ELECTRIC [ CHAP 11 ]

ELECTRIC

Author: Shin Heesa

Cast:

  • EXO
  • Kim Heesa

Disclaim: Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Ps:

  • Don’t be silent reader
  • Don’t copy – paste my imaginations!


……………………………………………………………………………………..

(Author POV)

Heesa sudah berpakaian rapi. Ia segera membawa tasnya lalu pergi keluar kamar.

Heesa berjalan menuruni tangga. Ia yakin matanya terlihat sembab, tetapi ia tidak memperdulikannya. Masa bodoh keluarganya khawatir padanya atau tidak.

Heesa segera menghampiri meja makan. Disana sudah lengkap. Kedua orangtua Luhan dan Heesa, kemudian Luhan. Mereka tengah menyantap sarapan pagi mereka.

“Morning all~” ucap Heesa asal-asalan. Namun seluruh yang berada dimeja makan itu menanggapinya dengan baik, kecuali Luhan.

Dengan cuek Heesa duduk di sebelah Luhan lalu mengambil roti kemudian memberinya selai strawberry. Ya, kalian tahu, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Heesa?” panggil Mom. Heesa menyahut dengan gumaman. “Apa kau baik-baik saja? Matamu terlihat sembab.”

Heesa menggelengkan kepalanya lalu tersenyum manis. “I’m fine, Mom. Dont worry.. hanya saja akhir-akhir ini aku tidak bisa tidur dengan lelap karena menghapal seluruh materi yang tumben sekali sulit diingat kali ini,” jawab Heesa panjang lebar sambil mengunyah rotinya. Para orangtua tersenyum.

“Semangat, Heesa! Kau pasti bisa!” ucap Ahjumma dengan bahasa Korea yang tidak terlalu lancar. Heesa tertawa lalu mengangguk.

Beberapa saat kemudian Heesa berdiri dari duduknya. Roti sandwichnya memang belum habis, tetapi ia menjadi tidak bernafsu karena ada Luhan disana.

“Baiklah. Aku duluan.”

Heesa segera berjalan keluar rumah. Penjaga memberikan kunci mobil Heesa ketika yeoja itu melewatinya. Heesa segera masuk ke dalam mobil kemudian mengendarainya secepat mungkin menuju kampus. Dan anehnya kali ini ia sangat merindukan Dio dan Baekhyun.

Luhan berjalan keluar rumah. Penjaga segera memberinya kunci motor miliknya saat Luhan melewatinya. Tetapi ketika Luhan akan menyalakan motornya, tiba-tiba ponselnya berbunyi, menandakan ada pesan. Dari Chaeri.

Pagi, Chagiya~ ^^

Apakah tidurmu nyenyak? Kuharap iya sehingga kau bisa mengerjakan ujianmu dengan baik ^^

Luhan membulatkan matanya. Chagiya? Apa maksudnya memanggilnya dengan ‘Chagiya’?

Chagiya? Memangnya kau siapa? Sudahlah.

Luhan segera memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu menaikki motornya. Cepat-cepat ia memakai helmnya sebelum ia menancap gas motor.

Namun pada saat itu juga onselnya berbunyi kembali. luhan menghembuskan nafas panjang lalu mengeluarkan ponselnya dan melihat layarnya.

MMS? Dari Chaeri? Apa yang dia kirim kali ini?

Luhan membuka pesan tersebut. Ketika masa loading sudah berakhir, terlihatlah ada sebuah foto yang didalamnya ada.. ada..

Luhan membulatkan matanya kembali. Kapan ini diambil? God! Semoga Chaeri belum menyebarkannya ke satu kampus!

Ada pesan lagi, kali ini teks. Luhan segera melihat isinya.

Semalam kau sudah memintaku agar menjadi kekasihmu, dan aku menerimanya. Lalu kau mengambil foto itu dengan ponselku. Aku sedikit terkejut karena kau begitu agresif padaku ^^ ah! Dan aku sudah menyebarkannya pada teman-temanku! Mereka pasti akan memberi kita ucapan selamat! ^^

“SHIIITT!!! DAMN IT!!”

**

Ujian pertama berakhir. Seluruh murid kampus keluar dari kelas untuk mencari makanan, sekedar mengganjal perut.

Heesa segera membereskan semua bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Luhan yang duduknya tidak jauh dibelakangnya hanya memperhatikan gerak-gerik Heesa. Entah apa yang dipikirkannya, tetapi Luhan sangat ingin melihat yeoja itu tersenyum padanya.

Tiba-tiba seorang namja datang ke dalam kelas. Ya, itu Dio. Dio segera menghampiri Heesa kemudian tersenyum padanya.

“Hai, Heesa.”

“Hai, Dio. Hows life, huh?”

“Seharusnya aku yang bertanya padamu.” Keduanya tertawa ringan.

Tanpa sadar Luhan menggigit jarinya kesal. Mengapa kedua orang itu harus berbincang dihadapannya? Menyebalkan.

“Aku baik, Dio,” ucap Heesa, dan yang mengejutkan yeoja itu tiba-tiba memeluknya. “Hahh.. Dio.. biarkan aku memelukmu untuk beberapa detik. Aku lelah..”

Dio sedikit tergugup, tetapi kemudian ia tersenyum. “Arasso, Heesa.” Kemudian Dio balas memeluknya lalu mengusap rambut panjang yang lembut itu.

Ketika Luhan hendak memprotes pada mereka, Chaeri tiba-tiba sudah berada disampingnya. Yeoja itu bergelayut manja pada tangan Luhan.

“Annyeong, Chagiyaa~” ucap Chaeri sambil tersenyum, kemudian dengan berani yeoja itu mencium pipi Luhan. Luhan sedikit terusik, dan akhirnya ia menepis tangan Chaeri.

“Ada apa kau kemari?” tanya Luhan, dengan tatapan yang masih terpaku pada Dio dan Heesa. Chaeri mengikuti kemana arah pandangan Luhan, kemudian tersenyum tipis.

“Aku kan kekasihmu, Luhan. Mengapa kau bertanya seperti itu, hm?” tanya Chaeri sambil mencolek dagu Luhan. Luhan beringsut menjauh sambil memberinya tatapan jijik.

“Jangan pernah berharap, Chaeri.”

“Berharap?” Chaeri tertawa kecil, kemudian ia mengeluarkan ponselnya. “Lihat ini? Kau melakukannya padaku tadi malam. Dan.. tadi malam juga kau mengatakan bahwa kau mencintaiku, Luhan..”

Luhan segera merebut ponsel Chaeri lalu melihat foto yang terpampang penuh di layar ponsel Chaeri. Luhan menggeram marah lalu meletakkan ponsel itu kasar di atas meja. Luhan segera bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju pintu keluar.

“Luhan!” panggil Chaeri. Luhan memberhentikan langkahnya. “Sudah terlambat. Aku sudah menyebarkan foto ini ke seluruh murid kampus. Bukankah akan aneh jika kau tidak bersamaku saat ini?”

Tanpa ingin mendengarnya lagi Luhan segera keluar dari kelas setelah melewati Heesa dan Dio yang masih berpelukan nyaman.

*

Heesa kini tengah berjalan dengan Dio. Sedari tadi Dio mengajak Heesa berbicara agar pikiran yeoja itu teralihkan dari masalah yang tengah dihadapinya. Dio hanya ingin Heesa tetap tersenyum padanya seperti sekarang ini.

“Ah, Heesa.. apa kau membawa ponselmu hari ini?” tanya Dio, menyembunyikan nada khawatir dalam suaranya.

