ELECTRIC [ CHAP 10 ]

ELECTRIC

Author: Shin Heesa
Cast:
• EXO
• Kim Heesa

Disclaim: Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.
Ps:
• Don’t be silent reader
• Don’t copy – paste my imaginations!!

……………………………………………………………………

(Author POV)

 

Heesa membuka pintu dengan paksa. Ia segera menyeruak ke dalam rumah, ia mencari keberadaan Kai.

Kini ia melihat sosok Kai yang hanya memakai celana jeans saja. Rambutnya berantakan dengan botol minuman yang tengah ia genggam. Ia tengah berdiri di samping meja bar.

Heesa segera menghampirinya lalu menarik pundaknya agar menghadap padanya.

PLAK!!

Tamparan singkat namun keras membuat pipi Kai terbanting kearah lain. Seketika langkahnya limbung, lalu ia menyeimbangkannya kembali. Kini matanya menatap lurus pada Heesa.

PLAK!!

Heesa kembali menampar pipi Kai yang lain. Namja itu kembali limbung, namun dengan cepat ia menyeimbangkannya kembali dan menatap Heesa seperti tadi.

Tangis Heesa merebak. Ia kesal pada Kai, ia marah pada Kai, dan ia belum puas menamparnya.

Heesa kembali mengarahkan pukulannya pada Kai, namun dengan cepat namja itu mencegah tangan Heesa kemudian mencengkramnya dengan kuat.

Heesa menatap Kai bengis. Ia tidak mencoba untuk menghapus air matanya terlebih dahulu. Ia membiarkannya keluar dengan bebas. Biar Kai menyadari, biar Kai tahu apa yang sudah ia lakukan.

Heesa berusaha memberontak dari cengkraman Kai. Ia tidak takut padanya yang tengah menatapnya seperti itu. Ia tidak takut pada pikirannya yang sedang mabuk, ia tidak peduli. Ia hanya kesal, marah.. sangat marah pada Kai.

“Heesa.. apa ini kau?” tanya Kai kacau. Ia menatap sayu pada Heesa, kemudian tersenyum.

“Lepaskan! Kau menjijikan!” teriak Heesa emosi. Ia memberontak dalam cengkaraman Kai dan akhirnya terlepas. “Kau.. bukan sahabatku lagi! Jangan pernah berani memunculkan batang hidungmu dihadapanku!”

Setelah mengatakan itu, Heesa berlari keluar dari rumah, meninggalkan Kai yang tengah mabuk dan kesusahan dalam mencerna kata-kata Heesa.

 

Nafas Heesa sesak. Akhirnya ia berhenti berlari kemudian terduduk lemas di atas jalanan itu. Air matanya belum kunjung berhenti.

Heesa menghapus air matanya, kemudian berusaha mengatur nafasnya yang tidak teratur. Tidak lama kemudian Luhan datang lalu memeluk Heesa, berusaha menenangkannya. Heesa balas memeluk Luhan, kemudian kembali menangis.

“Kai.. k.. Kai..”

“Ssssh.. jangan dulu menceritakan apapun. Tenangkan dulu dirimu sendiri, ara?”

Heesa mencengkram baju Luhan kemudian menangis kembali.

“Di.. mana Sera?” tanya Heesa disela tangisannya.

“Dia sudah pulang. Dia bilang dia ingin beristirahat,” jawab Luhan sambil mengelus rambut lembut Heesa.

Heesa semakin menenggelamkan wajahnya pada dada Luhan. Terasa hangat dan menenangkan. Sesaat ia hanya ingin menangis, ingin menumpahkannya pada pelukan itu. Dan tangisan itu bukan hanya untuk Kai, tetapi untuk semua yang pernah ia alami.

***

“Hei, Heesa. Bangun.. kau harus sarapan..” ucap Luhan sambil mengelus rambut Heesa perlahan. Tetapi Heesa masih terlelap.

Kemudian namja itu mengelus pipinya. “Sweety, bangun. Sudah pagi..”

Akhirnya Heesa mengerang kecil lalu mengucek matanya yang bengkak karena menangis. Ia berusaha membuka matanya, dan setelah ia mengetahui ada Luhan dihadapannya, Heesa tersenyum tulus. Ia menjadi ingat ketika tadi malam ia melampiaskan seluruh kekesalannya pada Luhan, dan Luhan menanggapinya dengan baik, membuat Heesa merasa sangat lega.

“Pagi..” ucap Heesa dengan suara seraknya. Luhan tertawa kecil.

“Pagi, Heesa..”

Heesa kemudian bangkit dari posisinya lalu menatap Luhan. “Apakah aku terlihat buruk?”

Luhan tersenyum. “Meskipun kau terlihat buruk, kau tetap terlihat cantik untukku.”

“Ow, Luhan. Please, ini masih pagi.”

Luhan tertawa kemudian menepuk kepalanya. “Kau ingin aku membawakan sarapan untukmu?” tawar Luhan, karena jika Heesa ikut sarapan dibawah, para orangtua pasti ricuh karena melihat mata Heesa yang bengkak.

“Jika kau tidak keberatan.”

“Tentu aku tidak. Kalau begitu tunggu disini,” ucap Luhan sambil mengelus singkat pipinya. Heesa hanya mampu mengerjapkan matanya.

Ketika Luhan meninggalkannya, seketika bayangan sosok Kai muncul dipikirannya. Heesa mulai merasa kesal kembali. ia memukul ranjang sekuat tenaga untuk melampiaskannya.

“Kai! Kau.. ah! Aku membencimu..” ucap Heesa sambil berusaha menahan air matanya. Tetapi detik kemudian air mata itu muncul kembali, membawa amarah yang amat dalam.

Tiba-tiba ponsel berbunyi. Heesa segera menghapus air matanya, kemudian membawa ponsel itu dan mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon.

“Yoboseyo?”

Terdengar desahan dari ujung telepon sana. Heesa terdiam, dan semakin menajamkan pendengarannya.

“Heesa?”

Kai.

Dengan pandangan menerawang Heesa menjawab, “ya..”

“Heesa, apa kau marah padaku?” tanya Kai hati-hati. Heesa tetap terdiam, lalu seketika air matanya mengalir kembali.

“Iya, tentu saja.”

“Maafkan aku, Heesa. Kumohon maafkan aku. Tapi aku tidak tahu aku berbuat apa padamu sehingga kau marah padaku.”

Apa.. dia tidak tahu? Dia tidak tahu sudah melakukan apa? APA DIA GILA?

“Jangan meminta maaf padaku karena kau tidak berbuat salah apapun padaku,” jawab Heesa dingin. Kai mengerutkan keningnya, ia bingung.

“Lalu aku harus..”

“Sera. Kau tidak hanya harus meminta maaf padanya, tetapi kau juga harus bertanggung jawab padanya.”

Bertanggung jawab? Bertanggung jawab atas hal apa?

Telepon dimatikan. Tangan Heesa yang memegang ponsel terjatuh seketika. Dengan tatapan kosong, air matanya jatuh satu persatu. Sejenak kenangannya bersama Kai terlintas dipikirannya. Kenangan ketika mereka masih kecil, lalu kini beranjak dewasa. Dan ketika mereka tertawa bersama, menangis bersama, juga bertengkar.. dan kecupan itu..

Luhan terkejut ketika mendapati Heesa tengah menangis. Luhan segera meletakkan bubur dan teh yang dibawanya di atas meja lalu menarik tangan yeoja itu dan memeluknya.

“Heesa, jangan menangis lagi. Kumohon jangan menangis..”

Luhan semakin memeluknya erat, erat, sangat erat.

