PULCHRITUDE [ CHAP 11 ]

PULCHRITUDE

Author: Shin Heera

Cast:

  • Kim Jongin (EXO)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Park Chanyeol (EXO)
  • Park Chonsa (YOU)

Minor Cast:

  • EXO Member

Ket:

  • Kai at History era
  • Oh Sehun at 22nd teaser
  • Park Chanyeol at History era
  • Byun Baekhyun at History era
  • Do Kyungsoo at History era
  • Suho at High Cut era

Disclaim: Tuhan yang menciptakan mereka, dua belas bintang besar yang eksotis, EXO. Pemeran lain hanyalah fiksi yang tidak diketahui keberadaan aslinya. Tapi itu terserah dirimu.

Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Ps:

  • * > masih hari yg sama
  • ** > keesokannya
  • Don’t be silent reader
  • Don’t copy – paste my imaginations!!

……………………………………………………

Last Chapter

“Anggap saja.. anggap saja aku sebagai kakakmu, kau mengerti?”

“Hah? Tapi, Oppa.. aku tidak mau!” balas Chonsa mencoba memberontak di dalam pelukan Chanyeol. Tapi kedua lengan namja itu memeluknya sangat erat.

‘Aku sangat mencintaimu, Park Chonsa..’

Chanyeol hanya bisa mengatakan itu di dalam hatinya. Hanya dirinya saja yang tahu..

…………………………………………….

CHAPTER 11

Chanyeol melepaskan pelukannya dengan perlahan. Kini dia membiarkan air matanya jatuh dengan bebas di hadapan Chonsa.

Tangannya terangkat dan menghapus air mata Chonsa yang juga terus saja tidak berhenti keluar. “Jangan menangis. Kau membuatku terbebani, Park Chonsa,” ucap Chanyeol lirih sambil tersenyum kecil dan menghapus air matanya sendiri secara menyeluruh. Tapi percuma. Ketika dirinya mengedipkan mata, air mata yang lain keluar dengan tatapan tertuju hanya pada Chonsa.

“Jadi, kau sudah tidak mencintaiku, Oppa?” tanya Chonsa dengan suara pelan dan tetap terisak. Ini benar-benar menyakitkan.

Chanyeol tersenyum kecil. “Mengapa kau berpikiran seperti itu?” tanya Chanyeol.

“Jawab saja, Oppa..”

“Aku mencintaimu, Park Chonsa. Aku mencintaimu. Namun kali ini lebih dari seorang teman bahkan kekasih. Aku mencintaimu sebagai adikku. Bagaimana? Kau harus terbiasa. Mungkin dengan seperti ini kita dapat menikmati hari-hari seperti dulu..”

Chonsa benar-benar kecewa mendengarnya. Dimana Park Chanyeol yang sangat mengerti dirinya, hah? Ini bukan yang dia inginkan. Chonsa membencinya.

“Jangan pernah membenciku, Park Chonsa.” Chanyeol meraih tangan kanan Chonsa dan mencium punggung tangan yeoja itu lembut dan cukup lama beberapa kali dengan mata tertutup.

Ketika matanya terbuka, dia mendapati cincin cantik berliontin sayap terpasang di jari manis yeoja itu.

“Cincin yang indah. Selera Kai memang bagus. Warna rambut, cincin ini. Semuanya cocok denganmu, bukan?” tanya Chanyeol sambil tersenyum dan menatap Chonsa penuh arti.

Chonsa hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Bibirnya kembali bergetar dan air mata pun kembali terjatuh. Mengapa ini benar-benar sakit?

Setelah semua keadaan lebih baik dari sebelumnya dan tentu saja Chonsa sudah berhenti menangis, Chanyeol bersiap untuk mengantar Chonsa kembali ke dorm. Ini sudah larut malam.

Mereka berdua berjalan berdampingan di koridor asrama putra dan menuruni tangga dengan perlahan. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Hanya bergelut dengan pikirannya masing-masing. Penyesalan? Mungkin.

Setelah mereka berhasil keluar dari gedung asrama, sosok Kai terlihat baru saja kembali dari satu tempat. Studio. Tentu saja.

Mereka beradu pandangan. Tapi anehnya Kai tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Tidak seperti biasanya. Apa namja itu menganggap Chanyeol dan Chonsa tidak ada?

“Kai!” sapa Chanyeol setelah jarak mereka cukup dekat. Namja itu berhenti melangkah dan berdiri di hadapan Chanyeol dengan malas.

“Hyung..”

“Kai, aku butuh bantuanmu. Tolong antarkan Chonsa kembali ke dormnya.” Chanyeol tetap menyembunyikan kedua tangannya yang terkepal di dalam saku mantel.

“Kenapa harus aku?” tanya Kai sambil melirik Chonsa sekilas.

“Aku harus melanjutkan laguku untuk SIAS Song Festival. Hm?” Chanyeol tersenyum ke arah Chonsa kali ini. “Aku harus kembali. Kai akan mengantarmu.”

Chanyeol meninggalkan mereka berdua dengan langkah tergesa kembali menuju asrama putra. Setelah dirinya berada di lantai dua, kedua matanya menatap sosok Kai dan Chonsa. Chanyeol kembali merasakan matanya memanas. Dengan cepat dirinya masuk ke dalam dorm.

*

Mereka berdua masih saja bungkam. Tidak ada yang membuka mulut bahkan suara napas yang keluar juga mereka sembunyikan dengan hebatnya.

Tapi akhirnya Kai mencoba lebih dewasa. “Apa yang sudah kaulakukan di dalam dormnya?” tanya Kai dingin. Matanya menatap Chonsa dengan tanpa emosi.

Chonsa menarik napas dengan cepat. “Bukan urusanmu,” jawab Chonsa sambil melangkah meninggalkan Kai. Tapi namja itu menggenggamkan jemarinya di lengan Chonsa.

“Jawab aku..”

“Memangnya kenapa?!” Chonsa sudah tidak dapat menahan amarahnya. Dia baru saja sakit hati dan kini Kai mengintrogasinya layak seorang ayah. Benar-benar menyebalkan!

“Aku tahu kau sudah menangis! Apa dia menyakitimu?” tanya Kai lagi. Tetap dengan ekspresi itu.

Chonsa kembali merasakan debaran jantungnya bertambah cepat. Teringat kata-kata yang diucapkan Chanyeol. Benar-benar sakit. Dan kini dia tidak ingin bertemu dengan siapapun. Dia hanya ingin cepat kembali ke dormnya dan menangis sepuas-puasnya.

“Aku tidak menangis! Jangan sok tahu, Kai!” timpal Chonsa lalu kembali melangkah. Tapi tiba-tiba Kai menarik dan memeluknya dengan erat.

Chonsa menangis dan mencoba untuk melepas pelukan Kai. Tapi pelukannya semakin keras saja. “Kaaai! Lepaaas! Lepaskan akuuu!!” berontak Chonsa sambil mendorong pundak lebar Kai.

“Aku mengenalmu..”

“Lepaskan akuu!!!” Chonsa tidak menyerah untuk mencoba menjauhkan tubuh Kai darinya. “Aku bukan Angel Park asal kau tahu! Aku bukan Angel Park yang selalu memujamu! Aku bukan Angel Park yang dulu kaumiliki! Aku Park Chonsa! Park Chonsa! Ingat itu, Kai!”

Akhirnya pelukan Kai terlepas cukup keras karena Chonsa mendorongnya dengan kuat.

Kai melangkahkan kakinya agar kembali mendekat ke arah Chonsa. “Aku sudah memanggilmu Park Chonsa, bukan? Dan aku sudah memintamu untuk menjadi kekasihku kembali. Tapi mengapa kau—“

“—Sudah, Kai! Aku sudah lelah!” teriak Chonsa sambil berlari seorang diri menuju asrama putri.

“Park Chonsa, dengarkan aku! Tidak seharusnya kau meninggalkanku seperti ini, hah!”

Percuma. Sosok yeoja itu sudah tidak terlihat. Dia terdiam dengan napasnya yang naik-turun tidak beraturan. Akhirnya Kai berjalan ke arah asrama putra dan memikirkan, bahwa dia harus berbicara dengan Park Chanyeol.

*

Dirinya membuka pintu kulkas dan mengambil satu botol minuman keras. Dibukanya dan diteguk dengan cepat lebih dari sepuluh tegukan. Padahal dia tahu benar dirinya sendiri bukan peminum yang baik. Sekarang saja, rasa pusing sudah mulai terasa.

Kini namja itu, Park Chanyeol, menyandarkan punggungnya dengan nyaman. Tentu saja dengan botol yang masih berada di genggamannya.

Matanya terpejam sambil meneguk kembali. “Maafkan aku, Park Chonsa.. itu semua bukan benar-benar yang ingin kukatakan padamu. Aku tidak tahu..” Diminumnya kembali air keras itu. “Aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat agar kau kembali pada Kai..

“Aku.. AKU HANYA PENGGANGGU! Maafkan aku, Park Chonsa, maafkan aku. Aku yakin kau akan selalu bahagia di sampingnya. Kai, yang telah bersamamu selama bertahun-tahun. Aku tidak ingin hubungan kalian berakhir begitu saja..”

Setelahnya Chanyeol terus meneguk dan meneguk air keras itu, kesadarannya pun menghilang dengan perlahan. Tapi tiba-tiba dalam keadaan kacau seperti itu justru mendapatkan inspirasi untuk menulis sebuah lagu lain.

Hebat.

**

(Chonsa POV)

Malam tadi benar-benar berat. Aku tidak menyangka Chanyeol oppa akan berkata seperti itu padaku. Aku sudah mengatakan aku juga mencintainya tapi apa yang dia katakan?

Aku yakin mataku sangat sembab pagi ini. Menangis. Hanya itu yang aku lakukan tadi malam. Tebak kata apa yang tidak aku lupakan dari malam itu? Kakak. Chanyeol oppa menginginkanku untuk menganggapnya sebagai kakak. Aku tidak mau! Aku ingin lebih dari sekedar kakak.

