ELECTRIC [ CHAP 12 ]

ELECTRIC

tumblr_m3llrrgfJc1rto225o1_1280

Author: Shin Heesa

Cast:

  • EXO
  • Kim Heesa

Disclaim: Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Ps:

  • Don’t be silent reader
  • Don’t copy – paste my imaginations!

………………………………………………………………….

(Author POV)

Heesa menggigit bibir bawahnya, ia tahu ia harus siap mendengarkan apapun yang Luhan katakan, yang Luhan putuskan. Dan tanpa sadar kini Heesa tengah menahan nafasnya..

Luhan menarik nafas panjang kemudian menatap Heesa tajam. “Kita tolak saja keputusan mereka.”

Heesa mengerjapkan matanya beberapa kali. Jantungnya berdegup sangat cepat. Matanya melihat Luhan dengan tatapan redup, seolah dalam beberapa detik Luhan telah menghancurkan perasaannya dengan mudahnya. Heesa menggigit bibir bawahnya kecil.

Heesa mengeluarkan nafasnya yang sedari tadi ia tahan, kemudian mengangguk. “Tentu saja kita akan menolaknya,” ucap Heesa dengan sangat berat hati untuk menyetujuinya.

“Nanti malam kita bisa membicarakannya dengan mereka,” ucap Luhan seolah tanpa ada beban. Heesa menarik nafas panjang diam-diam.

“…tentu.”

Luhan menatap mata Heesa selama beberapa detik. Raut mukanya sama sekali tidak mengeluarkan sebuah ekspresi. Heesa mengalihkan wajahnya ke arah lain karena ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Luhan.

Akhirnya Luhan mengambil langkah menuju pintu masuk menuju kampus, meninggalkan Heesa yang kini dengan perlahan tengah mengeluarkan air matanya satu per satu.

“Menikah..” ucap Heesa dengan suara paraunya karena menangis. “Ya, Heesa. Kau tidak mungkin menikah dengannya.. kau tidak bisa membahagiakan Luhan. Kau harus melepasnya, Heesa.. kau harus bisa..”

Heesa menghapus air matanya, namun ia tetap tidak bisa berhenti menangis.

Detik kemudian terdengar sayup-sayup suara tepuk tangan dari belakang punggungnya. Heesa segera berbalik, dan matanya menangkap sosok Sera dan Chaeri disana.

“Bagus, Heesa. Kau membuat Luhan meninggalkanku di taman sendirian karenamu,” ucap Chaeri sinis. Ia mendekat pada Heesa sambil memandangnya remeh.

“Luhan membawaku kemari karena ingin bersepakat denganku,” jawab Heesa sambil menghapus air matanya.

“Bersepakat tentang apa?”

“Kami akan membatalkan perjodohan kami,” jawab Heesa tanpa berani menatap mata Chaeri. Chaeri mengerjapkan matanya, kemudian tertawa puas.

“Kalian akan membatalkannya? Itu berita bagus! Haha..” ucap Chaeri sambil berjalan disekitar Heesa.

Sera hanya tertawa sinis.

Setelah berhenti tertawa, Chaeri segera mengambil posisi dihadapan Heesa. Chaeri mengangkat tangannya, kemudian melayangkannya menuju pipi Heesa.

PLAK!

Kepala Heesa terbanting ke arah lain. Heesa meringis kesakitan, namun ia menahannya.

“Tamparan itu karena kau membuat Luhan meninggalkanku sendirian di taman. Ayo Sera! Kita pergi.”

Heesa hanya mampu melihat kepergian Sera dan Chaeri dengan dipenuhi rasa kesal dan benci. Heesa segera menghapus air matanya yang kembali mengalir, kemudian menarik nafas panjang.

“Kau harus sabar, Heesa..”

*

Tidak terasa ujian putaran kedua telah berakhir. Seorang namja kini tengah berlari cepat disepanjang lorong menuju tempat yang ia tuju. Ia rela menabrak siapapun yang menghalangi jalannya, yang terpenting ia harus cepat sampai di tempat tujuannya.

Namja itu segera memberhentikan langkahnya setelah sampai di tempat tujuannya. Nafasnya terengah karena lelah berlari selama kurang lebih sepuluh menit dengan kecepatan penuh.

Kini mata bulatnya menelusuri seluruh isi studio dance. Ia mencari satu sosok yang sangat ia butuhkan saat ini. Dan ketika ia menemukannya, matanya semakin membulat.

“KAI!” teriak Dio dengan sekuat tenaga, sedikit membuat kehebohan karena gema suaranya yang terpantul di dalam studio besar itu. Dan Kai tentu saja mengalami serangan jantung mendadak selama beberapa detik karena terkejut, kemudian ia segera mengatur nafasnya ketika ia melihat siapa yang memanggilnya dengan suara lantang.

Sebelum Kai sempat memprotes pada Dio karena membuatnya terkejut, Dio segera berlari dimana tempat Kai tengah beristirahat. Tanpa permisi Dio segera duduk di samping Kai kemudian mengatur nafasnya yang masih juga terengah.

“Ada apa kau kemari, hah? Dan teriakanmu itu, membuat pendengaranku teriritasi,” ucap Kai kesal sambil menatap Dio malas. Dio balas menatap Kai, kemudian tersenyum maafkan-aku.

“Kai, dengarkan ceritaku dulu sebelum pada pointnya,” ucap Dio tanpa ada kata meminta persetujuan. Akhirnya mau tidak mau Kai akan mendengarkannya.

“Sebenarnya aku sudah lama ingin menunjukkan ini, sejak dari awal ujian. Tetapi kulihat kau selalu sibuk dengan goyangan badanmu sehingga aku tidak bisa menyeruak masuk dan berbicara padamu,” ucap Dio dengan mimik mukanya yang tidak bisa diam. “Atau ketika aku ingin berbicara denganmu, pasti kau selalu berduaan dengan Sera. Maka dari itu mungkin Tuhan baru memberiku kesempatan sekarang untuk berbicara denganmu,” ucap Dio panjang lebar, Kai hanya diam dan tetap mendengarkan, menunggu Dio berhenti bercerita tentang perjuangannya selama ini untuk berbicara dengannya.

