(SHINee) HELLO SMART BOO [ CHAP 2 – END ]

HELLO SMART BOO

HELLO SMART BOO

 

Author: Shin Heera

Cast:

  • Lee Jinki (SHINee)
  • Choi Sarang (YOU)

Minor Cast:

  • SHINee

Keterangan:

  • Lee Jinki at Shawol Concert era
  • Lee Taemin at Replay Japan era

Disclaim: Tuhan yang menciptakan mereka, lima bintang besar yang bersinar, SHINee. Pemeran lain hanyalah fiksi yang tidak diketahui keberadaan aslinya. Tapi itu terserah dirimu.

Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga aku menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Happy reading!

……………………………………………………………………………………………………………………………………..

“Mengapa kau seyakin itu? Yakin berapa persen kalau dia akan menerima cintaku?”

“SERATUS PERSEN!!”

“Baiklah..”

“Mengapa diam saja? Ayo cepat!”

“Aku mencintaimu, Sarang.”

……………………………………………………………………………………………………………………………………

CHAPTER 2

 

(Author POV)

 

“Ah?” Napas yeoja itu tiba-tiba tercekat. Apalagi melihat mata Jinki yang sangat terlihat serius. Dirinya mencoba untuk tetap tenang meskipun jantungnya berdetak sangat hebat.

“Apa kau mencintaiku? Aku akan memberikan semua yang kau mau, asalkan membuatmu bahagia berada di sampingku. Tolong, terimalah aku untuk menjadi kekasihmu..”

Jinki meraih tangan kanan Sarang yang mulai mendingin karena aliran darah tersumbat.

“You must be joking..” ucap Sarang perlahan, hampir tidak terdengar. Jinki tersenyum dan melepaskan genggamannya di tangan Sarang.

“Bagaimana? Apa kata-kataku cukup romantis untuk mengatakan cintaku padanya? Apa kau sebagai yeoja merasakan sesuatu ketika aku mengatakan itu?”

Sarang merutuk pada dirinya sendiri. Kali ini dirinya yang terlalu percaya diri. Dirinya mengira Jinki tengah mengatakan cinta padanya. Padahal, itu semua hanya pemanasan.

“Tidak ada seni sama sekali,” komentar Sarang sambil menyembunyikan wajah meronanya.

“Dimatamu. Mungkin tidak di mata Sera.” Jinki menyilakan kakinya dan bersiul kecil.

“Apa? Sera? Sera sahabatku?”

“Ya. Dia yeoja yang kusukai..”

“Jadi di depan kelas itu.. saat pertama kau masuk kelas..”

“Sudah kukatakan, aku minta maaf. Yang kemarin-kemarin itu aku hanya bercanda, Sarang.”

“Oh..” guman Sarang sedikit melemas. Mengapa seperti ini? Apa Sarang cemburu karena ternyata Jinki mencintai Sera, sahabatnya. Sarang menggeleng beberapa kali.

“Kalau begitu, apa kau ingin membantuku untuk mendekatinya?”

“Kau seorang namja! Berusahalah lebih keras!” ucap Sarang dengan nada tinggi. “Aku duluan..”

Jinki hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan teman-temannya pun menghampirinya.

*

“Sarang..”

“Ada apa?” tanya Sarang pada adiknya yang lagi-lagi mengunjungi kamarnya. Hampir setiap malam.

Sarang tidak menoleh kearah Taemin. Matanya tetap fokus kearah buku novel super tebal yang sedang dibaca, di atas tempat tidur.

“Kau tidak belajar?” Taemin balas bertanya dan berbaring di samping Sarang.

“Oh, common, besok libur! Aku juga ingin sedikit menikmati waktu luangku untuk menghilangkan penat!” tukas Sarang sambil membuka kacamata berbingkai hitamnya yang selalu dipakai jika sedang membaca.

“Tidak memukuli boneka monyet itu?”

“Jangan membuatku bergairah untuk menghajarmu!”

“Aku kira bergairah untuk memeluk atau menciumku..” ujar Taemin sekenanya. Sarang melotot selebar-lebarnya dan memukul adiknya itu dengan buku yang sedang dipegangnya.

“Beringas..” gumam Taemin sambil meringis kesakitan dan mengusap kepalanya itu beberapa kali.

“Jangan berani mengusikku, bambino!!!”

“Yeah, singa betina..”

“Huuuu.. Haaahh~~,” Sarang menarik napasnya dalam-dalam dan mencoba bersabar menghadapi adik semata wayangnya itu. “Apa keperluanmu datang kemari?” tanya Sarang tetap dengan wajah kesalnya dengan gigi geraham tertutup rapat.

“Memangnya kenapa? Tidak boleh? Aku hanya ingin berbincang denganmu.”

Sarang hanya mendesah sekasar-kasarnya dan kembali memakai kacamatanya.