Chanyeol oppa yang selalu mengerti diriku selama ini. Dia yang selalu membuatku tertawa sepanjang hari, menemaniku. Haaah..

Tanganku tidak henti-hentinya mengeringkan rambutku. Pemandangan SIAS yang terlihat sangat jelas dari balkon dormku ini terlihat indah. Bahkan masih ada sedikit kabut terlihat menyelimutinya.

TINGTUNG~

Hah? Siapa yang datang pagi-pagi seperti ini? Apalagi hari ini adalah hari libur. Apa Chanyeol oppa?

Kakiku mulai berjalan menghampiri pintu dorm. Mungkin Chanyeol oppa ingin meminta maaf padaku dan ingin hubungan yang lebih serius? Apakah benar akan seperti itu? Apakah benar itu Chanyeol oppa?

Perkiraanku salah besar ketika layar interkom menampilkan sosok Kai yang tengah berdiri di depan pintu. Kecewa? Tentu saja.

Dengan malas aku membuka pintu dorm. Terlihat Kai yang tengah tersenyum canggung padaku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman acuh tak acuh. Untuk apa dia datang kemari?

“Hai..” sapa Kai dengan suara pelan sambil memberikan sebuket bunga mawar putih dan biru yang sedari tadi ia genggam. “Selamat pagi..”

“Ada apa kau datang kemari?” tanyaku dingin. Berharap dia cepat pergi.

“Tolong terimalah bunga ini, Park Chonsa,” ucapnya sambil kembali menyodorkan buket bunga ini.

Dia memang tahu benar semua yang kusuka. Sampai warna bunga mawar yang kusuka pun dia tahu. Jika keadaan tidak seperti ini, aku akan menerima bunga itu dengan senang hati. Tapi ini.. aku tidak dalam mood yang baik. Apalagi padanya.

Sampai kapan dia mengerti bahwa aku mencintai Chanyeol oppa? Tolong beri kesempatan padaku untuk mencintainya. Namja yang tulus mencintaiku ketika dirinya sempat menghilang dari pikiranku.

“Terserah jika kau akan membuangnya. Tapi setidaknya kau menerima bunga ini. Hargailah aku sedikit saja, Park Chonsa.” Matanya menatapku tajam dan aku tidak menyukainya. Namja kasar. Apa dia tidak juga mengerti bahwa aku sedang tidak ingin diganggu?

Tapi akhirnya aku menerima bunga itu dan berjalan masuk ke dalam dorm tanpa mempedulikan Kai yang sepertinya sudah mengikutiku di belakang.

Tanganku meletakkan bunga itu di atas meja berkaki rendah ruang tengah dan duduk di sofa dengan malas.

Aku melihatnya duduk di seberangku dengan mata yang tetap menatapku seperti itu.

“Ada apa kau datang kemari?” tanyaku ketus.

Kai tidak juga menjawab. Yang ia lakukan masih sama seperti sebelumya. Apa yang dia inginkan?

“Cepat katakan, Kai! Aku tidak punya waktu banyak.”

Dapat kudengar dengan jelas namja itu menarik napas dengan dalam dan mengeluarkannya teratur melewati hidung. Hah, jika seperti ini sampai kapan dia akan pergi?

“Aku ingin meminta maaf padamu, Park Chonsa. Dan aku yakin kau memaafkanku. Aku benar, bukan?”

Aku mendengus kecil dan bangkit dari atas sofa. “Yasudah jika kau menginginkannya seperti itu. Baiklah, kau bisa kembali sekarang, Kai.” Aku menunjuk arah pintu keluar dengan ujung daguku.

“Ini tidak cukup..”

“Apalagi yang kauinginkan? Aku sudah menghargaimu, bukan?” tanyaku dengan sedikit sentakkan di dalamnya. Jujur saja aku tidak mempunyai ide bagaimana caranya agar namja ini cepat pergi dari hadapanku.

“Mengapa kau berubah seperti ini? Aku tidak mengenalmu..”

Keadaan tiba-tiba hening.

Akhirnya aku mengambil langkah, membuka pintu untuknya agar cepat pergi dan jangan kembali menggangguku. Itu yang kuharapkan.

“Kau datang tidak tepat. Aku sedang ingin sendirian hari ini bahkan hari-hari selanjutnya. Kali ini aku mohon kau cepat keluar.”

Kai mendengus kasar.

“Maafkan aku, tapi kali ini aku serius..”

Dia melangkah dengan keras menuju pintu dormku. Tapi tiba-tiba jemarinya menggenggam pergelangan tanganku cukup erat.

“Kai! Lepaskan..” ucapku berusaha mengatur amarah.

“Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini kepadaku, Park Chonsa?” tanyanya. Jarak wajahnya sangat dekat sekali sampai-sampai aku dapat merasakan napasnya yang selalu berbau mint di permukaan wajahku.

“Sampai kau menyadari aku merasa nyaman berada di samping seseorang yang aku sayangi..”

Kai mengerutkan keningnya dalam. Aku tahu apa yang ada di pikirannya. “Ya, dan itu adalah aku.”

“Lepaskan aku, Kai!” pintaku cukup keras sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya yang terus saja menguat. Jujur saja aku tidak menyukai ini! Ketika Kai berubah menjadi namja yang egois.

“Lihat saja, Park Chonsa. Aku yakin pada akhirnya kau akan kembali padaku..”

“Lepas, Kai! Kau bisa melukai tanganku!”

“Tidak sebelum kau berjanji akan kembali padaku..” ucapnya dengan nada rendah. Benar-benar egois.

Dengan kasar aku melepas cincin yang melingkar di jari manisku. “Ambil ini!” teriakku sambil meletakkan cincin itu di telapak tangannya.

“Chonsa..”

“Selamat pagi!”

*

(Author POV)

Park Chanyeol tetap berdiri di tempatnya ketika melihat Kai keluar dari dalam dorm milik Park Chonsa. Jantungnya berdebar keras. Ada apa ini?

Matanya disipitkan dan pendengarannya ia tajamkan. Hm, terdengar jelas. Ini masih sangat pagi dan asrama masih sangat sepi. Hanya ada mereka bertiga di koridor kali ini.

Chanyeol mengeratkan kepalan tangannya ketika melihat keegoisan Kai di hadapan Chonsa. Benar-benar seperti anak kecil. Memaksakan cinta seseorang.

Chanyeol merasakan sedikit penyesalan melihat Chonsa. Jujur saja dia tidak bisa berbohong. Dia sangat mencintai Chonsa.

Tapi jika saat itu kembali teringat di benaknya, Chanyeol tidak dapat berbuat apa-apa.

Ya, ketika Kai datang mengunjungi dormnya dan meminta Chanyeol untuk membantunya agar kembali mendapatkan Chonsa.

Kai adalah salah seorang murid jenius dan sulit berteman di SIAS namun sangat disegani dan dikagumi oleh semua murid. Beruntung sekali Chanyeol dapat berteman dekat dengannya sejak awal pertama pembelajaran SIAS dimulai.

Bisa dibilang, Kai sudah seperti Baekhyun. Ya, sahabatnya. Sejak dulu Kai selalu memberinya semangat untuk membuat lagu sampai lagunya pun tersebar di SIAS dan banyak guru yang menyukainya. Ini semua karena Kai.

Tapi jika Park Chonsa digunakan sebagai tanda balas jasa itu benar-benar tidak lucu. Mana mungkin dirinya akan memberikan cintanya kepada orang lain.

Tapi ini Kai. Dia bukan orang asing baginya. Pahlawan? Bisa saja. Dan juga Chonsa adalah sebagian besar dalam hidup Kai. Benar-benar rumit.

“Selamat pagi!” sapa Chanyeol sambil melambaikan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya menjinjing satu kantong berisikan kotak bekal milik Chonsa yang tertinggal tadi malam.

Chanyeol berjalan mendekat ke arah mereka berdua sambil berusaha tersenyum sewajarnya seakan kejadian tadi malam belum pernah terjadi sebelumnya.

“Chonsa, annyeong! Kai..” sapa Chanyeol lebih pribadi kali ini. Senyumannya tenggelam ketika dirinya mendapati Chonsa tidak membalas senyumannya. Yang dilihatnya kali ini adalah air mata yang sudah menggenang di mata indah gadis ini.

Tanpa berkata apapun bahkan membalas sapaan Chanyeol, Chonsa masuk ke dalam dormnya dan mengunci pintunya dengan cepat.

“Park Chonsa!” seru Kai sambil mengetuk pintu dorm Chonsa dengan tidak sabar. Sementara Chanyeol hanya melihatnya dengan rasa campur aduk. Tidak dapat dideskripsikan. Dirinya berada dalam posisi yang serba salah.

“Park Chonsa. Buka pintunya! Aku belum selesai berbicara! Park Chonsa!”

Beberapa menit telah berlalu dan Chonsa tetap tidak membuka pintu dormnya. Chanyeol menarik lengan Kai untuk menyingkir dari radius interkom pintu dorm Chonsa.

Chanyeol memberikan tatapan serahkan-saja-padaku ke arah Kai yang kini bersandar di dinding samping pintu masuk dorm Chonsa.

“Park Chonsa..” ucap Chanyeol dengan suara rendahnya namun benar-benar terdengar lembut dan menenangkan. “Park Chonsa, ini aku..”

Hening, tidak ada jawaban yang terdengar dari dalam.

“Apa kau bisa membukakan pintu untukku, hm? Aku baru saja datang untuk menemuimu. Bagaimana bisa kau membiarkan aku seorang diri menunggumu di sini?”

Tiba-tiba suara Chonsa terdengar keluar dari interkom. “Dimana Kai? Apa dia sudah kembali?”

“Dia sudah pergi,” jawab Chanyeol sambil melirik ke arah Kai yang kenyataannya masih tetap berada di sini.

CKLEKK!!

“Oppa!!”

