SHINee FF: HELLO SMART PLAYBOY [ CHAP 12 ]

Untitled-2 copy

HELLO SMART PLAYBOY

Cast:

  • SHINee
  • Choi Sarang (YOU)

Minor Cast:

  • G-Dragon (Big Bang)

Keterangan:

  • Lee Taemin at Lucifer Japan era
  • Choi Minho at Juliette Japan era
  • Kim Keybum at Juliette era
  • Kim Keybom at RDD wears black tuxedo era
  • Lee Jinki at Shawol 1st Japan concert
  • Kim Jonghyun at Replay Japan era
  • G-Dragon at Heartbreaker era

Disclaim: Tuhan yang menciptakan mereka, lima bintang besar yang bersinar, SHNee. Pemeran lain hanyalah fiksi yang tidak diketahui keberadaan aslinya. Tapi itu terserah dirimu.

Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Selamat membaca!

………………………………………………………

Last chapter…

Emosinya semakin meluap ketika melihat satu foto yang terpajang di atas meja belajar milik Sarang. Foto dirinya yang tengah memeluk Sarang dari belakang dengan senyuman lepas. Diambilnya foto itu dan dipandangnya beberapa saat. Taemin menggeleng lemah. Kedua lututnya lemas.

“Sarang.. mengapa kau meninggalkanku seperti ini? Apa kau tidak tahu bahwa aku.. bahwa sebenarnya, aku..”

…………………………………………

CHAPTER 12

“Taemin?” Minho masuk dengan kerutan dalam di keningnya karena melihat Taemin yang tengah menangis.

“Hyung..” ucap Taemin sambil memberikan kertas yang sedari tadi digenggamnya pada Minho.

Taemin menutup kedua matanya dan air mata pun jatuh bebas. Tapi dengan kuat Taemin mencoba bertahan agar tidak terlihat sangat jatuh di depan Minho. Dihapusnya air mata yang membasahi pipi. Tapi air matanya yang lain mengalir ke ujung hidungnya.

Minho menggeleng pelan beberapa kali lalu menyimpan surat itu di atas meja belajar dengan sembarang dan akhirnya kertas itu jatuh di atas lantai.

“Dimana Sarang?” tanya Minho dengan napasnya yang sudah terdengar sangat berat di telinga Taemin. Kedua kakinya berjalan cepat menuju lemari. Jantungnya tersentak ketika melihat isi lemari itu hampir kosong. Matanya membulat.

Taemin berlari dengan cepat ke arah luar.

“Taemin!!!” panggil Minho dengan teriakan terkuatnya. Tapi percuma saja. Adiknya itu sudah melesat terlalu jauh.

Tidak lama Keybum dan Keybom datang. Tidak dengan GD yang sedang mengikuti konser Korean Wave di Taiwan dari kemarin lusa.

“Hei! Any problem, Dude?” tanya Keybom heran dengan ekspresi frustasi Minho. Kepalanya berputar ke kanan ke kiri. “Dimana Sarang?” tanyanya lagi. Namun tidak ada seorang pun yang menjawab.

“Mwoya igo?” Keybum meraih kertas yang tergeletak di atas lantai dan membacanya dengan cepat. Kini ekspresinya tidak berbeda jauh dengan Minho.

“Ya! Berikan padaku.” Keybom merebut kertas yang berada di tangan Keybum lalu membacanya dengan kening yang mengerut dalam.

“Jujur saja. Aku bingung. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Minho yang sedari tadi tidak menemukan jalan. Panik.

“WHAT!!!” teriak Keybom cukup menggema. “Sarang.. pergi kemana dia? Bagaimana bisa dia pergi dari rumah ini?” Kakinya melangkah ke sana kemari tidak jelas sambil sesekali diacaknya rambut hitam itu.

“Tunggu.. sebelum kita mengambil tindakan, bagaimana kalau kita pikirkan masalah apa yang tengah mengganggunya akhir-akhir ini?” tanya Keybum yang tengah berpikir kritis.

“Ah, Saraaaang. Kau dimanaaa? Bagaimana hidupku jika tidak mempunyai adik perempuan yang sempurna sepertimu? Aaaaargh..” ujar Keybom tidak jelas dan sedari tadi hanya itu yang dilakukannya. Pikirannya kacau dan cemas. Juga dengan kakinya yang sulit untuk tidak berjalan bolak-balik.

“Keyboooom. Hentikan! Ocehanmu mengganggu konsentrasiku,” ucap Keybum kesal.

“Ah! Bertunangan?” Minho memberikan satu opsi. Keybum menoleh ke arah Minho lalu mengangguk.

“Bertunangan dengan Jinki. Tapi masalah itu sudah selesai, bukan? Kini Han Jiyoung yang menjadi pasangan Jinki. Dan kita semua tahu Sarang sudah tidak mencintai Jinki. Jadi masalah ini kita abaikan saja,” ucap Keybum panjang lebar lalu melanjutkan untuk berpikir.

“Dimana Taemin?” tanya Keybom yang sudah berhasil memberhentikan kakinya.

“Aku tidak tahu. Sepertinya dia sangat frustasi ditinggal Sarang secara tiba-tiba seperti ini. Wajahnya sembab..” jawab Minho.

“Aku akan melacaknya dengan robotku. Berdoa saja mudah-mudahan handphonenya masih aktif.” Keybum masuk ke dalam kamarnya dengan tergesa.

“Aku akan mencari kabarnya di internet. Siapa tahu aku menemukan blognya,” ucap Minho dan mulai berjalan keluar.

“Aku akan lapor polisi,” ucap Keybom seketika. Minho langsung berbalik dan kembali menghampiri Keybom.

“Apa kau gila? Jika kita melapor pada polisi, berita ini akan cepat menyebar. Selama kita masih bisa dan mampu, kita lakukan saja dan jangan sampai orang-orang tahu. Jadi lebih baik kau berdoa saja..”

Minho berlalu dan kini Keybom hanya terdiam dan kembali menjelajahkan pandangannya di dalam kamar Sarang yang terlihat sangat rapi ini.

‘Kau dimana, Sarang?’

“Ada apa ini?”

Keybom menoleh.

“Dad?!”

*

(Taemin POV)

Tidak ada. Sarang tidak ada di sini. Lalu dimana? Kemana lagi aku harus mencari?

Ku pukul kemudi di depanku dengan keras lalu menutup wajahku dengan telapak tangan. Jangan. Jangan menangis. Kau memang bukan namja yang tegar, Taemin.

Sarang, mengapa kau meninggalkanku? Hanya kata itu yang sedari tadi berputar di otakku. Aku benar-benar tidak mengerti. Apa yang membuatnya tiba-tiba berpikiran untuk pergi begitu saja tanpa meninggalkan kabar?

