PULCHRITUDE [ CHAP 8 ]

PULCHRITUDE

Author: Shin Heera

Cast:

  • Kim Jongin (EXO)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Park Chanyeol (EXO)
  • Park Chonsa (YOU)

Minor Cast:

  • EXO Member

Ket:

  • Kai at History era
  • Oh Sehun at 22nd teaser
  • Park Chanyeol at History era
  • Baekhyun at History era
  • Do Kyungsoo at History era
  • Suho at High Cut era

 

 

Disclaim: Tuhan yang menciptakan mereka, dua belas bintang besar yang eksotis, EXO. Pemeran lain hanyalah fiksi yang tidak diketahui keberadaan aslinya. Tapi itu terserah dirimu.

Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Ps:

  • * > masih hari yg sama
  • ** > keesokannya
  • Don’t be silent reader
  • Don’t copy – paste my imaginations!!

……………………………………………………

Last Chapter

Mereka berdua saling pandang dengan jarak wajah yang sangat dekat seperti itu.

Keduanya merasakan debaran yang tidak normal dan sulit untuk bernapas. Kai mempererat lingkaran lengannya di pinggang Chonsa.

Sementara yeoja itu sudah kehilangan akalnya.

 

……………………………………………………….

 

CHAPTER 8

 

Dengan tiba-tiba Kai melonggarkan lingkaran tangannya dan tetap tidak melepaskan Chonsa. Melainkan membiarkan yeoja itu tetap menari namun dengannya kali ini.

Ya, lagu ini memang untuk dimainkan oleh sepasang penari. Keduanya mengikuti lagu dengan sangat sempurna bahkan Kai merasakan sesuatu yang hilang ditemukannya kembali setelah sekian lama.

Sedikit lagi lagu akan berakhir dan keduanya tahu benar bagaimana gerakan di akhir dan setelahnya. Berciuman.

Tangan mereka saling berpegangan dan dengan perlahan Kai membiarkan Chonsa berputar ke dalam pelukannya sampai akhirnya tiba..

Wajah mereka saling mendekat satu sama lain dan.. sedikit lagi.

Kai melepaskan pelukan di pinggang Chonsa secara tiba-tiba sampai yeoja itu terhuyung dan mencari keseimbangan. Benar-benar menyebalkan.

“Haish..” rutuk Chonsa kesal dan memeletkan ujung lidahnya ke arah Kai dengan sebal. Kini dirinya menarik semua kata-kata pujian yang telah dia ucapkan di dalam hatinya untuk Kai ketika berdansa tadi.

Kedua mata dingin Kai menatap sesuatu yang tidak asing berada di leotard bagian atas dada milik Chonsa. Sepertinya dia pernah melihatnya. Bahkan sering.

“Apa yang kau lihat?!” seru Chonsa sambil menutupi dadanya lalu menyerobot mantel miliknya yang tersimpan di pinggiran studio.

Kai memutar kedua bola matanya dan mendengus kasar. “Ya! Keluar dari studioku!”  suruhnya layak raja yang berkuasa dengan semua tempat dan barang yang berada di seluruh sekolah ini.

“Aku membayar fasilitas sekolah ini, Kai!” balas Chonsa yang sibuk memakai mantel warna putihnya dengan rapi.

“Tapi kau bukan divisi dance! Kau tidak membayar apapun untuk studio ini.”

Chonsa memanyunkan bibirnya sebal. Mengapa Kai selalu bersikap seperti ini padanya? Dia kira Kai akan bersikap baik. Tapi ternyata tidak.

“Aku mohon kau tidak mengganggu latihanku, Park Chonsa,” ucap Kai dingin.

“Baiklah.”

“Kalau begitu cepat keluar.”

“Ara, aku tidak akan mengganggumu lagi. Asalkan kau jangan memberitahu pada siapapun kalau aku bisa berdansa. Kau mengerti, Kai? Aku pulang..” ucap Chonsa sinis sambil melangkah ke luar studio. Tapi tiba-tiba langkahnya berhenti dan berbalik ke arah Kai. “Kita memang partner yang baik,” ujarnya sambil tersenyum kesal dan meninggalkan Kai seorang diri.

Kai masih berdiri di tempatnya bahkan setelah Chonsa benar-benar hilang dari jangkauan penglihatannya.

Lambang itu. Tidak asing..

Dan mata itu..

God..

 

*

 

Tangannya memilin-milin ujung selimut dengan kesal.

Kai.. apa setelah kejadian tadi kau mengenalku? Hah, sepertinya tidak. Dia tetap seperti itu. Aku yakin, jika Kai mengetahui siapa aku dia tidak akan bersikap angkuh.

Chonsa menggerakkan bola matanya ke arah jarum jam. Pukul dua belas malam. Mengapa dia sulit menutup mata untuk tidur dan beristirahat setelah seharian ini dia lewati sangat sulit? Apalagi siksaan itu.

Kai. Ternyata namja itu yang membuatnya seperti ini. Dia sendiri tidak menyangka Kai masih mengingat gerakan yang pernah mereka bawakan untuk pertunjukkan ballet di sekolah menari dulu.

Padahal sudah lama sekali. Saat mereka duduk di bangku elementary. Hanya saja saat itu teknik yang digunakan sangat tingkat dasar. Berbeda dengan tadi. Tingkat profesional dan itu baru saja mereka lakukan tapi.. Hah, Chonsa membuang napasnya melewati mulut berlebihan.

Pikirannya mulai tidak terkontrol. Dirinya harus benar-benar tertidur kali ini.

 

**

 

Setelah memakai baby doll merah menyalanya yang sangat cantik, Chonsa kembali menatap jejeran topeng miliknya. Selalu seperti itu. Dan selalu terlintas dibenaknya, akankah semua ini cepat terbongkar?

Kini dia membuang pandangannya sambil menggigit bibir bawahnya lalu melangkahkan kaki keluar kamar, menguncinya dengan pasti dan kembali melangkah menuju pintu dorm.

Tangannya dengan tergesa membuka knop pintu dan mengunci dari luar. Setelah tubuhnya berbalik, dirinya terkejut ketika melihat sosok Chanyeol sudah berada di hadapannya dengan senyuman yang benar-benar menawan pagi ini. Wajah namja itu terlihat lebih segar.

“Selamat pagi, Park Chonsa,” sapa Chanyeol sambil mengeluarkan sedikit aegyonya lalu tertawa kecil.

Chonsa tertawa sambil merapikan rambut panjangnya yang dia gerai kali ini. “Selamat pagi, Chanyeol oppa. Tumben sekali pagi-pagi seperti ini kau sudah berdiri di depan dormku. Atau kau ingin menemui seseorang? “ tanya Chonsa.

“Bukan menemui. Tapi menjemput seseorang untuk berangkat menuju sekolah bersama,” jawab Chanyeol dengan jantungnya yang mulai berdebar.

“Jinjja? Aawww so sweet,” gumam Chonsa sambil mengaitkan kedua jemari tangannya dengan kuat. “Benar-benar romantis!” tambah Chonsa.

“Apa yang harus aku lakukan menurutmu?”

“Hm.. tunggu. Sepertinya aku mempunyai satu ide. Ah.. tidak. Hm..”

DEG!!

“Bagaimana kalau seperti ini?” tanya Chanyeol sambil tersenyum manis pada Chonsa.

Yeoja itu menahan napasnya ketika Chanyeol menggenggam tangan kanannya dengan lembut.

“Kau akan pergi bersamaku, bukan?” tanya Chanyeol sambil memantapkan pegangan tangannya dan menatap mata Chonsa dengan dalam.