Setelah membuka pintu dan yeoja itu melihatnya, dengan cepat Chanyeol mendapat pelukan erat dari Chonsa. Yeoja itu menangis di dalam pelukannya.

Chanyeol kembali mendapat serangan jantung. Jujur saja, dia sangat ingin membalas pelukan Chonsa. Tapi kali ini Kai berada bersamanya. Dan Chonsa masih tidak menyadari itu karena wajahnya menghadap membelakangi Kai.

Kai yang melihat itu menegakkan tubuhnya dengan air muka kecewa. Sangat kecewa. Bagaimana bisa sedari tadi ia diusirnya dan sekarang? Ketika Chanyeol datang, dia memeluknya?

“Mengapa kau menangis, Park Chonsa?” tanya Chanyeol yang belum juga membalas pelukan Chonsa. Matanya menatap Chonsa dan Kai bergantian.

“Oppa, jangan berubah seperti ini kepadaku! Aku tidak mau!” rengek Chonsa yang sudah mengeluarkan air matanya cukup banyak.

“Berubah bagaimana? Aku akan tetap bersamamu..”

“Aku memelukmu dan kau tidak balas memelukku!” jawab Chonsa sedikit kesal. “Kau tidak sayang padaku!”

Dengan ragu Chanyeol merengkuh tubuh kecil Chonsa di dalam pelukannya. Tatapannya menandakan dia menyerah dengan semuanya. Dia ingin memeluk Chonsa kali ini.

“Jangan menangis..” ujar Chanyeol sambil melirik dengan asa ke arah Kai.

Kai yang sudah tidak dapat menahannya lagi hanya mengambil langkah cepat untuk meninggalkan tempat itu. Dia tidak ingin merasakan yang lebih sakit dari ini.

Chanyeol membuang napasnya yang sedari tadi tertahan di kerongkongannya. Lalu dengan perlahan memeluk Chonsa lebih erat dari sebelumnya dengan mata tertutup.

“Aku menyayangimu, Park Chonsa. Jangan pernah berpikiran bahwa aku tidak menyayangimu. Itu mustahil..” ujar Chanyeol sambil mendekatkan bibirnya di telinga Chonsa.

Akhirnya dengan perlahan Chonsa melepas pelukannya dan menatap Chanyeol dengan mata sayu.

“Berjanjilah..”

“Untuk apa?”

“Jangan meninggalkanku, Oppa..”

Chanyeol terdiam sesaat lalu mengangguk ragu.

*

(Park Chanyeol POV)

Kepalaku masih terasa berat setelah mabuk semalaman. Ini pertama kalinya aku minum sebanyak itu. Habis tiga botol. Benar-benar keajaiban aku mendapati diriku masih hidup pagi ini.

Park Chonsa. Nama itu tidak juga hilang dari pikiranku. Apa aku mengambil langkah yang benar? Aku benar-benar jahat. Mengkhianati perasaan sendiri dan juga dirinya. Menghilangkan kesempatan besar yang sudah kutunggu lama sekali.

“Lalu bagaimana reaksinya?” tanya Sehun yang berada di sampingku beberapa menit yang lalu, di danau. Suasana sore hari di sini sangat tenang dan aku menikmatinya.

“Ya, aku sudah mengatakannya. Dia terlihat sangat sedih. Aku ragu aku mengambil langkah yang benar atau salah, Oh Sehun.”

“Bukankah kau memikirkan perasaan Kai?” tanya Sehun masih dengan nada seperti itu.

Aku menarik napas sejenak. Dadaku masih terasa sesak. “Ya. Tapi Park Chonsa.. dia.. dia mencintaiku, Sehun-ah. Meskipun aku tidak yakin dia akan kembali pada Kai, tapi aku tidak tahu mengapa.. haaah!” Sepertinya aku mulai gila. Berfikir jernih saja tidak bisa. Kucoba menutup mataku rapat-rapat sambil meremas rambutku dengan kencang.

“Apa dia menangis?”

Aku tidak mengerti dengannya. Oh Sehun. Selalu saja berpindah pada topik lain. Apa dia tidak melihat aku sedang dilanda stress tingkat akut? Apa dia tidak menyadari saat ini wajahku meleleh?

“Tentu saja.” Akhirnya aku menuruti percakapannya. “Pertama kalinya aku melihat dia menangis seperti itu.”

Sehun tertawa kecil. Aku meliriknya heran. “Aku sudah sering melihatnya menangis seperti itu, Hyung.”

“Bagaimana bisa?”

“Karena dia selalu datang padaku jika mendapat masalah.”

Aku hanya dapat terdiam seperti ini. Bagaimana bisa Sehun kuat melihat yeoja seperti Park Chonsa, yeoja yang kusukai, menangis.

“Dan baru saja aku kembali dari dormnya. Aku melihatnya bertengkar dengan Kai lalu masuk ke dalam kamarnya. Dan aku memintanya untuk keluar. Akhirnya dia menurut dan langsung memelukku. Dan apa kau tahu? Kai masih berada di sana dan melihat adegan itu. Aku sangat merasa bersalah..”

“Bagaimana bisa..” ucap Sehun dengan suara kecil tapi masih bisa terdengar. Ya, aku yakin dia tidak percaya dengan kejadian tadi pagi.

“Memangnya kenapa?”

“Aku tahu benar Park Chonsa dapat dengan mudah memaafkan seseorang dan semua keadaan pun menjadi seperti biasa. Terlebih lagi orang itu Kai. Kai yang sempat dekat dengannya sejak lama. Aku tidak tahu kau sehebat itu, Hyung..” jelas Sehun lalu tertawa kecil di akhir sambil memukul lenganku pelan.

“Tapi aku tidak akan pernah memiliki Park Chonsa, Sehun-ah..”

“Hm? Mwo?”

“Kai sudah memintaku untuk bertemu nanti malam dan aku tahu apa yang akan dia katakan.” Aku tertawa miris setelah mengatakannya.

Jujur, aku mencintainya. Namun aku merasa tidak berhak untuk mendapatkannya. Kai. Aku merasakannya betapa ia sangat merindukan Chonsa untuk kembali bersamanya. Dan aku tidak ingin merusak itu. Selain itu juga ada sesuatu yang memaksaku dan itu membuat semakin mustahil saja bisa mendapatkan Chonsa selalu bersama disampingku.

“Egois memang tidak baik. Tapi ini menyangkut dengan hatimu, Hyung..”

“Aku tahu..”

Keadaan yang sepi ini tiba-tiba dipecah oleh suara nyaring dari ponselku. Siapa yang menelepon?

Oh, Mom..

“Hallo, Mom..” sapaku dengan bibir tersenyum secara tidak sadar. Aku merindukan suara lembut ini. “Ya, aku baik-baik saja. Hm, baiklah aku akan menunggumu. Apa? Mom, kau tidak berbohong, bukan? Bukan, bukannya aku tidak mau. Hanya saja.. ini terlalu cepat. Oh, arasseoyo. Hm, bye..”

KLIK!!

“Ada apa, hyung? Wajahmu pucat..” tanya Sehun sambil mengerutkan keningnya melihat permukaan wajahku.

“Ah, aku harus kembali. Nikmati hari soremu, Sehun-ah. Annyeong!”

**

(Kai POV)

Aku kembali meremas rambutku dengan kasar ketika ingatan itu kembali. Park Chonsa, apa kau tidak mengerti bahwa aku sangat mencintaimu, hm? Sampai kapan aku harus menunggumu untuk kembali padaku?

Aku akui Chanyeol hyung memang tipe sempurna untukmu. Tapi tidak secepat ini kau memutuskan untuk bersamanya dan meninggalkanku.

Kejadian pagi tadi benar-benar membuatku sakit. Sangat sakit. Ketika aku memintamu untuk membuka pintu, kau tidak keluar dan menemuiku. Tapi ketika Chanyeol hyung memintamu.. kau membuka pintu dan memeluknya. Bagaimana bisa? Bukankah kau lebih mencintaiku dibanding dengannya, Park Chonsa?

Dan satu masalah lagi. Aku mendapat kabar bahwa ibuku sedang dalam masalah. Biaya sekolah adikku dan hutang almarhum ayahku semua belum dibayar. Apa yang harus aku lakukan? Sepertinya aku harus lebih berusaha untuk menjadi penari internasional dengan waktu singkat.

Tuhan, semoga saja ibuku bisa bertahan untuk menungguku. Dan Chonsa bisa kembali menjadi milikku.

Suara bel dorm sedikit mengejutkanku dari lamunan singkat ini. Aku yakin itu Chanyeol hyung. Mataku melirik ke arah jam dinding yang terpasang di atas tv. Delapan malam. Baiklah.. Aku harus membicarakannya malam ini juga.

Kulangkahkan kakiku menuju pintu dorm dan membukanya dengan perlahan. Benar. Chanyeol hyung yang datang. Aku tersenyum wajar dan membawanya masuk lalu duduk di atas sofa ruang tengah.

“Apa yang sedang kaulakukan, Kai?” tanya Chanyeol hyung sambil melihat ke sekeliling dormku dengan singkat.

“Tidak ada. Aku menunggumu, Hyung,” jawabku sambil tertawa kecil di akhir.

Chanyeol hyung mengangguk dan senyuman lebarnya menghilang dengan perlahan di bibrinya. Baiklah, suasana sudah mulai terasa serius sekarang.

“Kai, kau tidak membenciku, bukan?” tanya Chanyeol hyung sambil menatapku dengan takut. Ada apa ini? Mengapa seperti itu? Dia terlalu berlebihan.

“Membencimu untuk apa, Hyung?” Aku balas bertanya dengan senyuman.

“Kejadian tadi pagi..”

“Haha.. Aku tidak marah padamu, Hyung. Aku mengerti..”

“Baguslah..” ujar Chanyeol hyung sambil mengeluarkan napasnya yang terdengar jelas. “Baiklah, apa yang ingin kausampaikan, Kai?”

