berduaan dengan laptop canggihnya.

“Kau belum tidur?” tanyaku lalu tiduran di atas sofa dengan nyaman. Sedangkan Keybom hyung duduk lesehan.

“Bagaimana kabarmu?”

Aku terkekeh lalu menutup mataku. “Menurutmu?”

“Tidak terdeteksi.”

Kini aku tertawa. “Aku benci pada kalian. Tidak ada seorang pun yang memberitahuku tentang itu.”

“Mom Alamanda tidak ingin status Sarang terbongkar, Taemin-ah,” ucap Keybom hyung.

“Memangnya kalian pikir aku akan membocorkan status aslinya?”

“Ya. Kau mencintai Sarang, bukan?”

Ah, benar juga. Secara tidak langsung..

Aku terdiam. Kepalanya menoleh ke arahku.

“Mwo?” tanyaku pada Keybom hyung.

“Ani..” Keybom hyung kembali melanjutkan kegiatannya. Aku hanya menggeleng lalu kembali memejamkan mataku.

“Istirahatlah di dalam kamarmu!”

“Jangan khawatirkan aku..”

“Aku mengusirmu dari sofa favoritku. Jangan terlalu percaya diri.”

Aku mendengus singkat sambil tertawa lalu bangkit dari atas sofa favoritnya itu. “Aku tidur..”

“Night-night..”

**

“Sir, besok lusa akan diadakan meeting besar tahunan bersama Toyoto Indonesia pada pukul sebelas siang,” ucap manager lalu sekretarisku memberikan satu map.

“Indonesia?”

“Ya, Sir!”

“Undur saja. Besok lusa aku harus kembali ke Korea. Ketiga kakakku akan bertunangan.”

“Baiklah..”

“Kau boleh kembali.”

“Terimakasih, Sir.”

“Hm..”

Jantungku berdebar sangat keras. Semakin lama semakin cepat. Indonesia? Sudah lama aku ingin pergi ke negara itu. Ya, tujuan pertamaku yang hanya terlintas namun tidak juga ku lakukan.

**

Korea

Bibirku tersenyum melihat tiga pasangan yang sangat berbahagia hari ini.

Minho hyung dengan Heera nuna yang sangat mempesona. Mereka terlihat seperti pasangan putri dan pangeran yang pernah ku lihat di dalam buku dongeng ketika aku duduk di bangku TK.

Keybum hyung dan Soona nuna. Mereka terlihat elegan dan sangat terhormat. Ya, kedua orang cerdas itu sangatlah cocok. Aku yakin  Keybum hyung tidak akan meninggalkan Soona nuna. Tentu saja. Aku tahu salah satu alasannya. Agar Keybum hyung mendapatkan zat penetralisir dengan gratis. Haha!

Satu lagi. Keybom hyung dan Sera nuna. Wow. Mereka berdua memang sangar dan berkesan high level kali ini. Sera nuna tidak menggunakan long dress cantik seperti yang dipakai dua yeoja lain. Tapi dress pendek dengan pundak terbuka lalu rambut full hasil kriting. Meskipun seperti itu, aku menyukainya! Dia unik. Begitu juga dengan Keybom hyung yang memakain eye liner bling-bling juga tuxedo setengah putih dan setengah hitam. Ah! Tetap dengan sepatu sneakers.

Kini mataku beralih melihat sepasang selebritis besar di sudut ball room tengah berbincang dengan romantis sambil sesekali meminum minuman yang berada di tangan masing-masing.

Yeah, GD hyung dan Yoona nuna. Kapan mereka akan menyusul ketiga hyung yang lain? Apa GD hyung akan membiarkanku lebih dulu menemukan Sarang? Haha. Lucu.

“Nikky..”

“Ah, Dad..”

Aku tersenyum sambil merapikan tuxedo hitam kasualku. Dapat ku rasakan tangan Dad yang merangkul lalu menepuk pundakku beberapa kali.

“Dad ingin tahu siapa yeoja pilihanmu..” ucap Dad sambil tersenyum jahil padaku.

“Han Sarang,” jawabku dengan yakin dan pasti lalu tertawa kecil di akhir.

“Han Sarang. Kau sudah tahu rupanya.”

