ELECTRIC [ CHAP 5 ]

ELECTRIC

 

Author: Shin Heesa

Cast:

  • EXO
  • Kim Heesa

 

Disclaim: Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Ps:

  • Don’t be silent reader
  • Don’t copy – paste my imaginations!!

(Author POV)

“Kai..” ucap Heesa setelah tersadar dari lamunannya. Heesa menggigit bibir bawahnya karena gugup, ia bingung harus melakukan apa, karena kini namja itu menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.

“Darimana saja kau?” tanya Kai sinis. Heesa hanya tersenyum kagok.

“Aku? Mm.. menginap di rumah temanku.”

“Siapa?”

Heesa mendongkakkan kepalanya untuk melihat Kai, namun ia menundukan kepalanya kembali karena takut melihat matanya.

“Kau tidak perlu tahu.”

“Siapa?” tanya Kai memaksa. Heesa hanya diam menanggapinya, karena jika ia jawab, maka habislah ia di hadapan Kai. “Siapa?” tanya Kai sekali lagi, dan Heesa tetap membungkam mulutnya.

Kai menghela nafas panjang dan mengeluarkannya. Ia mengangkat dagu Heesa agar mata yeoja itu bisa menatap lurus padanya. “Wajar saja kalau kau tidak memberitahuku, aku tahu dia seorang namja.”

Heesa hendak membuka mulutnya untuk menyangkal, namun perkataannya disela dengan Kai yang menempelkan telunjuknya di atas bibirnya. “Kau tidak perlu menyangkalnya..” ucap Kai sedikit menakutkan. Heesa mengerjapkan matanya ragu, dan ia merasa sesak sekarang.

“Apa kau melakukan sesuatu dengannya?” tanya Kai langsung ke inti. Heesa akan menjawab pertanyaan itu dengan sangkalannya, namun Kai menutup mulut Heesa dengan tangannya. “Ayo kita periksa..”

Kai mendekatkan wajahnya agar bisa melihat jelas bibir Heesa. Kini ia memeriksa bibir Heesa, apakah ada bekas ia telah dicium oleh namja itu atau tidak. Heesa merasa bingung dengan perbuatan Kai, dan akhirnya ia menjauhkan wajah Kai dari hadapan bibirnya.

“YA! Aku tidak melakukan apapun, Kai. Kau kira aku berciuman dengan namja yang kau kira itu semalaman, hah? Tidak. Ingatlah, aku tidak seperti kau yang setiap harinya berciuman dengan orang lain. Mengerti? Hah.. enak saja. Bibirku ini masih terjaga..”

“Ya, Kim Heesa! Apa maksudmu menuduhku berciuman setiap hari dengan orang lain, hah? Dan lihat, bibirku juga masih bagus untuk dilihat..”

“Haha.. jangan bercanda, Kai. Aku sudah bisa menebak bahwa kau selalu memberikan bibirmu itu pada kekasihmu. Benarkan? Hampir setiap hari kalian melakukannya. Sedangkan aku? Hah.. sudahlah. Aku tidak ingin membahasnya,” ucap Heesa panjang lebar, berusaha memojokkan Kai, dan itu memang berhasil. Kini Kai tidak bisa membalasnya.

“Kalau begitu, aku akan tinggal disini sampai orangtuamu pulang,” ujar Kai sambil mengeringkan rambutnya dengan tangannya. Heesa terdiam, lalu melongo sesaat. Tinggal di rumahnya? Untuk apa?

“Mwo? Aku tidak mau! Apa yang kau pikirkan sehingga kau memutuskan untuk tinggal di rumahku?” protes Heesa sambil mengikuti Kai yang tengah berjalan santai menuju lemari. Ketika Kai membuka lemari pakaiannya, Heesa melihat pakaian Kai yang sudah tersusun rapi di samping pakaian-pakaiannya. Apa ini? Kai sudah menyimpan pakaian di lemarinya? Kapan ia melakukannya?

“Kai.. apa ini..”

“Sudah kubilang, aku akan tinggal di rumahmu sampai orangtuamu datang,” jawab Kai datar. Heesa menarik nafas pendek-pendek karena menahan kesal.