Jantungku mulai berdebar dan sesak terasa sangat mengganggu. Apakah sesulit ini yang harus kulalui untuk mendapatkan Chonsa kembali di sampingku?

“Aku yakin kau sudah tahu,” jawabku sambil menatapnya dengan cukup serius. Chanyeol hyung hanya kembali mengangguk dan tidak berani menatapku. Hah, aku yakin dia juga sangat mencintai Chonsa. Bagaimana ini?

“Kau tahu aku tidak mendekatinya bahkan aku sudah menolak cintanya malam itu, Kai. Dan tadi pagi itu aku berniat mengembalikan kotak bekal padanya lalu kembali ke dorm. Tolong jangan salah paham..”

Aku terkekeh. “Aku percaya padamu, Hyung..” Jemariku tidak dapat berhenti bergerak bebas sedari tadi. “Aku ingin kau tidak lagi mempedulikannya. Kau tahu aku akan selalu bersamanya, bukan?”

Chanyeol hyung terdiam. Sepertinya dia tengah berpikir. Hah, apa aku mengambl tindakan yang benar? Apa aku tidak terlalu egois?

“Maksudku, aku..”

“Aku mengerti, Kai,” potongnya. “Kau tenang saja. Lagipula.. aku akan kembali ke California tidak lama lagi.”

“Apa?”

**

(Author POV)

Kai tidak merubah posisinya. Tetap menyandar dengan malas di tembok koridor sekolah, dekat studio satu seperti biasa. Menunggu datangnya Park Chonsa? Itu sudah pasti. Tapi kali ini dia ingin memastikan apakah Chanyeol mendengar permintaannya semalam atau tidak.

“Jadi bagaimana hubunganmu dengan Park Chonsa, Kai?” tanya Dio sambil tebar pesona pada murid yeoja SIAS yang memang banyak berlalu lalang di sekitar divisi dance. Tentu saja mereka ingin melihat Kai, Sehun dan semua anak dance yang memang sebagian besar berwajah tampan, termasuk dirinya.

“Buruk,” jawab Kai singkat. Napasnya sesak karena jantungnya berdebar keras. Penyebabnya adalah kini matanya tengah melihat sosok Chonsa yang tengah berjalan menuju koridor.

“Bagaimana bisa. Ah, itu dia..” ucap Dio sambil menunjuk Chonsa lalu tersenyum ke arah yeoja-yeoja yang menyapanya.

Kai menegakkan tubuhnya sambil tetap menatap Chonsa yang belum juga menemukan sosoknya yang tengah menunggu.

Saat ini juga Kai sangat berterimakasih pada Chanyeol karena hyungnya itu menurutinya.

Akhirnya Park Chonsa mendapati sosok Kai. Tapi yeoja itu sama sekali tidak menyapanya atau melempar senyuman kecil. Kai mendesah panjang setelah Chonsa berjalan cepat melewati dirinya.

Apa yang harus aku lakukan? Hanya itu kata-kata yang memenuhi otaknya kali ini.

“Kai..” Dio yang melihat itu hanya teheran-heran. Apa yang terjadi dengan pasangan panas akhir-akhir ini?

“Aku masuk..”

*

“Kau tidak menghampirinya?” tanya Baekhyun pada Chanyeol ketika waktu istirahat datang.

“Siapa yang kau maksud?” Chanyeol balik bertanya sambil membereskan semua barang-barangnya di atas meja.

Baekhyun mendengus singkat lalu tertawa ringan sambil memukul lengan Chanyeol.

“Park Chonsa. Jangan pura-pura tidak tahu..”

“Aku tidak akan selingkuh lagi darimu, Baekhyunnie,” ucap Chanyeol sambil menatap Baekhyun jail.

Kali ini Baekhyun benar-benar memukul Chanyeol karena seketika dirinya merasakan merinding hebat di tubuhnya. Selingkuh? Brr~

“Ada apa denganmu? Katakan padaku, Yeollie..” Baekhyun ikut bangkit ketika Chanyeol mulai bergegas keluar kelas yang sudah kosong itu.

“Nan gwenchana,” jawab Chanyeol seperti merasakan suatu benda besar tersumbat di dadanya.  Itu semua tidak benar. Dirinya berbohong. Semua tidak baik-baik saja. “Aku lapar. Ayo kita makan, Baekhyun-ah~”

Baekhyun hanya memanyunkan bibirnya ketika Chanyeol tidak menjawab dan lebih memilih melingkarkan tangan di pundaknya yang mungil.

*

“Dimana namja yang selalu menjemputmu?” tanya Chen yang keheranan melihat Chonsa yang masih duduk dengan manis di atas kursinya sambil menulis lagu.

Chonsa tersenyum manis lalu menoleh ke arah Chen sekilas. “Siapa maksudmu?”

“Chanyeol hyung. Atau kau sedang menunggu namja lain?” tanya Chen kembali. Kali ini dengan tawa jahil.

“Tidak. Aku sedang ingin sendiri, Chen. Kau tidak pergi mencari makanan ringan?”

“Tentu saja aku akan pergi ke food court. Kau ingin menitip sesuatu?” Chen bangkit dari duduknya lalu merapikan seragamnya.

“Chocolate mint. Gomawoyo, Cheeeen,” ucap Chonsa sambil tersenyum mengikuti Chen yang mengangguk sambil berjalan ke luar kelas.

Chonsa menghembuskan napas panjang. Sebenarnya ia ingin menangis. Lagi. Tapi ia sadar dirinya tidak boleh seperti ini. Secara tidak langsung menangis akan membuatnya semakin sakit.

Dimana Chanyeol? Chanyeol yang selalu datang kepadanya, membuatnya tersenyum dan nyaman berada di sampingnya? Chonsa merindukan itu.

Kurang lebih lima  menit berlalu, Chonsa mengerutkan keningnya dalam-dalam ketika mendengar ketukan sepatu tengah berlari menuju kelasnya.

Ternyata Chen.

“Kau kenapa?” tanya Chonsa sambil meletakkan pensilnya di atas tumpukkan kertas yang tidak teratur itu.

“Apa benar kau.. kau adalah.. Angel Park?” tanya Chen sambil mengatur napasnya dan melangkah mendekat ke arah Chonsa.

“Hah? Apa maks..”

“Dan Si Penari Bertopeng yang hilang itu adalah kau? Park Chonsa?”

Yeoja itu terdiam. Sepertinya keadaan berubah diluar dugaannya. Ternyata semua terungkap sangat cepat. Bagaimana bisa? Yang mengetahui ini hanya Chanyeol dan Kai setahu dia.

“Park Chonsa, jawab aku..”pinta Chen sambil meletakkan chocolate mint pesanan Chonsa di atas meja.

“Terimakasih,” kata Chonsa sambil mencicipi coklat mintnya. Yeoja itu tersenyum kuda ketika mendapati Chen yang tengah menatapnya serius. “Siapa yang memberitahumu, Chen?” tanya Chonsa akhirnya.

“Jadi benar kau adalah orang yang sama dengan mereka?”

Park Chonsa terdiam kembali. Tapi akhirnya dia mengangguk cepat beberapa kali.

“SIAS sedang membiacarakanmu.”

“Oh ya?”

“Mading dipenuhi murid SIAS..”

“Aaaah, ottokhae..” ucap Chonsa pada dirinya sendiri. “Aku harus menjelaskan ini semua.” Chonsa bangkit dari tempat duduknya dan bergegas keluar kelas.

“Park Chonsa!” panggil Chen dan membuat Chonsa berhenti melangkah. “Senang mengenalmu. Aku harap kita bisa menjadi teman baik.”

“Tentu saja, Chen,” jawab Chonsa sambil tersenyum lebar lalu kembali meneruskan langkahnya menuju mading.

Chonsa merasakan sesuatu yang berbeda. Tidak seperti biasanya para murid SIAS melihatnya seperti itu. Bukan, bukan melihat dirinya seperti hantu. Tapi mereka terlihat canggung.

Ini benar-benar membuatnya tidak nyaman. Kepalanya berputar ke kanan dan ke kiri bergantian. Mengapa semua menjadi melihat ke arahku seperti ini? Siapa sebenarnya yang membocorkan rahasia ini?

“Park Chonsa!” Terdengar seseorang memanggilnya dari arah belakang. Chonsa menoleh dan mendapati sosok Han Jiyoung. Kini dia yakin bahwa Jiyoung berada di belakang ini. Mengapa? Karena yeoja itu tengah menangis.

“Han Jiyoung..”

Jiyoung memeluk Chonsa dalam keadaan tetap menangis, malah tangisannya semakin kencang.

“Park Chonsa.. maafkan aku.”

Chonsa mengerutkan keningnya. “Untuk apa?” tanyanya sambil tersenyum. Dia juga mengkhawatirkan para murid SIAS yang jumlahnya semakin banyak mengerumuni mereka.

“Semuanya terbongkar.” Jiyoung melepas pelukannya dan beralih menatap Chonsa. “Sepertinya ada yang mendengar pembicaraan kita saat itu. Maafkan aku, Park Chonsa, aku tidak bermaksud..”

“Hei, ini bukan salahmu. Aku juga terlibat, Han Jiyoung.. Sudah, jangan menangis. Semua sudah terjadi dan kita jalani saja, arachi?” Chonsa menggenggam tangan Jiyoung untuk memberikan ketenangan.

Mungkin sudah seharusnya ini semua terbongkar. Aku tidak perlu menyembunyikannya lagi. Semoga saja semua akan baik-baik saja.

*

“Kai.. aku tidak percaya ini. Si Penari Bertopeng yang menjadi panutan SIAS sampai saat ini.. dia.. ternyata.. Park Chonsa?” Dio membulatkan kedua matanya berlebihan. Ini benar-benar mengejutkan. Jujur saja, Dio belum sepenuhnya percaya sampai beberapa bukti terkumpul.

“Kai, aku tidak percaya ini,” ucap Dio sambil menggelengkan kepalanya. “Ya, apa kau mendengarku? Apa kau sama terkejut sepertiku, Kai?”

