ELECTRIC [ CHAP 6 ]

ELECTRIC

 

Author: Shin Heesa

Cast:

  • EXO
  • Kim Heesa

 

Disclaim: Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Ps:

  • Don’t be silent reader
  • Don’t copy – paste my imaginations!!

(Author POV)

 

Heesa memarkirkan getz putihnya di depan rumahnya. Ia keluar dari mobil dan mengunci pintunya. Setelah itu ia berjalan ke dalam rumahnya untuk beristirahat kembali. Hari sudah gelap.

Ketika ia akan memasukkan kuncinya, ia mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Setelah ia membalikkan badannya, ia melihat Kai turun dari mobil. Wajahnya berseri-seri ketika menghampiri Heesa.

“Heesa~”

“Oh, Kai.”

“Apa kau menerima pesanku?” tanya Kai berusaha mengingatkan Heesa. “Ah tidak perlu diingat. Kau ternyata pulang tepat waktu.”

Sebagai jawabannya, Heesa membulatkan mulutnya tanda ia mengingat pesan yang Kai kirim ke ponselnya pada saat jam pelajaran.

“Hm. Ya aku ingat. Lalu ada apa? Mengapa kau kemari?” tanya Heesa heran. Kai memanyunkan bibirnya, lalu ia mencubit pipi Heesa.

“Apa kau lupa, hm? Aku kan sudah bilang kalau aku akan tinggal disini sampai orangtuamu pulang~”

“Aaaaaah~ hentikan, Kai! Kau menyakiti pipiku!” Akhirnya Kai melepaskan cubitannya. Heesa mengusap kedua pipinya lalu meleletkan lidahnya pada Kai.

“Ah, ya. Heesa, aku membawa seseorang kemari. Apa itu tidak apa-apa? Hanya bermain,” ucap Kai dengan cengiran kudanya. Heesa memutar kedua bola matanya. Pasti Sera.

“Langsung ke inti saja. Kau membawa Sera bukan?” tebak Heesa. Kai mengangguk semangat. Melihatnya bahagia seperti ini, akhirnya Heesa menyerah. “Arasso.. ajak dia masuk.”

**

Heesa sudah menyikat gigi, mencuci muka, dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Sebenarnya Heesa sadar ini baru jam tujuh malam. Namun entah mengapa sepertinya ia tidak bisa berbuat apa-apa selain melakukan kegiatan sebelum tidur. Heesa galau karena kini ada dua insan tengah bermesraan di rumahnya.

Heesa menghembuskan nafas panjang. Ia segera mencari ponselnya takut ada pesan atau panggilan yang tidak terjawab. Namun, ia tidak menemukannya di sekitar kamarnya.

“Aah! Bagaimana bisa? Ponsel itu tertinggal di bawah! Dan.. Kai dan Sera ada disana. Aaaah! Aku tidak mau melihat mereka!” teriak Heesa tidak santai. Heesa menjambak rambut panjangnya dan mengacak-acakannya. “Hah, geurae. Aku akna membawanya.” Heesa kembali merapihkan rambutnya lalu mengambil jaket untuk menutupi baju tidurnya.

Ia keluar dari kamar dan menutup pintunya dengan perlahan. Sambil menuruni tangga, Heesa melihat ke bawah, takutnya mereka berada di sekitar ruang tengah. Tetapi Heesa tidak melihatnya, dan kini hati Heesa sedikit merasa lega.

Heesa berjalan leluasa menuruni tangga. Dan setelah sampai di bawah, ia segera mencari tasnya. Kemana dia?

“Hahaha.. Kai hentikan!”

Mwo? Itu suara Sera. Heesa mengerutkan keningnya penasaran.

“Tidak mau! Kau harus mendapatkan hukuman dariku!”

Hukuman? Memang apa yang tengah mereka lakukan? Hah, seperti anak kecil saja.

“Kai, kumohon!”

“Shireo!”

“Kaaai~”

Yaks.. suara manja. Heesa menutup telinganya sesaat. Ia tidak suka dengan nada itu.

Namun seketika tidak ada suara. Hening. Kemana mereka? Tidak mungkin mereka pergi begitu saja dari rumahnya.

Heesa tetap diam di tempat, namun ia semakin mempertajam pendengarannya. Apa.. apa yang sedang mereka lakukan? Apppaaaaaaah???? I’m so curious yeaah~

Akhirnya Heesa mendengarkan sebuah suara. Suara yang.. entahlah. Tidak bisa dideskripsikan. Tetapi, sesekali terdengar desahan kecil. Ah, tidak mungkin. Mereka tidak diizinkan berciuman di rumahnya.

Namun Heesa sudah mengetahuinya. Kai dan Sera pasti tengah berciuman. Tanpa memperdulikan ponselnya kembali, Heesa segera berjalan menuju tangga dan menaikinya satu persatu.

Ah, ya. Heesa harus melakukan sesuatu sebelum benar-benar pergi ke kamarnya.

“KAAAAAAAIIII SUDAH MALAAM!! KAU HARUS MEMBIARKAN SERA PULANG!!!!!!!!”

Okay, teriakkan tadi cukup terdengar sampai tetangga sebelah. Dan juga cukup untuk melegakan hati Heesa, sampai matanya kini mengeluarkan titik-titik air mata.

*

Heesa menangis sejadi-jadinya. Beberapa kali ia membuang tisunya setelah ia pakai untuk menghapus air matanya. Mengapa Kai harus melakukannya di rumahnya? Mengapa, Ya Tuhan? Mengapa..

