ARCHDANGEL [ CHAP 3 ]

b0e2e970jw1dycfuwxbgkj

ARCHDANGEL

Author: Shin Heera

Cast:

  • Xi Luhan (EXO)
  • WuFan Kris (EXO)
  • Janny Kim (YOU)

Minor Cast:

  • EXO Member
  • Park Taejun

Ket:

  • Xi Luhan as Eldishan at mushroom era
  • Kris as Elathan at Ceci Magz era
  • Xiumin at Ceci Magz era
  • Lay as Lotchar Lay at ‘angelic’ era
  • Tao as Ayperos Tao at Ceci Magz era

Disclaim: Tuhan yang menciptakan mereka, dua belas bintang besar yang eksotis, EXO. Pemeran lain hanyalah fiksi yang tidak diketahui keberadaan aslinya. Tapi itu terserah dirimu.

Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Ps:

  • * > masih hari yg sama
  • ** > keesokannya
  • Don’t be silent reader
  • Don’t copy – paste my imaginations!!

……………………………………………………

Last Chap

“Aaaa, keluaaarr!” teriak Janny tertahan sambil memukul tangan Luhan. Tapi Luhan malah mengeluarkan lenguhan panjang dan berguling, menjauh dari Janny.

Tiba-tiba suara Xiumin terdengar mendekat memanggil namanya. “Ottokhae..”

….

“Janny? Mwo..?”

………………………………………………….

CHAP 3

“Oppa..” Jane semakin menutupi tubuhnya di dalam selimut. Berharap Xiumin tidak menyadari ada satu makhluk tidak wajar bersamanya di sana.

Xiumin mengernyit aneh sambil memiringkan kepalanya. “Mengapa kau berada di dalam sana?”

“Aku hanya ingin berbaring. Itu saja,” jawab Janny dengan dingin, seperti biasanya. Bukannya dia tidak peduli atau takut. Dia hanya merasa gugup.

“Tapi kau tidak harus memakai selimut, bukan?” Kini Xiumin terkekeh sambil menyandarkan pundak kanannya di daun pintu kamar Janny.

“Haish, ini apartemenku. Semua terserah padaku… aahh…”

Senyuman jahil di bibir Xiumin tenggelam ketika mendengar suara aneh itu. Apalagi keluar dari bibir Janny Kim. Mata sipitnya menatap gadis itu yang terlihat tengah menepuk sesuatu di dalam sana. Bibirnya mengeluarkan seringaian.

“Janny? Ada apa? Desahanmu benar-benar membuatku hidup, kau tahu?” tanya Xiumin sambil berjalan perlahan masuk ke dalam kamar Janny.

Janny terkesiap dan keluar dari dalam selimut. “YA! OPPA!! Sebaiknya kau pulang saja. Aku antar sampai pintu keluar..”

Xiumin tertawa sangat keras dengan punggungnya yang kini tengah didorong kuat oleh Janny. Yeoja itu benar-benar aneh, pikirnya.

Dengan kesabaran yang sangat tinggi, akhirnya Janny berhasil membuat Xiumin cepat meninggalkan apartemennya.

Kini kakinya melangkah sangat cepat dan tidak sabar menuju kamarnya. Kedua tangan mungil namun kuatnya telah disiapkan untuk menghajar makhluk itu.

Kekuatannya hilang ketika melihat keadaan kamar yang sudah rapi dan bersih seperti tidak pernah tersentuh sebelumnya. Ini benar-benar keren.

Janny masih tetap terkesiap seperti itu sampai akhirnya sosok Luhan keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan berbeda dari sebelumnya.

Tuxedo hitamnya sudah terbuka dan tersampai di pundak kirinya. Sedangkan kini dia memakai kemeja putih dengan keadaan semua kancing terbuka lalu celana yang tetap.

Rambut yang tidak beraturan yang dimiliki namja itu berhasil membuat Janny kehilangan daratan beberapa detik. Seksi. Apalagi dengan abs itu….

“Ah, Jane. Mengapa badanku terasa sangat gatal? Owch!” Luhan menggaruk dadanya yang  sudah memerah. Sejak kapan dia menggaruki tubunya brutal seperti itu?

Dengan perlahan Janny mengubah mimik wajahnya sedatar mungkin. Bagaimana bisa sebelum ini Luhan terlihat sangat seksi. Lalu kini namja itu menggaruki seluruh tubuhnya layak monkey -_-

“Haish, bukankah kau malaikat? Bagaimana bisa kau terlihat sangat mengkhawatirkan seperti ini?!”

