ELECTRIC [ CHAP 7 ]

ELECTRIC

Author: Shin Heesa

Cast:

  • EXO
  • Kim Heesa

Disclaim: Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Ps:

  • Don’t be silent reader
  • Don’t copy – paste my imaginations!!

…………………………………………………………………………………………………..

(Author POV)

Disamping itu..

“Kim Heesa! Yeoja itu.. awas saja. Akan kubuat kau tersiksa selama kau masih berada di dekat Kai! Urgh..”

Kim sera segera menutup pintu atap sebelum dirinya tertangkap basah bahwa sedari tadi ia mengintip mereka. Ya, kekasihnya, Kai, dengan sahabat yang paling Kai sayangi, Kim Heesa.

**

Luhan berjalan mengelilingi sekolah setelah selesai berkonsultasi dengan Baek Sonsaengnim. Ia mencari keberadaan Heesa. Ia sudah mencarinya di kelas, di taman, di perpustakaan, dimana-mana. Tetapi ia tidak menemukannya dimana pun. Kemana anak itu?

Dan ketika Luhan berpikir sejenak, ia seperti menemukan satu tempat yang belum ia cari.

Oh, atap.

Dengan harapan yang penuh akhirnya ia segera berlari ke atap, namun ketika itu..

“Luhan!”

Seseorang memanggilnya dengan suaranya yang berkesan centil. Luhan membalikkan badannya lalu menemukan Han Chaeri tengah berlari padanya. Luhan membulatkan matanya. Tidak! Chaeri tidak boleh menghentikannya untuk mencari Heesa.

“Mau kemana kau, Luhan? Aku temani?” tawar Chaeri sambil menggenggam pergelangan tangan Luhan kuat. Tanpa sadar Luhan memberontak dari genggamannya hingga terlepas. Chaeri sedikit terkejut, namun ia kembali memasang senyum manisnya.

“Kau tidak perlu tahu, Han Chaeri. Hmm.. maaf aku harus pergi.”

Dengan secepat kilat Luhan pergi meninggalkan Chaeri. Chaeri yang tidak rela ditinggalkan begitu saja oleh Luhan segera ikut menyusulnya dari belakang. Namun sepertinya tidak mungkin bisa menyusulnya tepat waktu dengan sepatu witchesnya.

*

Ketika sampai di atap, Luhan segera membuka pintu atap dan melangkah keluar. Tanpa mencari sosok Heesa lagi, matanya langsung menangkap sosok Heesa tengah bercanda dengan seorang namja. Siapa dia? Mereka terlihat sangat akrab sekali.

“Heesa!”

Tanpa berpikir panjang Luhan segera memanggil Heesa dengan suara lantang, sehingga Heesa dan Kai seketika berhenti dari perbincangan mereka.

“Ah, Luhan!”

Luhan tersenyum senang ketika Heesa memberikan senyum manisnya. Kai yang melihatnya hanya diam dan tidak berkomentar apapun.

Luhan segera berlari ke arah Heesa dan Kai. Ketika ia berada di hadapan mereka, Luhan menatap Kai dengan canggung, lalu kemudian berusaha tersenyum. Heesa yang melihatnya langsung berinisiatif memperkenalkan mereka.

“Ah ya, Luhan. Kenalkan ini Kai, temanku sedari kecil. Dan Kai, kenalkan ini Luhan. Temanku sejak dia masuk ke kelas musik,” ujar Heesa memperkenalkan masing-masing keduanya.

“Annyeong haseyo,” ucap Luhan sambil menundukkan kepalanya sopan. Kai menatapnya lempeng, lalu kemudian balas menundukkan kepalanya.

“…annyeong haseyo.”

Heesa menatap Luhan dan Kai bergantian dengan tatapan aneh, lalu kemudian tertawa canggung.

“Luhan,” panggil Heesa. Luhan memutar kepalanya sedikit untuk melihat Heesa. “Ada apa kau mencariku?”

Detik kemudian Luhan tersenyum lebar. “Ah, itu.. aku mempunyai sesuatu yang harus aku katakan padamu. Kajja! Kita harus ke kelas!”

Tanpa berpamitan pada Kai, Luhan segera menarik tangan Heesa dan mengajaknya berlari menuju kelas.

Kai menarik nafas panjang. Siapa dia? Mengapa Heesa terlihat bahagia ketika dia datang? Kai mengeluh panjang. Kini ia merasa takut jika suatu saat nanti ia akan kehilangan Heesa dari sampingnya.

**

“Luhan~ ada apa sebenarnya?” tanya Heesa sedikit kesal. Luhan menatap Heesa lalu tersenyum simetris.

“Kita harus sampai ke kelas, baru aku akan mengatakannya padamu.”

Heesa mendengus pendek. Luhan, jangan sampai kau menjailiku lagi, pikirnya. Dan akhirnya ia membiarkan Luhan terus menarik tangannya sampai kelas.

Setelah sampai, Luhan segera mendudukkan Heesa lalu Luhan ikut duduk di sampingnya.

“Ada apa? Cepat katakan padaku,” ucap Heesa tidak sabar. Luhan menatap mata Heesa lurus, lalu terkikik.

“Sebenarnya tidak ada.”

Heesa membulatkan matanya terkejut. Jadi sedari tadi Luhan menariknya seperti itu sebenarnya tidak ada apapun yang harus dikatakan? Benar-benar..

“Luhan, kau jangan bercanda..”

“Tidak! Aku tidak bercanda. Aku hanya ingin kau mengikutiku kemanapun aku pergi. Itu saja.”

“Ya! Luhan!” teriak Heesa kesal sambil mengangkat tangan kanannya, bersiap untuk memukulnya. Luhan berteriak lalu memejamkan matanya takut dengan kedua lengannya yang menutupi kepalanya, bersiap untuk menerima pukulan Heesa.

“Waaa! Jangan memukulku, Heesa! Memangnya kenapa?” tanya Luhan tanpa dosa. Heesa menurunkan tangan kanannya dan memasang mimik -..- pada Luhan.

“Kita meninggalkan Kai sendirian disana, Luhan! Kasihan dia,” ucap Heesa sambil memasang air muka sedih. Luhan terdiam sejenak, lalu mendengus kasar.

Akhirnya Luhan mengambil satu tangan Heesa lalu menggenggamnya erat. “Yasudah, biarkan saja dia sendiri. Dia bukan anak keci lagi.. iya kan? Heesa, jebal. Tetaplah disini, temani aku, arasso? Kau tahu? Sedari tadi aku mencarimu kemana-mana. Dan ketika akhirnya aku menemukanmu, masa kau akan tetap bersama temanmu itu dan mengacuhkan aku yang sudah mencarimu selama sisa hidupku. Nde? Tetaplah disini, jebal~” bujuk Luhan sambil memasang mimik muka yang menggemaskan. Heesa menatap Luhan aneh, lalu detik kemudian ia tertawa sambil mencubit pipi Luhan.

“Arasso. Tapi kau harus mempunyai alasan mengapa kau membawaku kesini dan meninggalkan Kai begitu saja..”

“Aku hanya tidak suka jika kau bersama namja lain,” jawab Luhan lebih dulu sebelum Heesa menyelesaikan ucapannya. Luhan menyengir kuda sambil mengacungkan kedua jarinya.

Heesa seketika terdiam sejenak. Ia menatap Luhan tidak percaya, lalu memukul lengannya pelan. “Ya! Bisa kau serius satu detik saja? Anni. Beberapa menit saja denganku? Kau selalu saja menganggapnya tidak serius,” omel Heesa sambil memalingkan mukanya. Luhan tertawa kecil.

Dengan sedikit paksaan Luhan memegang dagu Heesa lalu memutar kepalanya agar menghadap padanya. “Baiklah, memang ada yang harus kukatakan.”

Kini senyum kecil tersungging di bibir Heesa. Luhan yang melihatnya juga ikut tersenyum.

“Kalau begitu, ayo katakan.”

Luhan menarik nafas pendek sebelum memulai. “Begini. Aku dan Baek Sonsaengnim tadi mengobrol. Katanya bagaimana jika aku mengadakan konser tunggal ketika akhir semester nanti.”

Seketika Heesa terdiam. Entah mengapa ia merasa sakit hati ketika mendengarnya. Tentu saja, Luhan adalah murid baru. Dan baru saja dua bulan bersekolah disini ia sudah ditawari konser tunggal oleh Baek Sonsaengnim. Sedangkan dirinya yang sudah hampir satu tahun mengabdi di kelasnya sama sekali tidak mendapatkan tawaran itu.. maksudnya selama ini Heesa selalu memainkan semua alat musik dengan baik dan selalu mendapatkan pujian dari Baek Sonsaengnim sampai-sampai seluruh teman-temannya iri padanya. Tapi.. kenapa?

“Helloo~ Heesa?” Luhan melambaikan tangannya di depan pandangan Heesa. Seketika Heesa terkejut dari pikirannya, lalu ia menatap Luhan kosong.

“Kalau begitu, chukae,” ucap Heesa tanpa semangat. Bukannya senang karena mendengar kata selamat dari Heesa, tetapi Luhan malah merasa ikut tidak bersemangat sama seperti Heesa.

“Eh.. tetapi aku menolaknya.”

Heesa membulatkan matanya seketika. Ia merasa marah sekarang. Luhan juga seketika terkejut ketika melihat raut muka Heesa yang tiba-tiba berubah. “Mengapa kau menolaknya, Luhan? Konser tunggal adalah hal yang sangat diinginkan oleh semua murid kelas musik! Dan kau menyia-nyiakannya begitu saja? Apa kau pikir konser tunggal itu bukanlah hal yang harus disyukuri, hm?”

Luhan terdiam. Ia melihat sorot mata Heesa yang begitu menakutkan. Heesa tengah marah padanya, dan ia tidak tahu harus berbuat apa.

“Terserah padamu saja. Aku pergi.”

Heesa bangkit dari duduknya lalu mengambil tasnya. Lalu ia berjalan tergesa keluar kelas tanpa memperdulikan jam masuk pelajaran yamg sebentar lagi akan dimulai.

Luhan terdiam. Ini.. Heesa yang tidak mengerti atau ia sendiri yang tidak mengerti? Ia menolak konser itu karena ia tidak mau konser tunggal, tetapi ia ingin mengadakan konser itu berdua dengan Heesa. Apa ia salah?

***

Esok paginya, Heesa bangun terlambat karena semalam ia menangis hebat. Sekalipun Kai bertanya padanya mengapa ia menangis, Heesa hanya diam di dalam kamarnya dan mengunci pintunya agar Kai tidak masuk. Dan akhirnya Kai bermain PS3 di ruang tamu dan tidur di atas sofa.

Heesa merapikan bajunya segera lalu berlari cepat keluar  rumah menuju mobilnya yang terparkir rapi di depan rumah.

Yah, kajja! Heesa harus bisa melewati hari ini dengan baik. Ia harus tersenyum, meskipun ia harus, -akan bertemu dengan Luhan. Heesa harus melupakannya dan bersikap seperti biasa.

**

Heesa berjalan tergesa di sepanjang lorong dengan kepala yang tertunduk karena sibuk memperbaiki kancing cardigannya yang ternyata sulit dikancingkan ketika sedang terburu-buru seperti ini. Huah.. benar-benar baju yang merepotkan. Mengapa ia memilih setelan ribet seperti ini? Seharusnya ia tidak terlalu terburu-buru..

Bruk!

Tiba-tiba Heesa menabrak seseorang dengan keras sehingga terjatuh ke lantai. Semua orang melihatnya, lalu menertawai mereka dengan kikikkan kecil. Kini mereka saling mengusap bagian dari tubuh mereka yang terasa sakit.

“Ah..”

“Aw..”

Heesa seketika tersentak. Tunggu, suara ini..Yeoja kah? Ia menabrak yeoja? Huaah akhirnya.. ia lelah selalu menabrak namja tiap kali ia berjalan tergesa seperti tadi.

Namun ketika Heesa melihat siapa yang ia tabrak, ia tidak jadi bersyukur karena telah menabrak yeoja. Urgh, Han Chaeri.

“YA! DIMANA KAU SIMPAN MATAMU, HAH? SAKIT, KAU TAHU!” bentak Chaeri masih dalam posisi duduknya. Heesa meringis kecil lalu menatap Chaeri.

Akhirnya Heesa berusaha bangkit dari posisi jatuhnya, berniat membantu Chaeri berdiri. Tetapi aw.. sepertinya pergelangan kakinya tidak baik-baik saja karena ia sulit untuk berdiri sekarang.

“Heesa!”

Beberapa detik kemudian Baekhyun datang lalu berjongkok di samping Heesa. “Kau tidak apa-apa?” tanya Baekhyun khawatir, tanpa memperdulikan Chaeri yang juga merasa kesakitan. Heesa menggelengkan kepalanya.