Heesa mengambil selembar tisu kemudian menghapus air matanya yang tidak henti-hentinya turun mengalir menuruni pipinya. Ia merasa sakit hati karena Kai.

Tok tok tok..

Terdengar ketukan kecil dari dalam kamar Heesa. Heesa memelankan suara tangisannya.

“Heesa? Buka pintunya. Apa aku boleh masuk?”

Heesa menggertakkan giginya kesal. Mengapa namja itu masih berada disini? Aargh..

“Heesa sudah tidur!” teriak Heesa seperti anak kecil. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.

Kai tertawa kecil mendengarnya. “Heesa~”

“Heesa sudah tidur! Pergi! Kau mengganggu tidurnya.”

Kai tertawa kecil kembali. Kai menjadi teringat masa kecilnya. Ternyata sikap Heesa sama seperti dulu ketika ia sedang tidak ingin diganggu atau ketika ia sedang menangis.

Tunggu, menangis?

“Heesa? Ya, Heesa! Kau menangis?”

Heesa menyusut air matanya dengan lengannya. “Sudah kubilang Heesa sedang tidur! Apa kau tidak mengerti?”

Kai menghela nafas panjang. Ya, jelas-jelas dari suaranya Heesa sedang menangis. Namun menangis karena apa?

“Baiklah. Aku akan tidur diluar. Maaf aku telah mengganggumu, Heesa. Selamat malam.”

“Sudah seharusnya kau tidur diluar..” balas Heesa dengan suara yang pelan. Setelah Heesa mendengar langkah Kai yang menuruni tangga, ia bernafas lega. Namun setelah itu Heesa menangis kembali.

“Mengapa, Tuhan? Mengapa aku menyukainya..”

***

Heesa segera mengenakan cardigan biru tuanya lalu mengambil tas kulitnya yang berwarna putih. Setelah itu, ia mengikat atas rambut coklat panjangnya dan memakai sepatu kets hak tinggi. Ia senang berpenampilan seperti ini. Namun keadaan matanya sangat tidak mendukung. Karena kini mata Heesa terlihat membengkak karena menangis. Menyebalkan.

Namun Heesa tetap memberikan senyum di depan cermin, berusaha tampil senormal mungkin.

Akhirnya setelah bersiap-siap selama lima belas menit, Heesa keluar dari kamar lalu menutup pintunya. Ini baru jam setengah tujuh. Sengaja ia berangkat pagi-pagi karena ia tidak mau berangkat bersama Kai. Hah, maaf saja.

Ketika Heesa sudah samapi di bawah, ia melihat Kai tengah tertidur pulas di atas sofa dengan tangannya yang memeluk bantal sofa. Heesa bernafas lega. Untunglah Kai masih terlelap dalam tidurnya.

Heesa segera masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesinnya, bersiap berangkat menuju kampus.

**

Heesa berjalan di sepanjang koridor kampus yang masih terasa sangat sepi. Hanya ada petugas sekolah dan beberapa murid yang berada di kelasnya masing-masing. Heesa merasa baik-baik saja, ia malah merasa senang karena kampusnya belum terlalu ramai seperti akan memasukki jam pelajaran pertama.

Heesa memasuki kelasnya lalu duduk di bangku kesayangannya. Heesa menarik nafas panjang. Ia masih teringat pada kejadian tadi malam. Kai.. mengapa namja itu tidak peka terhadap perasaannya? Atau mungkin Kai sudah memang menganggapnya, dan tidak lebih dari itu?

Heesa menghembuskan nafasnya lirih. Ia merasa hampa dan kehilangan arah. Aaargh Kai! Mengapa ia bisa menyukai sahabat sendiri? Padahal masih banyak namja yang bisa ia sukai. Seperti Luhan atau Baekhyun? Bisa juga..

“Pagi, Heesa!”

Tiba-tiba Luhan berlari memasuki kelas dan menghampirinya. Heesa sedikit terkejut dengan kedatangannya.

Luhan segera duduk di sampingnya lalu meletakkan tasnya di atas meja.

“Tumben kau datang pagi-pagi,” ucap Heesa mengawali pembicaraan, namun nada suaranya tidak terdengar semangat.

“Aku memang selalu datang pagi-pagi. Apa kau tidak ingat? Aku sudah beberapa kali datang lebih awal darimu,” balas Luhan sambil memamerkan deretan giginya yang rapih. Heesa memutar kedua bola matanya disertai dengan senyum manisnya.

“Ah, tetapi tetap saja aku yang paling sering datang pagi daripadamu,“ balas Heesa tidak mau kalah.

“Arasso. Kau menang,” ucap Luhan mengalah. Heesa dan Luhan tertawa kecil.

Kini Luhan menatap Heesa dengan seksama. Penampilannya sangat sederhana namun menarik. Juga wajah cantiknya yang selalu dirindukan oleh Luhan. Hah.. mengapa ia memikirkan hal itu? apakah Luhan menyukai Heesa? Entahlah.

Tunggu. Sepertinya ada yang salah dengan ekspresinya. Heesa tidak terlihat bersemangat, dan juga seperti tengah memikirkan sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya.

“Heesa, ada apa?”

Heesa yang tadinya tengah melamun, kini langsung menatap Luhan dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya.

“Hm?”

“Ada apa dengan raut mukamu? Tidak enak dipandang.”

“Maksudmu?” tanya Heesa, belum sepenuhnya kembalik dari lamunannya.

