(SHINee) HELLO SMART PLAYBOY [ CHAP 10 ]

Untitled-2 copy

HELLO SMART PLAYBOY

Cast:

  • SHINee
  • Choi Sarang (YOU)

Minor Cast:

  • G-Dragon (Big Bang)

Keterangan:

  • Lee Taemin at Lucifer Japan era
  • Choi Minho at Replay Japan era
  • Kim Keybum at Why So Serious? era
  • Kim Keybom at RDD wears black tuxedo era
  • Lee Jinki at Shawol 1st Japan concert
  • Kim Jonghyun at Sherlock Japan era
  • G-Dragon at Heartbreaker era

Disclaim: Tuhan yang menciptakan mereka, lima bintang besar yang bersinar, SHNee. Pemeran lain hanyalah fiksi yang tidak diketahui keberadaan aslinya. Tapi itu terserah dirimu.

Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Selamat membaca!

…………………………………………………………

Last chapter…

“Bambino..”

“SARANG! JINKI HYUNG KECELAKAAN DI JALAN GWANGJU! CEPAT!! AKU SEDANG DALAM PERJALANAN. KABARNYA SANGAT PARAH SEKALI!!”

KLIK!!

“TAEMIN!! TAEMIN, HALLO!!”

“Jinki.. Jinki kecelakaan.. sangat parah?”

…………………………………………….

CHAPTER 10

 

Tanpa menunggu apapun dengan cepat Sarang berlari menuju garasi dan membawa kunci mobilnya.

Jantungnya berdetak dengan cepat. Bayangannya kacau. Yang dia pikirkan hanya Jinki. Jinki mati! Sarang tidak ingin itu terjadi. Dia khawatir tidak akan ada orang yang menolongnya di tempat kejadian.

Tangannya menggenggam kemudi dengan bergetar. Digigitnya dengan kuat bibir tipis itu. Matanya terus saja mengedip dengan cepat, sampai akhirnya terlihat berair dan air mata pun terjatuh.

“Jinki..”

*

Kerumunan orang terlihat sangat ramai. Itu. Itu motor yang dikendarai Jinki! seru Sarang dalam hati. Dirinya tidak kuat untuk menuruni mobil. Kakinya terlalu lemah untuk berjalan dalam keadaan seperti ini.

Matanya terbelalak ketika melihat seseorang membawa kertas koran cukup banyak. Kertas koran.. untuk apa? Untuk menutupi tubuh Jinki? Tubuh Jinki yang sudah tidak bernyawa? Matanya kembali mengeluarkan air mata. Kini Sarang mencoba untuk berani. Perlahan tangan kirinya membuka pintu.

Tiba-tiba beberapa orang mengangkat sesuatu dan kertas koran tadi yang menjadi wadahnya. Darah menetes dari salah satu orang yang mengangkatnya itu. Apa tubuh Jinki terpotong-potong? Apa tadi itu kepalanya? Sarang menggeleng keras dengan pikirannya yang mulai kacau.

“Jinki!!”

Sarang menuruni mobilnya dengan tidak sabar dan menubruk setiap orang yang menghalanginya.

Napasnya terasa sangat berat ketika matanya tengah melihat Jinki yang tengah terkulai lemas di pangkuan Jiyoung. Ya, yeoja itu menangis dengan histerisnya. Kedua tangannya penuh dengan darah yang terus saja keluar dari kepala Jinki.

Sarang memundurkan langkahnya dengan gontai dan akhirnya keluar dari kerumunan. Kakinya lemas kembali dan akhirnya terduduk di atas aspal, depan mobilnya sendiri.

“Jinki.. Kau baik-baik saja, bukan?”

Air matanya mengalir. Tambah deras saja ketika mobil ambulance datang dan membawa Jinki ke rumah sakit.

“Sarang..” Sarang menengadahkan kepalanya.

“Taemin!!”

Taemin memeluk nunanya dengan posisi berlutut. Kedua alisnya hanya bisa berkerut khawatir.

“Jinki hyung akan baik-baik saja..” ujar Taemin mencoba menenangkan Sarang sambil mengelus punggung yeoja itu.

“Aku takut! Kepalanya mengeluarkan darah sangat banyak. Aku melihatnya,” balas Sarang dengan suara yang tersendat-sendat karena menangis.

“Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang juga..”

“Tidak. Aku ingin pulang saja. Ada Jiyoung disana,” ucap Sarang sambil melepaskan pelukan dan menatap Taemin sayu. “Kau yang paling mengerti diriku, Taemin..”

“Tentu saja.”

*

“Jinki!!! Jinki anakku!!!” teriak mama Jinki yang baru saja datang.

Jiyoung yang tengah duduk di salah satu kursi depan ruang UGD sambil menangis, berdiri seketika.

“Mama..”

“Kau! Mengapa kau ada disini?!” tanya mama Jinki dengan suara cukup keras saking tidak terimanya Jiyoung berada di sini, bukan Sarang.

“Aku yang mengantar Jinki ke sini, Mam..” jawab Jiyoung tercekat karena air matanya terus menerus keluar.

“Pergi, kau! Jangan muncul di hadapanku apalagi di depan Jinki! Dia tidak mencintaimu, Jiyoung! Dia hanya menginginkan Sarang yang menjadi pendamping hidupnya!” teriak mama Jinki.

“Tidak, Mam.. Aku tidak akan pergi sebelum mengetahui kalau Jinki baik-baik saja.”

“Keras kepala! Edward! Jauhkan yeoja ini dari hadapanku!”

Salah satu bodyguard bernama Edward itu langsung saja menyeret Jiyoung secara paksa ke luar dari pintu masuk utama UGD.

“Jangaan!! Mama!! Aku mencintai Jinki, Maaa!! Lepaaas!!” teriak Jiyoung yang semakin menjauh sambil meronta mencoba bebas. Tapi usaha itu sia-sia saja.

“Jinki…” gumam mama Jinki sambil menangis terisak. “Steve, jemput Sarang. Saya ingin dia di sini.”

“Bagaimana jika dia tidak mau, Madam?”

“Paksa dia.. Saya tidak ingin tahu.”

Beberapa belas menit berlalu. Seseorang berbadan sedikit tambun dan berjas putih keluar dari dalam ruangan UGD tempat Jinki ditangani.

“Dokter!” seru Mama Jinki.

“Ah, Nyonya..” sahut dokter itu sambil membungkukkan badan ke arah mama Jinki.

“Bagaimana keadaan anakku?” tanyanya khawatir.

“Hanya luka di bagian atas kepala dengan lima jahitan. Kami juga sudah melakukan ronsen pada kepalanya. Ada sedikit tengkorak yang retak dan tidak terlalu serius. Dengan pengobatan yang teratur dia akan segera sembuh.”

Mama Jinki bisa bernapas dengan lega. Tidak lama Jinki keluar dari ruangan itu dalam keadaan belum sadarkan diri di atas kasur roda.

“Jinki!”

*

“Aku tidak mau, Steve!” sergah Sarang. Taemin yang sedari tadi tidak lepas dari Sarang hanya mengelus poninya sendiri kebingungan dengan sikap Sarang.

“Tapi Madam memaksa Nona  harus ikut denganku menjenguk tuan muda.”

“Pergiiii!!” teriak Sarang yang mulai menangis kembali.

Taemin memberikan isyarat pada Steve untuk pergi dan sedikit mengangguk kecil, memberi tahu maksud dia yang akan menangani.