“Sepertinya pergelangan kakiku tidak baik-baik saja, Baekhyun. Lihat ini.. aw.. sakit..” lapor Heesa sambil memutar pergelangan kaki kanannya pelan-pelan karena sakit. Baekhyun memeriksa pergelangan kaki Heesa sebentar, lalu membantunya berdiri.

“Kajja, kita ke ruang kesehatan,” ucap Baekhyun sambil berjalan melewati Chaeri yang tengah memelototi Baekhyun. Mengapa namja itu tidak menolongnya?

Sekilas Heesa menatap Chaeri dengan penuh maaf lalu mengikuti irama langkah Baekhyun. Chaeri semakin merasa marah.

“Ya! Baekhyun! Aku juga terluka! Mengapa kau tidak membantuku?” teriak Chaeri masih dalam posisi jatuhnya. Diam-diam Baekhyun hanya tersenyum puas.

Chaeri akhirnya berusaha bangkit dari posisi jatuhnya sendirian sambil ditertawakan oleh murid-murid yang melihatnya. Chaeri menggigit bibir bawahnya kesal.

Trililing.

Bunyi pesan Chaeri berbunyi. Ia segera melihat layar ponselnya lalu membuka pesan itu. Dari Baekhyun?

Han Chaeri, kesempatan yang bagus sekali! Terimakasih sudah memberikannya padaku. <3

Chaeri hanya bisa menggeram marah. Ia baru saja memakan rencananya sendiri.

**

Suasana taman kini terasa sangat teduh di bawah langit sore hari. Akan terasa lebih nikmat jika ditemani soda coklat atau kopi moka dingin untuk sekedar mengganjal lidah.

Kai meneguk kopinya putus asa. Ia mengacak poninya beberapa kali karena tidak tahu bagaimana cara menghadapi Sera yang kini hanya diam dan bungkam padanya.

“Sera, ayolah.. jangan seperti ini. Bicaralah padaku, hm? Akan kuusahakan menjadi pendengar yang baik,” ucap Kai dengan desahan kecil di akhir. Sera hanya menggenggam kaleng sodanya erat. Ia tidak berani menatap Kai ataupun bicara dengannya. Belum, ia belum siap. Lebih tepatnya, hatinyalah yang belum siap.

“Chagi~ jangan membuatku bingung. Kau tahu? Aku frustasi menghadapi kau yang diam seperti ini. Ayolah, bicara padaku. Kumohon..” pinta Kai lagi, kini emosinya mulai naik perlahan, namun ia tetap mengatur nada suaranya agar tidak terdengar marah. Tetapi, bagaimana Kai tidak merasa kesal? Sera tetap seperti itu. Diam, dan tidak melihat ke arahnya. Ada apa dengannya? Apakah ia marah? Jika iya, karena apa?

“Kim Sera. Baiklah jika kau tidak mau menceritakannya padaku. Tapi jangan mendiamkanku seperti ini! Kumohon. Kau membuatku bingung dan seperti orang bodoh yang tidak tahu harus berbuat apa,” ucap Kai semakin emosi. Halisnya mengkerut karena menahan marah. Sera yang sedari tadi diam, akhirnya ia memberanikan melihat Kai.

Seketika pandangan mereka bertemu dan terkunci. Sera menghela nafas panjang sebelum mengatakan sesuatu pada Kai.

“Kai, sebelumnya.. aku hanya ingin tahu. Ada apa sebenarnya antara kau dengan Kim Heesa?”

Kai terdiam. Ia berpikir sejenak, lalu menjawab pertanyaan Sera. “Aku dan dia adalah teman sedari kecil. Memang kenapa?”

Sera memejamkan matanya rapat. Pantas saja mereka terlihat begitu dekat, ternyata mereka berteman sejak kecil.

“Lalu bagaimana perasaanmu padanya?” tanya Sera lagi, dan kini sukses membuat pikiran Kai buntu sesaat.

Perasaannya pada Heesa?

Memangnya bagaimana perasaannya pada yeoja itu?

Jika ia menjawab yang sebenarnya..

“Aku menyayanginya,” jawab Kai tanpa sadar. Sera tercekat mendengar jawaban Kai. Dan Kai yang tersadar akan jawabannya segera menggelengkan kepalanya. “Ah.. anni.. kau jangan salah paham. Aku menyayanginya karena kita adalah teman sejak kecil. Aku sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Kumohon kau jangan salah paham, Sera..”

“Lalu bagaimana perasaanmu padaku? Apakah kau lebih menyayangi Heesa dibandingkan denganku?” tanya Sera terasa bertubi-tubi ditelinga Kai. Kai terdiam lalu menghembuskan nafasnya sekaligus.

“Sera, kumohon. Kau jangan bertanya seperti itu. Cara aku menyangimu dan menyayanginya berbeda. Aku menyayanginya sebagai saudara, dan aku menyayangimu karena aku tulus mencintaimu,” jawab Kai penuh dengan kesungguhan. Matanya menatap mata Sera tajam, lalu ia menggenggam tangan kanan Sera dan mengecupnya singkat. “Kau harus percaya padaku, Sera. Kau jangan berpikir seperti itu lagi, hm? Ara?”

Lama Sera diam, dan akhirnya ia tersenyum, senyum yang menandakan bahwa ia akan mempercayai Kai sepenuhnya.

“Arasso. Maafkan aku, Kai. Aku telah membuatmu kesal..”

“Aaah~ jangan berkata seperti itu,” sela Kai sambil membawa Sera ke dalam pelukannya. Terasa hangat. “Akulah yang meminta maaf karena telah membuatmu ragu padaku. Maafkan aku.”

Sera tersenyum lebar, lalu balas memeluknya. “Saranghae..”

“…saranghae.”

Tunggu.

Mengapa Kai merasa berat ketika mengucapkan kata itu pada Sera? Aah.. kini pikirannya tengah dipenuhi oleh Heesa. Mengapa? Ada apa dengannya? Mengapa ia menjadi bimbang seperti ini?

Ternyata Kai masih ragu terhadap perasaannya sendiri.

**

“Apa ini terasa sakit?”

“Aw aw.. AWWWW!!! BAEKHYUN!! KAU MENYAKITIKU!”

“MIANHAE!” balas Baekhyun dengan teriakan juga karena terkejut dengan teriakan Heesa. Baekhyun menatap Heesa frustasi. “Aassh.. kau benar-benar merepotkan. Apa yang harus kulakukan? Aku sudah mengobatinya, Heesa.”

“Sudahlah, biarkan saja. Mungkin sebentar lagi juga sembuh,” jawab Heesa sambil meringis kesakitan. Ia memegang pergelangan kakinya khawatir. Urgh, mengapa kakinya selalu terluka? Dan yang mengobatinya selalu Byun Baekhyun. Apakah Baekhyun ditakdirkan untuk menjadi perawat luka kakinya? -..-

Baekhyun membawa kursi yang berada di ujung ruangan kesehatan itu lalu meletakkannya di samping ranjang tempat Heesa meluruskan kakinya, kemudian Baekhyun duduk di atas kursi sambil menatap Heesa khawatir.

“Mengapa kau menjadi orang yang ceroboh, hah? Kau selalu menabrak orang-orang yang berjalan di depanmu, dan akibatnya juga kau yang selalu menanggungnya. Hh..” gerutu Baekhyun sedikit kesal. Heesa hanya menyengir kuda menanggapinya.

“Mianhae. Aku hanya terburu-buru tadi sehingga aku tidak melihat keadaan sekitarku,” ucap Heesa berusaha membela sendiri. Baekhyun melihatnya dengan tatapan menuduh, namun detik kemudian ia tertawa kecil.

“Hah, terserah kau saja. Tetapi lain kali kau harus memperhatikan langkahmu, jika tidak kau akan terjatuh dan terluka seperti ini. Akibatnya aku harus merelakan waktuku yang berharga untuk mengobati lukamu,” omel Baekhyun sambil mengecek pergelangan Heesa. Heesa sesekali hanya menjerit kecil.

“Lagipula siapa yang memerlukan bantuanmu? Bukankah kau sendiri yang ingin membantuku?” balas Heesa tidak mau dipojokkan oleh Baekhyun. Baekhyun menatap kesal pada Heesa.

“Ya! Kau seharusnya bersyukur karena aku telah menolongmu,” balas Baekhyun seperti anak kecil. Heesa hanya meleletkan lidahnya lalu tertawa renyah.

“Haha, mian mian, Byun Baekhyun. Kalau begitu terimakasih karena telah menolongku,” ucap Heesa akhirnya. Baekhyun kini memasang mimik bangga.

“Haha.. arasso,” balas Baekhyun sambil tersenyum manis. Dengan refleks tangannya terangkat untuk mengelus puncak kepala Sera. Dan Sera hanya bisa terdiam menerimanya.

**

“Aaah.. appa! APPA APPA APPAAAAAH!! UURRGH! KIM HEESA!!! AKU BENAR-BENAR MEMBENCIMU!”

Kini Chaeri tengah berjalan terseok-seok di sepanjang koridor. Sebenarnya sedari tadi banyak namja yang menawarkan diri untuk menolongnya, namun ia menolaknya satu per satu. Ia tidak mau ditolong oleh siapa pun. Ia kini hanya merasa marah pada Kim Heesa.

Huh, DIA! Dia merebut semuanya dari Chaeri! Sungguh menyebalkan! Chaeri benar-benar ingi  mematahkan semua tulang Sera agar yeoja itu tidak hidup dan tidak mengganggu kehidupannya. Aashh..

Ketika Chaeri masih sibuk dengan pergelangan kakinya yang sakit, Luhan berjalan melewatinya dengan  tatapan acuh. Namun sebaliknya, Chaeri menatapnya dengan penuh harap. Tetapi Luhan tetap mengacuhkannya.

Uh! Mengapa Luhan selalu bersikap dingin padanya? Menyebalkan. Kali ini Chaeri harus berhasil memancing perhatiannya.

“Awh..”

Chaeri pura-pura terjatuh lalu berteriak kesakitan. Otomatis Luhan berbalik lalu melihat Chaeri tengah menahan sakit pada pergelangan kakinya.

Karena manusia harus membantu sesama, akhirnya dengan dasar itu Luhan berjalan menghampiri Chaeri lalu berjongkok di sebelahnya.

“Han Chaeri, gwenchana?” tanya Luhan penuh prihatin. Ya, Luhan tahu pasti yeoja ini sangat jahat pada Heesa atau pada siapapun itu yang berani mengganggu kehidupannya. Tetapi Chaeri tetaplah seorang yeoja biasa yang mempunyai lemahnya seorang wanita. Tentu saja Luhan akhirnya tidak tega membiarkan Chaeri seperti itu.

“Aku.. sepertinya tidak baik-baik saja. Pergelangan kakiku terasa sangat sakit,” jawab Chaeri sesuai dengan keadaan. Luhan kini bingung harus berbuat apa, namun akhirnya ia memutuskan sesuatu.

“Baiklah, aku antar kau ke ruang kesehatan.”

Chaeri tersenyum senang. Akhirnya, ada juga kesempatan untuknya setelah sekian lama ia menantikannya.

**

Akhirnya setelah berjalan cukup jauh, Luhan berhasil membopong Chaeri sampai ke depan pintu ruang kesehatan. Luhan segera membuka pintu itu lalu masuk ke dalam dan menutup pintunya dengan Chaeri yang masih ia rangkul bahunya karena takut yeoja itu terjatuh lagi.

Seketika perbincangan Heesa dan Baekhyun terhenti ketika mereka melihat siapa yang baru saja datang ke ruang kesehatan itu. Mata Heesa terpaku sesaat. Luhan dan Chaeri? Mengapa bisa?

“Woow, hyung!” panggil Baekhyun sambil menghampiri Luhan. Luhan menatap Bekhyun lalu tersenyum tipis padanya. Dan kemudian tatapannya beralih pada Heesa, yang Heesa membalasnya dengan tatapan datar.

Luhan membantu Chaeri meluruskan kakinya di atas ranjang sebelah Heesa. Heesa menatap Chaeri sinis. Mengapa Luhan biswa bersamanya? Bukankah sebelumnya Heesa sudah memperingatkan Luhan agar menjaga jarak dengannya? Apakah.. Luhan sudah memutuskan untuk lebih mengenal Chaeri dengan baik? Entahlah. Heesa tidak tahu pasti.

“Ada apa dengannya?” tanya Baekhyun berpura-pura tidak tahu, padahal sebelumnya ia memang sengaja meninggalkan Chaeri dalam keadaan kakinya yang sama terkilir seperti Heesa. Ia berdiri di samping Luhan yang kini sedang berada di samping ranjang Chaeri. Luhan melipat bibirnya khawatir. Entah mengapa ia tengah memikirkan sesuatu yang sepertinya sulit dipecahkan.

“Kakinya terkilir. Aku kasihan melihatnya berjalan sendiri di koridor dengan langkah yang mengkhawatirkan seperti tadi,” jawab Luhan cukup lengkap. Baekhyun membulatkan mulutnya tanda mengerti.