“Uh.. tapi.. Kim Sera..” ucap Chonsa dipotong begitu saja oleh Chanyeol.

“Berilah sedikit waktu untukku. Hm?”

Terdiam. Chonsa masih tidak dapat berkata-kata. Ini terlalu mengejutkan dan entah mengapa dia menyukainya ketika Chanyeol menggenggam jemarinya seperti ini.

“Park Chonsa..” panggil seseorang. Siapa lagi kalau bukan Kim Sera.

Chanyeol mendesah keras.

“Oppa..” ucap Chonsa pelan sambil melepaskan genggaman Chanyeol di tangannya lalu tersenyum penuh ketakutan pada Sera.

“Pagi, Kim Sera!”

Sera tidak menjawab. Matanya hanya menatap sinis lalu beralih pada Chanyeol.

“Hei..” sapa Sera dengan singkat. “Chonsa, ayo kita berangkat..” ajak Sera dengan paksa sambil menarik lengan Chonsa cukup kasar.

Tapi dengan tiba-tiba Chanyeol melepas genggaman keras Sera di lengan kanan Chonsa dan kini dia yang mengambil alih. “Kali ini giliranku.” Chanyeol menurunkan jemarinya yang melingkar di lengan Chonsa dan menuju kembali ke jemari Chonsa lalu menggenggamnya dengan mantap.

Chonsa benar-benar merasakan merinding cukup hebat ketika Chanyeol menurunkan jemarinya tepat di lengan kanan itu.

Apalagi ketika dirinya sudah berhasil melangkahkan kaki menjauh dari Sera dengan jemari kanannya yang berada di dalam genggaman Chanyeol. Chonsa benar-benar merasa senang. Entah mengapa.

“Kau tidak keberatan, bukan?” tanya Chanyeol sambil tersenyum manis pada Chonsa yang berada di sampingnya.

“Untuk apa?” Chonsa balas bertanya dengan rasa gugup yang belum juga hilang.

“Sepertinya kau akan menjadi trending topic hari ini,” jawab Chanyeol sambil tersenyum dan merapatkan genggamannya lalu mempercepat langkah menuju pintu masuk sekolah.

Seperti biasa mereka selalu melewati koridor yang tidak pernah sepi bahkan selalu ramai dipenuhi oleh murid SIAS yang berkumpul sekedar untuk berbincang dan bercanda.

Termasuk Kai dan Dio.

Chonsa masih merasa kesal pada Kai gara-gara kejadian semalam. Dirinya benar-benar menyesal. Mengapa juga dia harus menari? Mencari mati, bukan? Tapi untung saja Kai yang melihatnya. Namja itu pasti tahu benar Chonsa dapat menari dengan sangat baik. Tentu saja jika dia sudah menyadari siapa Chonsa yang dia kenal sebelumnya.

“Pagi..” sapa Chanyeol pada Kai dan Dio, tetap melangkah membawa Chonsa menuju kelas, dengan keadaan berpegangan tangan.

 

*

 

 

“Pagi..” sapa Chanyeol.

Kai hanya menatap mereka berdua. Ketika kepalanya tidak dapat berputar lagi untuk mengikuti mereka berdua, akhirnya dia kembali pada Dio sambil mendengus kasar.

“Waw!” gumam Dio yang masih melihat Chanyeol tengah berpegangan tangan dengan Chonsa.

“Biasa saja..” komentar Kai sambil mengibaskan sebelah tangannya malas.

“Aku bersumpah, Kai! Mereka berdua terlihat sangat cocok! Sepertinya mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih,” ujar Dio sambil bertepuk tangan.

“Apanya yang sepasang kekasih? Chanyeol hyung hanya memegang tangannya dan hanya itu! Apa karena mereka berpegangan tangan kita dapat menyimpulkan mereka sepasang kekasih?”

Dio terdiam sambil membulatkan matanya polos ke arah Kai.

“Lalu jika Chanyeol hyung memegang tangan Baekhyun hyung dan mereka juga dapat dikatakan sepasang kekasih?” lanjut Kai.

Dio tetap terdiam melihat sahabat di hadapannya ini berkicau sekuatnya. Tapi akhirnya Dio merubah mimik wajahnya dengan tersenyum jahil sambil menepuk pundak Kai cukup keras.

“Kau menyukainya Kai!! Kau menyukai Park Chonsa!!” seru Dio dengan lantang tanpa menyensor nama dengan inisial singkat.

Kai terbelalak dan dengan cepat menutup mulut Dio ketika banyak orang di sekitarnya mulai tertarik dengan ucapan Dio.

“Bisakah kau kecilkan suaramu?” tanya Kai kesal lalu melepas bungkaman tangannya di mulut seksi Dio.

Dio tertawa tertahan. “Jadi aku benar?”

“Haish! Jangan sok tahu, Do Kyungsoo!”

“Aku tidak sok tahu. Aku hanya menebak dan ternyata jawabanku memang benar! Kau menyukainya!”

“HAIISSH!!” geram Kai lebih keras lalu berlalu masuk ke dalam studio.

Sementara Dio menyusulnya dengan tawa terbahak.

 

*

 

“Jadi, SIAS Song Festival akan diadakan pada awal bulan Juni. Tapi untuk pengumpulan lagu, kami memberi waktu hanya tiga hari dari detik ini. Kalian diharuskan untuk membuat maksimal tujuh lagu dalam genre berbeda atau campuran akan lebih baik. Ah, minimal lima lagu. Jika kurang, terima konsekuensi yang akan dipertimbangakn selanjutnya.

“Jangan mencoba untuk protes, ini sudah keputusan pimpinan SIAS dan selamat berkarya, anak-anak. Saya tunggu karya kalian di atas meja kerja saya. Selamat siang..”

Suasana kelas masih sepi mencekat karena keterkejutan. Tidak ada yang protes tentu saja atau memberikan komentar ke sesama teman. Teman? Ah, mereka tidak berteman.

Soona saja terlihat sangat frustasi. Apalagi Sera. Dia masih tidak dapat membuat banyak lagu dalam waktu singkat. Apa yang harus dia lakukan?

Chen. Dia namja yang tekun. Mungkin tidak masalah untuknya. Tapi tetap saja membuat lagu itu tidak mudah.

Berbeda dengan Chonsa. Bibirnya tersenyum lebar. Tentu saja yeoja ini tidak mempunyai beban apapun! Dirinya sudah membuat banyak lagu akhir-akhir ini ditemani oleh Oh Sehun. Jadi, tugasnya hanya bernapas dengan bebas saja.

Chonsa tidak sadar. Soona tengah menatapnya dengan sangat sinis. ‘Rencanaku harus berhasil kali ini. Kau sudah merebut Kai. Tapi tidak untuk ini..’

Setelah beberapa menit berlalu, Sera bangkit dan menghampiri Chonsa yang tengah membereskan peralatan menulisnya.

“Park Chonsa..” panggil Sera sambil berdiri di samping Chonsa.

“Ne?” jawab Chonsa sambil menoleh. Matanya terbelalak. “Kim Sera! Aku benar-benar meminta maaf yang sangat besar untuk tadi pagi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Chanyeol oppa menarikku begitu saja..”

Sera menarik napas dalam. “Sudah kukatakan. Hati-hati padanya, Park Chonsa. Dia akan mencuri lagumu!” teriak Sera cukup lantang.