“Ah, tidak Dio. Aku sengaja meninggalkannya karena ketika tadi pagi aku cek ternyata baterainya sudah habis. Yasudah, aku malas membawanya.”

Diam-diam Dio menahan nafasnya. “Lalu apa kau sudah melihat foto itu?” tanya Dio berhati-hati. Heesa mengerutkan keningnya.

“Foto? Foto apa?” tanya Heesa penasaran. Diam-diam Dio bernafas lega karena Heesa belum melihatnya.

“Ah.. ani. Hanya foto iseng yang disebarkan salah satu teman kita,” jawab Dio tidak meyakinkan. Namja ini memang tidak pintar menyembunyikan kebohongannya.

“Dio, aku sudah sangat mengenalmu. Jangan menyembunyikan apapun padaku, Dio..”

“Menyembunyikan? Menyembunyikan apa?”

“Raut wajahmu. Kau terlihat seperti menyembunyikan sesuatu dariku.”

Dio gelagapan. Ia harus menjawab apa?

“Aku tidak menyembunyikan apapun darimu. Sungguh.”

Heesa melirik Dio sesaat, kemudian ia tertawa sambil mencubit lengan namja itu. “Arasso. Ah kalau begitu aku ingin melihat foto iseng yang tadi kausebutkan. Bukankah kau menerimanya juga, Dio?” tanya Heesa dengan tampang polosnya. Dio mengedipkan matanya beberapa kali.

“Ah, aku sudah menghapusnya.”

“Kau berbohong lagi. Ayo, Dio. Berikan padaku. Aku ingin melihatnya, please?”

“Tidak, Heesa. Kau tidak boleh melihatnya.”

Ketika Heesa hendak memaksa Dio kembali, tiba-tiba Baekhyun datang lalu memeluk Heesa dari belakang, seperti biasa. Heesa terkejut lalu memebrontak dari pelukannya.

“Ya! Baekhyun! Kau selalu membuatku terkejut, kau tahu?” protes Heesa. Baekhyun tertawa lepas kemudian melepaskan pelukannya.

“Haha, maafkan aku, Heesa. Mungkin itu sudah menjadi salah satu hobiku akhir-akhir ini,” ucap Baekhyun sambil mengedipkan matanya pada Heesa. Heesa meringis sebal kemudian memukulnya sekali.

“Pabo!” rutuk Heesa sambil melipat kedua lengannya didepan dadanya. Baekhyun dan Dio hanya tertawa.

“Ah, ya. Baekhyun, Dio, aku akan pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku musik. Kalian ingin ikut?” tawar Heesa. Baekhyun dan Dio tersenyum.

“Sepertinya aku anti pada perpustakaan, Heesa,” jawab Dio sambil memamerkan senyum lucunya

“Kalau begitu aku ikut,” ucap Baekhyun. Akhirnya mereka berpisah dengan Dio kemudian berjalan berlawanan arah. Segera mungkin Baekhyun merangkul pundak Heesa nyaman. Dan Heesa tidak merasa terganggu akan hal itu.

Detik kemudian ada beberapa rombongan murid melewati mereka dengan tatapan tajam. Heesa mengangkat halisnya aneh ketika melihat sorot mata mereka. Sedangkan Baekhyun mulai merasa cemas.

“…kasihan sekali, Heesa..”

“..ya, beberapa hari lagi akan menikah tetapi… Chaeri..”

“… seharusnya Luhan…”

Heesa mengerutkan halisnya. Mereka membicarakannya? Apa yang mereka bicarakan? Lalu mengapa Heesa mendengar ada nama Luhan dan.. Chaeri dalam percakapan mereka? Lalu.. menikah?

Dengan cepat Baekhyun menangkupkan telapak tangannya ditelinga kiri Heesa dengan lengannya yang tetap merangkul pundaknya. Heesa menengadahkan kepalanya pada Baekhyun. Baekhyun balas melihat Heesa kemudian tersenyum manis, membuat yeoja itu juga dengan refleks membalas senyumnya.

Ketika ditengah perjalanan, Chanyeol datang menghampiri mereka. Senyumnya sudah terlihat sangat merekah dari kejauhan.

“Hai, Baekhyun! Dan.. hai Kim Heesa,” sapa Chanyeol setelah ia mengenali wajah Heesa. Heesa mengerutkan keningnya, mengapa namja ini mengetahui namanya?

“Ah, Yeol. Ada apa?” tanya Baekhyun sambil tersenyum juga. Sepertinya mereka terlihat sangat akrab.

“Ah, Baekkhie, aku perlu bicara denganmu,” ucap Chanyeol kemudian melirik Heesa. Heesa mengedipkan matanya beberapa kali, menangkap maksud Chanyeol, kemudian tersenyum.

“Ah, arasso. Baekhyun, aku tunggu kau di perpustakaan,” ucap Heesa. Baekhyun mengangkat halisnya lalu tersenyum.

“Arasso, Babe.”

Heesa meleletkan lidahnya pada Baekhyun sebelum meninggalkan mereka berdua.

Selama dalam perjalanan Heesa merasa risih karena sedari tadi ia selalu diperhatikan oleh orang-orang dikoridor itu. heesa berusaha acuh, tetapi ia tidak bisa. Bisikkan mereka yang tengah membicarakan dirinya terlalu terdengar olehnya.

Ketika tengah perjalanan, tiba-tiba ada lima orang yeoja datang menghampiri Heesa, memblokir jalannya secara otomatis. Heesa mengerutkan keningnya. Mengapa yeoja-yeoja ini menghalanginya seperti ini?

“Ada apa?” tanya Heesa sambil mengangkat halisnya. Kemudian yeoja-yeoja itu tersenyum lebar.

“Heesa! Chukkae, ne?” ucap salah seorang yeoja sambil menarik tangan Heesa lalu memeluknya. Detik kemudian ia melepaskannya kemudian menatap Heesa dengan senyumnya. “Semoga kau dan Luhan menjadi pasangan yang abadi sampai akhir hayat kalian!”

“Nde, chukkae, Kim Heesa!”

“Chukkae!”

“Chukkae!”

“Chukkae, nde? Aku pasti akan datang ke pernikahanmu!”

“Pasti! Kita semua akan datang!!”

Heesa terdiam. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, tidak mengerti apa yang tengah yeoja-yeoja ini bicarakan. Pernikahan? Luhan dengannya? Mwoya ige? Ah, sepertinya yeoja-yeoja ini baru keluar dari rumah sakit gila.

“Apa yang kalian katakan? Aku tidak..”

“Ah tapi, kau harus sabar sepertinya Heesa. Kau harus tabah menghadapinya. Kami tahu ini adalah pernikahan yang direncanakan oleh orangtua kalian dan tidak bisa diganggu gugat lagi..”

“Nde. Kau harus tabah. Biarkan saja Luhan dan Chaeri bersama dulu sekarang, toh nantinya Luhan akan bersamamu.”

“Kim Heesa, gop jeongmal, ara?”

Heesa mengerutkan keningnya. Apa yang sebenarnya mereka katakan? Luhan dan Chaeri? Menikah? Pernikahan yang direncanakan.. ada apa ini?

“Oow.. jangan-jangan kau belum melihatnya?” pancing salah satu dari mereka. Heesa mengerjapkan matanya. “Yak! Kau belum melihatnya! Hei.. perlihatkan padanya foto itu..”

Seseorang diantara mereka mengeluarkan ponsel lalu seperti mencari sesuatu dalam ponselnya. Heesa mengerutkan keningnya dalam. Ia merasa terganggu sekarang. Ia dan Luhan menikah? Apa-apaan ini?

Tiba-tiba seseorang dari mereka menyerahkan ponselnya pada Heesa. “Here! Kau harus melihatnya, Heesa!”