**

Kini Luhan mengajak Heesa jalan-jalan keluar rumah. Sepanjang jalan Luhan tidak melepaskan genggamannya pada tangan Heesa. Sesekali Luhan melihat ekspresi Heesa yang muram, dan Luhan tidak tahu harus berbuat apa.

Akhirnya Luhan membawanya ke sungai  Cheonggyecheon.

“Ayo, duduk disampingku,” ucap Luhan ketika telah duduk disamping sungai. Heesa menurut lalu duduk disampingnya. “Kau harus lebih rileks, Heesa.”

“Arasso,” ucap Heesa sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Luhan. Luhan mengelus pipi Heesa singkat kemudian mencium keningnya.

Kini mereka melihat ke arah sekeliling sungai itu. banyak orang yang tengah beristirahat atau berbincang ringan disana. Dan ternyata Luhan berhasil membuat Heesa tidak memikirkan Kai lagi.

Seketika Luhan melihat balon yang berbentuk tokoh-tokoh kartun disebrang sungai. Luhan tersenyum senang.

“Heesa, kau ingin balon-balon itu?” tanya Luhan sambil menunjuknya. Heesa menegakkan kepalanya untuk melihatnya, lalu tersenyum.

“Tentu! Ayo belikan aku yang banyak!” jawab Heesa semangat. Luhan tertawa lalu mengacak rambut Heesa sayang.

“Arasso. Kau tunggu disini.”

Luhan berlari dan berjalan hati-hati ketika melewati sungai. Heesa tertawa kecil melihat Luhan bersemangat seperti itu.

“Halo, Heesa..”

Belum sempat Heesa melihat siapa yang memanggil namanya dari belakang, seseorang telah lebih dulu membekapnya dengan sapu tangan yang sudah dibubuhi racun, sehingga kini Heesa tak sadarkan diri.

*

BRAAK!!

“Hmmph..”

Mata Heesa ditutup, mulut Heesa tidak dibiarkan terbuka oleh seuntai kain yang ia gigit paksa. Tangannya terikat ke kursi dan kakinya juga diikat dengan kuat. Keringat Heesa membasahi dahinya karena takut dan gugup.

Seseorang yang sepertinya meraja, masuk ke dalam ruangan yang pengap itu. Ia mengibaskan tangannya dua kali, menandakan agar seluruh pelayannya keluar dari ruangan. Setelah ruangan itu hanya ada mereka berdua, orang itu tertawa lalu mendekati Heesa dan mencapit dagu Heesa agar kepalanya tidak tertunduk.

“Cuh..” Orang itu menyudahi wajah Heesa. Heesa hanya menjerit semampunya lalu berusaha memberontak. Namun tidak bisa.

Orang itu tertawa lalu melepaskan capitannya pada dagu Heesa.

“Heesa. Sudah lama kita tidak bertemu. Aku merindukanmu, kau tahu?”

Suara siapa ini? Dan tidak salah lagi dia seorang yeoja..

“Apa kau merasa nyaman, hm?” tanyanya menyebalkan. Heesa memberontak dari ikatan yang membuat tubuhnya tidak bisa bergerak, namun Heesa segera terdiam ketika perempuan itu menamparnya.

“Dengarkan aku baik-baik, Heesa. Aku tidak akan mengganggu hidupmu kembali jika kau juga mengikuti keinginanku,” ucap perempuan itu dengan nada yang dibuat-buat. “Aku hanya ingin kau.. jauh dari Luhan. Jauh darinya! Kau mengerti?” tanya perempuan itu dengan sedikit sentakan, kemudian menampar Heesa kembali. “Dan jika kau tidak memenuhi keinginanku, maka tidak akan lama lagi kegelapan akan menyelimuti hidupmu.. mengerti?”

Heesa hanya diam. Dan tidak lama kemudian, Heesa tidak sadarkan diri kembali karena obat bius yang dipaksa untuk dihisap kembali olehnya.

**

Hari sudah malam. Luhan masih berjalan mondar-mandir disekitar sungai. Dia hampir ingin membunuh dirinya sendiri karena frustasi mencari keberadaan Heesa. Ia sudah berkeliling disekitar sungai, namun ia tidak menemukannya.

Seketika ponselnya berbunyi. Luhan segera menjawab panggilan masuk itu tanpa melihat siapa yang memanggilnya.

“Yobosey..”

“Luhan? Cepat pulang! Kau masih berada dimana?”

Luhan menghembuskan nafas panjang. “Aku sedang mencari Heesa, Mom. Aku tidak menemukannya sejak pagi tadi..”

“Apa yang kaubicarakan? Heesa sudah berada di rumah sejak tadi sore.”

Luhan terdiam kemudian memejamkan matanya erat. “Arasso. Aku pulang.”

**

Luhan segera masuk ke dalam rumah dan berlari menuju kamar Heesa. Luhan segera membuka kamar Heesa, dan ia melihat Heesa tengah memakai baju handuk dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Dia terlihat sangat tenang dan seolah tidak terjadi apa-apa.

Luhan mengambil langkah besar kemudian memeluk Heesa ketika yeoja itu berada dihadapannya.

“Heesa! Pabo! Kau membuatku khawatir..” ucap Luhan sambil memeluk Heesa erat. Ia sama sekali tidak merasa marah, ia hanya khawatir pada Heesa. Ia takut kehilangannya. Ia takut ada sesuatu  yang akan mencelakainya..

Heesa tersenyum sedih, lalu balas memeluknya. Ia merasa sangat bersalah meninggalkan Luhan sendirian. Tetapi bagaimana lagi, sepanjang perjalanan pulang ia selalu diawasi oleh anak buah Chaeri, membuatnya terkekang dan sulit untuk bertemu atau menghubungi namja ini.

Yeoja itu.. mengapa Chaeri sangat jahat padanya? Ia tidak mengerti. Dan jujur, Heesa tidak ingin merelakan Luhan pada yeoja seperti Chaeri. Ia terlalu jahat untuk Luhan. Ia terlalu egois untuk Luhan. Ia terlalu agresif untuk Luhan. Tetapi, jika ia dan Luhan tetap bersama, maka mungkin Chaeri akan berusaha untuk membunuhnya. Ia yakin Chaeri akan melakukan segala hal untuk memisahkan ia dan Luhan. Well, mungkin dari sekarang Heesa akan berusaha menjauhi Luhan dengan perlahan, membiarkan Luhan bertindak dan memutuskan untuk dirinya sendiri.

Perlahan Heesa melepaskan pelukannya dan mendorong Luhan sehingga memberikan jarak beberapa puluh senti darinya. Kepalanya tetap tertunduk. Ia tidak ingin memperlihatkan ekspresinya yang mungkin sangat mengganggu.

“Luhan, maafkan aku…”

“Gwenchana, Heesa. Yang terpenting kau tidak apa-apa..”

“…” Heesa menatap Luhan dengan sayu, kemudian menundukkan kepalanya kembali.

“Hm? Ada apa Heesa?”

“…keluar..”

Luhan menatap Heesa heran. “Apa..”

“Keluar. Aku sedang tidak ingin melihatmu..”

Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia tidak mengerti.

“Apa maksudmu, Hee..”

“Itu sebabnya aku meninggalkanmu, Luhan. Aku hanya.. sedang muak melihatmu..”

Setelah itu Heesa membalikkan badannya lalu mengeringkan rambutnya kembali. Luhan terkejut, dan ia terdiam. Ia hanya tidak tahu harus berbuat apa. Ini terlalu tiba-tiba untuknya.

