ELECTRIC [ CHAP 9 ]

ELECTRIC

 

Author: Shin Heesa

Cast:

  • EXO
  • Kim Heesa

 

Disclaim: Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Ps:

  • Don’t be silent reader
  • Don’t copy – paste my imaginations!!
……………………………………………………………………………..
(Author POV)

Dengan pikiran menerawang dan mulut terbuka sedikit, Heesa menunjuk namja itu lalu mengedipkan matanya berkali-kali..

Luhan memelototi Heesa agar tidak berkata apapun. Semua orang menatap Heesa dengan heran, namun kemudian mereka tersenyum penuh arti.

“Apa kau terkejut karena dia tampan, Dear? Kau sampai mengangkat telunjukmu seperti itu,” goda Mama sambil tertawa. Heesa menggeleng salah tingkah.

“Yasudah. Heesa, kenalkan, ini Luhan. Dan Luhan, kenalkan ini Heesa,” ucap Papa memperkenalkan mereka. Luhan menyodorkan tangannya untuk berjabat dengan Heesa.

“Luhan.”

“Heesa. Kim Heesa.”

Disela-sela perkenalan itu Luhan menyempatkan meleletkan lidahnya pada Heesa, dan tentu saja Heesa membalasnya.

“Arasso. Kalau begitu ayo kita masuk, kita harus beristirahat.”

Semua para orangtua sudah masuk ke dalam rumah, sedangkan Luhan dan Heesa masih berada diluar.

Tiba-tiba Heesa memukul lengan Luhan cukup keras sehingga Luhan mengaduh sakit.

“Ya! Mengapa kau tidak mengatakan padaku bahwa kau orang Cina itu, hah? Aku terkejut ketika kau datang, kau tahu!”

Luhan tertawa lalu mencubit pipi Heesa gemas. “Jangan marah,” ucap Luhan, Heesa melepaskan cubitan itu. “Sebenarnya aku sudah melaksanakan tugasku yaitu melindungimu. Benar ‘kan?”

Heesa meringis kesal lalu memukul namja itu bertubi-tubi. Luhan tertawa terbahak sambil menahan pukulan Heesa, dan dengan satu gerakan cepat Luhan memegang kedua pergelangan tangan Heesa lalu menyimpannya dipunggung Heesa. Luhan pun membawa Heesa menjauh dari pintu agar tidak terlihat oleh kedua orangtua mereka.

“Mengapa kau membawaku kemari?” tanya Heesa sambil memberontak dari genggaman Luhan. Luhan tersenyum jail.

“Aku hanya ingin mencari tempat sepi agar bisa berdua denganmu.”

“Ya!”

“Mengapa? Kau tidak suka? Ah ya, lagipula mulai dari hari ini kita satu rumah. Bukan begitu?”

Heesa meleletkan lidahnya pada Luhan, sedangkan Luhan tertawa puas.

Ketika ahjumma menyadari bahwa Luhan dan Heesa tidak ikut masuk ke dalam rumah, ia segera memberitahu Mama. Sedangkan Mama hanya tersenyum penuh arti menanggapinya.

“Sudahlah. Ini tahap perkenalan yang bagus untuk mereka, sehingga kita tidak akan susah menjodohkan mereka.”

Papa, ahjusshi, dan ahjumma tersenyum lebar.

*

Makan malam pun tiba. Seluruh keluarga berkumpul di meja makan dengan hidangan yang sudah tersedia. Dan Heesa duduk di sebelah Luhan.

Kini mereka melahap santapan mereka masing-masing sambil berbincang ringan. Sedangkan Heesa berkonsentrasi pada beef teriyakinya karena terasa nikmat dilidahnya, dan Luhan tertawa melihat Heesa seperti itu.

“Ya, Heesa,” panggil Luhan membuyarkan konsentrasi Heesa. Heesa menoleh dengan mulut yang tetap mengunyah beef teriyakinya. “Jangan terlalu fokus seperti itu. ikut berbincanglah dengan yang lain.”

Heesa menatap Luhan lalu menggeleng polos dan kembali berkonsentrasi pada beefnya. Luhan terkikik geli.