“Sama nasibnya seperti temanku yang satu ini. Kakinya juga terkilir,” timpal Baekhyun sambil melemparkan senyuman jail ke arah Heesa. Heesa meleletkan lidahnya.

“Ah.. Luhan? Maukah kau mengobatiku sedikit saja? Sepertinya kakiku benar-benar sulit untuk digerakkan,” ucap Chaeri memecah keheningan. Tanpa menyanggah permintaan Luhan segera membawa obat salep di dalam kotak kesehatan. Setelah itu ia segera menghampiri kaki Chaeri dan mengoles obat itu dimana Chaeri merasa sakit.

Tanpa sadar Heesa menahan nafasnya. Ia tidak kuat melihat Luhan melakukan hal itu pada orang lain. Ia merasa sakit yang tidak biasa dalam hatinya. Mengapa? Mengapa ia merasakannya? Apakah ini yang dinamakan cemburu? Itu berarti.. Heesa menyukainya? Tidak mungkin. Luhan hanya sekedar teman baginya, tidak lebih.

“Heesa, kau mau aku temani atau tidak?” tanya Baekhyun sambil tersenyum manis pada Heesa. Heesa mengalihkan pandangannya pada Baekhyun lalu membalas senyumnya singkat.

“Memang kenapa Baekhyun-ah?” tanya Heesa dengan nada manja. Dalam hatinya ternyata memanfaatkan suasana ini. Entah mengapa ia ingin memberi Baekhyun sebuah permainan untuk membuat Luhan cemburu padanya.

Baekhyun sedikit tersentak. Baekhun-ah? Heesa memanggilnya Baekhyun-ah? Sungguh..

“Ah.. em.. anni. Aku hanya ada jadwal kuliah sekarang..” jawab Baekhyun terbata. Luhan yang mendengarnya hanya dapat menahan kekesalannya dan kecemburuannya. Baekhyun-ah? Hah, Luhan juga mempunyai panggilan istimewa yang diberikan Heesa padanya. Pabo -..-

Heesa tersenyum manis pada Baekhyun. “Kau kuliah saja, Baekhyun. Lagipula aku sudah merasa baik.”

Baekhyun membalas senyum Heesa dengan perasaan bahagia. Ah, ini kesempatan bagus. Karena sepertinya orang-orang yang dibutuhkan dalam rencana Chaeri sedang berkumpul dalam ruangan. Selain itu, ia memang menyukai Heesa. Apa salahnya memanfaatkan situasi ini?

“Arasso. Maafkan aku tidak bisa menemanimu, Chagi..” ucap Baekhyun dengan senyum tanpa dosanya. Disamping itu, Heesa tercekat mendengarnya. Tidak, bukan hanya Heesa. Tetapi Luhan dan Chaeri juga. Masing-masing dari mereka saling membelalakkan matanya. Chagi? Sejak kapan Heesa menjadi yeojachingu Baekhyun?

“Ah.. nde. Gwencahana,” jawab Heesa yang kini gilirannya yang terbata. Baekhyun tersenyum riang mengambil tasnya lalu menunduk untuk mencium pipi Heesa.

“Annyeong. Sampai ketemu lagi~”

Baekhyun berlalu keluar ruangan dengan perasaan bahagianya. Sedangkan Luhan, Heesa, dan Chaeri semakin tercengang. Tanpa sadar mereka menahan nafas mereka sejak Baekhyun memanggil Heesa dengan ‘chagi’.

*

“Luhan? Kau menungguku? Kau tidak akan kuliah?” tanya Chaeri sok akrab pada Luhan di depan Chaeri. Mendengar nada suara Chaeri saja membuat Heesa ingin memuntahkan seluruh isi perutnya.

Luhan tersenyum kagok. “Ya,” jawab Luhan singkat. Sebenarnya yang membuat ia bertahan dalam ruangan ini adalah Heesa, bukan Chaeri. Luhan takut Chaeri melakukan hal yang tidak-tidak pada Heesa jika Luhan meninggalkannya. Mungkin karena Luhan sangat mempercayai cerita Heesa yang diberikan padanya beberapa hari yang lalu, tentang Chaeri yang terobsesi pada namja yang disukainya.

Tetapi, kini keadaan berbeda. Hubungannya dengan Heesa sedang tidak baik gara-gara bertengkar kemarin, sehingga Luhan hanya bisa mengawasi Heesa dari tempat duduknya.

Heesa berusaha menahan kekesalannya. Ia hanya bisa diam dan terpaksa mendengarkan percakapan mereka. Uh, apa mungkin Luhan juga mempunyai rencana yang sama sepertinya, memanfaatkan situasi yang.. tidak diharapkan ini? Kalau iya, berarti Luhan dan dirinya benar-benar menyebalkan.

Heesa melirik tajam ke arah Luhan. Urgh.. namja itu. Apa maunya? Okay! Heesa merasa bingung dengan perasaannya sekarang. Seharusnya Heesa tidak merasa kesal bahwa Luhan berada dekat dengan Chaeri. Itu pilihannya. Tetapi entah mengapa Heesa tidak menyukainya. Sangat tidak menyukainya. Haish..

Juga.. apakah permainannya tadi dengan Baekhyun terlalu berlebihan? Heesa tidak menyangka bahwa balasan Baekhyun akan lebih dari yang ia duga. Tetapi baguslah, ternyata tidak hanya satu pihak yang bermain dengannya. Ia harus berterimakasih pada Baekhyun.

Suasana terasa sangat canggung bagi Heesa sendiri. Karena sedari tadi Luhan mengobrol dengan Chaeri, mengacuhkannya sendiri di atas ranjang yang lain. Heesa menggigit bibirnya kesal. Uurrgh apa yang harus ia lakukan? Seharusnya tadi ia tidak membiarkan Baekhyun mengambil jam kuliahnya. Haaiish paboya, Kim Heesa!

Luhan yang malas untuk membalas percakapan yang Chaeri berikan, kini matanya menatap ekspresi Heesa yang menyedihkan. Yeoja itu.. lihat sekarang akibatnya karena ia marah padanya. Luhan menjadi merasa serba salah. Jika ia menyapa Heesa, takutnya Heesa masih marah padanya dan akan mengacuhkan sapaannya, sehingga nanti Luhan akan merasa malu di depan Chaeri. Hah.. apa yang harus ia lakukan? Seharusnya ia menemani Heesa disana, bukan Chaeri.

“Luhan, apa kau mempunyai seseorang yang kau suka?” tanya Chaeri dengan nada genitnya. Luhan mengalihkan tatapannya pada Chareri malas.

“Tentu saja,” jawab Luhan sedikit tidak fokus karena kini pikirannya tengah mencari jalan keluar agar Heesa mau berbicara padanya.

“Siapa, siapa? Katakan padaku!” ucap Chaeri bersemangat, atau mungkin kelewat percaya diri karena ia mengharapkan Luhan menjawab bahwa dirinyalah yang ia suka. Luhan mengerutkan keningnya karena ia merasa terganggu dengan suara melengking yang dimiliki Chaeri.

“Rahasia. Kau tidak boleh mengetahuinya,” jawab Luhan seadanya. Karena jika ia memberitahukan bahwa yang ia suka adalah.. Heesa, maka beberapa detik kemudian habislah Heesa ditangan Chaeri.

Chaeri mengerucutkan bibirnya sok lucu. Ia menarik lengan baju Luhan dengan manja. “Ayolah, Luhan.. katakan padaku, hm? Aku akan merahasiakannya. Janji,” ujar Chaeri mengada-ada. Diam-diam Luhan mencibir. Iya, Chaeri akan merahasiakannya. Tetapi ia akan menyiksa yeoja yang ia suka sampai mati.

Dengan memperlihatkan penolakan, Luhan melepas paksa pegangan Chaeri pada lengan bajunya.

“Tidak, kau tidak boleh tahu,” balas Luhan sama keras kepalanya. Heesa yang sedari tadi mendengar percakapan mereka sesekali terkikik geli karena respons yang Luhan berikan benar-benar buruk.

Chaeri menggerutu kesal, tetapi kemudian ia memasang senyum manisnya kembali pada Luhan. Luhan hanya menatapnya datar. Haah.. sepertinya ia sebentar lagi tidak akan tahan dengan perbuatan genit Chaeri padanya. Terlalu memuakkan. Dan terlalu dibuat-buat.

Akhirnya Luhan mempunyai rencana sederhana. Tanpa meminta izin pada Heesa atapun Chaeri ia segera keluar dari ruangan dengan langkah santai. Heesa menatapnya aneh, dan Chaeri menatapnya kebingungan. Mengapa Luhan tiba-tiba meninggalkan ruangan? Bukankah ia bilang tidak akan mengikuti kelas? Lagipula ini sudah terlambat jika akan mengikuti kelas..

‘Noeoi sesangeuro.. yeorin barameul tago.. ne pyoneuro..’

Nada dering telepon Heesa terdengar nyaring ke seluruh ruangan yang kosong itu. Chaeri menatap sinis pada Heesa dan mencibir padanya. Sedangkan Heesa hanya memberikan senyum singkatnya lalu mengambil ponsel dari saku celananya. Setelah ia lihat siapa yang menelepon.. hah? Luhan? Bukannya tadi ia keluar rungan? Jadi.. sebab ia keluar ruangan karena ingin meneleponnya? Heesa terkikik geli. Lucu sekali. Apa karena ia tidak berani mengobrol langsung padanya setelah pertengakaran kemarin?

Tanpa memencarkan pikirannya kemana-mana lagi, Heesa segera mengangkat teleponnya.

“Ada apa Lu..”

“SSHHUHUHUHUHUHHUUUUTT!!! Kau jangan menyebut namaku, Heesa! Kau harus sadar bahwa disana ada Chaeri yang mengawasimu,” ujar Luhan tidak santai. Heesa terdiam, lalu tertawa terbahak mendengarnya.

“Memangnya kenapa?” tanya Heesa meminta penjelasan.

“Jika kau menyebut namaku saat ini juga di depan yeoja itu, aku tidak akan tanggung jawab jika kau langsung mati di tangannya saat itu juga.”

Heesa tertawa kembali. Apa yang diucapkan Luhan memang benar, dan Heesa tidak mau mati ditangan Chaeri. Hiii..

“Ara. Kalau begitu..” tanpa sadar Heesa tersenyum jail. “Ada apa Pabo?” ucap Heesa sengaja menggoda Luhan. Terdengar dari ujung sana Luhan menarik nafas panjang.

“Yah, Heesa.. setidaknya jangan memanggilku Pabo. Kau menyebalkan,” protes Luhan sambil mengulum bibirnya gugup. Apakah Heesa sudah melupakan masalah kemarin? Semoga saja. Karena kini yeoja itu tengah tertawa terbahak, dan terdengar bahagia.

“Biar saja. Kau memang pabo! Mengapa tidak langsung mengobrol denganku saja? Dasar pengecut.”

Luhan tertawa kecil. Ternyata Heesa mungkin sudah tidak marah lagi padanya. “Aaah arasso! Terserah padamu, Heesa. Aku mengalah.” Terdengar Heesa tertawa kecil. “Tetapi, kau tidak marah lagi padaku, kan? Kurasa dengan kau tertawa seperti itu berarti kau sudah memaafkan aku.”

Heesa tersenyum tulus. Tentu saja ia sudah memaafkannya. Karena sepertinya satu hari tanpa ada Luhan, warna hidupnya seketika berubah menjadi membosankan. Ia merindukan ocehan namja ini.

“Sebenarnya aku masih kesal padamu. Tapi yah.. lupakan saja. Itu adalah pilihanmu, aku tidak bisa mengaturnya semauku, bukan?” ucap Heesa panjang lebar. Luhan tertawa kecil. Dasar yeoja ini..

Chaeri menatap kesal pada Heesa. Sebenarnya ia tengah berkomunikasi dengan siapa? Mengapa mereka sepertinya terlihat dekat? Apakah namja atau yeoja? Chaeri tidak bisa mengetahuinya pasti, jadi ia hanya bisa tetap mendengarkan.

“Tentu saja! Kau tidak berhak mengatur hidupku semaumu. Terkecuali jika kau ibuku, atau yeojachinguku.. kau berhak melakukannya,” balas Luhan sambil tertawa kecil di akhir. Heesa yang mendengarnya terdiam sejenak. Yeojachingu? Hah.. Heesa baru sadar bahwa ia telah mengatakan pada Luhan bahwa ia adalah salah satu yeoja yang sulit digapai oleh siapapun yang menyukainya. Ia merasa perkataannya itu menjadi sekat kecil antara ia dengan Luhan. Ia menjadi harus sedikit menjaga image.

“Tetapi..” lanjut Luhan sambil menjilat bibirnya ragu. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apakah tetap mengobrol diponsel seperti ini? Ah, Luhan tidak menginginkannya. Ia ingin mengobrol berdua dengan Heesa secara langsung. Tapi bagaimana caranya?