Tanpa berkomentar apapun lagi, Heesa segera berbalik dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Sebaiknya ia tidak membuang waktunya untuk berdebat dengan Kai.

*

Heesa memakai baju handuknya kembali lalu berjalan keluar kamar mandi. Setelah ia menutup pintu kamar mandi, ia melihat Kai tengah berbaring di atas ranjangnya. Melihat pakaian yang ia pakai, sangat jelas ia juga akan pergi ke kampus sama sepertinya.

“Keluarlah. Aku ingin berganti baju,” usir Heesa dengan dingin. Kai menatapnya sekilas lalu memejamkan matanya.

“Shireo.”

Heesa menatap marah pada Kai. “Ya! Apa kau gila? Dasar namja! Pergi kau dari kamarkuu!!”

“Hei, Heesa. Pelankan suaramu. Kau mengganggu telingaku, kau tahu?” balas Kai dengan matanya yang tetap terpejam. Heesa menggigit bibir bawahnya kesal. Mengapa namja yang berada di sekitarnya selalu bersifat menyebalkan terhadapnya?

Heesa berjalan mendekati ranjang lalu naik ke atas ranjang. Ia menarik pakaian Kai dengan kasar, berharap namja itu bisa tertarik dengan mudah lalu ia lempar keluar pintu kamarnya. Namun sia-sia, kemampuan Heesa ternyata hanya bisa sampai menarik bajunya saja.

“Kai~ keluar Kai.. kumohon. Nanti aku bisa terlambat..”

“Kau akan pergi denganku.”

“Tetap saja! Kita kan berbeda kelas, Kai!”

“Tetapi satu kampus.”

“YA! KELUAR KAU, KIM JONGIN!!!”

“Diamlah..”

Dengan satu sentakan Kai menarik pinggang Heesa sehingga yeoja itu tertidur di atas tubuhnya. Heesa terkejut karena kini wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Kai.

“Kai..”

“Hm?”

Heesa memaksakan memasukan ludahnya ke dalam tenggorokannya. Ia merasa beku dalam posisi itu. “Kai.. aku belum memakai pakaian..” entah mengapa, hanya hal itulah yang terlintas dalam pikiran Heesa. Ia takut Kai akan membuka tali baju handuknya dan membiarkan namja itu melihat semuanya.. ANDWAE!

“Lalu mengapa? Apa itu menjadi masalah?” tanya Kai tanpa dosa. Heesa mengulum bibirnya, lalu ia berusaha memberontak dari pelukan Kai. “Kau tidak bisa lepas dariku, Heesa,” ucap Kai sambil tersenyum jail. Argh! Bisa-bisanya namja ini menggodanya ketika Heesa sedang kesal setengah mati padanya.

“Kai, lepaskan!”

“Shireo.”

“Kai!”

“Ah! Asalkan ada satu syarat yang harus kau penuhi.” Heesa terdiam dan menatap Kai. “Kau harus memberikanku morning kiss. Bagaimana? Mudah bukan?”

Heesa kini memasang tatapan menusuk pada Kai. Apa namja ini gila? Morning kiss darinya? Hah. Sampai kapanpun ia tidak akan mendapatkannya. Sudah ia putuskan sebelumnya, satu bibir untuk dua yeoja? Tidak, terimakasih.

“Kai, aku tidak mau.”

“Oh ayolah..” bujuk Kai manja. Bibirnya sudah ia majukan beberapa senti. Heesa mengerutkan mimiknya berpura-pura jijik.

“Ya! Aku tidak mau! Bibirmu sudah tidak baru lagi. Aku tidak ingin satu bibir untuk dua yeoja!”

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak mau berada satu bibir dengan Sera. Tidak mau. Kau mengerti?”

Kai terdiam dan melonggarkan pelukannya. “Apa kau tahu? Kau baru saja mengucapkan sesuatu yang membuatku sedikit merasa.. aneh.”

Heesa bangkit dari posisi tidurnya lalu mempererat tali baju handuknya.”Apapun itu, keluarlah. Aku tidak peduli. Ah iya. Kita tidak perlu pergi bersama, kau bisa pergi duluan.”