Kini Chonsa bangkit dari tempat duduknya dan menghadap tepat pada Sera. “Terimakasih karena kau sudah mencemaskan itu, Kim Sera. Tapi aku tidak percaya padamu. Chanyeol oppa tidak seperti itu. Dia seseorang yang mustahil berbuat sesuatu yang dapat memalukan dirinya sendiri,” bela Chonsa masih dengan batas wajar.

“Mwo?” Sera menganga tidak percaya. Bagaimana bisa Chonsa bersikap seperti ini padanya.

“Ah, kau menyukai Chanyeol oppa? Dekati saja dia dengan usahamu. Jangan dengan memfitnahnya dengan bualanmu itu, Kim Sera. Ara?”

Sera semakin tidak dapat mengontrol napasnya yang naik turun.

“Park Chonsa..” panggil seseorang dari luar kelas.

Chonsa menoleh dan seketika bibirnya tersenyum. “Oh Sehun!”

“Food court?”

“Kajja!”

 

*

 

Setelah mendapatkan tempat yang cukup nyaman, Chonsa membuang napasnya panjang melalui mulut. Sehun hanya tersenyum melihatnya.

“Apa yang terjadi? Sepertinya perbincanganmu dengan Kim Sera sangat serius.” Sehun tetap tersenyum sambil menatap Chonsa.

“Oh.. Ini dia. Salah satu alasan mengapa aku menangis saat itu Oh Sehun. Saat aku ketakutan laguku akan dicuri oleh Chanyeol oppa,” jawab Chonsa.

Sehun mengangguk pelan. Sepertinya dia sudah menemukan titik masalahnya.

“Apa yang dia katakan?”

“Dia kembali mengingatkanku untuk berhati-hati pada Chanyeol oppa.”

“Berhati-hati untuk apa?” tanya Sehun lagi mulai serius.

“Chanyeol oppa akan mencuri laguku. Dia mengatakan padaku, dulu Chanyeol oppa mencuri lagunya.”

Sehun semakin mengerutkan keningnya. “Bukankah Kim Sera sendiri yang mencuri lagu dari Chanyeol hyung?!”

“Mwo?”

Chonsa berniat mengeluarkan kata-kata untuk meyakinkan dirinya bahwa yang dikatakan Sehun adalah benar. Tapi tidak sampai Chanyeol datang menyapanya.

“Chonsaaa,” sapa Chanyeol dengan ceria sambil duduk di samping yeoja itu. “Sehun-ah! Bagaimana kabarmu?” Kini berpindah pada Sehun. Merasa tidak enak? Tentu saja.

“Baik, Hyung. Kau?” balas Sehun.

“Seperti yang kau lihat sekarang. Aku selalu dalam keadaan sangat baik jika berada di sampingnya,” jawab Chanyeol sambil menoleh ke arah Chonsa. Tidak lama pukulan kecil mendarat di lengannya.

“Aku tahu..” ujar Sehun sambil tertawa kecil.

“Chonsa-ya, aku yakin kau sudah tahu tentang SIAS Song Festival. Aku ingin menyumbangkan satu lagu untuk acara itu,” cerita Chanyeol panjang lebar.

“Lalu?”

“Kau pasti bersedia membantuku, bukan?” tanya Chanyeol dengan puppy eyesnya yang sangat menggemaskan. Chonsa tertawa.

“Geuraaaaee,” jawab Chonsa sambil mendorong pundak Chanyeol agar menghentikan ekspresi aegyo akut itu.

“Hahaha!”

Sehun hanya tersenyum kecil melihat dua orang di hadapannya ini. Ya, mereka berdua terlihat cocok dan sangat akrab. Sepertinya Chonsa benar-benar merasa nyaman berada di samping Chanyeol.

“Baiklah, nanti malam aku ke dormmu. Siapkan banyak makanan, ara?” ucap Chanyeol.

“Shireo! Kapan kau akan selesai mengerjakan lagumu jika aku menyiapkan banyak makanan!”

“Aigeeuu..” gumam Chanyeol sambil mencubit pipi Chonsa dengan gemas.

“AAWWCCHH!! Apaaa~”

Kini Chanyeol mengusap pipi kiri Chonsa itu dengan senyuman penuh arti dan sempat membuat Chonsa mendapat serangan jantung secara tiba-tiba.

“Ah, Sehun-ah, jangan lupa nanti sore.” Chonsa mengalihkan wajah salah tingkahnya pada Sehun.

“Baiklah,” jawab Sehun singkat.

“Ada apa ini? Apa yang akan kalian lakukan? Mengapa terlihat sangat pribadi?” tanya Chanyeol beruntun.

“Kepo nih?” tanya Chonsa. Chanyeol hanya mengeluarkan ekspresi -..-

 

*

 

Kai mendesah keras ketika mendapatkan satu CD yang baru dia sadari masih berada di dalam tasnya seharian ini. Mengapa dia bisa sampai lupa mengembalikan CD milik yeoja itu?

Kelas sudah berakhir. Kini hanya tersisa dirinya di dalam studio itu. Ingin sekali dirinya memutar CD milik Chonsa ini dan kembali menari, mengingat gerakan sempurna yang pertama kali ia bawakan dengan seorang yeoja.

Kepalanya menggeleng kuat. Dia harus mencari yeoja itu dan mengembalikan CD ini.

Kakinya mulai melangkah keluar studio, menelusuri koridor dan tiba-tiba telinganya mendengar suara beberapa murid tengah berbincang di dalam toilet wanita.

Bukan, dia sama sekali tidak bermaksud menguping. Hanya saja suaranya. Ya, itu suara yeoja yang dikenalinya.

Hanya beberapa kata yang dia dapat di dalam otaknya dan selanjutnya Kai melanjutkan perjalanan untuk mencari Chonsa. Dia yakin yeoja itu belum kembali ke dalam dormnya. Oh Sehun. Pasti bersama namja itu.

Kai menggigit bibir bawahnya. Seharusnya dia tidak mengecek ruang tutor ini. Chonsa sudah pernah terkunci dan pasti mencari tempat lain.

Alisnya berkerut. Mungkinkah dia sedang berada danau? Hanya itu satu-satunya tempat sepi dan mendatangkan banyak inspirasi. Bukan karena kemungkinan. Tapi Kai benar-benar mengetahui Chonsa segalanya. Dulu. Dan Kai belum menyadarinya.

Kakinya tetap melangakah. Namun matanya tidak berpindah dari cover bungkus CD yang dipegangnya.

Mengapa lagi-lagi lambang ini yang muncul? Sepertinya ini semua benar-benar tidak asing dan selalu membuatnya penasaran. Sudah lama sekali.

Tidak lama dirinya sudah sampai di sekitar danau dan banyak bangku berjajaran di pinggiran danau indah tersebut.

Matanya langsung tertuju pada Chonsa dan Sehun yang tengah berbincang sambil memainkan lagu lalu tertawa bersama, bercanda. Itu semua terlihat indah.

Mengapa Kai tidak bisa membuatnya seperti itu ketika berhadapan dengannya? Bukankah itu semua tidak sulit? Kai sudah membangunnya sejak dulu. Namja itu menarik napas panjang dan menhembuskannya perlahan lalu membasahi bibir bawahnya dan berniat untuk mengembalikan CD ini nanti malam, setelah selesai  berlatih. Mungkin Kai juga akan memberikan beberapa pertanyaan pada Chonsa secara pribadi. Menyangkut masa lalu yang sepertinya cukup mengusik batinnya.

 

*

 

“Bagaimana jika dari D#m ke F?” tanya Chanyeol sambil menekan-nekan pensil ke bibir bawahnya. Matanya tetap mengamati not-not di atas kertasnya.

“Coba saja ke Bmol. Lagu baru, suasana baru?” Chonsa tertawa kecil.