Dio menghembuskan nafasnya kemudian  tersenyum. “Okay, selesai.”

Dengan refleks Kai menepuk jidatnya. Ia melihat Dio kemudian meringis kesal. “Lalu apa point intinya?” tanya Kai sedikit penasaran.

Dio yang mendengarkan pertanyaan itu segera mengedarkan pandangannya ke seluruh studio, memastikan memang hanya ada mereka berdua disana.

Okay sip, memang hanya ada mereka berdua.

Namun Dio sedikit terganggu dengan pintu studio yang terbuka, dan akhirnya ia berlari kecil menuju pintu studio untuk menguncinya. Setelah selesai, ia kembali duduk di samping Kai.

Setelah siap, Dio segera mengeluarkan ponselnya. “Kai! Dengarkan aku. Ini adalah kejadian sewaktu sebelum ujian dimulai. Waktu itu, aku sempat meneleponmu karena ingin mengajakmu berjalan-jalan bersama Baekhyun, namun ketika kau mengangkat teleponku, sepertinya kau tengah mabuk kemudian menyimpan ponselmu tanpa mematikan panggilanku.. kau harus dengarkan ini. Aku merekam sedikit pembicaraanmu dengan Sera.”

Dio mulai memutar rekaman yang tersimpan diponselnya. Kai mengambil ponsel Dio kemudian mendengarkannya baik-baik.

“Seraa.. aku sudah lama menantikanmu. Mengapa kau lama sekali, hm?”

“Mengapa kau mabuk, Kai? Ada apa denganmu?”

“Kemari, Hon. Ayo, duduk disampingku..”

“K..Kai.. apa yang kaulakukan?”

“Hm? Apa yang kulakukan?…Aku kekasihmu, Sera. Apakah salah aku menciummu, hm?”

 “Kai.. kumohon..”

“Ayolah, Sera.. buat aku bahagia, buat aku senang..”

“An.. andwae..”

“Buktikan kalau kau lebih baik dari Heesa. Buktikan, Sera.. buktikan padaku..”

“Heesa?”

“Ya.. Heesa, seseorang yang amat kusayangi..”

PLAK!

“Mengapa kau menamparku, hah?!”

“Apa maksudmu kau sangat menyayangi Heesa? Apa maksudmu?! Jadi selama ini kau anggap aku apa..”

“Tentu saja kau kekasihku, Sera..”

“Sera! Sera! Jangan pergi! Kumohon..”

….

Rekaman berhenti.

Kai mengedarkan bola matanya ke seluruh sudut studio dance itu dengan pikiran yang menerawang ke masa lalu, sebelum ujian dimulai. Waktu itu.. Kai mabuk karena frustasi ketika mengetahui bahwa Luhan dan Heesa akan menikah, kemudian ia mengundang Sera ke rumahnya, dan..

Kini Kai mengingat semuanya dengan jelas.

Kai menggertakkan giginya keras. Ia mencengkram ponsel Dio kuat-kuat karena menahan marah. Dio sedikit terkejut karena ia mendengar suara hasil cengkraman Kai di ponselnya. Seolah ponselnya akan remuk dalam beberapa detik.

“Kai! Kau jangan menghancurkan barang buktimu sendiri!” teriak Dio sambil merebut ponselnya dari genggaman Kai. Namun Kai tidak membiarkan ponsel itu lepas dari tangannya.

“Dio, boleh kupinjam ponselmu untuk satu hari?” tanya Kai sambil menatap Dio tajam. Dio mengerjapkan matanya lalu mengangguk pasti.

“Tentu, Kai.”

“Terimakasih.”

Tanpa berganti kostum dance-nya Kai segera mengambil tas dan handuknya kemudian berjalan tergesa keluar dari studio dance, meninggalkan Dio yang kini tengah bertepuk tangan untuk dirinya sendiri karena telah merasa menjadi pahlawan, yah meskipun terlambat.

*

Kini Kai berlari menuju tempat parkir. Ia mencari mobil Heesa, mungkin saja yeoja itu belum pulang.

Dan benar saja, mobil Heesa masih terparkir rapi di antara mobil-mobil lainnya. Kini mata Kai berputar-putar ke sekitar tempat parkir, mungkin saja Heesa berada di sekitar tempat parkir..

Kini mata Kai menangkap satu sosok yang sedang ia cari. Yeoja itu tengah berjalan santai menuju mobilnya. Kai segera berlari mendekatinya tanpa berpikir dua kali.

“Heesa!” panggil Kai. Kini ia berada dihadapan Heesa, setelah sekian lama ia tidak mengambil jarak sedekat ini dengannya.

Heesa memberhentikan langkahnya kemudian menatap Kai dengan ragu. “Ada apa, Kai?”

Tanpa babibu lagi Kai segera menarik tangan Heesa dan mengajaknya menuju motornya. Kai segera menyalakan mesin motornya kemudian memakaikan helm pada Heesa.

“Kai? Ada apa? Kita akan ke..”

Kai menempelkan satu jarinya dibibir Heesa, menyuruh yeoja itu agar tidak banyak bertanya.

“Diamlah, dan ikut aku.”

Kai memakai helmnya kemudian naik ke atas motor, diikuti oleh Heesa setelah Kai memaksanya setengah mati agar ikut dengannya.

“….”

Sera hanya menggigit bibir bawahnya kesal. Ia membanting buku yang tengah ia genggam ke atas tanah. Nafasnya memburu karena marah.

“Heesa.. awas saja..”

**

Heesa merapatkan mantel milik Kai. Kai memberinya karena ia takut Heesa merasa kedinginan. Tentu saja, kini mereka sedang berada di bukit yang cukup tinggi, dengan angin kencang yang berhembus dengan liar disekitar mereka.

Kai menatap Heesa yang kini matanya tengah memandang lurus ke pemandangan dibawah bukit itu. Bulu matanya yang lentik terlihat sangat menggoda, rambut panjangnya yang tertiup membuatnya menguarkan aura yang memikat..