“About what?” Sarang membuka halaman bukunya dengan tanpa perasaan.

“Cinta?”

“Hah?!” kejut Sarang dan kembali membuka kacamatanya.

“Sudahlah, lepas kacamatamu dan simpan buku tebal itu. Ada yang akan kutanyakan padamu.”

Sarang menuruti perintah adiknya dan kini mereka berdua memasang posisi setengah duduk di atas kasur berwarna cream itu, bersampingan.

“Apa menurutmu Sera nuna dan Jinki hyung bisa menjadi pasangan yang cocok?” tanya Taemin sambil menolehkan kepalanya kearah Sarang yang kini hanya bisa menahan napas.

“Maksudmu?”

“Kau tahu aku mengikuti club Teenius dan Jinki hyung sebagai ketua di club itu. Tidak jarang dia berbincang padaku tentang cinta. Ternyata dia menyukai Sera nuna, sahabatmu.”

“Lalu apa hubungannya denganku?” tanya Sarang yang masih bisa menguasai emosinya yang sedang labil hari ini.

“Sera nuna sahabatmu.”

“Meskipun aku sahabatnya, itu bukan masalahku!!”

“Aku hanya meminta pendapatmu jika mereka berdua menjadi sepasang kekasih. Mengapa kau marah-marah? Apa kau cemburu?”

“HAH?! CEMBURU?! HAHAHAHAHA!! HAHAHAHA!! HAHAHAHAHAAA~.”

“Sarang, kau baik-baik saja?” tanya Taemin khawatir sambil memegang kedua bahu Sarang dan mengguncang-guncangnya tidak sabar.

“AKU TIDAK AKAN BAIK-BAIK SAJA SELAMA KAU MASIH BERADA DI DALAM ZONAKU!!”

“Katakan saja kalau kau ingin aku keluar dari kamarmu, singa betina!”

“Itu kau sudah mengerti, BAMBINOOO! HAH! Aku menjadi tidak mood membaca buku!” Sarang menghempaskan buku itu di meja samping tempat tidurnya. “Mengerjakan soal integral mungkin akan berhasil menaikkan moodku!” ketus Sarang dan berjalan dengan langkah keras kearah meja belajarnya. Sementara Taemin hanya melongo dan turun dari tempat tidur Sarang perlahan.

“Kau benar-benar tidak normal.”

“Tuan muda,” panggil seorang pelayan yang sudah berdiri di ambang pintu kamar Sarang dan membungkukkan punggungnya. “Maaf mengganggu. Ada empat orang yeoja yang menunggumu di ruang utama. Sepertinya mereka tidak baik-baik saja.”

“Gawat..” Taemin meremas rambutnya singkat dan cepat melangkah keluar kamar. Sarang yang mendengar itu hanya tertawa terbahak-bahak.

Setelah pintu kamarnya di tutup oleh sang pelayan, dengan ragu dirinya membuka satu box tempat boneka pelampiasan disimpan.

Diraihnya boneka booth yang sangat di bencinya itu. Tapi kini dirinya tidak menyiksa atau memukul secara otoriter. Tapi di pandangnya mata boneka itu lekat-lekat.

“AARRGGHH!! Kenapa aku tidak bisa mengenyahkan bayangan itu! Pergi kau, jeleeek!!” teriak Sarang sambil melempar boneka itu tanpa perasaan ke tempat semula. Napasnya naik turun lalu menggeleng sambil merapatkan matanya berlebihan.

“Aku tidak mungkin menyukainya.. Jinki adalah musuh terbesarku!! Tapi mengapa.. Mengapa kejadian di taman tadi tidak dapat kusingkirkan? Dan.. sedikit membuatku.. ARGH!!”

Sarang kembali memegang kepalanya dan menggeleng. “Seharusnya kau senang, Sarang. Jika Jinki dan Sera menjadi sepasang kekasih, itu akan membuat peringkatmu tetap di urutan teratas. Yeah.. benar.”

**

“Kau sedang diet, bukan? Berikan saja ham itu untukku!”

“Tapi aku kelaparan!” seru Sarang dan merebut hamnya yang sudah tersangkut di garpu milik Taemin.

“Ah, ya. Aku baru ingat kalau daging adalah makanan kewajibanmu,” kata Taemin. Sarang yang berada di samping kirinya melirik tajam kearah Taemin sekilas.

“Apa maksudmu?” tanya Sarang sambil memotong ham itu dengan ukuran besar dan melahapnya dengan ganas.

“Kau kan singa betina,” jawab Taemin dengan santainya. Tidak memikirkan kata-kata yang di ucapkannya itu akan membuat Sarang sedikit bereaksi.

