ELECTRIC [CHAP 13]

ELECTRIC

 tumblr_m1u77zBbge1r8i9eq1

Author: Shin Heesa

Cast:

  • EXO
  • Kim Heesa

Disclaim: Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Ps:

  • Don’t be silent reader
  • Don’t copy – paste my imaginations!!

Last chapter..

Ia melepas bekapan Heesa kemudian melingkarkan tangannya dipinggang telanjang Heesa, dan kini tangannya dapat menyentuh sebagian perut Heesa yang rata. Luhan merapatkan jarak antaranya dengan Heesa, tangannya yang lain memegang dagu Heesa agar ia tidak bisa mengelak dari jeratnya, kemudian namja itu mengeluarkan senyumnya yang mematikan..

[Author POV]

Heesa tentu saja memberontak dengan sekuat tenaganya. Ia mendorong dada Luhan dengan tenaga yang ia miliki. Namun percuma, Luhan tentu saja mempunyai kekuatan yang lebih dari Heesa, sehingga yeoja itu tidak akan mudah lepas darinya.

Detik kemudian, Luhan menggenggam tangan Heesa dan membawanya ke pinggir kolam renang, dimana disana ada tanaman yang cukup untuk menghalangi keberadaan mereka berdua. Luhan menarik Heesa ke permukaan, membiarkan yeoja itu mengambil napas sebanyak-banyaknya.

Heesa menatap Luhan tajam. “Kau hampir membunuhku!” bisik Heesa kasar. Luhan hanya mengerlingkan matanya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Luhan sambil menyandarkan punggungnya dipinggiran kolam renang.

“Apa pedulimu?” ucap Heesa sambil memasang mimik menyebalkan. Luhan mendengus kasar.

“Aku tidak peduli padamu.”

“Kalau begitu pergilah. Tinggalkan aku sendiri.”

“Aku pergi, dan aku akan memberitahu mereka..”

“Jangan! Please, Luhan..”

“Mengapa?”

“Aku hanya.. tidak ingin mendapatkan tugas..”

Namun Luhan tidak menghiraukan ucapan Heesa. Namja itu bersiap naik untuk keluar dari kolam renang. Heesa bingung harus berbuat apa, sehingga ia hanya mempunyai pikiran yang pendek saat ini..

Heesa menarik kaki Luhan sekaligus dan membuat namja itu jatuh ke dalam kolam renang kembali. Parahnya, kini ia menimpa Heesa dan membuat yeoja itu berada dibawahnya. Mereka berdua tenggelam hampir ke dasar.

Heesa menjulurkan tangannya panik, kemudian menarik pundak Luhan agar ia tidak terlalu tenggelam. Tetapi yang terjadi adalah Luhan tertarik oleh Heesa sehingga tubuh mereka merapat kembali.

Mata mereka bertatapan lurus, seolah saling menyampaikan sesuatu yang selama ini belum tersampaikan satu sama lain. Kini perasaan mereka meluap, perasaan rindu yang teredam akhir-akhir ini..

Dengan perlahan Luhan menyusupkan jari-jarinya dibelakang kepala Heesa, mengelus tengkuknya perlahan. Heesa menggigit bibirnya kemudian menundukkan matanya yang sayu.. seolah mereka tidak peduli lagi pada napas mereka. Seolah mereka rela mati saat itu juga hanya untuk menyampaikan perasaan satu sama lain. God..

Namun sebelum semua itu terjadi, Heesa segera melepaskan diri dari Luhan dan berenang ke pinggir kolam. Dengan ceat Heesa keluar dari kolam renang kemudian mengambil handuk dan ikat rambutnya dan berjalan menuju halaman belakang.

Luhan hanya mampu mendengus kasar.

*

“Ah, Heesa! Kau.. darimana saja.. haish pakai dulu handukmu!” racau Dio karena salah tingkah melihat Heesa hanya memakai bikini. Heesa menjulurkan lidahnya.

“Biasa saja, Dio. Bukankah kau selalu melihat seperti ini di internet,” ucap Heesa disusul dengan tawa renyahnya. Dio hanya berdecak kesal.

“Yasudah cepat masuk dan ganti pakaianmu,” ucap Dio sambil berkonsentrasi kembali pada panggangannya. Heesa memamerkan giginya yang berderet rapi.

“Arasso.”

Heesa berjalan masuk ke dalam rumah. Ia melihat ke arah dapur dan disana ada Baekhyun dan Kai tengah berbincang sambil mengerjakan tugas mereka.

Diam-diam Heesa tertawa kecil sambil berjalan mengendap menuju kamar. Memang tidak ada satupun dari mereka berdua tidak menyadari ketika Heesa lewat begitu saja melewati dapur, namun Kai menyadari kehadirannya ketika yeoja itu masuk ke dalam kamar. Tentu saja Kai sedikit terkejut karena yeoja itu sangat mencolok dengan bikini biru tua yang ia pakai.

Kai segera menyimpan pisaunya kemudian mencuci tangannya. Entah mengapa ia hanya ingin menghampiri Heesa dan mempunyai sedikit perbincangan dengannya.

“Kai? Kau sudah selesai?” tanya Baekhyun. Kai menggeleng.

“Belum. Aku hanya ingin ke kamar sebentar,” ucap Kai sambil mengeringkan tangannya dengan lap bersih. Setelah selesai ia menyimpan lap itu kembali.

“Okay,” balas Baekhyun. Kai tersenyum singkat kemudian menepuk pundak Baekhyun sambil berlalu meninggalkannya menuju kamar yang dimasuki oleh Heesa beberapa menit yang lalu.

Setelah di depan pintu, tanpa mengetuknya Kai langsung melesak masuk kemudian menutup pintunya. Dan ketika ia membalikkan badannya, terlihat disana Heesa tengah membaringkan badannya frontal di atas ranjang –maksudnya dengan pakaian renangnya yang belum ia ganti, dan ia tidak menutupnya sama sekali.

Kai menelan ludah.

Heesa yang baru saja menyadari kehadiran Kai, ia segera mengambil baju handuk kemudian menutup badannya. Napasnya sedikit terengah karena terkejut, dan kini Heesa bersiap akan berteriak..

Kai segera menghampiri Heesa kemudian membekap mulutnya. Heesa dengan refleks menggigit telapak tangan Kai, kemudian berangsur menjauh. Kai menggaruk kepalanya kebingungan, sedangkan Heesa tetap berusaha menutup tubuhnya dengan handuk yang terbatas itu.

Kai kini merayap mendekat pada Heesa, tidak berniat untuk melakukan apapun. Sungguh. Namun Heesa berpikir yang tidak-tidak sehingga ia hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat dan berdoa semoga tiba-tiba ada meteor jatuh tepat di atas Kai.

Setelah jarak mereka cukup dekat, Kai tersenyum geli kemudian menarik kaki Heesa sehingga mau tidak mau yeoja itu kini tepat berhadapan dengan Kai.

“Kai.. kumohon.. maafkan aku karena tidak membantu kalian.. tetapi jangan seperti ini.. jangan membuatku tidak berdaya, Kai..”

Kai tertawa geli. Ia mengusap kasar wajah Heesa sehingga membuat yeoja itu mengaduh kecil.

“Yaa~”

Dengan lembut Kai mengambil handuk yang tengah Heesa pakai untuk menutupi tubuhnya. Heesa hendak akan marah karena Kai mengambil handuknya, namun ia terdiam ketika Kai mengeringkan rambutnya dengan handuk itu.

“Luhan sudah datang,” ucap Kai membuka pembicaraan. Heesa mengedipkan matanya kemudian mengangguk kecil.

“Aku tahu,” balas Heesa singkat. Namun kemudian ia menjadi gelisah ketika mengingat kejadian tadi.

Kai yang menyadari raut muka Heesa berubah seratus delapan puluh derajat, kini namja itu mencubit pipi Heesa cukup keras, sehingga Heesa mengaduh sakit berkepanjangan.

“KAI! SAKIIT HENTIKAAN!”

“Ssssh! Hahaha,” Kai melepaskan cubitannya sambil tertawa lepas. Heesa menggerutu kesal sambil mengusap pipinya.

Kai mencapit dagu Heesa, kemudian mendekatkan wajah yeoja itu padanya. “Bersenang-senanglah, Heesa. Aku tidak mau kau murung atau bersedih atau apapun itu.” heesa mengedipkan matanya. “Kau mengerti?”

Heesa menghembuskan napas kecil. “Ara,” jawab Heesa singkat, kemudian tersenyum manis. Kai yang melihat senyum itu terdiam seketika. Sudah lama ia tidak melihat senyumnya yang tulus seperti tadi.

Namun detik kemudian Kai ikut tersenyum. “Baiklah. Kau sebaiknya ganti pakaianmu dulu lalu bergabung bersama kami,” ucap Kai, lalu mencium kening Heesa.