Kai segera menarik nafas panjang ketika ia mengetahui bahwa ia sudah tidak bisa menahan diri lagi jika memandang Heesa dengan seduktif seperti tadi. Dan kini ia akan berbicara pada Heesa tentang segalanya yang terjadi. Antara dirinya dengan Sera.

“Heesa, apa kau belum pernah mengunjungi tempat ini?” tanya Kai berbasa-basi, matanya memandang pemandangan Seoul yang kini terlihat seperti miniatur dimatanya.

Heesa menggeleng pelan sebagai jawaban. Kai tersenyum kemudian mengusap mukanya agar tidak terlihat gugup. Tentu saja, sudah hampir lebih dari satu minggu ia tidak berbincang dengan sahabatnya ini.

“Emm.. apa kau tahu mengapa aku membawamu kemari?” tanya Kai yang kini beralih menatap wajah Heesa. Heesa balas menatapnya.

“Kau belum memberitahuku, Kai. Mana mungkin aku bisa tahu mengapa kau membawaku kemari,” jawab Heesa dengan nada cukup datar. Kai terkikik kemudian mengelus puncak kepala Heesa.

“Aku hanya ingin kau mendengar ini..”

Kai segera mengeluarkan ponsel Dio, kemudian mencari file rekaman itu dan memutarnya.

Kai mengeraskan volume rekaman itu ketika terdengar suaranya dan suara Sera dari speaker ponsel itu. Ia memberikan ponsel itu pada Heesa dan memintanya agar mendengarkannya dengan seksama.

Heesa menerima onsel itu kemudian mendekatkan speaker ponsel itu pada telinganya. Alisnya sesekali berkerut karena menyimak percakapan itu.

Satu menit kemudian, Heesa memberikan ponsel itu pada Kai dengan raut muka yang sulit ditebak. Heran ‘kah? Atau ia tidak mengerti? Atau mungkin yeoja ini sudah tidak percaya lagi padanya? Kai tidak akan tahu apa arti dari raut wajah itu terkecuali ia bertanya ada Heesa sekarang juga.

Namun Kai tidak melakukannya.

“Apakah itu suaramu, Kai?” tanya Heesa sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin. Kai mengangguk sebagai jawabannya. “Dan disana ada suara.. Sera kurasa.”

Kai menarik nafas panjang lalu melirik yeoja itu. “Apa kau sudah mengerti?”

Heesa menggigit bibir bawahnya dengan nafas yang tertahan. Tentu saja Heesa mengerti apa maksud dari rekaman itu. Tentu saja Heesa menjadi tahu apa yang telah terjadi dibalik semua ini. Tentu saja Heesa merasa lega sekaligus merasa bersalah karena telah menyangka bahwa Kai melakukan ‘hal itu’ pada Sera.

Namun tetap saja Kai hampir melakukannya pada Sera jika Sera tidak menyangkalnya. Tetapi mengapa pada saat itu Sera memanfaatkan kesempatan? Maksudnya.. tepat pada saat malam itu Sera datang ke rumahnya dengan topeng yang sangat sempurna sehingga Heesa dengan mudahnya terbodohi oleh yeoja itu. Artinya Sera berbohong.. atau tepatnya memfitnah Kai dihadapannya dengan mengatakan bahwa Kai telah melakukannya pada Sera..

Heesa memutar badannya sembilan puluh derajat, lalu mengambil satu langkah lebih dekat dengan Kai. Heesa menatap mata Kai cukup lama, kemudian memeluk sahabatnya itu dengan erat.

Kai sedikit terkejut, namun ia senang dengan reaksi positif Heesa. Dan akhirnya Kai balas memeluk Heesa sama eratnya.

“Kai?” panggil Heesa, masih dalam pelukan Kai. Kai bergumam menyahutnya. “Maafkan aku.. aku telah salah menduga..”

“Kau tidak perlu meminta maaf, Heesa. Aku memang salah,” sangkal Kai sambil mengusap puncak kepala Heesa. Heesa tersenyum geli.

“Kau memang salah, Kai,” ucap Heesa sambil melihat pada Kai tanpa melepas rangkulan pelukannya. Kai balas menatap Heesa.

Kai memasang wajah menggemaskan. “Eum.. aku memang mengaku aku salah, tetapi aku tidak tahu salahku apa, Heesa..”

Satu jitakkan keras mendarat di kepala Kai. Kai mengaduh sakit.

“Ya! Mengapa kau memukul kepalaku~” ucap Kai sambil memanyunkan bibirnya manja. Heesa hanya memasang ekspresi datar.

“Kau ingin tahu apa salahmu?” tanya Heesa pura-pura emosi. Kai mengedipkan matanya beberapa kali. “KAU HAMPIR MELAKUKANNYA, KAAAAAII!! KAU MABUK DAN KAU LEPAS KENDALII!!! ITU SALAHMU, KAAAI!!!” teriak Heesa sambil memukul dada Kai cukup keras, menarik hidungnya sekaligus, dan mencubit pipinya keras. Menyiksanya, menumpahkan segala kekesalannya.

Kai melepaskan rangkulannya pada Heesa kemudian berjalan mundur, berusaha menghindar dari siksaan Heesa. Kai sama sekali tidak berniat untuk membalas siksaan Heesa, malah ia sangat merindukan tingkah Heesa yang menyebalkan seperti ini. Ia merindukannya. Amat sangat.

Setelah lelah, Heesa menarik nafas panjang dan mengehembuskannya dengan tempo yang tidak teratur. Kai melihat Heesa kemudian tertawa lepas.

“Capek, Honey?” tanya Kai dengan nada jailnya. Heesa mendelik cepat, namun Kai tertawa kembali. “Oh, come here. I miss you..”

Kai menarik Heesa ke dalam pelukannya sambil tertawa pelan. Mau tidak mau Heesa balas memeluk Kai dengan nafasnya yang kini mulai teratur.

“Kai?”

“Ya?”

