ELECTRIC [ CHAP 8 ]

ELECTRIC Author: Shin Heesa Cast:

  • EXO
  • Kim Heesa

Disclaim: Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku. Ps:

  • Don’t be silent reader

Don’t copy – paste my imaginations!!

(Author POV)

Kai menangkupkan kedua telapak tangannya dipipi Heesa dengan lembut, lalu menatap yeoja itu dengan sungguh-sungguh.

“Aku mencintaimu, Heesa..”

Heesa tertegun. Lebih tepatnya tercekat. Apa ia.. tidak salah dengar?

“Maukah kau menjadi kekasihku?”

Heesa benar-benar mematung. Bibirnya terkunci, pikirannya berhenti memproses seluruh kata-kata yang Kai ucapkan, namun tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal dari matanya dan hendak memaksa keluar. Ya, air matanya. Ia kini menangis, entah mengapa, namun kini ia hanya ingin melakukannya.

Setelah beberapa lama, Heesa tidak membalas perkataan Kai juga. Akhirnya Kai merengkuh yeoja itu ke dalam pelukannya.

“Heesa, maafkan aku..”

“Tidak, Kai. Kumohon biarkan aku mencerna semuanya..”

“Hm,” kali ini Kai tersenyum. Artinya Heesa akan mempertimbangkan apa yang ia katakan. “Aku akan menunggu.”

Setelah kesadaran Heesa pulih, akhirnya ia mengangkat bicara. “Kai, jika kau memintaku untuk menjadi kekasihmu, itu tidak mungkin. Kau sudah memiliki Sera..”

“Jangan membawa nama itu..”

“Dengarkan aku.” Kai mengangguk, dan semakin mempererat pelukannya. “Kau harus memikirkan perasaannya, juga perasaanku, Kai. Dan.. aku tidak mengerti mengapa kau mengatakan bahwa kau mencintaiku dengan percaya diri seperti itu.”

Kai tertawa sebelum berkata, “Aku tidak percaya diri, Heesa. Aku tahu kau juga mencintaiku. Aku sangat mengetahuinya.”

Heesa membelalakkan matanya, namun sesaat ia mengontrol ekspresinya kembali. “Personal disorder.”

“Sewaktu kau mabuk,” ucap Kai cepat, membuat Heesa memfokuskan pandangannya pada Kai dan menunggu kelajutannya. Sewaktu mabuk? Apakah Heesa pernah mabuk? Atau.. jangan-jangan karena minuman yang Sera berikan padanya?

Kai menarik nafas lalu tersenyum kemenangan sebelum melanjutkan. “Kau menceritakan seluruhnya, semua apa yang kau rasakan padaku.. tentang kau mencintaiku, kau menyayangiku, tentang kau tidak suka jika melihatku dengan Sera. Everything. Kau mengatakannya dengan jelas, Heesa.”

Heesa memejamkan matanya erat. Ia merasa malu. Memangnya apa saja yang ia katakan pada Kai sehingga namja ini memberi perlakuan yang berbeda seperti tadi pagi? Apakah sebuah pengungkapan seperti yang Kai katakan? Jika iya, Heesa merasa sangat malu. Sangat. Dan sungguh, jika Heesa bertemu dengan Sera nanti, Heesa akan menghabisi yeoja itu ditangannya.

“Itu karena aku sedang mabuk, Kai. Kau tahu orang mabuk selalu berkata yang tidak-tidak..”

“Benarkah? Lalu bagaimana dengan Dio yang ketika ia mabuk ia selalu mengeluarkan dengan sejujur-jujurnya apa yang ia rasakan padamu? Lalu bagaimana dengan pengungkapan Kris ketika mabuk  bahwa ia selalu tidur dengan boneka beruang berwarna merah muda? Dan Tao yang..”