Heesa menerima ponselnya sambil menatap mereka satu per satu. Mereka terlihat tidak jahat.. tetapi mereka terlihat polos. Terlalu polos mungkin.

Ketika Heesa akan melihat layar ponsel itu, tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang dan tangannya langsung mengambil ponsel yang tengah dipegang Heesa.

Kelima yeoja itu terkejut sambil menjerit tertahan. Tentu saja, siapa yang tidak mengetahui Baekhyun, salah satu namja yang terkenal dikampus.

Bakehyun segera menyerahkan ponsel itu. “Just go away. Dont touch my girl..”

Kelima yeoja itu tercekat. “Baekhyun-sshi, bukankah Heesa akan menikah? Dia sebentar lagi akan menjadi milik Luhan.”

Baekhyun hanya tersenyum tipis. Detik kemudian ia mencium pipi Heesa. Kelima yeoja itu terkejut.

“Jika Luhan bersama Chaeri, aku pun bisa bersama Heesa. Selama mereka belum menikah, apa salahnya?”

Baekhyun dengan segera merangkul pinggang Heesa kemudian membawanya pergi dari sana. Secepat mungkin.

**

“Bakhyun, tolong jelaskan padaku apa yang sedang terjadi sekarang,” ucap Heesa sambil menahan marah. Baekhyun menatap Heesa waswas. Ia membenarkan posisi duduknya yang sama sekali tidak bisa terasa nyaman.

“Kau tidak perlu tahu, Heesa..”

“Tidak perlu tahu? Mereka tengah membicarakanku dan aku menyadarinya!”

“Tenang, Heesa..”

“Bagaimana aku bisa tenang, Baekhyun?” potong Heesa kembali. abekhyun menarik nafas panjang kemudian menundukkan kepalanya.

Heesa berjalan kesana-kemari sambil memikirkan apa yang sedang terjadi sekarang karena Baekhyun tidak ingin memberi tahunya. Petunjuk yang ada hanyalah pernikahan, Chaeri, dan Luhan.

Kantin yang berada diluar kampus tidak terlalu ramai, sehingga Baekhyun mengajak Heesa kemari, karena ia yakin Heesa pasti akan marah dan berteriak-teriak karena kesal. Dan benar saja.

Heesa menarik nafas panjang. Ia menatap Baekhyun tajam, lalu duduk berhadapan dengannya.

“Berikan ponselmu,” ucap Heesa sambil menjulurkan tangannya yang terbuka. Baekhyun menggeleng. “Berikan, Byun Baekhyun..”

“Shireo,” ucap Baekhyun sambil memalingkan mukanya ke arah lain. Heesa melemaskan pundaknya hampir frustasi.

“Cepat berikan!”

“Shireo~”

“Baekhyun, kumohon?” ucap Heesa kali ini sedikit memelas. Baekhyun perlahan melihat pada Heesa, kemudian memalingkan wajahnya kembali.

“Baekhyun!”

“Shireoooooo~”

“Berikaaan!”

“Tidaaaaak!”

“AAAAAAAARGH!”

Kini Heesa benar-benar berteriak frustasi, Baekhyun terlonjak melihat Heesa. Bangku yang didudukinya pun hampir tidak bisa menahan dirinya ketika terkejut. Dan tidak bisa dipungkiri, orang-orang tengah duduk-duduk di kantin dan juga yang tengah berjalan melewati kantin ikut terkejut karena teriakan Heesa.

“Ya!” balas teriak Baekhyun refleks. Baekhyun mengelus dadanya dan mengatur nafasnya.

Heesa memejamkan matanya rapat, kemudian membukanya lebar-lebar. Dengan satu langkah lebar ia mendekat ke arah Baekhyun kemudian menarik kerahnya kasar.

“Baekkhie!! Cepat berikan padakuu!” teriak Heesa sambil menggoyang-goyangkan tubuh Baekhyun.

“Aaaaa~”

“Baekhyuun kumohoon~”

“Aaaa~ shireooo~”

Heesa melepaskan kerah baju Baekhyun frustasi. Baekhyun melihat ke arah Heesa lalu terkikik geli.

“Haha. Mian, Heesa. Ini memang sangat dilarang untuk dilihat mempelai wanita,” ucap Baekhyun sambil menyakukan ponselnya. Heesa sontak melihat ke arah Baekhyun shock.

“MEMPELAI WANITA?”

Tiba-tiba ada yang melempar tomat ke arah mereka dengan kasar. Baekhyun dan Heesa segera melihat ke arah siapa yang melempar.

Han Chaeri.

“Just shut the fuck.. up,” ucap yeoja itu dengan tampang menyebalkan yang ia miliki. Heesa menatap lama yeoja itu, lalu mendelik.

“Hell. I dont care.”

Heesa kembali beroleh pada Baekhyun. Baekhyun langsung menatap Heesa ketika Heesa memaksaknya agar menatapnya juga.

“Biarkan saja dia!” bisik Heesa dengan gaya berlebihan. Baekhyun terkikik geli melihatnya.

“Arasso!” balas Baekhyun sama tidak normalnya. Kemudian mereka terkikik geli bersama.

Han Chaeri yang tidak nyaman merasa diperbincangkan, langsung menghampiri mereka saat itu juga.

Detik kemudian Chaeri mengambil tangan Heesa dengan kasar, membuat Heesa beralih padanya. Chaeri mengeluarkan smirknya kemudian menyimpan ponselnya sendiri ditangan Heesa.

“Lihat wallpaper ponselku.”

Baekhyun tidak sempat mencegah ketika Heesa tanpa segan-segan segera melihat wallpaper layar ponsel Chaeri. Chaeri dengan segera melebarkan matanya ketika ia menangkap foto Luhan dan Chaeri tengah.. ow ow.

Heesa kini bingung harus berbuat apa. Apakah ia cemburu? Tidak. Tidak boleh! Bukankah Chaeri sudah mengancamnya beberapa hari yang lalu? Lalu ia harus bahagia kah? Atau mungkin.. menangis? Ups. Sepertinya pilihan terakhir tidak mungkin.

Okay, karena Heesa sedang tidak terlalu sensitif, akhirnya ia tahu apa yang harus ia lakukan.

Heesa mengangguk pelan lalu memberikan ponsel itu pada Chaeri.

“Yah, seharusnya kau bersujud syukur berhari-hari karena kini Luhan melihatmu. Melihatmu setelah sekian lama dia tidak menganggapmu. Ayo, Baekhyun kita pergi!”

Heesa segera mengambil tasnya kemudian menarik tangan Baekhyun agar mengikutinya. Heesa meleletkan lidahnya pada Chaeri sebelum akhirnya benar-benar pergi dari hadapan Chaeri.

Dan Chaeri hanya meremas ponselnya kesal.

**

Baekhyun mengantarkan Heesa sampai depan rumahnya dengan mobil miliknya, bersama Dio dijok belakang tentunya.

Heesa turun dari mobil kemudian menutupnya. Ia membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan lalu membungkukkan badannya pada jendela mobil Baekhyun yang terbuka.

“Bye. Thanks for today guys!” ucap Heesa sambil tertawa kecil. Baekhyun dan Dio tersenyum lebar menanggapinya.

“Ah, Heesa. Bukankah kau tinggal bersama Luhan?” tanya Dio dengan mata bulatnya. Baekhyun menengok ke belakang lalu memukul kecil kepalanya. Heesa tertawa geli.

“Ya, dia tinggal bersamaku,” jawab Heesa seadanya. Dio hanya tertegun, entah harus menjawab apa. Tetapi kemudian dia melihat pada Heesa lalu memasang mimik berani.