Ya, malam ini mereka tengah berkutat dengan kertas bar di depan mereka, menggambar ratusan not.

Duduk lesehan dengan meja rendah, ruang keluarga, dorm Chonsa. TV dimatikan. Hanya suara gesekan kertas, pensil, penghapus dan sekali-kali mereka berbincang kecil lalu kembali berkonsentrasi.

Chanyeol melirik Chonsa yang berada di samping kanannya. Bibirnya tersenyum melihat yeoja itu sibuk membenarkan rambut yang selalu saja menggoda dan menghalangi pekerjaannya.

Dengan perlahan Chanyeol mengulurkan tangannya dan menyelipkan rambut yang mengganggu itu di belakang telinga Chonsa.

Yeoja itu cukup terkejut sambil melirik Chanyeol. “Terimakasih..” ucapnya sambil tersenyum dan cepat-cepat kembali menulis salah tingkah.

Chanyeol tertawa kecil. “Aku sudah selesai setengahnya. Bagaimana denganmu?” tanya Chanyeol sambil melirik singkat dan membereskan peralatannya.

“Sebenarnya aku sudah membuat lebih dari tujuh lagu untuk diserahkan pada Kim Sonsaengnim. Tapi ini sangat menyenangkan. Baiklah, kita sudahi saja dulu,” jawab Chonsa dan ikut membereskan peralatannya.

“Hah.. pukul setengah delapan..” ujar Chanyeol setelah melihat jarum jam.

“Memangnya kenapa? Kau akan kembali sekarang?” Chonsa meneguk air mineralnya beberapa kali.

“Tentu saja tidak.” Entah mengapa Chanyeol merasakan debaran keras di dadanya. Menelan ludah terasa sangat sulit.

“Lalu?” Sama saja dengan Chonsa. Tiba-tiba suasana terasa canggung.

“Aaaah, bagaimana kalau kau menceritakan tentang dirimu, hm?” tanya Chanyeol sambil menghadap tepat ke arah Chonsa. “Ayo, menghadap ke arahku, Chonsa-ya.”

Chonsa terlihat kebingungan. Apa yang harus dia ceritakan? Apakah bagian-bagian yang disembunyikan itu harus keluar? Tidak.

“Baiklah..” Akhirnya Chonsa benar-benar menghadap ke arah Chanyeol. “Bagaimana kalau kau lebih dulu? Sepertinya dirimu lebih menarik dariku, Oppa. Hahaha.”

Chanyeol tersenyum sambil mengangguk beberapa kali. “Aku lahir di California, 27 November 1992. Aku tidak mempunyai saudara jadi aku adalah anak satu-satunya. Orangtuaku bekerja sebagai promotor besar dan mempunyai manajemen artis di sana,” cerita Chanyeol dan mengambil napas beberapa saat.

“Lalu mengapa kau bisa di Korea?” tanya Chonsa yang sudah sangat benar-benar tertarik dengan cerita Chanyeol.

“Aku ingin meneruskan  perusahaan orangtuaku.”

“Tapi mengapa harus ke Korea?”

“Karena idolaku berasal dari Korea dan sangat kebetulan sekali ibuku memang asal Korea. Dan ah! Besok ibuku akan datang. Aku ingin kau bertemu dengannya. Bagaimana?”

Chonsa tertawa kecil. “Untuk apa?”

“Aku memaksa,” ucap Chanyeol tidak dengan senyuman. Tapi wajahnya terlihat sangat lucu.

“Baiklah..”

Kini Chanyeol tersenyum. Tapi tiba-tiba dirinya kembali bersiap untuk bercerita. Ada sesuatu yang harus dia ceritakan.

“Chonsa-ya, kau tahu si penari bertopeng yang menghilang itu?” tanya Chanyeol yang terdengar sedikit serius kali ini.

“Hm, ya. Kenapa?”

“Aku pernah bertemu dengannya!” seru Chanyeol sangat bersemangat. “Dia! Dia idolaku! Tariannya benar-benar hebat aku yakin kau tahu itu. Bahkan melebihi Kai!” tambah Chanyeol masih dengan semangat.

Berbeda dengan Chonsa yang kini benar-benar tidak dapat merasakan nyawanya masih berada dalam tubuhnya.

“Mengapa kau bisa bertemu?” tanya Chonsa yang berusaha terlihat wajar dengan ekspresi yang selalu dia keluarkan meskipun tidak berhasil dengan maksimal.

“Ibuku yang selalu mendampinginya jika dia mengikuti lomba atau mengadakan konser besar. Aku meninggalkan sekolahku di California dan memilih menetap di sini hanya karena aku berpikir kemungkinan besar aku akan bertemu dengannya. Dan ternyata benar meskipun hanya sekali. Tapi itu benar-benar bersejarah untukku. Kau tahu dia sangat misterius dan sulit ditemui.”

Chonsa memutar ingatannya. Berarti Miss Leona Park adalah ibu dari Chanyeol oppa. Dan namja tampan yang dulu ia temui itu adalah namja ini. Ketika Miss Leona memintanya untuk menemui anaknya yang sangat ingin bertemu dengan dirinya.

“Aku menunggu di salah satu ruangan yang benar-benar dijaga ketat oleh banyak petugas. Dan tidak lama ibuku datang dan membawa si penari bertopeng itu. Dia memberiku bulu putih dari topengnya yang sedang dikenakan.”

“Apa yang dia katakan?”

“Dia mengatakan bahwa topeng itu adalah kesayangannya dan apa kau tahu? Karena bulu itu diberikan padaku, topeng itu terlihat tidak sempurna. Yang lebih menyedihkan, setelah hari itu kita bertemu, dia tidak pernah terlihat lagi sampai sekarang.”

Chonsa tidak dapat menahan air matanya. Dia benar-benar marah pada dirinya sendiri. Mengapa dia tidak bisa menahannya? Apa karena dia merindukan hari-hari yang dia jalani waktu itu?

“Chonsa? Mengapa kau menangis? Hey,” tanya Chanyeol sambil mencari wajah Chonsa yang tertunduk. Tapi tidak lama dia mendapatkan dagu Chonsa dan diangkatnya sampai benar-benar menatap dirinya.

“Ini pertama kalinya kau melihatku menangis, bukan?” tanya Chonsa sambil tersenyum di dalam tangisannya.

“Apa aku menyakitimu, hm? Katakan padaku.”

“Tidak. Aku hanya kembali teringat pada kedua orangtuaku. Kami pernah melihat konser si penari bertopeng itu. Aku juga sangat mengidolakannya, Oppa. Tapi sayangnya aku tidak pernah bertemu atau mendapatkan apapun darinya,” jelas Chonsa sambil tertawa kecil dan menghapus air matanya sampai bersih.

Tiba-tiba Chanyeol menggenggam dua tangan Chonsa dengan mantap. “Aku akan memberikan bulu topeng itu padamu.”

“Bukankah itu sangat berharga untukmu?” tanya Chonsa yang dengan tiba-tiba ingin mengetes Chanyeol. Siapa yang lebih ia suka. Sosok dirinya yang tengah menjadi penari misterius atau sosoknya yang biasa seperti ini?

“Asal kau tahu, melihat kau tersenyum saja itu sudah menjadi sesuatu yang sangat berharga untukku.”

Kembali seperti ini. Semua terasa canggung. Namun kini Chonsa menyadari ada keseriusan pada Chanyeol. Ya, dia tahu namja ini lebih banyak bercanda. Tapi sepertinya tidak untuk sekarang.