Heesa berdehem kecil. “Aku baru menyadari bahwa aku sangat merindukan pelukanmu..” ungkap Heesa dan semakin memeluk Kai erat. Kai sedikit terkejut dengan ungkapan Heesa, namun kemudian ia tersenyum lebar.

“Ow, really? Then.. i sure you miss my kiss..

“YA!”

“Haha..”

Kai semakin memeluk Heesa erat ketika yeoja itu memberontak dari pelukannya. Heesa tertawa geli dan membalas pelukan namja itu.

“Jangan pernah sampai terjadi hal seperti ini lagi, Heesa..”

“Sure. I got it,” ucap Heesa sambil tersenyum tulus. Mendengarnya Kai juga ikut tersenyum, kemudian ia mengecup puncak kepala Heesa dengan penuh kasih sayang..

Oh, bestfriend.

***

Heesa merebahkan dirinya di atas ranjang dengan nyaman. Ia tersenyum ketika mengingat hubungannya dengan Kai telah membaik. Dan kini ia merasa hatinya kembali seperti semula. Tetapi belum sepenuhnya.

Hhh.. Luhan.

Apakah ia sudah berada di rumah? Atau ia tengah bersama Chaeri? Atau mungkin ia sedang asik menyesap rokoknya di atap sekolah?

Heesa tidak tahu pasti. Tetapi ia berharap ia tidak akan bertemu Luhan hari ini dirumah.. ia hanya sedang tidak ingin menatap bola mata namja itu. Terlalu menyakitkan.

Ah. Dan juga Heesa sepertinya harus bersiap jika ia bertemu dengan Luhan karena.. mereka berdua harus berbicara tentang kesepakatan mereka. Kesepakatan bahwa mereka tidak setuju dengan perjodohan yang kedua orangtua mereka inginkan.

Pernikahan..

Heesa rasa hal itu masih jauh berada dalam jangkauannya. Heesa merasa dirinya belum siap untuk mengahadapi hal yang satu itu. Terlalu berat dan.. tidak bisa bebas.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi, menandakan ada panggilan masuk. Heesa segera mengambil ponselnya dari dalam tas dan mengangkat panggilan itu segera ketika ia mengetahui siapa yang memanggilnya.

“Di..”

“HEESAAAAAAAAA!!!!!”

Dengan satu sentakan Heesa segera menjauhkan ponselnya dari telinganya. Suara namja itu ketika berteriak memang berpotensi untuk membuat pendengarannya hancur berantakan.

“Ada apa Diooooo? Kau hampir merusak pendengaranku, kau tahu,” ucap Heesa sambil  berdecak kesal.

Heesa mendengar suara tawa beberapa orang namja yang lepas diseberang sana. Heesa curiga bahwa kini Dio tidak sendirian, dan kini ia tengah mengeraskan panggilannya.

“Ahaha.. sorry. Aku terlalu bahagia sepertinya,” ucap Dio dengan diselai tawanya yang renyah. “Kau sudah baikan  dengan Kai?”

Mendengar pertanyaan itu, bibir Heesa segera menyunggingkan senyum yang sangat lebar. “Tentuuuu!! Aaah aku bahagia sekali ternyata dia tidak melakukannya, Dioooo!!!!!” teriak Heesa dengan jeritan senangnya. Dan Heesa kini mendengar kembali tawa lepas diseberang sana. Rasa penasaran kini sedikit menyelubungi Heesa, dan entah mengapa ia yakin Kai berada disana. Dan akhirnya ia akan mencoba memanggil nama sahabatnya itu. “KAAAII??!! KAI AKU TAHU KAU BERADA DISANA BERSAMA BAEKHYUN DAN DIOO!!”

Kai segera merebut ponsel Dio lalu mengambil alih sebagai juru bicara. “Hai, Heesa.”

“Oh! My boy!” teriak Heesa senang. Kai hanya terkikik geli.

“Aku yakin kau tengah merindukanku. Benar kan?” tanya Kai sengaja menggoda Heesa. Heesa tertawa lepas.

“Kau tahu itu, Kai~ haha..” aku Heesa jujur. Mendengarnya para namja hanya tersenyum lebar.

Dan beberapa menit kedepan, kini pikiran Heesa teralihkan oleh Kai, Dio, dan Baekhyun. Mereka asik mengungkapkan perasaan satu sama lain. Seperti tak ada beban, tak ada masalah..

Luhan memegang kenop pintu kamar Heesa erat-erat, kemudian menutupnya kembali dengan rapat setelah ia sudah berada disana semenjak Heesa memulai percakapannya dengan tiga namja itu.

Jealous.

**

Malam semakin larut. Bulan kini terlihat lebih terang dan lebih mencolok dibandingkan seluruh benda angkasa yang kini tengah menemani langit malam ini.

Namun Heesa belum bisa menutup matanya. Ia masih terjaga di balkon kamarnya sambil menikmati hembusan angin malam yang perlahan menghembuskan rambut panjangnya dengan halus.

Pikirannya tidak bisa meluruskan satu masalah yang kini belum ia selesaikan sampai saat ini. Tentu saja, dengan Luhan.

Sungguh, ia ingin Luhan mengetahui bahwa Heesa sangat mencintainya. Amat sangat menyayanginya. Namun Heesa tidak yakin apakah perasaan Luhan padanya masih seperti dulu atau sudah berubah. Dan Heesa terlalu pengecut untuk membuktikannya.

Han Chaeri. Yeoja satu ini. Bagaimana cara ia menghadapi iblis yang mendekati akhir batas kewarasan? Yeoja ini terlalu terobsesi oleh dendam masa lalu, juga pada Luhan. Dan juga, ia tidak pernah ingin melihat Heesa bahagia dengan namja yang ia sukai. Tidak untuk kedua kalinya setelah Dio. Tetapi mau bagaimana lagi? Heesa memang telah benar-benar mencintai Luhan dan tidak ingin melepasnya pada Chaeri begitu saja..