Luhan tersenyum  manis. “My baby Jane, sekarang aku sudah menjadi manusia seutuhnya. Jika aku terlalu sering mengubah wujudku sebagai malaikat, guardian angel yang berkeliaran di dunia ini akan menemukanku. Aaah, gatal!!”

“Maksudmu? Memang jika mereka menemukanmu apa yang akan terjadi?”

“Jane, aku berjanji aku akan menceritakan semua padamu but please, what should I do?! My body feels so damn itchy, aaarrgghh!!” Luhan meringis dengan berlebihan. Entah mengapa Jane ingin menangis terbahak melihatnya. -_-

“Kau harus membersihkan tubuhmu! Kau harus mandi!” teriak Janny dengan menahan kesabaran. Kedua tangannya tetap terkepal kuat.

Luhan terdiam cukup lama. Janny mengangkat sebelah alisnya. “Aaaah, aku tidak tahu bagaimana cara mandi, Jane..”

“How caaan?! Aku kira kau tahu segala macam kegiatan manusia beserta cara mengerjakannya dari atas sana. Jangan mencoba untuk terlihat polos, Luhan!”

“Aaah, Jane, aku tidak berbohong padamu. Aku bukan guardian angel yang selalu mengikuti kemanapun manusia pergi. Aku…”

“Hm?”

Luhan kehilangan kata-kata. Tapi akhirnya.. “Aaaahh, gataaal!!! Bantu aku mandiii!!”

“Bukankah kau selalu bersamaku ketika aku berada di kamar mandi? Haish!” Janny menatap sinis pada Luhan lalu berjalan dengan cepat keluar kamar dan berniat untuk membuat ramen.

“Kalau begitu berikan aku film pendek bagaimana para manusia melakukan ritual yang disebut ‘mandi’ itu dari internet!” teriak Luhan dari dalam.

Janny menarik napas dalam dan panjang. ‘Apa aku harus memberinya blue film?’

“Apa itu? Terdengar keren! Berikan padaku!”

Janny menepuk jidatnya. Dia lupa bahwa Luhan dapat mendengar semua yang dia katakan dari hatinya. Haft..

*

Beberapa waktu kemudian Janny memberikan Luhan video seorang ibu yang sedang memandikan bayinya. Untung saja koneksi internet di Korea sangat cepat. No buffer.

Dan setelah Luhan berhasil membersihkan tubuhnya, Janny memberinya pinjaman baju milik Xiumin yang selalu berada di dalam lemarinya untuk sekedar dalam keadaan urgent.

Maafkan aku, Xiu oppa. Aku memberikan pakaianmu untuk makhluk sok polos ini, bisik Janny di hatinya.

“Waw! Ini benar-benar nyaman, Jane!”

“Tentu saja. Xiu oppa tidak pernah membeli baju di bawah harga medium,” jawab Janny sambil menutup lemarinya dan menoleh ke arah Luhan yang tengah berkaca di depan cermin. Dia seperti anak kecil.

“Sepertinya kau sangat dekat dengan manusia itu..”

“Tentu saja. Semua sudah jelas. Tidak ada yang perlu kau tanyakan lagi, bukan?”

“Thanks, Jane. Uhm, hei. Mengapa kau tidak melakukan itu padaku? Seperti wanita tadi di video yang kita tonton,” tanya Luhan dengan pandangan menatap Janny melewati cermin. “Yang aku lakukan hanya diam dan sepertinya itu menarik!”

Janny tidak menyadari kini wajahnya memerah seketika. Sebenarnya apa yang makhluk itu pikirkan?! “Kau bukan seorang bayi lagi, Xi Luhan! Dan yang terpenting aku bukan ibumu!!” jawab Janny dengan teriakan kesal.

Luhan tersenyum polos sambil mengangguk. “Oh.. internet sangat menakjubkan. Sesuatu yang pertama aku kenal dan pelajari saat mendarat di bumi. Kau benar-benar membantu, Jane. Dan Internet..” lanjut Luhan sambil menatap laptop Janny dari kejauhan.

Janny hanya mendengus. “Apa kau lapar?”

“Tentu saja! Aku butuh makan. Hm, bernapas, berkedip, menutup mata, makan, minum dan satu hal yang baru itu. Mandi. Sepertinya semua itu terjadi setiap hari. Aku berjanji aku akan cepat beradaptasi,” ucap Luhan sambil tersenyum bahagia. Menjadi manusia sangatlah menyenangkan. Meskipun dirinya harus mempelajari hal baru, tapi dirinya senang karena tidak diperlakukan seperti di kerajaan dan mempunyai tanggung jawab besar.

“Terserah. Aku mandi dulu..” Jane melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

“Ah, ya, bagaimana jika lain kali kita mandi bersama? Sepertinya menarik..” ucap Luhan masih dengan senyuman polos.