“Sarang, aku tahu kau ingin menemui Jinki hyung, bukan? Kau hanya takut bertemu dengan Jiyoung. Bagaimana bisa? Seorang Sarang tidak pernah terlihat lemah di mataku. Kau itu yeoja yang tegar, Sarang. Jika kau ingin menemui Jinki hyung dan melihat keadaannya, pergi saja! Singkirkan semua ketakutanmu..” jelas Taemin panjang lebar sambil mengusap kepala Sarang yang menyandar di dadanya.

“Aku tidak setegar yang kau tahu, Taemin.. aku..”

“Jiyoung. Pasti dia. Aku tahu kau masih trauma dengan malam itu. Dengan yang Jiyoung lakukan padamu. Tapi kau bisa melawannya. Jika kau terus mendorongnya sampai dia tidak melakukan itu padamu, kau akan bebas. Jiyoung akan menyerah dengan sendirinya.”

Sarang terdiam. Berfikir. Matanya menatap Taemin dengan ragu. “Baiklah, aku akan pergi. Asalkan kau ikut denganku.”

“Ayo, jangan memakan waktu lama lagi..”

*

Taemin mengepal tangan Sarang dengan erat di lorong rumah sakit internasional ini. Dua bodyguard berjalan mengiringi mereka di belakang. Sementara di depan ada Steve sebagai penunjuk jalan.

“Ini kamarnya..” kata Steve sambil membukakan pintu kamar VVIP untuk Sarang dan Taemin.

“Aunty..” panggil Sarang yang tengah melihat mama Jinki sedang melamun di samping Jinki.

“Sarang!” seru Mama Jinki terlewat bahagia dan berjalan menghampiri Sarang lalu memeluknya dengan erat.

“Bagaimana kabar Jinki, Aunty?” tanya Sarang. Suaranya mulai bergetar.

“Kemari, dear.” Mama Jinki mempersilakan Sarang untuk duduk di kursi samping tempat tidur Jinki yang sepertinya sangat nyaman dengan ukuran king size. “Aunty keluar dulu. Ada yang harus di urus..”

“Ne..”

Akhirnya hanya mereka bertiga yang berada di dalam kamar mewah itu. Jinki, Sarang dan Taemin. Taemin hanya duduk di sofa dan menatap pemandangan sendu di depannya. Sarang yang menangis sambil mengedarkan pandangannya di permukaan wajah Jinki yang tenang.

“Jinki..” gumam Sarang. Kedua tangannya menggenggam tangan Jinki yang tidak di infus dengan erat dan bergetar. “Maafkan aku..” Sarang mencium tangan Jinki cukup lama dengan matanya yang tertutup. Air matanya membasahi tangan Jinki sebagian. Lalu ditempelkannya telapak tangan Jinki di pipinya.

“Maafkan aku karena aku terlambat menolongmu, Jinki.”

Taemin menghirup napas panjang dan membuangnya diam-diam lalu menundukkan kepalanya. Jantungnya berdetak cukup keras melihat Sarang yang terlihat begitu sangat menyayangi Jinki. Taemin berdiri dan melangkah mendekati mereka berdua.

Sarang bangkit dan kembali menatap wajah Jinki yang tampan itu. Tidak terlewat satu lekukan pun. Tangan kanannya mengelus pipi kanan Jinki lalu dirinya mengecup pipi Jinki. Kedua ujung bibir mereka bertemu. Taemin menutup matanya beberapa detik sambil mengulum bibirnya.

“Bangunlah. Jangan membuatku cemas..” bisik Sarang di telinga Jinki sambil menangis tertahan.

“Pulang?” tanya Taemin. Sarang mengangguk dan menghampiri Taemin yang berada di samping lain.

*

(Sarang POV)

 

Tuhan.. aku tidak mengerti dengan perasaan ini. Jinki. Sepertinya aku sudah tidak bisa bersamanya lebih lama. Percuma. Aku tidak pernah tenang berada di sampingnya.

Dan aku pikir, sepertinya Jiyoung memang lebih pantas untuk Jinki. Aku tahu sebenarnya dia yeoja yang baik. Semua yang dia lakukan adalah hal yang wajar. Dia mencintai Jinki dan tidak ingin namja yang dicintainya itu jatuh ke tangan orang lain.

Lalu siapa aku? Aku hanya penghalang cinta mereka. Ya, aku juga yakin sebenarnya Jinki masih mempunyai perasaan pada Jiyoung sekecil apapun itu. Tentu saja. Jinki pernah mencintai Jiyoung setengah mati. Aku hanya pelampiasan saat itu. Aku tegaskan kembali, hanya pelampiasan.

Dan ketika Jinki membutuhkan apapun, Jiyoung selalu menjadi yang pertama datang dan bersedia membantunya. Bukan aku. Aku tidak pernah datang tepat pada waktunya. Aku tidak pernah ada ketika Jinki membutuhkanku. Jiyoung yang datang.

Apa Jinki tidak menyadarinya?

Aku biarkan air mataku yang sudah sangat banyak keluar ini. Pasti mataku sembab. Hah..

“Sarang..”

Aku menoleh dan dengan cepat menghapus air mataku.

*

(Author POV)

 

“Sarang..”

Cepat-cepat Sarang menghapus air matanya dan tersenyum kearah Taemin. Taemin yang melihat itu hanya menghembuskan napasnya dengan jelas.

“Cry inside, smile outside. Huh!” komentar Taemin sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur Sarang.

“Ada sesuatu yang penting?”

“Sudah malam sekali. Kau belum tidur, singa betina?” tanya Taemin sambil menempatkan kepalanya di atas paha Sarang.

“Aku sudah mencoba. Tapi sulit..” jawab Sarang. Kedua tangannya sibuk menyusut air mata yang tersisa.

“Ya, karena kau terus saja menangis. Dan tangisanmu itu sia-sia. Jinki hyung sudah sadar tadi sore,” kata Taemin sambil menatap Sarang dengan mata bulatnya. Membuat Sarang ingin menerkam adiknya itu saking gemasnya.

“Benarkah? Kalau begitu aku tidak akan menangis lagi.”

“Memang seharusnya begitu.”

“Bambino, apa kau tahu apa penyebab Jinki kecelakaan?” tanya Sarang sambil membenarkan posisinya.

“Dia menabrak seekor anjing yang sedang melintasi jalan. Saat itu Jinki hyung sedang dalam perjalanan ke rumah ini dengan membawa sebuket mawar untukmu dalam kecepatan tinggi,” jelas Taemin panjang lebar. Sarang hanya mengangguk beberapa kali.

Berarti sesuatu yang tertutup koran tadi adalah seekor anjing yang tewas. Mengenaskan.. pikirnya.

“Sarang, kau mencintai Jinki hyung?” Pertanyaan Taemin secara tiba-tiba itu tidak pernah berubah. Sarang menghembuskan napasnya melewati mulut.

“Aku tidak tahu. Sepertinya aku lebih setuju jika Jinki bersama Jiyoung. Bagaimana menurutmu, Bambino?” tanya Sarang yang kini tengah memainkan rambut pirang Taemin.

“Kau yakin? Aneh. Kau lebih menyetujui sainganmu untuk memiliki Jinki? Lucu sekali, singa betina..”

“Dia bukan sainganku..”

“Lalu bagaimana dengan pertunanganmu dan Jinki hyung?” tanya Taemin lagi. Kini Sarang menempatkan telapak tangannya di pipi kiri Taemin.