Dan ketika Luhan memperhatikan Heesa kembali, ia merasa ada yang menjanggal di mulut Heesa. Luhan segera mengambil tisu lalu mengelap bumbu yang berada di bibir Heesa. Heesa menolehkan wajahnya pada Luhan dengan jantung yang berdebar, membiarkan namja itu melakukannya dengan leluasa.

Perbincangan perlahan berubah menjadi sunyi. Ternyata para orangtua terkejut ketika melihat apa yang sedang dilakukan oleh Luhan pada Heesa. Dan tentu saja mereka bahagia.

Setelah selesai, Luhan menyimpan tisunya lalu melahap santapannya kembali.

Mama tertawa kecil karena bahagia. “Luhan, bukankah kalian baru berkenalan tadi sore?”

Luhan mengangguk. “Lalu ada apa?”

“Kalian terlihat akrab sekali ketika kau melakukan.. hal tadi. Apakah terjadi sesuatu?” tanya Mama menjurus pada hal yang sensitif. Heesa mengerutkan keningnya, ia bingung harus melakukan apa.

“Ya, memang. Kami cepat akrab dengan mudah. Mungkin karena Heesa welcome padaku, begitu juga sebaliknya,” jawab Luhan enteng. Ia menatap Heesa lalu tersenyum lembut padanya.

“Iy..iya Mam. Luhan sangat baik padaku,” jawab Heesa sedikit rancu. Semua orangtua tertawa sesaat karena tingkah Heesa.

“Yasudah habiskan dulu makan malam kalian, masih banyak waktu bagi kalian untuk saling mengenal lebih jauh..”

Luhan mengangkat halisnya, aku sudah jauh dari tahap mengenalnya, bahkan aku sudah menciumnya, bisik Luhan geli dalam hati.

Dan Heesa menghembuskan nafas panjang, apakah kita harus mengenal lebih jauh lagi? tanya Heesa dalam hati, lalu ia mengangkat pundaknya.

Dan makan malam itu berlangsung kembali seperti semula.

*

“Heesa! Heesa! Buka pintunya!”

Heesa meletakkan pensilnya lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya. Seketika Luhan melesak masuk lalu menutup pintu dengan hati-hati.

“Luhan? Ini sudah malam, bukan?” tanya Heesa keheranan. Luhan mengisyaratkan Heesa agar diam.

“Aku tahu. Tapi aku merindukanmu jadi aku datang kemari,” jawab Luhan sambil memamerkan deretan giginya yang rapi. Heesa mengernyitkan hidungnya, lalu memukul Luhan.

Luhan menarik tangan Heesa lalu membawanya ke ranjang. Heesa merebahkan dirinya terlebih dahulu kemudian Luhan tepat di sampingnya.

“Heesa?”

“Hm?” sahut Heesa. Luhan menggenggam tangan kiri Heesa lalu menautkan semua jemari tangan kanannya. Hangat.

“Menurutku ini lucu,” ucap Luhan sambil terkikik geli.

“Apa?”

“Ya, kita menyembunyikan hubungan kita dari orangtua kita. Kupikir mereka akan baik-baik saja jika kita memberitahu mereka bahwa kita sudah saling mengenal sejak awal,” jawab Luhan panjang lebar. Heesa terkikik geli.

“Itu benar. Dan mengapa kau tidak memberitahu mereka?” tanya Heesa sambil menolehkan kepalanya pada Luhan sembilan puluh derajat, dan Luhan juga melakukan yang sama sehingga kini mereka bisa saling menatap satu sama lain.

“Itu karena.. sepertinya jalur ini lebih menyenangkan.”

“Jalur ini?”

“Ya, sembunyi-sembunyi. Just like.. backstreet?”

Heesa tertawa terbahak lalu memukul Luhan dengan tangan yang bebas, namun tangannya dengan cepat dipegang oleh tangan kiri Luhan. Heesa tercekat.