Heesa mengangguk seperti anak kecil. Kai tertawa sambil mengacak rambut Heesa sebelum pergi meninggalkan kamar.

Pintu tertutup. Heesa menarik napas panjang kemudian beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, berniat untuk membersihkan kaporit yang masih menempel ditubuhnya.

**

Semua makanan telah tersedia. Heesa segera berlari ke halaman belakang setelah Kai, Dio, dan Baekhyun meneriakkan namanya agar segera datang dan makan bersama mereka. Dan kini yeoja itu merasa sangat kelaparan.

“YEAAAY! FINALLY~ ah am so hellin’ hungry you know..”

Dio mencibir. “Seenaknya saja kau. Pokoknya setelah ini kau harus mencuci semua ini sendiri.. ah ani! Bersama Luhan. Dia belum bekerja juga.”

“Ya. Dia juga,” sahut Baekhyun.

“Setuju, Luhan juga harus bekerja,” susul Kai akhirnya. Heesa menjilat ujung sumpitnya sambil memandangi mereka satu per satu.

“AAAAH! MOLLA~ sekarang.. hanya makan terlebih dahulu, arasso? Aku lapar..”

Ketiga namja itu tertawa. Luhan yang mendengar ocehan mereka hanya bisa meniupkan asap rokoknya perlahan ke udara bebas di halaman belakang dengan malas. Apakah ia salah mengikuti pesta kecil ini? Entahlah. Hanya saja, Luhan ingin menjawab iya ketika Kai menawarkan pesta kecilnya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi.. maksudnya karena keberadaan Heesa.

Dan bukankah sebelumnya mereka telah bersepakat akan membatalkan pernikahan mereka? Lalu mengapa mereka malah berada disini dan mengadakan pesta?

Oh. Ada sesuatu yang tidak bisa Luhan sangkal. Ia benar-benar tidak bisa lari dari hal itu.

Luhan sangat mencintai Heesa, menyayanginya.. ia tidak ingin kehilangan Heesa. Ia tidak ingin Heesa pergi dari hidupnya. Luhan menginginkan yeoja itu. Sangat.

Luhan tersadar dari pikirannya ketika Dio memanggilnya untuk bergabung bersama mereka. Akhirnya Luhan membuang rokoknya, kemudian menghampiri mereka dengan senyum yang dipaksakan.

*

Kini Kai, Dio, dan Baekhyun tengah berkaraoke ria diruang tengah. Sementara Heesa dan Luhan –dengan terpaksa, harus membersihkan seluruh piring dan gelas yang kotor. Tentu saja, mereka belum bertugas sebelumnya.

Heesa segera membawa gelas-gelas kotor menuju tempat pencuci piring, sedangkan Luhan membawa piring-piring kotor yang jumlahnya.. cukup banyak. Namun Heesa tidak peduli. Biarkan saja, lagipula ia namja.

Heesa memakai sarung tangan karet berwarna merah muda dan menyalakan keran air. Ia mengambil gelas satu per satu dan mencucinya. Sedangkan Luhan, hanya menatapnya datar –ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan karena sarung tangan karet itu hanya ada satu.

Akhirnya namja itu mengeluarkan satu batang rokok, kemudian menyalakannya. Luhan menyesap rokok itu perlahan lalu mengehembuskan asapnya. Heesa yang menghirup asap itu hanya bisa mengeluh.

“Kau merokok lagi,” ucap Heesa ketus. Luhan melirik pada yeoja itu malas.

“Lalu?”

Heesa menghembuskan napasnya sekaligus. “Matikan. Aku merasa tidak nyaman untuk bernapas.”

“Tidak. Lagipula ini tidak terlalu mengganggu menurutku..”

“Atau aku akan pergi dan kau yang mencuci semua ini.”

“Okay. Aku akan menjauh.”

Luhan kini berjalan ke pojok dapur, membuka jendela disana, kemudian melanjutkan kegiatannya kembali yang sempat tertunda. Heesa berdecak kesal, namun akhirnya ia melanjutkan kembali pekerjaannya.

“Aku akan membersihkan semua ini, dan kau yang mengelapnya,” ucap Heesa tanpa melihat pada Luhan. Luhan menjawab ucapan Heesa hanya dengan gumaman pendek.

Satu menit berlalu..

Kemudian tiga puluh detik..

Suasana diantara mereka mulai terasa canggung. Tidak ada satu pun yang memulai pembicaraan. Atau memang mereka tidak ada topik yang harus diperbincangkan? Atau mungkin keduanya sedang tidak ingin saling melontarkan kata-katanya satu sama lain?

Namun kemudian Heesa angkat bicara. “Luhan?”

“Hm?”

Heesa menarik napas panjang. “Kapan kita akan.. membatalkan rencana orangtua kita?”

Luhan menghembuskan asap rokoknya perlahan, mengedipkan matanya lambat, berpikir apa yang harus ia katakan pada Heesa.

“Mmm.. menurutmu?”

Heesa mengerutkan keningnya. “Menurutku?”

Luhan kini beralih menatap yeoja itu. “Ya. Menurutmu.. kapan waktu yang tepat untuk berhadapan dengan mereka?”

Heesa terdiam sejenak. “Entahlah.”

“So am I.”

Heesa menahan napasnya. “Kuharap secepatnya.”

Luhan terdiam. Ia memejamkan matanya sejenak. “Tentu.”

Suasana diantara mereka semakin canggung. Heesa buru-buru membereskan pekerjaannya, kemudian melepaskan sarung tangan karetnya dan menyimpannya kembali pada tempatnya.

“Luhan.. giliranmu.”

Luhan mengangguk malas, kemudian membuang rokoknya keluar jendela setelah yeoja itu pergi dari hadapannya. Dengan terpaksa Luhan mengambil lap dan mulai mengeringkan piring dan gelas itu satu per satu.

*

Setelah lelah bernyanyi dengan hyper active-nya, mereka kini mempunyai acara selanjutnya, yaitu Truth or Dare (Jujur atau Berani).

Dio dan Baekhyun segera membawa tempat tidur lantai untuk lima orang, Kai mengambil lilin, Heesa mengambil beberapa botol soju yang masih utuh dan satu botol yang kosong, dan Luhan menyiapkan meja duduk untuk acara yang akan mereka adakan sebentar lagi.

Dio dan Baekhyun meletakkan tempat tidur lantai itu di atas sofa, Kai segera menyalakan lilin-lilin di atas meja yang telah disiapkan oleh Luhan, Heesa menyimpan botol-botol itu dibawah meja-terkecuali botol yang kosong, ia simpan di atas meja, dan Luhan membenarkan sedikit posisi karpet agar terasa nyaman.

“Kajja,” ucap Baekhyun sambil duduk di samping meja, diikuti oleh Dio, Heesa dan Luhan sehingga kini posisi mereka memutari meja kecil itu.

“Are you ready, Guys?” ucap Kai sambil tersenyum bersemangat, dan dengan cepat ia mematikan seluruh lampu rumah lalu bergabung dengan mereka.

Posisi: Baekhyun – Dio – Kai – Heesa – Luhan, dan kembali pada Baekhyun.

“Okay, teman-teman,” ucap Baekhyun membuka acara. “Ini.. bisa disebut acara inti. Permainan yang sudah lazim dimainkan oleh anak muda seperti kita. Permainan ini bernama.. Truth or Dare!”

“YEAAAAAHHH!!” seluruhnya bersorak antusias, tidak sabar untuk memulai permainan ini.

“Oke, Guys. Kalian hatus sedikit bersabar. Peraturannya akan kusebutkan satu per satu.” Seluruhnya mengangguk pasti, Baekhyun berdehem kecil. “Pertama, ketika botol diputar dan dia mendapatkan bagian, dia harus siap menerima Truth or Dare dari semua member..”

“Apa?” sangkal Heesa. “Setahuku yang mendapat giliran itu memilih Truth atau Dare..”

“Oh, tidak,” Bakehyun tersenyum. “Permainan ini kita buat berbeda agar semakin seru. Bukan begitu, Kai? Dio?”

Kedua namja itu tersenyum licik, Baekhyun hanya terkekeh kecil.

“Okay kulanjutkan, yang kedua, setiap dia mendapatkan giliran, dia harus meminum satu botol soju sampai habis..”

Peraturan yang ini membuat seluruhnya bersorak ricuh. Baekhyun tertawa.

“Dan yang ketiga, jika dia tidak sanggup melaksanakan atau menjawab Truth atau Dare, dia harus membuka bajunya satu.. per satu.. dan dia harus tetap seperti itu sampai besok pagi!”