“YEAH!! AKU MEMANG SINGA BETINA YANG AGRESIF DAN AKAN MEMAKANMU SEKARANG JUGAA!!” teriak Sarang tidak tertahan. Taemin ikut berteriak ketika Sarang mengarahkan pisau ke arahnya.

Suasana ruang makan di rumah besar itu selalu saja berisik seperti ini. Para pelayan berdiri berjajar di sekeliling mereka hanya bisa tersenyum atau menutup telinga rapat-rapat melihat tingkah anak majikannya yang memang tidak pernah akur setiap harinya dan membuat keributan heboh. Ditambah Taemin yang selalu sengaja mengganggu sang nuna.

KLIIINNG~

Terdengar bunyi bel yang berasal dari handphone Sarang. Dengan perlahan Sarang menurunkan pisaunya yang terhunus kearah Taemin lalu mengeluarkan iPhonenya.

 

From: Princess Sera ^^

To: You

Aku tunggu kau di cafeku sekarang juga, honeykuu :* ada yang ingin aku bicarakan padamu..

 

Sarang menyimpan garpu dan pisaunya di samping kanan piring. Taemin yang sedang serius mengunyah makanannya melirik penuh keingin tahuan.

“Mau kemana kau?”

“Mencari mangsa.”

“Aku serius, Sarang,” tukas Taemin dan menahan pergelangan tangan Sarang.

“Ini bukan urusanmu, bambinooo, lepaaas!”

Akhirnya Sarang terbebas dari jeratan Taemin dan segera menuju mobilnya yang sudah terparkir rapi di depan pintu masuk utama .

*

“Kau ingin minum sesuatu?” tawar Sera setelah Sarang duduk di hadapannya dengan manis.

“Tentu saja. Tapi bebas biaya, bukan?” Sarang tertawa kecil. Sera ikut tertawa dan mengangguk. “Aku ingin fruit salad. Perutku sudah penuh dengan air pagi ini.”

“Baiklah..”

Sera meninggalkan Sarang seorang diri di salah satu meja cafe yang cukup sejuk tertutupi pohon rimbun itu.

Pikirannya melayang. Sedikit penasaran dengan apa yang akan dikatakan Sera sekarang. Apa dia akan mengatakan bahwa Jinki sudah menyatakan cinta? Atau dia akan mengatakan bahwa mereka sudah menjalin hubungan? Tidaak!

“Sarang?” sapa seorang namja. Sarang berbalik dan sedikit menengadah untuk melihat jelas siapa namja yang datang itu. Lee Jinki. Cepat-cepat Sarang memalingkan wajahnya dan beralih melihat menu yang sebenarnya sangat tidak penting untuk dilirik.

“Sarang?” Jinki mengulang kembali kata-katanya yang belum juga mendapat respon hangat dari Sarang.

“Apa siiih?!” jawab Sarang tanpa menatap lawan bicaranya. Dirinya benar-benar terkejut melihat kedatangan Jinki disini.

“Pagi yang segar, meskipun hari sudah mulai siang. Bagaimana kabarmu?” tanya Jinki dengan nada bersahabat dan menempatkan kedua tangannya di atas meja.

“Baik,” jawab Sarang seperlunya dan berbalik, mengecek apakah Sera sudah kembali dan membawakan pesanannya.

“Kau kenapa? Hey, apa aku sudah melakukan kesalahan dan membuatmu menghiraukanku pagi ini?” Jinki bertanya lagi. Tapi tetap senyum manisnya tidak luput dari bibirnya. Terlihat sangat tampan hari ini dengan memakai baju jas cream kasual dengan lengan yang di angkat sampai sikut.

“Apa kau tidak lihat kalau aku sedang membaca?” tanya Sarang dengan nada sedikit sinis.

“Ah? Membaca? Membaca daftar menu maksudmu?” Jinki balas bertanya dengan satu alis terangkat.

Sarang sedikit tidak bisa mengontrol dirinya. Dia baru menyadari kalau yang dilakukannya benar-benar konyol. Membaca daftar menu? Great reason.

“Apalagi!!” jawab Sarang dengan teriakan.

“Kau sedang kedatangan tamu, ya?” tebak Jinki sambil menunjuk Sarang dengan tatapan jahil.

“Tamu dari mana? Oh, damn God! Tutup mulutmu!!”

“Dari Cibeureum..” jawab Onew sedikit berbisik. Sarang mengerutkan keningnya.

“Mworago?! Aku tidak mengerti!”

“Ah, eneng mah..”

“YA!! Aku baru sadar!! Tidak! Aku sedang tidak dapat mens!! Sok tahu..”

“Tapi marahmu itu berlebihan..” ucap Jinki melemas dan ikut melihat daftar menu yang lainnya—juga terletak di meja itu.

Jujur saja, jantung Sarang berdetak sangat kencang saat Jinki datang, saat Jinki menyapanya, saat Jinki berbicara padanya dan semuanya! Dirinya hanya bisa marah untuk menutupi kegugupannya.