Chanyeol tetap memandang Chonsa dengan dalam seperti itu. Tidak peduli dengan jantungnya yang terus memaksa keluar sejak awal.

“Sudah pukul setengah sembilan,” ucap Chonsa yang menyadarkan Chanyeol.

“Baiklah, sepertinya aku harus pulang sebelum gerbang asrama ditutup,” ucap Chanyeol setelah mengerjapkan matanya beberapa kali.

“Aku akan mengantarmu sampai pintu.”

“Ah, lebih baik.”

Mereka berdua bangkit dan mulai melangkah menuju pintu dorm. Kini Chanyeol sudah berada di luar dorm Chonsa. Tapi sepertinya dia tidak ingin berpisah dengan yeoja itu malam ini.

Matanya kembali menatap Chonsa dengan dalam sambil merasakan debaran yang selalu saja lebih parah setiap detiknya.

“Terimakasih untuk malam ini, Park Chonsa. Kau benar-benar sangat membantu,” ujar Chanyeol. Bibirnya tersenyum kecil.

Suasana dorm sudah sangat sepi. Hanya mereka berdua yang berada di koridor asrama kali ini.

“Ya, datang saja jika kau butuh bantuan..”

Chanyeol tidak juga beranjak pergi. Malah semakin mendekatkan dirinya pada Chonsa. Dengan ragu dia merunduk. Tangan kirinya merangkul pinggang Chonsa agar lebih dekat, sementara tangan kanannya dia selundupkan di belakang leher yeoja itu.

Wajahnya semakin mendekat dan akhirnya bibirnya menyentuh permukaan bibir Chonsa dengan lembut. Kedua mata mereka tertutup secara otomatis.

Tidak ada perlawanan.

Cukup lama mereka menikmati itu semua. Setelah Chanyeol tersadar kalau dirinya telah kehilangan banyak napas, dia melepaskan ciumannya dengan sangat perlahan. Lalu bibirnya mendekat ke arah telinga kanan Chonsa.

“Saranghae..”

 

*

 

Chonsa masih belum dapat mengumpulkan kembali semua nyawanya. Tadi itu benar-benar. Benar-benar.. ah, Chonsa juga tidak tahu bagaimana menggambarkannya. Apa dia menyukai Park Chanyeol? Tentu saja! Jika dia tidak menyukainya, mungkin sudah dari awal Chonsa menolak.

Setelah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, jemarinya kembali menyentuh permukaan bibirnya. Tidak lama dia tersenyum dan menutup matanya.

Benar-benar indah.

 

*

 

Tidak berbeda dengan Chanyeol. Sesampainya di asrama, dia tidak langsung masuk ke dalam dormnya melainkan menghampiri Byun Baekhyun!

“Kau. Masuk..” ucap Baekhyun lalu menutup pintu setelah Chanyeol masuk ke dalam dormnya.

“Baekhyuniee!!” teriak Chanyeol sambil memeluk Baekhyun dengan erat dan melompat-lompat bahagia.

Baekhyun hanya ketakutan melihat Chanyeol dan menjauh beberapa meter setelah Chanyeol melepaskan pelukannya. “Kau kenapa?!” teriak Baekhyun sambil berteriak di pojokan ._.

“Baekhyunnieee!!” teriak Chanyeol lagi sambil menarik Baekhyun untuk duduk di atas sofa.

“Kau terlihat menyeramkan, Park Chanyeol!!”

“Dengarkan aku..”

Baekhyun mengangguk beberapa kali dan siap untuk mendengarkan sahabatnya itu.

“Aku menciumnya..”

“Mwo? Jadi hanya karena kau mencium bau masakanku kau terlihat bahagia seperti ini? Haish, Park Chanyeol..”

“BUKAN ITU, BYUN BAEKHYUUUN!!”

*DUAAAAR*

Baekhyun terkejut. Apalagi suara Chanyeol terdengar seperti suara teriakan monster yang siap melawan Power Ranger -___-

“Lalu apa?” tanya Baekhyun.

“Aku berciuman dengan Park Chonsa!!” teriak Chanyeol.

Baekhyun terbelalak. Bukan hanya matanya saja. Mulutnya juga! Sangat lebar.

“Kau tidak berbohong, bukan?!”

“Untuk apa aku berbohong!”

“Jadi kau sudah menjadi sepasang kekasih dengannya?”

Chanyeol terdiam. Itu yang dia sesalkan. Tadinya dia ingin meminta Chonsa untuk menjadi kekasihnya. Tapi entah mengapa tadi itu bukan waktu yang tepat. Hanya menyatakan saja.

“Belum. Aku hanya menyatakan cinta saja padanya dan aku benar-benar bahagia.”

“Selamat, kawan. Sepertinya Chonsa juga menyukaimu. Jika tidak, mungkin sekarang aku melihat bekas tamparan di pipimu,” jelas Baekhyun sambil terkekeh. Chanyeol tertawa kecil.

“Hah, aku benar-benar bahagia, Baekhyun-ah..” ujar Chanyeol sambil menyandarkan punggungnya di sofa nyaman itu.

“Jadi selama ini ketika kau bersamaku kau tidak merasakan bahagia, hah?” tanya Baekhyun dengan tampang kekanakannya.

“Haah, maafkan aku, chagiya, aku menduakanmu kali ini..”

“YAK!! MENDUAKAN APA?!! MENJIJIKKAN!!”

Chanyeol tertawa dengan terbahak.

 

**

 

“Selamat pagi, Park Chonsa..” sapa Chanyeol pagi ini. Seperti biasa. Terlihat sangat segar dan ceria dengan senyumannya yang sangat lucu.

“Pagi, Oppa..” balas Chonsa dan menyambut uluran tangan Chanyeol.

Mereka berdua berjalan berdampingan menuju sekolah. Tidak ada pengganggu bernama Kim Sera kali ini. Entah berada di mana yeoja itu.

“Apa kau tidur dengan nyenyak tadi malam?” tanya Chanyeol sambil tersenyum lebar.

“Tentu saja tidak,” jawab Chonsa dengan tawanya. Chanyeol ikut tertawa.

“Begitupun denganku. Apa yang kaupikirkan?” tanya Chanyeol lagi. Sepertinya namja ini memang senang menggoda Chonsa.

“Apa yang aku pikirkan? Kau ingin jawaban jujur atau apa adanya?”

“Itu sama saja..”

“Berbeda, Oppa~.”

“Hmm, bagaimana kalau aku ingin kau menjawab keduanya?” Chanyeol melirik ke arah Chonsa dengan terpesona. Yeoja itu sangat cantik.

“Jangan melihatku seperti itu, Oppa. Aku tidak ingin kau tersandung batu dan jatuh,” ucap Chonsa sambil tersenyum malu. Lebih tepatnya salah tingkah.

“Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya. Karena aku tahu benar apa jawabanmu, Park Chonsa..” jelas Chanyeol lalu tersenyum jahil di akhir. Dengan cepat Chonsa memukul lengan kanan Chanyeol gemas.

“Park Chanyeol! Kim Sonsaengnim memanggilmu!” teriak salah satu murid SIAS yang mengenal Chanyeol.

“Baiklah, aku akan segera menemuinya,” jawab Chanyeol lalu beralih pada Chonsa. “Aku harus cepat menemui Kim sonsaengnim. Bagaimana denganmu?”

“Jangan khawatir, aku bisa berjalan sendiri ke dalam.”

“Baiklah.. sampai bertemu di jam istirahat, Chonsa-ya. Annyeong!”