“Aaah. Mukamu! Tidak enak dipandang!” ucap Luhan sedikit kesal. Heesa memanyunkan bibirnya.

“Mwo? Kau bilang mukaku tidak enak diapandang? Hah. Kau tahu? Sekarang kau sedang berhadapan dengan yeoja tercantik sedunia!” balas Heesa asal sambil mengibaskan kuciran kudanya. Luhan tertawa geli. Sempat-sempatnya Heesa bercanda di saat ia terlihat bingung dan sedih.

“Benarkah?” tanya Luhan balik, menerima permainan yang Heesa berikan. “Sungguh aku tidak menyadarinya. Lihat! Terlihat jelas sekali ada kantung mata dan kerutan di wajahmu! Apa ini yang disebut yeoja tercantik di dunia?”

Heesa membulatkan matanya lalu memegang pipinya. “Omo! Apa kau mengucapkan yang sesungguhnya? Aku ada kantung mata dan kerutan? Dimana?”

Luhan hanya menyengir kuda. Heesa perlahan menatapnya tajam. “YA! Kau mempermainkanku..”

Kini Luhan tertawa terbahak. Ia senang menatap wajah Heesa yang sedang kesal padanya seperti sekarang. Terlihat sangat menggemaskan.

“Woo jangan maraah~” ucap Luhan sambil mencubit kedua pipi Heesa. “Mian.”

Heesa melepaskan cubitan Luhan dipipinya dengan paksa. “Aah lepaskan! Jika kau mencubitku seperti itu, kerutan di wajahku benar-benar akan terlihat!”

Luhan tertawa singkat. “Aku hanya bercanda tentang kerutan itu. Lagipula setiap hari wajahmu selalu terlihat sama.”

Heesa mengangkat kedua halisnya penasaran. “Sama bagaimana?”

“Cantik,” jawab Luhan jujur. Seketika Heesa terdiam. Bukan karena ia tersanjung ketika Luhan memujinya, tetapi kini cara pandang Luhan padanya.. membuat jantungnya tidak santai untuk berdegup normal.

“Hhh.. kau sungguh menyebalkan,” ucap Heesa sambil memalingkan mukanya. Luhan tertawa kecil. Terlihat sekali Heesa kini sedang menahan malu.

“Ah, tapi Heesa..”

“Hm?” sahut Heesa pendek tanpa menghadapkan wajahnya pada Luhan. Akhirnya Luhan terpaksa memegang dagunya lalu memutar kepala Heesa agar menghadap kepadanya.

“Aku jujur tentang kantung matamu. Kau terlihat seperti kelelahan dan habis menangis semalaman. Apa yang terjadi? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?”

Heesa memasang mimik terkejut. “Ah.. benarkah? Ah, ottokhae? Aku harus menghapus kantung mataku segera..”

Heesa mengusap-usap kedua matanya, berharap hanya dengan melakukan hal itu dapat menghilangkan kantung matanya dengan cepat. Sementara itu, Luhan memikirkan solusinya.

“Ah! Aku tahu! Ayo ikut aku!”

*

“Ah, Luhan! Dingin~”

Luhan hanya tertawa kecil. “Dingin yang mana? Mentimunnya atau udaranya?”

“Udaranya. Mengapa kita harus ke atap?” protes Heesa sambil membalikkan bonteng yang berada di atas matanya.

“Agar Chaeri tidak mengganggu kita. Apa kau lupa bahwa ia menyukaiku dan akan melakukan apapun agar mendapatkanku?”

Walaupun tanpa melihat ekspresinya, Heesa sudah menggambarkan wajah Luhan yang kini sedang merasa bangga. Heesa mencibir pada Luhan.

“Hah. Sepertinya kau merasa senang bahwa Chaeri tergila-gila padamu,” ucap Heesa asal sambil membenarkan posisinya yang.. mungkin tidak nyaman. Karena kini ia menyenderkan tubuhnya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada aspal dan kepala yang didongkakkan agar mentimunnya tidak jatuh. Dengan posisi seperti itu, lehernya terasa sangat pegal dan sakit.

“Tidak juga. Sebelumnya selain Chaeri juga banyak yang mengejarku,” balas Luhan. Ia menatap Heesa yang masih bertahan dengan posisi itu. “Apa kau termasuk di dalamnya?”

“Apa?”

“Kau mengangumiku, bukan?”

Heesa menghembuskan nafasnya sekaligus, lalu meleletkan lidahnya. Meskipun tidak menghadap pada Luhan, namun Luhan tahu itu ditujukan untuknya.

“Demi apapun, Luhan. Kita belum saling mengenal. Bagaimana bisa aku menganggumimu, hm? Pabo.”

“Hei.. ya~ kau berani memanggilku pabo?”

Heesa tersenyum senang. “Biar saja. Pabo!”

Luhan merasa gemas. Ia akhirnya mencubit pipi Heesa dengan keras.

“AW!”

“Rasakan. Itu balasan karena menyebutku pabo,” ucap Luhan sambil meleletkan lidahnya, meskipun ia tahu Heesa tidak bisa melihatnya.

Lama kemudian, akhirnya Heesa tidak tahan. Ia menegakkan tubuhnya sekaligus dan membiarkan mentimun itu jatuh dari matanya. Ia memijit belakang lehernya sambil meringis sakit.

“Ah, leherku. Seperti mati rasa!”

“Heesa! Mengapa kau menjatuhkan mentimunnya? Yah.. aku harus memotong mentimun yang baru lagi untukmu..”