“Kai! Cukup!” teriak Heesa cukup keras sehingga Kai menghentikan penjelasannya. Heesa menarik nafas panjang lalu menatap wajah namja itu dengan seksama. “Arasso, Kai! Kau menang dariku! Kau bisa menyimpulkan perasaanku dengan pengungkapan mabukku kemarin,” ucap Heesa akhirnya, pasrah. “Tidak ada lagi yang perlu kusembunyikan darimu.”

Kai tertawa kecil. “Jadi..”

“Tidak. Meskipun kau sudah mengetahui bahwa aku.. uh, mencintaimu, tetapi tetap tidak ada yang berubah. Dengar, jika kau ingin memilikkiku, dan memiliki Sera.. kau harus adil. Dan kurasa kau tidak bisa melakukannya.”

Kai mendengus seperti anak kecil. “Ayolah, Heesa.. aku berjanji aku akan menyayangimu..”

“Ya, menyayangiku layaknya kepada seorang sahabat, Kai. Meskipun aku sudah memberitahumu.. semuanya, hubungan diantara kita tidak akan ada yang berubah. Kita tetap sahabat,” jawab Heesa pasti. Kai menarik nafas panjang lalu melepas pelukannya agar bisa melihat wajah Heesa.

“Tetapi aku tidak akan menyayangimu seperti seorang sahabat. Aku akan menyayangimu seperti aku menyayangi Sera.”

Heesa menarik nafas panjang lalu tersenyum pasrah. “Lakukanlah sesukamu. Yang penting aku menganggap di antara kita tidak ada yang berubah.”

Kai tersenyum manis. “Dan aku, mulai dari sekarang, kau akan kuanggap sebagai kekasihku.”

Heesa menatap Kai malas. “Arasso. Terserah padamu, karena aku tidak akan beranggapan seperti itu.”

Setelah itu, Heesa berjalan lebih dulu menaikki tangga. Kai menyusulnya di belakang lalu merangkul pinggangnya.

“Ayo kita tidur.”

“Kau tidur di sofa.”

“Shireo. Aku ingin tidur bersamamu, chagi~”

“Jangan memanggilku seperti itu!”

“Mengapa? Aku menyukainya.”

“Aku tidak.”

“Ah lupakan. Yang terpenting aku tidak akan membiarkanmu kedinginan malam ini.”

Kai menggendong Heesa dengan kedua tangannya lalu berjalan cepat menuju kamar dengan Heesa yang memberontak dan menjerit dalam gendongannya, namun Kai tidak peduli.

Setelah masuk ke dalam kamar, Kai menutup pintu itu rapat dan segera menguncinya.

***

Heesa berjalan di lorong kampus pada pagi hari itu, dengan perasaan.. yang tentu saja bahagia. Dan ia sendiri pun tidak tahu mengapa ia bisa merasa sebahagia seperti ini.

Apa mungkin karena sejak tadi pagi Kai memperlakukannya layak seorang putri?

See. Kai mengelus pipi Heesa lembut untuk membangunkan yeoja itu dari tidurnya, dengan Kai yang masih memeluk Heesa dalam posisi baring mereka. Dan setelah itu Kai membuatkan sarapan –bukan sereal lagi, tetapi roti panggang dengan selai coklat kacang yang terasa sangat lezat dilidah Heesa. Setelah itu Kai membiarkan dirinya memakaikan sepatu untuk Heesa.. dan segalanya. Kai sengaja memanjakan Heesa sepanjang pagi tadi, dan Heesa tidak pernah melupakan untaian kalimat yang Kai ucapkan sebelum benar-benar pergi untuk menjemput Sera.

“Heesa, asal kau tahu. Aku telah menganggapmu sebagai kekasihku, mulai dari malam tadi. Kau tidak perlu membalasnya jika kau tidak mau. Tetapi.. aku tulus. Aku menyayangimu..”

Setelah itu Kai mengambil kedua tangan Heesa dan mengecupnya. Tanpa sadar Heesa tersenyum tulus, dan seketika ia melupakan kedudukan Sera sebagai kekasih Kai. Ia melupakan semuanya, tetapi tidak satu hal..