Chonsa hanya tersenyum sambil menatap punggung Chanyeol yang tengah berlari menuju gedung sonsaengnim. Napasnya dihembuskan dengan perlahan lalu kembali melangkah menuju sekolah.

Kembali di koridor. Chonsa mendapati sosok Kai dan Dio. Lagi-lagi mereka.

“Park Chonsa!” sapa Dio dengan senyumannya yang sangat tampan.

“Dio sunbaenim!” balas Chonsa sambil membungkukkan punggungnya. “Kai!” sapanya pada Kai sambil lalu. Tapi dibalas dengan dengusan kecil.

“Park Chonsa!” teriak Dio pada Chonsa.

Yeoja itu menghentikan langkahnya dan berbalik.

“Kau sangat cantik hari ini dan hari-hari sebelumnya. Aku harap hari-hari selanjutnya kau bertambah cantik!” puji Dio dengan suara toaknya. Chonsa tertawa lalu kembali melanjutkan langkahnya.

 

*

“Apa yang kaukatakan, Do Kyungsoo?” tanya Kai yang mulai terganggu dengan ulah sahabatnya ini.

Dio kembali tertawa. “Lihat.. kau cemburu, bukan?”

DEG!

Kai terdiam. Rekaman kejadian itu datang kembali mengganggu pikirannya. Sangat sakit. Apalagi setelah..

“Kai!” teriak Dio.

Kai berdeham  kecil. “Hm?”

“Kim sonsaengnim menyuruhmu untuk menemuinya. Cepat ke sana!”

“Siapa yang menyampaikan pesan?”

“Apa kau tidak dengar? Beberapa detik yang lalu speaker berbunyi memanggilmu, Sehun dan Kai!” Dio menggelengkan kepalanya beberapa kali.

“Oh..”

 

*

 

“Pelajaran sudah berakhir. Apa ada diantara kalian yang sudah siap mengumpulkan lagu?” tanya Kim Sonsaengnim. Sepi. Tidak ada yang menjawab.

Chonsa berniat untuk mengedit beberapa lagu agar lebih sempurna. Jadi santai saja. Mungkin besok semuanya sudah beres total.

Setelah membereskan semua kertas not baloknya, Chonsa berjalan keluar dari kelas. Dia sudah tidak peduli pada Kim Sera.

“Park Chonsa!”

Chonsa terkejut ketika Chanyeol sudah berdiri di depan kelasnya sedari tadi. Tentu saja menunggunya keluar dan pergi ke suatu tempat hanya berdua.

“Kau lapar?” tanya Chanyeol. Kini dia lebih mencoba untuk menahannya. Menahan untuk tidak menggenggam jemari Chonsa. Akan terlihat agresif, bukan?

“Sepertinya,” jawab Chonsa sambil merapikan baby doll kuning cerahnya.

“Baiklah. Ya, ibuku sedang dalam perjalanan. Kau harus menepati janjimu,” ucap Chanyeol sambil tersenyum sangat manis.

“Baiklah..” jawab Chonsa. Jantungnya berdebar. Miss Leona. Orang terdekatnya yang menemani saat-saat dirinya menjadi si penari bertopeng.

“Chanyeol-ah! Kau dicari Kim sonsaengnim!” teriak seorang murid ketika Chanyeol dan Chonsa melewati studio dua.

Chanyeol mendesah panjang. “Kim sonsaengnim, mengapa kau menjadi penggangguku hari ini?” gerutu Chanyeol dengan suara kecil. Tapi sekecil-kecilnya suara Park Chanyeol, dalam radius dua meter akan terdengar dengan jelas. Apalagi Chonsa yang berada di sampingnya. Yeoja itu hanya tertawa kecil.

“Temui saja. Aku akan menunggumu di sana. Arasso?”

Chanyeol terdiam. Dirinya benar-benar merutuk Kim Jonghyun, guru yang tidak pernah membiarkannya lepas ketika acara Song Festival akan datang.

“Aku akan segera menemuimu,” ucap Chanyeol akhirnya.

Namja itu berbelok ke arah kiri koridor sementara Chonsa tetap berjalan lurus, menuju food court.

Matanya melihat sosok Kai yang tengah menyandar di tembok depan studio satu, yang sepertinya sudah menjadi tempat favoritnya mencari perhatian murid yeoja.

Jantungnya tersentak ketika Kai menatapnya dengan tajam. Ada apa ini?

Tidak jauh, Chonsa juga menemukan Soona tengah berkumpul dengan teman-temannya yang juga menatapnya dengan sinis.

Chonsa mencoba biasa saja dan tidak mempedulikan mereka. Kakinya tetap melangkah beraturan.

“Park Chonsa, ikut aku..” ucap Kai sambil menyambar pergelangan tangan Chonsa dan dibawanya ke dalam studio satu.

“Hey!” seru Chonsa terkejut setengah mati. Mengapa Kai tiba-tiba menariknya seperti ini? “Ya! Kau membawaku ke kamar ganti pria! Ini bukan tempatku!” ucap Chonsa cukup lantang sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Kai di pergelangan tangannya. Benar-benar namja kasar.

“Shhuuuttt..” Kai menempatkan jari telunjuknya di depan bibir dengan tatapan dingin. Itu berhasil membuat Chonsa ketakutan dan menutup mulutnya.

“Aku hanya ingin bertanya padamu. Dimana kau belajar menari?” tanya Kai sambil menatap Chonsa dengan tajam kali ini.

Chonsa merasakan debaran di jantungnya semakin cepat. Dia sudah menyangka bahwa Kai mengetahui dirinya yang sebenarnya. Park Angel.

“Di Daegu tentu saja. Memangnya kenapa?”

“Jangan berbohong padaku.”

“Aku tidak berbohong, Kai!”

Kai terdiam. Matanya bergerak menyapu permukaan wajah Chonsa yang mulus dengan baik.

“Aku tunggu pukul setengah delapan malam di studio satu. Awas saja jika kau tidak datang,” ucap Kai lalu pergi meninggalkannya seorang diri.

“Ya! Kai!” teriaknya.

Tiba-tiba seseorang muncul dibalik loker-loker. “Park Chonsa?!”

“Baekhyun sunbae? YA!! AKU HARUS KELUAAAR!!”

 

*

 

(Park Chonsa POV)

 

Sebenarnya dimana letak kesensitivan seorang Kai? Bagaimana bisa namja itu belum juga menyadari bahwa sebenarnya aku adalah Angel Park. Teman dekatnya waktu dulu. Oh, ya. Dulu. Bahkan sudah lama, lama, lama sekali. Dia pasti sudah melupakanku.

Dan apa? Dia memintaku untuk menemuinya di studio satu pukul setengah delapan malam nanti? Ayolah, dia pasti akan mengajakku untuk berperang. Seperti malam kemarin. Benar-benar mengesalkan.

Kutendang malas rumput-rumput subur yang menghiasi taman luas ini. Membosankan. Siapa yang harus kucari? Chanyeol oppa tentu saja. Tapi dimana dia?

“Park Chonsa!” panggil seseorang di belakangku. Bibirku tersenyum lebar. Tentu saja aku sangat mengenali suara berat itu.

“Op..”

DEG.. DEG.. DEG..

Mengapa tiba-tiba seperti ini? Miss Leona tepat berada di hadapanku. Mungkin hanya dia. Hanya dia yang mengetahui siapa diriku sebenarnya.

Penampilannya tidak juga berubah. Tetap cantik dengan rambut blondenya. Miss Leona benar-benar awet muda dan aku benar-benar menyukainya. Apalagi dia memperlakukanku seperti pada anaknya sendiri selama beberapa tahun.