“YA!!”

“Ada apa?”

“Bukannya ada apa! Kau yang kenapa!! HAISH! Kau menyebalkan, Luhan!” bentak Janny sambil berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi.

Luhan hanya berdiri mematung. “Apa aku mengucapkan sesuatu yang salah? Tuhan, katakan padaku..”

*

Malam pun tiba. Janny tengah sibuk dengan pasta dan segala macam bahan makanan untuk disantap malam ini.

Bagaimana dengan Luhan? Dia tengah menonton acara drama di televisi. Sangat serius sampai kedua alisnya mengerut cukup dalam. Ya, dirinya berusaha menyimpan semua adegan romantis itu di dalam otaknya.

Janny berjalan ke arah lemari piring yang menempel di tembok, atas stove. “Haish, piring lebar ini. Mengapa tersimpan paling bawah? Sulit sekali. Ugh..” Janny berusaha mengambil piring yang dia butuhkan di bawah tumpukkan piring lain.

Sedikit lagi. Ujung kakinya berusaha menopang berat badan tubuhnya agar tetap seimbang, agar tidak terjatuh. Tapi ternyata, itu semua tidak berhasil. Ketika dirinya mendapatkan piring itu, badannya oleng. Akhirnya..

PRANG!!

Kini piring itu menjadi serpihan yang tersebar di atas lantai. “Aaah, Janny, kau memang payah..” gumamnya pada dirinya sendiri sambil mengumpulkan serpihan piring.

Luhan yang mendengar itu langsung saja berlari menghampiri Janny. Ketika dirinya berusaha menolong Janny dan berjongkok di sampingnya, tiba-tiba Janny berdiri menggeser ke arah Luhan dan itu membuat Luhan kembali berdiri sambil melingkarkan tangan kanannya di pinggang Janny secara tidak sadar.

“Apa kau baik-baik saja, Jane?” tanya Luhan dengan suara lembutnya.

Janny memutar kepalanya ke arah Luhan. Kini kedua mata mereka saling menatap dalam. Jantungnya tidak dapat berdetak dengan normal.

Dengan perlahan Janny menatap lengan Luhan yang tengah melingkar di pinggangnya. Itu membuat sebagian rambutnya terurai ke depan. Wangi rambutnya benar-benar menggoda dan tercium jelas oleh Luhan.

Kini Luhan menutup matanya dan mencium harum rambut Janny lebih jelas dari atas turun ke bawah. Janny yang menyadari itu langsung berbalik dan membuat jarak wajah diantara mereka sangat dekat. Langsung saja Janny mendorong dada namja itu pelan. “Pervert..” Lalu meninggalkan Luhan seorang diri di sana.

Luhan terdiam. Matanya sama sekali tidak berkedip. “Tunggu. Aku tidak mengerti. Apa yang terjadi dengan dadaku? Mengapa terasa sesak dan sepertinya… benda yang berdetak ini.. tidak biasanya berdebar sangat cepat.”

Luhan berjongkok dan mengumpulkan pecahan beling itu sambil melamun. ‘Hey, aku menyukai bau rambutnya itu. Membuatku.. hm, aneh. Yang tadi aku rasakan itu semacam apa? Apa itu yang disebut dengan… nafsu?’

“AWW!!” Tidak sadar Luhan menggenggam tangannya yang tengah memegang satu pecahan beling. Kini telapak tangannya terluka dan darah pun keluar. Hey, bukan darah. Melainkan cairan berwarna biru pekat yang keluar. Bagaimanapun juga Luhan bukan seorang manusia, bukan?

Janny kembali dengan membawa sapu kecil beserta serok di tangannya. Matanya terbelalak melihat cairan aneh yang keluar dari telapak tangan Luhan dan berceceran si atas lantai. Terlihat menyeramkan.

“Luhan! Kau kenapa?!” Janny berjongkok dan memegang jemari tangan kanan Luhan dengan hati-hati sambil meringis. “Kau terluka?”

Luhan terdiam. Tidak menjawab. Matanya tetap menatap Janny dengan penuh arti.

“Jawab aku!” sentak Janny. Wajahnya benar-benar terlihat sangat khawatir. Secuek apapun kepribadiannya, Janny paling tidak suka jika seseorang yang berada dengannya terluka.

“Ya, aku terluka dan ini terasa sangat sakit..” jawab Luhan sambil tersenyum manis ke arah Janny.

“Kau berbohong!” ucap Janny sambil melepaskan tangannya dari jemari Luhan. “Kau mengatakan ini terasa sangat sakit tapi kau masih bisa tersenyum? Weirdo..”