Tiba-tiba Heesa merasakan sebuah tangan menyusup kedalam jemarinya dan menggenggamnya dengan pas dan nyaman. Ia melihat siapa yang melakukannya, lalu ia tersenyum lebar.

“Pagi, Heesa.”

“Pagi, Luhan.”

Kini mereka berjalan beriringan dengan jemari mereka yang saling tertaut nyaman. Bibir mereka sama-sama tersenyum lebar, menandakan perasaan mereka sama-sama bahagia.

Setelah sampai, seperti biasa mereka duduk di bangku favorit mereka. Dan setelah itu, mereka menatap satu sama lain, lalu tersenyum.

“Apa kabar?” tanya Luhan. Seolah tersihir sesuatu, Heesa tiba-tiba tertawa kecil, dan ia tahu tidak ada yang lucu saat ini.

“Baik. Kau?” tanya Heesa balik. Luhan tersenyum lalu mengangkat pundaknya.

“Selama kau masih berada disisku, aku akan selalu merasa baik-baik saja.” Mereka berdua tertawa.

Heesa dan Luhan tidak henti-hentinya berbincang sampai bel berbunyi. Dan suasana kelas sunyi ketika Baek sonsaengnim masuk ke dalam kelas.

“Para warga kelas musik,” ucap Baek sonsaengnim mengawali pembicaraan dan membuat semua terkikik geli karena tidak seperti biasanya Baek sonsaengnim seperti ini. “Sebelum akhir semester, seperti biasa akan ada acara angkatan, yaitu berlibur satu minggu. Dan kelas musik ini mendapatkan paket liburan ke Jaeju Island bersama kelas dance dan kelas hukum.”

Seketika semua warga kelas musik bersorak. Saking bahagianya ada yang saling berpelukan satu sama lain, termasuk Heesa dan Luhan.

“Dan..” lanjut Baek sonsaengnim dengan suara sedikit dikeraskan sehingga semua orang diam dan mendengarkan kembali. “Liburan ini akan dilaksanakan sesudah ujian. Jadi bersiaplah, arasso?”

“Nde!!” semua menjawab serempak. Dan akhirnya pelajaran pun dimulai dengan pikiran yang berkecamuk, bercampur bahagia dan tidak sabar agar segera melewati ujian.

*

Kini heesa tengah berada di taman belakang, tangannya sibuk mencorat-coret satu kertas yang kini sudah dipenuhi oleh not-not yang bermacam-macam. Ia sibuk menghafal semua not yang sudah diajarkan.

Akhirnya Heesa meletakkan kertas dan pensilnya di atas rumput. Ia merilekskan pikirannya sesaat sambil melihat ke sekitar taman. Waw, ternyata banyak juga yang berpasang-pasangan disini.

Dan mata Heesa akhirnya terpaku pada dua sosok yang kini tengah saling bertatapan penuh arti satu sama lain. Ujung hidung mereka saling bersentuhan, dan seolah dunia milik mereka berdua karena sepertinya mereka tidak peduli dimana mereka berada sekarang.

Dan mereka.. siapa lagi jika bukan Kai dan Sera.

Dan selanjutnya, oh Gosh. Heesa menutup matanya cepat-cepat dan memalingkan mukanya. Huhhh.. apa Kai gila?? Ia mencium Sera ditempat terbuka seperti ini?! Aarggh! Namja itu..

Dan sebelum Heesa sempat menangis hebat, Luhan segera datang padanya dan menghadirkan dunia baru. Hah, Luhan. Heesa sangat bersyukur karena namja ini selalu berada disampingnya.

**

“Sampai jumpa lagi besok, Heesa,” ucap Luhan dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Heesa. Heesa tersenyum.

“Yaa, sampai jumpa besok.”

“Ingat. Dua hari lagi!”

“Mwoo?”

Luhan tertawa. “Aku tidak ingin ada alasan apapun. Kita harus belajar bersama selama ujian. Arasso?”