Tidak lama Sera datang. Jinki berdiri dari tempat duduknya, menyambut Sera dengan senyum sempurna dan mengecup pipi kanan Sera. Sarang yang tidak sengaja melihat adegan telenovela itu hanya membuang muka dan berusaha menyembunyikan bunyi detakan jantung yang sepertinya mulai mengeras.

“Fruit salad..” ucap Sera sambil menyimpan makanan itu di depan Sarang. Sarang hanya tersenyum hambar dan menganggukkan kepala tanda terimakasih.

“Sarang, aku ingin mengucapkan terimakasih padamu.” Jinki memulai pembicaraan yang mungkin sangat ditunggu-tunggu Sarang.

“Untuk apa?”

“Aku dan Sera sudah menjadi sepasang kekasih. Terdengar mengejutkan?” tanya Jinki sambil menganga senang.

“Tidak sama sekali!” ucap Sarang ketus dan itu membuat mulut Onew dengan cepat tertutup rapat. Sementara Sera hanya mengangkat kedua alisnya, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sarang.

“Aku pikir kau akan senang. Bukannya kemarin kau memintaku untuk menyatakan cinta pada yeoja yang kusuka?” kata Onew sambil melihat Sarang yang sedang gelagapan mencari alasan yang logis.

“Uh, karena aku tahu Sera akan menerima cintamu tanpa ragu. Asal kau tahu, dia selalu mengagungkanmu setiap waktu dan itu membuatku cukup tersiksa,” jawab Sarang. Jinki mengangguk mengerti.

Dengan cepat Sarang memakan fruit saladnya. Berharap cepat meninggalkan tempat ini dan melesat pergi mencari suatu tempat untuk mengasingkan diri. Dirinya benar-benar tidak mengerti, dengan perasaan apa yang sedang dirasakannya. Ketika melihat senyuman Jinki, hatinya merasa perih. Apalagi ketika Jinki meraih jemari Sera dan mereka tertawa bersama. Itu menyakitkan.

“Sarang, nanti malam aku dan Jinki akan pergi bermain. Kau harus ikut! Akan kujemput pukul tujuh di rumahmu,” ucap Sera tiba-tiba dan itu sangat mengejutkan!

“Ha? Itu tidak bisa dikatakan bermain. Kalian sepasang kekasih. Itu adalah acara kencan kalian. Jika aku ikut, mungkin aku akan jadi pengganggu..”

“Ya! Apa kau tahu? Jika namja dan yeoja sedang berduaan, yang ketiga adalah setan. Jadi tolong jangan menolak permintaan kami,” tambah Jinki membela Sera.

“JADI KAU SAMAKAN AKU DENGAN SETAN?!!” teriak Sarang tidak sabar sambil berkacak pinggang. Jinki terkesiap.

“Bukan! Bukan seperti itu! Ya.. setidaknya kau mengganti posisi setan?”

“Kau secara tidak langsung meledekku, Jinki! Bisa-bisanya kau samakan bidadari cantik sepertiku dengan setan?” tanya Sarang yang lebih menekankan kata ‘setan’ di akhir. Sera hanya bisa menutup mulutnya, tidak tahan untuk menahan tawa. Jinki.. Jinki..

“Maafkan aku, aku menyesal. Kadang-kadang bibir dan lidahku ini tidak bisa di ajak kerjasama dengan otakku. Ayolah, Saraaang~,” pinta Jinki. Digigitnya pipi bagian dalam sambil menunggu jawaban Sarang.

“Aku kabari lagi..”

*

“Sarang si singa betinaaaa!!” teriak Taemin. Lagi-lagi namdongsaengnya itu memasuki kamarnya. Kegiatan rutin setiap hari.

“You.. OUT!!” teriak Sarang tanpa pemanasan untuk mengusir Taemin dari kamarnya. Huh, si mesin penghancur mood.

“Kau tidak keluar?” tanya Taemin sambil berjalan menghampiri Sarang yang tengah bermain game The Sims dari komputernya.

“Tidak.”

“Ini malam minggu..”

“LALU APA MASALAHNYA KALAU MALAM MINGGU??!” tanya Sarang yang belum juga menatap adiknya. Tetap terfokus pada game di hadapannya.

“Apa kau tidak laku di pasaran?”

“Pasaran?!”

“Apa kau tidak disukai para namja?” tanya Taemin, memperhalus kata-katanya.

“Jangan asal bicara kau! Banyak sekali namja di luar sana yang menginginkan yeoja sempurna sepertiku. Karena mereka sadar bahwa mereka tidak sempurna, jadi mereka tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan cinta atau mengajakku berkencan di malam minggu,” jelas Sarang panjang lebar.