Kai tetap terdiam.

“Kai!!” Dio menambah volume suaranya saking kesal. Tapi akhirnya dia mengerti. Kini Kai tengah bertatapan dingin dengan Park Chonsa. Dan tidak lama yeoja itu pergi dengan tangan Han Jiyoung di genggamannya.

Kai mengeluarkan napas  panjang dan berjalan meninggalkan wilayah mading menuju studio satu. Ya, di sana pasti tidak banyak orang dan siapa yang berani menempati studio satu tanpa seizin Kai. Ya, mereka takut Kai akan memakainya.

Kai duduk di pinggiran dan meluruskan kedua kakinya secara rileks. Dia mencoba menjernihkan semua pikiran yang mengganggunya. Kekhawatiran dengan keadaan keluarganya juga dengan Park Chonsa, yeoja yang sangat dicintainya sejak dulu hingga sekarang.

Keegoisan yang muncul bukan berarti Kai tidak sayang padanya. Tapi karena dia tidak ingin kehilangan sosok yeoja berparas cantik dan ramah itu. Yang selalu menghantui setiap harinya.

Sudah kesekiankalinya Kai membuang napas secara berlebihan melewati mulutnya. Kini geraman muncul dan membuat sahabatnya semakin khawatir.

“Kau baik-baik saja?” tanya Dio yang duduk tepat di samping Kai. Suasana studio memang sepi seperti dugaannya.

“Aku yakin kau tahu jawabannya..”

“Apa kau takut Park Chonsa akan mengalahkan keahlianmu dalam menari?” tanya Dio yang terdengar ragu-ragu.

Kai mendengus singkat. “Sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya olehku, Do Kyungsoo..”

“Lalu apa yang terjadi denganmu? Dan Park Chonsa? Aku melihat sepertinya kau tidak baik-baik saja dengannya.”

“Apa perlu kuceritakan semua padamu?”

“Tentu saja. Aku sahabatmu, Kai..”

Kai mengambil napas beberapa saat. “Sebenarnya aku sudah mengetahui siapa sebenarnya Park Chonsa sebelum-sebelum ini. Dan aku mengenalnya sudah lama sekali sampai-sampai aku tahu semua tentangnya.”

“Woa… menarik. MENGAPA KAU TIDAK MENCERITAKAN INI PADAKU, KAI?! LANJUTKAN!!” seru Dio sambil memukul pundak kanan Kai beberapa kali.

“Aiiisshh.. jika kau memukulku seperti tadi, aku akan mati sebelum bercerita..”

Dio tersenyum sangat manis dan mengelus pundak Kai dengan lembut. “Baiklah, maafkan aku. Ayo cepat lanjutkan.”

“Intinya aku pernah mempunyai hubungan dengannya. Tapi itu dulu. Kita sempat berpisah lama sekali sampai aku tidak mengenalinya ketika dia memasuki SIAS.”

“Amazing! Dan kau kembali menjadi kekasihnya? Itu hebat, Kai!”

“Aku belum selesai bercerita, Do Kyungsoo..” Kai menatap Dio dengan tatapan membunuh. Apa bisa namja ini diam dan duduk manis ketika mendengar ceritanya?

Akhirnya Dio benar-benar diam.

“Kini.. Park Chonsa.. memilih Chanyeol hyung dan menjauh dariku.”

Dio terdiam. Terkejut? Tentu saja. Juga menunggu, apakah Kai akan meneruskan ceritanya kembali atau tidak.

“Lalu?” tanya Dio dengan suara rendah. Matanya menatap Kai khawatir. “Apa Park Chonsa juga menyukai Chanyeol hyung?”

Kai mengangguk pasrah.

“Apa Park Chonsa benar-benar tidak mempunyai rasa padamu sedikit saja? Itu mustahil..”

“Chanyeol hyung adalah pilihannya. Tapi apa kau tahu? Aku meminta Chanyeol hyung agar membantuku untuk mendapatkan Park Chonsa dan dia setuju.”

Dio mengerutkan keningnya dalam. “Kai, apa kau akan mendengarkanku?”

“Apa?”

“Park Chonsa menyukai Chanyeol hyung dan sebaliknya. Kau tidak bisa memaksakan Chonsa semudah itu dan aku yakin Chanyeol hyung akan sakit hati.

“Jika Chonsa menyukai Chanyeol hyung, biarkan saja dia bersamanya. Jika Chonsa masih menyayangimu, dia akan kembali padamu, Kai. Percayalah padaku.”

Kai terdiam. Dia menyesal  tidak menceritakan semua pada Dio sebelumnya. Dia tidak merasakan perasaan Chanyeol yang sepertinya benar-benar menyayangi Chonsa dengan tulus.

“Tapi.. aku mencintainya..”

*

“Daebak..”

“Tutup mulutmu, Baekkhie. Apa kau tidak memiliki kata lain selain itu?” tanya Chanyeol sambil meminum coklat dari dalam cup ukuran medium.

“Aku masih tidak menyangka, Yeollie. Park Chonsa adalah Si Penari Bertopeng. Dan kau. Bukankah kau sangat mengidolakannya? Dan kau sudah menciumnya. ITU SANGAT BERUNTUNG!” seru Baekhyun sambil menepuk pundak Chanyeol.

Chanyeol hanya menggeleng dan kembali merasakan sakit di dadanya. Dia tidak akan pernah mendapatkan Chonsa.

“Ya! Lihat! Itu.. Park Chonsa!” Baekhyun menunjuk sosok Chonsa yang tengah berbincang dengan Han Jiyoung di atas rumput segar taman belakang ini.

Chanyeol terdiam. Matanya menatap Chonsa dengan penuh perasaan. Dia sangat menyayangi yeoja itu. Dari awal bertemu, ketika melihatnya duduk sendiri. Dia sudah sangat terpesona dengan kecantikan dan sorotan matanya.

Dan kini sepasang mata indah itu tertuju padanya, menatapnya dengan lembut. Chanyeol benar-benar mengagumi tatapan itu. Ingin sekali dia tersenyum dan menyapanya. Tapi kini keadannya sedang tidak baik. Chanyeol masih belum menemukan jawaban dan tindakan yang benar.

Akhirnya Chanyeol membuang wajahnya ke arah lain dan menarik lengan Baekhyun untuk pergi dari taman belakang ini. Secepatnya.

*

Chonsa menundukkan kepalanya lalu bangkit dari duduknya. Jiyoung mengerutkan kening dalam-dalam. Ada apa dengan Chonsa? Bukankah baru saja mereka tertawa-tawa?

“Jiyoung-ah, aku harus kembali ke kelas. Laguku menunggu. Annyeong!”

Setelah Jiyoung membalas lambaiannya, Chonsa berjalan cepat menuju gedung sekolah.

Dia benar-benar terkejut ketika banyak sekali murid yang menyapanya, memberikan senyuman mereka dan sapaan ramah.

Ini yang diinginkannya sejak lama ketika dirinya memasuki SIAS. Tapi apa? Semua murid mengacuhkannya, menganggap dirinya tidak ada.

Kecuali Park Chanyeol. Air mata kembali terasa menggenang di matanya.

Chonsa mendesah ketika melihat sosok Kai tengah berdiri tidak jauh di koridor ini. Chonsa semakin mempercepat langkahnya.

Tapi usahanya gagal karena dengan cepat Kai menangkap lenganya. “Kau baik-baik saja?” tanya Kai dengan suara rendah.

Chonsa melepaskan genggaman Kai di lengannya. “Terimakasih sudah mengkhawatirkanku, Kai..”

“Mengapa kau menangis?”

“Hai, Dio sunbae!” sapa Chonsa singkat. Dio membalas dengan senyuman terkejut. Dia tidak percaya seorang penari hebat telah menyapanya, dan mengetahui namanya. Ini benar-benar amajing.

Lalu Chonsa kembali berjalan. Kini dia benar-benar menangis.

*

Baekhyun mendengus lalu meminum colanya dan kembali duduk di samping Chanyeol, di atas sofa milik temannya itu.

“Bodoh.. Kau benar-benar bodoh, Park Chanyeol! Kau tidak bisa membohongi perasaanmu sendiri. Jika kau menyukainya, jangan pernah sesekali kau mencoba untuk meninggalkannya. Apalagi dia juga merasakan hal yang sama padamu. Bukan pada Kai..” Baekhyun mendecak. Apa yang terjadi dengan Chanyeol? Belum pernah dia terlihat lemah seperti ini.

“Dengarkan aku, Baekkhie. Meskipun Kai sudah tidak mencintainya, aku tidak bisa kembali berada di sampingnya, aku tidak bisa bersamanya kemanapun kami pergi. Kau tahu kenapa? Aku yakin kau tahu ini adalah tahun terakhir kita berada di SIAS. Aku akan meninggalkan SIAS begitu juga denganmu..”

“Tapi kau bisa mengunjungi SIAS kapanpun kau mau, Chanyeol-ah!”

“California-Korea bukanlah jarak yang dekat, Byun Baekhyun!”

Hening. Baekhyun terdiam sambil menatap Chanyeol tajam. “Kau tidak bercanda, bukan?”

Chanyeol membuang wajahnya, menggeleng lalu menundukkan kepalanya. Bibir bawahnya dia gigit. Jujur saja, dia tidak ingin pergi. Tapi kini kedua orangtuanya sangat membutuhkan dirinya.

“Aku mengerti. Tapi setidaknya kau harus membuat Chonsa tersenyum dan meyakinkannya bahwa kau baik-baik saja. Bukan seperti ini. Tidak seperti tadi ketika kau mengacuhkannya di taman. Apa kau tidak melihatnya?”

“Aku mohon, Baekhyun, kau membuatku semakin merasa bersalah padanya..” mohon Chanyeol sambil memelas ke arah sahabatnya itu.

“Kau berbohong. Bukankah kau mengatakan akan tetap tinggal di Korea dan menjadi komposer di manajemen besar di sini?”