Namun detik kemudian namja itu merubah jalan rencananya. Karena ia sudah tidak dapat menahan untuk pergi berdua saja dengan Heesa. Kali ini saja.

Telepon terputus. Heesa mengerutkan halisnya bingung. Apakah sinyal tiba-tiba menjadi buruk atau ia memang sengaja memutuskan teleponnya? Tadi itu menggantung sekali. Tetapi apa? Heesa ingin mengetahuinya.

Brak!

Tiba-tiba pintu ruangan kesehatan terbuka. Luhan berdiri disana dengan senyum lebar yang menghiasi bibirnya. Matanya menatap Heesa dengan penuh harapan.

Heesa dengan otomatis mengambil tasnya ketika Luhan berjalan tergesa ke arahnya. Tanpa babibu lagi, Luhan segera mengangkat ringan Heesa dengan kedua tangannya.

“Waa! Luhaan! Apa yang kau lakukaan?” teriak Heesa tidak santai. Luhan hanya meleletkan lidahnya.

“Kita akan mencari tempat sepi, Heesa. Hanya kau dan aku.”

Luhan segera melangkahkan kakinya keluar ruangan kesehatan, tanpa beban meskipun Heesa berada dalam pangkuannya. Tetapi, sepertinya Luhan meninggalkan beban untuk Chaeri. Beban hati yang tidak bisa ia bendung lagi.

“AARGH!! KIM HEESA!!” teriak Chaeri kesal. Ia menendang ujung ranjang dengan sekuat tenaganya, dan sepertinya luka terkilirnya sudah sembuh total saat itu juga.

**

“Huuh.. aku lelah..”

“Aku lebih lelah, Heesa~”

Kini Heesa dan Luhan tengah duduk di atas kursi taman. Mereka baru saja sampai dari perjalanan panjang mereka, dan akhirnya kini mereka saling menghirup nafas bebas karena lelah. Terutama Luhan yang menggendong Heesa dari ruang kesehatan sampai taman. Benar-benar jjang! -..-

Setelah selesai mengatur nafas, mereka berdua saling tatap, lalu tertawa terbahak.

“Yang tadi itu ekstrim sekali!” ujar Heesa sedikit berteriak. “Kau menggendongku di depan Han Chaeri? Hahaha, berani sekali!”

Luhan menatap Heesa dengan tawanya yang belum reda juga. “Biar saja! Kau tahu? Sekarang aku merasa sangat lega!”

Heesa melirik ke arah Luhan, lalu tersenyum lebar. “Lega.. bebas darinya?”

Luhan membalas senyum Heesa. “Tentu saja! Aku merasa lebih baik ketika kau berada disisiku.”

Okay.

Kini Heesa berusaha menormalkan detak jantungnya yang tiba-tiba dipacu kembali setelah berdetak normal.

Heesa hanya membalasnya dengan senyum seadanya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Dan jujur, ia menyukai Luhan ketika menggendongnya seperti tadi. Menyenangkan.

“Ah, ya.. Heesa. Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu sejak tadi kita masih di ruang kesehatan,” ucap Luhan sambil menipiskan bibirnya yang kecil. Mendengarnya saja Heesa seperti menerima sentakan kecil dalam pikirannya. Di ruang kesehatan? Jangan-jangan tentang Baek..

“Mengapa kau bisa terkilir sama seperti Chaeri?”

Setelah mendengar pertanyaan itu, Heesa menghembuskan nafasnya lega. Heesa kira Luhan akan bertanya tentang sikap Baekhyun padanya tadi. Tetapi ternyata tidak, baguslah..

“Yah, mungkin kebetulan saja. Dia terkilir disana, dan aku terkilir disini. Bukankah semua orang juga mempunyai peluang untuk terkilir?” oceh Heesa tidak santai. Luhan terkikik geli melihatnya.

“Kukira kau menabraknya ketika kau berjalan.”

“Ya! Aku memang selalu menabrak orang ketika aku sedang terburu-buru, tapi sekalipun itu takdir, aku tidak mau menabrak Chaeri selama hidupku,” jawab Heesa berusaha menutupi apa yang terjadi. Luhan hanya bisa tersenyum geli.

“Yaya, aku mengerti.” Heesa tersenyum manis pada Luhan.

Seketika Luhan terpaku pada senyum Heesa. Tanpa meminta izin Heesa, Luhan dengan santai memegang dagu Heesa, menahan wajah yeoja itu agar tidak beralih keman-mana. Ia ingin menatap senyum manisnya lebih lama.

Heesa yang terkejut hanya bisa membulatkan matanya. Woo.. mengapa Luhan tiba-tiba memegang dagunya seperti ini? Huh.. apakah Luhan sangat menyukai untuk membuat jantung Heesa berdebar cepat? Menyebalkan..

“Tersenyum seperti tadi lagi, Heesa. Ayolah.. aku menyukai senyummu,” pinta Luhan sambil tersenyum kecil. Heesa mengerjapkan matanya gugup. Senyum yang mana? Memangnya ia tadi tersenyum pada Luhan? “Heesa? Apa kau mau menunjukkannya padaku lagi, atau tidak?”

Heesa menahan nafasnya. Tahu bahwa Heesa tengah gugup diperlakukan seperti ini, akhirnya Luhan melepaskan pegangannya pada dagunya.

“Kau tidak perlu bereaksi seperti itu, Heesa. Apa aku memang terlihat sangat tampan dimatamu sehingga kau menahan nafas seperti itu?” tanya Luhan sambil tersenyum jail. Heesa yang beberapa detik kemudian tersadar dari dunianya ia segera memukul lengan Luhan. Salah tingkah.

“Ya! Kau.. menyebalkan!” ucap Heesa sambil memukul lengan Luhan bertubi-tubi. Luhan berusaha menolaknya dengan kedua tangannya dengan tawa yang belum juga reda.

“Oh ya! Satu lagi!” teriak Luhan tiba-tiba. Heesa menghentikan pukulannya. “Byun Baekhyun! Apa kau kekasihnya? Kalian sudah resmi?” tanya Luhan terdengar ringan. Namun hal inilah yang sedari tadi mengganggu perasaan Luhan, ketika namja itu mencium pipi Heesa dan memanggilnya dengan panggilan ‘chagi’.

Heesa berpikir sejenak. Ottokhae? Apa yang harus ia jawab? Heesa merasa sangat gugup kali ini.

“Eum.. ya dia memang biasa seperti itu. Kau tahu kan dia tidak terlalu dekat dengan yeoja-yeoja di kampus selain aku. Jadi.. yah dia selalu bersikap seperti itu padaku. Istilahnya menspesialkan. Mungkin..” jawab Heesa asal. Namun Luhan percaya pada jawaban Heesa, dan akhirnya ia menganggukkan kepalanya.

Heesa menghembuskan nafas lega. Untunglah Luhan percaya. Ia tidak mau jika Luhan menjauhinya gara-gara ia mempunyai hubungan spesial dengan siapapun. Termasuk.. Kai.

Beberapa menit kemudian, suasana kembali normal. Mereka kembali mengobrol segala sesuatu yang menyenangkan. Sama seperti ketika di kantin beberapa hari yang lalu.

“Ah, Heesa. Kau belum menceritakan kepadaku tentang orangtuamu,” ucap Luhan penasaran. Heesa melirik curiga pada Luhan.

“Memang kenapa? Kau bertanya tentang orangtuaku seperti akan melamarku saja,” balas Heesa sambi tertawa kecil. Luhan mengangkat halisnya berpikir. Melamar? Haha, lucu sekali.

“Kau memang calon istriku, bukan?” ujar Luhan sengaja menggoda Heesa. Heesa menahan nafasnya. Uh! Jangan sampai Luhan berhasil membuatnya salah tingah lagi.

“Kau lupa? Aku adalah yeoja yang sulit digapai oleh siapapun,” balas Heesa menutupi salah tingkahnya. Luhan tertawa terbahak lalu mengelus rambut Heesa ringan.

“Nde, aku tahu itu. maka dari itu aku berusaha keras..”

Heesa tetap diam dan mendengarkan, menunggu Luhan untuk melanjutkan perkataannya. Tapi mengapa Luhan tidak melanjutkannya?

“Hei, Heesa. Kau belum menjawab pertanyaanku, tentang orangtuamu,” ucap Luhan mengingatkan. Heesa menatap Luhan lalu menganggukkan kecil kepalanya.

Oh iya, ada alasan mengapa Luhan menanyakan tentang orangtuanya. Ia hanya ingin memastikan kalau yeoja yang harus ia jaga selama di Korea adalah Kim Heesa yang berada dihadapannya, bukan yang lain. Maka dari itu, jika Heesa menjawab bahwa kini orangtuanya sedang berada di Cina, Luhan akan merasa bahagia setengah mati.

“Orangtuaku…” Luhan menatap Heesa penuh harap. “Selalu sibuk. Mereka jarang tinggal di rumah. Mereka selalu pergi keluar negeri untuk berbisnis. Sekarang saja mereka sedang berada di Cina..”

Tanpa mendengarkan kelanjutannya lagi, Luhan segera tersenyum sangat lebar. Ternyata benar. Mungkin Kim Heesa yang harus ia jaga adalah memang yeoja yang kini berada di hadapannya.

“Heesa! Lihat ada penjual es krim! Kau mau kubelikan satu?”

Tanpa meminta persetujuan Heesa, Luhan segera berlari ke luar kampus dan menghampiri penjual es krim itu. ia membeli satu untuknya, dan satu untuk Heesa.

“Here.”

Luhan segera duduk kembali di samping Heesa dan memberikan satu es krimnya pada Heesa. Heesa menerimanya dengan bersemangat. Ia segera menjilat es krim itu rakus, seperti anak kecil.

Luhan terkikik geli melihat Heesa yang begitu lahap menghabiskan es krimnya. Lucu sekali. Di sekitar bibirnya banyak sekali bekas es krimnya.

“Ya, Heesa..” panggil Luhan agar Heesa melihat ke arahnya. Heesa mengalihkan perhatiannya pada Luhan sambil tetap menjilat es krim vanilanya. Dengan santai, Luhan menyeka es krim yang berada di bibir Heesa dengan ibu jarinya lalu menjilat sisa es krim itu tanpa ragu. Heesa yang melihatnya hanya bisa tersenyum kagok dengan jantung yang.. tentu saja berdegup sangat cepat.

*

Luhan perlahan pergi meninggalkan Heesa. Ia melambaikan tangannya satu kali sebelum benar-benar masuk kembali ke dalam gedung. Huh.. Heesa ditinggal lagi. Kini Luhan harus menemui Baek Sonsaengnim untuk berkonsultasi kembali.

Tetapi tidak masalah. Yang penting Heesa sudah cukup merasa senang karena bisa berbaikan lagi dengannya.

Tiba-tiba ponsel Heesa berdering, tanda ada telepon. Heesa melihat layar ponsel itu dengan halis mengkerut. Siapa ini? Nomornya tidak ia kenal.

Namun pada akhirnya Heesa menjawab telepon itu. “Yoboseyo?”

“KIM HEESA ANAK MOMMY!!!!”

“…mommy?”

“Iya, Heesa! Ini Mam!”

“WAAAA! MAMAAAA!!”

Mereka berdua saling berteriak bahagia satu sama lain. Heesa menahan tawanya ketika orang-orang yang berada di sekitarnya menatapnya dengan aneh.

“Mama! Apa kabar? Kapan kau pulang, hm?” tanya Heesa bersemangat. Mommy hanya tersenyum bahagia.

“Mam baik-baik saja, Heesa. Lalu bagaimana denganmu?”

“Aku juga baik-baik saja, Mommy..”

Mereka tertawa akrab.

“Bagaimana bisnis kalian disana? Apakah baik-baik saja?”

“Tentu. Ternyata ketika kami sampai di Cina, sudah banyak perusahaan yang ingin bekerjasama dengan kami. Jadi yah tentu saja kita memilih satu. Dan.. okay. Nanti akan Mommy ceritakan lebih panjang lebar lagi ketika Mommy di Korea.”

“Kapan?”

“Hm.. sekitar satu bulan lagi, Sayang.”

“HUWAA MOMMY!! Mengapa lama sekali? Aku merindukan kaliaan~”

“Mommy dan Daddy juga sama. Kami merindukanmu. Hhh.. tetapi ini demi kebaikanmu juga, Heesa. Kau harus bisa mengerti, arasso?”

Heesa tersenyum tulus. “Tentu. Aku adalah anak kesayangan kalian, bukan? Tentu saja aku harus mengerti kondisi Mommy dan Daddy disana.”

Mommy hanya tersenyum mendengarnya. Ternyata anak semata wayangnya ini sudah tumbuh dewasa. Sedikit ada perasaan bangga yang muncul dalam hatinya.