“Hwaiting, Heesa!”

Baekhyun menggelengkan kepalanya kemudian berdecak kecil. Heesa tertawa lebar kemudian mengangkat satu tangannya.

“Ya! Hwaiting!”

“Oke, Heesa. Kita harus pergi,” ucap Baekhyun, bersiap melajukan mobilnya. “Bye! See you soon!”

“Bye! Becareful boy!”

Mobil pun melaju perlahan menjauhi Heesa. Ketika sudah cukup jauh, Heesa berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah ringannya.

“Aku hanya perlu menghadapinya. Itu saja,” ucap Heesa, tentu pada dirinya sendiri.

*

Heesa melempar tasnya sembarangan, kemudian ia melempar tubuhnya juga dengan sembarangan di atas ranjang luasnya. Matanya menerawang, menatap langit-langit atap untuk beberapa detik. Menenangkan diri.

Kemudian ia beranjak dari tempatnya kemudian berganti pakaian dengan pakaian santai. Pakaian yang khusus dipakai hanya untuk di dalam kamarnya. Tanktop dan mini hot pants. Entah mengapa ia senang memakai pakaian seperti ini jika sedang berada di dalam kamar.

Heesa mengambil ponselnya yang telah ia charge selama ia ujian. Heesa menbut charge-nya kemudian menyalakan ponselnya sambil berbaring kembali di atas ranjang.

Ketika loading selesai, layar ponsel Heesa segera tertutupi sebuah notification, tanda ada MMS masuk. Sebelum membukanya Heesa entah mengapa sudah yakin apa isi dari MMS itu.

Dan ternyata benar.

Mulut dan mata Heesa terbuka sedikit karena kefrontalan dari foto tersebut. Dan ia sempat bertanya apakah ia telah cukup umur untuk melihat foto itu.

Heesa mengangkat jari telunjuknya kemudian menekan wajah Luhan disana. “Bodoh. Namja bodoh. Namja tidak tahu diri. Namja rendahan. Namja tidak berkualitas. Namja..”

Heesa merutuki foto itu sambil menekan-nekan fotonya, tepat pada wajah Luhan. Heesa menarik nafas panjang kemudian mengeluarkannya perlahan.

“Sebenarnya apa mau yeoja ini? Mengapa dia selalu mengangguku.. dan tidak ingin melihatku bahagia bersama seseorang satu detik saja..” ucap Heesa sambil mencakar wajah Chaeri dengan kukunya. Semakin lama Heesa semakin gemas pada foto itu. Semakin tertekan. Dan akhirnya merasa sakit hati.

“Pernikahan.. Heesa dan Luhan? Hah, aku tidak ingin dipasangkan dengan namja rendahan ini jika rumor itu benar!” ucap Heesa cukup keras sambil mengetuk layar ponselnya. “Bodoh!”. Dan akhirnya Heesa melempar ponsel itu kesal.

Dengan cepat Heesa bangkit dari posisinya kemudian memakai mantel birunya. Heesa berjalan keluar kamar dengan perasaan yang bercampur aduk. Kini Heesa hanya ingin berjalan keluar rumah agar bisa menyegarkan pikirannya, agar ia bisa berpikir jernih dan mencerna semua kejadian itu dengan pikiran positif.

**

Luhan mengeluarkan satu batang dari bungkus rokoknya, kemudian ia menyalakan api dari pemantuk api kesayangannya dan membakar ujung rokok itu.

Perlahan Luhan menyesap rokoknya, dan membuang asapnya bersamaan dengan helaan nafasnya. Luhan menatap pemandangan halaman rumah dari balkon lantai dua –tempat dimana kamarnya dan kamar Heesa berada dalam satu lantai.

Luhan menyesapnya kembali dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya perlahan. Memang rokok adalah teman terbaiknya ketika pikirannya sedang kacau dan kusut, seperti sekarang ini.

Ketika pandangannya tengah menerawang, tiba-tiba Luhan melihat sebuah mobil berhenti didepan rumah. Luhan menajamkan matanya, dan tidak lama kemudian Heesa keluar dari mobil itu.

Dengan refleks Luhan berjalan mundur. Entah mengapa ia tidak ingin dirinya terlihat oleh Heesa.

Matanya tetap melihat pada Heesa yang tengah tertawa lepas, sementara bibirnya mengapit rokok yang panjangnya sudah mulai berkurang karena terbakar. Luhan membiarkan asap rokoknya berterbangan. Toh, asap tidak akan terlalu terlihat dari bawah sana.

Beberapa menit kemudian mobil itu pergi. Heesa berdiri disana cukup lama karena melihat mobil itu pergi, dan sesudah itu ia masuk ke dalam rumah dengan langkah ringannya.

Luhan menghisap rokoknya kuat-kuat kemudian berjalan menuju kamarnya. Ia sedang tidak ingin saling bertatapan dengan Heesa.

*

Heesa menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Ia merapatkan jaketnya lalu berjalan perlahan menjauh dari kamarnya. Tetapi seketika langkahnya terhenti ketika penciumannya menangkap suatu bau yang sudah ia kenal.

Asap rokok.

Heesa menghirup nafas panjang kemudian memejamkan matanya.

“Luhan.. hhh..”

Heesa membuka matanya perlahan, kemudian melangkah kembali dengan ingatannya yang kini menjadi terfokus pada Luhan.

**

Dio menyantap spagetinya dengan rakus. Ia tidak memperdulikan saus yang kini bertebaran disekitar mulutnya.

Namun Baekhyun peduli. Ia sesekali mengelap saus yang menempel disekitar bibir Dio. Bukan dasar saling suka, maaf, bukan karena alasan itu. Tetapi Baekhyun serasa memungut anak hilang yang baru saja dibuang ibunya dipinggir jalan jika cara makan Dio seperti anak kecil seperti sekarang ini.

Setelah santapan mereka habis, Dio segera meminta perhatian Baekhyun agar terfokus padanya sekarang.

“Ada apa, Dio?” tanya Baekhyun sambil meminum jus stroberinya. Dio menggigit bibir bawahnya sesaat.

“Aku hanya merasa kasihan pada Heesa,” ungkap Dio sambil menghembuskan nafasnya perlahan. Baekhyun mengangguk tanda setuju.

“Aku pun merasa seperti itu. Dan aku yakin Heesa pasti sudah merasa lelah..”

“Han Chaeri.”

“Ya. Han Chaeri. Yeoja itu,” ucap Baekhyun mengiyakan selaan Dio.

“Ah! Juga Sera.”

“Sera?”

“Ya. Dia kekasih Kai, dan entah mengapa aku berfirasat bahwa Sera dan Chaeri bekerjasama.”

“Bekerjasama untuk apa?”

“Untuk menyingkirkan Heesa dari Luhan dan Kai, incaran mereka. Tentu saja,” jawab Dio pasti. Dia memang sudah menduga semua ini. Tebakannya tidak pernah salah.

Baekhyun menatap Dio sambil meminum jusnya. “Jadi mereka bekerjasama?”

“Ya.”

“Hanya untuk memperebutkan namja?”

“Ya.”

“Mengapa aku tidak diperebutkan?”

Dio segera memukul kepala Baekhyun. Baekhyun meringis kesakitan sambil mengusap pukulan Dio tadi.

Dio segera mengeluarkan ponselnya. Ia mencari sesuatu dalam ponselnya untuk meminta Baekhyun mendengarkannya. Setelah Dio menemukan rekaman itu, Dio segera memutarnya lalu menyerahkannya pada Baekhyun. Baekhyun menerimanya kemudian menempelkan speaker ponsel itu tepat ditelinganya.