Okay, air mataku mulai jatuh lagi. Sial! Mengapa aku seperti ini? Sarang. Kau tega membiarkanku frustasi, eh? Berilah sedikit kabar padaku.

**

Hah! Semua tidak membuahkan hasil. Semua tempat yang dia sukai, aku tidak menemukan sosoknya. Apa aku harus mengecek satu-persatu hotel yang berada di Korea ini? Tapi, apakah Sarang masih menetap di Korea? Itu yang aku takutkan.

Aku berjalan dengan gontai, memasuki pintu utama rumah. Sudah pukul sepuluh malam dan mataku menangkap enam sosok yang tengah berkumpul di ruang keluarga. Ya, para hyungku, Dad, ibu Minho hyung dan Umma. Mereka menatapku penuh kekhawatiran. Aku mengabaikannya dan kembali berjalan ke arah tangga.

“Nikky!” panggil Dad padaku. Aku menoleh ke arahnya. “Kemari. Duduk di sampingku..”

Aku menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Tetap diam di tempat. Belum juga duduk di samping Dad. Mataku memandang satu persatu pada mereka yang menatapku seperti itu.

“Aku tidak menemukan Sarang. Maafkan aku,” ucapku sambil menatap mereka bergantian.

“Kami hanya khawatir pad..”

“Sudahlah, Hyung. Gwenchana..” potongku pada Keybum hyung. “Aku sudah mengantuk. Selamat malam..”

Kini aku berlari kecil dan menaikki tangga dengan cepat. Haiish! Mengapa air mataku tidak bisa berhenti untuk keluar? Tanganku sibuk kembali menghapusnya.

Kakiku berhenti di depan pintu kamarku. Dengan perlahan ku putar kepalaku dan menatap pintu kamar Sarang yang tertutup.

Dulu, setiap aku melihat pintu kamarnya, ingin sekali aku masuk, melihatnya kesal karena aku yang tidak pernah bosan mengganggu dan menggodanya. Aku yang selalu ingin melihat senyumannya dan mendengarkan ceritanya yang tidak pernah membuatku bosan setelah seharian suntuk di sekolah.

Ku tundukkan kepalaku lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu keras-keras. Kakiku kembali lemas dan akhirnya aku teduduk. Pikiranku kembali tertuju padanya. Sarang.

*

(Sarang POV)

Tidak ku lepaskan gigitan di bibir bawahku. Aku tidak ingin menanggung resiko jika suara tangisanku ini keluar dan membuat semua penumpang pesawat terbangun.

Kembali ku hapus air mataku yang menggelitik pipi. Sesekali Bunda yang duduk di sampingku mengelus rambutku untuk menenangkan. Tapi itu semua tidak sepenuhnya membuatku lebih baik.

Taemin, aku tahu kau sudah membaca surat yang ku tinggalkan di atas meja. Dan kini aku juga tahu seisi rumah tengah panik karena dengan tiba-tiba aku menghilang.

Janganlah berpikiran buruk padaku. Tidak, aku tidak membenci kalian. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Percayalah. Ini demi kabaikan kita.

Semoga saja statusku yang sebenarnya tidak terbongkar. Tapi jika di saat semua orang mengetahuinya, aku berharap itu bukanlah masalah besar untukku dan keluarga Choi.

Aku akan merindukan kalian semua..

*

“Dad dan Mom Alamanda sudah bercerai..”

“Apa?!” kejut Minho, Keybum dan Keybom hampir bersamaan. Ketiganya saling pandang tidak percaya.

“Dimana Mom Alamanda, Dad?” tanya Keybom. Minseok mengatur napasnya yang sedikit berat karena masih belum menerima keputusan yang diberikan Alamanda.

“Dia pergi ke Paris tadi malam.”

“Kalau begitu kemungkinan besar Sarang pergi dan ikut Mom Alamanda ke Paris?” Keybum mengambil kesimpulan.

“Tidak. Mom Alamanda juga tidak tahu kemana perginya Sarang. Dia sedang mencarinya dengan para bawahan yang tersebar di berbagai negara,” jelas Minseok yang sepenuhnya berbohong.

“Dad, apa kau sudah berusaha mencari keberadaan Sarang? Ini bukan hal yang sulit untukmu, bukan?” tanya Minho penuh kekhawatiran.

“Kau tenang saja. Dad tahu apa yang harus Dad lakukan.”

Minho menunduk dan mengulum bibirnya cemas.

“Dan satu lagi hal penting yang harus kalian tahu..”

Mata ketiga putranya menatap penuh rasa penasaran dengan apa yang akan Minseok katakan. Sedangkan kedua istri Minseok hanya menunduk dan menerima semua keputusan Minseok.

“Sarang bukan anak kandungku.”

DEG!!!

“What!?” Keybom menganga lebar lalu menutupnya rapat-rapat disusul dengusan kasar. ‘Benar dugaanku selama ini. Sarang bukanlah adik kandungku..’

“Dad.. apa yang kau katakan? Bagaimana bisa Sarang.. bukan anak kandungmu?” Minho menggeleng dengan senyuman syok yang terlukis di bibirnya.

“Jadi.. haaah.. Dad, jika kau tidak keberatan, aku ingin kau menceritakannya pada kami,” pinta Keybum dengan kedua tangan yang terkepal di atas pahanya.

“Dulu ketika Dad pergi ke Indonesia untuk mendapatkan kerjasama, Dad menginap di penginapan Mom Alamanda bersama salah satu rekan kerja dan dia adalah sahabat terdekat Dad.” Minseok mengambil napas dalam-dalam. “Dan entah bagaimana ceritanya, sahabat Dad menghamili Mom Alamanda dan tidak ingin bertanggung jawab. Jadi, Dad yang bertanggung jawab dan  menikahi Mom Alamanda. Lahirlah Sarang. Putri yang cantik itu sangat Dad sayangi dan Dad anggap sebagai anak kandung. Karena kebetulan Dad tidak mempunyai anak perempuan,” cerita Minseok panjang lebar. Tidak ada seorang pun yang mengeluarkan suara.

Minseok melanjutkan. “Dan kemarin malam, sahabat Dad meminta Sarang untuk kembali ke keluarganya. Tentu saja Dad menolak dan saat itu kami bertengkar. Untung saja Sarang sudah kembali ke rumah dan ku dengar kalian mengadakan pesta ulang tahun untuknya. Saat itu, Mom Alamanda meminta cerai.”

“Siapa sahabatmu itu, Dad?” tanya Keybom tanpa basa-basi.

“Dia.. Youngjin. Han Youngjin..”

“Apa?!” pekik Minho sedikit tertahan. “Bukankah Youngjin ahjusshi itu.. ayah dari Han Jiyoung?”

“Ya, benar. Memang dia. Jadi, Jiyoung dan Sarang adalah adik dan kakak,” jawab Minseok dengan senyuman miris.