Peraturan yang ini semakin membuat suasana semakin seru. Apalagi Heesa. Yeoja itu berteriak cukup keras, karena dia hanya yeoja sendiri disana dan tidak bisa membayangkan jika ia tidak bisa menjawab atau melaksanakan Truth or Dare, dia harus membuka pakaiannya.. ANDWAE!

“Fiuh. Cukup sekian peraturan yang saya sampaikan,” ucap Baekhyun kemudian menundukkan kepalanya. Semuanya tertawa kecil menanggapi tingkah Baekhyun itu.

“FINALLY! Lets start~” ucap Kai antusias. Kini jantung mereka terasa berdegup cepat ketika Kai memutarkan botol itu dengan cepat. Ooow, siapa yang akan mendapatkan giliran pertama..

Daan..

“YAAAAA!!!”

“HAHAHA!”

“DIOOO! RASAKAAN! HAHAA!”

Dio yang mendapatkan giliran pertama itu hanya menundukkan kepalanya lesu, detik kemudian ia menarik napas panjang.

“WAAAEE~”

Semuanya semakin tertawa melihat tingkah Dio. Mata bulatnya terlihat lucu.

Akhirnya permainan pun dimulai.

“Okay, dimulai dari Kai,” ucap Baekhyun.

“Okay,” sahut Kai, kemudian ia tersenyum jail pada Dio. “Dio-sshi, aku minta kau untuk jujur.” Dio menelan ludahnya paksa. “Apa kau.. masih menyukai Chaeri?”

Dengan tiba-tiba Dio memasang wajah datar, seperti mengatakan Kai-mengapa-kau-menanyakan-hal-itu.

Dio berdehem kecil. “Tidak.”

Dan seluruhnya langsung percaya karena raut wajahnya menyiratkan kebenaran.

“Okay, giliranku!” ucap Baekhyun antusias. “Aku ingin menantangmu untuk mencium pipi Kai sepuluh kali!”

“MWO?” teriak Dio dengan mata bulatnya yang semakin bulat. Baekhyun tertawa jail.

“ATAU KAU HARUS MEMBUKA BAJUMU!” balas Baekhyun berteriak, membuat seluruhnya tertawa terbahak. Dio menggerutu kecil.

“Ayo Dio, aku memberikan pipiku dengan sepenuh hati,” ucap Kai sambil menyodorkan pipinya. Dio tersenyum jail, ia menjilat bibirnya terlebih dahulu sebelum mencium pipi Kai, membuat Kai merasa geli karena merasakan hal yang sangat basah menyentuh pipinya bertubi-tubi. Eewh.

Setelah selesai, kini giliran..

“Gilirankuu!!” teriak Heesa. Semuanya terdiam, menyimak. Namun Heesa bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Dio dan jongkok disebelahnya. “Kau harus menahannya selama sepuluh detik~”

Dengan perlahan Heesa meniup telinga Dio, membuat namja itu mencengkram baju Kai untuk menahan kegeliannya. Dan semuanya tertawa kecil karena melihat wajah Dio yang bergerak tidak santai itu.

Setelah selesai, kini giliran Luhan.

“My turn~” ucap Luhan, kemudian tersenyum. “Kau harus membasahi bibirmu dulu.”

Dio mengerutkan keningnya, namun akhirnya ia melakukannya.

Luhan terkikik. “Kai siapkan kamera handphone-mu. Kau harus rekam ini.”

Kai tertawa kecil kemudian mengeluarkan ponselnya. “Okay, am ready.”

“Dan Dio, sambil menghadap pada kamera, kau harus mengatakan ini.. ‘Hai Sayang. Lihat bibirku sudah basah. Ayo cium aku sayang’ dengan sedikit desahan dan sentuhan terakhir dengan satu wink,” ucap Luhan dengan senyum jail terukir dibibirnya. Kai, Baekhyun dan Heesa tertawa terbahak.

“Ayoo! Lakukan Dioo!” teriak Heesa menyemangati. Dio menggerutu kesal.

“Arasso!” ucap Dio akhirnya, kemudian namja itu mengucapkan apa yang diminta Luhan dengan Kai yang merekam adegannya dengan sangat hati-hati, sementara itu Baekhyun dan Heesa tidak bisa berhenti tertawa.

Dan setelah selesai, Dio mengambil satu botol soju dan mengahabiskannya. Seluruhnya bertepuk tangan ricuh.

Kai memutarkan kembali botol kosong itu. Dan giliran berikutnya adalah..

“Baekhyun!!!!”

“HAHAHAA!!”

“WOOHOOO!”

Semuanya kembali bersorak. Baekhyun berdecak malas kemudian tertawa.

“ARASSO! Ayo dimulai dari Dio,” ucap Baekhyun tidak sabar. Dio tertawa puas.

“Okay. Aku ingin kau mencium orang yang kau sukai disini sebanyak tiga kali, namun kau juga harus menjilatnya.”

Seluruhnya berteriak ricuh. Dio tersenyum bangga menanggapinya, dan Baekhyun memasang wajah menantang.

“Orang yang kusuka?” tanya Baekhyun, membuat seluruhnya terdiam seketika. Namun namja itu tersenyum jail, kemudian menarik wajah Luhan kemudian mencium pipinya dan menjilatnya kecil sebanyak tiga kali. Seluruhnya menjerit histeris, apalagi Heesa. Dan Luhan tentu saja memberontak, namun ia tidak bisa karena Kai dan Dio mencengkram tangan dan kakinya agar tidak mudah memberontak. So disgusting haha.

Setelah selesai, kemudian Kai.

“Baekhyun, aku hanya ingin kau jujur. Beritahu pada kami yeoja yang sedang kau incar di kampus.”

Baekhyun menghembuskan napas panjang, kemudian mengusap mukanya. Mereka hanya tertawa kecil melihatnya.

“Kau harus jujur, Baekkie,” ucap Heesa lalu mengedipkan matanya. Baekhyun menggerutu kesal, membuat Heesa tertawa terbahak.

“Ada.. dia dikelas dance..”

“WHOAA DI KELASKU!!” teriak Kai tidak santai, membuat muka Baekhyun memerah. Dan seluruhnya antusias menunggu siapa yeoja itu. “Cepat katakan~”

“Kim Soona..”

“HAH? JINJJA? JEONGMAL?” teriak Heesa. Ia tahu gadis itu, tentu saja. Dia terkenal dengan kelenturan badan dan keahlian dancenya.

Semuanya tertawa ricuh. Ternyata selama ini Baekhyun memendamnya sendirian.

“Tenang, Baekkie. Aku akan membantumu agar bisa dekat dengannya,” ucap Heesa, kemudian semuanya mengangguk setuju. Baekhyun menghela napas pasrah.

Kini giliran Heesa.

“Okay Baek. Ini dare. Kau harus ‘poppo’ Dio. Cukup satu kali.”

Dare dari Heesa membuat seluruhnya berteriak histeris. Dio menggerutu pada Heesa agar mengganti dare-nya, namun Heesa tidak ingin.

Kai segera menyiapkan ponselnya kembali untuk merekam adegan ‘poppo’ itu. Baekhyun segera menghadap pada Dio dan menyeretnya agar menghadap padanya juga.

Baekhyun memegang kedua pipi Dio. “Dio, mari kita selesaikan semua ini.”

Dengan gerakan cepat Baekhyun menempelkan bibirnya pada bibir Dio. Seluruhnya bersorak antusias kemudian tertawa terbahak. Baekhyun segera mengelap bibirnya dengan baju Luhan, begitu pula Dio, ia mengelap bibirnya kasar dengan baju Kai. Keduanya hanya tertawa geli setelahnya.

Giliran Luhan.

“Aku hanya ingin menamparmu.”

“Wae?” tanya Baekyun tidak santai sambil berangsur menjauh. Namun Luhan terus mendekatinya.

“Karena kau telah menciumku.”

Namun ternyata, dengan satu pukulan yang sangat amat pelan, Luhan mendaratkan telapak tangannya diatas pipi Baekhyun. Baekhyun yang sedikit terkejut, kini hanya tertawa karena ia merasa lega bahwa Luhan tidak benar-benar menamparnya. Namun..

“AAAAA!!! APPAAA APPAAAAA!!!”

Luhan mencubit pipi Baekhyun dengan keras, kemudian menarik hidungnya dengan sekuat tenaga. Seluruhnya tertawa puas melihat Baekhyun tersiksa seperti itu. Dan setelah penyiksaan itu berkahir, akhirnya Baekhyun meminum satu botol soju sampai habis.

Botol diputar kembali.

Dan.. kini..

“KAI..”

“KAAAAI!!”

“YEAHHAHA!!”

Kai hanya menggigit bibirnya lesu. Sial.

“AKU PERTAMA!” teriak Dio antusias. Semuanya terperanjat karena suara Dio yang menggema diseluruh ruangan itu. Dio hanya tertawa terbahak.