Heesa tertawa kecil lalu menganggukkan kepalanya. “Hm, ara. Yasudah cepat pulang.”

“Hm,” gumam Luhan sebagai jawaban. Lalu dengan berni namja itu mencium pipi Heesa cukup lama, dan setelah itu ia berlari ke arah motornya dan menaikkinya. Setelah Luhan melajukan motornya jauh dari rumahnya, Heesa segera masuk ke dalam rumah. Tentu saja dengan senyum yang merekah.

Ketika Heesa mengunci pintunya, tiba-tiba ada yang menarik tangan kirinya paksa. Dan ketika ia melihat siapa yang menariknya, ternyata Kai.

Kini raut muka Kai sangat menyeramkan bagi Heesa, seperti akan menerkamnya habis dalam satu detik. Heesa meneguk ludahnya paksa ketika ia melihat sorot mata Kai.

Tanpa berbicara Kai mengusap kasar dimana Luhan mencium pipi Heesa tadi. “Mengapa namja itu mencium pipimu tepat dihalaman rumahmu, Heesa?” tanya Kai yang lebih tepatnya, menyelidik. Heesa hanya terdiam.

“Dia berhak mencium pipiku dimana pun,” jawab Heesa setelah berpikir cukup lama. Kai mengehentikan usapannya pada pipi Heesa lalu menatap mata Heesa dengan tajam. Seketika Heesa ingat saat Kai mengecup bibir Sera di taman belakang tadi, dan itu lebih ekstrim dari apa yang Luhan lakukan padanya.

“Wae?”

“Wae?” ulang Heesa lalu mendengus kasar. “Dia lebih berhak daripadamu, Kai.”

Heesa berjalan meninggalkan Kai yang masih terdiam. Satu detik kemudian Kai mengejar Heesa lalu memegang tangannya untuk mencegahnya.

“Mengapa kau marah? Seharusnya aku yang marah padamu..”

“Aku.. ah, lepaskan. Pedulikan saja Sera-mu itu.” Heesa melepas paksa genggaman Kai lalu berlari menuju kamarnya, dan ia langsung menutup dan mengunci pintunya. Ia tidak mau makhluk itu masuk ke dalam kamarnya.

Kai memejamkan matanya rapat dan menggeram marah. Ia mengacak rambutnya kasar. Padahal rencana awal ia ingin sekali mengajak Heesa bermain setelah Heesa pulang ke rumah, namun mengapa semuanya menjadi berantakan?

Heesa menghapus air matanya berkali-kali. Seharusnya Kai tidak mengatakan padanya bahwa ia mencintainya, bahwa ia menyayanginya. Atau mungkin.. seharusnya mereka tidak saling mengenal sedari dulu.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Heesa segera mengambil ponselnya lalu mengangkatnya.

“Yoboseyo..”

“Heesa! Ini Mama!”

Heesa tersenyum lebar. “Mamaaa! Mama kapan pulang?”

“Lusa, Sayang. Sabar ya, my dear. Mama sekarang akan mempersiapkan barang-barang Mam.”

“Arasso. Mam tidak lupa untuk membelikanku baju dari Cina, bukan?”

Mama tertawa. “Tentu saja. Ah ya, nanti Mama akan membawa.. umm.. rekan kerja Mama yang akan Mam perkenalkan padamu. Dan kau harus welcome pada mereka, karena.. ah ya, kau sudah menemui anak rekan Mama dari Cina? Dia sengaja datang ke Korea untuk menjagamu, Heesa.”

Heesa terdiam. Dari Cina? Siapa?

“Siapa, Mam? Aku tidak bertemu orang Cina disekitarku..”

“Masa? Padahal dia berkuliah ditempat kuliahmu juga,” ucap Mam. Backsound disana terdengar sangat ramai sehingga Mama harus berteriak untuk berbicara pada Heesa.

“Ah, sudahlah Mam. Nani saja kita bicara lagi, sepertinya Mama sedang berada ditempat ramai,” ujar Heesa akhirnya. Terdengar tawa Mama yang meledak dari ujung telepon.