“Ya. Dan aku senang. Dengan begitu aku bisa menikahinya. Bagaimana menurutmu, Dad?” tanyaku tanpa basa-basi. “Dia yeoja pilihanku.”

“Ah… Apa..”

“Waaah, kau tampan sekali!!!”

Tiba-tiba seorang ahjumma menghampiriku lalu menepuk pipiku beberapa kali dengan gemas. Aku hanya tersenyum dan membungkuk ramah padanya. Ibu Sera nuna.

“Kamsahamnida,” ucapku.

“Aaah, Minseok-sshi, mengapa semua anakmu tampan sekali? Hahahaha.” Ibu Sera nuna mulai menggila dan aku harus menjauh.

Ku masukkan kedua tanganku ke dalam saku celana dan berjalan, berniat menghampiri semua kakakku.

God.. Apa yang ku lihat tidak salah? Apa benar? Aku tidak percaya. Tapi.. Hah? Jonghyun hyung..

“C’mon, my son! Come to Papa!”

Balita itu menjerit-jerit bahagia. Ya, wajahnya seperti malaikat dan dia sangatlah lucu.

“Jjong hyung!” panggilku lalu melihat bayi itu dari dekat. “Mirip sekali. Anak siapa ini?” tanyaku sambil mencubit pipi bayi itu. Dia tertawa. Haha! Ini mengasyikkan. Apa boleh aku membungkusnya dan ku bawa pulang ke Amerika? -__-‘

“Ya! Ini Kim JjongHaRa! Anakku. Lucu, bukan?” tanya Jjong hyung padaku sambil mengeluarkan senyuman kebanggaannya.

Aku hanya bisa melongo. Secepat ini, kah? “Tadi kau bilang, siapa namanya?”

“Kim JjongHaRa.”

“Ya~ mengapa panjang seperti itu? Bukankah di Korea hanya ada tiga penggal saja? Mengapa tidak JjongRa saja?”

“Jika aku memberinya nama Jjongra, akan banyak pengertian lebih. Kau mengerti itu. Aku memberinya JjongHaRa agar semua orang tahu bahwa dia anakku dan Hara.”

Aku hanya bisa terdiam. Minho hyung dan Heera nuna tertawa diam-diam.

“Yeoboooo~” panggil seseorang. Aku menoleh. Ternyata Hara nuna pada Jjong hyung. Dan itu.. perut.. besar..

“Hyung, jangan katakan..”

“Aku senang, Taemin! Beberapa bulan lagi Hara akan melahirkan anak kembar! Yeah! Semakin banyak anak, semakin baik!”

God.. please.. take me! XD

“Aku dan Hara akan membuat mereka menjadin kelompok boyband! Dan apa kau tahu? JjongHaRa sudah bisa ngeRap!”

God, seriously, take me now!

**

Indonesia

(Sarang POV)

Wow.. Keybom oppa, Keybum oppa dan Minho oppa sudah bertunangan. Tidak ku sangka aku tidak berada di antara mereka, merayakan momen yang paling bersejarah untuk keluarga Dad.

Oops, maafkan aku. Aku hilaf bahwa aku bukan anak Dad. Tapi Youngjin-sshi.

TOK TOK TOK!!

Tanganku langsung mematika televisi dengan otomatis. Cepat-cepat aku membereskan penampilanku dan membuang napas singkat melewati mulut.

“Masuk!”

“Non..”

“Eh, Bi.. masuk, Bi. Makasih ya, udah bawain kimchi. Kau memang yang terbaik. Daebaaak~” ucapku lalu melahap kimchi buatan Bi Asih. Wow! Ini keren. Aku lebih menyukai kimchi buatannya.

“Makan yang banyak, Non. Biarpun pekerjaan Non banyak, tapi Non jangan lupa makan.” Bi Asih mulai berceramah, menggantikan Bunda, lalu duduk di hadapanku.

Ya, kini aku tengah berada di dalam kantorku. Memang jam istirahat. Dan aku malas keluar untuk makan bersama para karyawan.

“Non, tadi lagi nonton, ya? Nyalain aja lagi, Non. Bibi jadi gak enak.”

“Ah, udahlah, gak usah, Bi. Ga apa-apa..” jawabku lalu meneguk air mineral.