Luhan melepaskan tautan jemarinya lalu menjadikan tangan kanannya sebagai penyangga kepalanya. Kini tubuh dan wajahnya menghadap pada Heesa dengan tangan kiri yang masih menggenggam tangan kanan Heesa.

“Coba rasakan ini.” Luhan meletakkan tangan Heesa di atas dadanya. Dan pipi Heesa terlihat bersemu merah meskipun lampu di kamar itu padam dan hanya diterangi oleh secercah cahaya bulan. “Kau merasakannya?”

Seperti tersihir sesuatu, Heesa tidak bisa menjawab pertanyaan Luhan. Ia hanya menatap mata Luhan dengan tatapan polosnya.

Luhan terkikik geli. Ia memencet hidung Heesa untuk menyadarkannya. Heesa mengerjapkan matanya sekali lalu menatap Luhan malu.

“Ah, maafkan aku..”

“Haha.. ada apa denganmu, Heesa?” tanya Luhan sambil berusaha meredakan tawanya. Heesa menatap Luhan kesal lalu meleletkan lidahnya.

Setelah itu, Luhan mengelus pipi Heesa lembut, membuat Heesa melted karenanya.

“Kau tahu mengapa jantungku berdebar cepat seperti ini?” tanya Luhan, kini ia memainkan rambut Heesa.

“Apakah harus?” tanya Heesa berusaha menutupi salah tingkahnya. Luhan tertawa kecil lalu mencubit pipi Heesa gemas.

“Setiap aku berada dekat denganmu, jantungku selalu seperti ini, berdegup dengan cepat. Dug dug dug..” ucap Luhan mempraktekan degupannya dengan ucapan. Heesa tertawa geli. “Itu karena aku melihat matamu, hidungmu, hidungmu.. semuanya terlihat indah bagiku..”

“Kau jangan merayuku..”

“Aku sedang tidak merayumu. Aku serius tentang pengungkapan ini,” ucap Luhan sambil tersenyum lembut. Heesa terdiam, namun beberapa detik kemudian ia tersenyum.

“Arasso, kau berhasil mendapatkanku malam ini,” ucap Heesa sambil bangkit dari tidurnya kemudian berdiri. Ia menarik tangan Luhan untuk membuatnya berdiri juga. “Tetapi kau harus pulang ke kamarmu dan tidur. Kau tidak ingin kita tertangkap basah dalam satu kamar, bukan?” tanya Heesa sambil menarik Luhan ke pintu. Luhan tertawa lalu menarik yeoja itu ke pelukannya.

“Arasso..” Luhan memeluknya erat, sangat erat. “Tidurlah yang nyenyak.”

“Hm,” jawab Heesa singkat sambil membalas pelukan Luhan. Setelah sekian detik mereka seperti itu, akhirnya Luhan melepas pelukan itu dan berjalan keluar kamar lalu menutup pintunya.

Dengan senyum yang menghias bibirnya, Heesa merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, menenggelamkan wajahnya pada bantal dan membiarkan rasa bahagianya menguasainya malam ini.

***

Esok paginya, Heesa dan Luhan sudah bersiap untuk berangkat ke kampus, hari ini adalah hari terakhir belajar mereka karena lusa akan diadakan ujian semester. Setelah berpamitan, mereka pun segera menaiki motor yang Luhan kendarai.

Ketika Luhan mengendarai sampai pagar, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Kaca mobil itu perlahan terbuka, dan akhirnya terlihatlah siapa pemilik kendaraan itu.

“Kai?”

“Heesa?”

Seolah terjepit antara dua keadaan, Luhan hanya diam dan memandangi mereka bergantian.

“Luhan?” tanya Kai yang akhirnya beralih pada Luhan. Luhan bersyukur karena ia tidak menjadi cameo disini.

“Hm?”

“Kau menjemput Heesa?” tanya Kai, lebih tepatnya menginterogasi. Luhan menganggukkan kepalanya.

“Mulai dari sekarang dan seterusnya,” jawab Luhan. Kai mengerutkan keningnya.

“Maksudmu? Kau.. kapan kalian resmi menjadi..”