“Arasso, nanti Mam telepon lagi, Dear. Bye!”

Telepon dimatikan. Heesa menarik nafas panjang dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

Ia lelah, dan ia butuh istirahat sejenak.

***

Heesa membuka matanya secara paksa. Sepertinya ia sudah tidur cukup lama. Tapi.. ah tidak. Ini masih jam sepuluh malam.

Heesa bangkit dari posisi tidurnya lalu turun dari ranjang dan berjalan menuju lemari untuk berganti pakaian. Ia mengambil daster putih yang panjangnya sampai mata kaki lalu ia memakainya setelah ia menanggalkan semua pakaiannya. Kemudian ia mengambil topi beruang besar lalu memakainya untuk menghangatkan kepalanya. Terakhir ia memakai kaos kaki tebal berbulu berwarna putih untuk menghangatkan kakinya. Hm, terasa lebih baik.

Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali, Heesa membuka pintu kamarnya lalu berjalan ke lantai bawah. Tenggorokannya terasa kering sehingga ia sepertinya membutuhkan minuman hangat untuk mengembalikan kondisi tenggorokannya.

Setelah ia berjalan sampai dapur, ia segera membuat teh susu hangat dan membawa minuman itu ke ruang tengah. Ia duduk disana lalu meneguk minumannya perlahan.

“Aaah.. enak..” desah Heesa setelah merasakan teh susu itu mengaliri tenggorokannya, kemudian ia meneguknya kembali sampai habis.

“Kau terbangun?”

Tiba-tiba Kai datang lalu duduk disebelah Heesa. Heesa menyimpan cangkir kosongnya lalu menatap Kai dan tersenyum.

“Ya. Tenggorokanku terasa kering, jadi aku terpaksa bangun,” jawab Heesa seadanya. Kai mengangguk.

Dan, okay. Jantung Heesa kini berdegup sangat cepat. Kai memakai kaos hitam dan celana tidur berwarna abu. Entah mengapa, ia terlihat seksi malam ini.

“Heesa, maafkan aku karena kejadian tadi sore. Aku merasa bersalah padamu..” ucap Kai dengan nada menyesal. Heesa tersenyum lalu menepuk pundak namja itu.

“Don’t worry, Kai. Lupakan saja,” balas Heesa. Kai tersenyum lalu mengambil tangan Heesa dan menciumnya lembut, kemudian mengusap punggung tangannya dengan ibu jarinya.

“Dan.. kau tidak berniat untuk memutuskan hubungan kita, bukan?” tanya Kai sambil tersenyum penuh arti. Heesa mengedipkan matanya berkali-kali, berusaha mencerna kata-kata Kai.

“Maksudmu.. ah, Kai! Kau tetap sahabatku, tidak ada yang berubah!”

“Ah, ayolah, Heesa.. jangan membuatku merasa bertepuk sebelah tangan denganmu..”

“Kai,” ucap Heesa sambil menempelkan telunjuknya dibibir Kai. “Aku ingin menanyakan satu hal.” Kai menatap Heesa lalu mengangguk. “Jika kau menganggap kita sebagai sepasang kekasih, aku ingin kau.. memutuskan hubunganmu dengan Sera.”

Kai membelalakkan matanya terkejut. Kemudian Kai membuka  mulutnya dan menggigit ujung telunjuk Heesa. Heesa mengaduh lalu menarik telunjuknya kembali dan mengusapnya.

“Ya!”

“Rasakan! Kubilang jangan membawa nama itu jika kita sedang berdua,” ucap Kai seperti anak kecil, ditambah ia meleltkan lidahnya pada Heesa. Heesa meringis kesal.

“Kai! Mengertilah! Jika aku memintamu memutuskan hubunganmu dengan Sera, itu artinya aku cemburu dan wajar saja jika aku memintamu untuk memutuskan hubunganmu dengan Sera!”

“Tapi, Heesa..”