“Non, Bibi mau nanya dong, umur Non kan udah dua puluh. Biasanya udah punya calon loh, Non.”

Aku yang semula akan memasukkan sesendok kimchi ke dalam mulutku menjadi terdiam dan menyimpannya kembali.

“Non.. maap, Non..”

Aku tersenyum manis pada Bi Asih. “Dia akan datang tidak lama lagi,” ucapku lalu tertawa kecil dan melanjutkan melahap kimchi.

Ya, aku memakannya namun pikiranku berlarian. Taemin, kau dimana? Apa kau sudah tidak peduli lagi padaku?

Atau.. apa kau sudah mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku? Dan kini.. kau melupakanku?

**

New York

(Author POV)

Kembali ke kegiatan rutin. Kini Taemin tengah berkutat dengan pekerjaannya di atas meja direktur Toyoto.

Tiba-tiba Taemin menghentikan kegiatannya yang tengah memeriksa beberapa berkas.

Diambilnya ponsel lalu memanggil seseorang.

“Dad..”

“Ya, Nikky?”

“Dad.. aku ingin bertanya sesuatu.”

“Apa? Tanyakan saja.”

“Dimana alamat rumah Mom Alamanda di Indonesia?”

Diam. Minseok terdiam. Tidak menjawab.

“Dad?”

“Ah, Nikky! Waktunya Dad minum obat. Maaf, kita sambung lain kali, Nak. Hm, ya! Ini jam kerja! Jangan buang waktu sedetik pun! Bekerjalah dengan baik!”

KLIK!!

Taemin memasang wajah cemberut kekanakannya. “Aku tidak buang waktu. Ini penting. Untuk masa depanku..” ucap Taemin sambil menatap layar ponselnya lalu menyimpan ponselnya itu di atas meja sambil mendengus kasar.

“Lihat saja. Aku akan menemukannya tanpa bantuan siapapun.”

TOK TOK TOK!!

“Come in!”

“Sir.. Pihak Toyoto Indonesia sudah menanyakan ten..”

Taemin memotong pembicaraan sekretarisnya itu. “Siapkan tiga tiket pesawat! Kita berangkat besok pukul delapan pagi..”

“Baik, Sir!” seru sekretaris lalu melangkah ke luar ruangan Taemin.

“Ah, Mister George!” panggil Taemin lagi. Dia menoleh. “Bagaimana dengan penginapan?”

“Untuk penginapan, pihak Toyoto Indonesia sudah menyediakannya yang terbaik di sana, Sir.”

“Bagus. Silakan kembali dan kerjakan pekerjaanmu dengan baik,” ucapku lalu tersenyum bersahaja. Tentu saja aku tidak akan melupakan pesan Dad.

Ah, ya. Kini Dad tinggal di Jepang. Rutin berolahraga setiap hari juga semakin mempunyai banyak waktu untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Kesehatannya tidak sebaik dulu.

Aku sudah memegang ballpoint untuk memberikan tanda tangan di salah satu berkas. Namun mataku terhenti di foto itu. Foto Sarang. Mengapa dia selalu menatapku seperti itu?

Ku simpan ballpoint itu lalu ku pandangi beberapa menit dirinya yang tidak pernah membuatku bosan.

“Aku datang..”

Jantungku kembali berdetak keras.

**

Indonesia

(Author POV)

“Bagaimana kabarmu, Pak Fariz?” tanya Sarang sambil menjabat tangan seorang ahjusshi.

“Sempurna. Hah, senang sekali kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama saya jarang berlibur ke mari dengan keluarga,” jelas bapak itu. Sarang hanya tersenyum.

“Aku sudah bersyukur Bapak tidak melupakanku ketika datang kembali.”

Bapak itu tertawa. Ya, seorang bapak yang pernah datang ketika Sarang masih ditempatkan di penginapan kecil pinggir pantai itu. Bukan Hotel Alamanda besar ini.

“Nak, usahamu semakin sukses saja..”

“Terimakasih, Pak. Ada yang bisa kami bantu?”