Akhirnya Heesa menyerah dengan pikirannya. Kini ia berjalan masuk menuju kamar, dan akan mencoba menutup matanya rapat-rapat dalam tidurnya. Ia ingin segera melupakan semuanya. Hanya untuk kali ini.

***

FINALLY.

Ujian berakhir.

Seluruh murid berhambur keluar kelas kemudian bersorak sorai karena ujian telah berakhir. Dan mereka menantikan satu acara khusus setelah ujian selesai.

Liburan. Liburan yang telah ditentukan oleh kampus, kini sibuk diperbincangkan oleh murid-murid kampus. Mereka sibuk merencanakan apa saja yang akan mereka lakukan ketika liburan nanti.

Tetapi tidak untuk dua orang ini. Luhan dan Heesa. Mereka berdua telah mengetahui rencana yang akan dilakukan oleh kedua orangtuanya untuk mereka, dan rencana mereka yang akan membatalkan pernikahan itu belum juga terlaksanakan, entah mengapa.

Dan satu hari yang lalu, Kai telah memutuskan hubungannya dengan Sera. Tentu saja Sera tidak mau, tetapi ia terlanjur malu untuk menyangkalnya sehingga ia menerima keputusan Kai begitu saja. Tetapi tentu saja, Sera masih menyimpan dendam pada Heesa. Hanya menyimpannya. Ia tidak ingin lagi membalaskannya. Jera.

Han Chaeri. Yeoja ini masih bertahan dengan ambisiusnya. Ia tetap menggandeng lengan Luhan tanpa rasa malu, membelai pipinya, dan memeluknya sesuka hatinya. Dan tentu saja Luhan merasa enggan. Namun bagaimana lagi, rumor hubungannya dengan Chaeri telah menyebar ke seluruh kampus, sehingga Luhan pada waktu itu memanfaatkan rumor itu karena ia sedang bertengkar dengan Heesa.

Well.. berarti hanya masalah Heesa, Luhan, dan Chaeri yang belum terselesaikan. Terlalu rumit.

Cinta segitiga. Cinta yang dipaksakan.

**

Heesa segera melempar dirinya ke atas ranjang. Ia menatap langit-langit dengan mata sayu lelahnya, mengedipkannya lambat, kemudian menarik nafas panjang.

Dio, Baekhyun, dan Kai mengajaknya untuk berpesta dirumah Kai nanti malam. Pesta semalaman non stop. Tentu saja Heesa menerimanya, ia tidak ingin membuat hatinya atau pikirannya menderita hanya karena memikirkan soal pernikahan itu. Ia lelah, dan ia hanya ingin agar masalah ini segera selesai.

Hhh. Luhan. Dimana dia?

**

Luhan berjalan dengan langkah lambat ketika memasuki rumah Sera. Ia segera membuka pintu rumah itu tanpa mengetuk atau memencet belnya terlebih dahulu. Ia yakin Sera sudah memakluminya.

Tidak banyak berubah dari rumah ini. Semua hiasan ruangan dan letak barang-barang masih berada ditempatnya. Ya, bahkan memang tidak ada yang berubah dari perletakkan barang. Yang berubah.. sepertinya suasana dari rumah itu. Terlihat sepi dan mati.

“Sera?” panggil Luhan sambil menaikki tangga, berniat mencari saudaranya itu dikamarnya. Matanya menelusuri setiap sudut ruangan itu. Namun ia tidak menemukan sosoknya.

Setelah sampai, Luhan segera melangkahkan kakinya menuju kamar Sera. Dan ia mengetuk pintunya dengan perlahan.

“Sera?” panggil Luhan, namun tidak ada yang menyahut. Luhan mengerutkan keningnya kemudian memanggil yeoja itu kembali. “Sera? Sera? Kau ada didalam?”

Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan cepat kemudian muncul dari mulut pintu itu seorang yeoja yang kini langsung memeluk Luhan dengan erat. Luhan sedikit terkejut, namun kemudian ia balas memeluknya.

“Sera? Ada apa?” tanya Luhan sambil mengusap kepala Sera dengan lembut. Sera hanya menangis tersedu. Bibirnya menutup rapat, enggan terbuka satu senti pun. Tangisannya tidak bersuara, tanda ia telah lama dan lelah untuk menangis. Nafasnya sedikit terengah. Mengetahui bahwa kini Sera sedang tidak baik-baik saja, Luhan semakin memeluknya erat.

Beberapa saat kemudian Sera melepas pelukannya. Kini ia sudah merasa cukup lega untuk bernafas.

Luhan menangkup pipi Sera dengan kedua tangannya dan menengadahkan wajah Sera agar bisa bertatapan dengannya.

“Sera.. ceritakan padaku apa yang terjadi. Jangan kau memendamnya sendiri seperti ini, hm?” ucap Luhan sambil mengelus sebagian pipi Sera dengan ibu jarinya. Sera mengedipkan matanya lambat, kemudian menatap Luhan lurus.

“Kai memutuskan hubungan denganku..”

Nafas Sera tercekat ketika mengatakannya. Luhan membulatkan matanya sesaat, kemudian menghembuskn nafas panjang perlahan.

“Lalu.. sekarang bagaimana?”

“Aku sudah memesan tiket pesawat ke New York, dan akan berangkat besok pagi..”

“Mwo?”

“Sst. Jangan bertindak berlebihan. Dan jangan khawatirkan aku.”

“Arasso.. tapi kau yakin?”

“Aku sudah pack semua barang-barangku..” tunjuk Sera sambil menunjuk pada dua koper miliknya.

Luhan memeluk Sera sekali lagi. “Kalau begitu besok akan kuantar kau..”

“Jangan! Aku bisa sendiri. Sungguh.”

“Sera..”

“Kumohon, Oppa. Aku sudah besar, kau tahu,” sangkal Sera sambil memanyunkan bibirnya. Luhan tertawa kecil kemudian mengacak rambutnya pelan.

“Okay, Sera Besar. Haha, panggilan itu lucu juga. Kalau begitu berhati-hatilah..”

“Ne, Oppa,” ucap Sera sambil tersenyum kecil.