“Aku tidak berbohong. Ini perih, baby Jane.” Luhan menggigit bibir bawahnya sambil melihat cairan biru pekat yang terus keluar dari telapak tangannya.

Janny mendengus keras dan bangkit untuk mengambil box obat-obatan. Dan ketika dia kembali..

“Hah?”

“Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba luka ini hilang dengan sendirinya.” Luhan bangkit dan mengambil box dari tangan Janny. “Semua pecahannya sudah kubersihkan dan piring yang kaubutuhkan sudah kusimpan di sana. Biarkan aku yang menyimpan ini. Kau bisa kembali memasak.” Ucap Luhan sambil berlalu.

Janny masih tidak dapat berpikir jernih.

*

BRUG!!

“Sial..” umpat Kris setelah memukul meja makan yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi itu. “Kau tidak berbohong, bukan?” tanya Kris dengan nada sentakkan di dalamnya. Selalu seperti itu. Tidak pernah dia berkata lembut. Apalagi pada bawahannya.

“Hamba tidak berbohong, Tuan..” ucap pelayan sambil terus menundukkan  kepalanya dengan rendah.

“Haish.. kau boleh kembali.” Kris bangkit dari duduknya lalu memakai mantel hitam cukup lebar. Beberapa detik kemudian sosoknya menghilang.

Kini mata tajamnya tengah melihat sosok Janny yang tengah tertidur pulas di dalam selimut sana. Kris berjalan perlahan mendekati Janny dan duduk di sampingnya.

Bibirnya membentuk satu seringaian yang dapat membuat bulu kuduk merinding. Matanya tetap menatap Janny secara rinci. Lekukan dari dahi ke hidung lalu turun ke mulut dan dagu. Sempurna. Janny sangat cantik.

Kris mengangkat tangannya dan mengelus rambut Janny perlahan. Sosok Kris masih tidak sepenuhnya manusia. Hanya berapa puluh persen dari seratus. Masih belum bisa melepas kekuatan?

Tidak seperti Luhan yang benar-benar ingin menjadi manusia dan lebih dekat dengan Janny.

Napas Kris yang tergolong cukup panas itu benar-benar mengganggu tidur Janny. Yeoja itu bergidik beberapa saat, membuka sedikit matanya lalu terperanjat. “Aaaaaakkk!!!” teriak Janny yang seperti biasa sangat menggelegar.

Terdengar langkah kaki semakin mendekat dan pintu terbuka. Luhan. Namja itu berjalan cepat menghampiri Janny, memastikan semuanya baik-baik saja.

“Ada apa, baby Jane?” tanya Luhan yang terlihat sangat cemas. Ya, perhatiannya pada Janny memang sangat berlebih.

“Kau jangan pura-pura tidak tahu! Kau yang menggangguku, bukan?!” sentak Janny dengan mata tertutup. Janny bukan tipe orang yang mudah terbangun seperti itu.

“Mengganggu? Aku tidur di sofa, aku berani bersumpah.”

“Haish, kau menyebalkan, Luhan!”

Janny yang masih tidak dapat membuka mata mencoba untuk turun dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamar. Luhan hanya mengikutinya di belakang. Tepat di belakang Janny.

“Huaa!” Janny yang kehilangan keseimbangan terselamatkan oleh Luhan yang cepat menangkap tubuhnya.

“Masih pukul dua malam. Kau sebaiknya kembali tidur,” ucap Luhan dengan suara lembutnya. Janny merasakan kenyamanan di sana. Tapi Janny cepat tersadar dan melepaskan pelukan Luhan. ‘Dia penyihir. Pasti mempunyai kekuatan aneh.”

Namun Luhan merasakan yang berbeda. Bibirnya mengeluarkan senyuman kemenangan ketika punggungnya merasakan panas beberapa detik.

Akhirnya Janny, yang masih merasakan kantuk berat, kembali tidur di kamarnya. “Luhan..”

“Hm?” Luhan yang tengah berniat meninggalkan Janny, kembali membalikkan tubuhnya.

“Aku takut.” Jane menatap Luhan dengan datar. Seperti biasanya. Apakah ekspresi takut seperti itu?

Luhan tersenyum. “Tidurlah dengan nyenyak, Baby. Aku tidak akan tidur.”

Tidak lama Janny kembali menutup matanya.

“Elathan, aku tahu kau berada di sini..” bisik Luhan sambil berjalan ke ruang tamu. Bibirnya tersenyum ketika menemukan sosok Kris yang tengah mengerutkan keningnya sangat dalam. Luhan duduk di atas sofa, menyilangkan kakinya layak pangeran, memang dia pangeran(?). “Ada masalah apa kau datang kemari? Melanggar peraturan, hm?” tanya Luhan sambil menepuk-nepukkan telapak tangan kanannya di atas lutut.