“Ah, kini aku datang tidak bersama keluarga. Tapi bersama rekan kerja dari Toyoto. Kami ingin mengambil satu kamar VVIP dan dua kamar VIP selama tiga hari. Akan diadakan meeting besar. Tentu saja kami menyewa ruang meeting standar internasional di sini juga ball room untuk dua kali pesta kecil.”

“Baiklah, Anda bisa menghubungi administrasi. Mari Pak, ku antar..”

‘Meeting besar se-Indonesia? Wow. Sepertinya akan berlangsung sangat mewah sekali. Sampai akan di adakan pesta kecil? Jika seperti ini semestinya Dad datang,’ batin Sarang ketika melihat apa saja yang akan Bapak itu sewa. ‘Benar-benar pemborosan..’

Setelah bapak itu membayar seluruh biaya sewa, Sarang mengantarnya sampai pintu gerbang hotel ini.

“Baiklah, Nak Deara. Bapak pergi dulu. Masih ada urusan di Jakarta. Tapi besok saya akan kembali,” ucap Pak Fariz lalu tersenyum dan memasuki mobil mewahnya. Tentu saja merk Toyoto.

“Terimakasih, Pak..”

Setelah mobil yang dinaikki Pak Fariz berlalu, Sarang memegang jantungnya.

“Wae? Wae?” tanyanya pada diri sendiri. Tidak mengerti dengan jantungnya yang tiba-tiba berdebar sangat kencang.

**

New York

(Taemin POV)

Besok aku pergi ke Bali, Indonesia. Negara pertama yang ku kunjungi selama bekerja di Toyoto. Meeting besar tahunan.

Aku tidak terlalu memikirkan masalah itu. Tapi Sarang. Sarang dan Sarang. Aku akan bertemu dengannya. Apakah itu akan terwujud?

Aku lirik jam dinding yang terpasang dekat lemari. Sial. Sudah pukul dua pagi dan aku tidak dapat menutup mataku untuk tidur, beristirahat setelah seharian bekerja. Bagaimana ini?

Aaarrggh, dan mengapa kini jantungku ikut cemas?

Ku remas rambutku frustasi. “Saraaaang you make me crazy.. exactly!”

**

Indonesia

Sarang tidak dapat berdiri di tempat dan melihat bagaimana semua karyawannya sedang bekerja keras untuk menyiapkan pesta kecil perusahaan Toyoto.

Dirinya membantu memasangkan bunga dan hiasan dinding yang lain agar terlihat menarik.

Matanya menatap satu hiasan yang berada di tangannya. Hiasan kupu-kupu. Dan seketika matanya memanas. Ya, Sarang menangis. Teringat Taemin dan semuanya kembali berputar di otak. Taemin, Taemin, Taemin.

“Sarah, tolong kau handle semuanya, aku harus pulang..”

“Baik, Nona..”

Tangannya sibuk menghapus air mata sambil berjalan cepat menuju tempat parkiran mobil miliknya.

Sejenak Sarang terdiam sambil menggenggam kemudi dengan erat. Lalu dirogohnya ponsel di dalam tas.

“Aku pulang. Jika aku perlu ke hotel, hubungi aku saja.”

KLIKK!!

Kini Sarang membawa mobilnya menuju penginapan Alamanda, rumahnya, dengan tidak berkonsentrasi.

Tangannya membanting stir ke arah kanan, pintu keluar yang biasa ia lewati, tidak untuk wisatawan yang menginap di hotelnya.

CKIIIITT!!

Jantungnya berdebar sangat keras. Hampir saja menabrak mobil yang baru saja masuk.

Pengemudi mobil itu membuka kaca mobilnya. “Hati-hati jika membawa mobil!” serunya.

Sarang juga membuka kaca mobilnya lalu tersenyum ke arah pengemudi itu. “Maaf, Pak. Saya akan lebih berhati-hati. Maaf sekali lagi..” Lalu Sarang kembali menutup kaca mobilnya dan membawa mobilnya keluar. Kini dengan lebih hati-hati.

*

Indonesia

(Taemin POV)

Akhirnya sudah sampai di Bali, Indonesia. Sangat mengagumkan. Ini pertama kalinya untukku. Jujur saja, lebih indah dari Jeju Island. Benar-benar sejuk dan indah.