“Jangan mengeluh seperti itu! Aku tidak tahan.. leherku sakit! Asssh..” rutuk Heesa lebih pada dirinya. Ia memukul belakan lehernya dengan pelan. “Luhan, apa kantung mataku masih ada?”

Sesaat Luhan berhenti memotong mentimunnya. “Ya. Masih terlihat sangat jelas.”

“MWO? Aah.. memang harus berapa lama? Leherku sudah tidak bisa menahannya lagi..” keluh Heesa sambil memijit lehernya. Luhan selesai dengan potongan timunnya, dan memberikannya pada Heesa.

“Kalau begitu, kau bisa tidur di atas pahaku,” tawar Luhan sambil menepuk pahanya. “Ini terasa nyaman asal kau tahu.”

Seketika Heesa tersenyum lebar. Ia segera mengambil posisi tidur dan menyimpan kepalanya di atas paha Luhan. Hah.. terasa lebih baik.

“Thank you. Aku merasa lebih baik,” ucap Heesa sambil meletakkan mentimunnya kembali di atas matanya. Luhan tersenyum simpul melihatnya.

“Tentu saja kau merasa lebih baik. Kau sedang tidur di atas paha namja yang paling tampan sedunia!”

Heesa tertawa terbahak. “Hahaha.. lucu sekali! Kau mengkopi kata-kataku!”

“Mwo?”

“Kau lupa? Tadi ketika di kelas aku mengucapkan bahwa aku adalah gadis tercantik sedunia. Dan sekarang kau bilang bahwa kau namja paling tampan sedunia,” jelas Heesa sambil tersenyum geli. Luhan menatap wajah Heesa lalu ikut tersenyum.

Ketika Luhan tengah mengamati wajah Heesa yang bisa dibilang dari jarak yang cukup dekat, Heesa membuka mulutnya untuk berbicara. “Ah! Yeoja tercantik di dunia dan namja tertampan di dunia. Bukankah itu serasi?”

Pernyataan yang diberikan Heesa ternyata berpengaruh pada jantung Luhan. Kini Luhan merasa seperti kesulitan mengisi paru-parunya dengan udara di sekitarnya.

“Dan itu juga berarti,” ucap Luhan setelah mengendalikan detak jantungnya. “Aku dan kau serasi? Kita mungkin memang sudah ditakdirkan untuk bersama,” lanjut Luhan sambil menatap ke langit yang mulai terlihat bercahaya. Heesa tertawa kecil.

“Jangan berkhayal terlalu tinggi, Luhan! Kau tahu? Aku adalah salah satu orang yang sulit digapai oleh siapapun!”

Luhan tertawa terbahak. “Lihat saja jika aku berhasil menggapaimu. Kau ingin berjanji padaku satu hal tentang ini?”

Heesa tersenyum menantang. “Tentu!”

Luhan tersenyum manis. “Jadilah kekasihku.”

Sekejap Heesa tidak bisa berkata apapun. Ia membiarkan dua kata itu masuk ke dalam pikirannya dan menguasai seluruh urat sarafnya. Yang tadi itu.. terdengar sungguhan.

Akhirnya hanya ada satu kata yang terpikirkan di otak Heesa. “Pabo.”

Luhan menatap Heesa terkejut. “Ya! Kau menyebutku pabo lagi!” protes Luhan dengan matanya yang bulat. Heesa meleletkan lidahnya.

“Biar saja! Kau pabo!”

Luhan tertawa geli lalu mencubit hidung Heesa. “Kau benar-benar membuatku kesal.”

Heesa menanggapinya dengan senyuman manisnya.

“…”

Chaeri hanya mampu mengepalkan kedua tangannya.

**

Heesa kini tengah berjalan sendiri di koridor, berniat menuju kantin. Luhan kini sedang berada di ruang musik bersama Baek Sonsaengnim, dan.. jujur saja. Heesa sedikit merasa kesepian.

Heesa akhirnya duduk di salah satu bangku kosong. Ia melihat daftar menu untuk memilih makanan yang enak dan mengenyangkan untuk di santap.

“Hmm.. fried strawberry sepertinya enak. Atau choco banana? Aih, mengapa banyak pilihan.. AH!”

“Ups..”

Hampir seluruh perhatian yang berada di kantin terlaihkan menuju Heesa yang kini hampir seluruh tubuhnya basah oleh jus strawberry milik Chaeri. Dan yeoja itu kini hanya tersenyum mengasihani Heesa.

“Ckckck.. mungkin jus ini bukan untukku,” ucap Chaeri sambil tertawa sinis. Heesa memejamkan matanya dan mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Ia mengatur nafasnya yang terburu-buru karena menahan marah dan kesal.

Tepat ketika itu, ada tiga namja yang ingin menolongnya. Namun ternyata ada satu namja yang lebih cepat mengambil tindakan. Ia segera membawa Heesa keluar dari kantin dengan tatapan bengis yang diberikannya pada Chaeri.

*

“Kai! Sebelah sini masih basah..”

“Arasso arasso. Bersabarlah sedikit!”

“Kai, aku kedinginan~”

“Aku tahu, Heesa.”

“Sepertinya aku akan menangis, Kai. Aku tidak membawa baju ganti.. bagaimana inii?”

“Aku membawa sweater.”