“Park.. Chonsa?” tanya Miss Leona dengan suara lirih. Aku bisa melihat kedua matanya berkaca-kaca. Aku mengalihkan penglihatanku ke arah Chanyeol oppa. Dia terlihat kebingungan.

Aku juga kebingungan. Apa yang harus aku lakukan? Akhirnya aku tersenyum dan membungkukkan badanku. “Annyeong haseo..”

“Angel!!” seru Miss Leona lalu memelukku dengan sangat erat.

Kalau sudah seperti ini. Sudah tidak ada yang bisa disembunyikan lagi di antara aku dan Chanyeol oppa. Dia pasti akan banyak bertanya.

 

*

 

Akhirnya Chanyeol oppa sudah mengetahui siapa diriku sebenarnya. Dan ternyata benar dugaanku. Dia sangat terkejut dan bersikap cukup canggung padaku. Ini yang tidak aku suka. Seharusnya Chanyeol oppa tidak harus berubah seperti itu. Aku bukan penari hebat lagi.

Suasana sore di sekitar danau selalu saja terasa sejuk. Aku menyukai  udara tenang ini. Dan tanganku.. tidak berhenti menulis. Inspirasiku sangat lancar jangan kau tanya mengapa.

Dimana Oh Sehun? Sepertinya sudah dua puluh menit lebih dia terlambat. Haaah, mungkin dia sedang ada keperluan.

“Park Chonsa?”

Hah? Aku memalingkan wajahku. Mwo? SHIN HEERA! Itu Shin Heera!

“Ah, ne?! Annyeong haseyoo!” sapaku setelah menyimpan peralatan menulis.

“Annyeong haseyo,” balasnya sambil tersenyum sangat manis. Ya Tuhan, mengapa dia sangat cantik dan anggun? Aku iri padanya.

“Apa yang sedang kaulakukan di sini? Tidak kembali ke dorm? Hari sudah sore,” tanya Heera sambil merapatkan mantelnya ketika angin bertiup cukup keras.

“Aku sedang membuat lagu. Lalu apa kau sedang mencari Oh Sehun?” tanyaku sambil tersenyum jahil kearahnya.

Dia tertawa sambil menutup mulutnya. “Kau tahu..” Lalu Heera meneruskan. “Kau mengikuti SIAS Song Festival, bukan?”

Aku mengangguk mantap.

“Aku yakin kau akan menjadi yang terbaik. Aku sudah mendengar lima lagu milikmu yang membuatmu berhasil memasuki SIAS. Benar-benar keren,” jelas Heera sambil tersenyum lepas.

“Jinjja? Ah, gomawoo..”

“Park Chonsa, kau sudah pintar, cantik, ramah, apa yang kurang darimu? Aku benar-benar iri,” ucap Heera sambil tertawa kecil.

“Mworago~. Tapi kau tetap lebih hebat. Banyak sekali fans yang mengelilingimu, Shin Heera.”

Ketika Heera hendak menjawab, terlihat seseorang mendekat sambil membawa outfit putih di tangannya.

“Heera-ya..”

“Sehun-aaaah!!” seru Heera sambil melompat lalu memeluk Sehun dengan riang. “Sehun-ah, ayo kita pergi dari SIAS beberapa menit saja. Aku menemukan satu kedai kopi yang benar-benar sempurna di Apgujong. Kajjaaa~,” ajak Heera dengan manja sambil melingarkan tangannya di lengan kanan Sehun.

Sehun melirik pada Chonsa lalu kembali pad Heera. “Ah, biarkan aku berbicara sebentar dengan Park Chonsa. Bagaimana?” tanya Sehun sambil tersenyum.

“Baiklah..”

Sehun menarik Chonsa sedikit menjauh agar suara yang dikeluarkannya tidak sampai terdengar oleh Heera.

“Bagaimana ini?” tanya Sehun yang sepertinya dirinya juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

“Pergi saja, Sehun-ah!”

“Tapi siapa yang akan menemanimu menulis lagu?”

“Aku bisa sendiri. Sepertinya Heera sangat membutuhkanmu sekarang.”

Sehun menatap Chonsa. “Bagaimana jika ada seseorang yang akan melukaimu?”

“Tidak ada, Oh Sehun. Percayalah padaku..”

“Kau tidak menyadarinya, bukan? Saat kau sedang di taman, ada seorang yeoja yang menyemburkan lumpur dari kejauhan ke arahmu?”

Chonsa hanya membelalakkan matanya.

“Aku segera berlari dan menghalangimu. Untung saja kemejaku baik-baik saja. Hanya ini yang terkena,” ucap Sehun sambil mengacungkan outfitnya.

“Omoo! Sehun-ah, gomawo..”

Sehun menarik napas sambil tersenyum. “Aku akan selalu melindungimu sebisaku, Angel Park..”

DEG!!

Chonsa masih terpaku di tempatnya. Kini matanya hanya melihat Sehun tengah berjalan beriringan bersama Heera menuju asrama.

Bagaimana bisa Sehun mengenalinya?

 

*

 

(Park Chanyeol POV)

 

Jantungku selalu tiba-tiba berdebar seperti ini ketika kata-kata itu kembali terlintas. Kusimpan stik PS 3 ku di samping camilan yang benar-benar kuabaikan.

Park Chonsa adalah si penari bertopeng itu. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku mengenalinya sekarang? Meskipun dalam wujud Park Chonsa.

Tapi apa kalian tahu? Jantungku berdebar sangat keras karena aku benar-benar bahagia! Aku lebih menyukai Park Chonsa jujur saja.

Selain itu, aku benar-benar sangat beruntung karena telah mendapatkan ciuman hangat darinya. Benar-benar sangat spesial untukku. Park Chonsa.. Apa aku harus menemaninya kembali malam ini?

Dengan cepat aku menyambar ponsel yang tergeletak di atas meja rendah depanku.

Setelah menemukan nama dan menunggu nada tunggu, jantungku kembali berdetak cepat. Apalagi setelah suara indahnya terdengar.

“Park Chonsa..” sapaku selembut mungkin padanya.

“Oppa!” balasnya ceria. Aku menyukai dirinya seperti ini. “Ada apa?”

“Bagaimana kabarmu?”

“Ha? Apa tidak salah? Kau menanyakan kabarku? Haha! Bukankah kau sudah tahu bahwa aku baik-baik saja, Oppa?”

“Jawab saja..” ucapku datar. Tidak lama tawanya terdengar.

“Aku baik-baik saja, Oppa.”

“Syukurlah kalau begitu. Apa malam ini aku harus menemanimu?”

“Oppa, jangan khawatirkan aku seperti ibumu. Dia terlalu berlebihan. Haha. Jika aku ingin ditemani, aku akan memintamu untuk menemaniku, arasso?”

“Arasso. Annyeong, Chonsa-ya~”

“Annyeong, Oppa!”

KLIK!

Bibirku tersenyum dengan sendirinya.

 

*

 

(Author POV)

 

Chonsa melangkahkan kakinya lebih cepat menuju studio satu. Dirapatkannya sweater putih tebalnya. Malam ini benar-benar dingin sekali.

Kepalanya menoleh ke arah studio. Matanya menemukan Kai yang tengah memakai kaus hitam berlengan panjang dan sangat mencetak tubuh seksinya. Namja itu berdiri memunggungi Chonsa.

“Kai, aku datang.”

Kai yang tengah memilihih-milih CD, menyimpan mereka begitu saja dan berbalik dengan cepat dan melangkah dengan langkah yang mantap ke arah Chonsa.