“Berapa lama lagi kita tiba di hotel, Pak?” tanyaku pada supir. Sekretaris dan managerku berada di mobil berbeda.

“Kita sudah sampai, Tuan..”

Baiklah. Aku keluarkan handphoneku untuk memastikan jadwal yang diberikan manager malam ini.

CKIITT!!

SHIT! Handphoneku jatuh kemana?

“Hati-hati jika membawa mobil!”

Dimana handphoneku? Haiish..

“Maaf, Pak. Saya akan lebih berhati-hati. Maaf sekali lagi..”

Ini dia..

Aku bersihkan lalu melihat keadaan ponselku. Untunglah, baik-baik saja. Tidak ada yang cacat.

“Ada apa, Pak?” tanyaku pada supir yang sudah menjalankan kembali mobilnya.

“Mobil itu hampir menabrak.”

Aku menoleh ke belakang. D 34 RA. Huh, untung saja tidak terjadi apa-apa. Dasar yeoja. Selalu saja ceroboh.

Ku jelajahkan mataku ke sekitar hotel ini. Benar-benar asri dan indah. Bangunan tinggi besar menjulang. Hotel Alamanda.

Ya.. Ini pasti milik Mom Alamanda. Semoga saja dia sedang berada di sini. Aku lebih bersyukur jika Sarang juga sedang bersamanya.

Mobil berhenti. Seorang petugas membukakan pintu untukku. Sedangkan supir membantu menurunkan koperku.

Tiga orang berjas hitam tersenyum sumringah lalu menyambutku dengan jabatan tangan.

“Mr. Nikky!” sapa seorang ahjusshi yang berbadan sedikit tambun. Hm, mengapa orang Indonesia kebanyakan pendek? *dibantai rakyat Indo*

“Ya, hello! How are you? How are you?” balasku sambil membalas jabatan mereka satu persatu.

“Saya Fariz, ketua umum Toyoto Indonesia, ini Agung, manager saya dan Kristanto, sekretaris. Baiklah, mari kami antar ke dalam, Mister..” ucapnya panjang lebar dengan bahasa inggris.

“Okay.. great to know you all..”

Sambil berjalan masuk dan mengobrol dengan Fariz ahjusshi, sekilas aku melirik jam tanganku lalu menjelajahkan mataku di dalam hotel ini.

Mungkin saja aku bisa menemukan Mom Alamanda atau Sarang. Yeah, Sarang. Aku sangat merindukannya.

Namun tidak ada. Hh, sudahlah.

“Pukul empat sore. Mister, Anda bisa beristirahat. Pukul tujuh malam kita mengadakan pesta kecil untuk menyambut kedatanganmu sekaligus terpilihnya menjadi pemilik baru Toyoto. Baiklah, semoga Anda bisa menikmati suasana Indonesia,” jelas Fariz ahjusshi. Kami berada di lorong kamar hotel VVIP saat ini.

“Ya, aku suka Indonesia. Tempat ini sangat indah. Baik, kau bisa kembali ke kamarmu. Dan aku pastikan aku akan datang ke pesta itu dengan senang hati, Mister Fariz.”

Setelah dia pergi meninggalkanku, aku masukkan sensor ibu jari lalu pintu pun terbuka.

Wow! Kamar ini benar-benar keren. Serba minimalis dan aku sangat menyukainya. Ku buka tirai yang menghalangi dinding kaca. Dan ternyata pemandangan pantai timur terlihat jelas. Aku bisa menikmati matahari terbit di sini.

Ah, aku masih penasaran. Apa  Mom Alamanda sedang berada di hotel ini?

Kembali ku langkahkan kakiku menuju lift dan menuju lantai terbawah, menuju resepsionis. Aku tidak akan mandi atau apapun sebelum menemukan jawaban atas pertanyaanku hari ini.

“Maaf, apa Miss Alamanda sedang berada di sini?” tanyaku.

“Sudah lama Miss Alamanda tidak berada di Indonesia, Tuan. Hotel ini bukan miliknya lagi.”

Aku berpikir sejenak. “Lalu siapa yang memegang hotel Alamanda di sini?” Jantungku mulai berdebar. Tolong katakan Sarang! Choi Sarang atau Han Sarang atau apapun yang penting Sarang!