“Oh ya,” ucap Mommy ketika teringat sesuatu. Sesuatu yang bisa dibilang sangat penting baginya. “Heesa, apa kau sudah bertemu dengannya?”

Heesa tertegun. Dengannya? Siapa?

“Siapa, Mam?”

“Itu, anak teman partner Mama di Cina. Apa kau sudah bertemu dengannya?”

Heesa mengerutkan keningnya. “Belum, Mam.”

“Benarkah?” tanya Mommy sedikit terkejut. Tetapi, entah mengapa Mommy yakin bahwa Heesa sudah bertemu dengannya. “Kau sudah tahu namanya?”

Heesa menggeleng. “Tidak. Aku tidak tahu apapun tentang itu..”

Mommy mendesah panjang. Ia kira Heesa sudah bertemu dengan anak itu, ternyata memang tidak.

“Mungkin kau tahu siapa dia jika Mommy memberitahumu namanya. Dia bersekolah di Seoul University, sama sepertimu.”

“Memang siapa, Mam?”

Mommy mengingat sejenak siapa pastinya nama anak laki-laki itu. dan setelah teringat, bibirnya tersenyum ketika mengingat betapa baiknya sikap anak itu terhadapnya dan suaminya.

“Namanya Lu..”

“HEESA! KIM HEESA!”

Tiba-tiba Dio berteriak sangat lantang. Heesa terkejut lalu membalikkan badannya untuk melihat ke arah Dio yang kini tengah berlari ke arahnya. Ada apa dengannya? Mengapa dia terlihat terburu-buru seperti itu?

“Ah, Mam. Bisa nanti kita lanjutkan? Sepertinya ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan,” ucap Heesa tanpa ada nada menyesal dalam nada suaranya.

Mommy menarik nafas panjang. “Arasso.”

“Saranghaeyo, Mommy!”

Tepat ketika Heesa menutup teleonnya, Dio datang dan duduk di sebelah Heesa.

“Halo.”

Heesa mengerutkan keningnya, lalu menatap Dio aneh.

“Ada apa, Dio? Apakah ada masalah?” tanya Heesa sambil membenarkan rambut pelipisnya yang berantakan karena tertiup angin. Dio membulatkan matanya, lalu tersenyum lebar sehingga bibirnya berbentuk hati.

“Anniyo. Aku hanya ingin memastikan kalau kau baik-baik saja,” jawab Dio ringan. Heesa menghembuskan nafasnya kecil lalu tertawa.

“Ya! Kalau begitu mengapa kau berteriak memanggil namaku seperti tadi, hah? Menyebalkan! Kau membuatku terkejut, kau tahu!” omel Heesa sambil memukul lengan Dio keras. Dio meringis kesakitan lalu mengelus bagian lengannya yang dipukul Heesa.

“Mian, mian. Tadi aku hanya ingin kau berhenti menelepon seseorang. Aku curiga siapa dia..”

“Dioo! Yang tadi meneleponku adalah ibuku!!”

“Wa! Jinjja? Ah, mianhae! Aku tidak tahu..”

“Memang kau kira siapa, hm?”

Dio terdiam, lalu menatap Heesa penuh maksud dengan senyum yang mengembang.

“Ah, aku tidak mengira siapa-siapa. Maafkan aku, haha..”

Heesa berdecak kecil. Kebiasaannya dari dulu memang tidak berubah. Dio tidak akan mengatakan apapun yang tidak ingin ia katakan. Kepada siapapun, bahkan kepada keluarganya. Sehingga jika dibongkar akan banyak sekali rahasia yang baru diketahui. Dasar Do Kyungsoo, seperti anak kecil saja.

Akhirnya mereka mengobrol ringan. Sduah lama mereka tidak berbincang karab seperti ini. Nah, Han Chaeri sudah memindahkan targetnya pada Luhan, jadi ia bisa sebebas-bebasnya mengobrol dengan Dio. Hh.. tetapi kebebasan itu mengapa baru terasa sekarang? Terlambat sekali.

**

Kai berjalan ringan di sepanjang koridor kampus. Ia membiarkan lengan jaketnya merosot dan memperlihatkan lengannya yang tidak tertutupi apapun, membuat yeoja yang melihatnya hanya bisa menggigit kukunya geregetan.

Kai berjalan keluar kampus. Jam pulang, saat-saat yang ia tunggu. Bibirnya menyunggingkan senyum kecil ketika mengetahui bahwa Sera akan datang ke rumahnya, ups! Rumah Heesa maksudnya, malam ini.

Kai berjalan menuruni tangga. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar depan gedung. Tidak ada yang spesial, biasa saja dan seperti biasanya. Beberapa puluh mobil yang terparkir rapi, juga kendaraan bermotor lainnya yang memang selalu tertata rapi. Tidak ada yang mengusik pandangannya.

Set.

Kai mengunci fokus pandangannya kepada dua insan yang kini tengah memakan es krim dengan rakusnya di atas kursi.

Heesa dan Luhan.

Yah, mereka memang terlihat bahagia, indah dan.. nyaman. Mereka selalu tersenyum satu sama lain. Benar-benar pemandnagan yang sempurna. Selain Heesa yang memang cantik, Luhan juga mempunyai wajah yang tampan dan berkharisma baik. Orang-orang yang melihatnya pasti akan rela menyumbangkan beberapa detika mereka untuk melihat pemandangan itu.

Kai membuang muka. Ia mendesis meremehkan, tentu saja untuk Luhan. Entah mengapa ia kesal pada namja itu. Mengapa Heesa selalu tersenyum dengan lepas ketika bersamanya? Mengapa mereka selalu terlihat bahagia satu sama lain? Dan.. senyum Heesa. Kai menginginkannya, Kai merindukannya. Senyum yang dulu selalu Heesa berikan hanya padanya seorang, kini terbagi untuk namja itu..

Kai menghela nafasnya kesal. Ia berjalan menuju mobil sportnya, lalu masuk ke dalamnya. Kai tidak segera menyalakan mobilnya dan berlalu dari kampus itu, tetapi matanya tetap mengawasi Heesa. Ia berpikir bagaimana caranya agar Heesa tidak bisa bersama orang itu lagi.

Waw, egois?

Ya, Kai mengakuinya. Ia memang tidak suka melihat Heesa bahagia bersama namja lain selain dirinya. Kai hanya menginginkan Heesa selalu bersama dengannya, dan tidak membagi kasih sayangnya untuk orang lain.

Dan Kai tidak mau mengartikan hal itu dengan satu kata. Cemburu.

*

Kini Kai benar-benar merasa kesal.

Dio adalah namja yang menemani Heesa setelah Luhan pergi meninggalkannya. Urgh! Mengapa banyak sekali namja yang menyukainya? Menyebalkan.

Kai menggigit kukunya ragu. Entah apa yang membuatnya masih bertahan di dalam mobil untuk mengawasi Heesa, tetapi ia memang ingin melakukannya.

Sebagai sahabat. Ya, sebagai sahabat.

Ia hanya ingin memastikan bahwa Heesa dalam keadaan baik. Mungkin saja Heesa tiba-tiba terluka atau apalah yang membuatnya kesusahan. Maka sebagai sahabat kecilnya, Kai akan segera berlari ke arahnya lalu menolongnya dalam jika kesulitan itu benar-benar terjadi padanya.

Ya, Kai mengharapkannya untuk terjadi.

Tiba-tiba Kai membelalakkan matanya senang. Kai menyunggingkan senyum simpul ketika Dio berjalan meninggalkan Heesa sendirian di kursi itu. Apakah ini saatnya untuk menghampiri Heesa? Tetapi.. sebentar. Kini Heesa bangkit dari kursi lalu berusaha berjalan menuju mobilnya yang lumayan terparkir jauh dari tempatnya berdiri.

Tunggu.. mengapa jalannya seperti itu? Apakah kakinya terluka? Atau terkilirkah?

Tanpa menunggu apapun lagi, Kai segera keluar dari mobil dan berlari menghampiri Heesa.

Segera Kai merangkul bahu Heesa dengan mantap dan merapatkannya pada tubuhnya. Heesa sedikit terkejut atas kedatangan Kai, namun kemudian ia tersenyum.

“Gomawo~”

“Mengapa kau tidak meneleponku seharian ini, hm?” tanya Kai sok galak sambil membantu Heesa berjalan. Heesa hanya tersenyum geli.

“Aku takut mengganggumu dengan Sera,” jawab Heesa seadanya. Kai mengerutkan keningnya lalu menatap Heesa.

“Setidaknya kau mengirim pesan singkat padaku.”

Heesa tertawa kecil. “Dan mengapa tidak kau saja yang mengirim pesan padaku?”

Kai hanya diam. Ia menatap sahabatnya tajam, tetapi kemudian ia menghembuskan nafas panjang, mengalah. “Ah, arasso. Lain kali aku yang akan mengirimimu pesan, tetapi kau juga harus menyempatkannya padaku. Janji?” ucap Kai meminta persetujuan Heesa. Heesa tersenyum dan mengangguk.

Kai membalas senyum Heesa. Ia semakin merapatkan genggamannya pada pundak yeoja itu, takut jika beberapa detik kemudian ia jatuh dan terluka kembali.

***

“Oppa!”

“Sera!”

Sera segera berlari riang menuju Luhan lalu memeluknya singkat. Luhan tersenyum tampan melihat saudara perempuannya yang selalu terlihat gembira di hadapannya ini.

“Kau belum pulang?” tanya Luhan sambil berjalan beriringan di samping Sera.

“Sekarang aku akan pulang, Oppa,” jawab Sera manja.

“Bersama kekasihmu?” tanya Luhan sambil memicingkan matanya. Sera terkikik geli lalu mengibaskan tangannya di depan Luhan.

“Anni. Dia sudah pulang sedari tadi. Tetapi nanti malam aku akan bermain ke rumahnya,” jawab Sera melebihkan sedikit jawabannya. Luhan memanyunkan bibirnya.

“Kau belum mengenalkannya padaku, Sera. Aku penasaran siapa namja yang bisa mendapatkan keponakanku yang sama sekali tidak menarik ini,” goda Luhan sambil mencapit ujung hidung Sera dengan gemas. Sera mengaduh kecil lalu memukul lengannya ringan.

“Ya! Appa!” Luhan hanya tertawa puas.

“Ah, ya.. Oppa,” ucap Sera kemudian. Luhan menatap Sera dengan mata kecilnya yang bulat. “Kapan kau akan kembali ke Cina?”

Luhan tersentak lalu menatap Sera aneh, seperti baru sadar akan sesuatu yang baru bisa diingatnya.

“Entahlah. Mam dan Dad belum mengizinkanku untuk kembali.”

“Memang ada urusan apa Oppa kesini, kalau kuboleh tahu..”

“Aku diperintah untuk menjaga putri teman kerja Mam dan Dad sekarang. Mereka dari Korea, dan mereka meninggalkan putri mereka sendiri disini,” jawab Luhan singkat dan jelas. Sera mengangguk kecil.

“Siapa itu?” tanya Sera sedikit penasaran. Luhan tersenyum sangat lebar.

“Hmm.. rahasia. Hahaha..”

Sera meringis kesal lalu memukul lengan Luhan keras. Luhan mengaduh sakit sambil mengusap bagian pukulan tadi.

“Rupanya Oppa sudah mempunyai hal yang dirahasiakan dariku,” ucap Sera berpura-pura marah. Luhan tertawa puas mendengarnya. Kini mereka sudah keluar dari kampus dan berjalan menyusuri halaman depan kampus yang luas itu.

“Mungkin lain kali aku akan langsung mengenalkannya padamu. Arasso?”

Sera menatap Luhan lalu tertawa kecil. “Arasso! Aku tunggu janjimu, Oppa. Awas saja kalau kau tidak mengenalkannya padaku, aku juga tidak akan mengenalkan kekasihku padamu.”

Luhan membelakkan matanya. “Waw! Aku tahu! Bagaimana jika nanti kita double date? Kau dengannya, dan aku dengan yeoja itu.”

“Memang kau sudah resmi menjadi kekasihnya?” tanya Sera tanpa beban. Luhan menjadi gelagapan.

“Sebenarnya belum. Tapi kelihatannya dia juga suka padaku,” jawab Luhan percaya diri. Sera terkikik geli.

“Setuju! Kita tidak boleh membatalkan rencana ini.”

“Ya,” timpal Luhan semangat. Mereka berdua kini tersenyum bahagia.

Namun.. sepertinya tidak setelah beberapa detik, karena kini mereka berdua sama-sama terpaku pada dua sosok yang kini tengah berjalan dengan tangan yang merangkul satu sama lain. Mereka terlihat sangat dekat dan.. nyaman. Ya, seperti tidak ada kecanggungan apapun diantara mereka.

Kai dan Heesa.

Sera mendesis sinis, sedangkan Luhan menarik nafas panjang. Terlihat dari segi manapun, kini mereka terlihat sangat resah dan gelisah. Dan juga, kini mereka berpikir keras agar orang yang mereka sayangi hanya berada disamping mereka.