“Okay.. Kai. Aku ingin kau menggigit hidung Heesa selama sepuluh detik.”

“MWO?” teriak Heesa dan Kai bersamaan. Luhan memasang mimik tidak suka.

“Ayoo Kaaai kau harus melakukannya!” teriak Baekhyun, kemudian melakukan high-five dengan Dio dengan semangat. Kai mendengus kecil.

“Arasso!” Kai segera memegang pipi Heesa kemudian menghadapkan mukanya padanya. “Heesa, tahan ini okay? Jika sudah tidak kuat, lambaikan tanganmu pada kamera..”

Sebuah jitakkan keras dari Heesa mendarat di kepala Kai. Baekhyun dan Dio tertawa terbahak.

“Ah, Dio siapkan kamera!” ucap Baekhyun. Dio mengangguk kemudian mengeluarkan ponselnya.

“Okay siap! Na.. dul.. set!”

Dengan pasti Kai menggigit hidung Heesa pelan. Heesa hanya menjerit kecil. Ia menggenggam lengan baju Kai dengan kuat. Bukan karena sakit atau apa, tetapi kini jantungnya berdetak amat sangat cepat..

Baekhyun dan Dio berteriak antusias, tetapi Luhan memalingkan mukanya ke arah lain. Hanya ada satu alasan mengapa Luhan memalingkan mukanya, tentu saja ia cemburu.

Setelah selesai, Kai segera melepaskan gigitannya, kemudian mencium kening Heesa sekilas sebagai tanda minta maaf. Heesa sedikit terkejut, namun kemudian ia tersenyum. Jantungnya belum juga berhenti berdetak dengan cepat.

Dan kini giliran Baekhyun. Baekhyun tersenyum kecil kemudian ia pergi ke dapur untuk.. entahlah. Tidak ada yang mengetahuinya. Tetapi ia dengan cepat kembali, kemudian duduk disamping Kai.

Baekhyun menarik pundak Kai  dari belakang agar namja itu menghadap padanya. “TADA! Kau harus menghabiskannya, Boy.”

Semuanya mengaduh kecil. Oow, ternyata Baekhyun membawa bawang putih.

“Baekhyun.. kumohon..”

“Tidak ada protes!”

Dengan satu sentakkan, Baekhyun membuka mulut Kai kemudian memasukkan bawang itu dengan segera. Semuanya tertawa terbahak melihat ekspresi Kai yang sangat.. ah, mengkhawatirkan.

Beberapa detik kemudian Kai menelan bawang itu dan segera mengambil botol soju dan meminumnya sampai habis. Semuanya bertepuk tangan ricuh, puas terhadap pertunjukkan yang mereka lihat.

Giliran Luhan.

“Aku hanya ingin bertanya padamu,” ucap Luhan sambil menatap lurus pada Kai. Beberapa detik kemudian suasana terasa sedikit kaku. “Apa kau.. masih mencintai Heesa?”

Kai terdiam. Heesa tercekat. Baekhyun dan Dio menahan nafas mereka.

Pertanyaan yang.. cukup spesifik.

Kai menundukkan kepalanya, tidak berani melihat ke arah Heesa atau pun Luhan. Ia gelisah. Apa yang harus ia jawab? Ah, tentu saja dia tahu bahwa dia masih mencintai Heesa. Namun.. jika ia menjawabnya dihadapan ‘calon masa depan Heesa’ dengan jujur? Ia rasa tidak.

Akhirnya dengan pasti Kai membuka bajunya. Semuanya terkejut. Kai.. tidak bisa menjawabnya?

“Nah,” ucap Kai, kemudian tersenyum manis. “Sekarang giliran Heesa, bukan? Ayo.”

Heesa mengedipkan matanya. Ia masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Namun ia segera kembali ke alam sadar kemudian mulai berpikir apa yang akan ia berikan untuk Kai.

“Euh.. aku hanya ingin bertanya. Apa kau masih.. mencintai Sera?” tanya Heesa dengan cengiran kudanya. Kai tertawa kecil.

“Tentu saja tidak, Heesa. Mengapa? Kau khawatir aku masih mencintainya?” tanya Kai dengan kerlingan matanya yang nakal, membuat pipi Heesa menjadi panas.

Namun untuk menutupinya Heesa memukul bahu Kai kemudian tertawa. “Ya, aku khawatir. Aku tidak ingin melihat kau tersiksa lagi, Kai,” balas Heesa, kemudian tersenyum manis.

Kai mencubit pipi Heesa gemas, kemudian memeluknya hangat. “Terimakasih karena kau sudah perhatian padaku, Heesa.”

“Anytime,” jawab Heesa sambil balas memeluk Kai. Baekhyun dan Dio hanya bisa terharu melihatnya. Luhan? Tidak perlu ditanyakan kembali.

Setelah Kai meminum satu botol soju sampai habis, akhirnya botol diputar kembali.

Kini ujung botol itu berhenti pada satu orang. Dan dia adalah..

“Ini.. Luhan atau Heesa?” tanya Kai sambil meneliti arah ujung botol tersebut. Baekhyun dan Dio ikut memperhatikan.

“Ya, ujung botol itu berada di tengah-tengah mereka..” ucap Dio, kemudian menggaruk kepalanya bingung.

Detik kemudian Baekhyun akhirnya memutuskan sesuatu. “Baiklah. Kertas gunting batu. Bagaimana?”

Semuanya setuju.

Kemudian Heesa dan Luhan mulai mengeluarkan senjata mereka. Yang paling dulu mendapatkan 3 poin, maka itulah gilirannya. Dan ternyata yang menang itu adalah..

“YEAAA LUHAAAN!” teriak Baekhyun, Dio, dan Kai bersamaan. Sedangkan heesa tertawa lega.

“AH THANKS GOD!” teriak Heesa bahagia. Semuanya menyoraki Heesa disusul dengan beberapa jitakan kecil yang mendarat di atas kepalanya.

“Okay, Luhan..” ucap Baekhyun setelah suasana kembali sepi. Semua mata tertuju pada namja sipit itu. “Aku ingin kau mencium pipiku sekarang.”

Suasana kembali ricuh. Heesa tertawa terbahak mendengar dare dari Baekhyun. Kai dan Dio berteriak tidak santai, sedangkan Luhan hanya mengeluh panjang.

“Aa~ shireo~” ucap Luhan dengan wajah malas. Baekhyun tertawa jail.

“Come here, Baby~ am waiting for you~” ucap Baekhyun menggoda. Luhan menggerutu kesal dan hal itu membuat seluruhnya tertawa terbahak kembali.

Akhirnya Luhan duduk di sebelah Baekhyun kemudian dengan cepat ia menempelkan bibirnya dipipi Baekhyun. Tetapi dengan sengaja Baekhyun memegang belakang kepala Luhan kemudian menekan kepalanya.

“Mmmm!”

“Haha~ come on lick it haha..” ucap Baekhyun. Dio, Kai, dan Heesa tertawa puas.

Setelah selesai, Luhan kembali ke tempat duduknya kembali dengan wajah yang terlihat sangat tersiksa. Kini giliran Dio.

“Luhan.. euh.. apa kau mencintai Chaeri?” tanya Dio tanpa menatap mata Luhan. Luhan membulatkan matanya, dan dengan refleks ia memutar kepalanya pada Heesa. Yeoja itu hanya mengangkat bahunya.

“Tidak. Aku sama sekali tidak mencintainya,” jawab Luhan tanpa ada keraguan dalam suaranya.

“Lalu.. mengapa kau menjalin hubungan dengannya?” tanya Dio semakin menjurus. Otomatis semuanya berdehem salah tingkah dengan pertanyaan Dio itu. Luhan menggigit bibirnya gugup. Apa yang harus ia jawab? Haruskah ia jujur pada mereka bahwa ia hanya memanfaatkan Chaeri untuk membuat Heesa cemburu? Oh tidak, jawaban itu hanya akan membuat derajatnya turun di hadapan Heesa.

Akhirnya Luhan membuka bajunya. Semuanya bersorak terkejut. Itu artinya Luhan tidak bisa menjawabnya. Dan Heesa bertanya-tanya mengapa Luhan tidak bisa menjawabnya? Pasti ada sesuatu antara dia dengan Chaeri. Mungkin setelah games ini ia akan bertanya pada namja itu empat mata.

Kini giliran Kai.

“Luhan, aku ingin menantangmu,” ucap Kai sambil menatap Luhan lurus. Luhan mengangkat alisnya.

“Apa itu?” tanya Luhan sedikit menantang. Kai tertawa kecil.

“Kau harus putuskan hubunganmu dengan Chaeri. Sekarang juga,” ucap Kai, yang tentu saja membuat semuanya shock. Dare untuk memutuskan hubungan? Apa Kai gila?