“HUAAA!! AKU SUNGGUH MEMBENCINYA, KAI!! CHAERI CHAERI GILAAAA!!!” teriak Heesa melampiaskan kekesalannya pada Kai. Ia memukul punggung Kai cukup keras, sehingga membuat Kai sedikit kesulitan untuk membersihkan baju Heesa.

Lagi-lagi, Heesa berada di atap sekolah, namun kali ini ia bersama Kai. Heesa merutuk kepada takdirnya yang hari ini mengapa begitu terasa sial baginya. Dan mengapa harus Chaeri? Dia! dia yang selalu membuat Heesa merasa tidak ingin untuk hidup! Hhh.. entah mengapa ia merasa kejadian empat bulan yang lalu serasa dialaminya kembali.

Kai memegang tangan Heesa lalu membersihkan bagian lengannya. Heesa memanyunkan bibirnya sambil melihat Kai yang masih sibuk dengan kerjaannya.

“Kau mau mengganti pakaianmu?” tanya Kai sambil menatap mata Heesa lurus. Heesa balas menatapnya dengan malas.

“Dengan sweatermu?” tanya Heesa meyakinkan.

“Hm,” jawab Kai singkat. Ia menatap Heesa kembali, dan menangkap apa yang Heesa maksudkan. “Tenang saja. Sweaterku selalu bersih dan harum sepanjang hari.”

Heesa tertawa. Ia mencubit pipi Kai dengan gemas. “Mengapa kau tahu maksudku?”

“Hhh.. Heesa.. aku sudah mengenalmu lebih dari sepuluh tahun. Bagaimana tidak aku tidak tahu apapun tentangmu? Haha,” jawab Kai dengan tawa kecil di akhirnya. Heesa hanya tersenyum simpul.

“Yasudah, aku akan mengambil sweaterku. Tunggu sebentar.”

Kai bangkit dari duduknya lalu berjalan santai menuju pintu atap. Heesa menatap Kai terus menerus, sampai punggungnya tidak terlihat lagi olehnya.

*

“Ya! Mengapa kau tidak membawa Heesa keluar dari kantin? Mengapa kau membiarkan orang lain mengambilnya lebih dulu darimu, hm? Padahal aku sudah memberikan kesempatan besar untukmu!”

“Aaaargh! Molla, Chaeri! Molla!”

“Ya! Baekhyun-ah!”

Baekhyun pergi dengan cepat dari hadapan Chaeri dengan ekspresi kesal yang terpampang jelas diwajahnya. Chaeri menggigit bibir bawahnya kesal.

“Aaash!! Baekhyuun~” rutuk Chaeri sambil menghentakkan kakinya beberapa kali ke tanah taman belakang kampus. Chaeri kini merasa marah, dan ia mulai berpikir keras. Mengapa rencananya yang satu ini tidak bisa berjalan dengan baik? Mengapa ia merasa Heesa tidak hanya dekat dengan Luhan, tetapi dengan semua namja yang pernah ia suka ataupun yang ia suka? Apakah yeoja itu memakai pelet atau apa? Uurrgh! Memikirkannya saja Chaeri serasa berlari mengitari lapangan baseball seratus keliling.

Well, ia tetap akan memperthanakan rencana ini, yaitu menjauhkan Heesa dari Luhan dengan Baekhyun yang menjadi pemisah antara mereka. Tetapi, apakah rencananya akan berhasil sampai akhir?

*

Dio meremas kaleng minuman yang berada dalam genggamannya sampai gepeng. Ia melempar kaleng itu sembarang. Ia galau

Heesa.

Mengapa Chaeri masih mengganggunya? Apakah masalah empat bulan yang lalu belum usai? Benarkah?

Dio menggelengkan kepalanya cepat. Itu tidak mungkin. Ketika ia pergi ke Amerika, ia memastikan bahwa masalahnya benar-benar selesai. Dan memang benar, selama dua hari ia mengecek hubungan Chaeri dan Heesa sudah tidak ada masalah lagi. Lalu apa ini?

Apakah ada masalah baru? Apakah kasusnya sama? Lalu.. pasti ada namja. Chaeri tidak akan berbuat seperti itu jika alasannya bukan namja.

Dan siapa namja itu? Apakah.. namja itu yang menyelamatkan Heesa tadi? Dia kah?

Dio menggerutu kesal. Ia merasa sedikit menyesal karena tidak mengambil langkah cepat untuk menyelamatkan Heesa tadi. Hah.. sekarang ia merasa ragu apakah ia masih memiliki perasaan pada Heesa atau tidak. Karena setiap ia melihat Heesa, ia selalu merasakan kerinduan yang amat sangat dalam hatinya. Ia ingin berbicara dengannya, tertawa, bermain, juga memeluknya.. namun Dio juga merasa sedikit takut dengan perasaannya sendiri, yang akhirnya ia hanya bisa memendamnya untuk saat ini.

Dio menarik nafas panjang. Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan tergesa di sepanjang koridor. Entah apa yang membawa langkahnya, tetapi sekarang ia mencari keberadaan Heesa sebelum jam pelajaran dimulai kembali. Dimana dia?

Buk!

“Aw!”

“Ah..”

Dio segera memegang kedua lengan yeoja yang ditabraknya sebelum benar-benar jatuh ke lantai. Ia segera menegakkan tubuh yeoja itu lalu melepaskan pegangannya.

“Ah, mianhae. Aku tidak melihat jalan dengan jelas..”

Seketika ucapan Dio terhenti. Ia terdiam ketika melihat yeoja yang ditabraknya tadi tengah menangis sesenggukkan.