“Jadi kau ingin namja yang sempurna?” kali ini Sarang menatap Taemin dan mengangguk mantap layak bangsawan. “Jinki hyung sempurna menurutku. Mungkin hanya dia dan aku saja namja yang sempurna di sekolah kita,” tambah Taemin dengan penuh percaya diri.

“Jangan terlalu percaya diri, bambino! Bagiku kau sangat jelek dan buruk rupa!” cetus Sarang dan berjalan menuju sofa, duduk santai dengan menyandarkan punggungnya, rileks.

“Tapi aku mempunyai banyak yeoja. Tidak seperti kau.”

“Eh? Mungkin aku yang harus bertanya, mengapa kau tidak keluar? Biasanya setiap malam minggu kau tidak bunuh diri memasuki zonaku.”

“Jangan pura-pura tidak tahu, singa betina! Mereka sudah memutuskan hubungan denganku kemarin. Tapi itu tidak masalah. Aku masih mempunyai banyak cadangan di dalam dan di luar negeri.”

Sarang hanya menggeleng beberapa kali melihat adiknya. Taemin berjalan menghampiri Sarang kembali dan duduk di sampingnya.

“Aku tidak menyangka kau kalah dengan Sera nuna. Dia sangat beruntung mendapatkan Jinki hyung,” ucap Taemin yang tidak disambut baik oleh Sarang.

“Aku tidak menyukainya.”

“Benar-benar tidak normal. Para yeoja di sekolah selalu histeris meneriakkan namanya, dan kau hanya satu-satunya yeoja yang tidak menyukainya? Makhluk apa kau?”

“Seperti aku tidak menyukaimu, bambino!”

Taemin menyandarkan kepalanya di pundak kanan Sarang. Sarang yang mendapat perlakuan manja itu hanya mengerutkan keningnya dalam.

“Jika kau mempunyai kekasih, kau akan dipeluk seperti ini,” ucap Taemin sambil memeluk nunanya dengan sangat nyaman.

“LEPASKAN AKU! Jangan kau jadikan aku sebagai cadanganmu!” teriak Sarang dengan telapak tangannya yang mendorong wajah Taemin agar menjauh.

“Hah, pantas saja. Kau tidak romantis, Sarang!”

Tiba-tiba terdengar suara handphone berdering. Sarang melirik jam dinding yang terpasang di atas meja komputernya. Pukul tujuh kurang lima belas menit.

“Yoboseyo?” tanya Sarang.

“Ya! Sarang-aaah~ ayolah ikut bersamaku!”

“Aku sedang tidak ingin keluar, Sera! Dan memang aku tidak terbiasa. Lebih baik aku berkencan dengan komputer atau dengan buku malam ini. Bersenang-senanglah..”

KLIK!!

“Tidak normal..”

“DIAM KAU, TAEMIN!!!”

“Akhirnya kau memakai nama asliku..”

**

Beberapa hari sudah terlewati. Sarang semakin tidak mengerti dengan perasaannya pada Jinki. Jantungnya selalu sesak jika Jinki memberikan senyuman hangat padanya. Nafasnya selalu tercekat ketika Jinki menyapanya. Dan hatinya selalu sakit jika melihat Jinki sedang berduaan dengan Sera. Sarang hanya bisa berlari dan berdiam diri saat itu juga.

Dan kini, matanya sudah lebih dari sepuluh kali melihat Jinki dan Sera duduk berdua di dalam kelas sambil belajar dan itu sangat terlihat romantis di mata Sarang.

Nilai ulangannya tidak menurun. Hanya saja Jinki memang selalu mendapat nilai sempurna. Selain namja itu sudah membuat Sarang menangis karena Sera, Jinki juga membuat Sarang menangis karena nilainya kalah jauh dari Jinki.

Dirinya lebih banyak menyendiri sekarang. Sang sahabat sudah tidak setiap waktu berjalan di sampingnya. Hanya pengganggu si Taemin yang tidak bosan mendekati dan menggodanya.

“Ah! Mengapa sama saja?! Memiliki pasangan atau tidak, dia selalu saja bisa mengalahkanku. Sera.. Jinki.. Aku tidak menyukai couple itu… Apa mungkin aku menyukai Jinki? Haaahh… Ini semua gara-gara Jinki menjadikanku kelinci percobaan dan itu berhasil membuatku.. AARRGH!!” teriak Sarang yang sedang duduk menyendiri di taman belakang. Tidak ada seorang pun yang menemaninya.

*

Sarang berada tepat di belakang Jinki juga Sera. Kedua adam dan hawa itu sangat terlihat romantis. Jinki yang selalu mengusap ujung kepala Sera, melingkarkan lengannya di pinggang Sera. Jujur, Sarang tidak bisa menahan hasratnya untuk menangis saat itu juga. Benar, dirinya menyukai Jinki yang memang sempurna.