Tetapi luhan tersenyum kecil, kemudian ia mengeluarkan ponselnya. “Arasso~”

Semuanya hanya terdiam melihat Luhan yang kini tengah menelpon Chaeri. Wajahnya terlihat tenang. Aneh sekali, apa ia bahagia memutuskan yeoja itu? apa ia tidak akan merasa rugi?

“Halo? Chaeri..”

“Loud speak, please,” ucap Kai menyela ucapan Luhan. Luhan menarik napas kemudian memijit tombol loud speak dan meneruskan kembali ucapannya.

“Chaeri?”

“LUHAAAAAN!! Tumben sekali kau meneleponku, Baby~ ada apa?”

Hampir seluruhnya mengernyit jijik karena mendengar bitch voice-nya.

“Aku hanya ingin mengatakan sesuatu.”

“Apa itu? Ayo katakan saja, Darl~”

Luhan berdehem kecil sebelum meneruskan. “Aku ingin.. memutuskan hubungan denganmu.”

“…”

“Chaeri?”

“Luhan. Kau bercanda kan? Haha..”

“Aku tidak bercanda.”

“Kau.. jahat..”

“Maaf. Tapi memang dari awal aku tidak menyukaimu, Chaeri.”

“LUHAAAAN KUMOHOON JANGAN PUTUSKAN AKUU!!”

“Maafkan aku, Chaeri.”

“Katakan apakah aku berbuat salah padamu? Aku minta maaf, Luhan..”

“Kau tidak berbuat apa-apa, Chaeri. Hanya saja aku merasa jahat karena menjalin hubungan denganmu tanpa ada perasaan..”

“Luhan..”

“Maafkan aku.”

TUT.

Telepon ditutup. Luhan tersenyum lega sambil mengacungkan ponselnya bangga.

Kai mengedipkan matanya beberapa kali, kemudian membuka mulutnya. “Uwaah kau berani sekali! Apa kau tidak takut yeoja itu akan menamparmu suatu saat..”

“Akan kubalas jika ia berani,” ucap Luhan sambil tertawa. Baekhyun dan Dio kemudian tertawa kemudian menepuk bahu Luhan bangga. Luhan hanya tertawa ringan menanggapinya.

Heesa memegang dagu Luhan dan menghadapkan wajahnya padanya. “Jadi, kau sudah tidak ada hubungan lagi dengannya?”

Luhan mengangguk pasti dengan wajah polosnya.

“Semudah itu?” tanya Heesa lagi, berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri. Dan Luhan menjawabnya dengan anggukkan kembali.

Heesa melepaskan dagu Luhan kemudian mendesah panjang. “Kau gila.”

Luhan, Kai, Baekhyun, dan Dio hanya tertawa puas melihat reaksi Heesa yang berbeda dari yang lainnya. Tentu saja, dimata Heesa, sebuah hubungan itu sangat berarti bagi seorang yeoja, hubungan yang tidak bisa disambungkan dan diputuskan begitu saja. Oh, mungkin yang ini lain lagi kondisinya. Heesa, jangan berpikir negatif. Lagipula apapun yang terjadi pada hubungan Luhan dan Chaeri tidak akan berpengaruh padanya.

Sekarang giliran Heesa.

Heesa berdehem kecil sebelum memberikan Truth atau Dare-nya pada Luhan.

“Luhan.. aku ingin kau buang gas disini juga. Entah itu bagaimana caranya, tetapi kau harus bisa mengeluarkannya sekarang juga.”

“MWO?” teriak Dio dan Baekhyun bersamaan. Luhan tersedak dan Kai hanya tertawa kecil.

“H..hanya itu?” tanya Luhan. Heesa mengangguk pasti. “Mengapa kau memberikan tantangan ini ketika giliranku..” gerutu           Luhan, dan sukses membuatnya semuanya tertawa.

Akhirnya Luhan mengambil posisi jongkok, kemudian terlihat dari mimik mukanya  ia mulai berusaha untuk mengeluarkan gas miliknya. Detik kemudian Kai tersadar dan segera mengeluarkan ponselnya, kemudian dengan terburu-buru ia segera merekamnya.

“Bagus, Kai!” ucap Dio sambil tertawa. Heesa dan Baekhyun melakukan high-five dengan senyum kemenangan yang terukir dibibir mereka.

Dan beberapa menit kemudian..

Tuuut~

Semuanya terdiam beberapa saat, menatap Luhan yang kini tersenyum lega. Luhan menghembuskan napasnya lega.

“Pfft..”

“Kkk..”

“BHAHAHAHAHAHAA!!”

“HAHAHAHA LUHAAAN! YOU DID IT!!”

Kini pipi Luhan terasa panas karena ditertawakan oleh mereka. Oh God, Luhan hanya berdoa semoga Heesa tidak merasa jijik padanya setelah kejadian tadi.

Setelah tawa mereka reda dan Luhan meminum satu botol soju, akhirnya sampailah mereka pada peserta terakhir Truth or Dare. Satu-satunya yeoja di antara perkumpulan itu.

Heesa meneguk ludahnya paksa ketika melihat tatapan para namja padanya. Ada apa dengan mereka? Apakah mereka merencanakan sesuatu? Ah, tidak perlu dipertanyakan lagi sepertinya. “Okay, my turn right? Gimme some, Boys~”

Semuanya menyoraki Heesa karena nadanya terdengar menantang. Baekhyun dan Kai saling bertatapan kemudian tersenyum ‘bermaksud’. Ya, rencana mereka beberapa waktu lalu ketika mereka berbicang di dapur, kini akan segera terlaksanakan.

Sedangkan Luhan menatap tajam kearah Baekhyun, Dio, dan Kai. Ia takut mereka memberikan tantangan atau pertanyaan yang tidak masuk akal pada Heesa. Luhan hanya berharap.. no kissing. Dan Luhan menyadari kini Kai, Dio, Baekhyun, dan dirinya telah setengah mabuk karena meminum satu botol soju. Terlihat dari mata yang sayu dan pipi mereka yang sedikit memerah.

Giliran pertama jatuh pada Dio.

“Okay, Heesa.. aku ingin meminta kejujuranmu,” ucapnya dan menyempatkan untuk melirik pada Luhan. “Apakah kau bahagia akan menikah dengan.. Luhan? Jujurlah,” tanyanya kemudian melemparkan kedipan pada Luhan. Luhan menarik napas panjang kemudian mengusap mukanya perlahan, dalam hatinya ia merutuk mengapa Dio menanyakan hal itu pada Heesa sekarang.. yah tetapi sejujurnya Luhan juga penasaran.. tapi..

Heesa melihat raut muka Luhan yang gusar. Heesa menghembuskan napasnya cepat. Apakah ia harus menjawabnya sekarang? Tetapi jika ia tidak bisa menjawabnya, maka ia harus membuka bajunya.. andwae.

“Menikah dengan Luhan,” ucap Heesa yang akhirnya angkat bicara. Semua mata tertuju pada Heesa, terkecuali Luhan. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, tidak siap untuk mendengarkan jawaban Heesa. “Aku…”

Dengan gerakan cepat Heesa membuka tanktop yang ia kenakan. Otomatis para namja tersentak dengan perbuatan Heesa.

“Ya~” ucap Dio sambil menuutup mukanya.

“Ah, shit..” lanjut Baekhyun sambil meneguk ludahnya paksa.

“Fck..” gumam Luhan sambil mengusap wajahnya perlahan, berusaha menahan nafsunya yang tiba-tiba terasa aneh.

“Heesa~” gerutu Kai sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Heesa hanya mendengus kasar lalu memutar bola matanya malas.

“Ada apa dengan kalian?” tanya Heesa dengan raut muka kesalnya.

“Mengapa kau membuka pakaianmu?” tanya Kai sambil menahan napas.

“Ya aku tidak bisa menjawabnya. Bukankah peraturannya memang begitu?” ucap Heesa sambil memukul lantai dengan gemas karena kesal. Terdengar para namja kini hanya menahan napasnya dan berusaha mengatur nafsunya.

“A.. arasso. Kita lanjut,” ucap Baekhyun akhirnya, berusaha tidak peduli. Kai, Dio, dan Luhan mengangguk perlahan. Heesa yang melihat tingkah para namja menjadi aneh hanya mampu menahan tawanya.

“Giliranku,” ucap Kai. Ia melirik pada Baekhyun sebentar dan melemparkan smirknya. Heesa yang menangkap kejadian itu hanya berekspresi datar –entah mengapa Heesa menduga bahwa Kai dan Baekhyun telah mempunyai rencana untuk menjahilinya. Sial.

“Heesa, aku ingin kau naik ke atas meja dan menari striptis didepan kita semua.”

“MWO?” teriak Dio dengan mata bulatnya. Baekhyun dan Kai tertawa puas, sedangkan Luhan berusaha mengatur napasnya karena kesal.