“Kita lihat saja. Jika Jinki memang jodohku, dia tidak akan menjauh,” jawab Sarang diakhiri tawa kecil. Taemin mendengus singkat.

“Jadi intinya kau mencintai Jinki hyung?” tanya Taemin lagi sambil bangkit dan kini duduk berhadapan dengan Sarang.

“Aku lebih mencintaimu, Bambino. Cepat tidur! Hampir tengah malam..”

“Kau pasti bercanda,” balas Taemin dengan senyuman yang menjurus kekanakan.

“Aku tidak bercanda, dongsaeng.”

“Kau tahu? Aku juga mencintaimu, Sarang..” ucap Taemin penuh dengan perasaan dan menatap Sarang tajam.

“Benarkah?”

“Perlu bukti?” Taemin semakin mendekatkan jarak antara dirinya dengan Sarang.

“Buktikan..”

“Tutup matamu dan aku akan menciummu. Bagaimana?”

BUG!! Sarang memukul pundak Taemin dengan otomatis.

“Itu maumu!!”

“Memang. Ayolah, akan aku buktikan, singa betinaaa!” ujar Taemin dengan jahil sambil berusaha menangkap kedua pipi Sarang. “Tatap akuuu!! Aku sudah menambah skill hot kissing! Melebihi Keybom hyung asal kau tahu!!”

“ANDWAEYOOO~!!” teriak Sarang sambil memalingkan kepalanya kesana-kemari.

“Singa betina pecundang!”

“LEPASKAN AKU, BAMBINOOOO!!”

“NEVER!!”

“KYAAA!!”

“BERISIK!! INI SUDAH MALAM!! TUTUP MULUT KALIAN BERDUA!! Ngeganggu aja. Heran nih, anak dua.”

BLAM!

GD. Mereka berdua terdiam.

“Tunggu saja, singa betina. Aku berjanji akan membuktikannya..”

“Dasar anak kecil! Cepat pergi tidur dengan dua binatang buasmu itu!”

“Bukan lagi dua. Tapi tiga. Aku sudah menambah satu. Komodo..”

“WHAT!!!”

**

Tiga hari sudah terlewat. Selama itu Sarang tidak pernah kembali menjenguk Jinki yang sudah tersadar tidak lama setelah Sarang pulang waktu itu.

Dirinya hanya menikmati liburan musim panas dengan Taemin, berjalan-jalan ke pantai bersama Minho, menonton penampilan GD di studio-studio televisi sambil membawa lighstick dan meneriaki nama GD, bermain labirin bersama Keybum dan bermain game portable asah otak ciptaan Keybom.

Semua saudara lelaki Sarang di beri perintah oleh sang ayah untuk menghibur Sarang yang akhir-akhir ini terlihat murung sampai suasana hatinya ceria di hari pertunangan Sarang-Jinki.

Berbeda dengan Jiyoung. Setiap hari dia sering mengurung diri di dalam kamarnya. Menangis dan terus menangis sambil menyebut nama Jinki. Yoona dan ummanya sampai dibuat bingung.

Dan bunga mawar putih yang di bawa Jinki ketika kecelakaan itu disimpan rapi di dalam pot kecil kamarnya. Meskipun banyak bercak darah Jinki terlihat kontras di bunga cantik itu.

Hatinya sangat sakit ketika membaca secarik kertas kecil yang mengantung di salah satu tangkai bunga.

‘Choi Sarang, jadilah pendamping hidupku untuk selamanya. Aku mencintaimu.. Lee Jinki.’

*

Hari ini Jinki sudah dibolehkan untuk pulang. Karena keadaannya sudah seperti orang sehat pada umumnya. Terlebih lagi karena dirinya sangat merindukan Sarang.

“Ma, aku ingin ke rumah Sarang sebelum kembali ke rumah..” pinta Jinki sambil menoleh ke arah mamanya yang berada tepat di sampingnya.

“Tapi kau yakin sudah kuat untuk berjalan?” yakin Mama Jinki.

“Tentu saja. Selama di rumah sakit aku selalu berjalan sendiri ke taman dan kemana pun yang aku mau tanpa bantuan kursi roda, tongkat bahkan bantuan suster. Aku sudah baik-baik saja, Mam. Ayolah..”

“Baiklah..”

Senyuman Jinki keluar dengan tidak sadar. Dirinya sangat merindukan Sarang. Sangat.

*

“Nona, ada tamu yang ingin menemuimu..” ucap seorang pelayan pada Sarang yang tengah bermain piano di lantai dua.

“Ah, tolong sampaikan sebentar lagi saya akan turun.”

“Baik..”

Dengan singkat Sarang  membereskan baby doll putihnya dan menuruni tangga dengan perlahan. Matanya menemukan Jinki yang sedang berdiri tepat di anak tangga paling bawah, menunggu dirinya untuk mendekat. Langkahnya melambat. Sampai akhirnya Sarang berdiri tepat di hadapan Jinki. Kepalanya mendongak karena tubuh Jinki yang lebih tinggi. Dirinya ingin menatap Jinki lebih jelas. Apa dia sudah baik-baik saja?

“Sarang,” ucap Jinki dengan senyum sempurnanya. Kedua tangannya menggenggam tangan Sarang dan meremasnya kecil.

“Kau sudah sembuh, Jinki? Syukurlah..” Tiba-tiba Sarang kehilangan kata-kata.

“Mengapa kau tidak menjengukku? Padahal aku sangat mengharapkanmu datang lagi, kau tahu..”

“Maafkan aku,” jawab Sarang. Hanya itu kata yang ia temukan.

“Sudahlah, yang penting kini kau ada di depanku..”

Jinki memeluk Sarang dengan erat. Mama Jinki hanya tersenyum dari arah ruang tamu dan kembali membaca tabloid. Sementara Taemin yang berada di lantai dua, tidak mengeluarkan ekspresi apapun dan berlalu menuju kamarnya kembali.

“Sarang, aku ingin memberitahumu satu kabar gembira. Pertunangan kita akan dipublikasikan tepat di hari ulang tahunmu,” ujar Jinki sambil mengajak Sarang ke arah ruang tamu untuk menemui mamanya.

“Ulang tahunku? Besok lusa..” gumam Sarang.

“Ya, besok lusa. Semakin cepat semakin baik..”

“Darliing..” sapa Mama Jinki sambil mencium kedua pipi Sarang.

“Aunty..”

“Jinki sudah sembuh. Jadi kalian bisa pergi bersama. Berkencan mungkin?” ucap Mama Jinki sambil tertawa. Sarang juga ikut tertawa.

“Akan kupikirkan,” jawab Sarang sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Berkencan? Apa Aunty ingin membunuhku? Bagaimana jika Jiyoung mengetahuinya?

“Ini untukmu..” Jinki mengulurkan buket mawar putih yang sangat cantik pada Sarang.

“Gomawo.”

“Kalau begitu kau harus siapkan gaun yang spesial untuk besok lusa, dear. Kami pulang. Bye..” kata Mama Jinki sambil berjalan lebih dulu.

Jinki menggigit bibir bawahnya dan mendekati Sarang lalu mengecup kening yeoja yang sangat disayanginya itu dengan penuh perasaan. “Saranghae..”

Sarang hanya menatap kedua sosok itu sampai menghilang di balik pintu mobil dan akhirnya mobil itu menghilang di belokan gerbang rumahnya.

**

Sarang tengah menikmati kolanya di balkon belakang rumah yang sangat sejuk di hari yang panas ini.