“Sarang! Over here!” teriak siapa lagi kalau bukan Taemin. Sarang memutar kepalanya dan menemukan Taemin sedang berdiri di samping mobil sport merah menyalanya. “Ayo kita pulang!”

“Sarang, bukannya kau akan pulang bersamaku?” tanya Jinki sambil memainkan kunci mobil di telunjuknya.

“Lebih baik aku dengan Taemin saja. Aku tidak ingin mengganggu kalian. Bye~.”

“Bye..”

Jinki dan Sera kembali berjalan berdua sambil tertawa. Sarang yang ketika itu membalikkan badannya, hanya bisa terdiam dan menghampiri Taemin.

Di perjalanan pulang, Taemin tidak menggodanya. Dia sudah mengerti alasan mengapa Sarang menjadi pendiam seperti ini. Yeah, kini Sarang sudah tidak peduli dengan ejekan yang diberikan Taemin padanya. Hanya mengangguk dan diam. Tidak asik.

*

Sarang tidak mempunyai semangat untuk belajar. Kini dirinya hanya menahan tangis sambil duduk di atas kasur besarnya. Menatap layar handphone, membaca pesan yang dikirimkan Sera.

 

To: SARANGHAEE!!

From: Sera

SARAAAAAANNGGG!! DIA MENCIUMKU DI MOBIL SEPULANG SEKOLAAAH XDDD

 

“Saraaaang~,” panggil Taemin seperti pada anak di bawah umur lima tahun sambil menutup pintu kamar Sarang perlahan.

Sarang yang melihat kedatangan Taemin, langsung saja menuruni kasurnya dan memeluk Taemin dengan erat. Menangis di dalam pelukan adiknya itu.

“Sarang.. kau menangis?”

“Aku seorang manusia sekarang. Jangan banyak komentar!”

“Okay, Miss..”

“Taemiiiiin~, jujur, aku menyukainyaaa~,” rengek Sarang sambil terisak. Taemin yang mendengar itu hanya tersenyum.

“Jinki hyung, maksudmu?” tanya Taemin. Dirinya bisa merasakan Sarang tengah mengangguk di dadanya. Tubuh tinggi Taemin membuat Sarang nyaman.

“Apa yang harus aku lakukan, Taemin? Aku tidak mungkin menyukai kekasih sahabatku.”

“Lupakan Jinki?” jawab Taemin dengan senyum jahil. Tidak lama Taemin merasakan dadanya di pukul pelan.

“Kau tahu aku ingin namja yang melebihi segalanya dariku.”

“Di sekolah hanya aku dan Jinki hyung. Apa mempunyai diriku itu tidak cukup?” Taemin tidak menyerah untuk menggoda Sarang dalam keadaan seperti ini.

“Kau tidak berguna.” Sarang melepas pelukannya. Tapi dengan segera Taemin menarik lengan Sarang dan kembali di pelukannya.

“Jangan pergi, Saraaang! Aku menyayangimu..” Kini Taemin yang memeluk Sarang lebih erat. “Aku akan membantumu sebisaku..”

“Thanks, bambino..”

“Tidak jadi!” kata Taemin dan melepas pelukannya.

“Thanks, Taemin, my piggy..”

“Ya!!!”

“Hhahahaaa, Taemin my bro..”

“Jangan tertawa! Kau sedang menangis, singa betina..”

Kini Taemin tersenyum dan memeluk nunanya kembali.

**

Jam pulang sekolah sudah tiba. Tidak seperti biasanya, Sarang tidak bangkit dari tempat duduknya dan bergegas pulang. Kini matanya terfokus pada satu buku tebal berjudul ‘History of SHINee Kingdom’ sambil menunggu Heechul sonsaengnim yang mempunyai satu urusan dengannya datang.

“Sarang!” panggil seseorang. Sarang mengangkat kepalanya dan menemukan Jinki tengah membawa satu amplop berwarna merah muda yang disodorkan kepadanya. Mengapa dia belum pulang?

“Apa ini?” tanya Sarang sambil menerima amplop itu.

“Heechul sonsaengnim yang memintaku untuk memberikan itu padamu. Itu hukuman karena kau tidak fokus dalam pelajarannya tadi pagi,” jelas Jinki dan duduk di bangkunya, tepat di samping Sarang.

“APA?!! Aku mendapat hukuman? Gosh.. Ini pertama kali dalam seumur hidupku!” seru Sarang. Jinki hanya tersenyum ketika melihat mata Sarang yang berkaca-kaca.

“Aku yakin soal-soal itu tidak akan sulit untukmu. Kalau kau sudah selesai, temui aku di mobil! Heechul sonsaengnim menyuruhku yang mengumpulkannya besok pagi. Good luck, Sarang!”