Sesekali kening Baekhyun bekerut ketika menyimak pembicaraan dalam rekaman itu, sedangkan Dio hanya melihat dan menunggu Baekhyun selesai mendengarkan rekaman itu.

Yup, selesai.

Baekhyun menyimpan ponsel Dio di atas meja, lalu menatap Dio dengan pikirannya yang bercampur aduk.

“Dan ketika aku tengah berjalan dikoridor kampus, aku melihat Heesa tengah bersembunyi dibalik dinding. Awalnya aku merasa heran, apa yang tengah ia lakukan. Namun kemudian aku mendengar suara Sera dan Kai tengah berbincang tidak jauh darisana. Akhirnya aku menyimak pembicaraan mereka, dan aku mengerti apa permasalahannya..”

Baekhyun menyipitkan matanya. “Apa itu?”

“Waktu itu Kai tengah mabuk karena nada suaranya berbeda dari biasanya. Kemudian Sera datang ke tempat Kai. Dan yah, perbincangan mereka berhasil kurekam karena Kai tidak mematikan panggilanku. Dan ketika pembicaraan di koridor itu.. Sera seperti mengungkapkan bahwa dia dan Kai telah melakukan..”

Baekhyun menggigit bibirnya. “Fitnah.”

“Fitnah besar. Sera melakukannya agar hubungan Kai dan Heesa menjadi renggang.”

“Hah, dasar perempuan..” ucap Baekhyun sambil berdecak kesal. Dio hanya menghembuskan nafasnya panjang.

“Kurasa hanya kita yang bisa bertindak,” ucap Dio sambil menatap ke arah lain. Baekhyun terlonjak kecil.

“Kita?”

“Ya. Hanya kita sepertinya yang mengetahui permasalahan Heesa..”

“…”

“Aku menyayangi Heesa.”

“Aku juga.”

“Kalau begitu.. haruskah?” tanya Dio meminta persetujuan. Matanya membulat.

Baekhyun menghembuskan nafas perlahan. “God. Kurasa kita harus.”

Dio tersenyum lebar lalu menepuk pundak Baekhyun bangga sekaligus bahagia.

***

Esoknya, ujian dilaksanakan kembali.

Sepanjang hari itu Heesa hanya berbincang dengan Baekhyun dan Dio karena mereka benar-benar mengunci jalur Heesa kemanapun ia pergi. Well, Heesa tidak bisa berbuat apa-apa. Lagipula mereka berdua menyenangkan.

*            **

Besoknya lagi, selama seharian itu lagi-lagi Heesa ditemani oleh Baekhyun dan Dio, ditambah teman-teman mereka yang sifatnya hampir sama seperti mereka sehingga Heesa merasa tidak sedang dibebani suatu masalah. Yah, meskipun masih ada segelintir orang yang membicarakan Heesa terlalu terang-terangan sehingga Heesa bisa mendengarnya dengan jelas.

Luhan dan Kai? Tenang saja. Mereka selalu ada yang setia menemani kemanapun mereka pergi. Siapa lagi kalau bukan Chaeri dan Sera.

***

Tidak terasa ujian hanya tersisa dua hari lagi. Dan selama ujian berlangsung, Heesa benar-benar menjalaninya dengan baik. Pikirannya sama sekali fokus pada ujian sehingga tidak sempat untuk memikirkan masalah Luhan dan Kai yang sampai saat ini belum juga tuntas.

Tak berapa lama kemudian ujian hari ini telah berakhir. Seluruh murid kampus itu segera keluar dari kelas mereka dan mulai menyibukkan diri dengan kegiatan yang telah mereka susun masing-masing setelah ujian berakhir.

*

Akhirnya Heesa sampai dirumahnya dengan jarak tempuh selama setengah jam. Heesa memarkirkan mobilnya di depan rumah kemudian memberikan kunci mobilnya pada pelayan agar menyimpannya ke tempat parkir kendaraan di belakang rumahnya.

Heesa membuka pintu utama dengan satu gerakan lembut. Heesa membenarkan rambut panjangnya sambil memasuki rumahnya yang terlihat sepi.

Ketika Heesa menginjakkan kakinya di ruang tamu, ia melihat disana ada orantuanya, orangtua Luhan, dan Luhan. Mereka tengah berbincang sambil memasang mimik bahagia. Terkecuali Luhan.

Mama yang pertama kali menyadari kehadiran Heesa disana, segera menarik tangan Heesa menuju sofa dimana Luhan duduk disana sendirian. Mama mendudukkan putrinya yang kini masih terheran-heran dengan keadaan yang tengah terjadi.

“Heesa, putriku..” ucap Papa, diikuti senyum para orangtua yang semakin merekah. “Mungkin kami tidak akan berbasa-basi lagi. Kami sudah merencanakan semua ini dengan matang. Dan kami tidak hanya melihat dari satu sisi saja untuk mewujudkan hal ini.”

Heesa menyenderkan punggungnya kemudian melipat kedua tangannya. Matanya menatap para orangtua dengan tajam. Sepertinya Heesa tahu apa yang tengah dibicarakan Papa. Sepertinya Heesa tahu maksud mereka. Dan sepertinya rumor tentang Luhan dengannya benar-benar bukan hanya kabar angin.

Heesa menghirup nafas panjang. “Lalu?”

Kini Mama tersenyum bahagia pada Heesa. “Kami ingin kalian menikah. Luhan dan Heesa, kami ingin sekali kalian menjalin hubungan bahagia selamanya. Kalian putra tunggal kami, jadi tentunya kami ingin yang terbaik untuk kalian.”

Heesa langsung melihat reaksi Luhan lewat sudut matanya. Luhan kini tengah memejamkan matanya rapat sambil menggertakkan giginya pelan. Ekspresinya sungguh.. membuat Heesa merasa tidak enak. Luhan sepertinya benar-benar telah melupakannya. Luhan sepertinya tidak ingin hal ini terjadi. Dan Luhan sepertinya memang benar-benar telah muak padanya.

Detik kemudian Luhan beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju tangga. Orang-orang yang berada di ruang tamu itu terkejut, mengapa reaksi Luhan seperti itu. Seperti sebuah penolakan.

“Okay. Mama dan Papa dan Ahjumma dan Ahjusshi, sepertinya kami butuh waktu untuk menerima keputusan ini,” ucap Heesa sambil bangkit dari duduknya, kemudian menundukkan kepalanya. “Permisi.”

Dengan langkah berat Heesa berjalan menuju tangga dan menaikkinya satu per satu. Ketika sampai di tangga terakhir, Heesa melihat Luhan sedang berdiri di depan pintu. Kepalanya menunduk dan tangannya menggenggam kenop pintu. Heesa hanya terdiam melihatnya. Apa yang tengah Luhan pikirkan saat ini? Mengapa ia terlihat begitu..

Heesa menggigit bibirnya perlahan. Ia ingin sekali berjalan mendekati Luhan, kemudian memeluknya. Heesa ingin menumpahkan rasa rindunya yang selama ini ia tahan. Heesa ingin Luhan mengetahui bahwa Heesa sangat menyayanginya, dan mencintainya.

Dan nafas Heesa tercekat ketika Luhan meneteskan satu bulir air mata. Dada Heesa terasa sesak..

Beberapa detik kemudian Heesa terduduk di lantai ketika Luhan sudah berada di dalam kamarnya. Air matanya ikut tumpah bersamaan dengan penyesalannya. Heesa menggigit bibirnya agar suara tangisannya tidak terdengar oleh siapapun.