“Itu artinya kau mencintainya, Kai. Maka dari itu, jangan kau mengubah status hubungan kita. Sahabat tetap sahabat,” ujar Heesa menarik kesimpulan. Kai terdiam dan menatap Heesa tajam, namun detik kemudian ia menghembuskan nafas pendek.

“Tapi aku mencintaimu, Heesa..”

“Aku juga mencintaimu, Kai. Tapi kumohon, jangan sampai keluar dari ‘batas’ sebagai sahabat,” ungkap Heesa jujur, kemudian ia memakaikan topi beruangnya pada Kai lalu mengambil ponsel Kai yang berada di atas meja. “Ayo berfoto, kita harus mengabadikan persahabatan kita, bukan?”

Akhirnya mereka berfoto. Tangan Heesa merangkul pundak Kai kemudian merapatkan kepalanya dan kepala Kai, dan klik. Heesa segera melihat gambarnya dan seketika ia mendengus kesal pada Kai karena ekspresi mukanya yang tidak bergairah.

“Kai, puhlease kau harus bergaya sedikit, okay? Ayo kita coba sekali lagi.”

Kali ini Kai yang merangkul pundak Heesa, itu juga karena Heesa yang memaksa.

“Satu.. dua.. tig… hm!”

Klik. Gambar itu pun telah diambil. Tangan Heesa yang tengah memegang ponsel Kai seketika jatuh terkulai di atas pahanya. Tangannya yang lain digenggam oleh Kai dengan erat, sedangkan tangan Kai yang lain memegang dagu Heesa kuat agar yeoja itu tidak bisa lari darinya.

Okay, they kissed.

Kai melepaskannya lalu menatap mata Heesa yang sayu. “Jika memang kau tidak ingin merubah status hubungan kita, maka biarkanlah.. this is for the last,” ucap Kai dengan suara seraknya.

Heesa menatap Kai dengan tatapan sayunya. “A.. arasso..”

Again, again, and.. again.

***

Hari ini adalah kepulangan Mama. Tentu saja Heesa sudah mengusir sahabatnya itu sebelum Mama dan Papa benar-benar menginjakkan kakinya di rumah. Dan kini Heesa sudah mendengar klakson mobil, sehingga yeoja itu berlari ke arah pintu utama dan membukanya setelah menunggu sekian lama.

“MAMAAAA PAPAAA!”

“DARLIIING!”

Kedua orangtua itu segera memeluk anaknya dengan erat, sangat erat.

“Darling, apa kabar?” tanya Mama sambil mengelus rambut anak semata wayangnya itu.

“Baik, Mam. Papa! Huah, Papa menjadi berkumis selama di Cina, haha..” canda Heesa sambil mengelus kumis papanya itu.

Papa tertawa bangga. “Sengaja Papa tumbuhkan karena Mama suka, bukan begitu?” ucap Papa sambil menyenggol sikut Mama. Mama hanya tersenyum malu.

“Ah, ya. Mama membawa rekan Mama dari Cina, dan selama mereka berlibur disini, mereka akan menginap di rumah. Is that okay, Honey?” tanya Heesa meminta persetujuan. Heesa mengangguk pasti. “Ah! Dan juga, rekan Mama ini membawa putranya juga, yang sudah lebih dulu di Korea untuk menjagamu. Dan ternyata kau belum bertemu dengannya,” ucap Mama dengan raut wajah menyesal. Heesa menaikkan pundaknya acuh.

Dan tidak lama kemudian rekan yang dibicarakan Mama itu datang. Wajah mereka sangat khas Cina, tetapi tidak berbeda jauh dengan Mama dan Papa-nya. Mereka berpakaian santai namun sopan dan elegan, terkesan tidak angkuh namun mewah.

“Annyeong haseyo,” sapa Heesa sambil sedikit membungkukkan badannya. Kedua orangtua itu tersenyum lalu ikut membungkukkan badannya.