“Itu dulu. Orangtuaku lebih membutuhkanku, Baekkhie.”

Baekhyun mendesah panjang dan kembali meminum colanya. “Apa kau memberitahunya bahwa kau akan pergi ke California?” tanya Baekhyun sambil melirik ke arah Chanyeol sekilas.

“Tidak,” jawab Chanyeol cepat. “Aku tidak ingin melihatnya sedih. Aku mohon jangan memberitahunya, Baekhyun-ah..”

Baekhyun mengangguk perlahan, bangkit dari sofa dan berjalan ke arah pintu keluar dorm milik Chanyeol yang tertata sangat rapi kali ini.

“Baru kali ini aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Chanyeollie..”

“Maaf,” jawab Chanyeol setelah Baekhyun benar-benar tidak berada di dalam dormnya.

**

Seiring waktu berlalu, semuanya pun berubah. Kini Kai bukan lagi penari biasa. Setelah mengikuti seleksi SIAS best dancer, Kai terpilih dan telah menjadi penari Internasional. Dalam tiga minggu kemarin, dia sudah pergi ke lima negara untuk menari berbagai genre yang dikuasainya.

Semua hasil yang dia dapatkan dengan cepat dikirim untuk ibunya yang sangat membutuhkan. Dia benar-benar bersyukur karena kini impiannya telah terwujud dengan sempurna.

Chanyeol dan Chonsa? Mereka menunggu hari SIAS Song Festival datang. Dan akhirnya hari yang ditunggu-tunggu itu telah tiba.

Banyak sekali tamu undangan yang datang ke ballroom SIAS yang sangat megah ini. Para orangtua, wartawan juga para pemilik manajemen besar di Korea yang sudah melahirkan banyak artis sukses di Internasional. Bukan hanya mereka. Beberapa artis senior dan semua murid SIAS. Acara ini benar-benar hebat.

Sebenarnya para petinggi manajemen itu ingin bertemu dengan Chonsa dan melihatnya kembali menari. Tapi setelah banyak guru yang meminta yeoja itu untuk kembali menari, dia menolak. Tidak ingin kembali mencintai dunianya yang dulu. Dia ingin menjalani dunianya sekarang. Mereka tidak dapat menolak keputusan Chonsa.

“Di sini tidak hanya aku saja yang menjadi sorotan sebagai pengarang lagu,” ucap Chanyeol membuka kata-kata sebelum mereka akan tampil beberapa puluh menit lagi. “Kita semua bekerja sama, bukan? Sehun, aku yakin kau pasti bisa memegang pasukan orkestra dan memberikan yang terbaik. Kai yang sudah tidak diragukan dalam berdansa dan suara Baekhyun juga Dio yang berkarakter akan menyempurnakan ini semua. Aku sangat berterimakasih. Ini semua pasti akan hebat, aku yakin. Berjuanglah, teman-teman..”

Mereka semua tersenyum dan menyorakkan kata-kata dengan lantang untuk memberikan semangat.

*

Kini ballroom itu dipenuhi dengan suara tepuk tangan yang meriah ketika sosok Chonsa terlihat sudah berdiri dengan anggun di tengah-tengah panggung itu.

“Selamat malam, semua. Aaah, aku benar-benar senang sekali bisa berdiri di sini,” ucap Chonsa sambil memasang wajah takjub. Semua tertawa geli. “Baiklah, namaku Park Chonsa dari kelas SWC level dua kali ini. Aku membuat tujuh lagu eksperimen dari berbagai genre lagu yang berbeda. Masing-masing berdurasi dua menit karena memang harus dipercepat. Kalian bisa mendapatkan versi full setelah semua lagu itu sah diakui dengan aku sebagai penciptanya. Ya, dengan kata lain kalian harus membelinya,” kata Chonsa yang kembali mengundang tawa. Benar-benar humoris.

“Baiklah, aku tidak ingin kalian menunggu lebih lama. Selamat menikmati, lagu pertama, Liliant,” Chonsa tersenyum diiringi tepuk tangan meriah dan berdiri di depan para pemain musik. Kedua tangannya terangkat, jemari lentiknya mulai memimpin jalannya lagu.

Begitu seterusnya sampai semua lagu miliknya selesai. Karyanya benar-benar menakjubkan sampai-sampai Chonsa mendapat standing applause yang cukup lama.

Di satu sudut, kedua orangtuanya menagis bahagia. Ya, tentu saja mereka bangga mempunyai anak sepintar Park Chonsa.

Chonsa berjalan menuju backstage dengan air mata yang keluar dari matanya.

Tiba-tiba Kai datang dan memeluk Chonsa dengan hangat. Chonsa membalasnya dan menenggelamkan wajahnya di dada namja itu.

“Mereka menyukaimu. Kau hebat, Park Chonsa..” ucap Kai sambil mengusap punggung yeoja itu dengan lembut.

“Terimakasih, Kai,” jawab Chonsa lalu melepas pelukannya, memberikan senyuman terindahnya pada namja itu.

Kai tersipu lalu menggigit bibir bawahnya sendiri.

“Kau tidak ingin memelukku?”

Chonsa memutar kepalanya ke asal suara. Bibirnya tersenyum bebas, berlari menuju pelukannya.

“Chanyeol oppa!!”

Kai yang melihat itu hanya tersenyum kecil. Dalam hatinya dia merasakan sesuatu yang sepertinya dia harus merelakan yeoja itu.

Tapi tidak bisa.

*

Akhirnya acara akhir SIAS Song Festival telah tiba. Ya, penampilan terakhir ini dikhususkan untuk murid di luar kelas swc yang mempunyai bakat menulis dan mengkomposer lagu.

Pilihan Kim sonsangenim tentu saja jatuh pada Park Chanyeol.

Event ini tidak hanya difokuskan pada kelas swc. Semua yang terlibat bisa saja mendapat tawaran kontrak di satu perusahaan besar dan menjadi artis.

Dan semoga saja Park Chanyeol dan teman-temannya bernasib baik kali ini. Kecuali untuk Kai. Dia sudah berhasil menggapai mimpinya dan membanggakan ibunya.

Mereka berlima membuat lingkaran kecil sebelum benar-benar berdiri di atas panggung sana. Berdoa, meminta kemudahan kepada yang paling berkuasa. Semua ini tidak akan berjalan dengan sempurna tanpa bantuan-Nya, bukan? (efek ramadhan -__-)

Setelah berdoa selesai, mereka tidak keluar secara bersama. Tapi satu persatu. Kini Oh Sehun sudah duduk di atas kursi pianist utama yang memimpin orkestra. Tirai masih tertutup rapat.

Suasana ball room mulai hening ketika lampu yang menyinari padam dengan perlahan. Sepertinya ini akan hebat.

Dengan seketika bulu kuduk semua penonton di sana berdiri ketika mendengar permainan solo piano Sehun yang indah dengan tempo semakin cepat.

Sosok Sehun terlihat sangat jelas ditambah lampu sorot yang menyoroti hanya pada dirinya. Malam ini dia sangat tampan dengan memakai tuxedo simple berwarna putih bersih.

Permainannya berhenti sejenak, menarik napas, dan kembali memencet tuts piano dengan lembut kali ini. Iringan instrumen lain ikut mengindahkan. Benar-benar keren.

Gumaman terkejut penonton terdengar jelas ketika Kai masuk ke dalam panggung dan menari ballet dengan hebat.

Semua perhatian kini tertuju pada Kai. Penari internasional SIAS yang populer. Tariannya yang hebat dan tidak hanya ballet saja yang dikuasai. Expert.

Tidak lama Baekhyun dan Dio muncul dari arah belakang panggung instrumen. Bernyanyi di sana dengan suara yang mengalun indah. Lagu ini benar-benar menarik.

Tidak pernah didengar sebelumnya. Park Chonsa pun terkejut. Lagu apa ini? Perpaduan orkestra, ballad, jazz. Lalu apa lagi?

Tiba-tiba tempo lagu semakin cepat, permainan piano Sehun semakin menarik. Tidak hanya itu. Tarian Kai dan suara tinggi Baekhyun juga Dio membuat semua merinding hebat.

Dan yang lebih mengejutkan, Chanyeol keluar dengan gaya casualnya menampilkan rap. Suara beratnya benar-benar membuat semua yeoja terpesona. Sekali-kali Chanyeol melempar tunjukkan jemarinya pada Kai, Sehun, Dio dan Baekhyun. Mengagumkan.

Lalu lagu berhenti. Lampu padam. Belum ada yang bertepuk tangan. Saking mempesonanya penampilan mereka.

Kini yang terdengar adalah suara beatbox dari Chanyeol dan Dio. Semua penonton bersorak sangat keras ketika melihat mereka berlima sudah berkumpul bersama di sana, bernyanyi sambil menari bersama di bagian reff sampai akhir. Seperti boyband? Kurang lebih.

Sorakan meriah terdengar lagi ketika lagu berhenti. Semua penonton bertepuk tangan sambil berdiri. Cukup lama. Seperti itu. Pertunjukkan yang memukau dari lima namja tampan itu.

Mereka berdiri sejajar dan melemparkan senyuman kepuasan mereka pada seluruh penonton yang menyukai penampilan mereka. Ini benar-benar di luar dugaan.

MC datang sambil bertepuk tangan dan bersorak. Otomatis semua penonton kembali bersorak dengan meriah.

“Penampilan yang sangat menakjubkan!” seru MC yang bernama Shin Donghae itu. Suasana hening.. “Sempurna.” Hanya itu yang kembali keluar dari mulut Shindong. “Bahkan sampai saat ini aku masih merasakan sensasi itu. Sensasi yang sangat berbeda. Lagu ini juga semua yang ada di dalamnya benar-benar tersusun rapi,” tambahnya. Shindong adalah alumni SIAS yang kali ini telah menjadi bintang besar di SME.

“Kamsahamnida..” jawab mereka berlima hampir bersamaan. Ribuan blitz kamera tertuju ke arah mereka kali ini.