**

Kini Kai dan Heesa sedang berada di rumah sakit. Mereka berada disana untuk mengobati kaki Heesa yang terkilir. Dan setelah diobati, ternyata sangat mudah disembuhkan, sehingga Heesa kini bisa berjalan normal kembali.

Dalam perjalanan pulang, mereka saling mengobrol tentang kegiatan mereka akhir-akhir ini. Sesekali mereka tertawa atau mencermati dengan baik. Ya, mereka membutuhkan untuk membicarakan hal ini, karena akhir-akhir ini mereka jarang bertemu. Sekalinya pun itu hanya di rumah Heesa dan tidak sempat berbincang panjang lebar karena lelah dari aktivitas keseharian. Dan kesempatan ini sebaiknya mereka pergunakan dengan baik.

“Ah ya, Heesa. Sore ini.. apakah aku boleh membawanya lagi ke rumahmu? Kami hanya ingin bermain sampai pukul tujuh malam. Tidak apa-apa, kan? Ayolah..”

“Sera?” tebak Heesa mantap. Kai mengangguk semangat.

Heesa diam-diam menghembuskan nafas panjang. Ia tidak bisa menolaknya.

“Arasso. Tapi harus sampai jam tujuh malam, tidak boleh lebih,” tegas Heesa. Kai tersenyum lebar lalu menganggukkan kepalanya.

Tidak lama kemudian ponsel Heesa berbunyi. Dengan sedikit rasa terkejut Heesa segera mencari ponselnya di dalam tas. Dan ketika menemukannya, ia segera mengangkat telepon itu tanpa melihat siapa yang menelepon.

“Yoboseyo?”

“Heesa..”

Heesa terkejut. Ia sangat mengenal suara ini. Ketika ia melihat layar ponselnya, ternyata memang benar.

“Luhan?”

Terdengar Luhan tertawa garing. Heesa mengerutkan keningnya, sepertinya suasana hati Luhan sedang tidak dalam keadaan normal.

“Ada apa kau meneleponku?” tanya Heesa dengan volume suara yang dikecilkan, karena kini Kai berusaha menguping pembicaraannya.

“Ani. Aku hanya gelisah karena tidak bertemu denganmu sore ini,” jawab Luhan asal. Jantung Heesa kini mulai berdegup tidak normal.

“Memang kau sedang berada dimana?”

“Atap sekolah.”

“Apa yang kau lakukan?”

Luhan tertawa garing, sekali lagi, sebelum menjawab, “merokok.”

Heesa menghela nafas panjang. Ada apa dengannya? Bukankah akhir-akhir ini ia jarang merokok? Lalu mengapa ia melakukannya?

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Heesa khawatir. Kai yang mendengarnya hanya menggigit bibir bawahnya tidak tenang. Ia sangat penasaran apa yang tengah Heesa perbincangkan dengan Luhan.

“Tentu. Aku hanya merindukanmu, Heesa,” jawab Luhan diselingi tawa jailnya. Heesa tersenyum kecil menanggapinya.

“Kita bisa bertemu besok.”

“Sekarang.”

“Hm?”

“Sekarang. Aku ingin sekarang. Aku terlalu merindukanmu,” ujar Luhan beralasan. Heesa memutar kedua bola matanya.

“Jangan meracau yang tidak-tidak, Luhan.”

“Kukirim asap rokokku padamu, Heesa. Dan kau harus menghirupnya, karena itu tanda bahwa aku memang sangat merindukanmu,” ucap Luhan mengalihkan pembicaraan. Heesa tertawa kecil.

“Aku tidak bisa menghisap apapun dari sini,” jawab Heesa sambil tertawa. Luhan tersenyum lebar.

“Memang kau berada dimana sekarang?”

“Mobil.”

Luhan terdiam sejenak. “Kalau begitu, aku akan meniupkannya dari telepon. Fuuuhh..”

Heesa semakin tertawa karena tingkah Luhan yang mengada-ada. Sedangkan Kai.. kini ia tidak bisa fokus pada jalanan.

“Luhan?” panggil Heesa setelah tawanya berhenti. Luhan bergumam. “Kumohon, hentikan kegiatanmu sekarang juga.”

“Apa? Bernafas?” canda Luhan sambil tertawa. Heesa membuang nafasnya gemas.

“Ayolah.. aku tidak akan bertanggung jawab jika kau mati sekarang juga..”

Mati? Memang apa yang Luhan lakukan? Apakah namja itu berusaha membunuh dirinya sendiri? tanya Kai tidak tenang dalam pikirannya.

“Kau tahu? Aku akan lebih cepat mati jika aku tidak bertemu denganmu..”

“Hmmm! Aku tidak ingin mendengarmu. Yang penting hentikan kegiatanmu sekarang juga, Luha..”

“Arasso, arasso. Sekarang aku akan mematikan rokokku,” balas Luhan. Heesa tersenyum puas. “Jika kau tidak percaya, aku akan mengirim fotoku sekarang.

Heesa tertawa kecil. “Ya, itu lebih meyakinkan. Kirim sekarang juga~”

“Nde~” Mereka tertawa geli.

“Kalau begitu, aku tutup teleponku.”

“Hmm.”

“Bye, Heesa.”

“Yaa, bye.”

Pas pada saat itu, akhirnya mereka sampai di rumah Heesa. Tanpa mengucapkan apapun lagi, Kai segera keluar dari mobil lalu berjalan cepat menuju pintu rumah. Sedangkan Heesa, ia masih menatap layar ponselnya, menunggu foto yang sebentar lagi akan Luhan kirim dengan senyum geli yang masih menghiasi bibirnya.

Kai terdiam. Ia diam karena menunggu Heesa keluar dari mobilnya untuk membuka kunci pintu rumahnya. Namun, Heesa masih duduk manis di dalam mobil. Sebenarnya apa yang ia lakukan?

Bunyi ponsel terdengar di seluruh ruangan mobil. Heesa segera membuka foto itu, ia sangat merasa penasaran apakah Luhan benar-benar mematikan rokoknya setelah..

Ceklek.

“Huwaaaa!”

Tiba-tiba Kai membuka pintu mobil Heesa dan merebut ponsel itu dari tangannya. Heesa menjerit sekuat tenaga. Akhirnya Heesa keluar dari mobil lalu mengejar Kai yang kini tengah berlari di sekitar halaman depan.

“Kaaaai!! Kembalikan ponselkuuu!!”

“Shireeoooo!” balas Kai dengan teriakkan juga. Ia tetap berlari, berusaha menjauh dari Heesa yang semakin bersemangat untuk mengejarnya. Diam-diam Kai tertawa kecil melihat wajah Heesa yang ketakutan.

“Kaai kumohon!”

“Andwae!”

“Ya! KKAMJONG! Kembalikan ponselkuu!!”

“Memang mengapa, hah?”

Heesa menggeram. Ia semakin mempercepat larinya untuk mengejar Kai dengan keadaan kakinya yang belum terlalu pulih. Kini yang terpenting adalah ponselnya. Ah, tidak. Foto Luhan lah yang terpenting. Haassh..

Semakin lama kecepatan lari mereka semakin berkurang. Dan yang paling dulu menyerah adalah Heesa. Tentu saja. Sedari kecil ia memang selalu kalah dalam hal berlari dengan Kai. Selalu begitu.

“Hhhh..hh.. Heesah! Hapah khau menyerahh? Khau thidhak mhau phonselmuh khembalih?” pancing Kai sambil berusaha mengatur nafasnya yang terengah. Heesa memejamkan matanya, ia merasa tidak bisa bernafas sekarang.

Kai tertawa terbahak. Ia menghampiri Heesa lalu menyodorkan ponselnya.

“Ini, ponselmu. Maafkan aku,” ucap Kai sambil terkikik geli. Heesa membuka matanya lalu menengadahkan kepalanya untuk melihat Kai karena Kai lebih tinggi darinya.

“Kau menyebalkan..”

Tetapi ketika Heesa akan mengambilnya, Kai menarik tangannya ke belakang punggungnya. Ia menatap Heesa jail. “Ayo, Heesa. Kau menginginkan ponselmu, bukan?”

Heesa menggigit bibir bawahnya kesal. Akhirnya ia berjalan ke belakang punggung Kai dengan pasrah. Tetapi namja itu menarik tangannya lagi ke atas.

“Huaaah.. lelah sekali. Aku harus merenggangkan tulang-tulangku..” ucap Kai berpura-pura. Heesa menggeram kesal. Kai.. namja ini..

“Kai, kembalikan.”

“Oh iya,” sahut Kai lalu menurunkan tangannya. Ia menyodorkan ponsel itu kembali pada Heesa, namun sebelum Heesa mengambilnya, Kai sudah mengangkat tangannya kembali. Dan sekarang Heesa hampir ingin memutuskan tangan Kai dan membawa ponsel itu dengan rasa puas.

“Kai, kumohoon~” rengek Heesa sambil berjinjit, berusaha mengambil ponselnya. Kai hanya tertawa dan ikut berjinjit sama seperti Heesa.

“Jika kau bisa menggapainya, maka aku akan menyerahkannya padamu,” ucap Kai sambil tetap mengacungkan ponselnya. Heesa menggertakkan giginya gemas, dan ia semakin berjinjit dan mengacungkan tangannya setinggi mungkin.

“Kaaai! Kau menyebalkan! Berikan ponselku, kumohon!”

“Kau harus mengambilnya dari tanganku. Ayo, Heesa!”

“Ya, Kai! Kau jangan mempermainkanku!”

“Biar saja. Kau harus berusaha dulu, tidak semudah yang kau inginkan, Heesa.”

“Uuuh..”

Heesa sudah tidak peduli lagi pada Kai. Ia tidak mempunyai pilihan lagi selain berusaha menggapai ponselnya yang terletak begitu tinggi ditangan Kai. Haih.. namja ini memang menyebalkan.

Heesa semakin berusaha, sedangkan Kai semakin tertawa. Ia senang melihat wajah Heesa yang sepertinya merasa kesulitan untuk menggapai ponsel ditangannya. Menyenangkan sekali..

Krek!

“Hah!”

“Hm?”

Tiba-tiba Heesa berhenti mengacungkan tangannya. Ia menurunkan tangannya dengan perlahan lalu terdiam. Ia menggerakkan sedikit badannya untuk memastikan sesuatu.

“Heesa? Ada apa?” tanya Kai khawatir. Air muka Heesa benar-benar berubah menjadi kekhawatiran yang amat mendalam.

Heesa menatap Kai dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Ia menarik nafas resah.

“Ash.. memang benar.. tali bra-ku..” gumam Heesa tidak jelas, tetapi terdengar sangat jelas ditelinga Kai.

Kai mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Tali.. bra?”

Seketika Heesa membulatkan matanya lalu menutup mulutnya karena telah mengatakan sesuatu yang seharusnya ia sembunyikan. “Aaargh, Kaaai! Kau memang menyebalkan!”

Heesa segera berlari ke arah pintu rumah dan membuka kuncinya dengan cepat. Setelah itu ia melesak masuk ke dalam rumah, meninggalkan Kai yang masih termenung dengan dua kata itu.

Tali bra..

Dan seketika tawa lepas Kai terdengar.

**

Tidak terasa pukul enam sore sudah terpasang di jam dinding kamar Heesa.

Heesa mengulum bibirnya kesal.

Itu tandanya, Sera sebentar lagi akan datang ke rumahnya.

Heesa memainkan bibirnya asal. Kini moodnya menjadi buruk. Ia membayangkan kejadian yang sewaktu itu ia dengar ketika pertama kali Sera bermain ke rumahnya. Namun setelah itu Heesa menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengusir kenangan itu dari pikirannya.

Dengan malas Heesa mengambil ponselnya lalu menatap layar ponselnya. Atau lebih tepatnya menatap foto Luhan yang baru saja ia terima satu jam yang lalu. Entah mengapa jika ia melihat foto itu, moodnya menjadi sedikit lebih baik.

Sayup-sayup terdengar suara bel rumah berbunyi. Tanpa ingin mengetahui siapa yang datang, Heesa segera merebahkan tubuhnya ke atas ranjang pasrah. Sera datang.

Huaah.. apa yang harus ia lakukan? Perasaannya selalu tidak merasa enak ketika yeoja itu ada di rumahnya, bersama Kai. Seringkali Heesa berpikir dengan perasaan kesalnya, mengapa Kai tidak mengajak yeoja itu berjalan-jalan di luar rumah saja? Atau mengajaknya ke taman hiburan dan berfoto bersama di bawah kembang api yang menghiasi gelapnya langit? Atau mungkin.. mengapa tidak mengajak yeoja itu jauh darinya?

Heesa menarik nafas panjang. Ia merasa marah sekarang.