Tanpa bicara apapun lagi, yeoja itu segera berlari meninggalkan Dio yang masih terheran-heran.

“Sebentar.. bukannya ia Kim Sera dari fakultas hukum?” tanya Dio lebih pada diri sendiri. Tentu saja Dio mengenalnya. Siapa yang di kampus ini tidak mengenal Kim Sera, seorang calon pengacara yang sudah menangani kasus hebat sebelum lulus dari kuliahnya. Pernah Kim Sera mengurus masalah-masalah kampus yang mudah diatasi olehnya tetapi tidak oleh orang lain. Beberapa kali dalam satu semester, mungkin ia bisa menyelesaikan empat masalah besar dengan pikirannya yang kritis. Well, tentunya imej Kim Sera terlihat sangatlah berkharisma di hadapan siapapun. Tetapi mengapa tadi Sera menangis dan terlihat rapuh?

Namun tanpa ingin mengetahuinya lebih lanjut, Dio segera meneruskan perjalanannya yang sempat tertunda tadi. Meskipun ia tidak bertemu Hesa sekarang, toh ia bisa bertemu dengannya di lain waktu. Lagipula mereka masih satu kampus.

*

Kai berlari menghampiri Heesa dengan sweater yang digenggamnya asal-asalan. Ia segera melemparkannya pada Heesa lalu duduk dengan kaki yang diselonjorkan. Ia lelah karena berlari.

Heesa tertawa kecil menatap Kai yang sibuk mengatur nafasnya yang terburu. “Gomawo, Kai. Padahal santai saja. Jam pelajaran masih dimulai beberapa puluh menit lagi.”

Kai mengalihkan pandangannya pada Heesa. “Aku khawatir kau akan diserang oleh orang itu kembali..”

“Han Chaeri.”

“Yah, siapapun dia, intinya dia orang tidak baik. Yeoja tidak baik.” Heesa tersenyum lebar menanggapinya.

“Ah, aku ingin segera mengganti pakaianku! Tapi aku malas jika harus ke kamar mandi. Orang-orang pasti melihatku dengan tatapan aneh karena jus strawberry ini.”

“Jangan banyak mempertimbangkan, Heesa. Cepat ganti saja disini. Kau membuatku tidak nyaman dengan pakaian jus itu..”

“Ya! Ganti disini? Apa kau gila?”

“Ani~ aku hanya menyarankan,” jawab Kai lempeng. Ia menatap Heesa jail lalu meleletkan lidahnya.

Heesa membalas leletannya. Akhirnya Heesa bangkit dari duduknya sambil menggenggam sweater Kai. “Arasso. Tetapi kau jangan mengintip.”

Kai tertawa terbahak. “Aku tidak bisa menjaminnya, Heesa.”

Heesa segera memukul Kai dengan sweaternya. “YA! KAU MESUM!”

“Ah! Aw! Jinjja appa~” rutuk Kai sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya agar tidak terkena pukulan.

“Makanya kau jangan mengintip!” ucap Heesa masih sibuk memukul Kai dengan sweaternya.

“Aw! Heesa! Appayo!”

“Hah! Rasakan pukulan ini! Uh uh!” ucap Heesa sesekali tertawa puas. Kai yang kewalahan karena menahan pukulan itu akhirnya mengambil tindakan. Ia segera mengambil ujung sweater itu dan menariknya dengan gesit. Dan akhirnya..

Nafas Heesa memburu karena lelah memukul Kai. Kai hanya tersenyum jail melihat Heesa.

“Kai. Kau menyebalkan.”

“Yah.. siapa yang menyebalkan? Aku atau kau? Kau memukulku beberapa puluh kali dengan sweater. Bisa saja kau membuat tanganku lumpuh karena tidak kuat untuk menahan pukulanmu..”

“Ya! Kau berlebihan! Kai, lepaskan aku!”

“Shireo.”

“Kai~”

“Shireo~”

Urgh. Heesa menggeram. Ia berusaha memberontak dari pelukan Kai. Namun sepertinya sulit, karena namja itu melingkarkan tangannya di pinggang Heesa dengan erat. Bagaimana ini? Posisi yang dirasakan Heesa sangatlah tidak nyaman. Gara-gara Kai menarik sweater itu dengan cepat akhirnya Heesa ikut tertarik dan terjatuh di atas Kai. Dan dengan cepat namja itu segera memeluknya seperti sekarang. Benar-benar menyebalkan.

Kai tertawa jail. Ia memanyunkan bibirnya lalu meniup mata Heesa kecil. Dengan refleks Heesa memejamkan matanya rapat-rapat.

“Kai! Apa yang kau lakukaaan?”

Kai hanya tertawa terbahak. Heesa menatap sahabatnya itu dengan sinis yang ditanggapi dengan leletan Kai.

“Kai, aku mulai kehabisan nafas. Serius. Lepaskan aku.”

“Tidak mau.”

“KAAAAI KUMOHOON!!”

“AKU TIDAK MAAU~”

Heesa mendesis kesal. Urgh! Mengapa Kai diciptakan begitu menyebalkan? Akhirnya Heesa mulai memberontak dengan sekuat tenaganya. Ia memukul pundak Kai dengan keras, sehingga Kai mengaduh sakit.

“Aw! Heesa! Berhenti memukulku!”

“Andwae! Sebelum kau melepaskanku, aku tidak akan berhenti memukulmu!”

“Ya!”