**

Bulan kini sudah berada dilangit, menemani seluruh bintang yang memenuhi seluruh jalur langit yang kelam. Angin malam berhembus sepi, menyapu sedikit serbuk tanah yang tidak terlihat oleh kasat mata.

Alunan piano yang lembut memenuhi ruangan tempat dimana Heesa bermain piano. Yeoja itu memainkan jarinya dengan lincah di atas puluhan tuts piano yang sedikit berdebu karena jarang tersentuh.

Kini Heesa hanya terpusat pada permainan pianonya dan berusaha tidak memikirkan masalah apapun, masalah sebesar ujung kelingking pun ia tidak ingin memikirkannya untuk sekarang.

Dan, di luar rumah musik itu, Luhan kini tengah bertengger di pagar balkon kamarnya. Ia menyesap rokoknya perlahan, kemudian menghembuskannya sekaligus. Awalnya namja ini telah tertidur, namun karena ia mendengar alunan piano yang terdengar dari rumah musik yang berada di halaman belakang, akhirnya ia terbangun kemudian pergi ke balkon untuk memastikan apakah pendengarannya masih baik-baik saja. Dan memang benar, alunan piano itu benar-benar terdengar.

Jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Luhan tidak begitu mengerti mengapa Heesa masih kuat bertahan bermain piano sampai berjam-jam seperti ini. Dan Luhan tidak bisa menyangkalnya bahwa ia memang sangat mengkhawatirkan yeoja itu. ia takut hal-hal yang tidak menyenangkan terjadi padanya.

Luhan menyesap rokoknya kembali dalam-dalam, dan mengehembuskannya perlahan. Jarinya memainkan batang rokok itu dengan gerakan yang sudah sangat rutin ia lakukan. Ia menggigit bibirnya yang merah sesekali. Pikirannya menjadi resah karena Heesa masih saja bermain piano.

*

Sudah sepuluh menit yang lalu tidak terdengar lagi alunan piano dari rumah belakang. Luhan hanya terus menghisap rokoknya, menunggu sosok Heesa keluar dari pintu itu.

Tetapi ia tidak kunjung keluar juga. Luhan mengkerutkankeningnya dalam. Apa yang Heesa lakukan di dalam? Apakah sedang memikirkan lagu apa selanjutnya yang akan ia mainkan? Atau ia tengah mencoba alat musik lain? Atau ia.. tengah menangis?

Akhirnya Luhan tidak ingin menunggu lagi setelah lebih dari setengah jam ia menunggu disana. Luhan berjalan perlahan menuju pintu rumah itu, kemudian membukanya dengan amat hati-hati.

Matanya sedikit membulat ketika pandangannya menemukan sosok Heesa yang tengah duduk dibangku piano..

Ia tertidur.

Luhan membuang puntung rokoknya ke lantai lalu menginjaknya sampai remuk. Luhan menarik nafas panjang kemudian menghampiri Heesa. Ia melihat rambut panjangnya yang terjuntai ke bawah dengan lembut. Wajah polosnya yang tengah tertidur membuatnya menjadi seperti anak kecil. Matanya terpejam rapat, dan nafasnya terlihat sangat teratur dan tenang.

Luhan berjongkok tepat di samping Heesa, kemudian membenarkan rambutnya yang tengah menutupi sebagian wajahnya.

Luhan tidak bisa menyangkalnya. Ia memang sangat merindukan Heesa. Merindukan senyumnya, merindukan tawanya, merindukan pelukannya.. Luhan merindukan segalanya.

Dengan enteng Luhan membawa yeoja itu ke pangkuannya dan membawanya ke dalam rumah.

*

Luhan membaringkan Heesa di atas ranjangnya. Luhan melihat ke sekeliling kamar Heesa yang terlihat begitu nyaman, kemudian ia duduk dengan hati-hati di samping Heesa, dan menatap yeoja itu dalam.

Tanpa sadar kini tangan Luhan tengah mengelus pipi Heesa dengan lembut. Luhan benar-benar kagum pada Heesa. Segalanya. Sifatnya, cantik yang ia punya, tingkahnya..

Beberapa detik kemudian Luhan masih mengelus pipi Heesa lembut..

Ia masih melakukannya..

Detik berikutnya ia masih juga melakukannya..

Kemudian tangan Luhan sedikit menyusup ke belakang kepala Heesa. Dengan perlahan Luhan mendekatkan wajahnya pada wajah Heesa..

Akhirnya Luhan mencium kening Heesa. Luhan memejamkan matanya dan membiarkan nafas kecilnya menerpa rambut Heesa. Luhan menenggelamkan seluruh perasaan rindunya dalam ciuman itu. Sangat lama. Ia amat sangat merindukannya.

Luhan melepaskan ciuman dikeningnya. Ia menarik tangannya kemudian menegakkan tubuhnya. Luhan kemudian berdiri dan mengambil satu langkah untuk menarik selimut dan menyelimuti yeoja itu dengan perlahan. Luhan menempelkan pipinya pada pipi yeoja itu sebelum pergi dari kamarnya.

“Maafkan aku, Heesa.. maafkan aku..”

***

Hari ini hujan mewarnai Seoul dipagi hari.

Heesa keluar dari mobilnya dan berjalan dengan santai menuju kampus, sedangkan semua orang berlarian karena takut hujan membasahi mereka atau mungkin merusak dandanan sempurna mereka hari ini.

Setelah sampai di depan kampus, Heesa segera mengelap rambutnya dengan tangannya, merapikannya, dan menyisirnya sekilas dengan jarinya.

Tiba-tiba Heesa tertabrak cukup keras oleh seseorang dari belakangnya, kemudian ia terjatuh. Heesa meringis kesakitan.

“Aaaw.. sakit..”

Orang itu terkejut lalu dengan otomatis membantu Heesa berdiri.

“Maafkan aku..”

Heesa menyelipkan rambutnya ke belakang telinga kemudian melihat siapa yang baru saja menabraknya.

Kai.

Heesa mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia sudah lama tidak berbicara ataupun bertemu dengan Kai. Tetapi kini Kai berada dihadapannya, dan kini namja itu tengah membersihkan lututnya yang kotor karena jejak sepatu yang basah dilantai.

“Aku.. tidak apa-apa,” ucap Heesa, kemudian menyingkirkan tangan Kai dari lututnya. Heesa mulai berjalan menjauhi Kai dengan perasaan tidak tenang.

Kai hanya menghela nafas kesal.

**

Ujian pertama telah selesai. Hujan pun kini sudah tergantikan oleh matahari yang bersinar teduh.

Baekhyun dan Dio kini tengah duduk dibangku taman. Mereka saling bertatapan, seperti bertukar pikiran tentang sesuatu yang harus mereka lakukan secepatnya.

“Huwah cukup, Baekhyun! Mataku sudah perih!” keluh Dio sambil memejamkan matanya rapat-rapat kemudian menguceknya kecil. Baekhyun tertawa cukup keras.

“Kau kalah lagi, Dio! Yeah.. am the winner, always,” ucap Baekkhyun sambil meleletkan lidahnya. Dio menggertakkan rahangnya kesal.

“Lain kali aku akan memenangkan perlombaan ini..”

“Yah aku tidak ingin mendengarnya. Kalau begitu cepat lakukan tantanganmu! Hahaha..”

Dio menghembuskan nafasnya kesal. “Arasso.”

Sebelumnya mereka tengah bermain Dare. Namun mereka melakukannya dengan pertarungan kecil, yaitu barang siapa yang paling dulu mengerjapkan matanya, dia yang kalah. Dan alhasil, Dio selalu kalah dan akhirnya dia harus melakukan dare yang diberikan oleh Baekhyun.