Detik kemudian Luhan tersenyum geli. Mungkin Heesa tengah mengerjainya dengan aktingnya yang memang membuatnya sangat terkesan. Luhan berjalan mendekati Heesa lalu memberinya backhug.

“Heesa, kau tidak bisa mengerjaiku kali ini. Aku tidak akan tertipu lagi olehmu~” bisik Luhan tepat ditelinga Heesa, lalu tertawa kecil. Heesa menahan nafasnya beberapa saat, kemudian ia melepas paksa pelukan Luhan darinya.

“Aku tidak bercanda, Luhan! Aku memang sedang muak melihatmu! Kau mengganggu hidupku! Kau selalu mengikutiku kemanapun aku pergi! Kau selalu baik padaku dan itu membuatku kesal! Aku muak kau selalu berada disisiku!” teriak Heesa penuh emosi. Ia tidak berani melihat ke arah Luhan.

Luhan terdiam kembali. Ia sungguh sangat tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada Heesa.

“Heesa, katakan padaku apa yang sedang terjadi. Mengapa kau tiba-tiba seperti ini padaku..”

“Keluar.”

“Apa?”

“Keluar. Kubilang keluar.”

“Heesa kumohon, kau membuatku bingung..”

Heesa terpaksa berbalik lalu menatap Luhan tajam. “Jangan meminta penjelasan apapun padaku. Hanya keluar.”

Luhan menarik nafas panjang frustasi. Ia benar-benar marah sekarang.

“Baik. Aku keluar.”

Setelah menatap Heesa beberapa detik, Luhan segera berjalan keluar kamar Heesa lalu menutup pintunya cukup kasar.

Heesa terduduk lemas di atas lantai. Ia menutup mukanya lalu menangis dalam gelapnya malam. Angin yang tertiup lembut sesekali menghembus wajah Heesa, seperti berusaha mengeringkan air mata Heesa yang terus saja mengalir.

“Luhan.. maafkan aku..”

***

Heesa membiarkan rambutnya tergerai. Ia membiarkan wajahnya tanpa make up hari ini.

Ya, hari dimana ujian akan dimulai.

Memang tidak ada sangkut pautnya antara make up dengan ujian, itu karena Heesa hanya sedang tidak bernafsu untuk melewati hari ini, sehingga ia malas melakukan hal-hal yang kecil sedikitpun.

Ia segera mengambil ransel putihnya lalu berjalan keluar kamar. Heesa menuruni tangga sambil melihat meja makan yang ternyata keluarganya dan keluarga Luhan sudah berkumpul dan menyantap sarapan pagi mereka.

Dan disana ada Luhan.

Ya, Heesa akan berusaha menghadapi segalanya dengan normal.

Hanya ada satu kursi kosong disana, yaitu disebelah Luhan. Para orangtua memang selalu sengaja melakukan hal itu, entah apa alasan mereka. Tetapi bagi Heesa hal itu kini sangat menyebalkan.

Heesa duduk ditempatnya, lalu tersenyum  semanis mungkin. “Selamat pagi Mom, Pap, Ahjumma, Ahjusshi..” ucap Heesa sambil melihat mereka satu-satu. Dan mereka semua tersenyum.

“Heesa! Semoga kau berhasil dalam ujianmu, yaa. Luhan juga. Semoga lancar,” ucap Mom sambil meletakkan sepotong roti yang sudah diberi selai kacang coklat di atas piring Heesa. Heesa tersenyum.

“Thankyou, Mom.”

Seketika Heesa tercengang ketika ahjumma membicarakan sesuatu dengan Mom. Mom membalas ucapannya kemudian tersenyum pada Heesa.

“Kata ibunya Luhan juga semoga ujianmu dimudahkan.”

“Ah, thankyou, Ma’am..” jawab Heesa dengan bahasa Inggris sambil menganggukkan kepalanya sopan. Ahjumma dan ahjusshi tersenyum ramah.

Dan ketika Heesa mengambil suapan pertamanya, Luhan tiba-tiba berdiri dan membuat semuanya cukup tersentak.

“Aku berangkat.”

Dengan dinginnya Luhan berjalan keluar rumah tanpa memperdulikan suasana yang drastis berubah. Para orangtua mengerutkan kening mereka, tidak mengerti pada sikap Luhan yang tiba-tiba itu.

“Heesa, kau tidak berangkat bersama Luhan?” tanya Mom sedikit khawatir. Heesa beralih pada Mom lalu tersenyum canggung.

“Ah.. ya, tadi malam ia mengatakan padaku bahwa ia akan pergi ke kampus pagi-pagi sekali. Dan sepertinya selama ujian kita tidak akan pernah berangkat bersama,” jawab Heesa dengan ekspresi yang meyakinkan. Semua orangtua mengangguk mengerti.

“Arasso. Mom kira kalian sedang ada masalah lalu bertengkar satu sama lain..”

“Ani.. lagipula, kita baru saling mengenal bukan?” ucap Heesa lagi berusaha meyakinkan, dan sepertinya alasannya yang satu itu berhasil membuat para orangtua tidak bertanya apapun lagi.

**

Heesa berjalan seorang diri dilorong kampus. Matanya menatap kosong pada langkahnya, seperti menyerah untuk berpikir dan akhirnya membiarkan langkahnya yang membawa jasadnya kemanapun langkahnya berpijak.

“Ya! Heesa~”

Tiba-tiba Baekhyun datang dan mengejutkannya dengan memberi backhug yang pas. Heesa meliha pada Baekhyun yang kini menopangkan kepalanya pada bahunya.

“Ya! Baekkhie.. kau mengagetkanku..”

“Baekkhie? Ah, sounds pretty good to me,” potong Baekhyun sambil mencubit pipi Heesa gemas. Dan perlakuan namja itu pada Heesa kini menyita banyak perhatian para murid disepanjang lorong itu, termasuk Kai.

Dengan lempengnya Kai melewati Baekhyun yang masih memeluk Heesa. Seketika mata Heesa terpaku pada Kai yang kini sudah menjauh beberapa langkah darinya. Semakin jauh, dan semakin jauh..

Baekhyun melepas pelukannya lalu menggenggam tangan Heesa. “Kajja. Aku akan mengantarmu ke kelas. Kau terlihat sangat tidak fokus hari ini.”

Seketika Heesa terdiam, lalu ia tersenyum lega. Ya, masih banyak yang peduli padanya. Jangan khawatir Heesa, kau tidak akan pernah merasa kesepian.

*

Ujian pertama telah dilewati. Seluruh murid keluar dari ruangan dan menunggu untuk ujian berikutnya dengan berseling dua jam.

Heesa mengambil tasnya lalu beranjak dari kursinya. Tetapi Heesa seketika terdiam. Ia menghirup asap rokok yang sangat ia kenal. Hhhh.. Luhan. Ia merokok lagi?

Ketika Heesa hendak berbalik untuk mengingatkan Luhan agar tidak merokok lagi, ia tiba-tiba teringat bahwa hubungan ia dan Luhan sedang tidak baik. Ia tidak mungkin mengajak Luhan berbicara sekarang. Ia harus kuat, karena ia telah memutuskan.

Heesa akhirnya berjalan keluar kelas tanpa menoleh ke belakang. Luhan menghisap rokoknya kuat-kuat tanpa menghembuskan asapnya keluar. Ia menelannya, dan rasanya pahit. Ya, ia seperti menelan semua tentang Heesa dalam-dalam. Matanya seketika terpejam ketika melihat Heesa keluar kelas dengan acuhnya.

Apa benar yeoja itu sudah muak melihatnya? Ia sedang tidak bercanda bukan?