Setelah mengucapkan itu, Kai bangkit dari posisi berbaringnya lalu berjalan dengan perlahan keluar kamar. Kai masih memikirkan sesuatu yang aneh itu. Sesuatu yang entah mengapa membuatnya sedikit menyesal. Tetapi.. menyesal terhadap hal apa?

***

Luhan mengucek matanya perlahan. Ia terbangun dari tidurnya karena mendengar sebuah suara yang sangat mengganggu telinganya. Ia mencari ponselnya segera setelah ia mengetahui bahwa suara itu berasal dari ponselnya. Setelah ia menemukan ponselnya, ia segera menerima panggilan itu.

“Halo..”

“Ini.. dengan Luhan?” Luhan tersadar dari kantuknya seketika. Ia sangat mengenali suara itu, dan seketika senyumnya mengembang sangat lebar.

“Mamiiiiiiiiiih!!!” teriak Luhan bersemangat. Yang dipanggil Mamih itu juga ikut berteriak dari ujung telepon.

“Luhaan! Mengapa kau tidak ada kabar, nak? Bagaimana kabarmu di Korea, hah?” tanya ibunya terdengar sangat bahagia. Luhan masih belum bisa menghilangkan senyumnya. Bayangkan saja, mereka tidak berkomunikasi selama dua minggu. Siapa yang tidak akan rindu pada orangtua dengan tidak berkomunikasi selama itu?

“Mamih, nomor Cinaku hilang, jadi aku tidak bisa menghubungi Mamih karena nomor ponsel Mamih ada di kartuku. Aku baik-baik saja, Mamih,” jawab Luhan panjang lebar. Ibunya hanya tersenyum bahagia.

Setelah mereka berbincang panjang lebar, akhirnya ibu Luhan menanyakan sesuatu yang memang ia maksudkan sedari awal menelepon anaknya itu. “Luhan, apa kau sudah bertemu dengan gadis itu? Anak dari teman perusahaan Mamih,” tanya ibunya. Luhan tertegun.

“Tidak, Mamih. Belum. Aku lupa namanya siapa,” jawab Luhan sambil tertawa bersalah di akhirnya. Ibunya hanya menghela nafas panjang.

“Ya! Bagaimana kau bisa lupa? Ash.. untung saja mereka belum menelepon anak mereka,” ujar ibu Luhan sedikit kesal.

“Mianhae.. ups! Maksudku maafkan aku, hehe..” Ibu Luhan menghela nafas kembali.

“Luhan, ingat-ingat nama ini. Jangan sampai kau lupa lagi, mengerti?” tanya ibunya meminta anknya mengiyakan pertanyaannya, dan Luhan mengangguk pasti, meskipun ia yakin ibunya tidak akan melihatnya. “Kim Heesa. Namanya Kim Heesa! Ingat-ingat itu!”

Seketika Luhan terdiam. Siapa tadi? Ah, Luhan yakin bisa mengingat nama itu dengan jelas. Tentu saja, nama itu sangat sangat familier di telinganya. Kim Heesa. Apa benar yang ibunya maksudkan adalah Heesa miliknya?

“Mamih…”

Namun telepon sudah terputus. Luhan memejamkan matanya. Ya, ia tidak salah dengar. Kim Heesa.

Bibirnya pun membuat senyuman tipis yang bisa mewakili bahagianya.

***

Tangannya tidak bisa berhenti mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja. Beberapa kali ia menggigit bibir bawahnya kesal, kemudian menarik nafas panjang. Heesa belum pernah merasa tidak tenang seperti ini. Hah.. pikirannya kini tengah melayang kemana-mana. Entah ia sedang memikirkan apa, tetapi kini ia tidak fokus.

“Lalu pada nada ini, kalian harus..” Sehun tengah sibuk menerangkan bagaimana sebuah lagu bisa terdengar indah kepada murid kelas musiknya. Dan seringkali ia menangkap Heesa yang tidak memperhatikan pelajarannya. Ada apa dengannya? Biasanya ia selalu bersemangat terhadap apapun yang bersangkutan dengan musik.