Rumah sangat sepi. Keybum dan Soona tengah pergi ke museum lilin. Keybom dan Sera pergi ke Mal, GD tetap mengisi acara show di salah satu stasiun tv, dan Taemin tengah bermain alat musik di ruangan musik. Dia sudah memutuskan semua kekasihnya. Mungkin tidak ada sesuatu yang penting dikerjakan. Bagaimana dengan Minho?

“Sarang!” panggil Minho dari arah dalam rumah lalu duduk di samping Sarang.

“Minho oppa! Kau tidak pergi ke satu tepat bersama Heera onnie?” tanya Sarang sambil menyimpan gelasnya. Tapi dengan cepat Minho meraihnya dan meminumnya sampai habis.

“Heera sedang keluar kota. Dia wanita pebisnis dan pekerja keras. Aku sangat menyukai kegigihan dia untuk menghidupi semua adiknya.”

“Aku ingin menjadi sepertinya,” gumam Sarang. Pandangannya mengedar ke arah taman belakang yang luas itu.

“Aku kasihan padamu. Masih kecil tapi sudah akan bertunangan. Nasibmu sebagai yeoja..” ujar Minho dengan tawa kecil di akhir. Sarang mencubit pelan lengan kekar Minho.

“Aku juga bingung, oppa. Setengah hati..”

“Hm, kemana namjamu yang tidak pernah muncul kembali itu?”

“Jonghyun oppa?”

“Hahaha! Ya, dia. DJ cool itu.”

“Dia tidak pernah berhenti memberiku bunga mawar putih. Lihat! Itu kebun bunga mawar putihku. Semuanya pemberian Jonghyun oppa,” seru Sarang dengan senyumnya yang mengembang.

“Indah sekali.. Sayangnya dia terlalu mencintai musik. Hm, musik. Hanya mencintai musik. Aku mempunyai teman wanita yang sejenis seperti Jonghyun hyung,” ucap Minho.

“Hah? Siapa?!”

“Jung Hara.. Dia teman elementaryku di Korea. Baru saja aku bertemu dengannya di perusahaan musik tempat GD hyung bekerja kemarin.”

“Berikan aku nomor ponselnya! Sepertinya mereka pasangan yang cocok..”

Mereka berdua tertawa.

*

“Bambino-ya!” panggil Sarang yang melihat adiknya itu tengah bermain gitar di ruang musik yang pintunya terbuka.

Cepat-cepat Taemin menghentikan permainannya dan buru-buru menghampiri Sarang di depan lowong pintu.

“Ya?”

“Kau sedang bermain gitar? Lagu apa yang kau mainkan? Aku tidak mendengarnya jelas,” tanya Sarang penuh semangat.

“Ah? Tidak. Sarang, apa kau melihat Minho hyung?” tanya Taemin sedikit salah tingkah.

“Dia ada di bawah. Sepertinya sedang menonton film.”

“Oh, terimakasih!”

Taemin berlari cepat dan menyusuri tangga. Sarang yang melihat Taemin sedikit aneh hanya mengerutkan keningnya dan mengeleng beberapa kali.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Sarang segera mengangkatnya. Dari Jinki.

“Ya, Jinki?”

“Kau sedang apa?”

“Tidak ada.”

“Kau sama sekali tidak memikirkanku? Kau tidak memikirkan bagaimana hari esok akan berjalan? Kalau kau ingin tahu, aku selalu memikirkanmu.”

“Terimakasih, Jinki. Kau harus banyak beristirahat. Jangan lupa memakan obat dan makanlah yang teratur,” ucap Sarang penuh perhatian.

“Baik, chagiya.. kau juga. Aku tidak sabar menunggu hari esok. Hari dimana kau berulang tahun dan publikasi pertunangan kita. Kedua orang tua kita akan datang.”

“Begitu juga dengan Dad? Dia akan kembali lagi dari Amerika?”

“Tentu saja, Sarang. Itu semua demi putrinya. Jadi kau harus tampil cantik untuknya, untuk semua.. dan untukku. Aku akan selalu merindukanmu, Sarang. Aku mencintaimu..”

“Ne..”

“Katakan kalau kau juga mencintaiku. Aku ingin mendengarnya..”

“Hm.. saranghae, Lee Jinki..”

“Aku tidak mendengarnya.”

“Saranghae~,” ulang Sarang sedikit keras.

Terdengar Jinki tertawa kecil. “Nado, chagiya.. bye..”

KLIK!

Sarang terdiam di depan pintu kamarnya dan membuang napasnya perlahan.

Bagaimana ini? Mengatakan ‘saranghae’ pada Jinki terasa sangat berat. Tidak semudah dulu. Disaat Jiyoung belum memasuki kehidupanku dengan Jinki..

*

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam kurang sepuluh menit. Sarang tidak bisa menutup matanya. Dia cemas memikirkan hari esok. Bagaimana jika Jiyoung tiba-tiba datang dan menembaknya sampai mati? Atau kendaraan yang dinaikinya bermasalah karena Jiyoung melakukan sesuatu pada mobilnya?

“Haaaah!” gumam Sarang sambil menutup wajahnya dengan bantal.

Ponselnya berdering. Dengan cepat Sarang mengangkat panggilan itu. Taemin?

“Sarang, aku sedang di club ruang bawah tanah. Aku takut untuk kembali. Apa kau bisa kemari dan menjemputku?” pinta Taemin sedikit merengek. Sarang memutar kedua bola matanya.

“Memangnya apa yang sedang kau lakukan di club tengah malam seperti ini?”

“Aaaaa~ jangan banyak bertanya! Kau akan tahu setelah kau menjemputku disini!”

“Baiklah, tunggu aku beberapa menit lagi, Bambino.”

Sarang bersyukur karena kini dia mendapat pekerjaan yang dapat memusnahkan kebosanannya karena memikirkan pertunangan yang sama sekali tidak diinginkannya itu.

Kini dirinya sudah berada di depan pintu club bawah tanah. Dengan sekuat tenaga dirinya mendorong pintu itu sampai terbuka.

Gelap. Semuanya gelap..

“Nuna neomu yeoppo~ micheo~ replay, replay replay..”

Terdengar suara Taemin yang lembut dan merdu diiringi petikan gitar yang mengalun indah. Tiba-tiba lampu berwarna-warni menyorot Taemin yang tengah bernyanyi di atas kursi berkaki panjang sambil memetik gitar akustik di panggung kecil, samping papan DJ. Sarang masih terkejut dengan semua ini. Kakinya melangkah mendekati Taemin dengan perlahan.

“Nuna neomu yepposo, namjadeuri kaman an dwo. Heundeulineun geunyeuye mam shasil algo issuh. Geunyuhehgeh sarangeun, hansoonganee neukkimil poon, mwora haedo naehgen salmi everything..

“Ama geunyuhneun oerin naega boodamseuruhoongabwa. Nal baraboneun noonbichi malhaejoojanha. And I think I’m gonna hate it girl, ggeuchi daga oneun geol. Gaseumi marhaejoonda~ nooga mworedo..

“Nuna neomu yeoppo.. micheo.. replay, replay, replay. Choouki nae mameul halkwiu, goochyoh, replay, replay replay..

“Ah ah areumdoon geunyuhneun. Ah ah ahjik kkaji noogoowa. Jilshil dwin saranghae mateul bonjuki ohneun geh boonmyunghae.