Luhan menghisapnya kuat-kuat kembali sebelum ia membuang puntungnya.

Ya, Luhan membutuhkan pelampiasan.

Dan tepat pada saat itu, Chaeri datang padanya dengan senyum khasnya. Luhan menatap Chaeri lempeng.

“Annyeong, Luhan.”

“Ya..”

Chaeri mengerucutkan bibirnya. “Ada apa? Apa kau ada masalah dengan Heesa? Atau.. yang lainnya?” tanya Chaeri penasaran. Luhan menatap Chaeri lalu menggelengkan kepalanya.

“Ani.. aku hanya sedang tidak mood.”

“Dan kau merokok? Itu tidak baik, Luhan.”

Deg. Heesa.

Mengapa yeoja itu tidak memperingatkannya tadi agar tidak merokok? Mengapa ia begitu acuh padanya?

“Biar.”

“Itu tidak baik, Luhan..”

“Aku tidak peduli.”

“Aku peduli. Please jangan merokok. Jika tidak aku juga akan merokok.”

Deg.. deg..

Heesa.. mengapa rasanya sakit ketika mengingat perkataannya kembali? Mengapa cara Chaeri mengancamnya sama seperti Heesa ketika itu? Wae..

“Silakan merokok. Aku tidak peduli,” balas Luhan, kemudian ia beranjak dari kursinya sambil membawa tas lalu berjalan keluar kelas. Chaeri menatap kepergian Luhan dengan senyum merekah dibibirnya.

*

“BOO!”

“KYA!”

Teriakan Baekhyun, Dio, dan Heesa cukup menyita perhatian banyak orang dikantin yang sangat luas itu. Baekhyun dan Dio tertawa kemudian duduk mengapit Heesa.

“Mengapa kalian hobi sekali membuatku terkejut? Hah? Wae wae wae!”

“Woo~ calm down, lady. Habisnya, sedari tadi kau terlihat murung. Apa yang terjadi, hm?” tanya Dio dengan mata bulatnya yang semakin membulat. Heesa menarik nafas lalu menghembuskannya sekaligus bersamaan dengan memutar kedua bola matanya.

“Tidak ada, Dio. Tidak ada yang terjadi,” jawab Heesa lalu tersenyum manis, membuat kedua namja itu terpaksa terseyum.

“Jinjja?” tanya Baekhyun memastikan. Heesa mengangguk lalu mengangkat ibu jarinya.

“Gop jeongmal~” ucap Heesa lalu menepuk bahu keduanya akrab. Baekhyun dan Dio tertawa kecil.

“Arasso. Ah, Heesa, apa kau melihat Kai disekitar kampus? Sedari tadi aku tidak melihatnya..” tanya Dio sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar kantin.

Heesa menjadi sedikit sensitif ketika mendengar nama Kai, sehingga ia sedikit kesal. “Mengapa kau menanyakan keberadaannya padaku?”

Dio mengerjapkan matanya. “Bukankah kau sahabat kecilnya? Seharusnya kalian selalu bersama dimanapun kalian berada sehingga aku tidak susah untuk mencari salah satu diantara kalia..”

“Cukup! Molla Dio~ molla~ tolong jangan ucapkan nama itu lagi dihadapanku.”

Baekhyun terdiam lalu menyengir lebar. “Yaa~ jadi kau murung seperti ini karena ada masalah dengan Kai?” goda Baekhyun sambil mencolek dagu Heesa. Heesa sedikit risih lalu menepis tangan Baekhyun, membuar kedua namja itu tertawa terbahak.

“Ah, sudahlah lupakan. Ya, Heesa, Hyung, kalian ingin menyantap sesuatu? Aku akan membelikan semua yang kalian inginkan!” ucap Dio menghibur Heesa. Heesa membulatkan matanya.

“Benarkah? Assiiiik! Kalau kau mengatakan begitu, aku jadi ingin melahap semua makanan yang berada disini!”

“Kajja, Heesa! Kita buat dompet Dio bersih dari uang!” ucap Baekhyun sambil tertawa.

Well, kedua namja itu sudah sangat berhasil mengalihkan perhatian Heesa.

Tetapi di sudut lain..

Chaeri dan Sera melancarkan high-five mereka, lalu tertawa puas. Di sudut kantin itu, mereka seperti merayakan sesuatu.

“Chaeri, akhirnya rencana kita berhasil.”

“Ya, benar-benar sesuai dengan rencana. Kau akan mendapatkan Kai, dan aku akan mendapatkan Luhan.”

Mereka berdua tertawa kembali.

“Eh, lihat. Akhirnya Heesa bersama Baekhyun dan Dio. How pity.. mereka terlihat seperti kutu-kutu tidak berguna lalu berkumpul menjadi satu. Haha, entah mengapa aku merasa sangat puas kali ini,” ucap Chaeri lalu meminum jus strawberry-nya. Sera berbalik untuk melihat Heesa, lalu tertawa.

“Itu balasannya karena mengganggu hubungan kita. Eat that, Heesa.”

Mereka tertawa kembali.

*

Hari pertama ujian berakhir.

Kai, namja ini masih duduk santai di atas bangkunya, sedangkan hampir seluruh murid di universitas sudah keluar untuk mempersiapkan ujian berikutnya.

Kai mengeluarkan ponselnya lalu melihat layar wallpaper-nya. Itu adalah malam ketika Kai dan Heesa memutuskan agar tetap menjadi sahabat. Dan itu mungkin ciuman terakhir yang ia dapat dari Heesa.

Kai tersenyum kecil, ia teringat ketika bagaimana ia dan Heesa bertengkar karena hal kecil, lalu berbaikan dengan mudahnya..

Oh God, Kai tersadar kembali. Masalah yang ia hadapi kini dengan Heesa sangatlah berat. Seingatnya, ia tidak ‘melakukannya’ pada Sera, apalagi dengan cara paksa. Sungguh Kai tidak melakukannya! Dan bagaimana cara Heesa agar mendengarkan penjelasannya? Bukti untuk membela dirinya pun tidak ada.

Kai menghembuskan nafas frustasi. Seluruh murid universitas telah mengetahui bahwa nanti Luhan dan Heesa akan menikah pada saat liburan nanti, sehingga Kai yakin liburan itu akan sangat terasa menyenangkan bagi Heesa dan Luhan. Dan Kai tidak rela.

“KAAAI!! YAAA!”

Tiba-tiba Dio datang ke kelasnya lalu berlari cepat mendekatinya. Setelah sampai Dio segera duduk di samping Kai lalu mengatur nafasnya tidak santai.

“Kyungsoo! Kau membuatku terkejut!” ucap Kai nafsu. Dio menatap Kai lalu tertawa.

“Ah.. jeongmal mianhae.. hh..” ucap Dio terbata karena ia masih sibuk mengatur nafasnya. Kai memutar kedua bola matanya.

“Ada apa kau mencariku, hm?”

Dio memejamkan matanya erat dengan bibirnya yang tersenyum lebar. “Chakkan..”

Kai mendengus. “Ah, Kyungsoo. Aku sedang malas mendengar ceritamu. Maafkan aku. Aku harus pergi. Annyeoong~”

“YA! KAI TUNGGU!”

Kai membalikkan badannya lalu meleletkan lidahnya. “Lain kali saja, Kyungsoo!”

Dio menghembuskan nafasnya lelah. “Haish..”

 

Kai berjalan santai di sepanjang koridor dengan pikiran yang hampa. Semua tentang Heesa menggenang dipikirannya. Heesa.. Heesa.. yeoja itu..

“Kai?”