Bunyi ponsel Heesa membuyarkan lamunannya. Heesa segera mengambil ponsel itu lalu melihat siapa yang meneleponnya. Dan seketika bibirnya tersenyum manis.

“Heesa?”

“Luhan!”

Luhan tiba-tiba tertawa kecil. Ia sedikit terkejut karena reaksi Heesa yang sedikit berlebihan itu.

“Kau dimana?” tanya Luhan singkat.

“Aku? Dirumah..”

“Baiklah. Aku akan menjemputmu..”

“Waaa! Chakkan!” ucap Heesa menyela perkataan Luhan. “Menjemputku?”

“Ya. Aku tidak bisa bertahan kali ini. Aku terlalu merindukanmu, Heesa.”

Mendengar alasan Luhan yang tidak logis itu, Heesa hanya tertawa kecil. Dan ketika ia berpikir sejenak.. yah, lebih baik. Lebih baik kini ia berada di luar jangkauan Kai dan Sera. Lebih baik ia berada jauh dengan mereka, jika mereka tetap berada di rumahnya.

“Arasso..” jawab Heesa sedikit ragu. Tetapi Luhan tersenyum lebar.

“Kalau begitu, aku akan kesana dalam waktu lima men-“

“Ah! Tunggu! Tetapi, kau harus bisa membawaku secara sembunyi-sembunyi.”

Luhan mengerutkan keningnya. Sembunyi-sembunyi? Mengapa?

“Memang ada apa?”

“Shuut. Nanti saja kujelaskan. Sekarang, kau mau menjemputku atau tidak?”

Tanpa berpikir apapun lagi, Luhan segera mengiyakan pertanyaan Heesa lalu mengendarai motornya dengan cepat.

**

Truk!

Heesa terkejut. Ia langsung melihat ke arah jendela kamarnya. Ada yang mengetuk? Apa ia tidak salah mendengar?

Truk!

Okay, kali ini Heesa berjalan ke arah jendela. Ia membuka jendelanya lalu melihat ke sekeliling.

Luhan. Ia melihatnya.

Heesa tersenyum manis lalu melambaikan tangannya, dan Luhan membalasnya dengan semangat.

Heesa kemudian mengisyaratkan Luhan agar menunggu. Luhan menganggukkan kepalanya. Heesa kembali ke dalam kamar untuk mengambil tasnya, dan dengan secepat mungkin ia berjalan menuju jendela dan keluar dari jendela dengan anarkis.

Luhan membelalakkan matanya. Apa Heesa gila? Ia akan melompat dari jendela itu?

Luhan melihat ke arah Heesa lalu menggelengkan kepalanya khawatir, namun Heesa hanya tersenyum iseng. Bahkan ia sudah lama tidak melakukan hal ini, dan kini ia merindukannya. Karena dulu, ia sering di ajak kabur oleh Kai jika tidak di izinkan bermain oleh orangtuanya. Maka dari itu, Heesa sudah terbiasa.

Setelah melewati beberapa umpakan tembok dengan lincah, akhirnya ia sampai di umpakan terakhir. Heesa segera melompat dari ketinggian setengah meter, dan akhirnya kini ia berdiri dengan mulus tepat di depan Luhan. Dan Luhan hanya terdiam.

“Kajja!” ucap Heesa menyadarkan Luhan. Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali, dan akhirnya ia mengikuti Heesa yang sudah berjalan cepat menuju motor.

**

Kini motor itu melaju dengan cepat, dan dengan lincah menyelip  di antara beberapa kendaraan yang sepertinya menjadi penghalang jalannya motor itu.

Heesa tetap berpegang pada jaket Luhan. Meskipun sudah beberapa kali Luhan memintanya untuk memeluknya, tetapi Heesa tetap tidak mau. Luhan sedikit merasa jengkel, namun ia akhirnya ia mengalah.

Lampu merah, tanda berhenti. Dengan decitan kecil Luhan memberhentikan motornya tepat di batas pemberhentian kendaraan. Badan Heesa sedikit condong ke depan ketika Luhan mengerem motornya, namun ia segera menegakkan badannya kembali.

“Heesa?” panggil Luhan di balik helmnya. Heesa menanggapinya dengan gumaman. “Kau tidak merasa kedinginan?”

Heesa mengerutkan keningnya. Mengapa Luhan peduli? Tumben sekali.

“Ya, tentu saja.”

“Karena celana pendekmu?”

Heesa terkejut, lalu ia menatap celana jeans pendek yang tengah ia pakai. Haish.. mengapa ia bisa lupa untuk mengganti celananya? Ceroboh.

“Mianhae. Aku lupa menggantinya.”

“Gwenchana. Aku hanya khawatir kalau kau merasa kedinginan..”

Mereka terdiam, tepatnya Heesa yang terdiam. Menunggu Luhan melanjutkan kata-katanya. Tetapi setelah ditunggu beberapa detik, Luhan tetap tidak berbicara.

“Lalu?” tanya Heesa penasaran. Luhan terkikik geli lalu memutar badannya untuk menatap Heesa.

“Kita akan mengebut, lalu cepat-cepat kita akan menghangatkan tubuh kita di depan api..”

“Huwaa! Luhan! Kajja!”

Luhan segera sigap dengan gas tangannya, lalu dengan gesit dan cekatan ia melajukan motornya kembali.

**

“Kau tidak mengatakan sebelumnya bahwa kita akan ke rumahmu.”

“Memangnya kenapa?”

Heesa terdiam. Ia masih berdiri mematung di ambang pintu, enggan masuk karena ia tidak merasakan adanya orang lain di rumah itu. Terlalu.. sepi.

“Tidak. Kau tinggal sendiri?” tanya Heesa sambil perlahan masuk ke dalam rumah. Luhan tersenyum lalu berjalan ke arah Heesa dan menutup pintu dengan jangkauan tangannya.

“Tidak. Aku tinggal bersama saudara perempuanku.”

“Saudara perempuan?”

“Ya, Kim Sera. Kau ingat? Waktu itu kita pernah bertemu di taman..”

Tunggu. Kim Sera? Di taman?

Jangan-jangan Kim Sera.. kekasih Kai?

“Ah ya.. aku ingat..”

Luhan tersenyum sekilas. Ia mengacak rambut Heesa sayang. “Kau suka coklat panas?”

“Apapun aku suka,” jawab Heesa singkat dengan pikiran yang masih terganggu dengan ‘nama’ itu.

“Arasso. Aku akan membuatkannya untukmu.”

Luhan berjalan santai menuju dapur sambil melepas jaketnya. Dan Heesa sedikit terkejut ketika melihat Luhan hanya memakai kaos singlet berwarna hitam. Dan jujur.. terlihat seksi.

Heesa berjalan perlahan menuju dapur sambil melihat-lihat di sekitar rumah Luhan. Klasik, tetapi nyaman. Juga hiasan-hiasan rumah yang tidak terlalu mencolok membuat rumah ini terkesan elegan dan mewah.

“Here.”

Heesa terkejut lalu mendongkakkan kepalanya. Ia melihat Luhan tengah tersenyum padanya sambil menyodorkan secangkir coklat panas. Hmm.. aromanya menyenangkan.

Luhan mengajak Heesa untuk duduk di atas sofa yang berbulu halus. Sangat terasa hangat ketika Heesa duduk di atasnya dengan kaki yang diselonjorkan karena sofa itu begitu panjang seperti ranjang, dan sepertinya tidur di atasnya pun akan terasa sangat nyaman sama seperti ranjang di rumahnya.

Dengan cepat Heesa menyesap coklat panasnya untuk menghilangkan kedinginan yang masih ia rasakan. Sedangkan Luhan menyimpan cangkirnya di atas meja lalu berjalan menuju perapian. Oh, ternyata ia akan menyalakan apinya.

Tidak lama kemudian api itu mulai membakar kayu-kayu yang sudah Luhan simpan di dalamnya. Kehangatan mulai mejalar ke seluruh ruangan. Luhan tersenyum lalu mengambil cangkirnya dan duduk di samping Heesa. Sangat dekat, dan hanya menyisakan jarak satu sentimeter di antara mereka.

Luhan mulai menyesap coklatnya, sedangkan Heesa tengah sibuk mengatur detak jantungnya yang tidak beraturan. Huh.. mengapa suasananya seperti ini? Terasa terlalu sepi bagi Heesa, ia tidak suka.

“Heesa, aku ingin menanyakan satu hal padamu.”

“Ya, apa?” Akhirnya ada pembicaraan juga.

“Kau dan Kai. Apa kalian memang sahabat dari kecil?”

Heesa menganggukkan kepalanya bersemangat. “Ya, memang kenapa?”

“Ani.. apa kau menyukainya?”

Heesa membulatkan matanya. “Hm? Mwo?”

“Kau. Apa kau menyukainya?”

Heesa terdiam cukup lama, lalu menjawab. “Tentu saja aku menyukainya. Dia sahabatku..”

“Bukan itu. Apa kau menyukainya bukan sebagai sahabat?”

Okay, kini Heesa benar-benar terdiam. Urgh.. apakah tidak ada topik lain? Mengapa Luhan menanyakan hal seperti itu padanya? Menyebalkan, kini ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Eum.. tentu saja tidak. Dia selamanya sahabat bagiku,” jawab Heesa asal. Untuk menutupi salah tingkahnya, Heesa menyesap coklatnya sedikit rakus. Luhan menatapnya aneh, lalu tertawa terbahak.

“Kelihatan sekali kau sedang menutupi sesuatu,” ucap Luhan sambil meletakkan cangkirnya di atas meja. Heesa menatap Luhan lalu menggeleng seperti anak kecil.

“Aku sedang tidak menutupi sesuatu darimu,” balas Heesa membela dirinya sendiri. Luhan tertawa kecil sambil menatap Heesa lucu. Yeoja ini.. memang berbeda dari yang lainnya. Sangat kekanak-kanakkan.

Seketika Luhan melihat bekas coklat di sekujur bibirnya. Apa ini? Apakah yeoja ini memang selalu belepotan ketika memakan sesuatu? Seperti anak kecil.

“Heesa! Hmmm..”

Sambil tetap menatap Heesa, Luhan mengisyaratkan dengan lidahnya yang berputar di sekitar bibir agar Heesa menjilat coklat disekitar bibirnya. Heesa menatap Luhan heran, lalu mengikuti apa yang Luhan lakukan. Setelah menyadari ternyata banyak sekali coklat di sekitar bibirnya, Heesa segera membersihkan seluruhnya lalu tersenyum malu pada Luhan.

Tidak terasa coklat mereka pun habis. Heesa dan Luhan meletakkan cangkirnya di atas meja lalu kembali duduk bersantai seperti posisi semula. Dan kini mereka saling terdiam.

Ketika Luhan menemukan apa yang harus ia lakukan, ia segera mengeluarkan satu batang rokok dari sakunya lalu membakar ujungnya dengan gesit, seolah terbiasa. Heesa membulatkan matanya marah.

“Mengapa kau merokok?” tanya Heesa sinis. Luhan menghisap rokoknya lalu menghembuskannya tepat di depan wajah Heesa.

“Karena aku ingin,” jawab Luhan singkat sambil tertawa jail. Heesa mengibaskan tangannya, berusaha mengusir asap itu dari hadapannya.

“Kau.. jangan pernah berani merokok di hadapanku lagi,” ancam Heesa sambil terbartuk kecil. Luhan mengerutkan keningnya heran. Memangnya kenapa?

Dengan satu gerakkan Luhan memegang dagu Heesa dan menghadapkan wajah itu tetap di depan wajahnya.

“Memangnya kenapa? Kau tidak suka aku merokok?” tanya Luhan menantang. Heesa mengerutkan hidungnya kesal.

“Ya. Aku memang dulu perokok, tetapi sekarang tidak,” balas Heesa kesal. “Dan juga, jika kau merokok, aku juga akan merokok.”

Luhan terkejut. Ia menatap mata Heesa yang kini memancarkan kesungguhannya. Namun detik kemudian Luhan tertawa lalu melepaskan pegangannya pada dagu Heesa. Luhan menyesapnya satu kali lagi lalu mematikannya di atas asbak.

“Arasso. Aku tidak akan merokok lagi,” ujar Luhan mengalah. Heesa tersenyum puas.

Tetapi dengan tiba-tiba Luhan kembali mencapit dagunya dan menghadapkan wajahnya kembali padanya.

“Tetap seperti ini, jangan kau mengalihkan pandanganmu dari mataku,” pinta Luhan memaksa. Karena takut, akhirnya Heesa menurutinya.

Namun semakin lama mereka bertatapan, semakin dekat juga jarak wajah di antara mereka. Kini kening dan ujung hidung mereka bersentuhan. Terasa sangat nyaman dan sepertinya mereka akan kuat bertahan dalam posisi itu sampai esok pagi. Nafas mereka memburu, senyum tulus mereka terlukis di bibir masing-masing.

Nyaman, dan tulus..

Malam yang menyenangkan.