“Aku ingin kita mengubah peraturan yang sudah kita buat, Eldishan..”

Luhan mengerutkan keningnya dan menatap Kris penuh tanya. “Kenapa? Semua sudah tersusun dengan rapi dan adil, bukan?”

“Maka dari itu. Kita terlalu menyusunnya dengan rapi dan adil. Semua akan terasa monoton.”

“Kau berada di lingkungan luarnya dan aku tidak mengganggu. Seharusnya kau begitu. Tapi kau tidak, Elathan. Aku tahu kau selalu datang kemari tiap tengah malam dan mengganggunya ketika mandi. Jangan coba-coba melanggarnya, atau kau tahu konsekuensinya.”

“Lupakan itu semua! Sekarang kita bebas melakukan apapun. Apapun yang kau mau agar kau dapat mendapatkan Janny, begitu pun denganku. Lingkungan kuliah dan teman-temannya. Yang awalnya wilayah kekuasaanku, kau dapat masuk ke dalamnya, Eldishan. Bagaimana?” Kris menjelaskannya dengan semangat menggebu dan terdapat rayuan  yang sangat Luhan kenal.

“Kau cemburu. Jawab ‘ya’.” Luhan terkekeh sambil menutup mulut dengan tangannya yang terkepal.

“Tidak.” Kris mengedarkan pandangannya.

Luhan semakin memperjelas tawanya. “Aku sudah mengenalmu lama sekali, Kris.”

“Just shut up.”

“Baiklah, bagaimanapun peraturannya aku tidak akan kalah darimu.”

Kris mendengus cukup keras. “Baiklah, kita jalankan peraturan ini besok malam.”

“Terserah. Kau akan kembali ke rumahmu?”

“Hm.”

“Pintu keluar di sebelah sana,” tunjuk Luhan.

Kris memutar kedua bola matanya lalu menghilang dengan mudah.

Luhan kembali terkekeh sambil beranjak dari sofa. “Peraturan baru. Sepertinya akan lebih menarik.”

**

Janny mengerutkan keningnya dalam-dalam ketika dirinya merasakan hembusan napas lembut di wajahnya juga usapan di rambutnya. Dengan perlahan Janny membuka matanya.

“YAAAKK!!!!”

Luhan segera mengambil langkah mundur sambil menutup telinganya. “Kau kenapa, Jane?” tanya Luhan panik. “Apa kau baik-baik saja? Kau tidak  terluka?”

“Kau!! MESUM!!! Huaaaa!!” Janny menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sampai Luhan tidak dapat melihat ujung rambut Janny.

“Mesum? Aku tidak mengerti.” Luhan duduk di pinggir tempat tidur Janny. “Mengapa kau berteriak histeris seperti tadi? Seharusnya kau tersenyum padaku, baby Jane!”

Kini Janny menampakkan potongan kepalanya(?) dari dalam selimut. “Kau gila! Tidak akan ada yeoja yang tersenyum jika kau melakukan itu!!”

“Ada..”

“Siapa?!”

“Yeoja yang kemarin aku lihat di televisi.”

Janny melempar selimutnya pada Luhan. “Dengarkan aku. Kau bisa melakukan itu jika hubunganmu dengan seorang yeoja sudah sangat dekat dan kalian saling mencintai! Tidak seperti kita! Kau yang selalu berpura-pura polos padaku dan aku yang kesal karena kebohonganmu!” Janny mengambil napas panjang sambil menatap Luhan garang. “Jangan pernah melakukan itu lagi. Aku tidak suka..”

“Aku mencintaimu.”

“Hm?” Janny terkejut dengan kata-kata yang terucap dari mulut Luhan yang terdengar cukup tegas. Dan itu sukses membuat jantung Janny berdegup kencang. Sangat kencang. Sudah lama sekali dia tidak mendengar ucapan itu dari mulut seorang namja.

“Aku mencintaimu, Janny. Dan aku akan mengatakan itu setiap detik jika kau mau,” jawab Luhan sambil tersenyum penuh arti pada Janny. Mata birunya menyorot mata Janny dengan lembut dan Janny benar-benar terpesona karena keindahan matanya.

“Luhan…”

Dengan perlahan Luhan meraih pergelangan tangan Janny, mencium kedua punggung tangan yeoja itu bergantian lalu tersenyum lebar. “Selamat pagi.”

Dengan susah payah akhirnya Janny berhasil kembali ke alam sadarnya(?). Keningnya mengerut dalam dan melepaskan genggaman tangan Luhan.