Terdengar suara seseorang yang memanggilnya dari belakang. Kai membalikkan badannya lalu melihat sosok yang memanggilnya itu.

“Bisa kita bicara sebentar?”

“Kau ingin membicarakan apa denganku, hah?” tanya Kai refleks menyentak, karena yeoja itu adalah Sera.

“Mengapa kau kasar padaku, Kai?”

“Apakah salah?”

Sera mengepalkan lengannya kesal karena melihat tingkah laku Kai yang menyebalkan baginya. “Ingat, Kai! Kau sudah melakukannya..”

“Sera! Jangan pernah mengungkitnya lagi!” bentak Kai. Untungnya kampus sudah cukup sepi.

“Mengapa? Kau tidak akan bertanggung jawab, Kai?” tanya Sera sambil memicingkan matanya. “Kau jahat! Kau tidak mempunyai hati! Mengapa kau tega melkakukan hal ini padaku!”

Kai berjalan mendekat pada Sera lalu menatap mata yeoja itu tajam. “Jangan membicarakan hal itu disini!” bisik Kai namun menyentak. Sera menundukkan kepalanya, kemudian menangis.

“Kai.. bukannya aku berniat mengekangmu seperti ini.. tapi.. aku hanya takut..”

Kai menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya. “Kumohon, jangan pernah merasa bahwa kita pernah melakukannya.”

Sera terdiam, ia menatap Kai dengan tatapan tak percaya. “Kai? Kau.. aku.. aku telah menyerahkan semua yang kupunya untukmu.. cintaku, hatiku, tubuh..”

“Sssh!”

“Dan kau memintaku agar melupakannya?”

“Diam, Sera.”

“Kukira kita melakukannya berdasarkan saling cinta, Kai! Ternyata aku hanya menjadi pelampiasan untukmu!”

“Sera! Kumohon..”

“Ah ya.. kau mencintai Heesa.. benar bukan? Jujur padaku, Kai, jujur!”

“Tidak.. Sera kumohon..”

“Kau jahat, Kai! Kau jahat!”

Seketika itu juga Kai segera memeluk Sera. Membenamkan wajah itu ke dalam rengkuhannya, membiarkannya tenang disana. Kai.. sungguh, ia tidak tahu harus berbuat apa.

“Ara.. Maafkan aku, Sera..” ucap Kai, dan terpaksa mengelus rambut Sera agar yeoja itu tenang. “Aku hanya.. belum siap.. kau tahu waktu malam itu aku mabuk..”

Sera merenggangkan pelukannya agar bisa melihat wajah Kai. “Tapi.. kau akan bertanggung jawab bukan?”

Kai menahan nafasnya, kemudian tersenyum. “Tentu. Aku akan bertanggung jawab.”

Sera tersenyum kemudian memeluk Kai kembali. Sangat erat.

Beruntunglah bagi mereka berdua karena disana hanya ada satu saksi yang menyaksikan adegan demi adegan yang terjadi antara mereka. Sang saksi itu kini terduduk lemas di balik tembok, dan sebentar lagi akan menitikkan air matanya.

“Kai.. Sera.. Luhan..”

Ketika ia mengatakan nama yang terakhir, akhirnya yeoja itu menangis sepenuhnya. Air matanya tidak henti-henti mengalir. Ia menutup mukanya dan membungkam mulutnya agar tangisannya tidak terdengar siapapun.

Namun seseorang datang, membantunya berdiri, kemudian memeluknya dengan penuh. Menenangkan.

“Sssh, Heesa.. jangan menangis..”

Heesa semakin memeluk Dio erat. Yeoja itu kini membasahi kemeja putih yang dipakai Dio dengan air matanya.

“Mi.. mian.. Dio..”

“Sssh.. menangislah, Heesa. ‘Am here..”

**

Luhan menyesap rokoknya kembali. Ia menatap foto Heesa yang ia ambil diam-diam ketika yeoja itu tertidur di kelas. Foto yang sangat lucu dan menggemaskan. Terlihat sangat tidak berdosa, dan tenang.

Tiba-tiba layar ponsel Luhan berubah. Telepon masuk. Hmm.. Chaeri? Ada apa yeoja berisik itu meneleponnya?

Akhirnya Luhan mengangakat panggilan itu. “Yoboseyo..”

“Yoboseyo! Luhan! Kau berada dimana sekarang?”

Luhan memutar kedua bola matanya. “Di neraka. Wae?”

Chaeri mengerucutkan bibirnya. “Ya! Kudo’akan kau benar-benar di neraka nantinya!”

“Hm..”

Namun Chaeri pantang menyerah meskipun Luhan bersikap dingin padanya. “Luhan, aku ingin mengajakmu untuk menyantap jajangmyeon di dekat rumahku.”

Luhan menghembuskan nafas rokoknya. “Jajangmyeon?”

“Nde! Enak sekali! Kau harus mencobanya, Luhan! Dan kau pasti akan ketagihan!” ucap Chaeri meyakinkan. Luhan menggigit bibir bawahnya.

“Aku malas..”

“Ah ayolaah.. kalau begitu aku jemput kau?”

“Ah! Jangan!” sangkal Luhan refleks ketika ia mengingat dimana kini ia tinggal.

“Wae?”

“Ah, ani..” ucap Luhan terbata. Luhan membuang puntungnya ke jendela. “Arasso. Dimana tempat tinggalmu?”

 

Heesa memarkirkan mobilnya di depan tangga depan rumah lalu menyerahkan kunci mobilnya pada penjaga. Heesa berjalan masuk ke dalam rumah, ketika ia berpapasan dengan seseorang di ambang pintu..

Tanpa segan-segan Luhan meneruskan langkahnya dan menubruk pundak Heesa sedikit, namun terasa sakit. Heesa tetap terdiam di tempatnya, ia terlalu terkejut diperlakukan seperti itu oleh Luhan.

Namun detik kemudian Heesa melanjutkan langkahnya kembali, tanpa peduli lagi kemana Luhan akan pergi.

*

Heesa merebahkan tubuhnya di tas ranjang. Ia menatap layar ponselnya malas. Disana ada fotonya bersama Luhan. Foto itu diambil ketika mereka berada di atap kampus. Disana terlihat jari Luhan tengah mengapit rokoknya, dan Heesa berpose dengan menutup hidungnya sambil melihat ke arah Luhan. Ia menyukai foto itu. heesa sangat menyukainya.

Namun detik kemudian ia mengubah wallpaper-nya dengan foto keroro, karakter kartun kesukaannya. Matanya bulat dan menggemaskan, samap seperti Dio. Heesa tersenyum tulus ketika mengingat namja itu memeluknya hangat seperti tadi.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Heesa segera mengangkatnya tanpa melihat siapa yang memanggil.

“Yoboseyo.. Heesa?”

Heesa terdiam. Ah, pabo! Mengapa Heesa mengangkat panggilan dari Chaeri? Jinjja pabo!

“Yoboseyo.”

“Sepertinya kau mengikuti permainanku, Heesa..”

“Aku hanya ingin melindungi diriku sendiri. Aku tidak ingin kejadian beberapa waktu yang lalu menimpaku lagi,” jawab Heesa jujur. Terdengar Chaeri tertawa puas.

“Kau sungguh lugu, Heesa. Aku sangat berterimakasih pada Tuhan karena menciptakanmu begitu baik dan penurut.. ah! Mungkin lebih tepatnya pengecut?”. Terdengar kembali tawa Chaeri yang sumbang ditelinga Heesa. Heesa hanya menarik nafas, sabar.