“Apa kita harus memberitahu Taemin?” tanya Keybum.

“Jangan. Biarkan saja. Salah sendiri dia tidak menuruti perintahku untuk duduk sebentar saja di sini,” jawab Minseok. Aura kepemimpinan sangat terlihat. “Baiklah, sebelum Dad pergi, apa ada yang akan kalian sampaikan?”

Keybom menarik napas. “Dad, aku akan melamar Sera setelah urusanku di Amerika selesai. Kau mengijinkan hubungan kami, bukan?” ucap Keybom penuh harap.

“Pilihanmu adalah pilihanku. Juga untuk kalian, Elias, Aiden. Kalian, para putraku, sudah beranjak dewasa dan aku tidak berhak mengatur hidup kalian..”

“Ya, Dad..” jawab mereka bertiga hampir bersamaan.

“Besok Dad akan pergi ke Jepang. Ku harap kalian mengerti dengan pekerjaanku..”

Kini mereka bertiga hanya terdiam, bergelut dengan pikirannya masing-masing.

*

(Author POV)

Pertunangan  Jinki dengan Jiyoung berlangsung cukup baik dan tidak sesempurna yang telah direncanakan oleh keluarga Choi dan  Lee. Karena kini keluarga Han lah yang menjalani.

Banyak sekali wartawan yang bertanya, kemana perginya Sarang? Mengapa tiba-tiba putri dari sahabat Choi Minseok yang menjadi pasangan Jinki?

Dari pihak keluarga hanya menjawab dengan santainya dan hanya satu jawaban. Jiyoung adalah cinta pertama Jinki. Dan Sarang hanya sebagai sahabat Jinki yang sudah membantunya agar hubungan Jinki dan Jiyoung membaik. Itu saja. Menyedihkan sekali.

Tapi meskipun rencana pertunangan ini tidak dapat diterima dengan sepenuh hati oleh Jinki, Jiyoung tetap merasakan kebahagiaan meskipun hanya sedikit. Dia senang. Tentu saja. Orang yang sangat disayanginya sedari dulu kini telah menjadi tunangannya.

“Jadi Sarang benar-benar pergi?” tanya Jinki penuh ketidakpercayaan. Suaranya dia kecilkan. Tidak ingin keluarga besar yang tengah hilir mudik di dalam rumahnya itu mendengar.

“Baiklah, aku akan berusaha mencarinya. Ku jamin berita ini tidak akan menyebar. Terimakasih, Minho.” Jinki memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku tuxedo dengan tergesa sampai telepon genggamnya terjatuh.

Satu tangan membawa ponsel itu. “Apa yang terjadi, Jinki? Katakan padaku..” pinta Jiyoung yang masih mengenakan gaunnya yang  indah.

“Sarang. Dia pergi dan tidak ada satu orang pun yang tahu. Kau akan membantuku, bukan?” pinta Jinki dengan sangat sambil mengangkat kedua alisnya penuh harap pada Jiyoung.

Jiyoung tersenyum dengan manis dan mengangguk beberapa kali. “Tentu saja.”

Tapi di dalam hatinya, Jiyoung merasakan cemas yang berlebihan. Sarang, saudaranya yang lebih muda sebelas bulan itu pergi. Bahkan dirinya belum sempat berterimakasih karena kini Jinki berada di sampingnya berkat Sarang. Kemana aku harus mencari? Semoga saja Appa bisa membantuku, batin Jiyoung.

“Tapi biarkan ini menjadi rahasia keluarga kita dan keluarga Minseok ahjusshi. Arachi?”

“Ne.”

“Baiklah. Kita akan bahas ini nanti. Di rumah baru. Hanya kita berdua,” jelas Jinki dengan ekspresi wajah datar. Belum sepenuhnya merelakan bahwa kenyataannya yang menjadi tunangannya adalah Jiyoung.

Tapi dengan melihat senyuman Jiyoung yang sangat dirindukannya itu, hati Jinki bisa kembali luluh. Karena dia Jiyoung yang dirindukan. Bukan Jiyoung yang selalu menyakiti Sarang.

*

Jiyoung membereskan semua pakaiannya dengan semangat ke dalam koper super besar untuk kembali ke Amerika. Menyelesaikan beasiswanya di sana.

Senyuman di bibirnya kembali muncul ketika ingatannya berputar ke belakang. Jinki yang sedang memasangkan cincin pertunangan di jari manis tangan kanannya.

Dihentikan sejenak kegiatannya itu dan dipandangnya cincin indah yang terpasang di jari manisnya dengan takjub.

“Jiyoung..” Youngjin, ayahnya, masuk menghampirinya dan duduk di atas kursi belajar Jiyoung.

“Cepat kembali, Nak.

Kini Minseok telah pergi ke Jepang. Meninggalkan masalah yang belum tertata rapi di Korea. Dia tidak terlalu cemas dengan Sarang yang tiba-tiba menghilang. Karena dia tahu. Sarang pasti kembali ke Indonesia bersama Alamanda.

Selain itu Alamanda mempunyai saham hotel pemberian Minseok yang tersebar di Paris, Jepang dan  Arab. Jadi kemungkinan Sarang akan sering ditinggalkan oleh Alamanda untuk masalah pekerjaannya.

Tersisa satu hari lagi Keybum, Keybom dan Minho kembali ke Amerika untuk meneruskan studi dan proyek besar mereka masing-masing. Kecuali untuk GD yang tetap menetap di Korea karena tidak mungkin meninggalkan Big Bang begitu saja. Apalagi kini dirinya yang menjadi leader dan penggebrak fashion di dunia hiburan.

Hari ini Keybom berencana melamar Sera sebelum kepergiannya ke Amerika. Meskipun Sarang belum juga ditemukan keberadaannya, tapi masa depannya tidak kalah penting.

Tangan kokohnya menggenggam jemari Sera dengan erat. Bibirnya tersenyum mengisyaratkan semuanya akan baik-baik saja. Sera hanya membalas dengan anggukan lemah dan senyum simpul.

Keduanya melangkah dengan sedikit ragu memasukki rumah Sera di hari sabtu ini.

Sera membuka pintu utama rumahnya lalu mereka berdua berjalan menghampiri kedua orang tua Sera yang tengah duduk santai menikmati akhir pekan.

“Umma.. Appa..” panggil Sera menjadi sedikit canggung. Kedua orang tuanya menoleh dan tersenyum. Tapi perlahan senyum mereka tenggelam saat melihat sosok asing Keybom yang muncul di belakang Sera dengan senyuman sempurnanya.

Mata sipit Keybom terbelalak ketika melihat kedua orang tua Sera yang berbadan sangat tambun.

“Annyongheso..” sapa Keybom sambil membungkukkan badannya. Uh, bahasa Korea yang buruk.