“Kau kenapa?” tanya Janny.

“Bagaimana? Aku hebat sekali, bukan? Haha! Itu yang kulihat di film yang kutonton kemarin. Dan sepertinya itu berhasil!” seru Luhan seperti biasa dengan wajah tidak berdosa.

Janny benar-benar kesal melihat tingkah makhluk aneh di depannya. Seketika wajahnya memerah dan memanas. “Jadi kau meniru semua adegan yang kaulihat di film?”

“Ya.”

“Haish!! Kau dilarang melihat film seperti itu!!” teriak Janny sambil memukul lengan Luhan sembarang. Dia benar-benar menyebalkan! Bisa-bisanya mempermainkanku! :(

Luhan membelalakkan matanya. “Wae?”

“Kau dibawah umur!!” jawab Janny sekenanya. Dia malas mencari jawaban lain.

Kali ini Luhan terdiam. Berpikir. “Jadi aku tidak boleh melakukan apa yang mereka lakukan?”

Janny mengangguk.

“Bahkan menyentuh?”

Janny mengangguk kembali.

“Kapan aku boleh melakukannya?”

“Jika umurmu sudah mencapai lima puluh tahun!”

“Tapi umurku sudah seratus tiga puluh tiga tahun,” ucap Luhan. Kini bibirnya kembali tersenyum.

Giliran Janny yang terbelalak. “Tapi umurku baru saja delapan belas!”

Luhan mengeluarkan seringaian. “Jadi kau tidak sabar ingin aku melakukannya padamu?”

“BUKAN BEGITU!!!!!”

._.

“Okay..” Akhirnya Luhan menyerah. Menutup mulutnya dengan rapat. Menatap Janny dengan mata terbuka lebar. Shocked.

Janny membuang napas yang telah dihirupnya dalam-dalam. Menenangkan mental, eh? Haha.

“Keluar dari kamarku. Aku harus mandi.”

Luhan mengerucutkan bibirnya. “Tapi baby Jane, aku lapar. Buatkan aku creamsoup juseyo,” pinta Luhan dengan puppy eyesnya. Entah mengapa Janny  luluh(?) melihatnya. Luhan sangat tampan dan lucu layak anak kecil. Tidak hanya wajahnya saja. Tapi kelakuannya. Ya.

Dan Janny merindukan moment di mana seseorang bersikap manja padanya.

*

“Tidak perlu, Luhan! Kau bisa mengantarku sampai di sini! Berikan kunci mobilnya padaku!” teriak Janny yang tertahan di tenggorokannya. Dia takut orang-orang apartemen berpikiran buruk padanya. Janny adalah yeoja yang pendiam. Tiba-tiba menjadi sangar seperti ini? Gawat, bukan?

“Baby Jane, dengarkan aku..” Luhan memegang pundak Janny sambil tersenyum. “Hari ini aku akan terus bersamamu. Kampus, pemotretan, makan siang, segalanya!” Luhan tertawa kecil di akhir. Dia pikir ini semua akan menyenangkan. Seharian bersama Jane? Ya!

“Mwo?!” Jane meringis aneh mendengarnya.

“Jangan sampai kau terlambat! Kajja!” Luhan membuka pintu penumpang untuk Janny. Dengan sedikit kebingungan Janny akhirnya masuk dan Luhan membantunya untuk menutup pintu.

Luhan berlari kecil menuju pintu kemudi sambil merasakan dadanya berdebar keras. Janny akan terus bersamaku hari ini! Yess! Haha.

Janny terkesiap melihat Luhan yang sudah lihai mengendarai mobil. Bagaimana bisa? Bukankah dia seorang makhluk aneh? Cara mandi pun tidak bisa! Haish, aku benar-benar dibodohi!

“Aku menyukai games ini, Jane!” seru Luhan.

“Games?”

“Ya! Aku sudah membongkar segalanya di dalam komputermu. Banyak sekali games car di sana. Dan sekarang aku mengemudikannya secara langsung! Ini hebat!”

Janny menelan ludahnya dan dia baru menyadari. Ya, Janny menyimpan banyak simulasi mengendarai mobil dan games yang tidak terhitung. Haft.

“Luhan, kumohon, di lampu merah berikutnya kau berhenti dan biarkan aku mengemudi sendiri ke kampus. Kau boleh pulang dan bermain semua games di komputerku.” Akhirnya Janny dapat menurunkan volume suaranya ketika berbicara dengan Luhan.

“Aku sudah mencetak high score di semua games komputermu.”

“Jadi apa yang belum kau kuasai?”

“Drama. Atau sinetron? Haha. Hmm atau mungkin sesuatu yang waktu itu kau katakan. Blue film!”