“Miss Deara.”

Bukan. Bukan Sarang. Baiklah, semua pertanyaan terjawab sudah. Sarang tidak berada di Indonesia. Dan aku yakin dia mengikuti Mom Alamanda.

“Apa kau tahu Miss Alamanda pergi kemana?”

“Maaf, Tuan. Itu privasi.”

“Aku tahu. Baiklah. Thanks!

Kalau saja dia tahu bahwa Mom Alamanda adalah ibuku juga.

Lebih baik aku tidur dan berharap cepat pergi dari Indonesia. Karena ini bukanlah menjadi negara tujuanku untuk mencari dimana kemungkinan Sarang menetap.

*

(Sarang POV)

Sudah pukul tujuh malam. Pesta kecil di hotel pasti sudah dimulai. Tidak ada panggilan dari pihak hotel yang memanggilku untuk pergi ke sana. Untunglah. Jadi aku bisa menghabiskan waktuku untuk memikirkan Bambino.

Aku duduk di atas bangku taman rumah ini sambil mengenakan syal putih yang ku buat untuk Taemin. Ku tatap bintang yang bertebaran di langit sambil memandangi cincin yang tidak pernah terlepas dari jari manisku.

Bayangan beberapa tahun dengan Taemin kembali terulang..

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

“Kau tidak ingin tahu alasan mengapa Jinki hyung ingin menjadi kekasihmu?” tanya Taemin. Sarang menatapnya, menunggu dia menjelaskan. “Sebenarnya aku baru tahu ten..”

“Katakan!” sela Sarang.

“Dia sakit hati karena Jiyoung meninggalkannya,” tambah Taemin.

“Apa? Jadi aku bisa dikatakan sebagai pelampiasan?”

“Memang. Jadi sebaiknya kau putus saja dengannya dan jadilah milikku.”

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Bibirku tersenyum. Tapi entah mengapa kini aku menangis. Ya Tuhan, aku benar-benar merindukan Taemin.

Sepuluh menit, lima belas menit, dua puluh menit.. Tangisanku semakin menjadi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus meyusulnya ke Korea? Hah..

Pukul sembilan malam. Aku yakin mataku sudah bengkak tidak kalah dengan besarnya bawang bombay.

“Non.. Ada telfon..”

Bi Asih memberikan telepon rumah dan memberikannya padaku.

“Siapa, Bi?”

“Dari hotel, Non. Aduh, Non kenapa nangis, sih?”

Aku tersenyum menandakan bahwa aku baik-baik saja lalu memintanya untuk meninggalkanku, menjawab telepon.

“Ya?”

“Nona Deara, pihak Toyoto, Bapak Fariz, ingin bertemu dengan Anda dan menghadiri pesta kecil itu.”

“Ah? Apa aku harus datang? Ini sudah malam.”

“Ya, dia mengatakan akan sangat senang sekali jika Anda menghadirinya.”

“Uh, baiklah, aku akan bersiap-siap..”

KLIKK!!

Sial! Bagaimana ini? Aku tidak bisa pergi begitu saja dengan keadaan mata bengkak seperti ini. Es! Ya, aku kompres saja dengan es. Aku tidak ingin tahu, bagaimana pun caranya, mataku harus mengecil meskipun sedikit.

Beberapa belas menit kemudian..

“Okay, tidak separah tadi..”

Aku mengambil tasku lalu berjalan sedikit malas menuju mobil.

*

(Author POV)

Sarang sibuk membalas senyuman dan anggukan para karyawan hotel ini lalu menuju lift, dimana ball room terdapat. Lantai 13.

“Oh, God, ayolah, aku pasti sudah terlambat.. Jangan sampai aku membuat pelanggan kecewa,” gumamnya tidak pernah berhenti.

Pintu lift terbuka dan tiba-tiba ponselnya berdering. Kini dia sibuk mencari ponselnya sambil berjalan keluar dari lift. Sekilas matanya melihat sepatu seseorang yang memasukki lift. Kepalanya berputar untuk memastikan baju apa yang namja itu pakai. Tuxedo. Aneh.