Akhirnya Sehun memutuskan untuk mempercepat pelajarannya agar ia bisa melakukan sesuatu untuk Heesa. Apapun itu, ia ingin tahu apa yang menyebabkan Heesa tidak memperhatikan pelajarannya.

*

Seluruh murid kelas musik sudah berjalan keluar dari kelas. Heesa dengan lesu bangkit dari kursi lalu memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Ia menggendong tas tersebut lalu mulai melangkahkan kakinya keluar kelas. Namun ketika ia hendak keluar, Sehun memanggilnya.

“Kim Heesa,” ucap Sehun. Heesa melamun beberapa detik lalu berbalik ke arah Sehun.

“Ah.. Sehun..”

“Ada apa denganmu hari ini? Kau terlihat tidak bersemangat. Heesa hanya tersenyum tipis.

“Aku hanya sedang memikirkan sesuatu yang tidak bisa aku pikirkan. Ah, entahlah. Aku juga tidak tahu a[a yang aku katakan sekarang,” jawab Heesa dengan mata sesekali menerawang ke arah lain. Sehun membawa tasnya lalu menggendongnya. Langkahnya kini mendekati Heesa yang tengah berdiri mematung.

“Ikut aku.” Dengan satu sentakan Sehun menarik tangan Heesa keluar dari kelas menuju tempat yang ia tuju. Hobinya yang lain selain memainkan musik.

*

“Ayo! Kau harus mencobanya!”

Sehun melemparkan bola basket ke arah Heesa yang dengan cekatan langsung menangkapnya. Heesa memandang bola basket itu dengan heran.

“Kau hanya perlu memasukkan bola itu ke dalam ring,” lanjut Sehun sambil membuka jaket birunya yang sedari tadi ia pakai. Namun Heesa masih tetap terdiam.

Dan beberapa detik kemudian, Heesa menatap ring bola basket yang menjulang tinggi. Heesa mulai mengangkat bola itu ke atas dan mulai melemparnya dengan kekuatan seadanya.

Sehun tertawa karena bola itu terlalu melambung ke atas dan jauh dari wilayah ring. Heesa menatap Sehun kesal.

“Aku tidak bisa bermain basket,” ucap Heesa mengakui. Sehun berlari menuju bola yang tengah menggelinding pelan lalu mengambilnya.

“Kau hanya bermain, Heesa. Tidak usah bermain terlalu serius. Mengerti? Buatlah dirimu menyenangkan dengan basket,” ujar Sehun sambil melempar bola itu kembali pada Heesa. Heesa menangkapnya kembali, lalu ia kini mulai mendribble bola itu. Sungguh, ia tidak tahu harus berbuat apa dengan bola itu.

Namun, beberapa menit kemudian ia melihat permainan Sehun yang sangat lihai dan indah. Ketika ia melempar bola itu ke dalam ring, begitu ringan dan percaya diri. Apa maksudnya mengajak  Heesa bermain basket sore-sore begini?

Tanpa memikirkan apapun lagi, Heesa mulai memainkan bola itu sambil berjalan ke arah ring. Ia melemparkan bola itu asal ke arah ring, dan tentu saja tidak masuk. Heesa mengambil bola itu kembali, dan mencobanya untuk memasukkan bola itu kembali. Namun hasilnya tetap sama.

Heesa mulai merasa kesal. Ia mencobanya lagi, mencoba, dan mencoba. Mengapa bola itu tidak selalu masuk ke dalam ring? Apakah ia salah melempar dengan gerakan yang ia lakukan dengan asal? Mungkin. Tetapi setidaknya ia ingin memasukkannya satu kali saja. Setidaknya.

Heesa mulai membuka jaketnya dan melemparnya di atas tumpukkan tas dan jaket Sehun. Heesa mengambil bolanya kembali dan mencobanya. Heesa mulai kehabisan nafas.

Sehun menatap Heesa setelah ia mulai merasa lelah bermain basket. Sehun tertawa kecil ketika melihat Heesa mulai bermain sampai berkeringat.

Sehun akhirnya memutuskan duduk di pinggir lapangan dan menonton Heesa bermain sampai ia lelah dan tidak berkutik. Ia mengambil satu botol minuman dingin dan meneguknya sampai habis.