Luhan juga ikut tersenyum. Kemudian mereka berpelukan kembali untuk yang terakhir kalinya.

**

“Heesa~ ayo cepaat~”

“Sabarlah, Kai. Aku belum menyiapkan pakaian renangku dan peralatan mandi. Ah, mungkin kau akan membutuhkan beberapa alat memasak untuk barbeqiue nanti. Dan..”

Heesa terus mengoceh perlengkapannya sambil berjalan kesana kemari untuk mengambil barang yang ia butuhkan. Kai hanya melihatnya kewalahan dan mendengarkan semua ocehannya. Hah, dasar perempuan.

Setelah seluruh perlengkapan siap, Kai segera membantu membawakan tas Heesa yang isinya sangat berat sekali, sedangkan Heesa hanya membawa tas yang berisi makanan-makanan. Meskipun begitu, Kai tentu saja melakukannya dengan senang hati dan sedikit.. paksaan mungkin.

Ketika mereka akan keluar dari rumah Heesa, tepat dimulut pintu, mereka berpapasan dengan Luhan. Langkah mereka terhenti, kemudian saling menatap satu sama lain. Suasana menjadi sedikit canggung.

“Kalian.. mau kemana?” tanya Luhan sambil melihat barang-barang. Ternyata gengsinya untuk bertanya kalah dengan rasa penasarannya.

“Ah! Kami akan mengadakan pesta kecil dirumahku. Oh.. kau mau ikut? Pesta pasti akan semakin seru,” ucap Kai tanpa berpikir dua kali. Heesa menyikut perut Kai kemudian memalingkan muka, sedangkan Kai mengaduh sakit.

Luhan berpikir sejenak. Dan kemudian ia mengangguk. “Tentu saja. Aku akan menyusul.”

“Okay! Kami tunggu.”

Kai mulai berjalan terburu-buru menjauh dari Luhan, karena Heesa berjalan dibelakangnya cukup cepat. Lebih tepatnya mungkin mengejarnya dan ingin segera menerkamnya. Heesa berpikir keras, Luhan ikut dalam pesta kecil mereka? Ah, Heesa tidak bisa membayangkan apa yang akan ia lakukan.

**

Ketika Kai dan Heesa sampai dirumah Kai, Baekhyun dan Dio yang telah lama menunggu tentu saja menyambut mereka dengan bahagia. Baekhyun dan Dio memeluk Heesa bergantian. Heesa hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka.

Ternyata semuanya telah dipersiapkan. Botol kosong untuk bermain Truth or Dare, alat panggang untuk barbeqiue dan.. yah semuanya. Dan Heesa pikir malam ini akan sangat seru.

“Kaaai.. dimana kamarku?” tanya Heesa sambil bersiap menaiki tangga. Kai membulatkan matanya.

“Oow! Aku lupa memberitahumu. Tidak ada kamar okay? Kita semua akan tidur bersama dibawah, dilantai. Akan lebih hangat, bukan?” ucap Kai sambil mengangkat kedua alisnya. Heesa  menghampiri Kai sambil membulatkan matanya.

“Tapi Kai, aku yeoja satu-satunya disini. Seharusnya kau me..”

Dengan sigap Baekhyun membekap mulut Heesa dari belakang dan mendorong paksa kakinya agar melangkah. Kai tersenyum geli.

“Jangan protes, Heesa. Hanya menikmati saja, arasso?” tanya Baekhyun sambil melihat wajah Heesa. Dibalik bekapan Baekhyun, Heesa mendengus lembut. Kai dan Dio tertawa kecil.

*

Hari sudah mulai sore, namun matahari tetap bersinar dengan terangnya, sehingga sore itu terasa lebih panas dari sebelumnya.

Alat panggang beserta makanan-makanan yang akan dipanggang telah siap. Dio tentu saja sudah memakai celemek yang bergambar kartun CAR milik Kai, pemberian dari ibunya, bersiap untuk memanggang beberapa daging yang telah siap dipanggang. Bukannya terlihat seperti ahjumma bercelemek pada umumnya, namun Dio terlihat sangat menggemaskan.. dan tentu saja tampan.

Disisi lain, Kai sibuk menyiapkan sayuran-sayuran segar untuk menjadi teman makanan dari daging-daging panggang. Dan Baekhyun kini tengah menyiapkan Cocktail dan Soju untuk menjadi minuman mereka. Sedangkan Heesa.. entahlah. Salah satu dari mereka tidak ada yang melihat sosoknya semenjak semuanya sibuk dengan tugasnya masing-masing.

Ketika semuanya tengah menekuni tugasnya masing-masing, diam-diam Heesa berjalan mengendap-endap melewati ruang tengah, kemudian dapur, menuju kolam renang yang berada di halaman belakang. Kini ia hanya memakai bikini cukup seksi berwarna biru tua, tentu saja dengan baju handuk yang cukup menutupi tubuhnya.

Setelah berada dipinggir kolam renang –tanpa ada satu pun yang menyadari kehadirannya, ia segera melepas baju handuk dan ikat rambutnya kemudian menyimpannya di kursi santai yang terbuat dari kayu. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar.

Diam-diam ia mencelupkan ujung kakinya ke dalam air kolam yang terasa dingin itu. Namun Heesa kini memasukkan seluruh kakinya, kemudian badannya. Ingin sekali Heesa berteriak karena dinginnya air kolam itu langsung menusuk kulitnya, tetapi jika ia melakukannya, yang akan terjadi beberapa detik kemudian Dio, Baekhyun, dan Kai akan menyuruhnya untuk berhenti kemudian membantu mereka melakukan pekerjaan mereka. Dan Heesa sama sekali tidak berniat untuk membantu mereka.

Heesa kini menenggelamkan dirinya kemudian mulai berenang mengelilingi kolam renang dengan tenang, sangat tenang, hingga Dio yang tengah memanggang daging di halaman belakang sama sekali tidak menyadari kehadiran Heesa disana.