Kali ini dia harus memeluk seorang yeoja dan mengatakan ‘Saranghae’ sambil berbisik ditelinganya. Dio sendiri berpikir keras, bagaimana jika yeoja yang ia peluk tidak suka, lalu menampar pipinya dengan keras? Atau meminta tolong kepada semua orang bahwa dia tengah diperkosa olehnya? Dio memejamkan matanya rapat-rapat agar Tuhan memberikannya kemudahan dalam tantangan ini.

Dio akhirnya bangkit dari duduknya. Ia mulai mengelilingi taman belakang itu, sedangkan Baekhyun mengawasinya sambil tertawa geli.

Ketika mata Dio tengah mencari mangsa yang akan menjadi korbannya, disudut taman ia melihat ada dua orang yang sangat ia kenal disana. Luhan dan Chaeri kini tengah duduk santai di atas kursi dengan tangan yang saling melingkar. Mereka terlihat terlalu.. dekat dan mesra. Dan keterlaluan.

Dio menyipitkan matanya kemudian menggelengkan kepalanya. Luhan benar-benar tidak mengerti perasaan wanita.. atau lebih rincinya tidak mengerti perasaan Heesa. Apa dia tidak tahu bahwa dia akan segera menikah dengan Heesa? Dio harap iya. Karena jika namja itu sudah mengetahuinya, yah siap-siap saja Dio akan melayangkan tinjunya tepat dimukanya.

“….WEEY!!”

Dio terlonjak kaget. Ia segera berbalik kemudian menemukan Heesa tengah tertawa dengan lepasnya. Dio segera mengatur mimik derpnya kembali lalu menatap Heesa sedikit kesal.

“Haha, mianhae,” ucap Heesa lalu meleletkan lidahnya. Dio menghembuskan nafasnya sambil berpaling ke arah lain.

Tiba-tiba Dio teringat pada posisi Luhan dan Chaeri yang kini berada jauh dibelakangnya. Jika Heesa melihatnya, Dio yakin yeoja ini akan terluka kembali..

Oow. Tantangan dari Baekhyun. Dio yakin bisa mengalihkan perhatiannya.

Dio mengeluarkan smirk lalu mendekati Heesa perlahan. Heesa membulatkan matanya dan perlahan berjalan mundur.

“Mwo? Ya, Dio!” ucap Heesa sambil tertawa kecil. Matanya menatap Dio lucu. “Apa kau ingin memakanku?” canda Heesa lalu tertawa kecil.

Dio melihat ke arah Baekhyun. Baekhyun hanya menatapnya tajam, seolah-olah ia telah salah memberi Dio dare itu karena Dio kini mandapatkan Heesa. Dio tersenyum kemenangan.

Dalam satu kali gerakan Dio segera menarik Heesa dan merengkuhnya ke dalam pelukannya. Heesa sedikit terkejut, namun kemudian yeoja ini tersenyum geli.

“Ya~ aku tahu kau merindukanku. Tetapi ini terlalu terbuka, Dio~” ucap Heesa sambil balas memeluknya kemudian menepuk punggungnya nyaman.

Okay, kali ini Dio terbawa suasana. Dio tersenyum kemudian memeluk Heesa begitu erat. Ia menyadari bahwa ia sangat merindukan masa lalu bersama Heesa.

“Heesa~” panggil Dio dekat dengan telinganya. Heesa terkikik.

“Apa~” sahut Heesa meniru nada Dio. Dio hanya tertawa.

Saatnya melakukan misi.

Dio menyimpan beberapa helaian rambut dibelakang teliga Heesa agar ia bisa leluasa melakukannya. Heesa sedikit terkejut ketika nafas Dio terasa menerpa telinganya.

“Woo.. apa yang kau lakukan?” tanya Heesa berusaha melepaskan pelukannya, namun Dio menahannya sehingga Heesa tidak bisa berkutik.

Dengan cepat Dio mendekatkan bibirnya pada telinga Heesa karena kini ia mulai menjadi pusat perhatian di taman itu. Namun ketika Dio akan membisikkan ‘DARE’ dari Baekhyun, saat itu juga Heesa melihat dari balik punggung Dio ada yang tengah berjalan cepat ke arahnya..

“Luhan..”

Dengan satu gerakan cepat Luhan menarik tangan Heesa dan membawanya pergi. Dio melihat ke arah Luhan yang kini tengah menggenggam tangan Heesa erat. Dio memang sempat mengalami serangan jantung selama beberapa detik, namun kini ia tersenyum sangat lebar.

**

Kini Chaeri tengah mencari sosok Sera di seluruh kampus. Chaeri sangat membutuhkan yeoja itu sekarang. Seperti akan merencanakan sesuatu yang baru.

Akhirnya Chaeri menemukan sosok Sera tengah berduaan dengan Kai di studio dance. Tanpa meminta izin atau permisi, Chaeri segera masuk ke dalam studio dan menghampiri Sera dengan tergesa. Kai dan Sera hanya melihat sosok Chaeri berjalan ke arah mereka.

“Sera! Ayo ikut aku!” paksa Chaeri sambil menarik tangan Sera. Sera memberenggut, protes.

“Memangnya ada apa, Chaeri?” tanya Sera sedikit kesal karena waktu berharganya dengan Kai terganggu.

Chaeri melihat Kai yang kini tengah menatapnya malas. Dan Chaeri mengeluarkan senyum manisnya pada Kai.

“Kai, boleh aku meminjam Sera sebentar? Hanya beberapa menit, aku janji.”

“Ofcourse. Just take her,” ucap Kai tanpa berpikir dua kali. Sera langsung menatap Kai kesal.

“Kau seperti mengusirku, Kai,” ucap Sera sambil memajukan bibirnya kecil.

“Ah, tidak. Aku tidak mengusirmu. Kau tahu sebentar lagi aku ada tes Jazz Dance, dan kau juga ada tes untuk dirimu sendiri,” ucap Kai mengeluarkan alasan. Sera menghembuskan nafas panjang.

“Arasso. Sampai bertemu nanti, Kai,” ucap Sera sambil tersenyum terpaksa. Kai hanya melambaikan tangannya kecil.

Setelah itu, Chaeri segera membawa Sera ke tempat dimana Luhan dan Heesa selalu berada disana. Seperti tempat kekuasaan mereka karena mereka terlalu sering berduaan disana.

Atap.

**

Luhan menyalakan rokoknya dengan matanya yang tidak lepas menatap Heesa. Heesa juga balas menatap Luhan dengan tatapan malas.

Luhan menghisap rokoknya dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya ke arah lain. Luhan menghampiri pagar tembok atap itu kemudian menopangkan lengannya perlahan. Matanya melihat ke bawah kampus. Ada banyak manusia disana, dan tumbuhan-tumbuhan yang terlihat seperti miniatur kecil dari atas.

Heesa akhirnya mengambil posisi duduk dan menyelonjorkan kakinya jauh dibelakang Luhan. Ia menatap punggung Luhan dan rambut coklatnya yang tertiup angin. Kemeja putih yang tidak terpakai dengan seharusnya –Luhan tidak menyelipkan bagian bawah kemeja ke dalam celana, justru ia membiarkan kemeja itu dikeluarkan sehingga terlihat nyaman bagi Heesa. Bagian lengannya ia lipat sampai tiga perempat, celana jeans biru tuanya… segalanya terlihat simple dan nyaman, namun terkesan bad boy.

Heesa menghembuskan nafas panjang. Akhirnya ia berdiri dan berjalan mendekati Luhan. Jarak satu meter dibelakangnya, Heesa berhenti melangkah, kemudian melipat kedua tangannya.