“YA!!”

“Wuah!” Luhan ikut tersentak mendengar Janny tiba-tiba teriak seperti kerasukan. “Kau kenapa lagi, Jane? Kau selalu mengagetkanku dengan cara itu,” komentar Luhan sambil sesekali melirik ke arah Janny dan kembali ke arah jalan.

“Sudah kukatakan kau masih di bawah umur!” Janny kembali merengut.

Luhan hanya tersenyum sambil mengacak rambut Janny pelan.

DEG!!

Tidak sengaja Janny menatap wajah Luhan dan melihat senyuman itu meskipun hanya beberapa detik. Wajahnya tiba-tiba memerah. Apalagi ketika Luhan mengacak rambutnya. Wajahnya semakin panas! Sial. Ada apa denganku?

Luhan menginjak pedal rem ketika lampu merah menyala. Tidak ada diskusi lagi diantara mereka. Dan sepertinya Janny sudah menyerah untuk meminta Luhan kembali.

Kedua mata Janny kembali bertatapan dengan sepasang mata tajam yang tengah balas menatapnya.

Luhan melirik ke arah Janny lalu memutar kepalanya ke arah yang tengah Janny lihat. Luhan berdecak sedikit kesal. Mengapa makhluk itu harus muncul. Matanya kembali melihat lampu yang masih berwarna merah.

“Sepertinya dia namja yang tidak baik, Jane.” Luhan membuka kembali percakapan dengan nada malas.

Janny tidak juga menggubris perkataan Luhan yang sebenarnya tidak sama sekali dia dengar. Sampai akhirnya Kris memasuki mobilnya. Janny kembali tersadar.

“Fuuh~”

“Kau menyukainya?”

Janny menoleh ke arah Luhan yang kini sudah berkonsentrasi dengan kemudinya. “Hm, tidak. Aku tidak menyukainya.”

“Jangan berbohong.”

“Aku tidak berbohong.”

“Aku bisa melihatnya ketika kau menatap namja itu.”

“Luhan, dia seniorku, kelas photograph, teman satu kelas Xiu oppa. Bahkan aku belum pernah berbincang dengannya. Mana mungkin aku bisa menyukainya secepat itu.”

“Bisa saja bukan. Semua orang melihat dari fisik lebih dulu.”

“Memang, tapi aku tidak!”

“Aku tidak percaya.”

“Luhan, ada apa denganmu?!!”

“Ada apa denganku? Kau tidak dapat melihatnya?”

“Katakan padaku!”

“Aku cemburu…”

Janny terdiam sejenak lalu meluruskan posisi duduknya, membuang wajah ke arah  kaca. Jantungnya kembali berdebar. Apa yang sebenarnya ia rasakan? Luhan tidak sedang memperagakan adegan sinetron lagi, bukan?

Dan percakapan tadi. Janny baru menyadari. Dirinya dan Luhan seperti sepasang kekasih yang sedang berdebat. Hmm.

“Maafkan aku.” Entah mengapa Janny mengucapkan kata itu secara tidak sadar.

“Jangan meminta maaf. Lebih baik kau tunjukkan kemana jalan menuju kampusmu, Jane. Sepertinya kita tersesat.”

Janny kembali memasang wajah datarnya -________________-

TBC ;]

74 thoughts on “ARCHDANGEL [ CHAP 3 ]

  1. waaaaaa lanjuuuuuttttttt!!!!!! ini ff aku tungguin dr taun gajah thor tp baru rilis sekarang…
    thor knp electric gak di terusin?pdhal suka bgt sm electric thorrr…..
    thor itu cara dapetin pw ff yg diprotec gimana ya thor?ff km keren2 thorrr….bikin selalu nempel diotak!!semangat thorrrr<3

    • aaaa maaf maaf huaaaa sempet ngestuck >< malah kayanya ini chap gagal huaaa :"""
      electric, authornya lagi sibuuuk itu adik aku yang bikin, shin heesa. wkwk
      ahaha mention aja @dearaflames ya, itu twitter aku x3
      adoh adoh makasih yaaa /.\
      iya semangaaaaat XD

  2. hahahhaa kocakk >.<
    luhanniee kamu ko polos sih (?) /_\
    kris juga ngapain ngintip2 janny -,-
    haduh
    kurang panjang nih thorr
    lanjut eaa
    oyathor lanjutinn dong yg electric ??
    seru bangett padahal'
    tp yg ini juga seruu koo (y)

  3. Kyaaaa…akhirny release jga nie part y ampun chingu..menunggumu itu bnr2 membuatku kesepian(?) Bnr2 ska nie sm ff..haduhh…komediny seru huaaaa next part chingu d tunggu komedy romantisny..huaaaa luhan ku…bocah sekali kau…wkwkkwkww