**

“Annyeong~”

“Oh.. Annyeong Luhan!” teriak Kai kemudian tersenyum pada namja itu. Baekhyun yang mendengar Kai menyapa seseorang, langsung melihat ke arah pintu utama, dan disana sudah berdiri seorang namja yang sangat ia tahu.

“Ah, Luhan? Kau ikut juga?” tanya Baekhyun, sedikit ada nada menyinggung bahwa ia menyesal karena Luhan mengikuti pesta kecil mereka. Luhan menutup pintu utama kemudian berjalan menuju dapur sambil menyimpan tasnya di atas sofa.

“Ya. Kalian tidak keberatan, bukan?” tanya Luhan ketika sampai di bar. Ia duduk di kursi bar sambil melihat kesibukan Kai dan Baekhyun dengan tugas mereka masing-masing. Dan tentu saja Baekhyun dan Kai menyempatkan mengalihkan perhatiannya pada Luhan kemudian tersenyum kecil.

“Tentu saja. Kami senang kau ikut pesta kecil kami,” ucap Kai. Namun diam-diam Baekhyun mencibir. Bagaimana bisa Kai tiba-tiba sebaik itu pada Luhan? Apakah ia sudah menyerah pada Heesa? Mungkinkah? Hm.

“Gomawo. Ah, dimana yang lain?” tanya Luhan sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah dari sudut pandang dapur.

“Euh.. Dio sedang memanggang daging di belakang. Dan Heesa.. entahlah. Dia menghilang,” jawab Kai sambil tetap berkonsentrasi pada pekerjaannya.

“Okay. Kalau begitu mungkin aku bisa membantu Dio dibelakang?” tanya Luhan sambil turun dari kursi.

“Tentu, Luhan,” jawab Kai singkat kemudian tersenyum kembali. Luhan mengangguk kemudian berjalan  menuju halaman belakang. Baekhyun yang sedari tadi hanya diam, kini tengah memandangi tubuh Luhan dari belakang dengan kesal. Ia meringis kecil, berusaha menahan kekesalannya yang semakin meluap.

“Kai, apa kau mengajaknya?” tanya Baekhyun dingin. Kai melihat ke arah Baekhyun yang kini telah beralih pada pekerjaannya kembali.

“Ya. Memangnya kenapa?” tanya Kai lempeng. Baekhyun membulatkan matanya yang kecil dan sipit.

“Kau tahu Heesa juga berada disini,” ucap Baekhyun, menarik nafas sejenak, “dan kau tahu mereka sedang bermasalah..”

“Aku tahu. Dan yah.. berdoa saja semoga masalah mereka selesai ketika esta ini berlangsung. Bukan begitu?” tanya Kai sambil tertawa kecil. Sedangkan Baekhyun menggertakkan giginya.

Lama kediaman menyeelimuti mereka, tiba-tiba Kai berkata, “Ah! Dan kau tahu? Kita akan bermain Truth or Dare bukan? Kurasa itu akan menjadi senjata paling seru malam ini.”

Mendengarnya, Baekhyun hanya terdiam. Namun diam-diam ia tertawa kecil. “Berbicara tentang Truth or Dare, aku akan menjahili Heesa malam ini.”

“Aku juga,” timpal Kai cepat sambil menatap Baekhyun. Baekhyun balas menatap Kai, kemudian mereka tertawa renyah.

*

Luhan menepuk pundak Dio kecil, dan tentu saja membuat namja yang pintar memasak itu berbalik. Ketika mengetahui siapa yang menepuk pundaknya, Dio buru-buru tersenyum selebar-lebarnya. Terpaksa.

“Luhan? Kau ikut pesta kami juga? Mengapa aku tidak mengetahuinya?” tanya Dio bertubi-tubi. Luhan tertawa kecil kemudian menyakukan tangannya ke dalam saku jeans.

“Aku baru saja diajak oleh Kai tadi siang,” jawab Luhan sambil tersenyum ramah. Dio mengangguk kemudian fokus pada pekerjaannya kembali. “Ah.. apa ada yang bisa kubantu?”

Dio buru-buru berbalik kembali kemudian menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku baik-baik saja. Ah, sore ini terasa panas. Mungkin kau bisa berenang sambil menunggu kami selesai dengan persiapan untuk makan nanti,” saran Dio tanpa berpikir dua kali. Luhan mengangkat halisnya.

“Okay, ide bagus. Kalau begitu aku akan berenang.”

“Tentu.”

Akhirnya Luhan berjalan masuk ke dalam rumah untuk mengambil tasnya, kemudian kembali lagi menuju halaman belakang.

Ia menyimpan tasnya dikursi santai kemudian mulai membuka pakaiannya satu persatu, hingga yang tersisa hanya celana boxer berwarna hitam yang telah ia pakai sebelumnya. Luhan merenggangkan badannya untuk beberapa detik, kemudian mulai mendekati pinggiran kolam renang.

Tanpa basa-basi ia segera meluncur ke dalam kolam renang kemudian berenang dengan handalnya menuju sebrang. Namun ketika ia tengah asik menggerakan badannya, tiba-tiba ia menabrak sesuatu. Tidak.. seseorang mungkin.

Luhan segera memberhentikan laju renangnya, begitu pula orang yang ia tabrak. Mereka sama-sama meluncur ke atas permukaan kemudian menarik nafas semampunya.

Heesa mengusap mukanya kemudian melihat siapa yang ia tabrak beberapa detik yang lalu. Ketika ia melihat siapa orang itu, jantung Heesa serasa akan menubruk tulang rusuknya.. karena selain orang itu adalah orang yang tidak ia duga, kini orang itu tengah membuka mulutnya, bersiap akan berteriak.

Dengan sigap Heesa menarik Luhan ke dalam air kemudian membekap mulutnya. Heesa menatap Luhan kemudian memasang mimik memohon agar Luhan tidak memberitahu siapapun bahwa ia tengah berenang sedari tadi. Namun Luhan memberontak dan berniat akan berenang ke permukaan kembali untuk menarik nafas, membuat Heesa kewalahan menghadapinya karena ia memberontak begitu kuat..