“Ah, ne. Silakan duduk..” Ibu Sera mempersilakan Keybom untuk duduk, dengan nada dan tatapan yang dingin. Disusul Sera yang duduk di samping Keybom. Jantung Sera berdetak di atas normal. Tidak berhenti gadis itu menelan ludah dengan susah payah. Tapi berbeda dengan Keybom yang sedari tadi merasa percaya diri.

“Sera, siapa namja yang berada di sebelahmu ini?” tanya ayah Sera sambil mengelus kumis tebalnya.

“Uh, dia.. Kenalkan, Appa, Umma, dia Choi Keybom, kekasihku,” jawab Sera dengan malu-malu di akhir. Matanya berlarian, tidak berani untuk menatap mata tajam orang tuanya.

“Ne, Appa, Umma. Aku akan melamar Sera.” tambah Keybom yang tidak sepenuhnya mengetahui bagaimana tata cara beradat yang baik di Korea.

Ayah Sera mengambil napas yang sangat dalam dan panjang. Matanya membulat ke arah Keybom. Keybom yang mendapat tatapan itu hanya membalas tatapan polos.

“Berani-beraninya kau memanggil kami Appa dan Umma!” bentak ayah Sera.

Keybum terkekeh dan tersenyum manis kemudian. “Memangnya kenapa, Appa? Aku adalah calon menantu kalian. Apa kalian tidak bangga mempunyai menantu sepertiku?” tanya Keybom.

Kini bukan suara napas kasar yang terdengar dari hidung ayah dan ibu Sera. Melainkan geraman kasar layak harimau yang sudah sipa untuk menerkam mangsanya hidup-hidup.

“Ndo.. Jinjja..” geram ibu Sera kesal.

Sera menatap bergantian. Kedua orang tuanya yang terlihat sangat kesal pada Keybom, dan Keybom yang sedari tadi tetap memasang senyum tidak berdosanya.

“Umma, Appa, mianhaeyo. Keybom tidak terlalu bisa berbahasa Korea. Jadi.. maafkan dia, jebal,” pinta Sera.

“Sok bule. Apa kau tidak lihat? Wajahnya tipe asia seperti ini!” bantah ayah Sera.

Sera mengeluh panjang. Keybom menyenggol lengan Sera. “Great!! Sepertinya kedua orang tuamu menyukaiku. Mereka terlihat sangar dan itu sangat keren. I like it!” bisik Keybom lalu tertawa kecil.

Ibu Sera bangkit dari tempat duduknya lalu menatap Keybom dari dekat dengan teliti.

“Sepertinya kau bukan dari keluarga baik-baik. Penampilan acak-acakan. Rambut terlalu panjang dan berwarna, sweater lusuh, celana ketat dan berlubang. Aaah! Sepatu yang kotor!” Ibu Sera menatap mata Keybom yang tengah mengeluarkan puppy eyes. “Ya! Lepaskan softlensmu! Kau ini namja! Memalukan sekali seorang namja memakai softlens. Meskipun matamu berwarna abu seperti itu, semua orang tahu bahwa kau bukan orang asing,” komentar ibu Sera panjang lebar.

Dari sekian rentetan bahasa Korea yang dilontarkan ibu Sera, Keybom sudah menyerap beberapa kata yang dia tahu.

“Umma, mataku asli berwarna abu seperti ini,” bela Keybom untuk dirinya sendiri. Sera tidak bisa membela Keybom di keadaan seperti ini.

Ibu Sera mendengus kasar karena lagi-lagi Keybom memanggilnya Umma. “Kau pembohong!”

Lalu ibu Sera membuka mata Keybom lebar-lebar dan meneliti bola mata Keybom. Tidak. Tidak ada lapisan tipis yang menempel di sana. Kini mata ibu Sera tidak berani menatap Keybom dan kembali duduk di tempat semula.

“Bagaimana, Umma? Aku tidak akan berbohong pada mertuaku,” ucapnya sedikit dengan nada gombal dan tersenyum.

“Bagaimana bisa matamu berwarna abu?” tanya ayah Sera. Rasa ingin tahunya mulai kambuh.

“Ibuku asal Amerika, Appa. Bule tokcer!” jawab Keybom dengan gaya Cinta Laura di akhir. Tetap dengan air muka tanpa dosa. Dan senyumnya. Tidak pernah tenggelam.

“Dan ayahmu?” tanya ayah Sera lagi.

“Ayahku lahir di Korea tapi besar di Jepang. Bagaimana? Anda kebingungan bagaimana Mom and Dad bertemu? Aku juga..” ucap Keybom sambil meringis. Sera menyenggol lengan Keybom berlebihan.

“Apa pekerjaan ayahmu?”

“Wirausaha. Begitupun dengan Mom. Selain pasangan yang serasi, mereka partner kerja yang baik. Dan ku lihat Umma dan Appa juga seperti itu. Kalian terlihat cocok dan fresh. Aku tidak berbohong..” ujar Keybom mencoba mencuri hati kedua orang tua Sera.

Dan memang benar! Kini kedua hati orang tua Sera sedikit terketuk. Ingat. Hanya sedikit..

“Dimana kau bersekolah?”

“Aku seorang mahasiswa, Appa. Apakah penampilanku seperti anak senior high school? Haha, you must be jokin’!” jawab Keybom dengan tawa. Tapi melihat tatapan ayah Sera yang serius, Keybom berdeham dan kembali duduk dengan rapi. “Software engineering, Oxford University. Dan itu pun sudah lulus beberapa bulan yang lalu. Jadi aku bukan lagi mahasiswa. Ya, aku menamatkan kuliahku hanya dengan dua tahun saja. Hah, aku tahu otakku terlalu jenius.”

“Memangnya apa pekerjaan ayahmu?” tanya ayah Sera sambil memajukan tubuhnya, bersiap mendengar jawaban Keybom.

“Toyoto. Pemilik perusahaan Toyoto, Choi Minseok.”

“APPHAAAHT?!!” teriak ayah dan ibu Sera. Mereka sesak napas dan hampir pingsan!

Kedua hati mereka bukan terketuk lagi. Tapi TERGEBRAK, MAMEEN!!

“Umma, Appa! Wake up, come on! Kalian pingsan hanya karena terpesona padaku? Ah, ayolaah~ jangan berlebihan seperti ini.” Keybom membantu Sera untuk menyadarkan kedua orang tuanya dari keterkejutan yang maha dahsyat(?).

Bagaimana bisa, mereka, orang yang tidak termasuk penting, didatangi salah satu keluarga dari Choi Minseok. Apalagi putrinya telah dilamar. Rezeki memang tidak kemana ==’

*

->Play Y-Super Juinior NOW! <

Berbeda dengan Keybum. Namja itu membawa Soona ke suatu tempat yang sangat romantis di malam yang indah ini.