Seling beberapa detik Heesa mendengar Chaeri tengah berbincang dengan seseorang. Seorang yeoja. Ya, mereka sepertinya terdengar ‘akrab’ dengan aura kejahatan mereka.

“Terimakasih Heesa karena telah membantuku untuk bersama dengan Luhan. Kuharap kau tetap mengikuti permainanku.. jika kau tidak ingin benar-benar mati. Haha..”

Panggilan ditutup. Heesa menggigit bibir bawahnya kesal. Urgh.. Chaeri. Dia benar-benar iblis.

Terdengar ketuka kecil dipintu kamarnya. Heesa mengalihkan pandangannya pada pintu kamarnya yang kini telah terbuka. Akhirnya Mom masuk kemudian menutup pintu kamarnya.

“Heesa?” tanya Mom khawatir ketika melihat raut muka Heesa yang sedih. Mom segera menghampiri putrinya itu lalu memeluknya dan mengelus rambut panjangnya dengan sayang. “Apa yang terjadi? Mengapa kau terlihat sedih, Dear?”

Heesa balas memeluk Mom. Heesa memeluknya sangat erat, kemudian tanpa sadar ia menangis.

“Mommy.. Heesa sedih.. Heesa merasa semua orang menjauhi Heesa, jahat sama Heesa, tidak memberikan Heesa kesempatan..”

Mommy menepuk-nepuk bahu Heesa pelan. “Sssh.. apa kau ingin menceritakannya pada Mom, Dear? Hm?”

Heesa tidak menjawab pertanyaan Mom, yang ia lakukan kini hanya menangis. Ia membutuhkan ketenangan dari seorang Ibu. Ia membutuhkan pelukannya.. yang dalam beberapa detik mampu menenangkan perasaannya, dan memberinya jawaban bahwa semuanya akan baik-baik saja.

**

Dio tengah berjalan-jalan seorang diri. Entah mengapa ia sedang tidak bernafsu untuk menghafal seluruh materi. Ia hanya sedang tidak ingin memikirkan apapun dan menikmati ramainya malam dijantung kota Seoul.

Dio mengedarkan pandangannya. Malam hari seperti keadaan siang hari. Lampu yang berpendar dimana-mana membuat kota itu selalu terang kapan pun juga.

Seketika pandangannya terpaku pada dua sosok yang sangat ia kenal. Salah satu di antaranya tengah mabuk, dan yang satunya sepertinya menikmati keadaan mabuk lawannya.

Ya, Chaeri dan Luhan.

Dengan otomatis Dio merasa kesal ketika melihat Chaeri memegang dagu Luhan dan bermain mata dengan namja itu. Dan Luhan sepertinya bersenang-senang dan menikmatinya dengan Chaeri.

Hhh.. apakah mereka, Luhan dan Heesa, belum diberitahu juga oleh kedua orangtua mereka? Bagaimana bisa? Mereka akan segera menikah pada saat liburan nanti, dan seluruh murid maupun guru di kampus telah mengetahuinya. Tetapi Luhan dan Heesa belum juga mengetahui hal itu? What the heck.

Heesa. Kasihan yeoja itu. Ia selalu tersiksa ketika ia mencintai seseorang. Ia tidak bisa memilikinya sepenuhnya. Dan.. Chaeri benar-benar tidak bisa membiarkan Heesa hidup dengan tenang.

Tanpa berpikir panjang Dio segera menghampiri kedua orang itu.

“Annyeong, Han Chaeri,” ucap Dio sambil tersenyum palsu. Chaeri terkejut, kemudian ia membalas dengan senyuman yang sama palsunya.

“Annyeong, Do Kyungsoo,” jawab Chaeri sambil bergelayut manja dalam rangkulan Luhan. Luhan menatap Dio lalu tersenyum kecut.

“Ah.. Kyungsoo? Kau.. yang mencintai Heesa beberapa waktu yang lalu bukan?” tanya Luhan dengan mata setengah terpejam. Dio tertawa sinis.

“Memangnya kenapa, hah? Kau cemburu?” tanya Dio dengan nada suara yang terdengar tenang dan santai. Luhan tertawa geli.

“Haha.. ani. Aku tidak cemburu.. ambil saja dia, Kyungsoo. Aku sudah tidak berhubungan lagi dengannya..” jawab Luhan, kemudian meneguk minumannya kembali. Diam-diam Chaeri tersenyum puas.

“Luhan? Ah, shit. Kau.. kau akan segera menikah dengan Hee..”

“Dia tidak akan pernah menikah, Kyungsoo. Tidak akan pernah bersama Heesa. Mulai sekarang dia milikku..”

Dio mendengus kasar. “Hah? Micheoseo? Han Chaeri, pernikahan ini sudah tidak bisa disangkal. Meskipun mereka tidak saling mencintai, orangtua mereka tetap akan menikahkan mereka!”

“Hal itu sudah bisa tersangkal olehku, Kyungsoo.”

“Kau tidak akan pernah bisa menghalangi mereka. Seluruh murid kampus telah mengetahuinya.”

Chaeri tertawa singkat. “Aku tahu. Dan berita aku sudah menjadi kekasih Luhan akan segera tersebar di kampus. Tidak akan lama lagi.”

Dio mengatur nafasnya yang kini memburu karena marah. “Mengapa kau selalu mengganggu hidup Heesa, hah? Apa salahnya, Chaeri?” tanya Dio sambil menahan emosi. Chaeri tertawa kemudian ia meneguk minumannya.

“Salahnya yaitu.. ia selalu merebut apa yang ingin kupunya.”

Dio menggertakan giginya kesal. Dengan cepat ia melepaskan rangkulan Luhan pada bahu Chaeri dan dengan mudahnya membawa Luhan berjalan bersamanya, meninggalkan Chaeri seorang diri di kedai jajangmyeon itu.

Chaeri membiarkan Dio pergi membawa Luhan, dan yeoja itu tertawa jahat. “Bawa saja dia, Kyungsoo. Lagipula ia sudah menjadi milikku sepenuhnya. Baru saja..”

Dengan santai Chaeri mengirim MMS ke seluruh teman-temannya. Didalamnya ada fotonya bersama Luhan dengan pose yang tidak patut dilihat oleh massal, ketika semua orang mengetahui bahwa namja itu akan segera menikah.

**

Heesa kini tengah tertidur lelap. Ia kelelahan karena menangis, dan kini ia butuh istirahat.

Dalam kegelapan kamarnya itu, layar ponsel Heesa tiba-tiba menyala dan berbunyi, dari nada deringnya yang berbeda menandakan ada MMS masuk. Namun Heesa masih terlelap, tidak terusik sedikitpun dengan suara ponselnya.

Namun beberapa menit kemudian ponselnya berbunyi, tanda ada pesan. Kini Heesa benar-benar terusik. Dengan terpaksa ia mengambil ponselnya lalu membaca pesan. Hmm.. Dio.

Heesa? Apa kau masih bangun? Aku sudah berada di depan rumahmu, bersama Luhan..

Kini mata Heesa terbuka seratus persen. Heesa segera bngkit dari posisinya kemudian segera mengambil mantel biru tuanya dan berlari kecil keluar dari kamarnya.

Setelah sampai Heesa segera membuka pintu utama. Disana terlihat Dio tengah membopong Luhan menuju tangga. Heesa segera menghampiri keduanya.

“Dio? Mengapa kau bisa bersama Luhan?” tanya Heesa khawatir. Dio hanya tersenyum kecut.

“Aku mengambilnya dari Chaeri,” ucap Dio sambil menyerahkan Luhan pada Heesa. Heesa segera merangkulkan tangan Luhan dipundaknya.