Heesa masih terus berusaha. Entah mengapa ia merasa lebih baik sekarang. Ia lebih merasa ringan dan seperti tidak memikirkan apapun. Ternyata Sehun tidak salah mengajaknya bermain basket, kini keadaan Heesa terasa lebih baik.

Dan pada saat-saat terkahir, Heesa melemparkan bola basketnya lagi ke arah ring dan akhirnya… berhasil. Heesa tersenyum bahagia sambil mengatur nafasnya yang sangat terburu-buru. Dan karena lelah, akhirnya Heesa berbaring di atas lapangan sambil menutup kedua matanya dengan lengan kirinya. Heesa benar-benar berusaha mengatur nafasnya.

Sehun tertawa kecil, lalu ia menghampiri Heesa dengan langkah santai.

Ia berdiri di samping Heesa. Cahaya sore matahari menyorot yeoja itu dengan lembut. Keringat yang berada di leher dan lengannya, membuatnya terlihat seksi.

Sehun mulai menelusuri pandangannya. Mulai dari kepala hingga kaki. Dan yang membuatnya tergoda adalah..

Sehun menyeringai tipis. Ia mulai berjalan ke arah kepala Heesa dan berjongkok di dekat kepalanya. Ia tersenyum simpul sebelum mendekatkan kepalanya ke kepala Heesa. Setelah menemukan posisi yang pas, Sehun menarik lengan yang menutupi mata Heesa lalu dengan cepat ia mencium bibir Heesa.

Heesa terkejut, lalu ia berusaha melepaskan bibir Sehun dari bibirnya. Kini Heesa berhasil bangkit dari posisi tidurnya lalu melepaskan ciuman Sehun secara paksa.

“Sehun!” teriak Heesa kecil. Sehun hanya menyeringai lebar lalu menarik kepala Heesa mendekat agar ia bisa menciumnya lagi.

PLAK!!

Heesa menampar pipi Sehun dengan keras. Sehun terdiam dan menatap Heesa dengan misterius. Sebenarnya apa yang terjadi?

“Sehun! Sadarlah! Kau baru saja melakukan hal yang seharusnya-“

“Hm? Seharusnya apa?”

Bukannya jera karena sudah ditampar Heesa, namun Sehun kini lebih menyeringai menyeramkan. Ia menatap lurus ke dalam mata Heesa, seolah akan memangsanya sebentar lagi.

“Ya! Oh Sehun! …KYA!”

Sehun menarik kepala Heesa kembali dengan paksa. Heesa berusaha melawannya. Heesa memukul pundak dan dadanya beberapa kali. Namun sepertinya kekuatan Sehun lebih kuat darinya. Heesa mulai melemah dan kini ia menagis tersendat. Bagaimana ini? Apa yang harus Heesa lakukan? Bahkan.. tidak ada orang lain disini selain mereka berdua..

Bukk!

Tiba-tiba Sehun terjatuh cukup jauh dari posisi semula. Rahangnya telah dipukul oleh seseorang dengan keras. Heesa kini merasa lega. Ia menyusut air matanya lalu melihat siapa yang baru saja memukul Sehun dengan keras.

“….Kai?”

Heesa bingung apakah ia akan memberinya senyuman atau tidak, karena kini Kai menatapnya dengan marah.

*

Ketika sampai di rumah, Kai segera menarik lengan gadis itu menuju kamar mandi. Heesa berusaha memberontak, namun ia tidak bisa melepaskan cengkraman Kai yang sangat kuat itu. Percuma.

Kai melepaskan tas dan jaket Heesa lalu menyimpannya di luar kamar mandi. Ia menarik Heesa ke dalam kamar mandi lalu mengunci pintunya. Sekarang apa yang akan Kai lakukan padanya? Apakah Kai akan memukulnya sama seperti ia memukul Sehun?

“Ikat rambutmu,” perintah Kai dengan nada dingin. Heesa menatap Kai dengan kebingungan. Apa sebenarnya tujuan Kai menariknya ke kamar mandi?

“Mwo?”

“Ikat rambutmu.” Heesa masih menatap Kai dengan heran. Kai berdecak kesal dan akhirnya ia mengambil ikat rambut yang berada di westafel lalu mengikat rambut Heesa seadanya.