“Ini anakmu?” tanya ahjumma Cina itu pada Mama dengan bahasa Cina. Mama menjawabnya dengan bahasa Cina juga, lalu mereka tertawa bersama. Apa yang mereka bicarakan? Heesa sangat penasaran.

Dan ketika kedua ahjumma itu berbicara, Mama menanyakan sesuatu pada ahjumma itu lalu ahjumma itu seperti teringat sesuatu. Kemudian ahjumma itu berbicara pada ahjusshi Cina dan kemudia ahjusshi Cina itu berbicara pada Papa dan kemudian mereka tertawa. Alaaaah, ada apa dengan mereka? Apakah mereka tengah melakukan permainan bisik berantai? -_-

Kemudian ahjusshi itu berjalan menuju mobil lalu membuka pintu bagian belakang. Disana ada seseorang yang tengah berbincang dengannya, dan sepertinya ahjusshi sangat memaksa seseorang itu untuk keluar karena ia menarik tangannya. Heesa berjinjit kecil agar bisa melihat siapa orang yang berada dalam mobil itu.

Seketika ia keluar. Ia berpakaian rapi, elegan namun sederhana sama seperti orangtuanya. Ia memakai t-shirt polos putih berlengan panjang dan celana jeans hitam. Orang itu.. tidak, namja itu akhirnya berjalan berdampingan dengan ahjusshi Cina itu ke arah Heesa dan yang lainnya. Setelah sampai, ahjumma Cina itu merangkul lengan namja itu lalu tersenyum ke arah Mama dan Papa, kemudian pada Heesa.

Dengan pikiran menerawang dan mulut terbuka sedikit, Heesa menunjuk namja itu lalu mengedipkan matanya berkali-kali..

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

maafkan aku yaa semuanya telat pabliiiis

aku baru beres ulangan semesteran kemudian kemah, dan okay, sejarang aku seperti penduduk afrika -_- #laporan

dan maaf kalo chapter ini kurang ngena dan pendek soalnya aku lagi nyiapin dua cerita baruu dan siap pablis sebentar lagiiii, hehehe

mafin aku ya semuaaa

lopyaaah :*

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

47 thoughts on “ELECTRIC [ CHAP 8 ]

  1. ya allah jadii kai-heesa sahabatan doang nih??
    ahh kok ga rela yaa huhuh T.T
    ya mungkin karna saya kai-heesa shipper kali ya wkwkw.

    aduh gatau mau ngomong apa -_-
    tapi satu sih ff nya selalu bagus dan slalu narik emosi pas ngebacanya.
    tapi lagilagi sbg kai-heesa shipper…ah sudahlah huhuhu luhan jg baik dan tampan kok :’)

    dan sera eeuuh bt banget pasti kisseu ama kai mulu, aaah kai kan ama heesaaaa #plak

    maaf ya author kalo komennya nyampah tp ini dr hati bgt kok hehehe :))

    oke next chap ditunggu ‘slalu’ ya :D

  2. Hua!! Bersambungnya disaat aku lgi tegang thor -_-
    Lanjut thor to chapter 9, jgn kelamaan ya thor :)
    Tiap hari aku bka blog ini, tpi nggak ada postingan bru & akhirnya muncul juga postingan terbarux :)

  3. imaaaaaaa aku butuh scene heesa sama luhan, seriusan TAT umm chapter ini menurut aku kosong ima, maaf /kejer/ tapi tapi pas scene heesa sama luhan itu selalu sukses bikin deg-degan hahaha pas bagian terakhir heesa nunjuk2 pasti ngomong ‘Lu…Lu…Luhan?’ xixixi and then sugan we si heesa sama luhan dijodohin dan hidup bahagia selamanya, ah abi nu bungah ari kitu mah hehe ff baru? main cast siapa? eh ngomong2 iyeu si baekhyun kamana? teu katingali wae, aku kangen =3= yasudaaah, segitu dulu comment dari orang keren wkakaka keep writing imaaaa ♥

  4. Yahhh.. Ini singkat sekali.. Aku udah nungguin ff ini lamaaaa..
    Eh, tapi enggak apa apa deh.. Ceritanya tetep mengena :D next chapternya ngga boleh lama lama pokoknya *bow*

  5. ya ya ya ya. Itu Luhan kan? Iya kan? Yah udah tbc lagi. Pinter bgt deh bikin reader penasaran.