“Ah ah ahshiwgehdo gounyuhnan. Ah ah ahjik eorin naehgen. Jinshil dwin saranghae maeumeul badeul soo ohneunji~

“Nuna neomu yeppo~ geunyuhreul boneun naneu~n. Ooo~ replay~ I need a replay! Choouki nae mameul halkwiu, goochyoh, replay, replay replay..

“Noonan neomu yeppo~ I keep dreamin’ ‘bout you! Yeppo.. Jinshil dwin saranghae maeumeul..”

Taemin membuang napasnya setelah lagu yang dinyanyikannya selesai sambil memutar gitarnya sampai menyandar di punggung. Diraihnya tangan Sarang sampai mereka berdiri sejajar, saling menatap satu sama lain.

Dengan perlahan senyuman Taemin mengembang. Senyuman yang terlihat dewasa di bawah sinar lampu yang sedikit remang ini. Sarang menunduk dan diam-diam tersenyum. Apa yang sedang dirasakannya? Jantungnya berdetak dengan sangat cepat.

“Jangan menunduk seperti itu. Aku tidak bisa melihat senyumanmu..” ucap Taemin tetap dengan senyumannya yang kini cenderung jahil.

Sarang menengadahkan kepalanya untuk balas menatap Taemin sambil tertawa kecil. “Kau membohongiku, Bambino. Kau bilang kau ketakutan..”

“Itu tadi. Sekarang tidak..”

Taemin meraih jemari kanan Sarang dan mengeluarkan satu kotak kecil berwarna biru emerald dari saku kardigan putih longgar yang sedang dikenakannya.

Sarang hanya mengerutkan keningnya. Tapi lama-kelamaan kerutan itu menghilang setelah Taemin membuka tutup kotak dan terlihatlah satu buah cincin emas putih yang sangat cantik dengan hiasan berbentuk mawar putih yang sangat cantik dan berkilauan karena kristal.

Taemin tersenyum dan memakaikan cincin itu di jari manis tangan kanan Sarang dengan mulus. Pas. Cincin itu sangat pas dan terlihat cantik di jemari Sarang.

“Happy birthday, Choi Sarang..”

“Taemin..” Dengan susah payah Sarang memeluk Taemin sambil berjinjit. “Gomawoooo~,” ucap Sarang terdengar manja.

Taemin balas memeluk Sarang. “Cheonmaneyo, nunaa..” jawab Taemin. Dengan seketika Sarang melepas pelukannya dan menatap Taemin curiga.

“Kau memanggilku nuna?”

“Tidak. Aku memanggilmu singa betina.. Jangan banyak berharap aku memanggilmu nuna,” jawab Taemin dengan tawa. Sarang hanya memukul-mukul dada Taemin. Dengan cepat Taemin memeluk nunanya dari belakang.

“Lihat..” Taemin mengangkat jemari kanan Sarang dengan jemari tangan kanannya. Sementara tangan kirinya melingkar di pinggang Sarang. “Berjanjilah untuk tidak melepas pemberianku ini, Sarang..” ucap Taemin. Napasnya terdengar jelas di telinga Sarang.

“Apa saat aku mandi, aku juga harus terus memakainya?” tanya Sarang dengan jahil.

“Jika tidak terlihat oleh mataku itu terserah padamu. Tapi jika aku melihatmu sedang mandi dan cincin itu tidak terpasang di jari manismu ini, aku tidak akan mengenalmu lagi..” jawab Taemin dengan tawa kecil di akhir. Dagunya bertumpu di bahu Sarang.

Mereka berdua terdiam.

“Bagaimana jika aku bertunangan dengan Jinki? Bagaimana jika cincin pemberianmu ini terpaksa harus lepas dari jari manisku?” tanya Sarang dengan suara berbisik. Tapi Taemin masih bisa mendengar jelas.

“Siapa yang lebih kau sayangi? Terserahmu saja.” Taemin melepas pelukannya dan menyimpan gitar yang masih melekat di tubuhnya pada sandaran kursi. “Aku sangat lelah hari ini. Ayo kita tidur..” ajak Taemin sambil meraih pergelangan tangan Sarang.

Sarang hanya menunduk dan mengikuti Taemin.

*

“Sekali lagi, selamat ulang tahun, singa betina..” ucap Taemin pada Sarang sebelum mereka masuk ke dalam kamar masing-masing.

“Sekali lagi, terimakasih banyak, Bambino. Aku menyukai kado pertamaku..”

“Ya, aku tahu. Selamat malam..”

“Malam..”

BLAM!

Mereka menutup pintu hampir bersamaan.

Sarang tersenyum dan menatap kembali cincin mawar putih pemberian Taemin. Benar-benar sangat indah. Kakinya berjalan menuju tempat tidur. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Video call..

Jinki..

“Yoboseyo..” Sarang menaikki tempat tidurnya dan mengangkat selimutnya sampai menutupi dada. Layar telepn genggamnya gelap.

Tidak lama, satu cahaya menerangi wajah tampan namja itu.

“Happy birthday to you.. Happy birthday to you.. happy birthday, happy birthday.. Happy birthday to you..” Jinki bernyanyi dengan suara lembutnya di tempo lambat. Membuat Sarang merinding saking halusnya suara namja yang sedang menghubunginya itu. “Saengil chukkae, chagiya..” ucap Jinki sedikit berbisik dan itu terdengar seksi.

“Jinki.. terimakasih.”

“Apapun akan kuberikan padamu, Sarang. Apa yang kau inginkan?”

“Tidak, Jinki. Aku tidak menginginkan apapun.”

“Sepulang publikasi tentang pertunangan kita, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Jangan menolak. Selamat malam, chagiya. Saranghae, Choi Sarang..”

“Nado..” jawab Sarang sedikit ragu. “Haaaah. Pertunangan, ya? Sesuatu.”

**

(Sarang POV)

 

Tidak henti-hentinya aku meremas tanganku ini. Hah, gugup sekali. Sudah banyak wartawan yang memasuki ruangan meeting ini. Padahal acara publikasi dimulai setengah jam lagi.

Sudah tidak dapat dihitung aku mengeluarkan napas panjang berlebihan dari mulutku. Rasanya aku tidak rela membiarkan diriku bertunangan dengan Jinki. Mungkin seharusnya aku senang. Jinki, dia kekasihku. Tapi aku tidak rela jika Jinki menjadi milikku. Jiyoung lebih pantas. Dia sudah lebih dulu bersama Jinki dan keluarganya. Bukan aku. Jiyoung melakukan apapun yang dia bisa untuk mendapatkan Jinki kembali. Bagaimanapun itu adalah bentuk usaha meskipun aku yang menjadi korban disini.

Jadi kesimpulan dari semua ini adalah, aku tidak ingin bertunangan dengan Jinki. Aku lebih setuju jika Jiyoung yang berada di posisiku kali ini. Dimana dia?

“Saraaaang~.”

Oops! Aku tidak menyadari ternyata Taemin sudah memanggilku beberapa kali.

“Hm?” tanyaku sambil menoleh kearahnya yang berada di sampingku.

“Lihat! Jinki hyung memanggilmu! Dia ingin kau menghampirinya,” ucap Taemin dengan nyaringnya.

Aku lirik dimana Jinki berada. Hm, dia sedang berdiri di salah satu kursi atas panggung rendah itu. Bibirnya tersenyum sangat tampan. Apalagi dengan model rambutnya yang sekarang. Huh..