Setelah beberapa meter pintu ball room terdapat, Sarang menemukan ponselnya. Ternyata Pak Fariz. Tapi percuma. Kini Pak Fariz sudah berada di hadapannya, dekat area minuman.

“Pak, maaf aku terlambat,” ucap Sarang sambil memasang senyuman permintaan maaf. Matanya melihat suasana pesta yang masih ramai dengan para petinggi Toyoto  beserta istri.

“Maafkan saya juga, Nak. Direktur kami baru saja keluar. Aku yakin kalian berpapasan saat di koridor atau memasukki lift.”

Otak Sarang berputar. “Ah! Yang memakai tuxedo putih dan bersneakers merah?” tebak Sarang. Pak Fariz hanya tertawa.

“Ya. Dia direktur kami. Dia ingin bertemu denganmu. Tapi sepertinya dia sudah lelah karena perjalanan yang cukup panjang.”

Sarang hanya mengangguk. Tapi dipikirannya terus bertanya. Bagaimana bisa orang seperti itu menjadi direktur Toyoto Indonesia. Jika status dirinya masih menjadi anak Minseok, dirinya akan melaporkan ini pada Minseok. “Kalau begitu aku pulang saja. Selamat malam, Pak..”

“Maafkan saya jika mengganggu. Saya tidak tahu dan tidak bisa menghalangi kemauan mister direktur.”

“Mister? Memang dia tinggal dimana?”

“Amerika..”

“Oh..”

‘Pantas saja,’ lanjut Sarang dalam hatinya.

Akhirnya hari ini Taemin tidak berhasil bertemu dengan Sarang. Padahal sudah ada dua kesempatan besar.

**

“Anda tidak enak badan, Mister?” tanya Pak Fariz pada Taemin setelah rapat besar usai. Sekarang sudah pukul empat sore.

“Tidak. Hanya dalam keadaan tidak mood saja. Do you have some idea?” tanya Taemin yang tengah menyandar di kursi super empuk, masih di dalam ruangan rapat yang sangat besar.

Pak Fariz berpikir keras sambil mengusap janggutnya.

“Aku butuh tempat sepi untuk berdiam diri. Pantai timur selalu penuh begitu pun dengan yang lain. Aku ingin pantai yang sangat sepi. Tidak banyak orang atau turis asing berlalu lalang. Kau tahu dimana?” tanya Taemin sambil menoleh ke arah Pak Fariz di sampingnya lalu memasang posisi tegak.

“Tentu saja.”

“Baiklah, aku berganti baju dulu. Kau tunggu saja di lobi,” pinta Taemin sambil bangkit dari kursinya diikuti jajaran di belakang. Sekretaris dan managernya. Juga Pak Fariz.

Tidak ada senyuman atau wajah bahagia yang terlukis di wajah Taemin. Dia frustasi. Dia kesal karena tidak juga menemukan Sarang. Taemin sempat berpikiran untuk berhenti mencarinya tapi itu sangat sulit.

*

Beberapa menit kemudian Taemin sudah berganti baju memakai kaus polos berwarna putih dilapisi kardigan berwarna putih juga. Ditambah celana jeans hitam dan sneakers hitam.

“Kita sudah sampai, Mister..” ucap Pak Fariz setelah mereka sampai di satu tempat yang cukup sepi namun segar dan tidak banyak orang berlalu lalang.

“Hm, not bad..” ucap Taemin.

“Penginapan ini mempunyai pantai pribadi di belakang. Kita bisa masuk, Mister. Ikuti saya..”

“Tidak bayar dulu?”

“Penginapan ini juga milik hotel Alamanda..”

Taemin sempat berpikir. ‘Apakah ini rumah Mom Alamanda? Tempat dimana Dad dengannya bertemu?’

“Kalian boleh kembali. Aku bisa pulang menggunakan taksi..”

Taemin berjalan dengan perlahan memasukki penginapan itu. Beberapa orang karyawan memberinya rangkaian bunga alamanda untuk Taemin sebagai ucapan selamat datang.

Kini kedua telapak kakinya sudah menyentuh pasir putih, bersih dan terawat. Taemin benar-benar menyukainya. Selain itu disini sangat sepi. Tidak ada seorang pun. Tapi.. matanya melihat satu sosok yeoja yang tengah berdiri mematung dengan kakinya tenggelam sampai mata kaki, memunggunginya.