“Kau.. tidak bercanda bukan?” tanya Heesa meyakinkan Kai. Kai mengangkat bahunya acuh.

“Atau kau harus membuka bramu..”

“YA! SHIT AAAARRRGH!” teriak Heesa sambil menjambak memukul Kai sekeras mungkin. Kai hanya tertawa jail.

“Kalau begitu cepatlah..” ucap Kai sambil mengeluarkan ponselnya, siap untuk merekam.sedangkan Baekhyun mengeluarkan ponselnya juga untuk memutarkan lagu yang cukup nakal agar Heesa dapat menghayati striptisnya, dan dia memilih One More Night dari Maroon 5.

Heesa segera melepas ikatan rambutnya dan menggeraikannya sampai punggung telanjangnya. Setelah Dio menyingkirkan lilin dan botol, akhirnya Heesa menginjakkan kakinya di atas meja kemudian berdiri di atasnya.

“Alright, Boys. Jangan salahkan aku apabila kalian tiba-tiba bergairah..”

“WOOOO~” sorak para namja sambil mengambil posisi yang nyaman untuk menonton aksi berani ini. Luhan beberapa kali mengusap wajahnya. Apa Heesa gila? Dia seharusnya menyadari bahwa dia hanya yeoja sendiri, dan ‘kita’ bisa saja menyerangnya dengan mudah.

Lagu One More Night akhirnya diputar. Heesa mulai menggerakkan badannya sedikit karena mengikuti alunan lagu yang hentakannya memang membuat badan ingin bergerak mengikuti ketukannya. Dan pilihan Baekhyun memang tidak salah, karena Heesa mulai bergerak sedikit lebih liar setelah tiga puluh detik berlalu.

Kai terus merekam adegan demi adegan dengan ponselnya, dan Dio hanya membiarkan mata bulatnya menatap tubuh Heesa yang berliuk-liuk liar. Cantik dan seksi.

Heesa tersenyum geli, gairahnya semakin memuncak. Ada sesuatu yang sedikit menggelitik diperutnya, dan itu membuatnya melakukan suatu gerakan yang ‘mengundang’ para namja: ia menekuk lututnya, membiarkan tangannya menjadi tumpuan badannya, kemudian ia meliukkan badannya sambil menyisir rambut dengan tangannya secara sensual.. dan ia hanya memakai bra.. perutnya yang sedikit berotot membuatnya terlihat sangat.. God.

After all, akhirnya tarian striptis itu selesai. Semuanya kembali pada tempatnya masing-masing, permainan belum berakhir.

Baekhyun dan Dio mengedip pada Kai, bermaksud bahwa mereka ingin meminta video Heesa. Kai mengangkat jempolnya dan mengangguk pasti. Heesa hanya menghela napas panjang.

“Okay sekarang giliranku,” ucap Baekhyun sambil menggosok kedua telapak tangannya, layaknya seorang tokoh antagonis yang akan melaksanakan rencana jahatnya. Dan Heesa hanya memasang wajah datarnya kembali, ia tidak tahu pasti apa yang akan dilakukan Baekhyun. Namun ia berfirasat buruk.

Dengan cepat Baekhyun lari ke arah dapur dan kembali dengan membawa satu kotak es krim. Kai tersenyum tipis, kemudian ia menarik pundak Dio untuk membisikkannya sesuatu yang tidak boleh.. Heesa dan Luhan tahu. Heesa semakin merasa tidak enak.

Baekhyun –dengan perlahan membuka kotak es krim itu dan mengambil satu sendok es krim.

“Okay.. Kai.. Dio..”

Mereka bertiga tersenyum bermaksud. Detik kemudian Kai dan Dio mengambil satu langkah lebih dekat pada Luhan, kemudian mereka berdua mengambil kedua lengan Luhan dan menguncinya. Heesa terkejut, apa yang akan mereka lakukan padanya dan Luhan..

“Okay here we go..”

*

[Luhan POV]

Aku berusaha melepaskan genggaman kuat Dio dan Kai pada lenganku. Shit, apa yang akan mereka lakukan? Sudah cukup sedari tadi aku menderita karena mereka.

Kemudian Kai dan Dio mengubah posisiku menjadi menghadap sofa dan membelakangi mereka. Aku masih berusaha untuk memberontak, tetapi mereka entah mengapa menjadi sangat kuat. Dan.. aku ingin mengetahui apa yang akan Baekhyun lakukan padaku dan Heesa. Aku hanya berharap hal itu tidak membuat hubunganku dengan Heesa semakin renggang. Tidak lagi.

“Aaah!” Aku berteriak ketika aku merasakan punggungku dingin. Apa ini.. apa yang Baekhyun lakukan? Anak ingus sialan!

“Yeaa ice cream for you, Heesa~” ucap Baekhyun terdengar menyebalkan. Aku bisa merasakan namja sialan itu mengoleskan banyak ice cream dipunggungku. Ah, Heesa maafkan aku. Bukan salahku jika memang kau harus membersihkannya..

“Lick it! Hahaha..” ucap Baekhyun sambil tertawa puas, disusul Kai dan Dio. Aku mencoba memberontak kembali.

“Ya! Lepaskan! What the hellin’ are you doin, Asshole?!” protesku sambil tetap memberontak. Namun percuma, cengkraman mereka ternyata semakin kuat. Dan aku baru menyadari begitu lemahnya diriku, betapa tidak berdayanya diriku. =_=

“Arasso..”

Detik kemudian aku merasakan ada sesuatu yang basah dan lentur menyentuh punggungku dan bergerak-gerak menggelitik. Ohh fuck, please stop..

*

[Author POV]

Kini giliran Luhan memberikan Truth or Dare pada Heesa. Tetapi sepertinya otak namja itu belum utuh sepenuhnya. Sensasi lidah Heesa yang berada dipunggungnya.. Shit! Kacau.

“Okay.. aku memberikan dare untuk Heesa. Tapi nanti. Aku lelah dan mengantuk,” ucap Luhan yang untungnya masih bisa merangkai kata seperti itu ditengah kacaunya pikiran dan mabuknya. Kai, Dio dan Baekhyun hanya mendesah kesal, sedangkan Heesa kini penasaran setengah mati terhadap tantangan yang akan diberikan Luhan padanya.

Akhirnya Heesa mengambil satu botol soju bagiannya dan meneguknya dengan terpaksa sampai habis. Baekhyun, Kai dan Dio bertepuk tangan layaknya orang mabuk. Sedangkan Luhan menundukkan kepalanya, ia masih berusaha menjernihkan pikirannya dari hal yang baru saja Heesa lakukan padanya.

“Kalau begitu permainan ini berakhir, Guys~ sudah jam dua belas lebih. Its bed timing~” ucap Dio sambil membawa satu botol soju dan meneguknya. Baekhyun dan Kai melakukan hal serupa.. namun kemudian Luhan juga melakukannya.

Beberapa menit kemudian tempat tidur lantai sudah tertata nyaman. Lalu mereka masuk ke dalam selimut dan menyamankan diri dengan saling memeluk satu sama lain. Dan ada satu hal yang tidak beres disana.. Heesa, satu-satunya yeoja, topless, dan dia berada di antara Kai dan Luhan.

*

Kini mereka sudah sangat terlelap. Namun kini posisi mereka sudah tidak beraturan. Selimut mereka kini berada jauh dengan mereka karena mungkin mereka merasa panas setelah mabuk.

Dalam tidurnya, jujur Heesa tidak terlalu terlelap karena Kai yang berulang kali berusaha melingkarkan tangannya diperut Heesa dan hal itu membuatnya geli, apalagi ketika merasakan dada telanjang Kai menyentuh langsung punggungnya..

Luhan terbangun. Ia memegang kepalanya yang terasa pening karena pengaruh minuman tadi. Ia memejamkan matanya cukup lama, berusaha menghilangkan rasa pusing itu, kemudian membuka matanya dan melihat Kai tengah melingkarkan tangannya di perut Heesa. Luhan mendengus kasar kemudian menyingkirkan tangan itu dari Heesa dengan kasar, tanpa merasa takut jika namja itu terbangun.

Tanpa berpikir panjang Luhan menarik tangan Heesa sehingga yeoja itu terbangun dari tidurnya. Luhan membiarkan yeoja itu duduk untuk beberapa waktu karena ia yakin Heesa pasti merasakan pusing sama sepertinya.

“Ada apa, Luhan.. apa ini sudah pagi..” racaunya dengan mata terpejam. Luhan terkikik kemudian mengacak rambut Heesa.

“Aku akan memberimu dare, sekarang. Kajja,” ucap Luhan sambil menarik tangan Heesa hingga yeoja itu berdiri dan mengikutinya yang mengajaknya pergi entah kemana, dan Heesa masih berada dibawah alam sadarnya sehingga ia tidak bisa memberontak.