Dengan satu sentakan Kai memutar balikkan posisi mereka. Kini Heesa berada di bawah Kai. Kai menindihnya tanpa ampun, sehingga Heesa semakin merasa sesak. Ditambah dengan debaran jantungnya yang sedari tadi tidak bisa berdetak dengan normal..

“Nah.. sekarang kau tidak bisa berbuat apa-apa, Heesa~” ucap Kai diselingi senyum evilnya. Heesa memberenggut. Dengan satu kali sentakan Heesa mendorong pundak Kai dengan cepat, dan akhirnya Kai menjadi terduduk di samping Heesa.

“KKAMJONG!”

Kai tertawa terbahak melihat ekspresi kesal Heesa ketika ia mengubah posisinya menjadi setengah duduk dengan menghadap padanya. Lucu sekali.

“Kau memanggilku ‘kkamjong’ lagi? Berani-beraninya..”

Heesa hanya meleletkan lidahnya. Ia membawa sweater Kai yang sedari tadi terbengkalai di atas aspal atap dan melipatnya asal.

“Yasudah. Cepat kau ganti bajumu.”

“Arasso! Awas! Jangan mengintip!”

Sekali lagi Kai tertawa terbahak. Ia memanyunkan bibirnya lucu sebelum Heesa berdiri dan mencari tempat aman untuk mengganti pakaiannya.

Disamping itu..

“Kim Heesa! Yeoja itu.. awas saja. Akan kubuat kau tersiksa selama kau masih berada di dekat Kai! Urgh..”

………………………………………………………………………………………

maaf yaa baru pablissss hehehe

tinggalkan komen yaaaa kawan-kawaaan!!!

XD

annyeoong!!

………………………………………………………………………………………….

53 thoughts on “ELECTRIC [ CHAP 6 ]

  1. Wah, pasti yang sirik heesa deket sama kai pasti sera! #sotoy

    Kenapa sih, banyak pengganggu di ff ini?! Kasian kan heesa jadi tertindas (?)
    FF-nya bagus lah,pokoknya! Lanjut yaa…! ^^

  2. Pleaseeeeee sera putus aja sama kai -_-V buakakakakkakaka eonni uda lama bgt ga post!!!! Ehehhehehehehee bagusss kai nya unyuuuu *peluk kai* kkkk~ di tunggu next part nyaa :3

  3. onnie!! akhirnya keluar juga hohoho kim sera jahat juga kah? atau gimana itu ._. di tunggu part selanjutnya yah author :3 kainya nggak kuat lah ._. hihi

  4. Eonn ..
    Sekarang lagi jaman’a maen lelet-leletan lidah yah .. ? Ikutan ahh *plak XD
    Oia eon itu lhoo mungut dr mna kat Bonteng ..
    Bahasanya campuran amen , aya sunda , korea , indonesia di campur bahasa inggris .. Siga es campur wae tah !! XD
    Tapi bagus kok Eon .. (Y) :*

  5. Eonn ..
    Sekarang lagi jaman’a maen lelet-leletan lidah yah .. ? Ikutan ahh *plak XD
    Oia eon itu lhoo mungut dr mna kat Bonteng ..
    Bahasanya campuran amet , aya sunda , korea , indonesia di campur bahasa inggris .. Siga es campur wae tah !! XD
    Tapi bagus kok Eon .. (Y) :*

  6. Sera jahaaaaat!! Ntar ada 2 atuh yang musuhin Heera. Baekhyun gak sanggup tuh ngejebak Heera wkakakaka btw ini lama ya dipostingnya =___=

  7. Jangan Eon ..
    Bagus kok ..
    Sukses ..
    Bwt ketawa ,,,
    Bagusss .. Bener dehh !!
    Klo bsa gtu lagi aj .. !!

  8. aaaa bagus!!
    si heesa sama luhan aja <3
    mereka cocok banget T.T
    a itu cewek siapa yg suruh heesa ngejauhin kai? si sera?

  9. Yeee, part 6 nya keluarr…
    Aduh, kaii seharusnya kamu ngerti donk kalo Heesa suka sama kamu..
    tinggalin aja Sera, terus sama aku *loh?*
    FF nya makin seru, aku suka….

  10. IMOOOOOOOOOTTTTTTTTTTTTTT
    TUH LIAAAAAAATTTT
    APA YANG MESTI DIPESIMISIN DARI FF INI?????
    FF INI SUPER DUPER KEREN MEMBANGKITKAN SELERAAAAA
    BIASAAA DA KAMU MAH PALING JAGO BIKIN NU MESRA2AN WAKAKAKAK
    AKU PAN TEU BEUKI SI KAI, YA
    TAPI DISINI MAH AKU SUKA PISAN ATULAAAAAAAAAAHHH
    APALAGI DIA JADI PACAR SERAA
    WKWKWKWK
    TP NAHA DIA BERMESRAAN WAE AMA SI HEESA?? SI SERA DIANGGAP APAAAA, KAIII??? YAUDAH SERA AMA BACON AJA ATULAH HAHAHAHAHAHA
    ATAU SI CHANYEOL YG NGANGGUR
    IYA BENER!! CHANYEOL!! HAHAHAHAHAHA

    AKU SUKA BANGET BANGET BANGET BANGET AMA SI LUHAN BACON DISINI AMPE PENGEN NANGIIIIIIIIIISSSSSSSSSSSSSS
    MEREKA KEREN MAMAAAAAAAAAAAHHHHHH
    DAN AKU CEMBURUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU
    HAHAHAHAHA

    MOT ATUH MOT NAHA SERA JADI JAHAT GITUUUU???
    DI PENCLUT JAHAT DISINI JAHAT
    AKU SEDIIIHHHHHH AKU PRIHATIIINNN
    SEMIRIS ITUKAH SERA???