“Ah! Bukan itu!” sanggah Luhan sebelum Kai salah paham. “Orangtuaku dan aku kini tinggal di rumah Heesa untuk beberapa minggu. Jadi otomatis kami akan berangkat bersama tiap harinya.”

Ups.

Atau mungkin penjelasan Luhan membuat salah paham Kai semakin besar. Heesa memberenggut dipunggung Luhan, tidak ingin menatap ekspresi Kai yang seperti menuduhnya.

“Luhan, ayo berangkat,” bisik Heesa yang cukup terdengar. Luhan mengangguk.

“Arasso. Kai, aku duluan.”

Luhan segera menancap gasnya. Sedangkan Kai hanya menatap kepergian mereka semakin menjauh dan menjauh.

*

Sepulang sekolah, tanpa mengantar Sera pulang Kai segera melesat menuju rumah Heesa. Setelah sampai, ia segera memarkirkan mobilnya di halaman rumah Heesa. Ia melihat motor Luhan sudah terparkir disana, dan ia yakin mereka sudah berada di dalam rumah.

Kai memijit bel pintu rumah satu kali. Dan tidak lama kemudian pintu terbuka, ternyata Mama yang membuka.

“Mama..”

“Kkamjong!” Mama memeluk Kai dengan erat, sehingga Kai mau tidak mau membalas pelukannya. “Apa kabar, Kkamjongie?”

“Baik, Mam,” jawab Kai santai. Mama tersenyum bahagia.

“Ah, kau mau masuk? Ada Heesa di dalam..”

“Tidak, Mam. Aku kemari hanya ingin bertemu Mama,” tolak Kai. Mama tersenyum. “Ah ya, Mam. Kata Heesa dirumah ada yang menginap..”

“OH IYA! Itu rekan kerja Mam dari Cina. Karena sebelumnya juga selama Mama di Cina, Mama menginap dirumah mereka, Kkamjong,” jawab Mama panjang lebar. Kai tersenyum kagok. “Ah ya! Dan mereka mempunyai anak laki-laki, dia juga ikut menginap disini, “ lanjut Mama, membuat Kai mendengus kasar. “Oh, dan kau tahu? Sini, Mama bisikkin..”

“ Heesa dan anak rekan kerja Mama itu rencananya akan kami jodohkan..” bisik Mama terlalu pelan, namun Kai mendengarnya dengan jelas.

Dijodohkan?

“Bagaimana?” tanya Mama lagi sambil menepuk lengannya. “Kau harus membantunya, Kai. Dan nanti jika kau menikah, Heesa juga pasti akan membantumu. Dan kalian tentu saja harus seperti itu karena kalian sahabat dari kecil, bukan begitu?” tanya Mama meminta persetujuan. Dengan tatapan kosong Kai tersenyum terpaksa.

“Tentu, Mam. Aku akan membantunya.”

“Bagus, Kkamjong! Kau memang sahabat Heesa yang paling baik dan bisa diandalkan!” uca Mama sambil memeluk Kai. Kai balas memeluk Mama, namun, sangat jelas terlihat dari raut mukanya bahwa Kai sangat tidak suka. Dan Mama tidak menyadari hal itu.

*

Kai sudah meminum sepuluh botol minuman. Pandangannya sudah tidak fokus lagi, dan jalan pikirannya sudah berantakan. Ia duduk di atas sofa dengan tangan yang memegang botol dan kepala yang menengadah. Ia merasa pusing.

“Aarghh.. Heesa..”

Kai meneguk minumannya lebih rakus, ia membiarkan alkohol itu menguasai dirinya. Ia tidak peduli sudah memecahkan barang-barangnya dirumah, lagipula orangtuanya jarang berada dirumah.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dengan dalam keadaan mabuk Kai terpaksa mengeluarkan ponselnya dari saku lalu mengangkat telepon itu tanpa melihat siapa yang memanggilnya.

“Kaaaai!! Kau berada dimana sekarang? Aku merindukan..”

“Sera?” tanya Kai disela-sela mabuknya. Bibirnya tersenyum kecil. “Sera.. kau merindukanku?” tanya Kai dengan tawa kecil di akhir. Sera mengerutkan keningnya, sepertinya kondisi Kai tidak baik-baik saja. “Datanglah ke rumah..”