Ternyata Luhan membawanya ke taman belakang. Diluar memang terasa angin malam yang dingin menusuk kulit mereka, apalagi keadaan mereka yang kini tidak memakai baju..

Namun kehangatan segera menjalar ketika Luhan melingkarkan tangannya disekitar pinggang Heesa dan menariknya lebih dekat dengan tubuhnya. Heesa mengedipkan matanya yang masih mengantuk, kemudian menyimpan kedua telapak tangannya dipermukaan dada Luhan. Luhan tersenyum kemudian mengayunkan badannya dan Heesa perlahan, –berdansa tanpa musik.

Satu menit kemudian Heesa mengangkat wajahnya agar bisa menatap wajah Luhan dalam kegelapan itu. Luhan yang merasakan deru napas Heesa yang menerpa dagunya segera merundukkan kepalanya agar bisa bertatapan dengan yeoja itu. Dan kini mata mereka saling menatap satu sama lain.

“Umm.. tadi kau bilang akan memberikan dare padaku..” ucap Heesa berusaha memecahkan kesunyian. Suaranya terdengar serak, tanda ia masih mengantuk.

Luhan menghembuskan napas perlahan. “Kau yakin ingin?” tanya Luhan asal. Heesa mengerutkan keningnya.

“Aku tidak mengerti..”

Luhan memberikan smirknya sebelum menarik tangannya dan membawanya ke suatu tempat, lagi.

Akhirnya mereka sampai ke kolam renang. Luhan terkikik geli ketika melihat ekspresi Heesa yang erlihat memelas.

“Oh c’mon..”

“Kau akan masuk ke dalamnya,” ucap Luhan sambil tersenyum kemenangan. Heesa membungkukkan badannya lesu.

“Aku tidak mau, Luhan. Jika aku sakit bagaimana?”

“Lalala aku tidak mendengarmu~” ucap Luhan sambil menutup kedua telinganya. Heesa menggigit bibirnya sambil menghentakkan kakinya kesal.

“Berapa menit?” tantang Heesa akhirnya. Luhan tertawa kecil.

“Sampai waktu yang ditentukan, aku akan menghentikanmu.”

Heesa menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan malas. “Okay.”

Tanpa melepas celana jeansnya, Heesa langsung menyeburkan dirinya ke dalam kolam renang dingin itu. beberapa detik kemudian ia kembali ke permukaan dengan ekspresi yang.. pfft.

“AH FREEZING!”

“Ssssh hahaha. Kau akan membangunkan yang lainnya jika kau berteriak seperti itu!” ucap Luhan sambil menahan tawanya. Heesa mencibir sambil memeluk dirinya. Dingin.

Luhan kini mengambil posisi jongkok dipinggir kolam renang sambil menatap Heesa dengan tatapan jailnya. Ia mengambil satu batang rokok dari sakunya dan menyalakannya dengan pemantik api miliknya, kemudian menghisapnya dalam-dalam.

“Haish..” keluh Heesa sambil mendelik pada Luhan. Luhan hanya cengengesan kemudian melanjutkan kegiatannya.

Satu menit berlalu. Akhirnya Heesa memutuskan untuk berenang agar menghilangkan dingin yang ia rasakan. Luhan tertawa kecil melihat Heesa yang kini mulai menikmati darenya. Namun.. sepertinya Luhan mempunyai rencana lain dibalik darenya ini.

Luhan menyimpan rokoknya dipinggir kolam kemudian diam-diam masuk ke dalam kolam renang tanpa sepengetahuan Heesa. Luhan mengikuti kemanapun Heesa berenang dan sebisa mungkin keberadaannya tidak disadari oleh Heesa.

Heesa memunculkan wajahnya ke permukaan untuk menghirup napas sejenak. Namun ketika ia melihat ke tempat dimana Luhan berada sebelumnya, ia menjadi sedikit kesal karena namja itu meninggalkannya.

“Luhan? Please dont leave me.. apakah ini artinya dare telah selesai?” ucap Heesa sambil mendekat ke arah dimana Luhan duduk beberapa puluh detik yang lalu. Heesa memegang lantai pinggiran kolam renang itu dan keluar dari kolam renang sambil mencari keberadaan Luhan. Ia melihat rokoknya, namun ia tidak melihat sosok namja menyebalkan itu.

Dan napas Heesa tiba-tiba tercekat ketika ia merasakan ada yang memeluknya dari belakang. Dengan cepat Heesa memalikkan wajahnya sembilan puluh derajat lebih untuk bisa melihat siapa yang kini berada dibelakangnya dan memeluknya erat. Dan ternyata..

“AH SHIT! LUHAN!” teriak Heesa sambil memberontak dari pelukan Luhan. Luhan hanya tertawa lepas dengan rangkulannya pada Heesa yang semakin kuat agar yeoja itu tidak bisa lepas darinya, dan beberapa detik kemudian Heesa menyerah. “Kau mengagetkanku..”

“Mian,” ucap Luhan singkat sambil menoel dagunya sekilas. Heesa hanya mendesis kesal.

“Jadi sedari tadi kau dibelakangku? Mengikutiku?” tanya Heesa dengan suara paraunya. Luhan mengangguk kecil sebagai tanda jawaban kemudian menopangkan dagunya pada pundak kanan Heesa. Heesa berusaha menyingkirkan kepala Luhan dari pundaknya namun Luhan tetap bersikeras dan kembali menopangkan dagunya pada pundak Heesa. Dan untuk keberapa kalinya yeoja itu menyerah.

Dua menit telah berlalu. Mereka tidak saling bertatapan atau memulai pembicaraan agar suasana tidak terasa hening. Kedinginan yang mereka rasakan tidak lagi terasa dikulit mereka, yang ada kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh.

Dan entah mengapa keduanya tidak ingin merubah posisi atau menyudahi suasana dan keadaan itu. Mereka hanya terdiam.. seperti saling mencurahkan perasaan satu sama lain seperti beberapa waktu yang lalu..

Heesa tidak merasa risih dengan keadaan Luhan dan dirinya sendiri yang tidak memakai baju. Ia tidak peduli. Kini ia hanya merasa nyaman berada di pelukan Luhan kembali. Yeoja itu ternyata merindukannya lebih dari yang ia tahu. Ia merindukan sentuhannya, candaannya, senyum yang selalu sukses membuatnya meleleh, dan pelukan hangatnya seperti ini. Ia menginginkan keadaannya dengan Luhan seperti dulu kembali, banyak tawa, kehangatan yang selalu menemani tiap detiknya, dan sentuhan-sentuhan yang selalu membuat jantungnya sukses berdebar dengan cepat..

“I miss you..”

Bibir Heesa dengan refleks mengatakan tiga kata itu dalam kesunyian. Ia tidak menyadarinya karena terlalu hanyut dalam perasaannya sendiri. Pipinya memerah, hatinya menghangat, dan kini perasaannya begitu meluap..

Dan Luhan tentu terkejut mendengarnya. Luhan mendengus kasar. Entah mengapa ia menjadi merasa sangat bersalah pada Heesa. Ia tahu ia sangat jahat pada Heesa.. membiarkan yeoja ini tersiksa dan terbelenggu dalam perasaannya sendiri. Dan Luhan kini baru menyadari bahwa betapa tulusnya perasaan Heesa terhadapnya.. hanya Heesa yang mengerti dirinya, dan hanya Heesa yang membuatnya benar-benar merasakan apa itu cinta dan kasih sayang..

Dengan refleks Luhan membalikkan badan Heesa kemudian memeluknya erat, merengkuh gadis yang ia cintai ke dalam pelukannya, kemudian mengusap rambutnya dengan sayang.

“Heesa.. forgive me..” ucap Luhan lirih. Nada suaranya membuat hati Heesa bergetar. “Aku tahu aku salah.. maafkan aku. Sekarang aku menyadari bahwa aku melakukan banyak kesalahan padamu, aku menyesal bahwa aku pernah membuatmu menangis dan membuatmu tidak nyaman dengan perasaanmu sendiri.. dan kini aku juga sangat menyadari bahwa aku merindukanmu, Heesa.. sungguh..”

Heesa tidak mampu menahan air matanya yang mulai menyeruak dan memaksa untuk keluar. Heesa balas memeluk Luhan erat. Ia tidak mampu berkata-kata.. saluran napasnya tercekat oleh beribu bahasa rindu yang ingin sekali ia ungkapkan lebih pada Luhan..

“Heesa..” ucap Luhan kembali, kemudian namja itu memejamkan matanya. “Kali ini aku serius padamu. Aku menyayangimu dan aku mencintaimu..”