Soona berpakaian sangat simple namun terlihat elegan dan cantik. Rambut lurusnya dia gerai dan dihiasi bando putih.

Keybum menatap mata Soona lekat-lekat. Soona yang mendapat tatapan itu hanya salah tingkah dan menelan ludahnya beberapa kali.

Keybum tersenyum lalu meneguk air putih miliknya. “Maaf, aku gugup..” ujarnya sambil membenarkan kerah kemeja.

Soona hanya menunduk dan merasakan degupan jantungnya yang kuat.

Tiba-tiba Keybum menarik jemari kiri Soona. Yeoja itu hanya membuka mulutnya karena terkejut. Apa yang akan Keybum lakukan?

Tangan kanan Keybum membuka kotak kecil berwarna putih. Mata Soona terbelalak melihat satu gelang yang sangat cantik dengan banyak mata berwarna biru.

Keybum tersenyum lalu memasangkan gelang itu di pergelangan tangan yeoja yang dia sayang. Dengan perlahan dikecupnya punggung tangan Soona beberapa kali dengan lembut lalu digenggamnya.

“Kau akan menungguku, bukan?” tanya Keybum. Soona mengangguk seiring air mata bahagianya mengalir membasahi pipi. “Aku akan sangat merindukanmu, Soona..” ucap Keybum lalu bangkit dan memeluk Soona dengan erat.

“Keybum-ah, gomawo..” Soona mencengkram kemeja Keybum kuat-kuat.

“Saranghae..”

“Na.. nado..”

*

Minho mengelus rambut Heera yang beterbangan dengan sayang lalu dihapusnya air mata yang membasahi pipi gadis itu.

“Aku akan kembali, Heera..” ucap Minho sambil merangkulkan tangan kirinya ke leher Heera dari depan. “Sudah, jangan menangis.”

“Kau tega sekali meninggalkanku, Minho!” Heera memukul dada bidang Minho dengan tangan terkepal.

Minho tersenyum lalu mengusap wajah Heera sekilas. “Jika proyek besarku telah berhasil dan sukses, aku akan kembali dan melamarmu. Bagaimana?”

“Jangan membohongiku..”

“Apa aku pernah berbohong padamu? Kapan?”

Heera terdiam. Matanya menerawang ke arah pantai yang sangat sepi ini. Tapi jemari Minho memutar wajahnya sampai mereka berhadapan.

“Saranghaeyo, Heera-ya..”

Dan dengan perlahan Minho memeluk Heera dengan sangat erat. Matanya terpejam ketika tangisan Heera semakin terdengar jelas.

“Berjanjilah kau akan kembali secepatnya, Minho..”

“Aku akan kembali..”

*

>Play SHINee-In My Room NOW!<

Pandangannya kosong. Penampilan sudah tidak dia pikirkan. Wajah pucat dengan rambut blonde yang berantakan. Tangannya terkepal.

“Arrghh!!” teriaknya sambil memukul pintu jendela dengan keras. Angin yang masuk dari arah luar mengacak rambutnya.

Air mata kembali mengalir. Taemin menutup matanya sambil melangkah gontai ke arah sofa. Diraihnya botol minuman keras dan diteguknya beberapa kali lalu disimpan dengan sedikit kasar di atas meja.

“Haah.. Sarang..” gumamnya lirih. Taemin kembali menangis sambil menjambak rambutnya. “ARGH!!” Napasnya naik turun. Matanya terhenti di satu benda yang tergantung di meja tualetnya. Kalung berliontin fairy pemberian Sarang.

Taemin kembali mendesah panjang dan  berjalan menuju balkon kamarnya yang langsung menghadap taman luas belakang rumah. Membiarkan air matanya mengering oleh angin yang menerpa wajahnya yang sembab.

“Tuan, maaf mengganggu. Anda belum menyantap sarapan pagi dan kini sudah pukul dua siang. Sebaiknya Anda makan terlebih dahulu. Kami tidak ingin Anda jatuh sakit, Tuan.” Salah satu servant datang dengan dua pelayan yang berada di belakangnya, memasuki kamar Taemin.

“Sudah ku katakan, aku sedang tidak berselera makan! Keluar kalian semua! Jangan menggangguku!” bentak Taemin dengan tatapan marah pada servant itu.

Taemin menutup wajahnya setelah mereka keluar lalu kembali menatap kosong taman belakang rumahnya yang terlihat sejuk.

“Sarang.. kembalilah. Aku.. Aku mencintaimu..”

Dan jantungnnya berdetak keras.

*

(Sarang POV)

Mengapa jantungku tiba-tiba berdetak cepat seperti ini? Dan mengapa bayangan Taemin yang selalu muncul? Tuhan, mustahil jika aku.. jika aku.. ah, sudahlah.

Tapi aku tidak bisa berbohong. Benar, aku merindukannya. Aku merindukan Taemin. Terlebih lagi ketika aku sudah membaringkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku selalu teringat. Biasanya dia masuk ke dalam kamarku dan mengganggu sampai aku marah besar padanya.

Kini.. aku hanya sendiri. Tidak ada yang menggangguku. Tidak ada yang menggodaku. Dan tidak ada yang memberiku perhatian lebih. Kemarin Bunda sudah pergi ke Paris. Ya, aku seorang diri di sini. Tempat dimana Bunda dan Dad bertemu. Tentu saja dengan Youngjin ahjusshi. Huh!

“Bi! Bibi!” panggilku pada seorang pekerja yang sudah lama mengurus rumah ini ketika Bunda masih duduk di bangku elementary.

“Ya, Non?”

“Tolong lanjutkan. Tanganku sudah pegal,” pintaku sambil memberikan rajutan yang belum selesai.

“Syal? Bukannya udah bikin yang warna putih, Non? Sekarang Non buat lagi yang warna putih?” tanya Bi Asih. Aku hanya menundukkan kepala.

‘Ini untuk Taemin..’

“Ah! Hanya untuk cadangan,” jelasku tetap dengan senyum lalu menghirup udara segar di taman rumah ini. Indonesia terlihat lebih baik.

“Baik, Non. Kalo Non perlu apa-apa, panggil bibi aja..”

“Ya, Bi..”

Seperti biasa. Jika hari sudah sore dan waktu menunjukkan pukul empat, aku selalu pergi ke pantai pribadi milik keluarga Bunda. Tidak jauh dari rumah.

Aku pejamkan mataku dan membiarkan angin pantai menerbangkan selendang dan rambutku.

Deru ombak terdengar jelas. Tapi detakan jantungku mampu mengalahkan suara bising itu. Aku bisa merasakan dan mendengarkanya. Apa yang terjadi denganku? Tuhan, apa kau tahu? Ini sakit sekali. Tolong hentikan detakan cepat seperi ini!