Taemin semakin mendekati yeoja itu. Kedua keningnya berkerut dalam ketika melihat punggung yeoja itu mengguncang. Menangis. Ya, Taemin dapat mendengar suara tangisan yeoja itu.

Tapi mengapa? Mengapa yeoja itu menangis? Pikiran kekanakan Taemin mengatakan, mungkin yeoja itu ditinggal pulang oleh kedua orang tuanya. Tapi itu tidak mungkin.

Semakin dekat dan semakin dekat, sampai menyisakan jarak kurang lebih lima meter. Taemin masih terdiam dan tetap tidak bergerak. Masih memperhatikan yeoja  berambut panjang bergelombang sepinggang dan berwarna hitam itu.

“Taemin..”

Jantung Taemin tiba-tiba tersentak. Dia benar-benar terkejut malah hampir berteriak karena namanya disebut oleh yeoja yang tidak dikenalnya ini.

Tapi apakah yeoja ini mengenalnya dan mengetahui keberadaannya? Itu tidak mungkin.

“Mengapa kau belum juga datang menemukanku, Taemin? Aku sudah menunggumu lama sekali. Apa kau sudah benar-benar melupakanku?”

Taemin merasakan saluran darahnya seperti tersendat kerikil-kerikil kecil. Napasnya berat dan tercekat. Matanya memanas. Bibirnya bergetar. Apa yeoja yang memunggunginya ini adalah Sarang?

…………………………………………………

Nggak mau komen banyak ah, takut ceritanya kurang geregetan. Maaf ya..

Author lagi galau mikirin kuis fisika. Bantuin~ *puppy eyes*

Tenang, masih ada chap 14 udah ditulis tapi aga akan di post barengan hehe. Ditunggu yaaaa yang penting sarangbambino udah ketemu. Yeeeee! *
krik*

Dah

……………………………………………….

13 thoughts on “SHINee FF: HELLO SMART PLAYBOY [ CHAP 13 ]

  1. AKU PERTAMA AKU PERTAMA. AIGOOO. GEREGETAAAAN. AKHIRNYA:”””) DI PERTEMUAN KETIGA MEREKA KETEMU. CHAP 14 PANJANGIN NE/? Aku suka bagian Taem-Jjong dan Taem-Bom wlwlwlw xD Fighting eon. Mangadh juga kuis fisikanyaaa.___.

  2. DEMI TUHANNNN… #gebrakMeja..
    astagaa saengg…itu tbc…huaaaaa… seneng, kesel, dan pengen gigit tembok..
    aish… hahahahha. gemes gemes…kkkyaaaa…part ini penuh dengan kegalauan… hahahah… suka dengan beberapa cuplikan taemin dan sarang, hihi unyuu
    suka suka suka….. akhirnya..akhirnya mereka ketemu…hihihih~
    dan woww, taemin emang benar-bener daebak… duh gusti, demen banget pria kaya gitu…hoaa, taemin bener-bener pria sejati bokk, duh eke jatuh cintrong deh #pletak
    ditunggu final partnya saeng, onni request taemin dan sarang harus ada adegan tindih-tindahannya, ga boleh kalah dengan abang-abangnya., >.< #diinjek.abaikan muahahhaha.
    hwaiting… :*

  3. Astagaaaaa authorrrrrr !!!
    Demi apa ini udah tegang sama seneng kebangetaaaaan pas baca di bagian akhirnya ….
    Tapi kenapa malah udahaaan -___-
    Part 14 di tunggu secepatnyaaa :D

  4. Heera eonniiiiiiii!!!!!!! KYAAA>< cepetwn di postnyaaa!! Jangan bikin aku tambah penasaraaaaaaaannnnn T.T palliiii!! Eonni itu author favoritkuuuuu!!! HEERA EONNI, FIGHTING!!! SETELAH INI HYESA EONNI NYELESAIIN ELECTRIC DAN HEERA EONNI BIKIN FF BARU, DAN NYELESAIIN ARCHDANGEL!!! Eon, boleh request kalo bikin ff baru castnya campuran antara exo dan shinee~~~ gumawo neee ^0^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s