“Siapa yang manciptakan lagu ini?” tanya Shindong. Baekhyun, Dio dan Sehun melirik ke arah Chanyeol bersamaan kali ini.

“Saya,” ucap Chanyeol sambil tersenyum. Kini matanya mendapati sosok Chonsa yang tengah duduk di line paling depan, tempat semua anak swc SIAS duduk.

“Aku ingin bertanya. Berapa lama kau membuat lagu ini?”

“Hmm, tiga hari pembuatan lirik. Seluruhnya sudah selesai total dalam satu minggu,” jawab Chanyeol tanpa beban. Dan dia sangat terkejut ketika semua penonton kembali bertepuk tangan.

“Bagaimana bisa?” Shindong hanya tersenyum aneh, tidak percaya. Jenius sekali. “Darimana kau mendapatkan inspirasi?” Kini nada yang dikeluarkan Shindong benar-benar terdengar jahil. Chanyeol tersenyum malu sementara para penonton bergumam.

“Inspirasi? Tentu saja.. dari seseorang dan sepertinya aku harus mengucapkan banyak terimakasih kepadanya,” jawab Chanyeol setelah membulatkan tekadnya. Sementara Kai hanya menghirup napas panjang, membuangnya perlahan dan seperti itu berulang-ulang.

“Apa seseorang itu berada di sini sekarang?”

Tiba-tiba saja jantung Chanyeol berdegup keras. Karena saat ini dirinya tengah bertatapan dengan yeoja itu. Yeoja yang sangat dicintainya.

*

Chonsa mengepalkan kedua tangannya di atas paha. Jantungnya berdetak tidak normal melihat namja bertubuh tinggi yang tengah menatapnya lembut dari atas panggung.

“Ya, tentu saja,” jawab Chanyeol yang tidak mengalihkan pandangannya. Otomatis semua pasang mata tertuju pada Chonsa kali ini.

Shindong tersenyum melihat Chanyeol lalu ke arah Chonsa. “Katakan sesuatu..”

“Terimakasih karena kau sudah bersedia berada di sampingku cukup lama sampai aku mendapat inspirasi yang sangat sempurna ketika melihatmu, ketika bersamamu. Aku tidak akan melupakan ini.. Park Chonsa..”

Seperti yang sudah dipikirkan, semua bersorak. Pipi Chonsa memerah seketika. Bagaimana bisa Chanyeol berbicara seperti ini di depan umum. Kata-kata itu seperti kata perpisahan. Dia tidak menyukainya.

“Lagu ini aku persembahkan untukmu. Kau inspirasiku, Park Chonsa. Pulchritude. Artinya adalah kecantikan. Kecantikanmu dan juga hatimu. Aku benar-benar terpesona. Jika kau tidak ada, lagu ini juga sama saja tidak akan tercipta. Terimakasih..”

Semua bersorak. Chen yang berada di samping Chonsa hanya menggodanya. Kai yang mendengar itu hanya menahan gemuruh di dadanya. Mengapa terasa sakit? Chonsa miliknya.

Sementara Chanyeol dan Chonsa masih seperti itu. Saling menatap satu sama lain. Tatapan Chanyeol yang menyiratkan permintaan maaf. Itu benar-benar membuat Chonsa kecewa. Tapi di sisi lain Chonsa merasakan sesuatu yang berbeda. Ya, dia masih mencintai Chanyeol bagaimanapun dan apapun yang terjadi. Perasaannya tidak akan berubah.

*

Acara utama telah selesai dan kali ini tempat bazar makanan di daerah danau SIAS banyak dipenuhi murid-murid. Event ini diadakan satu tahun sekali dan sangat ditunggu-tunggu. Karena tidak hanya anak swc yang memperlihatkan kemampuan mereka. Semua divisi pun sama. Terdapat satu panggung outdoor dimana banyak anak SIAS yang menampilkan kehebatan mereka dan itu benar-benar menghibur.

Chonsa tengah tertawa bersama Jiyoung di dekat stan minuman segar. Berbincang hal random benar-benar mengasyikkan untuk mereka.

Semuanya terlihat sangat berbeda. Hubungan mereka sebelum ini sangat suram. Persaingan kotor yang membuat Chonsa meninggalkan dunia ballet.

“Ah, sebentar lagi dansa dimulai sepertinya. Lihat, dj sedang bersiap,” tunjuk Jiyoung ke arah panggung dengan ujung dagunya.

Chonsa memutar kepalanya dan tersenyum lalu menolehkan kembali ke arah Jiyoung. “Kau benar. Di mana Suho oppa?”

“Molla. Tapi aku sudah memberitahunya aku sedang bersamamu di sini,” jawab Jiyoung lalu menatap Chonsa jail. “Di mana pasanganmu?”

“Ah? Siapa yang kaumaksud, Jiyoungie? Haha,” ucap Chonsa sambil menutup mulutnya. Tiba-tiba jantungnya berdetak keras. Mengapa tiba-tiba bayangan Chanyeol memasuki pikirannya?

“Chanyeol oppa?”

DEG!!

Chonsa menghirup udara sebisanya. Jiyoung selalu membuatnya ketakutan seperti ini. “Hah? Haha..”

“Dia yang kauharapkan, bukan?” tanya Jiyoung sambil tersenyum. “Jangan diam. Mengangguk saja..”

Chonsa tersenyum kecil. Jiyoung mengetahuinya. Tentu saja.

“Selamat bersenang-senang dengan pangeran super tampanmu, Park Chonsa.”

Chonsa membulatkan matanya ke arah Jiyoung yang tiba-tiba meninggalkannya seorang diri di sini. Bukankah kau sedang menunggu Suho oppa? Dia belum datang, ucap Chonsa di dalam hatinya.

“Jiyoung sedikit berlebihan.”

DEG!! Untuk yang kedua kalinya Chonsa terkejut seperti itu.

Chonsa memutar kepalanya. Cepat-cepat Chonsa menunduk setelah mengetahui namja ini adalah Chanyeol. Mengapa dirinya menjadi salah tingkah seperti ini?

“Hey.” Chanyeol tersenyum penuh arti dan sedikit menggoda Chonsa dalam nadanya.

“Oppa..” balas Chonsa sambil tersenyum kaku. Mengapa? Tiba-tiba.. Mengapa Jiyoung tidak memberitahunya bahwa Park Chanyeol sudah berada di belakangnya? Sejak kapan?

Chanyeol tertawa kecil. “Ada apa denganmu? Kau tidak suka melihatku di sini, hm?”

“Aaaa ani! Ani! Aku hanya.. tekejut? Apa kau sudah lama berada di belakangku.. oppa?” tanya Chonsa penuh dengan kegugupan dan Chanyeol sangat menyadari itu.

“Ya.. lumayan..” Chanyeol tersenyum. Ada sesuatu di dalam senyumannya. Kasih sayang? Tentu saja apalagi dengan sorotan matanya yang lembut tertuju pada Chonsa. Senyuman lain. Tidak ingin berpisah?

Chonsa tersipu malu dan tidak berani menatap Chanyeol yang berada tepat di hadapannya.

Tiba-tiba Chanyeol menarik tangan Chonsa untuk mendekat, memutar badan yeoja itu dengan satu gerakan kecil. Kini tangannya berada di depan wajah Chonsa. Di jemarinya tergantung satu kalung perak berliontin topeng dengan model sayap. Batu warna-warni berkilauan membuat kalung itu semakin cantik.

Tanpa meminta izin Chonsa, Chanyeol langsung mengaitkan kalung cantik itu di leher Chonsa. Setelah selesai, Chanyeol kembali memutar tubuh tegang Chonsa agar kembali menghadap ke arah dirinya.

“Ini hadiah karena kau telah sukses besar malam ini, Park Chonsa. Menjadi komposer di SME tidaklah mudah.”

“Tapi kau tidak perlu memberiku ini, Oppa..”

“Aku tahu seleraku tidak sebaik Kai yang selalu tep..—“

“—Aku menyukainya! Liontin yang sangat cantik.” Chonsa tersenyum lebar. Ini yang dirindukan Chanyeol. Dada namja itu bergemuruh merasakan darahnya mengalir deras.

“Baguslah kalau begitu..” ucap Chanyeol sambil meraih pinggang kecil Chonsa. Sedetik kemudian lagu klasik kotemporer terdengar. Dansa dimulai. Chanyeol tidak melenyapkan senyumannya sejak awal. Dia akan sangat merindukan ini.

Perlahan Chonsa mengaitkan kedua tangannya di leher Chanyeol. Kepalanya menengadah untuk melihat seluruh permukaan wajah tampan yang sangat dicintainya itu.

Suasana sangat indah. Danau dan berbagai warna lampu yang menggantung juga yang melilit di pohon-pohon sisi danau. Romantis.

“Seharusnya aku yang memberimu hadiah,” ucap Chonsa sambil tertawa kecil.

“Kau mengingatnya? Hari ulangtahunku?”

“Tentu saja. Aku tidak akan melupakannya,” jawab Chonsa sambil tersenyum lebar. “Oppa..”

“Hm?” Chanyeol lebih menundukkan kepalanya agar dapat mendengar suara Chonsa lebih jelas.

“Mengapa kau tidak menerima tawaran dari YG Entertainment? Itu kesempatan yang besar!”

“Apa kau lupa aku mempunyai  manajemen sendiri?” tanya Chanyeol sambil tersenyum manis. Tidak lama Chonsa tersenyum salah tingkah dan menurunkan pandangannya dari arah Chanyeol. Benar-benar memalukan. Ternyata sampai saat ini dirinya masih menyukai Park Chanyeol.

“Maaf, aku lupa. Uh, lagu yang sangat bagus. Aku benar-benar menyukainya,” ucap Chonsa sambil mencari topik lain. Tapi dirinya tetap tidak berani menatap mata Chanyeol yang menyorotnya sedari tadi.