Ternyata acara akan dimulai dalam beberapa menit ini. Keluarga Presiden sudah bersiap duduk di kursi yang sudah disediakan di sana. Sementara aku dan keluargaku belum muncul di depan panggung. Tetap di backstage. Ya, backstage. Uh, tidak. Samping panggung ==’

“Biarkan saja dia yang menghampiriku. Jika aku yang menghampirinya, itu sama saja aku menjatuhkan derajatku sebagai yeoja..”

Taemin mendengus kecil.

“Nikky! Ayo kita naik. Cherry dan Mom Alamanda menyusul. Kejutan..” ucap Dad sambil mengedipkan sebelah matanya padaku dan tertawa kecil. Aku hanya tersenyum hambar.

Taemin berdiri dan membereskan jas casualnya. Huh, mengapa dia yang menjadi perwakilan dari semua saudara lelakiku? Mengapa bukan kakakku? Mengapa Taemin? Dia kan baru saja enam belas. Anak ingusan. Bambino.

“Sayang..”

Aku menoleh ke asal suara lembut itu. Bunda..

“Bunda~” ucapku manja dan langsung saja memeluk pinggangnya dan menyandar di pundaknya.

“Kenapa? Jangan cemberut kayak gitu, dong. Ntar anak bunda jadi nggak cantik. Liat, kamu udah kayak putri, sayang. Senyum..”

“Bundaaa, Sarang nggak mau tunangan sama Jinki. Sarang udah nggak suka lagi sama Jinki. Udah gitu ada Jiyoung yang lebih pantes, Bunda. Dia itu selalu ada ketika Jinki butuh pertolongan seseorang. Dan bukan Sarang yang ada. Tapi selalu Jiyoung,” omelku dengan bahasa Indonesia.

“Yakin, kamu nggak suka lagi sama Jinki?”

Aku mengangguk dengan mantap.

“Terus kamu suka sama siapa, dong?”

Siapa namja yang kusuka sekarang? Oke, ini pertanyaan yang sederhana namun sulit untuk di jawab. Aku tidak mempunyai seseorang yang disukai. Tapi sepertinya ada. Tapi siapa? Ini yang menjadi alasan mengapa aku bisa melupakan Jinki. Tapi aku tidak tahu siapa namja itu.

“Bunda bakalan tau nanti. Bunda, Bunda bisa kan ngomong sama Dad buat batalin pertunangan ini?” mohonku dengan wajah sememelas mungkin. Tapi sepertinya sia-sia. Wajah Bunda terlihat lebih memela daripada aku.

“Bunda nggak bisa ngebatalin semua yang jadi keputusan Daddy.. Maafkan Bunda, sayang..”

Bunda memelukku dengan hangatnya. Aku hanya menunduk dan menyerah.

Sampai akhirnya sang MC memanggil namaku dan Bunda untuk memasukki panggung. Aku bisa melihat raut wajah Jinki terlihat sangat bahagia di sana. Aku harus bagaimana? Apa harus seperti apa yang dikatakan Taemin saat itu? cry inside, smile outside? Haaah~

“Perkenalkan, dia adalah anakku yang ke-lima. Putri satu-satunya. Choi Sarang..” ucap Dad dan disambut tepuk tangan yang meriah oleh para tamu undangan ini. Yang pasti orang penting.

“Annyeong haseo..” sapaku sambil membungkuk beberapa kali dan tersenyum. Entah kenapa hal yang sangat mudah dan sering kulakukan tanpa sadar itu menjadi sulit. Senyum. Hm..

Lalu aku dipersilakan untuk duduk di salah satu kursi, tepatnya di samping Jinki. Aku menoleh dan tersenyum canggung ke arahnya. Tanpa meminta persetujuanku, tiba-tiba Jinki menggenggam jemari kananku.

“Kedua orang tua kita sudah menetapkan tanggalnya. Kau pasti senang dengan tanggal itu..” bisik Jinki di telinga kananku. Aku hanya meliriknya sekilas dan tersenyum. Kembali.

“Itu pasti..”

Aku putar kepalaku ke arah belakang. Dimana Taemin? Ah, itu dia. Dia tengah duduk dengan tegapnya. Kini wajahnya terlihat sedikit dewasa. Apa mungkin karena dia tidak sedang melakukan apapun? Hanya diam dan mendengarkan semua yang dikatakan MC, Presiden dan Dad yang tengah berbincang sedikit tentang aku dan Jinki di masa depan.

“Baiklah, kita tutup acara publikasi pertunangan Lee Jinki, putra Presiden Korea dan Choi Sarang, putri Toyoto dengan pengumuman tanggal diadakannya pertunangan.” MC tersenyum penuh arti padaku dan Jinki bergantian. Aku mengangkat kedua alisku singkat.

“Besok lusa..” ucap Dad dan Presiden bersamaan.WHAT A KREIZEHHH?

“Untuk Jinki-sshi dan Sarang-sshi, silakan untuk berdiri di depan. Sesi pemotretan..”

*

Huh, lelah sekali. Mengapa acara berat itu disambung dengan makan malam bersama? Padahal aku sudah ingin pulang dengan Taemin. Aku tidak tahan berada di antara orang-orang penting seperti mereka. Masalahnya aku tidak mengerti dengan arah perbincangan mereka. Dan hal yang menurutku sama sekali tidak lucu, mereka tertawa dengan terbahak.

Oh, ya! Ayah Jiyoung juga ikut bergabung. Hm, ayahnya sangat baik sekali padaku. Padahal dia tahu bahwa pertunangan anaknya, Jiyoung dan Jinki dibatalkan. Tapi mengapa ahjusshi itu sama sekali tidak dendam padaku?

Setelah ribuan kali aku memohon pada Dad untuk pulang lebih dulu karena aku sudah sangat lelah dan hari pun sudah hampir tengah malam, akhirnya aku diberi ijin untuk pulang.

Jinki memberiku satu kecupan lagi tepat di keningku. Jinki.. Mengapa dia sama sekali tidak menyadari bahwa Jiyoung lah yang lebih peduli padanya dibanding denganku.

Dengan langkah malas, aku memasuki rumah besar ini. Semua lampu sudah dipadamkan. Kemana para pelayan dan servant? Biasanya mereka menyambutku meskipun sekedar hanya membungkuk.

“SURPRISEEEEE!!!”

“KYAAAAAAAA!!”

Tiba –tiba lampu menjadi terang dengan berbagai hiasan terlihat menempel dengan indah di setiap sudut dinding.

Semua saudaraku memakai berbagai macam topi boneka yang unik dengan terompet kecil tapi panjang yang ditiup dan mengeluarkan suara sangat nyaring.

Mereka menyeretku untuk mendekat ke arah kue ulang tahun yang sangat tinggi dan bernuansa pink. Lucu sekali!

“Pakai ini..”

Minho oppa memakaikan topi chery yang cukup besar untuk ukuran kepalaku. Aku tertawa lepas.

“Happy birthday, Saraaang!” seru Minho oppa lalu memelukku. Aku balas memeluknya.

“Thankyou Minho oppaaa,” balasku. Minho oppa mencium kening, hidung, pipi kanan, pipi kiri dan daguku dengan cepat.

“Kau hanya mencari kesempatan, Elias!” protes Keybom oppa. Haha. Ekspresinya benar-benar lucu dengan topi beruang putih yang dia pakai.

“Ini special gift for you, princess..”

Aku terkesiap dan menerima bingkisan berukuran sedang berwarna hitam berpita putih. Sangat elegan.

“Mistik..” Kini Keybum oppa yang memakai topi siput berkomentar. Minho oppa hanya memelototinya sekilas.