Mataku memanas dan air mataku kembali mengalir. Selalu saja seperti ini. Tidak di pantai, di dalam kamar, bahkan ketika aku berjalan seorang diri untuk mencari udara segar. Aku selalu manangis.

Sepertinya aku tidak bisa menyembunyikan ini. Ya, aku mencintainya. Tapi bagaimana bisa?

Aku berlari kencang sampai tinggi air laut menutupi mata kakiku.

“Taemiiiiinn!! Aku akan menunggumuu!! Aku tahu kau akan datang dan menemukankuuuu!!” teriakku diiringi isakan.

Datanglah. Malam ini.. di dalam mimpiku. Aku merindukanmu..

**

(Author POV)

“Baiklah kalau kau tidak ingin memelukku. Kami pergi..”

“Tunggu!” seru Taemin yang kini berubah pikiran dan keluar dari dalam buntalan selimutnya. “Minho Hyung!”

Taemin berlari memeluk Minho dengan erat. Sangat erat. Namja itu menangis kembali. Kini tidak malu dengan pikirannya. Dia tahu, Minho akan mengerti.

“Hyung..” ucap Taemin lalu melepas pelukannya. “Aku mencintainya. Aku mencintai Sarang, Hyung!” seru Taemin sambil meringis karena menangis. Minho hanya terbelalak dan tidak percaya dengan apa yang diucapkan Taemin. “Ya, aku tahu ini memang terdengar tidak normal. Tapi aku tidak bisa menyimpannya sendiri. Hyung, bagaimana menurutmu? Apa yang harus aku lakukan? Apa mencintai Sarang lebih dari sekedar mencintai noona itu dilarang?”

Minho terdiam. Jika saja Taemin mengetahui bahwa Sarang bukanlah kakak kandungnya.

“Jawab aku, Hyung!” pinta Taemin dengan penuh penekanan.

Minho menutup matanya beberapa detik, lalu menghembuskan napasnya. “Taemin, mungkin kau keliru. Kau seperti ini karena Sarang tidak berada di sampingmu dan kau sangat menyayanginya. Itu rasa sayang kepada noona. Bukan mencintai seperti kau mencintai seorang yeoja.”

Taemin terdiam. Mungkin apa yang dikatakan Minho hyung benar, batinnya.

“Oh, my lilbro!” kata Minho sambil memeluk Taemin kembali. Tapi kini Taemin tidak menangis. Hanya isakan saja yang tersisa. “Ayo kita turun! Kau juga harus memeluk Keybum dan Keybom. Mereka akan merindukanmu.”

Akhirnya mereka berdua menuruni tangga. Keybum dan Keybom menyambut Taemin yang berjalan cepat dan mereka saling berpelukan.

“Kami akan merindukanmu, Taemin-ah,” ucap Keybum sambil mengacak rambut Taemin dengan sayang.

“Tersenyumlah. Penampilanmu sangat kacau dari seminggu ke belakang. Percaya padaku, Sarang akan kembali.” Kini Keybom menghibur Taemin.

Akhirnya Taemin tersenyum meskipun terlihat sangat terpaksa. “Jangan khawatirkan aku, Hyung. Aku akan baik-baik saja.”

“Baiklah, kami pergi. Secepatnya kami akan kembali. Kau tahu kekasih kami semua berada di Korea,” ujar Minho lalu memasuki mobil Alphard untuk mengantarnya ke Bandara Incheon.

“Take care, Hyung!” seru Taemin.

Mereka bertiga berteriak meneriakan kata selamat tinggal pada Taemin dari dalam mobil. Taemin hanya tersenyum melihat para hyungnya yang begitu menyayanginya.

Matanya mengikuti mobil yang ditumpangi Minho, Keybum dan Keybom sampai menghilang di belokan gerbang besar rumahnya.

Taemin menunduk dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celana. Tiba-tiba tertawa kecil keluar tanpa disadari.

“Lihat, Sarang! Aku sendiri. Apa memang ini yang kau mau? Melihatku menderita dan mengemis agar kau kembali padaku?”

**

Taemin membawa mobilnya dengan tidak waras di pagi buta ini. Ya, sepagi ini dia sudah berangkat ke sekolah. Hanya sendiri. Tanpa seorang yeoja yang selalu duduk di sampingnya.

Napasnya selalu berat karena menahan tangis. Kini dirinya merasa tidak hidup. Karena dia baru menyadari bagaimana rasanya kehilangan Sarang. Senyuman dan tawa sudah tidak menghiasi wajahnya.

Semalaman namja berambut blonde itu tidak terlelap. Hanya terdiam dan menatap foto Sarang berjamjam sambil sesekali meneguk wine yang dia ambil dari bar bawah tanah.

Selain itu Taemin sudah memikirkan kata-kata yang diucapkan Minho sebelum hyungnya itu kembali ke Amerika. Tidak. Perasaannya yang lebih tahu. Bukan Minho. Dirinya benar-benar mencintai Sarang. Semenjak keduanya beranjak remaja.

*

(Taemin POV)

Tidak henti-hentinya aku menulis nama Sarang di atas kertas putih bersih dengan spidol hitamku. Hah, aku menyukai suasana sepi seperti ini. Taman sekolah yang belum terpolusi oleh jeritan para murid.

Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Namanya semakin memenuhi kertas kosong ini. Semakin lama semakin cepat dan penuh emosi aku menulis namanya. Sampai akhirnya kertas itu terobek.

Napasku naik turun. Aku tahu, kini penampilanku tidak jauh dengan orang tidak waras yang berada di penjara rumah sakit jiwa.

“Taemin!”

Aku tidak menoleh ke asal suara yang memanggilku. Sampai akhirnya sosok ini muncul di hadapanku. Kwangmin.

“Ingin ikut bermain basket, eh? C’mon!” ajaknya. Aku hanya diam. “Ya, Taemin-ah! WOAA! Wajahmu.. kenapa?”

Haiish, berisik sekali anak ini. Aku bangkit dari bangku taman ini dan berjalan malas ke arah kelas.

See! Tidak ada yang menyapaku. Mungkin mereka ragu dengan sosokku yang sepertinya lebih cocok menjadi hantu gentayangan taman lawang.

“Taemin, morn…” sapaan Dongho terhenti ketika aku meliriknya tajam. “Ta.. Taemin? Gwenchana?”

Aku menatapnya tanpa ekspresi. Dan benar saja. Dia tidak berani menghampiriku. Ini lebih baik. Karena aku tengah ingin memfokuskan pikiranku pada Sarang.

Hah! Aku mengacak rambutku frustasi. Bagaimana ini.. Kegiatan sekolah sudah berjalan dan aku yakin tidak akan tersedia waktu banyak untuk berlibur dan ku gunakan untuk mencari Sarang.