“Park Chonsa, aku bisa membuat lagu itu karenamu juga. Semua inspirasi berasal dari dirimu. Terimakasih..”

“Tidak. Kau memang hebat dan aku mengakui itu.”

“Aku menyayangimu, Park Chonsa..”

Dengan satu gerakan, Chanyeol memutarkan tubuh Chonsa dengan jemarinya lalu dengan mudahnya kini Chonsa berada di pelukan Kai.

Chanyeol memberikan senyuman terbaiknya kali ini. Berjalan mundur dengan perlahan lalu melambaikan tangannya.

Chonsa masih terdiam, menatap Chanyeol sampai namja itu berjalan membelakanginya.

Mengapa seperti ini? Senyumannya benar-benar aneh. Dan kata-kata itu..

“Hei..” Kai menyadarkan Chonsa dari lamunan singkatnya. Yeoja itu sedikit mengangkat wajahnya untuk melihat jelas wajah tampan Kai.

“Kai.. sudah lama kita tidak berdansa.”

“With my pleasure, your highness..”

Malam itu Chonsa hanya menyadari bahwa sekarang adalah malam yang sangat indah. Tidak terpikirkan bagaimana kisah yang akan dihadapinya ke depan.

Dan juga tidak tahu bagaimana perasaannya pada Chanyeol. Apalagi setelah namja itu pergi. Hari esok. Dan dirinya tidak tahu sama sekali..

**

“Sudah selesai! Ini pasti sangat lezaaaat. Aku yakin Chanyeol oppa akan menyukainya.” Chonsa menyimpan kue muffin coklat itu ke dalam kotak bekal ukuran sedang dan menatanya dengan rapi.

Matanya melirik ke arah jam dinding. Pukul delapan pagi. Dirinya berpikir sesaat. Di hari libur semua murid pasti malas bangun pagi. Tapi ini kejutan. Bukankah lebih baik seperti itu?

Chonsa tersenyum dan melangkah ke arah pintu dormnya. Tangannya membuka knop pintu. Suasana dorm yeoja saja masih sepi. Dengan tidak sabar Chonsa melangkahkan kakinya menuju asrama namja.

Tidak lama kini dirinya sudah berdiri di depan pintu dorm Chanyeol. Ada yang aneh. Dimana papan nama Chanyeol oppa yang terpasang di depan pintunya?

Chonsa melangkah mundur untuk memastikan bahwa semua pintu dorm masih memajang nama-nama penghuni. Ya, tentu saja. Tapi mengapa tidak ada.. di sini..

Usaha dengan menyalakan bel bahkan mengetuknya dengan keras tidak berhasil. Chanyeol tidak juga keluar.

“Oppaaa!! Ini aku, Park Chonsaa!! Buka pintunyaa!!”

Berulang kali dan terus seperti itu. Sampai akhirnya Chonsa menyerah. Tidak lama terdengar suara langkah seseorang mendekat.

Chonsa memutar kepalanya cukup cekatan. Ternyata Baekhyun.

“Baek Sunbae, apa kau tahu dimana Chanyeol oppa? Sepertinya dia tidak ada di dalam dormnya..” Chonsa menggembungkan pipinya tanda menyerah.

Baekhyun benar-benar tidak kuasa mengatakannya pada Chonsa. Tapi akhirnya dia berjalan semakin mendekat ke arah yeoja itu.

Namja itu menarik napas cukup panjang. “Dia sudah pergi..”

Chonsa mengerutkan keningnya dalam-dalam. Tepat seperti dugaan Baekhyun. “Maksudmu? Pergi kemana? Ini masih pagi sekali..”

“Pergi dari SIAS.. dan tidak akan kembali..”

DEG!!

Katakan ini semua tidak benar. Chonsa masih tidak mempercayai apa yang dikatakan Baekhyun padanya. Lihat, yeoja itu belum menangis.

“Jangan berbohong padaku, Sunbae. Aku serius..”

“Apa aku terlihat sedang membohongimu, Park Chonsa?”

Dadanya bergemuruh. Seluruh tubuhnya bergetar seketika. Dan kali ini air matanya benar-benar keluar tidak tertahan.. lagi..

TBC ;]

………………………………………………..

SHIN HEERA IS BACK!!!

………………………………………………….

62 thoughts on “PULCHRITUDE [ CHAP 11 ]

  1. Huoooooooooooo lanjut lanjut!!!! Akhirnyaa setelah aku tunggu hehehehe kasian jongin :’| sini sini jongin sama aku ajaaa uuuu hahahahaha di tunggu nextpartnya eonni ^^ hwaiting~

  2. AKHIRNYAAAAAA ,________, beuh eta si Kai egois na kapalang edan, teu mikirkeun prasaan batur, teu manusiawi laaaaaah *kick* doooooh teh part ini bikin kejer asli apalagi part na chanyeol, meni jleb sajleb-jlebna lah TAT gak bis comment banyak, kondisi penuh dengan air mata jadi gak maksimal comment nya. ditunggu aja ya next chapter nya ( ┒’⌣’┎) lapyuuuuu♥

  3. Kya si KAI jahat sekale disini, chan chan jangan pergi nak.. :( jadinya cheonsa tetep sama Chanyeol kan? Iyakan? *maksa*

  4. HUAAAA TETEH ahirnya pablis juga setelah sekian lama terjangkit penasaran level expert -_-
    maap teh baru komen *bungkuk*
    kereeen ceritanya, ga nebak deh lanjutannya, caww ah lanjutkan teeh!!!

  5. daaaaaaan satu lagi teh tingaleun huehehehe
    dirimu ulang taun teh? WAAAA SELAMAAAT!!! hehe
    berarti harus bikin cerita baru *plak
    nuhun teh, punten *bungkuk lagi*
    annyeong haseyo, haseyonya di annyeong annyeong

  6. Thor lanjut thor
    T_____________T chanyeol bodoh bgt yatuhan kasian chonsa
    Endingnya sama chanyeol aja yah thor wkwk
    Part selanjutnya jangan lama2 yah
    saya selalu menunggu kelanjutannya^^

  7. Annyeong !!
    Author !! ppalli , nae !! >.<
    FF nya lagi seru nih !! tolong cepatan di lanjutinnya !! :) -pllaakkk-
    Abis ff nya bagus banget sih author !! aku jadi penasaran lanjutannya apa.. :D
    Kamsa !! -bow- ;)

  8. ya Allah kasian bener si chonsa , cintanya dipaksakan >< . kai nya jahat -__-
    ini part ditunggu-tunggu , next pamrtnya jgn lama" lgi yah thor ;;)

  9. huaaaaaa yeol oppa jangan pergiii *tarik baju yeol*
    dalem bgt ini eonni, sampe nusuk ke hati rasanya(?) berasa jd cheonsa saya :s
    lanjutnya jgn lama2 yaa eonnie cantik *ngerayu* :3

  10. u uh…
    Kalo emg cinta, knp harus mnyerah siiie Park Chanyeol?

    sprti biasa, author sllu pintr buat pnsaran.
    Nice FF thor…
    ditunggu bext chapterny…

    Semoga Chonsa sm Chanyeol.

  11. AKHIRNYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA,,,
    #teriak pke toa msjid…
    baca~baca~baca~
    !!!!!

  12. Kenapa kata2 terakhir di beberapa part pulchritude ini buat aku nangis mulu? T_T huee chanyeol!! Pokoknya gamau tau chonsa harus sama chanyeol!! Kasian chanyeol, pengorbanannya terlalu besar T_T huee kalau chonsa sm kai aku gatau hrus knp pasti nangis2 bacanya ToT nextpartnya cepetan diapdet ya kak :'( penasaran!!

  13. huaaa aku udah nunggu lanjutan FF ini lama bgt, akhirnya di pablis juga :’3
    *menghela nafas lega* :D

    FFnya bagus bgt,
    yeeah Chonsa akhirnya jadi popular di SIAS xD
    ntar di part selanjutnya ada part Chonsa umau nari lagi ya thor kkk~
    pasti makin seru :p
    btw……
    yah Kai kenapa dirimu begitu egois (?)
    T.T
    go Chonsa-Chanyeol go go!
    *nari pom pom*

    kasian bgt nasibnya chanyeol,
    emang org tuanya kenapa kok harus pindah sih.__.
    kasian juga chonsanya hmm :-(

    next chapter jgn lama lama ya thor,
    phwease~~^^v

  14. iih, apaan sih, chanyeol kok mau pergi?? biarin aja tuh si kai. kasian chonsa gaada yang nemenin T^T
    kalo aja kai yang pergi dari sekolah itu….. pasti chanyeol gaada halangan buat dapetin chonsa ^v^

    eon, kok lama banget pablisnya?? karena tugas kuliah-kah?? ._. hehe~
    part selanjutnya jangan se-lama ini pablisnya ya!! xD

  15. onnie heera is back!!! haha ditunggu chapter selanjutnya yah onn bener2 penasaran udh chanyeol oppa sama chonsa onnie udh cocok !! ^_^ haha

  16. AAaaaaaaaaaa demi apa aku nunggu banget nih lanjutannya .. Huuaaaaaaa chanyeoooll dia pergi kmna,california tp kenapa ?
    Lanjutttt kak ..
    Daebak

  17. Waaaaa, ceritanya keren>.<
    Kai jahat bgt tp-.-
    Eggyeol, what will happen to u after this?Aku tunggu ya lanjutannya chingu^^
    Aku jg pny ff2 exo, jd silakan diliat kalo berminat.lol

  18. Hai.. Ini pertama x’a aq ngasih komentar, hehe tp cerita’a bener2 buat aq betah berjam2 liat lyar hp. Bener2 keren .makasih buat ngeposting cerita yg sangat menarik ini.. ( Agak lebay) tp memang ia koq ^^. Tp bisa nggak dibuat lanjutannya? Aq bener2 penasaran sama lanjutannya, nyesek bget kalo ending’a cuma nyampe sini aja. Cinca. :( ( TT o TT )… Please chaeballll…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s