Tanpa meneruskan percakapan itu lagi, Sera segera melajukan mobilnya ke rumah Kai dengan perasaan khawatir.

*

“Kai? Kai? Dimana kau?”

Sera melangkah memasuki rumah Kai. Ia mencium sesuatu yang.. tidak biasa. Seperti bau alkohol. Bau itu menyeruak dalam penciumannya.

Ketika ia memasuki ruang tengah, Sera terkejut ketika ada yang membungkam mulutnya dan merangkul pinggangnya dari belakang. Dan itu ternyata Kai.

“Seraa.. aku sudah lama menantikanmu. Mengapa kau lama sekali, hm?” tanya Kai mabuk dengan suara paraunya. Sera melepaskan tangan Kai dari mulut dan pinggangnya lalu menatap namja itu tajam.

“Mengapa kau mabuk, Kai? Ada apa denganmu?” tanya Sera khawatir. Kai hanya tersenyum lalu berjalan menuju sofa dan duduk di atasnya.

“Kemari, Hon. Ayo, duduk disampingku..”

Dengan rasa takut Sera berjalan mendekati Kai lalu duduk disampingnya. Dengan gerakan lambat Kai merangkul bahu Sera lalu mencium pipi yeoja itu.

“K..Kai.. apa yang kaulakukan?” tanya Sera gelagapan. Jujur ia sangat takut pada Kai.

“Hm? Apa yang kulakukan?” Kai tertawa. “Aku kekasihmu, Sera. Apakah salah aku menciumu, hm?”

Sejurus kemudian Kai mencium pipi Sera lagi. Sera tidak bisa mengelak karena kini tangan Kai merangkul bahunya dengan kuat dan menahan dagunya agar Sera tidak bisa memalingkan wajahnya.

Kai memaksa Sera agar menatap padanya. Dan setelah itu Kai mengecup bibir Sera, kemudian dagu, lalu leher..

“Kai.. kumohon..”

Sera tidak bisa menghindar setelah Kai berada di atasnya..

Whatever will be.. whatever.

**

Lagi-lagi Luhan berada dalam kamar Heesa. Kini mereka tengah berdiri berhadapan disamping ranjang.

“Heesa, mulai dari besok kau harus belajar bersama denganku. Aku tidak ingin ada alasan apapun, aku hanya ingin kau selalu bersamaku dari hari ini sampai hari kedepan..”

“Iya, Luhan. Please jangan berubah menjadi cerwet seperti ini,” potong Heesa sambil membungkam mulut Luhan. Luhan tertawa geli, kemudian ia menjilat kecil telapak tangan Heesa sehingga yeoja itu menjerit. “Ya!”

“Mwo? Hm?” tantang Luhan sambil menengadahkan kepalanya. Heesa meringis kesal.

“Yasudah, cepat kembali ke kamarmu. Atau kaumau kuusir sekarang juga..”

Luhan tertawa geli. Beruntunglah sinar bulan masih bisa menerangi kamar Heesa yang gelap itu, well, kini ia bisa melihat ekspresi Heesa yang menggemaskan.

“Arasso, arasso. Tapi, Heesa..”

“Apa?”

Dengan tatapan nakal Luhan menarik Heesa ke dalam pelukannya. Tangannya merangkul pinggang dan leher Heesa dengan pas. Heesa menengadahkan kepalanya untuk menatap Luhan.

“Aku ingin berciuman denganmu sebelum tidur..”

“Ya! Andwae! Kau yadong! Aku tidak mau!” berontak Heesa, namun sia-sia karena posisi itu sudah mengunci Heesa.

Dengan perlahan tapi pasti Luhan mencium kedua pipi Heesa, kemudian ujung hidungnya, kemudian keningnya, dan ciuman itu turun menuju..

“Aw!”

“Rasakan. Cepat kembali ke kamarmu atau aku akan mencubitmu seperti tadi,” ancam Heesa sambil melihat Luhan yang tengah meringis kesakitan. Lama-lama Luhan tertawa lalu merengkuh yeoja itu sepenuhnya.