“Mengambilnya dari Chaeri?”

“Ya, tadi aku menemukannya bersama Chaeri di kedai jajangmyeon. Dan ia sudah mabuk berat sedari tadi..”

Heesa tersenyum canggung pada Dio. “Euh, bagaimana kau bisa tau bahwa Luhan tinggal bersamaku?”

Dio mebulatkan matanya lalu tertawa kecil. “Apa kau bercanda? Hampir seluruh sekolah telah mengetahuinya.” Heesa terdiam mendengar jawaban Dio. “Ah sudahlah, tak usah kaupikirkan. Arasso, jaga Luhan, Heesa. Dia seperti anak kecil akhir-akhir ini.”

Heesa mengerjapkan matanya berkali-kali, kemudian tersenyum. “Baiklah. Terimakasih, Dio. Take care.”

“Ya. You too.”

Dio berjalan menjauhi Heesa menuju mobilnya yang terparkir diluar rumahnya. Heesa segera membawa Luhan masuk ke dalam rumah.

Dengan susah payah Heesa membawa Luhan ke lantai atas. Tepat ketika mereka berada di pertengahan tangga, Luhan melepaskan rangkulannya pada Heesa dengan kasar. Heesa sedikit terkejut dengan perlakuan Luhan yang tiba-tiba itu.

“Luhan? Awas, langkahmu sedang tidak seimbang..”

“Alah! Diam kau, Heesa. Memangnya kau peduli padaku jika aku mati sekarang juga, hah? Bukannya kau sedang muak melihatku?” ucap Luhan dengan nada mabuknya. Luhan berusaha berjalan menaikki tangga dengan langkah sedikit terhuyung. Meskipun begitu, Heesa tetap khawatir hingga akhirnya ia membantu Luhan berjalan sampai mereka berada di depan kamar Luhan.

Lagi-lagi Luhan menepis tangan Heesa. Heesa sedikit terdorong karena tepisan yang kasar itu.

“Jangan sekali-kali kau meletakkan sidik jarimu padaku! Bitch..”

Heesa tercengang ketika mendengar kata terakhir yang diucapkan Luhan. Hatinya kini terasa sangat sakit. Namun Heesa juga merasa gelisah, ia tidak ingin kedua orangtuanya mengetahui bahwa Luhan tengah mabuk. Dan akhirnya Heesa segera membawa Luhan masuk ke dalam kamarnya.

Heesa mendudukkan Luhan di atas ranjangnya. Setelah itu Heesa berjalan menuju tombol lampu untuk mematikan lampunya. Namun ketika Heesa sudah mematikan lampunya, Luhan ternyata sudah berada dibelakangnya lalu mendorongnya ke tembok, dan mengapitnya. Heesa menahan nafasnya ketika Luhan mendekatkan wajahnya padanya. Bau alkohol.. Heesa sangat tidak menyukainya.

“Lu..Luhan.. apa yang kau lakukan..” ucap Heesa terbata. Luhan hanya tersenyum tipis, kemudian namja itu mencapit dagu Heesa dan mendongkakkan kepalanya agar melihat padanya.

“Aku hanya ingin kau melihatku lebih lama, lalu kau akan lebih muak padaku, kemudian kau akan menjauhiku, lalu kau pergi dengan namja lain.. siapa dia? Kyungsoo.. Baekhyun.. hmm..”

“Apa yang kaukatakan? Aku tidak mengerti..”

Seketika Luhan mengecup bibir Heesa. Heesa segera mendorong kepala Luhan menjauh.

“Ya! Luhan! Apa yang kaulakukan, hah?” protes Heesa terkejut. Ia segera memegang pipi Luhan agar namja itu tidak melakukannya lagi.

Akhirnya Luhan diam. Mata sayunya menatap mata Heesa yang kini.. seperti menahan ketakutan. Heesa kini terlihat seperti tikus putih yang ketakutan dan gemetar dalam pelukannya.

Heesa memejamkan matanya erat ketika Luhan mengambil tangan Heesa kemudian menguncinya di tembok, tepat di atas kepalanya dengan satu tangan besarnya. Tangan Luhan yang lain kini mengelus pipi Heesa lembut.

“Heesa..” ucap Luhan dengan suara seraknya. Heesa merasa ketakutan sekarang. “Kau.. muak padaku..” ucap Luhan dengan nada akhir yang menggantung. Heesa membuka matanya perlahan. Kini ia melihat sorot mata Luhan yang terlihat sangat.. marah. “Begitu pula aku. Aku.. juga muak melihatmu.”

Luhan membanting kedua tangan Heesa ke arah lain dengan kasar, membuat yeoja itu hampir terjatuh.

“Keluarlah, Kim Heesa. Aku muak melihatmu.”

Ia menatap Luhan tidak percaya. Tangisan Heesa segera merebak. Dan akhirnya dengan cepat Heesa keluar dari kamar Luhan tanpa menutup pintunya. Setelah itu Heesa segera masuk ke dalam kamarnya kemudian mengunci pintunya.

Heesa terduduk lemas. Ia meremas rambut panjangnya, kemudian ia menangis. Heesa kini semakin terlarut dalam kesedihan.

Luhan.. apa benar kini kau muak melihatku? Apa benar.. kini kau membenciku?

Heesa hanya mampu menggigit tangannya agar tangisannya tidak terdengar oleh siapapun. Ya, ia hanya ingin ia sendiri yang mendengar tangisannya. Tangisan yang menyayat hatinya sendiri dengan perlahan..

 

 

TBC :[

………………………………………………………………………………………………….

ANNYEONG YOROBEUN!! AKU HADIR LAGII XD *ditimpuk batu*

huaaah maaf ya pablisnya lamaa, kan aku juga liburan sama seperti kalian huakakakak XD

silahkan berkomentar setelah membaca. saya akan menerima semua kritik dan saran kalian XD

terimakasih sudah setia, readerrs love you all muacch :*

………………………………………………………………………………………………….

73 thoughts on “ELECTRIC [ CHAP 10 ]

  1. Itu tbc? Aahhhhhhh andwaeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee lanjut lanjut jgn lama” huhuhuhuhuu kasian heesanyaa kejem bgt tuh cewenya grrrr nyebelinnnn lanjutt ehehehehe hwaiting ^^

  2. Dio-nya labil =))
    waktu nenangin heesa dia bilang “jangan nangis”, tp akhirnya “menangislah, am here” =))
    lanjuuuuuuut teruuuuuuus~~~~~~~

  3. Aku nangis beneran di part ini author. Yaolo si heesanya kasian banget. Ini bener bener singkat tapi menyakitkan, feelnya dapet banget ini. T.T keren

  4. ini ff yang aku tunggu2 bgt dr kemaren2 thorrr….akhirnya update juga T_T
    keren thorrrr…lanjut ya jangan lama2…jangan bikin readers lumutan nunggunya!!T_T

  5. okay, heesa udah dalam kondisi kacau di chapter ini dan AKU GAK TEGA SI HEESA JAUHAN SAMA LUHAAAAAAN, YA TUHAN, ini sama nyeseknya pas si chanyeol minta heera lupain chanyeol di pulcut, hastagaaaaaa TAT imaaaaaa please ya luhan sama heesa aja, di pulcut chonsa sama kkamjong soalnya hikseuuuuu DUO IBLIIIIIIIS, MATI KAU!!!! /lindes/ LUHAAAAAAAAN, KEMBALILAH PADA HEESAAAAAAAAAAA!! next chap segeraaaaa ima, ditunggu okesip, lapyuuuuu

  6. WOW daebak !! suka sama crtanya >< , ksian hessa tertindas gtu -_- . suka gemes nih nunggu next partnya jgn lama-lama yah author *ngedip mata genit* :D

  7. ih sera sama chaeri makin ngeselin aja!!! kan kasian heesa makin menderita u,u. udah kai yang ngejauhin, kali ini luhan juga ngejauhin.
    TBC nya kagok thor… part selanjutnya harus lebih panjang yaaaaah #ditimpukauthor
    part selanjutnya harus cepet juga pablisnya yah thorrr.. ^^

  8. ih sera sama chaeri makin ngeselin aja!!! kan kasian heesa makin menderita u,u. udah kai yang ngejauhin, kali ini luhan juga ngejauhin.