Kai mengatur kepala Heesa agar menghadap ke kaca. Kai menyalakan kerannya lalu membasahi tangannya sedikit. Tangan kanannya melingkari pundak Heesa lalu mengangkat dagunya agar kepala Heesa sedikit menengadah. Kai mengusap-usap bibir Heesa dengan perlahan, lalu Kai membasahi tangannya kembali dan melakukan hal yang sama seperti itu beberapa kali. Kai tahu kejadian itu. Kejadian sahabatnya yang dicium sembarangan oleh namja di lapangan basket kampus beberapa saat yang lalu. Dan akhirnya ia hanya bisa menghapus bekas bibir namja itu dengan susah payah di bibir Heesa.

Heesa hanya terdiam. Rupanya Kai mengetahuinya. Ia hanya melihat pantulan tubuh Kai dicermin. Matanya yang kini menatap tajam terhadap bibir Heesa membuatnya merasa sedikit kagok.

“Kai?”

“Mengapa kau menerima ciuman itu?” tanya Kai terdengar sangat kesal. “Mengapa kau tidak pukul dia dengan keras atau tendang dia sampai mati jika kau benar-benar tidak menginginkannya?”

Heesa hanya terdiam. Ia menatap dirinya di cermin yang kini bibirnya masih dibersihkan oleh Kai. Heesa tersenyum miris. “Mianhae.. aku sudah memukulnya tapi-“

“Jangan mengatakan apapun. Diamlah,” balas Kai sambil mengeringkan bibir Heesa dengan handuk. Heesa menatap Kai dengan pandangan memelas.

“Kai, kau tahu?” ucap Heesa sambil menatap Kai dengan mata lelahnya. Kai balas menatapnya. “Akhir-akhir ini aku banyak memikirkan sesuatu yang tidak bisa kuputuskan sendiri,” ungkap Heesa sambil menarik nafas panjang.

Kai mengelus belakang kepala Heesa. “Huuuh.. tentu saja ada banyak hal yang kau pikirkan,” ucap Kai sambil merapikan rambut Heesa. “Apa kau mau menceritakannya padaku?”

Heesa hanya menunduk, tidak segera menjawab pertanyaan Kai. Ia merasa memang harus menceritakannya pada seseorang, tetapi Kai bukanlah orang yang tepat. Entah mengapa Heesa merasa seperti itu. Mungkin karena diantara semua yang ia pikirkan ada Kai di salah satunya.

Kini Heesa merasa sesak, sesak karena menahan tangis. Ia lelah karena semua ini. Dan akhirnya ia tidak dapat membendungnya lagi, air matanya jatuh perlahan-lahan.

“Ya, Kim Heesa.. mengapa kau menangis?” tanya Kai sambil mendongkakkan kepala Heesa agar bisa melihat jelas wajah gadis itu. Heesa mengusap air matanya kemudian menunduk kembali.

Kai menarik Heesa ke dalam pelukannya, Kai memeluknya dengan penuh rasa sayang. Ia mengelus puncak kepala Heesa dengan perlahan.

“Gwenchana.. tidak masalah jika kau tidak ingin menceritakannya padaku.” Kai menghembuskan nafas panjang. Ia mempererat pelukannya pada Heesa ketika tangisan yeoja itu semakin keras.

Ada apa dengan Heesa? Mengapa sahabat terbaiknya bisa menangis menyakitkan seperti ini? Kai kini merasa bersalah, sebagai sahabtnya dari kecil, ia merasa tidak bisa menjaga Heesa dengan baik.

***

Heesa menyeruput kopi oreo panasnya. Terasa menenangkan. Matanya memandang ke arah keluar kafe, tumben sekali hujan sudah menghiasi pagi yang terasa dingin ini.

Beberapa pengunjung yang datang ke kafe, banyak dari mereka karena ingin berteduh dari hujan. Kini kafe terasa penuh dan udara menjadi terasa sangat hangat. Mungkin dikarenakan banyaknya pengunjung yang datang, sampai-sampai jendela besar kafe pun berembun hampir seluruhnya.