“Ada apa kau membawaku kemari?” tanya Heesa memberanikan dirinya, meskipun ia tahu ia sangat gugup.

Luhan akhirnya membalikkan badannya setelah tiga puluh detik berlalu. Luhan menyenderkan punggungnya ke pagar tembok itu kemudian menatap Heesa tajam.

“Aku hanya ingin berbicara padamu tentang suatu hal,” jawab Luhan sambil menyesap rokoknya kecil.

Heesa mengangkat halisnya selama satu detik. “Katakan saja.”

Luhan membuang rokoknya yang masih tersisa banyak, kemudian menginjaknya sampai asap rokok itu tidak tercium lagi.

“Kau tahu masalah pernikahan itu..” ucap Luhan menggantung. Heesa mengerjapkan matanya.

Heesa menarik nafas panjang. “Lalu?”

Heesa menggigit bibir bawahnya, ia tahu ia harus siap mendengarkan apapun yang Luhan katakan, yang Luhan putuskan. Dan tanpa sadar kini Heesa tengah menahan nafasnya..

…………………………………………………………………………………..

adoh maafkan aku… maafkan… kumohon maafkaan.. *bersujud pada reader*

kumohon maafkan akuu… maafkan… *menangis*

baru sekarang aku bisa ngepost FF… maafkaaan…

happy reading kawan..

sekali lagi maafkan aku.

heheheheheheehhe XD

…………………………………………………………………………………….

45 thoughts on “ELECTRIC [ CHAP 11 ]

  1. Aaaauuuutttthhhhooorrrr….
    Taukah author betapa aku merindukanmu? #lebay
    lamaaa banget deh thor.. Tp akhirnya post jg stlah aku menanti #ciebahasanya
    chaeri, sera pergilah kalian ke alam baka!!!
    Luhan mau ngomong apa nih sm heesa??? Penasaran bin penasaran thor! Lanjutannya jgn lm lg smp 1 bln kyk gini T^T #abaikan

    keep writing and fighting ! ^^

  2. Ih author bikin greget! X9 itu gantung banget loh thooor!!

    rasanya ingin ngeremukin si Chaeri sama Sera. Licik banget!!!! *jambak rambutnya*
    next chapter harus lebih sedih dari ini loh thor. Sama buat si Chaeri sera menderita! *evilaugh*

    Chapter selanjutny pablis secepatnya ya thor! Keburu uts.. xixixi

  3. hyahh author ko TBC T^T
    ceritanyaa thorr jinjja daebakk neomu neomu daebakk…
    dapet banget feel nya u.u
    chaeri sera lu berdua kenapa masih aja ya ganggu heesa my body sweety (?)
    sana lu berdua ke alam masing2 enyahlah dari ff ini (?) #pletak
    lanjutannya jangan lama2 ya thor hehehe :D
    terus berkarya thorr fighting !!

  4. demi apaaaa… ak suka bgt sma ff ini :)
    kyaaaa… daebak thor..
    entah knapa ak msih berharap ini endingnya bkal sma kai –”
    but, no prob.. endingnya sma spa aja aku stuju kok, asal happy ending loh thor, harus *maksa* :D
    next chap ASAP yah thor :)

  5. huwaaaaa kenapa gantung endingnyaa ???? Tapi tak apalah , yang penting udah di pos :3 ditunggu lanjutannya ya eonnie cantik :3

  6. YEEEEEEAAAAAAAHHHHHHHH!!!! #screamingbarengkai haha
    finally, finally, finally ! update juga ini ff :D
    itu si chaeri pengen di injek dulu kali ya biar jauh jauh dari luhan -.-
    ini si heesa sama luhan juga, pake acara diem-dieman segala –”
    tapi tetep, ceritanya buaguuus haha
    feelnya dapet banget , apalagi bagian luhan nganterin heesa yang ketiduran ke kamar, kayaknya tuh cowok udah kangeeen banget #soktau haha
    okedeh, semangat buat ngelanjutin yaaaa :D
    don’t take too long hehehe

  7. authorr. aku protes!! kai-heesa moment nya kemana T.T kenapa kaii diam aja-,- gk ad niat kh buat mmperbaiki hubungann sm heesa. huhu. luhan ganggu nih, *ditmparfansnyaluhan* ahhhh aku lebih suka kalau heesa sm kai, feelingny udah dpt dr awal. author bikin galaunih. tapi after all FFny DAEBAKK! ;D

  8. haaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh~ akhirnya post juga XD
    tau ngga thor, aku setiap OL pasti ngecek kesini, dan akhirnya~ haha

    ih punya ide jahat apalagi tuh si chaeri? nyebelin banget! mati aja deh! sera juga noh! wkwk
    Luhan nya kok ngga langsung minta maaf ke Heesa si? kasian Heesa :(
    malah berduaan ma chaeri lagi, kalo ngga suka harusnya ngga mau berduaan ma chaeri dong >,<
    Kai juga~ diam aja tuh anak =='
    jadi penasaran Luhan mau ngomong apa, jangan2 malah tambah runyam huaaaaah

    thor! next chapter yg cepet ya! *maksa lagi
    tetep semangat yaaaa, keep writing :D
    moga sekolahnya juga tetep lancar deh thor

  9. Ya ampun ini nyesek sekaleee heesa.. Aku pengen tau emang fotonya luhan sama chery ngapain sih thor? :D hehe.. Lanjut thor.. Next chap jangan yang nyesek nyesek lagi plis.. Dan jangan lama lama lagi ya thor.. :D

  10. Author yang berbaik hatinya…diriku sangat merindukan dirimu.haah akhirnya ff ini muncul juga.selalu suka heesa sama luhan.tapi jangan terlalu lama dooong mereka musuhannya thooooor…..kangen niiih pengen liat gombal gombalnya luluu.
    hyaaaa heesa yaaa~~knp nasibmu malang sekali nak…..
    Thor…aku tau ide bwt nulis itu susah susah gampang….tp aku akan ttp setia menunggu <3
    Author hwaiting!!!!!!

  11. aaaakkk akhirnya d post juga .kasian heesa .bener2 keterlaluan deh chaeri ama heesa itu hih !! Kan masi ada cowok lain selain kai sm luhan .chanyeol dio baekhiee kan nganggur .tinggal pilih yg mn — ”
    tapi tapi thor endingnya sumpah bikin penasaran bgt .chapt selanjutnya harus cpt publish ya thor .semangaaat thor !!
    btw emg pose foto luhan sm chaeri itu kyk gmn ?

  12. author!! jujur sedih banget ngeliat jarak antara kai,luhan sama heesa ingin ngeliat api cemburu diantara kai ke luahan atau sebaliknya di chap selanjutnya nae author? *eh
    btw suka banget karakter baekhie sama D.O ^_^
    lanjut yah thoor jangan lama-lama fighting!! :D

  13. woah ~~~~~ , kurang buat gemes ah crttnya :( . kelamaan nih author publishnya :( , tpi itu tbc nya buat gemesss>< . mudah"an happy ending deh :)

  14. Penasaran nih sama kelanjutannya,,
    Di tunggu ya kelanjutannya, aku suka banget sama FF ini, ceritanya menarik.
    Kelanjutan.a jangan lama-lama ya hehehe udah ga sabar..
    Fighting

  15. hah? tbc bukan? ishh, kirain masih terus lanjut…
    ff mu seru thor, n yg lebih asik lagi karna durasi chapter nya panjang, hehe
    baru baca chapter ini, skrg mu baca dari chapter 1, penasaran awal nya gimana…
    btw aku reader baru disini, salam kenal, *bow bareng siapa aja yg mau(?) hehe ^^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s