    YAUDAH SIH PART 7 BURUAN BROJOL AKU GAK SABAAAAAARRRR
    BTW MOT
    PLIS JANGAN MENELANTARKAN FF LOCKER JJONG VER :(:(:(:(
    READER UNYU INI MENUNGGUMUUUU
    PLAYGIRL JUGA
    HUWEEEEEEEEEEEEEEEEEEE

    • HAHAHAHAHA ASIIIK JADI SUKA KAAAAAI!!!! *kukudaan sama bacon*
      CHANYEOLL TAAAH AKU MASIH BINGUNG MAU DIGIMANAIN DIA NYAAAAAA!! dikumahakeun nya eum, apa suka juga aja sama Heesa? -..-
      IYAAA DONG MEREKA MAH SELALU KEREEEN!! KARENA AKU SUKA EXO! *hah*
      KATA AKU JUGA SERA KAN ELASTIS DIPERANKAN JADI APAPUN JUGA HAHAHAHA
      iya ih maafin aku.. ini teh lagi ga fokus sama syaini. sedih yah..
      pokoknya nanti kalo mereka nongol di hati aku lagi nanti aku bakalan nerusin ff syaini lagi, hehehe
      MAKASIH TEH IJHEEEEMMHH!!!

  11. IMA INI TETEEEEH!!!
    KENAPA CHAP 6 TERASA SINGKAAAT X(((
    BEBEB LUHAN KENAPA SAUCRIT???? :(((

    SUMPEH LAH CHAERI JEUNG SERA KUDU WAJIB DIMUSNAHKAN!!
    HAYU BIKIN ANTI SERAAAA!!! *dibakar ijem* AKAKAK XD

    CEPETAN IM CHAP TUJUUUUUH!! *bisooooo ajoooo. pulchritude kapan lanjut?* *teringat utang* kekekekeke~~ ^^v

  12. suka eeh sma ff kmu ini. romantis. alur nya jg susah ketebak.
    smpet bca jg ff yg ttg shinee. ada yadong nya yaa. muehehee
    knpa yg di exo ini gag di tmbh kyag begitu an nya. xexexee *dasar pikiran yadong*
    yadong pny kmu itu romantis. gag bgtu fulgar bgt. aku suka yg kyag begitu. :D

    yahh pokok nya terus in aja crita nya. lanjutin imaginasi kmu.
    nih tmbh stu fans kmu. hahaaa.
    salam kenal yyaa.
    di tunggu nihh. jgn kelamaan. :)

  13. Aaaa.. Ceritanya keren.. Sorry thor baru comment di part ini, hahahaha :D ngebut dari chap 1 sampai chap 6 bacanya.. Next chap jangan lama lama ya?
    Aaaaa.. Baekhyun kenapa responnya lama sekaleee? nek suka bilang aja suka, padahal aku suka pas part dimana heesa nyikat gigi sama bersihin mukanya baekhyun.. Aaaa romantis sekaleeeee *,* good job author :Ð

  14. ahh author~ pokoknya aku gak setuju kai sama sera. Kai harus pacaran sama heesa!
    ditunggu next partnya, jgn lama2 yaaa ^^

  15. baru baca chap. 1-6 hari ini, ngebuuuuut!!
    dan…. sukaaa sama ff ini.
    kai ga jelas gitu ih, bikin orang deg-degan mulu.
    si sera nya jahat? ga nyangka, kirain dia biasa aja.
    hehe aku baru, salam kenal ya ^^
    di tunggu lanjutanya… aku bakal sering main ke blog ini deh kayanya ~ XD

  16. anyeong thor,,,am a new reader…
    ak bru dpt blog ini semalem,,,krn KAI main castnya ak TAMBAH SEMANGAT bacanya…
    SERU bgt FFnya NGACAK-NGACAK PERASAAN aku…
    ak tunggu kelanjutannya thorrr…
    mksie ud bkin blog ini…
    keep healthy ya thorrr..anyeong…

  17. thor ff nya keren bangetttt kyaa aku suka banget thor ^O^
    aih entah kenapa aku setuju heesa sama kai!
    mereka itu soweeettt huhu gak bisa banyangin kalo aku ada diposisi heesa terus dipeluk bgt sma kai huaa!!!
    ppalli Thor next chap nya :)

  18. kim heesa, beruntungnya dirimu..
    hohoho
    makin penasaran sama endingnya
    tapi diliat2 paling endingnya sama kai ya
    hehe

  19. Kai seneng bgt ngegoda Heesa. Dan…itu yg terakhir ngomong siapa? Sera? :O

    Hemeeeh…tak terlukis lah betapa envy-nya gw sm Heesa. DIOOO!! Plis Dio jgn smp suka sm Heesa lg ya. Pliiis!

    Oke, sampe ketemu d chap 7! ;)

  20. heesa kasian ih.. sera nappeun!:'(. sera harusnya tau kalo jongin ama heesa itu cuma sahabat..! hfft.. bca next chap deh^^

  21. Huaaah :D Kai pervert!
    mwoya? kok seraa nya jd dendam sama Heesa ssi :3 kan seharusnya dia bisa ngertiin kalo Kai khawatir krna Heesa itu shbt Kai dri kecil :3
    ahh molla~
    lanjut baca ya thor ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s