“Sepertinya aku akan merindukanmu malam ini,” ucap Luhan sebelum melepas pelukannya. Heesa tertawa lalu meleletkan lidahnya.

“Good night,” ucap Heesa sebelum Luhan menutup pintu. Luhan mengedipkan sebelah matanya.

“Good night.”

Setelah Luhan benar-benar menutup pintunya dengan rapat, seperti malam sebelumnya Heesa segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu menenggelamkan wajahnya pada bantal.

“Huaaah Luhaan.. mengapa kau menciumku bertubi-tubi seperti tadiii.. andwae andwae!” teriak Heesa senang, kemudian ia tertawa geli karena tingkahnya sendiri.

Tiba-tiba ponsel Heesa berbunyi. Dengan cepat ia mengambil ponsel itu lalu melihat siapa yang memanggilnya.

Hmm, nomor tidak dikenal? Guess who..

“Yoboseyo?”

“Heesa?” tanya penelepon dari seberang sana. Suara seorang yeoja.

“Ya, ada apa?”

“Ini Sera.. bisa kau keluar sebentar? Aku sudah berada di depan rumahmu.”

Heesa mematung. Sera? Berada di depan rumahnya sekarang? Apa yang ingin ia bicarakan dengan Heesa malam larut seperti ini?

“A..arasso. Tunggu sebentar.”

Heesa mematikan ponselnya lalu menyimpannya di atas meja. Ia segera memakai mantel miliknya lalu berjalan keluar kamar.

 

“Sera?”

Heesa semakin merapatkan mantelnya ketika udara malam menghembus padanya perlahan. Sera menghadapkan tubuhnya pada Heesa lalu tersenyyum padanya.

“Apa.. aku mengganggumu, Heesa?” tanya Sera dengan suara paraunya. Heesa melihat heran pada Sera, karena wajahnya pusat pasi. Ia terlihat.. tidak baik-baik saja.

“Tidak, Sera.. memangnya ada apa? Ini sudah hampir tengah malam, kau tahu..”

“Mian..” sela Sera. Kepalanya tertunduk ke bawah. “Maafkan aku jika aku mengganggumu.”

“Ah..ti.. tidak. Kau sama sekali tidak mengganggu. Lagipula aku belum mengantuk,” elak Heesa. Sera menatap Heesa lalu tersenyum.

“Ah, ya. Orangtua Luhan oppa dan Luhan oppa tinggal dirumahmu, bukan begitu?” tanya Sera sambil melangkah mendekati Heesa. Heesa tersenyum kagok.

“Ah, nde..”

“Kau harus berhati-hati padanya, Heesa. Dia selalu membuat kesal ketika masih berada dirumahku. Luhan oppa adalah pembuat ulah,” ucap Sera memperingatkan, lalu ia tertawa. Mau tidak mau Heesa ikut tertawa.

“Arasso. Aku bisa mengatasi itu.” Heesa tersenyum pada Sera, dan Sera tersenyum juga. Namun senyum itu..

“Mmmm, Heesa?”

“Ya?”

Sera berjalan mendekat pada Heesa. Kini raut mukanya berubah seratus delapan puluh derajat. Ia terlihat sangat sedih.

“Ada apa, Sera?” tanya Heesa khawatir. Dengan satu gerakan Sera memeluk Heesa, kemudian menangis tertahan dibahunya.

“Heesa.. mi.. mianhae.. aku selalu berbuat kesalahan padamu selama ini..”

“Tunggu, Sera. Apa yang terjadi?”

“Maafkan aku, Heesa. Maafkan aku..”

Heesa balas memeluk Sera. Ia menepuk punggung yeoja itu, berusaha menenangkannya.

“Apapun kesalahan yang kaumaksud itu, aku memaafkanmu, Sera. Tentu saja..”

Sera semakin menangis dan mempererat pelukannya. Heesa seperti merasakan perasaan Sera sehingga Heesa membalas memeluknya erat.