“Sarang, Happy blessed day. Best wishes immany things you do..” ucap GD oppa sambil memberiku kotak yang juga berukuran sedang berwarna merah darah.

“Thankyou, GD oppa.. aku akan selalu meneriaki namamu!”

“Kau fans nomor satuku.” GD oppa tersenyum dan menepuk pipiku pelan beberapa kali. KYAAAA!! GD oppa!

“Selamat ulang tahun, Sarang. Kau sudah berumur hm, tujuh belas. Ah, tidak. Delapan belas untuk umur Korea. Kau sudah dewasa dan kau sudah mempunyai tunangan. Bersikaplah lebih dewasa dan jangan mengecewakan semua orang yang berada di sekitarmu..” ucap Keybum panjang lebar.

“Terimakasih, oppa. Aku akan selalu mengingat kata-katamu. Meskipun aku tidak berjanji. Kekeke~”

Keybum oppa hanya terkekeh dan memberiku bingkisan kecil berwarna putih bersih. Aku tersenyum dan memeluknya.

“Honey,” sapa Keybom oppa. Aku mulai tidak bisa berpikir jernih. Melihat wajahnya selalu teringat dengan kejadian mengenaskanku sebagai korban. Huh, dasar Keybom oppa maniak..

“Jangan terlalu dekat, oppa,” ucapku sambil mendorongnya agar sedikit menjauh. Bagaimana aku bisa melihat wajahnya kalau jarak kita hanya lima senti?

Keybom oppa tertawa renyah dan menuruti kata-kataku. “Saengil chukkae, sweety. Hm, aku tidak mempunyai kata-kata berlian seperti Keybum dan hadiah-hadiah spesial seperti Elias dan yang lainnya.”

“Lalu?”

“Kau hanya perlu datang ke kamarku malam ini dan aku akan membuatmu puas,” jawab Keybom oppa. Aku berpikir cukup lama.

“HAHAHAHAHA!” tawa Taemin terdengar sangat keras. Aku menoleh kearahnya dan mengangkat kepalaku sekilas, meminta jawaban.

“Here!”

“KYAAAA!!”

“GOT YOU!! HAHAHA!!”

SIAAAAAL! Keybom oppa menumpahkan kue pie tepat ke permukaan wajahku. Dengan cepat aku menyingkirkan cream kue yang menghalangi mataku lalu menyingkirkan semuanya meskipun tidak sempurna.

“Keybom oppaaaa!!”

Aku berlari mengejar Keybom oppa dan bersiap melempar cream-cream yang berada di tanganku. Tapi mengejarnya sangat sulit. Dan aku berpindah pada sasaran yang lain. KEYBUM OPPAAA!!

“NOOOO!! YOU SHOULD NOT THROW THAT THINGS TO ME!! SARAAANG!! I KNOW YOU ARE AN ANGEL!!” teriak Keybum oppa tidak karuan sambil berlarian karena kukejar. Aku hanya tertawa. Begitupun dengan yang lain.

Oke, aku menyerah mengejarnya. Oke. MINHO OPPAAAAA!!!”

“KYAAAAA!!”

BLAM!

Hah, cemen. Minho oppa bersembunyi di kamar mandi. Lalu siapa targetku? Aku melirik keadaan di belakangku. Semua berada di posisi yang sangat jauh sambil mengawasiku. Hanya Taemin yang tetap berada di tengah, daerah kue raksasaku.

“Bambino..” ucapku sambil berjalan dan tersenyum penuh arti padanya.

“Kemarilah, aku akan membersihkan semua kotoran yang menempel di wajahmu,” jawab Taemin sambil mengacungkan handuk di tangan kirinya. Senyumnya terlihat was-was. Takut tiba-tiba aku melempar cream ini padamu, hah? Baiklah, setelah kau membersihkan cream di wajahku, aku akan memberinya cream milikku. Hahaha!

“Thankyou, Taemin..”

Taemin menyusut wajahku dengan handuk itu. Baiklah, beberapa detik lagi.

“Lumayan..”

PLAAAKK!!!

“YAA!! TAEMIIINN!! MENGAPA KAU MELAKUKAN HAL YANG SAMA DENGAN KEYBOM OPPA?!! AKU MEMBENCIMUUUU!!”

“HAHAHAHAHAHAAAA~!”

Semua tertawa.

*

(Author POV)

Keadaan sudah tenang. Kini Sarang sudah membersihkan tubuhnya. Begitu pun dengan para kakaknya dan Taemin. Mereka tengah berdiri di sekitar lorong pintu kamar mereka.

“Aku senang jika kau bahagia, Sarang,” ucap Keybom sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil hitam. Mata tajamnya terlihat di balik rambut yang sedikit tertutupi itu.

“Ya, aku sangat, sangat, sangat bahagia malam ini jika kalian tahu. Kecuali siang tadi..” sambungnya. Keybum tertawa kecil.

“Hei, sepertinya Taemin belum memberimu hadiah ulang tahun, Sarang..” Keybum mendelik kearah Taemin yang sedang membelalakkan matanya kali ini.

“Uh.. nanti saja. Sakuku kering. Dan sepertinya singa betina bisa lebih bersabar. Bukan begitu?” Taemin tersenyum penuh arti pada Sarang.

Sarang hanya tersenyum dan menundukkan kepala. “Ya..”

“Ya! Sarang! Aku baru melihat ini. Apakah ini pemberian Jinki?” tanya Minho sambil melihat cincin mawar putih yang terpasang cantik di jari manis Sarang.

“Bukan!” sergah Sarang sambil menarik kembali jemarinya dari tangan Minho.

“Lalu?”

“Sarang..”

Tiba-tiba Mom Alamanda datang dari ujung lorong dengan senyuman malaikatnya sambil menghampiri Sarang. Semua memberi jalan sambil menyapa kecil.

“Bundaaa..” Sarang memeluk ibunya dengan erat dan mencium kedua pipi ibunya. Memang manja.

“Kalau begitu kami akan segera tidur. Selamat malam, Sarang, dan happy birthday..” Kata-kata Minho menjadi penutup malam ini.

Mom Alamanda tersenyum dan mengelus kepala satu per satu anak lelakinya yang tampan-tampan itu dan mengantar Sarang ke dalam kamar.

“Kau sudah mulai mengantuk?” tanya Mom Alamanda pada putri cantiknya yang tengah duduk di atas tempat tidur dengan bahasa Korea. Sementara dirinya duduk di pinggiran tempat tidur sambil mengusap kepala Sarang.

“Belum, Bunda. Bagaimana makan malammu?”

“Sedikit kacau..”

Sarang mengernyitkan keningnya dalam-dalam. “Kacau? Bagaimana bisa?”

“Sarang, dengarkan Bunda. Sekarang kau sudah tujuh belas tahun. Kau sudah dewasa. Mungkin sekarang waktunya yang tepat.”

“Waktu yang tepat? Apa maksudmu, Bunda?”

“Sebenarnya.. sebenarnya.. kau bukanlah anak kandung dari Choi Minseok..”

DEG!!

Sarang terdiam. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ekspresi apa yang harus dia keluarkan? Sarang tersenyum pahit.

“Bunda pasti berbohong..” Suara Sarang terdengar bergetar. Mulai menangis, eh? Tapi senyumannya belum juga pudar.

“Tidak, Sarang. Bunda mengatakan yang sebenarnya..” jawab Mom Alamanda sambil mengelus pipi Sarang.