Setelah Jinki keluar ruangan kelasnya, Sarang menyeka dan menyusut air mata yang berjatuhan. Bagaimana semua ini bisa terjadi?

Perlahan Sarang membuka amplop itu. Keningnya berkerut dalam ketika melihat jenis soal yang  keluar. Ini bukan soal pengetahuan umum, pikirnya.

Di sana tertulis, petunjuk mengerjakan soal. Berilah tanda centang pada jawaban yang paling tepat. Jawab sejujur-jujurnya dan dilarang berbohong. Karena berbohong itu dosa.

Soal nomor pertama. Apakah kau sedang jatuh cinta?

“Sebenarnya ini apa? Apa Jinki sedang mencoba menjahiliku?” rutuk Sarang.

Tapi akhirnya Sarang memilih jawaban ‘ya’. Soal berikutnya.

Nomor dua. Namja yang kau sukai adalah namja sempurna. Kaya raya, popular, pintar dan tampan? Okay, Sera menjawab ‘ya’ kembali.

Nomor tiga. Jika kau sedang kesal padanya, kau mempunyai sesuatu yang berfungsi menjadi korban? Alis Sarang berkerut dalam. Ada yang tidak beres. Tapi dirinya masih penasaran dan terus menjawab dengan ‘ya’ jika itu memang benar.

Nomor empat. Kau selalu cemburu ketika namja itu berduaan dengan kekasihnya? Sarang mengangguk cepat dan mengisi ‘ya’.

Nomor lima. Namja itu membuatmu tidak dapat berkonsentrasi dalam mengerjakan apapun? ‘Ya’.

Nomor enam. Namja itu bernama Lee Jinki? Kini jantung Sarang yang berdetak tidak normal. Tapi akhirnya Sarang menjawab ‘ya’.

Nomor tujuh. Apa kau yakin kalau Lee Jinki mencintaimu? Sarang membuang napasnya perlahan dan menjawab ‘tidak’. Sepertinya soal ini lebih sulit dari fisika.

Di bagian lembaran kertas itu terdapat pesan dari Heechul sonsaengnim. ‘Sarang, jika semua pertanyaan ini benar, kau lolos. Tapi jika salah satu salah, maka kau harus menerima hukuman kedua dan tidak boleh dilanggar!! Kau tahu itu.’

Dengan teliti Sarang memeriksa jawabannya. Dia tidak ragu dan yakin semua benar. Ya, benar! Semua tentang Jinki! Heechul sonsaengnim pasti sedang bergurau, batin Sarang yang memang tidak mengerti dengan kelakuan guru aneh itu.

Tangannya memegang amplop erat-erat sambil menuruni anak tangga dan melewati koridor sekolahnya yang sudah cukup sepi. Sarang berjalan menuju tempat parkir siswa, menemui Jinki. Jantungnya mulai tidak bisa diajak kompromi dalam keadaan seperti ini.

“Sudah selesai?” tanya Jinki dengan suara lembutnya ketika Sarang memasuki mobilnya di kursi depan.

“Dimana Sera?” tanya Sarang, tidak menjawab pertanyaan Jinki yang lebih dulu dilontarkan.

“Sudah selesai?” Jinki mengulang pertanyaannya. Sarang menundukkan kepalanya dan mengangguk pelan. “Sulit?”

“Sebagian..”

“Berikan padaku!” Jinki merebut amplop itu dan dengan cepat membukanya. Sarang hanya bisa menganga dan mencoba menutupi soal apa yang sudah di berikan Heechul sonsaengnim.

“Dengarkan aku, Jinki! Aku juga tidak tahu megapa Heechul sonsangnim memberiku soal ini. Demi salju yang turun di musim panas, aku tidak tahu apa-apa!” oceh Sarang sambil berusaha menutupi isi lembaran itu dari pandangan Jinki.

“Sarang, Heechul sonsaengnim memang selalu memberi hukuman soal tentangku pada murid yeoja. Karena sebagian besar penyebabnya adalah aku. Karena aku yang terlalu mempesona dan membuat para yeoja lupa diri dan melamun saat pelajaran berlangsung. Aku sudah tahu itu. Dan aku sangat penasaran dengan jawaban yang kau isi. Jadi biarkan aku melihatnya..”

Sarang hanya bisa menatap Jinki dengan mata sayunya. Menyerah dan malu. Membiarkan Jinki tahu semuanya. Semua perasaannya selama ini yang berhasil disembunyikan.

“Kau salah satu!” seru Jinki dan membuat Sarang tercengang. Jawaban yang dia isi pasti tidak ada yang salah!

“Kau pasti keliru. Nomor berapa?” tanya Sarang sambil merebut kertas itu.

“Nomor tujuh.”