Selain itu aku pasti akan terpilih untuk mewakili sekolah dalam berbagai macam perlombaan. Ottokkhae?

Aku paksakan otakku untuk berpikir meskipun asupan gizi sangat minumum saat ini. Hah, aku sedang malas mengunyah.

Taemin, berpikir.. pasti ada satu jalan pintas yang tidak memakan waktu lama dan..

Got it! Aku akan mengikuti kelas aksel. Tidak peduli Dad melarangku seperti dulu. Yang penting aku bisa lulus lebih cepat dan mencari dimana Sarang berada.

Sampai sekarang aku tidak mengerti mengapa Dad tidak terlalu mempedulikan hilangnya Sarang. Begitu juga dengan para hyungku yang selalu mengatakan bahwa Sarang baik-baik saja dan dia akan kembali. Tapi mana! Sudah seminggu lebih dia menghilang.

Aku tundukkan kepalaku dan tertidur sampai pelajaran hari ini usai. Tidak peduli aku memperhatikan atau tidak. Pelajaran sekolah bukan hal yang sulit untukku.

**

(Sarang POV)

Memang rumit sekolah online seperti ini. Aku harus duduk seharian di depan layar komputer dan membaca juga mendengar mata pelajaran yang umumnya menggunakan bahasa asing.

Tapi ini tidak buruk. Aku akan mendapat sertifikat sekolah Bisnis Barbara dari Paris ini dalam waktu dekat. Dengan begini aku dapat memfokuskan pada pekerjaanku yang baru. Memegang saham hotel yang Bunda berikan. Hanya di Indonesia. Dan ini benar-benar keren. Selain itu aku bisa melupakan sejenak bayangannya yang selalu mengganggu. Taemin.

Jantungku kembali berdetak cepat. Hah, ini membuatku sulit mengatur napas. Ku tekan tombol pause dan untuk beberapa saat menenangkan jantungku.

Ku kulum bibirku lalu ku lanjutkan sekolah online ini. Pukul sepuluh aku harus bekerja.

*

(Author POV)

“Selamat datang di penginapan Alamanda. Ada yang bisa kami bantu?”

Sarang mengenakan kemeja denim longgar berwarna putih tulang dilapisi oversize cardy biru tua dan itu terlihat sangat cocok dengan rambutnya yang kecoklatan.

“Ya, kami mau menginap di sini. Bisa liat tipenya ada apa aja, Mbak?” tanya seorang bapak dengan keluarganya yang menunggu di sofa tidak jauh dari tempat Sarang berdiri di balik meja informasi.

“Baik, jadi yang pertama kami mempunyai tipe regular…..” Sarang menjelaskan dengan begitu rinci dan tetap dengan sopan santunnya juga senyum yang tidak boleh tenggelam sedetik pun.

“Kami mengambil VIP untuk satu minggu.”

“VIP untuk satu minggu. Total sepuluh juta lima ratus ribu, Pak.”

Bapak itu mengeluarkan satu kartu kredit dari dompetnya dan diberikan pada Sarang.

“Terimakasih, Bapak. Semoga Anda dan keluarga bisa menikmati layanan kami di sini. Selamat beristirahat dan jangan sungkan untuk hubungi kami jika Anda membutuhkan sesuatu.”

“Aku bangga pada anak muda sepertimu. Cerdas dan mempunyai potensi besar. Dimana orang tuamu, Nak?”

“Ah, Bunda sedang pergi ke Paris untuk mengurus hotel-hotel baru Alamanda di sana,” jawab Sarang diakhiri tawa singkat.

“Hotel besar yang sedang dibangun di daerah timur juga milik penginapan ini? Alamanda. Benar, bukan?”

“Ya, Pak. Benar.”

“Ah, hebat. Bagaimana dengan ayahmu?”

Sarang terdiam. Apa yang harus dia jawab?

“Ayahku bekerja di Korea.”

“Waah, benar-benar keluarga yang sukses. Jangan pernah menyerah, Nak. Mari..”

Sarang membungkukkan badannya sampai keluarga itu berlalu menuju kamar diantar salah satu guide.

Matanya kembali kosong. Hanya pikirannya yang tengah berlarian di waktu yang lalu ketika semuanya tidak seperti ini.

“Huuh, jangan menangis, Saraaang. Jangan menangis…”

TINUUUT

Dan pariwisatawan tidak pernah berhenti datang untuk menginap di sana.

Beberapa jam kemudian setelah waktu istirahat berakhir, Sarang kembali berdiri di balik meja informasi.

Bapak yang datang dengan keluarganya tadi duduk di sofa tidak jauh darinya.

“Kenapa, Pah? Kayak orang bingung gitu.”

“Ini Mah, Direktur Umum belum juga dateng ke Indo. Katanya sih lagi ada masalah keluarga.”

“Masalah?”

“Iya. Anak bungsunya. Katanya sih gara-gara anak perempuannya yang pergi dari Korea.”

“Kasian anak bungsunya dong, ga ada yang nemenin. Empat anak cowoknya di luar negri, kan, kalo gak salah? Kenapa bisa pergi gitu ya, Pah?”

“Iya. Gatau Papah juga, Mah. Doain aja mudah-mudahan anak perempuannya balik lagi. Jadi Mr. Minseok bisa tenang sama pekerjaannya dan grafik penghasilan Toyoto di Indonesia bisa naik pesat.”

“Iya deh, Pah. Yuk ah, ke pantai, anak-anak!”

Sarang membuang wajahnya dan air mata pun tidak berhasil dibendung.

**

Satu minggu sudah berlalu. Tidak ada perubahan di antara keduanya.

Taemin. Setiap hari yang dia lakukan hanya diam, tidak banyak berbicara, menulis nama Sarang sebanyak-banyaknya, menangis, hanya itu. Pergi ke sekolah di pagi hari sampai pukul tujuh malam, makan seperlunya lalu masuk ke kamar Sarang hanya mondar-mandir tidak jelas, mengerjakan tugas dan tidur. Besoknya kegiatan itu berulang.

Ya, kini Taemin telah masuk kelas aksel yang beberapa bulan lagi akan berakhir dan Taemin bisa mengejar keterlambatan itu. Sejenius apa otaknya?

Sebelumnya semua guru telah memperingatkan Taemin untuk berpikir kembali mengambil keputusan untuk pindah ke kelas aksel. Mereka takut jika Minseok mengetahuinya.

Mengapa Minseok tidak ingin Taemin mengikuti kelas aksel? Karena Taemin lah yang memungkinkan memegang perusahaan Toyoto dan kepribadiannya pun harus terdidik secara perlahan.

Aksel adalah percepatan. Otomatis semua yang berada di lingkungan Taemin berubah dan tidak sesuai dengan usianya.