    Oke, aku mulai mikir yg ngga2 sm si Kai. Coba Kris sama Chanyeol, bantu sembur si Kai pake api kalian. Errr! Emosi. Jd gini, aku tiba2 dpt pemikiran kaya gini nih: si Kai itu kalo ga salah mengartikan perasaannya sm Heesa, berarti dia dipelet sm Sera. Hm. <<oke, ini cukup random

    Ya abisnya sih dia sampe segitunya. Bilangnya cinta sm Heesa, tp ke Sera jg cinta. Pelik. Ga ngerti jalan pikiran si Kai begimana.

    Yosh! Next chap! SEMANGAAAT!!

  6. AAAAKKKKKKHHHIIIIIRRRRRRRNNNNNYYYYYYYYYAAAAAAAA ……………..
    jadi kai tu cinta ma heesa juga cinta ma sera
    maruk amat –”
    aku jadi pny saran gmn kalo heesa ma kai menjalin hub persahabatan yg ‘berbahaya’
    kai bisa ma sera dan heesa
    heesa bisa ma kai dan luhan
    jadi dpt 2 orang sekaligus masing2
    wkwkwkwkwk

  7. Haaa, akhirnya publish juga. Aku udah menunggu hampir 2 minggu lbh, pikir authornya udh ngilang pk teleportasi kai *eh
    ah, keren thor walau agak pendek kkkk~ next chapnya dipanjangin lg yah thor. Udh enak tuh lulu serumah sm heesa. >,<
    ff brnya apa thor? Cast lulu dong u,u kkk~
    keep writing thor!!

  8. akhirnya setelah author menghilang ±20 hari, datang juga ff ini. ternyata author kemah dulu ya..

    Itu ending part yang ini nanggung banget. padahal kasih tau dulu siapa namja nya baru TBC deh.. dan di part ini Luhan dikit nongolnya -_-

    FF author yang lagi dibuat itu siapa cast nya? bocorin dikit laaaaaaaah -,-
    FF-nya (yang baru) cepat pablis yaaaaaaaa ^^

  9. authoooooor suka deh sama ceritanya.lembut tp ga lebay gitu.kyaa keren banget deh thor!semangat thor bikinnya.but please……publish nya cepet dong thoooor.menunggu selalu nih.tp kalo emang stuck ya mau pegimana lg hohoho…
    selalu menunggumu thor…

  10. Jadiii~ kai sama heesa gimana nihh ga jadi pacar? :o eiii seru bgt~ tapi masa kai ga sama heesa tapi kalo sama heesa luhannya kasian :s berarti setelah kai pergi luhan yg dtg? :o lanjut lanjut >< jgn lama" yaaa ehehhehe

  11. Where have you been??
    We miss you thor…
    Welcome Back…
    Please publish quickly…
    Keep health thor…

    satu kata buat KAI —–> MARUK…
    padahal KAI bias aku thor….

  12. Teh, kenapa ya aku selalu pengen si tokohnya jadian sama orang selain kai. di sini aku lebih sreg kalo heesa sama luhan aja, di pulchritude aku lebih sreg chonsa sama chanyeol -_- #maafkanakukai

    Lanjuuuut terus teh jgn lama-lama .__.

  13. Finally you share chap 8 yeaaay~
    Aku tiap hari search chap 8 electric deh :D
    Saking gak sabarnyaa
    Kyaaa ditunggu next story chingu ^^

  14. sedihhh saat ada kata ‘last’.. nangisss sumpah:'(. author hebat deh.. sukses buat aku nangiss di malming ini:D huaaaa… itu pasti luhan iyakan?:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s