Heesa menyeruput kopi panasnya lagi. Ia menjadi teringat semalam, ketika Kai menenangkannya dengan pelukan hangat yang ia berikan. Heesa menyunggingkan senyum tipis menanggapinya.

Ketika tengah melamun, Heesa dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba datang dengan secangkir kopi dan duduk di hadapannya. Heesa berdecak kesal ketika ia tahu siapa yang datang.

“Sendiri?” tanya Luhan sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya karena kedinginan. Heesa mendelik.

Luhan mengambil cangkir kopinya lalu menyeruput kopi panasnya. Ia mendesah nikmat ketika merasakan kopi itu mengalir hangat ke tenggorokannya. Setelah itu, kini pandangannya fokus pada Heesa yang tengah memandang kelaur jendela. Luhan menghembuskan nafas kecil.

Setelah terdiam sangat lama, Luhan mengeluarkan notebooknya lalu menuliskan sesuatu disana dan memberikannya pada Heesa. Awalnya Heesa tidak peduli pada notebook itu, namun Luhan menatapnya lurus sambil meneguk kopinya sesekali, dan akhirnya Heesa berpaling ke arah notebook itu.

Heesa mengambil notebook yang sudah terbuka dan terdapat tulisan Luhan disana. Ia membacanya, lalu membalasnya.

Heesa memberikan notebook itu pada Luhan lalu berpaling keluar jendela kembali sementara menunggu jawaban. Setelah Luhan membalas dan menyodorkan notebooknya kembali, Heesa melihat jawaban Luhan dengan seksama. Lalu ia tertawa kecil.

Luhan mengangkat halisnya tidak mengerti. Apa yang Heesa tertawakan? Ia tidak salah menuliskan hangeulnya, bukan?

Heesa membalas pesan itu dengan senyum yang tersungging di bibirnya dan memberikannya kembali pada Luhan. Luhan membaca balasannya, lalu ia tertawa.

Tawa Heesa semakin meledak ketika warna telinga Luhan berubah menjadi berwarna merah. Ia pasti menahan malu.

“Well, artinya kau memaafkanku?” tanya Luhan hati-hati. Heesa memandang Luhan dengan tatapan ingin tertawa terbahak di hadapan wajahnya.

“Kira-kira?” balas Heesa dengan pertanyaan kembali. Luhan tertawa pendek. Ia meminum kopinya kembali.

Kini hati Luhan sedikit demi sedikit terasa menjadi lebih ringan. Ia memandang Heesa yang kini tengah menahan tawa karena pesan-pesan tadi.

Hhh.. Kim Heesa. Akhirnya ia menemukan orang yang harus ia jaga selama di Korea. Orang yang tepat. Yeoja yang tepat.

**

Luhan menyenderkan punggungnya malas ke sandaran kursi. Ia menatap Baek Sonsaengnim yang tengah menceritakan perjalanan konsernya. Ya, Oh Sonsaengnim telah kembali ke tempat dimana ia mengajar seharusnya tanpa berpamitan terlebih dahulu. Hal ini sengaja ia lakukan karena diperintah oleh Baek Sonsaengnim sendiri agar tidak memberitahu kapan ia akan pulang. Baek Sonsaengnim hanya ingin membuat semacam surprise untuk anak didiknya, yang ternyata tidak ada reaksi khusus sama sekali ketika Baek Sonsaengnim tiba-tiba masuk ke dalam kelas.

Namun Heesa masih tidak rela dengan perlakuan Sehun padanya kemarin sore. Sungguh, ia tidak tahu mengapa Sehun melakukannya padanya. Apakah ia sengaja menggoda Sehun kemarin? Tidak. Atau memang Heesa adalah yeoja yang menggoda? Sepertinya tidak juga -..-

Luhan mengambil beberapa helai rambut Heesa dan memainkannya dengan jari tangan kirinya. Heesa yang merasa rambutnya tertarik segera mengibaskan rambut panjangnya kecil. Luhan tertawa kecil, lalu mengambilnya kembali.

Akhirnya Heesa menyerah. Ia membiarkan Luhan memainkan rambutnya yang tergerai bergelombang. Yah, lebih baik daripada Luhan yang menendang bangkunya sepanjang pelajaran.