Akhirnya pelukan mereka berakhir. Heesa melihat wajah Sera lalu menyusut air matanya.

“Ada apa denganmu, Sera? Jujur, aku masih tidak tahu mengapa wajahmu pucat dan.. kau menangis seperti tadi. Aku..”

“Kai..”

Heesa tersentak ketika mendengar nama itu. Sera menggenggam lengan Heesa kuat, sampai Heesa merasakan laju darahnya tersumbat.

“..ada apa kau dengan Kai? Apa ia mengakhiri hubungan kalian?” tanya Heesa khawatir. Sera menatap Heesa, kemudian tangisannya merebak kembali.

“Kai.. dia.. melakukannya padaku..” ucap Sera lirih dengan sesenggukan tangisannya. Heesa mengerutkan keningnya dalam. Melakukan? Melakukan apa?

“Melakukan apa, Sera? Apa dia menyakitimu?” tanya Heesa khawatir.

Kepala Sera tertunduk lemas. Ia membiarkan air matanya mengiliri pipinya bertubi-tubi.

“Dia.. melakukannya padaku, Heesa. Dia mabuk, dan dia memaksaku..”

Heesa tercengang. Heesa tidak mampu berkata apapun ketika ia mengerti apa yang dimaksud Sera.

Ketika itu Luhan datang menghampiri Sera dan Heesa. Alisnya mengkerut dalam karena ia melihat tatapan kosong pada mata Heesa dan Sera. Luhan berlari kecil mengampiri mereka.

“Heesa? Sera? Ada apa..”

“Luhan, kutitipkan Sera padamu.”

Setelah Heesa memberikan lengan Sera pada Luhan, Heesa segera berlari ke arah rumah Kai yang hanya terpisah beberapa meter dari rumahnya.

Dan Sera hanya tersenyum tipis.

 

TBC :p

………………………………………………………………………………………………………….

seperti yang saya janjikan, saya publish lanjutan electric dengan cepat, HAHAHAHAHAHA

dan ini cerita sangat GILA! aku nulisnya dengan tanpa kesadaran! dan ketika aku membacanya kembali, aku berpikir.. readers bakalan suka ga ya? soalnya ini sedikit… HAHAHAHA #oh God forgive me, i still under age.

okaaay enjoy read ya kawan2!!

leave a comment!

LOPYAAAH :*

……………………………………………………………………………………………………………

46 thoughts on “ELECTRIC [ CHAP 9 ]

  1. sukaaaaaaaaa , psti sera merencakana sesuatu tuh ._.

    jdi smkin suka sama crtnya , lanjutt minnn . lbih stju hessa sama luhan deh kayanya , soalnya dapet aja chemistrinya >< :D

  2. Tgu, curiga sera jahat deh..
    Jgn jd jahaat dong, org baek aja jd makin angst dan miris crta na, sma2 teraniaya*plak

    Aduuh, s kai bnran tu ama sera ato ga??
    lanjut thoor, pnasaran akut ni..

  3. kai ngapain seraaaaaa???
    andweeeeee ga muksiiinnnn kai kaya bgtuuuuuu….
    thorrrr plisssss kai jgn apa2innn seraaa…
    semabuk2nya kai,,kai ga bgtuuuu ko…#LHO…..?
    kai is a good boyyy…
    mskpun ending nya ga sama kai,,,,tp kai jgn apa2in sera di crita ini…
    plisssss thorrr

  4. huaaaaaah part ini sungguh gantung-_- penasaran ini baget banget authooor. aduh itu ngapain sih, otakku udah campur aduk mengira-ngira lanjutnya gimana wkwk
    hayooo jgn lama lama ya author lanjutnya, semangat kaka! ^^

  5. Yeyeye! Cepet banget! Ah, joa, joa! Suka!

    Mau ngapain lg itu si Sera. Si Kkamjong ga ngapa2in Sera kan? Asli lah, tdnya udah seneng Sera minta maaf ke Heesa. Aku bahkan terharu. Iba jg ke Sera. Khawatir bisi si Sera di apa2in ku si Kkamjong. Eh tapi di akhir, “Dan Sera hanya tersenyum tipis.” JLEB!! Asa tertipu. Chen mana Chen. Pinjem petir Chen, buat nyamber si Sera щ(ºДºщ)