Dan akhirnya.. dengan terpaksa Heesa memeluknya kemudian membekap mulutnya kembali. Wajah mereka kini sangat dekat, jarak tubuh mereka hanya tinggal beberapa inci lagi. Tetapi Heesa tidak memperdulikannya, baginya kini yang terpenting Luhan tidak mengadu pada mereka. Namun Luhan..

Ia melepas bekapan Heesa kemudian melingkarkan tangannya dipinggang telanjang Heesa, dan kini tangannya dapat menyentuh sebagian perut Heesa yang rata. Luhan merapatkan jarak antaranya dengan Heesa, tangannya yang lain memegang dagu Heesa agar ia tidak bisa mengelak dari jeratnya, kemudian namja itu mengeluarkan senyumnya yang mematikan..

TBC~

………………………………………………………………….

hanya dua kalimat yang ingin aku sampaikan.

yang pertama, maafkan aku karena publishnya lama banget (>/\<)

dan yang kedua, terimakasih tetap setia membaca :’) aku bener-bener ngucapin terimakasih :’)

and.. happy reading guys ;) dua chap lagi end’-‘)b

………………………………………………………………….

49 thoughts on “ELECTRIC [ CHAP 12 ]

  1. Huaaa, yg ditunggu2 akhirnya dtang juga:D
    mau ngapain tuh Luhan,
    aaaaaa:o
    makin seru!!
    Cepetan baikan yah Luhan sma Heesa, kasian kan kalo marahan terus, pdahal sma2 cinta #ahahaxD

  2. Ah akhirnya publish juga. Tp kependekaaaaaan wkwk.
    Hmm akhirnya kai-heesa udh baikan tinggal Luhan doang nih. Udah lah thor si chaeri mending dibuang ke laut aja. Mengganggu pemandangan sih.
    Next chap cepet yaaaaw.

  3. Hua!!! Akhirnya setelah aku hampir lumutan nunggu FF ini, muncul juga deh hahaha
    Mudah2an Heesa & Luhan bsa segera berbaikan and apakah Kai sudah menyerah utk mendaptkan Heesa?
    Hua thor aku penasaran banget nih…
    Cepetan part 13nya ya…
    Ingat Secepatnya #maksa
    Hehehe gomawo ya thor :)

  4. Aaaaa kenapa ini sedikit sekale author? Saya nunggunya udah betahun tahun lhoh buat chapter ini.. Ya Tuhan, akirnya pergi jugak tuh si Sera.. Aaaaa Luhan nggak bisa bayangin itu.. Luhan ituh.. Ahh apaan.. Luhan sama heesa.. Mereka renang berdua.. Ahhh.. :~ *mimisan*

  5. Kyaaa sekian lama kutunggu akhirnya dipublish juga ff ini >^// <
    dan yg paling utama : 'Aku PUAS thor' :D

    aaa, luhan sm heesa apa yg akan terhadi?? :p cepetan thor publishnya! Gak sabar :D fighting thor! :D

  6. Hah, , stelh pnantian pjang*cieh bhasa’a*, , post jga electric chap 12, ,
    haaa. . .Lulu oppa, , miss you, ,
    ehm, , kai ama sera udh ptus, , skarng tnggal cnta sgitiga antara heesa,luhan,chaeri aja donk. . .
    Jadi pnasarn gmana crita slajtnya, ,
    HWAITING YAHHHHH.

  7. Thooorrrr gila ah suka bgt gw sm ff ini,jangan lama2 ya kalo publish kasian readersnya lama nunggu….
    Tp buat chap yg ini gw suka bgt!!!daebak!!!neomu neomu daebak!!! Lanjut ya!inget jangan lama2-_-

  8. Wah akhirnya keluar juga X’D
    Luhan sama Heesanya buruan balikan dong T.T kan sama-sama suka XD chaerinya tendang aja -.-v
    Next chapnya ditunggu yaa XDXDXD dan jgn lama2 ya wkwk ^^v

  9. AAAAAAAAAHHH ITU LUHAN MAU NGAPAIN?! MASIH DI DALEM AIR KAAAAAAAAN? huaaaaaa~ ayo cepat teruskan! huhu. sumpah kalo ujian praktikku ngga fokus, aku salahin km ya thor, kkk
    ahh untung Kai ngga terobsesi ama Heesa, jadi mau ikut nolongin Heesa-Luhan :D
    untung juga tuh si Sera jelek pergi, YESSS! hahah
    ayo cepetan ya imaaaaa~ aku tunggu! sumprit penasaran setengah mati! love you :3

  10. hai aku reader baru :p
    udah baca dari part 1 baru comment di part 12. mianhae. ;3
    aku suka sama jalan ceritanya. bikin degdegkan serser (?) wkwkwkwkwk
    luhan mau ngapain ya?? wks. aku tunggu part 13 nya ya :)

  11. hallo aku reader baru.
    sebenernya udah baca dari part 1 tapi baru comment sekarang. mianhae :3
    aku suka sama jalan ceritanya. bikin degdegkan serser (?).wkwkwkw
    itu luhan mau ngapain?? *////*
    ditunggu part 13nya ya. c:

  12. heih eonnie , ituu udah bkin perut berasa ada kupu2nya tiba2 “TBC” huaaaaaaaaahhh T.T
    jangan lama2 publishnya ya eonnie . Muahhh :3

  13. Akhirnya bisa komen \(˘̩̩̩⌣˘̩)/ Sorry baru komen gak tau kenapa gak bisa-____________- . Lanjutannya ditungguuuuu :p geregetan sama yang diatas xixixixi :D

  14. Senyuman mematikan?
    Kkk~
    Semoga heesa tetep idup.
    ;-)

    Semoga heesa n Luhan bersatu..
    Kan saling cinta.
    Untuk chaeri, buang aja ke dalam empang(?).

  15. Kenapa chapter 13 ga update2 sih thorrr T^T
    Udah nungguin dari jaman dulu huaaaaaa
    Update soon very very pleaseeee!!!
    I beg you T^T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s