  4. huwaaaaa, keluar chapter 3 nyaaaaa yaaaaayyyy *narinari
    ngebayangin luhan yang mukanya baby gitu, tingkahnya se-innocent itu, gak kuuuaaaaat *mati
    lanjut yaaaa, semangaaaaat \(^0^)/

  5. Heung :| akhirnya muncul juga kelanjutannya-_- ini udah aku tungguu lama banget;;_;;)/ , btw coment sebelumnya masuk gk tuh? :/ *abaikan* . Bagus loo thor lanjut yaa jangan lama2 :P , FF yg electric juga :* .
    Oh ya itu pw password ff mintanya ke twitter author kah? Lewat dm? Heung oke ..-.. . NICE FF THOR KEEP WRITING ! ^^

  6. wah part ini plg gokil… luhan disatu sisi polos disatu sisi romantis wkkk. lanjut thor.. btw ff yg satunyw yg diprotect ff exo?

  7. wah aku baru sadar ini udah update eon, hihi.
    huaaaaaaaaaaaaah Luhan nakal ah! minat mandi bareng >//<
    sama aku ajaaaaa, aku mau kok~ kkkk

    wah semakin seru nih, Kris dan Luhan jadi bisa ngerebutin Jane yg kaya drama2 lain, weheh.
    eon kok Kris blm jadi manusia seutuhnya sih? ih ngga adil, masa dia bisa liat Jane mandi gitu? -,-

    ayoooo perbanyak adegan so sweetnya Jane-Luhan ya eon! hohoho
    next chap jgn lama2 yuaaaaaaaaaaaahhhh :33
    FIGHTING EON!

  8. Lamaaaaa, , , ,
    tpi ga ap lah, ,
    part ini MEMUASKAN
    luhan ko aga” o’on gtu ya? ^,^ v. . .tapi tetep imut ko kya marmut. . hehe
    electric nya kapan lanjut nih?
    Shinee ff kpan bangkit(?) lagi?

  9. uuwwaa..
    akhirnya lanjut jg ffnya,,
    udh lama bgt nunggu
    tp keren abiz critanya.
    yg electric buruan dilanjutin ya ga sbar sm kelanjutan critanya
    hehe.. :)

  10. Kocak, thor! :D
    Tp kok bagian’na kris agak dkit ya? :/
    Next chap d banyak’in ya, thor.
    Hehehe :D

    Akhir kata, N.E.X.T!!! :D

  11. authoor *-*
    ahh ff nya seru banget dgn alur cerita yg sangat teratur wkwk
    aku suka karakter luhan disitu kkk lanjutkan thor :’

    kutunggu yaaa

  12. Lama bnget ngepostnyaa thorr..
    nunggunya ampee bulukann.. T______T
    bolakbalik blog ini tetep aja blum keluar FFnya..
    yg electric dong thor.. sumpah pnasarannn, pke bnget….

    kalo mau minta PW dmana ya thorr?? gmanaa maksudnyaa.. :D

  13. Aaaaaaaa>//< #blushing
    Lamaa banget di rilisnya:( lamaaa banget nunggunya thorr
    Next chap yaa thor;) ditunggu loo;) secepatnyaa^^
    Electricnya jugaa donggg~

  14. demi tuhan ini seru thor FF nya! jujur aku gak suka exo tapi entar kenapa aku suka banget sama ini FF -__- daebak! ditunggu part selanjutnya ya thorr!!

  15. Lgi romantis2nya luhan mlah bkin nyasar
    Ige mwoyaaa -_______________-
    Lucuuuu…sukaa crtnyaaa
    Pnsran mrk knp smp trin kbumi?
    Bikin taruhan kahh??

  16. waaaaa….daebak!! suka sama ffnya. ya ampun luhan sumpah polosnya cetar bgt… bakalan tambah seru ini, kris sama taonya blom bnyak ditongolin soalnya.. klo udh pda mncul mantap lha ini…..laynya sring2 jg munculin ya…. hahahaha…

  17. Aduh emang ya luhan itu minta dibawa pulang banget. Dia imut banget. Mau dong punya guardian angel kaya’ dia satu. Ekwk. Dilanjut thor~

  18. kocak banget ya ampun..
    luhan sungguh sungguh polos, mandi aja pake minta di ajarin -_-
    kayanya aku baru tau deh sikap xiumin oppa juga sedikit pervert, apalagi pas bilang “desahanmu membuatku hidup….” aku sukaaa xiumin seperti itu haha =D
    oh ya, chapter selanjutnya mana ya? ko baru sampai part 3?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s