**

“Terimakasih kau sudah mengantarku.”

“Nde,” balas Kai sambil mengecup kening Sera sekilas. “Sampai ketemu lagi..”

“Ya..”

“Bye.”

“Bye.”

Kai berjalan menjauhi Sera menuju mobilnya yang masih menyala. Kai masuk ke dalam mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan santai. Tidak terlalu cepat, dan tidak terlalu lambat.

Sera berjalan malas ke dalam rumah. Bibirnya menyunggingkan senyum bahagia ketika mengingat apa saja yang baru saja ia lakukan dengan Kai. Benar-benar menyenangkan.

“Aku pulang~” teriak Sera ketika masuk ke dalam rumah. Tetapi, tunggu. Ada sepatu perempuan. Siapa pemiliknya? Apakah Luhan oppa membawa yeojachingunya ke dalam rumah?

Karena penasaran, Sera kini berjalan menyusuri rumah. Sampai ia menemukan Luhan dan Heesa tengah tertawa bersama di atas sofa itu, Sera hanya bisa mematung.

Kim Heesa..

Mengapa harus dia? Dasar perempuan jalang! Apakah tidak cukup dia sudah merebut Kai dari sisinya, dan kini Luhan oppa? Menyebalkan!

“Oppa~” teriak Sera sengaja sambil menghampiri Luhan yang kini melihat ke arahnya dengan tatapan ramah.

“Sera, darimana saja kau?”

“Aku? Tentu saja dari rumah namjachinguku, Oppa,” jawab Sera manja. Dan jangan ditanya lagi, kini Heesa hanya bisa memutar kedua bola matanya kesal.

“Oh.. ah ya! Kenalkan, ini Kim Heesa. Teman dekatku. Dan Heesa, kenalkan ini Sera, keponakanku.”

Heesa dan Sera saling tatap penuh kebencian, tetapi akhirnya mereka berjabat tangan.

Ups, tiba-tiba ada sebuah rencana yang terlintas di pikiran Sera untuk menyingkirkan yeoja  itu cepat-cepat dari rumahnya.

“Heesa eonni! Sebagai perkenalan yang manis ini, aku akan membuatkanmu minuman yang paling enak sedunia! Kau mau?” tawar Sera dengan memasang tampang imutnya yang terlihat menjijikkan di mata Heesa. Namun karena tidak enak menolak di depan Luhan, akhirnya ia menganggukkan kepalanya terpaksa.

“Arasso! Aku akan membuatkannya untukmu!”

Sera berlari ke arah dapur dengan langkah lincahnya, namun terlihat mencurigakan bagi Heesa. Sedangkan Luhan hanya tersenyum polos, tidak tahu sebenarnya apa yang tengah terjadi di antara dua yeoja itu.

Tidak lama kemudian Sera datang. Ia menyerahkan satu gelas minuman yang terlihat berwarna-warni dan menyeramkan bagi Heesa. Sera menyodorkan minuman itu padanya, dan Heesa menerimanya dengan canggung.

“Itu adalah minuman perkenalan kita, Eonni. Semoga kau menikmatinya! Annyeong!”

Sera kini berlari ke lantai atas dengan senyum palsu yang sedari tadi ia pasang di hadapannya. Heesa mengerutkan keningnya ketika melihat minuman itu.

“Minuman apa ini?” tanya Heesa aneh. Luhan mengangkat kedua bahunya.

“Tidak tahu. Coba saja. Terlihat menarik bagiku..”

“Ah, kalau begitu kau saja yang minum!”

“Tidak! Kau yang minum. Sera membuatkannya khusus untukmu, Heesa,” tolak Luhan sambil tertawa geli. Heesa menghembuskan nafasnya pasrah.

Akhirnya Heesa meminum minuman itu sampai habis. Tidak jarang alisnya mengkerut karena merasakan ada hal yang aneh dalam minuman itu. Tetapi, akhirnya habis juga.

“Woow..” gumam Heesa sambil meletakkan gelas langsing itu di atas meja. Heesa memegang kepalanya seperti menahan sesuatu.

“Ada apa?” tanya Luhan khawatir. Heesa berusaha memfokuskan pandangannya pada Luhan, tetapi tidak bisa. Karena kini penglihatannya menjadi tidak jelas.

Lama menunggu apa yang sesungguhnya terjadi, akhirnya Heesa tidak sadarkan diri. Dalam artian, kini ia mulai meracau tidak jelas. Heesa mabuk.

“Heesa! Ya! Heesa! Ada apa denganmu?” tanya Luhan khawatir, karena kini Heesa tengah sibuk memukulinya dengan kekuatan yang Heesa punya.

“Kau tampan, Luhan. Bolehkah aku memukulmu sampai mati? Kau menggemaskan..”

“Heesa! Sadar!”

“Andwae. Aku tidak ingin bertemu lagi dengannya..”

“Heesa! Kau mabuk!”

“Aku tidak mabuk! Hanya saja.. aku merasa bahagia..”

Luhan menghembuskan nafasnya kesal. Mengapa Sera memberikan minuman yang tidak-tidak pada Heesa? Jail sekali. Akhirnya Luhan tidak mempunyai pilihan lain selain mengantar Heesa pulang ke rumahnya, setelah itu ia akan memberi Sera sedikit pelajaran.

**

Beberapa kali Luhan mengetuk pintu rumah Heesa. Mungkin saja ada pelayan di rumahnya atau siapapun itu, karena Heesa benar-benar mabuk total dan tidak bisa di ajak mengobrol secara normal.

Akhirnya pintu itu terbuka. Luhan sedikit terkejut ketika ia menemukan bahwa Kai lah yang membuka pintu rumah Heesa, bukan pelayan atau orangtuanya.

“Ah, Luhan hyung..”

“Kai? Ini, Heesa.. dia mabuk,” ujar Luhan sambil menyerahkan Heesa pada Kai. Kai memegang pundak Heesa kuat-kuat karena badannya yang tidak bisa seimbang untuk berdiri.

“Mengapa dia bisa mabuk?” tanya Kai sedikit emosi. Luhan berdecak kesal, bagaimana ia harus menjelaskannya?

Di tengah percakapan yang terasa canggung itu, Heesa menggumamkan rentetan kata-kata yang tidak jelas. Tetapi pada saat beberapa detik kemudian, Heesa mengucapkan dua kata itu cukup jelas untuk didengar oleh Kai dan Luhan. Dan kedua namja itu tersentak ketika mendengarnya.

“Kai.. saranghae..”

…………………………………………………………………………………………………….

MAAF BARU PABLIS KAWAN-KAWAN!!

huaah.. meskipun aku belum melewati semua tugas yang harus aku selesaikan, tetapi aku tetap menyempatkan untuk menyelesaikan cerita ini.. *ngomong apa*

semoga kalian puas dengan chapter 34 halaman ini. eh, iya gitu? gatau juga deng, hehe

maafin aku ya kalo emang kalian ga puas, terus maafin juga kalo banyak typo, sama akunya buru-buru di pablis takut kaliannya marah, haha.. maap ._.v

terimakasih sudah membaca kawan-kawan!

komennya dong, :D

……………………………………………………………………………………………………..

35 thoughts on “ELECTRIC [ CHAP 7 ]

  1. LUHAAAAAAN, AKU SUKA KAMU DISINI AH MUAH MUAH (´ε` )♡ tubrukan deui? omegehhhh =o= dan seperti biasa si bacon jd super hero hahaha SI SERA GENINGAN MENI JAHAT?! teu di Pulcut teu didieu, astaga~ heesa mabokssss? ih anjir si sera menta dibully edan ku si kai jeung luhan hahahaha aku lebih setuju heesa sama luhan atau baek, unyuuuuuh mereka tuh (´∇ノ`*)ノ ummm next chap konflik+flirtingna banyakinlaaaaah muehaeheuhue fighting buat sekolah dan ff nya, heesa! ^^

  2. AAAA!!! EONNI!!! ceritanyaaa makin seruu!!! udahh heesa sama luhan ajaaa;) kai sama eikee=))
    tapi kenapa heesa malah bilang ‘saranghae kai’?? yaaa~ gak sabar nunggu chap 8!!!^^

  3. Akhirnya lanjut juga electricnya!!! XDXD
    Wah minuman yg dr Sera lumayan ngebantu Kai sama Heesa wkwkwkwk
    Tp entah kenapa lebih suka liat Heesa sama Luhan .___.
    Daebak!! Next chap :D

  4. Aduuuh ituuu si dio nyerempeet ihhh, padahaaal kan bentaar lagi mau dikasih tau ke si heesa kalo cowoknya ituuu luhaan gituuu aduuuhhh

    Lanjuuttt eon

  5. Whooooaaaa part ini panjang sekali.. Puas banget bacanya.. Penantian saya yang lama telah terbayarkan.. :D hah, kok sera jahat gitu ya? Tak pikir sera bakalan baik hati, dan rela menyerahkan kai.. Lanjut thor, jangan lama lama pokoknya.. *bow*

    • hahahaha
      siapa coba yang mau ngelepasin pacar kayak Kai? kalo aku sih pasti udah oles lem bakar antara aku dan Kai agar tidak bisa terebut oleh siapapun, haha

  6. Ye!!! Akhirnya FF ini berlanjut : )
    Padahal aku lebih setuju Heesa bersama Luhan oppa dripda dgn Kai oppa, jail bgt tuh si Sera hahahha.
    Lanjut thor, keren bgt!! Ayo ke chap 8 aku sdh penasaran nich : D
    Gomawo udh bikin FF yg bkn aku dag dig dug dri chap 1 hingga chap 7 ini, moga2 chap2 selnjut bsa bkn aku lebih dag dig dug lagi : )

  7. Baguss!! Chaerin jgn ganggu hub luhan sm heesa donk ;; aah!! Itu kok sera jadi benci sih sama heesa kan padahal udah jelas2 si kai sama heesa cuma sahabatan!! Aaa itu sera jahat banget, buat heesa mabuk terus heesa bilang cinta ke kai? Luhan gimana? T__T nextpartnya ditunggu>< postnya jgn lama2 yaaa

  8. Ayoooo lanjut thoooooor, makin tergila-gila sama Luhan nih. Kira2 sera bakal ngelakuin apalagi ya? Trus si Kai entar bakal milih sera atau heesa ya? Aaaaaah gatau aaaah pokoknya lanjooooot *maksa abis :p

  9. Waaaaaaa…..#riweh -,- tambah seruu!! Jadi Heesa masih tetep suka sama Kai? Padahal Luhan udah baik ngejagain heesa. Luhan sama aku aja deh, *peluk luhan*. Kalau heesa tau yang disuruh jagain dia luhan, gimana reaksinya ya?
    Itu luhan hobi banget ngerokok. Tapi bibirnya masih pink. Ngga item #so?

    Sera putus aja sama kai. Malah jadi jahat sama heesa. Heesa gapunya salah apa-apa ke sera. Itu yang salah kan kai #plak!
    Lanjut part berikutnya saya tunggu! >0<

  10. Disamping itu, Heesa tercekat mendengarnya. Tidak, bukan hanya Heesa. Tetapi Luhan dan Chaeri juga. Masing-masing dari mereka saling membelalakkan matanya. Chagi?
    * Ya ampun onn bukan mreka aj yg kaget ,, aku juga kagetlah ..
    Trus apalagi yg Heesa bilang Saranghae ke Kai .. Mataku langsung melotot .. !! Hahahha
    It Heesa rakus amet , bagi dong satuu .. Hahhaha

  11. WHAT?! LUHAN-SERA ITU SODARA?? Atulah aku tertipu itu sm si Sera. Kirain dia anak yg manis. Aelaaah

    Pelik. Ini pelik. Sungguh. Luhan-Heesa-Kai-Sera. Chaeri-Luhan-Heesa-Bacon. Adududuh… Terus ya, Kai plin-plan ah. Kalo suka sm Heesa ya ga usah jadian sm Sera. Kasian kn Seranya. Aku sih feeling-nya Kai-Heesa itu cuma takut kehilangan sosok sahabat mereka. Ah, molla. Mending baca next chap aja deh ;)

    Itu itu pas si Chaeri dicuekin Bacon dan ditinggal Luhan, ngakak parah XD

    Satu lg nih. Aku selalu lupa mau ngomong ini, ma. Salah satu keunggulan ff2 km tuh karakter tokohnya. Karakter yg km kasih tuh beda dr yg lain. Kaya Luhan tuh. Tp tetep asik. Unik. Good job!

    Aku meluncur ke next chap!!

  12. Ya ampun beneran ni ff makin seru aja thor !!
    Itu serius heesa? Aduuh , pasti ntar luhan ama kai bakal ngejahuin heesa*sota*

  13. Huwaaa :D
    Luhan-Heesa so sweet maximal :3
    jadi ngiri -,,-
    itu ending nya aaaakkk bikin greget >,< suka sma nih epep! seru :D kece deh pokoknyahh!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s