Ponselnya berbunyi. Taemin hanya melirik benda itu dengan tajam lalu meraihnya. Ballpoint yang tadinya tersangkut di jemarinya dia simpan kesal.

Video Call. Dad.

“Ya, Dad?” tanya Taemin sambil menyimpan ponsel itu di hadapannya dan lanjut mengerjakan tugas.

“Taemin, kau masuk kelas aksel?”

“Ne. Wae?” Taemin tetap menunduk, mengerjakan tugasnya.

“Taemin! Jangan menunduk seperti itu! Kau sedang berbicara denganku, ayahmu! Sopanlah sedikit..”

Taemin kembali menyimpan ballpointnya lemas dan menatap sosok ayahnya itu di layar ponsel dengan malas.

“Omo.. lihat wajahmu, Nak..”

“Kenapa? Apa yang salah dengan wajahku?” tanya Taemin sedikit bernada melawan di sana.

“Taemin, anakku, aku tahu kau sedih karena Sarang tidak..”

“Ya, kau tahu itu..” potong Taemin. “Tapi mengapa Dad tidak membantuku untuk menemukan Sarang sampai sekarang? Dad tidak menyayanginya? Dad sudah tidak peduli pada Sarang? Mengapa? Apa alasanmu? Katakan padaku!” Taemin sedikit berteriak sambil berusaha sekuatnya untuk tidak menangis. Tapi dia tidak berhasil. Kini air matanya sukses keluar dengan cepat. Hidung dan matanya memerah.

“Aku sibuk,” jawab  Minseok singkat. Selebihnya dia tidak tega melihat Taemin menangis seperti itu.

“Apa?! Hah!” Taemin mendengus kasar. “Baiklah. Bersenang-senanglah dengan pekerjaanmu! Aku akan mencarinya setelah aku lulus. Dan aku tidak akan pulang sebelum berhasil membawa Sarang kembali..”

“Baik.”

Taemin tertawa tidak kuasa. “Dan jangan pernah lagi kau mengatur hidupku. Aku memilih aksel karena ini pilihanku. Ingat itu, Dad!”

Minseok hanya tersenyum melihat anak bungsunya. “Ya. Aku tidak akan melarangmu kali ini. Itu hidupmu.

“Untuk yang terakhir, aku sarankan. Jangan terlalu memikirkan Sarang. Bukankah kau akan menghadapi ujian nasional dan tes masuk universitas? Berpikirlah sampai sana. Setelah kau mendapatkan jalanmu, cari Sarang kemana pun kau mau dan jangan kembali sebelum kau menemukannya. Bagaimana?” tanya Minseok sambil tersenyum penuh kasih sayang pada Taemin.

“Dad..” gumam Taemin. Air matanya keluar tambah deras membasahi buku tugasnya. “Thanks.. Aku tidak akan mengecewakanmu.”

“Ya, anakku.. Dad bangga padamu. Lakukan yang terbaik.”

Taemin menghapus air matanya dan tersenyum.

*

“Apa? Taemin mencintai Sarang?” Minseok terkejut dengan apa yang dikatakan Minho lewat ponsel itu.

“Ya. Dia mengatakannya dengan  sungguh-sungguh, Dad. Aku juga tidak percaya. Bagaimana ini?”

“Usahakan saja jangan sampai Taemin tahu bahwa Sarang bukan anak kandungku. Kau tahu Mom Alamanda tidak ingin status Sarang terbongkar. Jika Taemin dan Sarang menjadi sepasang kekasih, otomatis semua akan mengetahui siapa Sarang sebenarnya. Serahkan saja semua ini pada Dad. Jangan mengatakan apapun pada Taemin. Mengerti?”

“Baiklah, Dad..”

Saat itu juga Minseok menelepon Taemin via video call.

**

“Pagi, Taemin!”

“Hey! Pagi! Doakan aku, teman! Doaku juga menyertaimu!”

“Taemin!”

“Yo! Bagaimana kabarmu?”

“Taemin-ah, sukses!”

“Ne, kamsahamnida! Kau juga. Hwaiting!”

Taemin melangkah masuk ke dalam ruang tes ujian nasional ini dengan semangat setelah beberapa bulan ke belakang keadaan dirinya membaik dengan cepat. Ya, setelah Minseok memberikan semangatnya sebagai seorang ayah.

“Sarang, selangkah lagi aku datang..” ucap Taemin dengan senyuman. Ya, dia sangat merindukan gadis itu. Sangat.

TBC ;]

13 thoughts on “SHINee FF: HELLO SMART PLAYBOY [ CHAP 12 ]

  1. apa? komenku mana? hilang? astaga.. padahal nulis banyak banget TTT TTT
    udahlah yang penting intinya aku bahagia ini ff di post, dan juga bahagia taemin begitu, tapi aku sedih dad begitu
    okey semoga komenku ini bisa
    thor semangat buat next chap.. aku tetap menunggu… ;))

  2. Ah kece! Taemin temukan sarang secepatnya yo! Aku mendukungmu kaka! Duh keybom menghilang T.T selebihnya keren thor, fightiiiing. Selalu kutunggu lanjutan cerita ini :3<3

  3. akhirnya datang juga lanjutannya
    ff ini sukses bikin geregetan (?)
    Taemin oppa, kesian sekali dirimu ㅜ,ㅜ
    thor, next partnya jangan lama-lama yah, aku udah penasaran sekali..

  4. duh eonni.. Kenapa cerita ini begitu menggugah(?) sekali…. Chap ini lebih banyak terharunya huhuhu u,u disini taemin kelihatan banget dewasanya untuk mencari sarang <3 lanjutannya di tunggu eonni :3

  5. huaaaaa…
    kasihan taemin… *tepuk-tepuk bahu taemin..
    tapi seriusan saya juga kagum, demi mencari sarang dia rela melakukan apapun, mempercepat sekolahnya, astagaa kenapa taemin terlihat sangat unyu…kyaa..
    dan errr, kenapa tuan choi seperti itu, huaaa, engga seneng, engga seneng.. :(
    huft…ditunggu kelajutannya saeng… hwaiting

  6. akhirnya ff mu muncul thorrrr….kau tega membuat lumut dimana-mana ,saking lamanya nunggu ini ff,lanjutt terus HWAITING!!!!!!

  7. Ya ampuuuun
    akhirnya ff ini di pub. juga^^
    aku sudah lama sekali menunggunya!!^^
    thor, next chap.nya jangan lama-lama yaaa

  8. Ngakak dg cara melamarnya keybom xD untungnya dia putra toyoto coba kalo bkn..psti lgsung dtendang xD
    Keybum so sweet, bner2 180drjat beda dr keybom..
    Hahh kasian taemin :( taemin fighting!!! temaukan sarang secepatnya dan bawa dia kembali..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s