Tiba-tiba tangan kuat namja itu menarik kedua pundak Chonsa dan memeluknya dengan sangat erat.

 

TBC ;]

………………………………………………….

MAAAAAFFF KELAMAAN YAAA??

Authornya abis sakiiit ga ada yang nguruuuus L

……………………………………………….

82 thoughts on “PULCHRITUDE [ CHAP 8 ]

  1. Aku mau dicium chanyeoooooooool demina oge!!!!! Ayolaaah chonsa, terima aja chanyeol!! Uwoooow jati diri Chonsa udah ketauan. Ea ea si Kai ningalinya pas chanyeol sama chonsa kisseu? Awawawaw aku seneeeeeeng baca part ini soalnya banyak si Virus na hahahaha baekyeooool kalian unyu cekaleeeeee. Next part negbut teeeeeeh. Lopyuuuuuuu. Chanye jadian sama chonsa yaaaaaa *maksa* *keheul keneh ngvote kaudag wae*

  2. Kalo ga slh ini end nya sama chanyeol ._. Ehehehhehehee tadi lupa mau ngomong apa x_x pdhal pas baca agak heran dikit kkkkk~ Kai!!!!!! Uynu nyaaaaaaa :3 kai buat aku aja yaa eonni :3 ehehhehehe lanjut lanjut aku tunggu!!!! Ngomon author pulchritude sama electricity beda ya? ._.V

  3. HUAAAAAAA BACON UNYU BANGET, MINTA DICIPOK!! *lah kok jadi ngomentarin bacon*
    hanjir itu Chanyeol, Sehun, Kai udah tau Chonsa sebenernya EAAA makin seru nih.
    Udahlah ChonChan jadian aja peleaseee…
    Itu si sehun kenapa bisa tau sih? Drmn coba?
    DE CEPET DILANJUTKAN YAH, GAK SABAR NIH

  4. Kenapa nanggung teh …kenapa ….tbc nya nanggung….mau lanjutannya besok ah (?) …trs knp barengan gini pada tau angel park ….pokoknya sama kai ah (?)

  5. Wuuaaaa chanchan sama cheonsa romantis sekali.. Saya dukung couple ini tjor.. Aku ngga bisa vote di webnya.. Aku vote nya disini aja ya :D aku vote CHANYEOL..
    Ff nya keren,.. Agrhhh, masih takut juga cheonsa dijahatin, tapi kan ada chanchan yg melindungi.. Ga takut lagi deh #sotau. Hehe

  6. akhirnya onnie!!! nunggu FF ini sampai buka2 blog ini tiap hari dan ternyata masih tetep daebak!!
    asli chanyeol teh yah aduh udh palingggg pas kissnya xD chonsa sma aku tukeran aja yah min haha ^_^
    oh ia btw GWS yah onnie jaga kesehatan supaya update terus FFnya hihi ^o^
    *peluk sehun* #eh -,-

  7. akhirnyaa chap 8 udah adaaa~ *0* nungguin
    ini chapter sampe buka blog ini tiap hari eonn=))
    semakin seru ceritanyaa~ apalagi aa chanyeol!! harus nya aku yg dicium *plakk =))
    oh iya, cepet sembuh yaa eonni.. gws biar chap 9 cepet ada jugaaa ehehe._.

  8. Wahahaha akhirnya chonsa kebongkar……ceritanya makin seru xD ditunggu lanjutannya yaaa jgn lama2 ;)

  9. Deg-degan ya bacanya……..huooowwwwwwwwww
    Nanti chonsa sama siapa jadinya?:/ kasihan itu kayak digantungin wkwk-_-
    Aku tunggu next chapternya ya!!!:D
    Sumpah ini ff paling keren yang aku baca selama ini /gaboong beneran deh/

    • hahaha digantungin mati doong *eh
      okeh sayaaang yang sabar ya nunggunyaa haha
      EH BENERAAAAAN??? MASA SIIIIIH??? IIIHHH AKU SENEEEENG HAHHAHAHAHA XD
      MAKASIH YAAAAAA XD

  10. Eonn .. Bikin PENASARAN SUMPAH !!!

    Lanjut Yah EOOON jgn Lama2 …
    Bikin Readers tercintamu ini menunggu saja ..

    Aku menyukai semua FF yg EON tulis itu bener-bener daebak ..
    Apalagi susunan katanya itu Lho yang Baku and baguss .. Mudah di mengerti ..

    I LIKE THAT ..

    LANJUTKAN !!!

  11. akhirnya keluar juga chap yang udah ditunggu tunggu, eonnie cepetan dong keluarin chap selanjutnya ga sabaaaaaaaar :)

  12. aku lebih suka chonsa sama chanyeol ._. tp knp kayaknya chonsa lebih klop sm kai tp gatau ahhhhhhhh bingung yg jelas mereka sm2 cocok buat chonsa hehe. lanjut thor!!!!!!!!!!

  13. Dah, kangen ma FF nie, eon! Dah sembuh kan? ak ska yang waktu “Baekhyun terbelalak. Bukan hanya matanya saja. Mulutnya juga! Sangat lebar.” GG bisa bayangin wajah Baek Hyun kyk ap? Pasti gokil banget. Dah, penasaran ma yg dilakuin KAI ke Chonsa. KAI dah tau klo Chonsa itu Angel Park ya?

  14. wuaaa baru kali ini baca ff ikutan deg degan, senyum” sendiri, sedih sendiri wuaaaaaa ddaebak bgt thor! Chonsa harus sama chanyeol!!
    klo gak bsa sama chanyeol, aku aja yg sama chanyeol (?) ehehe
    Kapan next chapt nya thor?
    Ditunggu yah, secepatnya!! ;D

  15. Wa!!!! Keren!!!! Lanjut part 9 thor udh nggak sbr nih….#penasarn tingkat tinggi
    Ceritanya smpai buat aku kebayang trus, bhsanya juga enak dimengerti, idenya keren juga thor…
    Ditunggu kelanjutannya ya thor, aku selalu menunggu :D

  16. Tanggal berapa ini di post? 10 Mei. Tanggal berapa sekarang? 20 Juni! Skehehehe!! «efek frustasi uname nyuppa. Sorry y, kn waktu itu lg tapa. Skehehehe!

    Great! Banyak kejutan di chap ini. Chanyeol udah tau. Sehun jg. Lah itu Sehun tau drmn? Dan apa itu? Knp Kai tiba2 meluk Chonsa? Apa jgn2 dia jg udah tau? :O

    Aku ada feeling kalo Kai sampe tau Chonsa itu Angle, wah posisi Chanyeol terancam. Jujur nih ya, awal2 aku ngerasa Chanyeol itu lebih cocok jd abang buat Chonsa. Tp setelah insiden *ehem* ‘itu’. Atuhlah plis Chonsa sm Chanyeol aja.

    Oke, aku baca next chap dulu~

  17. Hiyaaa itu sehuna tau dari mana kalo chonsa itu angel park? apa jangan-jangan pas ibunya chanyeol manggil chonsa dengan panggilan angel disitu ada sehun? next dulu ah..

  18. huaaaaa…. akhirnya ada kisseu nya jugaaa dan itu cheonsa sama chanyeol xD
    awalnya aku kira bakalan sama kai dulu karna waktu itu mereka menari bersama terus ada adegan ciuman dalam tariannya tapi ternyata engga hihi
    aku baru ngeuh nih, si cheonsa ini ternyata saling berhubungan sama orangtua chanyeol,sehun,kai….
    oh iya, kamu bisa bahasa sunda ya?
    tingkatkeun terus kisseu na nyaa ehehe #plakkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s