Sarang menggeleng. Kini satu butiran air mata jatuh dengan cepatnya. Disusul dengan butiran-butiran lain. Sarang mulai terisak. “Tapi bagaimana bisa? Aku sudah tinggal di keluarga ini tujuh belas tahun, Bunda. Bersama Dad. Dad yang sangat menyayangiku dengan tulus. Dia bukan ayah kandungku? Itu mustahil..”

“Dear..”

“Bunda..” sela Sarang. “Boleh saja orang-orang di sekitarku mengomentari bahwa diriku sama sekali tidak mempunyai kemiripan dengan Dad. Tapi itu bukan berarti aku bukan anak kandungnya. Ayolah, Bunda. Kau pasti berbohong..” jelas Sarang sambil terisak. Dirinya tetap mencoba untuk menahan emosinya.

“Sarang..” Mom Alamanda memeluk Sarang sambil menangis. Tapi Sarang menolak untuk dipeluk Ibunya. “Maafkan Bunda. Ini semua karena kesalahan Bunda.”

“Lalu jika Dad bukan ayahku, siapa ayah kandungku?” tanya Sarang sambil menyusut semua air matanya yang membasahi pipi.

“Han Youngjin..”

“Apa?” Sarang merasakan napasnya tercekat di tenggorokan.

“Ya, dia ayah kandungmu..”

“Apa Bunda yakin dia ayah kandungku? Itu mustahil! Aku tidak percaya!”

“Sarang..”

“Mana mungkin ayah Jiyoung adalah ayah kandungku!!!”

Sarang menutup wajahnya dan menangis dengan isakan cukup keras. Dengan cepat ibunya memeluk yeoja itu.

 

TBC ;]

………………………………………………

Maafkan aku kalo ceritanya semakin jelas. Hehe.. jadi cepet tamat.

Liat aja ya gimana next chap dan kapan publishnya. Nunggu ini aja sebulan lebih ya? Kasian..

Aku selalu berusaha luangin waktu buat nulis demi readers. So, jangan bosen kunjungi blogkuuu hehe :*

Komentarnya ditunggu ya sayangsayangkuuu~ muaaah XD
………………………………………………………

19 thoughts on “(SHINee) HELLO SMART PLAYBOY [ CHAP 10 ]

  1. Akhirnya Publish juga! Aku nungguin terus ini sampai FF keluar,setiap hari ngunjungin kesini buat ngecek FF-nya udah keluar apa belum..hihi~ aku baca FF-nya 2 kali saking suka sama ceritanyaㅋㅋㅋ Apalagi bagian TaeminSarangㅋㅋㅋ. Okesip Next Chap jangan lama-lama yaa~ Chap ini aja nunggu-nya udah lama bener, berarti Next chap jangan lama-lamaㅎㅎ. Dan FF Electric-nya publish-in juga dong..hehee~. Lanjutkan terus thor…Fighting~!!

  2. huaaaaaaaaa akhirnyaaaaa setelah penantian berhari-hari,, lalu berminggu-minggu dan tiba ke bulan FF ini muncul jugaaaaaa….. Hmm udah ketebak si uni kalo sarang anaknya Tuan Han di FF sebelumnya aku sudah menaruh curiga kepadanya /plak btw taemin disini kok……… Dohhhhh taeminnya romantissssssss.. Next chap di tunggu uni.. Gapapa kok sebulan doang soalnya aku mau ujian xixi..

  3. Heerasshi. Ya bagus! Semoga Sarang jadi sama Taemin (‘-‘/\) Aku bingung mau komentar apa, keren pokoknya eon~♥ HSP sangat kunantikan hehe. Semangat buat nulis capt selanjutnya! Semoga bisa ketemu Shinee! xoxo

  4. uwoooooo …sebulanan ini y penantiannya saeng,sebulanannnn #bakar meja tapi akhirnya publis juga hahaha
    ish, kenapa si jinki ga mati aja sih.. #dilempar. -____-” hahaha
    kyaaaaa sukaaa sukaaa saat bagian Taemin dan sarang, semuanyaaa tanpa terkcuali,,hoahh, pokokny paling demen klo uda bagian Satae..unyu…apalagi saat bagian Taemin nyanyi dan nyematin cincin dijari sarang, y Tuhann…kenapa kau jantan sekali nakk…aaa taemin,,, unyuuuu. hihihi

    Apa itu,,,, ekspresi Taemin yang mulai terlihat datar setiap kali melihat jinki dan sarang, atau setiap kali mendengar kata ‘arang dan jinki’….jeles eh? hoaaaahhh suka itu mah, suka banget ekspresi taemin kaya gitu, boleh saya duga kalau Taemin mulai menyukai sarang… #ketawaSetan hahaha…dan aciyeeee sarang mulai deg-degan nih ye #idupin kemban api ahahaha dan demi apa, suka banget pembicaraan sarang dan taemin yg ini nih ~~~~~>“Bagaimana jika aku bertunangan dengan Jinki? Bagaimana jika cincin pemberianmu ini terpaksa harus lepas dari jari manisku?” tanya Sarang dengan suara berbisik. Tapi Taemin masih bisa mendengar jelas.

    “Siapa yang lebih kau sayangi? Terserahmu saja.” ucap Taemin.
    astaga…astagaaaaa….sukaaaaaa hahahhah #plak.terlalu berlebihan, sebodok ahahah

    dan AHAHAHAHAHAHAHA…saya senang dengan bagian terakhir itu, finally sarang bukan anak kandung choi minseok, dan artinya…sarang taemin forever #duh cinta fitri sekaleeee muahahhaha
    tapi bener itu yg dibilang sarang, jiyoun selalu ada untuk jinki, sedangkan sarang tidak, jadi lebih baik jinki dilempar aja kekandangnya jiyoung, oke itu ide yang bagus… #dirujam..
    Ditunggu part selanjutnya saeng,,,saya menunggu adegan dimana taemin mempraktekkan hot kissingnya yg sudah berkembang dengan sarang… #ketawaSetan

    • huee terimakasih unn sudah setia menungguuu XD
      waduh unn komennya panjang banget aaa aku ga bisa bales satu satu aaa seneeeng xD wkwk
      ditunggu ya eon next chapnyaaa moaaah :3

  5. yeay… akhirnya penantianku berhujung juga. ffnya uda di publish :D
    yes aku emang ngga tau kenapa ngga terlalu suka jinki sama sarang, biar sama jiyoung aja, taemin sarang .!! like thos couple ^^
    biruan dilanjutin yah… yang nunggu banyak loh
    ngga sabar adegan taem sama sarang kyaaaaa.!! x.x

  6. Akhirnya setelah nunggu bertahun-tahun lamanya ff ini di publish juga *lebayyyy:D*

    Ff nya keren unn !! Aku suka banget !!
    Aku juga suka sifat” cast nya ^o^ , kecuali keybom -_- ..

    Aku maunya Jinki Oppa tunangannya sama choi sarang ;;) yah unn (˘ʃƪ˘) ,, trus taemin oppa nya juga makin sayang sama sama nuna nya , meskipun bukan nuna kandungnya !!

    Hoooooaaaa~ cepet” di publish lah unn chapter selanjutnya ^^

  7. Kannn!! udah gw duga!! sarang tuhh anaknya tuan Han…
    Tp koq bisa yaa?? ._.a
    Udhlh..yg penting taemin dan sarang g punya hubungan darah..mereka bisa br1.. yakin bgt kalo taemin suka sama sarang bgtu pun sebaliknya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s