    Yosh! Next chap publisnya cepet lg ya kaya chap ini? ;)
    Skehehehe~

  6. gotcha! bener kan si heesa sama luhan dijodohin hahaha saya emang gak pernah salah :D hah demi apa bungah pisan iyeu ningali scene heesa sama luhan awawaw semacam wanita penggoda sih eta si sera sumfeh! udahlah si kai ntar tanggung jawab sama sera, trus heesa nikah sama luhan, punya anak, hidup bahagia di china ψ(`∇´)ψ keep writing imaaaa♥

  7. Hah, cepet bgt publishnya, aku smp telat nih T^T wah, luhan sm heesa serumah kan enak, bs lebih deket lg *apa ini!?* wkwk, maksudnya bagus, luhan ma heesa nikah aja udah! Biarin kai cr org lain, sera kek sapa kek *dibakar* wah, sera makin krg ajar nih *panggil yeollie bakar sera* wkwk, keep writing thor! ^^

  8. Aaaaa~~~~
    suka suka suka.
    Chapter ne cepet di publish.
    Makin SUKA kalo chapter selanjutnya dah di publish,
    hehe
    Semangat Thorrr
    lanjut~~~~

  9. Heesa ke rumah Kai mau ngapain? awas nanti malah giliran Heesa yang di ‘ituin’ sama Kai /plak/ #yadongkumat
    Masalah Luhan-Heesa udah lancar. tapi, karena ada kai yang menghalangi jadinya makin ribet -,-
    Min, part selanjutnya cepat pablis yaaaa.
    oh iya, kalo mimin Shin Heera kemana? FF Pulchritude masih sakit TBC-kah??

  10. authooooooooor……love banget deh <3 ceritanya bagus…kayanya author berbakat buat bikin novel deh.ayo thor kalo bikin novel,nnt gw beli deh.

  11. Shock!
    Ini beneran gaksih kai kaya gitu ke sera?
    Sumpah thor ceritanya bikin penasarraan >.<
    Next chap jgn lama2 ya thoor ;;)

  12. aduh ehmm ehhmmmm apa yah ini senyum senyum sendiri pas adegan Luhan sama Heesa di tmpat tidur yg Luhan ngeliatin heesa aaaaaakhhhh author aduh uhmmm /pipi panas/ *stress*
    ini cerita bagus pisan deeeeh, aduh tolong itu si Sera errrr semoga senyum tipisnya bukan senyum jahat T_____________T щ(ºДºщ)
    ayo thor cepet lanjut hihihi :***

  13. Unbelievable -_- sera minta di jambak ahhhhhhh kesel bgt liatnya ga mungkin kai do it!!!!!! :s lanjut thor di tunggu bgt ;____; dan perjodohan itu -_- *speechless* luhan seneng dahh -_- wkwkwkwkk maunya kai sama heesa ._.V ehehehehehe lanjut lanjut hwaiting! ^^

  14. aahh lemes author lemeeeesss..
    ituu luhan nakal bgt gyahahaha :D
    dan itu ih saya semakin gasuka sama sera. iiihh licik bgt sih -_____-
    pasti dia pnya rencana jahat tuh ck!
    aaahh authoor penasaraann >,<
    kaaiiii omona aku padamu <3

  15. WAAA!!! Lemes waktu bagian luhan sama heesa….

    Curriga kalau sera ada niat jahatnya nih..
    Pengennya heesa sama luhan ajaaa!!!!!!
    Next part secepatnya ya thor

  16. Omona :o Luhannya frontal bnget, trus eomma nya Heesa juga, sumpah itu kai nya pasti nyesekk :3
    Kyaaa!! Kai gila! bisa2nya dia ngey*d*ng*n Sera dlm :3 trus kok Heesanya pake nyusulin kai sih? ntar klo Heesa nya juga diy*d*ng*n gmana?? :o Andwe!!
    FF nya daebak! :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s