Dengan cepat Sarang mengarahkan matanya pada soal nomor tujuh. Apa kau yakin kalau Lee Jinki mencintaimu? Jawabannya adalah tidak. Dia berpikir, pilihan jawaban hanya ada dua. Ya dan tidak. Mana mungkin jawaban yang tepat adalah ya. Karena Sarang tahu Jinki mempunyai Sera.

“Ini tidak mungkin. Kau kekasihnya Sera, Jinki.”

“Seharusnya kau bertanya padaku untuk soal ini. Kau tidak berhak menjawab semaumu,” ucap Jinki tenang sambil menatap mata Sarang dalam. “Kau harus mendapat hukuman kedua! Menjadi kekasihku. Karena jawabannya adalah ya, Sarang…”

“Aku tidak ingin kau menyakiti hati Sera! Dia sahabatku!”

“Hubunganku dengannya sudah berakhir.”

“Apa?”

“Ya.. Because she is not a great kisser,” bisik Jinki dan Sarang masih bisa mendengar itu. Jinki tersenyum jahil.

“Kau bercanda, kan?”

“Memang. Sarang, aku dan  Sera tidak akan pernah dan tidak akan bisa menjadi sepasang kekasih. Dia adalah saudaraku. Putri dari auntyku.” Jinki membawa lembaran itu di tangan Sarang dan menyimpannya sembarang. Kini tangannya menggenggam kedua tangan Sarang. “Aku hanya mencintaimu, Sarang. Sedari dulu. Dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan agar bisa dekat denganmu.”

“Tunggu, jadi hari pertama itu? Dan ketika di taman?”

“Itu benar. Aku tidak berbohong! Hanya saja ketika melihat responmu padaku tidak baik, jadi aku urungkan niatku. Tapi kini aku sudah tahu kalau kau juga menyukaiku. Sejak kapan?”

“Sejak kau menyatakan cinta. Dan ternyata itu bukan untukku. Semenjak itu aku selalu memikirkanmu,” jawab Sarang dengan wajah yang mulai memerah. Jinki tertawa kecil.

“Hanya satu yang aku khawatirkan sekarang. Tidak masalah bukan, kalau nilaiku lebih besar darimu?” tanya Jinki hati-hati.

“Okay, kita bersaing. Aku tidak akan kalah darimu, Jinki!”

“I like this..”

Mereka berdua tertawa. Tapi ketika tawaan mereka berhenti, semua menjadi terasa canggung. Jinki menatap Sarang sangat dalam dan lembut.

“Kau milikku..” ucap Jinki sambil mencium kening Sarang dengan kuat.

“Tidak elit sekali berpacaran di tempat parkir!” teriak seseorang yang sudah tidak diragukan lagi itu adalah suara Taemin. “Bagaimana, singa betina? Kau sudah mendapatkan Jinki hyung untuk dimangsa? HAHAHA!!”

“KYAAAA~ TAEMINNIIIE~!!!” seru Sarang dan turun dari mobil Jinki menghambur ke dalam pelukan Taemin. “Aku menyayangimu, Taemiiinn..”

“Kau tidak menyerangku?” tanya Taemin pada nunanya.

“Aku mempunyai dua namja sempurna dan itu benar-benar sangat membuatku bahagia!”

“Bagaimana denganku?” Seseorang muncul di tengah-tengah adegan ini. Sarang berbalik dan menemukan Sera tengah membuka tangannya lebar-lebar, siap memeluk.

“Kau yang terbaik, Seraaaa~!”

Mereka berpelukan. Diam-diam Jinki, Taemin dan Sera mengangkat ibu jarinya masing-masing.

“Aku mencintai kaliaaan..”

 

THE END

6 thoughts on “(SHINee) HELLO SMART BOO [ CHAP 2 – END ]

  1. ONEWWWWWWWW AAAAAAAAAAAAAA ONEEEEWWWWWWWWW AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!! *sesak nafas* wkwkwk, aaaaaaaaaah *gak bisa bilang apa-apa* SUKA SUKA SUKA BANGET. Apalagi pemeran utamanya si ayam:3 muehehehe, bikin yang key dong:33333

  2. Haaaahhh..m
    Jinjaaa… Sepertinya harus benar-benar memupuskan harapanku untuk pasangan taemin dan sarang… Aishhh mereka beneran kakak adik tanpa embel-embel cinta didalamnyaaa… #jambakRambut. Frustasiii. Tapi aku suka mereka berdua bersamaa, walaupun mereka kk adikk.. #ditendangHeera.berisikk… Hahah.
    Okee saengg ditunggu kelanjutan mereka semua, sarang dengan kelima saudara laki-lakinya. ♥(>̯┌┐<)•°. Hwaiting…#kecupBasah. :)

  3. ah licik, itu permainan dan rencana mereka (Taemin, Jinki, Sera) buat bkin Sarang ngaku sendiri dia suka sma Jinki :D haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s