Luhan melepaskan pelukannya kemudian merengkuh wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menghadapkan wajah cantik sempurna itu padanya. Dan Heesa hanya menatap Luhan dengan sayu.

“Heesa..” ucap Luhan sambil menarik napas perlahan. Matanya menatap mata Heesa lurus –terlihat serius.

“Would you…”

 

 

TBC ‘-‘v

…………………………………………………………….

SORRY READERS! baru ngepost lagi..

banyak alesan yang ingin aku ungkapkan tapi kalian pasti lagi marah sama aku.. ya kan? “…”

maafin ya, dan semoga kalian bahagia dengan chapter ini.

and.. wait for the next because it will be the last chapter ;)

leave a comment ._.v

thanks xD

……………………………………………………………………………………

65 thoughts on “ELECTRIC [CHAP 13]

  1. WAAAAAAAAAAAAA akhirnya keluar juga nih chapter lanjutannya,gila thor gw nungguin bgt-_-
    jangan lama2 thor kalo publish,kasian readersnya lumutan nungguinnya!!Neo aju daebbak!!!^^

  2. author!!! author!! bogoshipo!!! nunggu electric udah kayak ngantri sembako (?) author suka suka suka bengt ceritanya bikin dag dig dug serr ya ampun truth or dare nya tapi baguslah itu ngebuat luhan sama heesa baikan :D di tunggu chapter selanjutnya yah thor fighting!!!

  3. Asih Jinjja!!?
    Ngiri ih sama Heesa AAAAA
    Seru banget gila ini ff !!! Aku nge fans ah sama authornya uhuy^^

    Next chapter jangan lama-lama pokoknya, karena ini ff sangat amat ditunggu loh~

  4. Hallo salam kenal author ><
    1 kata buat blog ini : DAEBAK !!
    Aku srg bgt baca blog ini tp bru komen2 skg hhi
    Crta di blog ini beda sama blog ff lain pokoknya bagus bgt100x cuma ngepostnya kelamaan thor hihihi :D
    Pokoknya sukses trs+kunantikan krya2 lainnya thor :D

  5. kyaaaa akhirnya update jugaaaaa.
    ah kayaknya luhan ngelamar heesa ya. dr gelagatnya gitu. tp klo ngelamar ga peduli waktu tempat dan keadaan bgt. masa ngelamar di kolam dan ga pake baju.
    tapi gapapa yg penting kan kawin ciyeeee. ayo thooor lanjutttt cepet yaaaaa

  6. FINALLY KELUAR CHAP 13-NYAAAA!!!
    Aduh thor aku udah nungguin lamaaaaaaaa banget
    Next chapter jangan lama lama di realese yaa thor^^
    Penasaran niihh hehehehehe~

  7. Uwaaa thor! Sekian lama ditunggu sampai nge-cek blog author 3 kali dan akhirnya muncul juga electric!! Wohooo!~

    Truth or dare nya sumpah sangat beraniii! Kkkk

    Lanjutannya ye thor, jgn lama2, bisa2 ane berubah jd batu hidup di sini ‘-‘)/

    Fighting thor!! :D

  8. Waaaah Negatif nih. Selanjutnya bakal jadi last chapter TT_TT
    Tapi panjangin ya thor!
    Chap ini udah bagus, cuman sayangnya kepanjangan karena ngebahas truth or dare doang ._.v kalo bisa dilebihin kayaknya bisa lebih bagus tuh #nawar
    Pokoknya ditunggu chapter selanjutnya! Jangan kelamaan ya thor!

  9. Hyaaaaaa stlah tiap ari bolak balik google liat next chapterX ni epep akhirX muncul jga…. pdhal kmaren” udah bca tpi special this chapter sukses bwad gw mimisan, bru skrg bsa komenX… berasa aq masuk jga dlem crita (Real) (*^ワ^*)
    tpi gk tw npa agak sbel, bkanX gk ska ama Lulu tpi aq lbih dpet Chemistry nye Heesa ama Kai.. ntar akhirX heesa ma Lulu or Kai y? Kai bwad gua jah ding.. jdi inget yg Pulchritude (bner gk ni nulisX?) endingX krang greget, klo bsa dbwad sequel.. #Plaak

    hehe mian chingu ane jdi bXk cincong..
    Waiting for next Chapter…. author Fighting!!!!!!! ☆*:.。. o(≧▽≦)o .。.:*☆

  10. waduh ini FF udah berganti genre apa yaaaaah. kkkk~ gila-gilaan itu yaampuuuuun! aku gabisa bayangin waktu Heesa buka baju, nari erotis sama ngejilatin punggungnya Luhan! omooooo~!! ?*nosebleed* *faint*
    tapi walaupun agak frontal, ciyus I LIKE IT!!! huehehehe *otak yadong*
    YESSSSSS!!!! AKHIRNYA LUHAN MUTUSIN CHAERI! hahahaha.
    hiksu itu co cweet bgt yg di kolam renang aaaaaaaaaaaaa penasaran!!! imaaaaaaa pleaseeeeee~ next chapt cepet ya? hehehe. i love you! mmmuaaaach! wkwkw XDD

  11. uwo uwo uwoooo andaikan punya kekuatan buat berubah aku bakal bikin adegan itu nyata dan aku jadi heesanya aaaaaa ><
    great unnie :3
    next part jangan lama2 yaaw :3

  12. Thor next dong ;) udah bagus banget next chapter kan last ya? Yang panjaaaaaaannnnnngggggggg bangeeeett :D hahaha lol , nice :)

  13. thooor bgus ceritanyaaa
    akhrnya heesa udah baikan lg sama luhan :D
    aih aih
    awalnya sih aku lbh ngarep heesa sama kai thor , tp gapapa lah .
    buruan next chapter thor
    please please ._.
    gasabar iniiih

  14. wah.. aku baru tau ada ff seseru ini.. aku reader baru disini..
    maaf banget aku baru comment *bow* ditunggu banget lanjutannya.
    ceritanya bagus dan seru.. ASAP ya thor hehe

  15. Akhirnya, selesai membaca serial Electric hingga malam ini. Dan…

    Kisah ini sangat ‘berani’, Author – nim~ Wah, benar! Konflik percintaannya cukup kompleks. ini menyenangkan~ Author – nim memang ‘pemberani’ dan bagimana dengan pilihan Heesa? Membuat saya terus membaca kisah ini karena penasaran.

    Hahaha~

    Maaf, karena saya hanya memberikan comment pada chapter ini. Saya mohon maaf sebesar – besarnya. Sungguh menyesal.. :(

    Terima kasih untuk Author – nim yang telah bekerja keras dalam membuat serial Electric ini. Mengharapkan kelanjutannya segera. Senang~

    Semangat!

    Salam kenal, Author – nim :)

  16. Sera udh ke NY kan??jd gak bisa bantuin chaeri berbuat jahat ama dy kan yahh??
    Sumpah envi bangettt, dikelilingi 3 cowok ganteng yg bersedia ngelindungin dy, ituu shabattt T___T
    Aaaaaa luhan,kw harus tauuu chaerii itu yg nyiksaa hee
    Jd harusnya chaeri yg diblles
    Aku bru baca ff ini dan borongan,komenku
    *speechless*
    prasaan di ff ini sukses bkin aku hanyut dg karakter masing2
    Aku bisa kesel setengah mampus ama karakter chaeri,aku bisa ngerasain jd heesa pedihnya gimana,aku bisa ngerasain saat luhan jd super duper nyebelin aku gregetan sndri dan saat luhan jd romantis bkin triak2 envy
    Well..intinyaa ff kamu sukses bikin aku hanyut kedalam ceritanya n mengganggu emosi (?) sayaa..
    ^^
    Salam kenalll ‘-‘)9 fighting

  17. Luhannnnnn heesa \(´▽`)/°\(^▿^)/°ξ\(ˇ▽ˇ)/ξ yup semangat! Nah soal kai (•̅_•̅) ini bias nih. Pdhl dia unyu sma kai ‘-‘ hehehe :) lanjut kak :))

  18. eon.. cepetan dipublish chapter selanjutnya.
    si Heesa di sini kok perasaannya ga tentu gitu. sayang sama Kai, sayang juga sama Luhan. tapi lebih pas sama Luhan aja. /plak/
    penasaran nih, eon sama chapter selanjutnya. keep writing. author, fighting!! :)

  19. hwaa tbc lagi. . .
    aku bnr2 suka ma alur ni ff.
    feel.a dpt n gaya bahasa.a juga mudh d mgerti.
    y ampun heesa berani bgt buka baju pake dance d atas meja lg.
    heesa-luhan so sweet . . .
    ayo lanjut thor

  20. thor..ceritanya bagus banget!! kapan nich part slanjutnya dipost?? udah gk sabar nunggu klanjutannya

    ditunggu part slanjutnya dengan sepenuh hati, FIGHTING ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s