    TBC nya kagok thor… part selanjutnya harus lebih panjang yaaaaah #ditimpukauthor
    part selanjutnya harus cepet juga pablisnya yah thorrr.. ^^

  9. aaaaaahhhhhhhhhhhhhhh KAI come to me KAI….heesaaaaa sama LuLu ajaaaaaa………
    kalo di dunia nyata ad ratu siluman kaya chaeri ma sera,,,udahhh akuuu SANTETTTTTTTTTTTTTTTTT….
    EMOSIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII,,,,,,,,,,,,thorrr jgn lama2 yah publish nyaaaa….JEBALLL….

  10. ya! knp tbc??
    kasian heesa, kok dizolimin bgt ya.
    ish makin benci sama sera n chaeri!
    thor, ituu.. kai nya jg kasian difitnah gt ama sera :””
    kai-heesa-luhan fighting!!
    author juga fighting!!!
    next chap buruan ya thor !
    wkwkwk #PLAK

  11. yaowoh kasian banget si heesa selalu menderita :(
    makin penasaran deh sama lanjutannya,
    jangan lama2 ya thor di pablisnya :D
    suka banget alurnya,
    hwaiting! ^^

  12. sumpah dah tuh cheri sama sera minta di jitak jali yaa???ahhh pokonya ga suka sama mereka kalo gue jadi heera udah gue bunuh tuh mereka #plakk
    lanjut thoorrr,sumpah penasaran banget!!jangan lama-lama ya thor
    ahhh pokonya sera sama cheri kudu gue jitak skarang #pergikekorea

  13. Arrrggghhhhh…
    Chaeri bacok ajah!!
    jahat!!!
    aku selalu menunggu kelnjutan ff ini,,, cuma tbc lg y?
    hmmm,, gppp. asal next chapternya gk lma.
    fighting thorrr

  14. Ahh, author akhirnya di publish jg :D senang, tp kok si chaerin dn sera jahat bgt sm heesa?! Aku yg baca jadinya hampir nangis nih author T^T

    luhan kenapa thor? Ko jd kejem bgt sm heesa? Plis thor, jgn jadikan luhan benci sm heesa. Aku sedih thor. Wkt tau chaerin sm luhan aj hati jd sakit thor </3

    lanjutannya jgn lma bgt ya thor, kasian aku nunggu smp kering -_- plis lg thor, luhan sm heesa T..T

  15. eem eeem eeem..kok chaeri jahat banget sih.lulu sama heesa kan jadi marahan.hikshiks ga tega sama heesa.pdhl udah luayan bahagia dia dipeluk2 sama lulu terus.skr lulu jd kasar.
    thooor semangat bikinnya ya!semoga update-annya makin cpt <3
    oh iya pulchritude jdnya gmn thor?penasaran sama chanyeol nih =3=

  16. Yah.. Kenapa TBC..??
    Aku selalu menanti kelanjutan ni ff.. Lamaa banget nunggunya..
    Akhirnyaa keluar juga
    Dionya itusuka sama heesa apa engga sih? Kayaknya perhatian.. Aku ngga nyangka luhan selemah itu.. Dia gampang nyerah, padahal sebelum sebelumnya dia semangat banget deketin heesa..
    Si kai ngga nyadar apa kalo dioboongin.. Hufft.. Sebel banget
    pengen masuk ke ni ff deh terus ngebunuh chaeri sama sra.. Arrhg.. Dasar menyebalkan

    tapi aku tetep suka.. Ditunggu kelanjutannya yah eon
    hwaiting..!!

  17. Pengennya luhan sama heesa!!!!!!
    Luhan dan heesa harus kembali!
    Waaaahhh sedih waktu tau luhan jauhin heesa!!! Next part secepatnya thor!:)

  18. hai chingu! salam kenal ^^
    aku baru baca nih, aku ngga sengaja buka blog ini sebenarnya, hehe. tapi trus krna liat sekilas trus ada nama Luhan disini, jadi aku baca, hehe :)
    daebak! aku udah baca dari tadi malem sampe chapter ini, keren! seru ceritanya ;))
    mian cuma comment yg di chap ini, abis keburu pgn baca lagi, kkk~
    ayo cepet publish thor! udah ngga sabar nih XD
    semangat terus yaaaaa~ :D

  19. TUHKAN BENER KATAKUUUUU!!!! SERA SM CHAERI BERKOLABORASIIIIII!!!!!!
    TP GA NYANGKA AJA SEJAHAT ITU!
    Thooooor buruan publish!!!!!! Aku pingin ngiket sera sama chaeri niiiih!!!!!!!

  20. hai chingu! salam kenal ^^
    aku baru baca nih, aku ngga sengaja buka blog ini sebenarnya, hehe. tapi trus krna liat sekilas trus ada nama Luhan disini, jadi aku baca, hehe
    daebak! aku udah baca dari tadi malem sampe chapter ini, keren! seru ceritanya :)
    mian cuma comment yg di chap ini, abis keburu pgn baca lagi, kkk~
    ayo cepet publish thor! udah ngga sabar nih XD
    semangat terus yaaaaa~ :D

  21. Chaeri sama Sera harus musnaaahhh щ(ºДºщ)
    Kan kasian Heesanya :((( masa dia sm siapapun yg dia suka gabisa :(( nyesek </3
    Kai engga…Luhan pun iya .___.
    Next chap yaaa!! :D

  22. thorrrrrr…
    selama puasa ga libur kan…?
    libur publish kelanjutan cerita ini..???
    JANGAN LIBUR yaa..
    Lama nantinya…
    CEPATLAH PUBLISH..

  23. Pertama, mau minta maaf dulu baru bs komen skrg u_u

    plis ya itu chaeri sama sera nyebelin banget. Cowo banyak plis. Obsesi bgt mereka sama luhan kai.

    Oke kayanya yg bnr2 terobsesi tuh sera ke kai. Kalo chaeri lebih ke ga suka aja liat heesa bahagia makanya mau rebut luhan. Dan luhan aduh plis itu kata2nya lebih tajam dari belati. Nusuk men. Kasian lah si kai jd korban tertuduh tersangka (?)

    DIOOO~ I LOVE YOU MOAH #salah

    LANJUT LANJUT LANJUT! DITUNGGU~

  24. Ya ampuun trnyata nenek sihir udah temenan sama sih monsterr !!
    Ahrrrg !! Mereka nyebelin bgt thor !! Luhan kenapa ngomong jhat gitu ke heesa thor? Kan kasian :(

  25. kenapa sih heesanya merana banget :’( kasian banget jadi heesa, sama sekali ngga ngebayangin gimana jadinya kalo jadi heesa.

  26. Huwaaah :'( chapter kali ini gilak sad + angst nya dapet (y) jjang!
    aaaaarrrrgghh greget sama Chaeri-Sera!! Damn! ngeselin sumpah >:o
    kasian Heesa nya thor :'(
    ak baca kelanjutannya ya thor :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s