Ketika Heesa sibuk mendengarkan ocehan Baek songsanim, ia merasakan getaran ponsel di dalam sakunya. Dengan diam-diam ia mengeluarkan ponselnya lalu melihat sebuah pesan muncul di layarnya. Dari Kai? Ada apa ia mengiriminya pesan saat jam pelajaran?

Heesa membuka pesan itu lalu membacanya.

“..kau harus pulang tepat waktu?” Heesa terdiam sejenak. “Ada apa?” tanyanya lebih pada dirinya sendiri. Namun tanpa berpikir apapun kembali, Heesa memasukkan ponselnya ke dalam saku dan memperhatikan Baek Sonsaengnim kembali.

Luhan yang tadi diam-diam ikut membaca  pesan tersebut hanya mengeluh kecewa. Padahal tadinya ia akan mengajak Heesa ke rumahnya.

*

Kini Luhan dan Heesa tengah berjalan berdampingan menuju kantin, berniat untuk mengisi perut mereka yang sedari tadi sudah berbunyi. Dan tidak hanya mereka, orang-orang selain mereka pun tengah sibuk berjalan berbondong-bondong menuju kantin.

Setelah sampai, Heesa dan Luhan segera mencari tempat duduk yang pas. Namun ketika mereka tengah mencari bangku, Chanyeol melambaikan tangan ke arah Luhan dan Heesa, menyuruh mereka agar duduk bersama mereka.

Luhan tersenyum lebar. Ia segera menarik tangan Heesa dan menyeretnya agar berjalan cepat menuju meja mereka. Chanyeol melontarkan senyum manisnya pada Heesa, Tao hanya menatapnya sekilas lalu memalingkan mukanya ke arah lain, Baekhyun.. tentu saja ia tersenyum sangat manis, bahkan ia menambahkan kedipan matanya pada Heesa. Lay memberikan senyum simpul.

Luhan ber-high five dengan mereka lalu duduk di samping Heesa. Luhan mengambil dua menu selembaran dan memerikan salah satunya pada Heesa.

Ketika tengah sibuk memilih menu, ada seseorang yang ikut duduk di tengah-tengah antara Chanyeol dan Baekhyun. Yang pasti, orang itu membuat sedikit kegaduhan di kantin, karena kini Chanyeol dan Baekhyun sibuk memukulnya di tempat.

Heesa akhirnya mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang baru saja datang ke meja mereka.

Dan Heesa tertegun melihatnya.

“Ah.. Heesa?”

Heesa mengerjapkan matanya dua kali. “Dio-sshi..”

Dio tersenyum kagok pada Heesa lalu beralih pada Chanyeol yang masih berkicau ria padanya.

Mata Heesa kini menatap kosong pada Dio. Pikirannya kini melayang jauh ke empat bulan sebelum ia menjadi jauh dengannya. Masa lalunya yang hanya dipenuhi oleh Dio di setiap harinya.

FLASHBACK

“Baby..”

“Ya~ Dio! Kau mabuk lagi!”

“Aku memang selalu mabuk setiap hari, Heesa. Yaitu mabuk karenamu..”

“Kau masih bisa menggodaku ketika kau mabuk seperti ini, hah?”

Dio hanya tertawa pelan menanggapinya. Heesa menahan tangannya yang berada di pinggang Dio agar namja itu tidak jatuh. Hah.. sial sekali. Mengapa ia bisa bertemu namja mabuk ini di tengah perjalanan?

Dengan langkah yang agak terhuyung Heesa meneruskan perjalanannya yang masih jauh. Dio sesekali terlepas dari pegangan Heesa, namun yeoja itu membantunya berdiri dan berjalan kembali.

“Assh.. yeoja yang bernama Chaeri itu.. sungguh jahat! Perempuan jalang!” racau Dio dengan nada mabuknya. Heesa memutar kedua bola matanya. Ia tahu itu, Dio selalu minum-minum sampai mabuk pasti karena Chaeri.

“Dia meninggalkanku karena namja lain..” lanjut Dio sambil mencengkram baju bagian dadanya. “Kau tahu? Itu rasanya sakit sekali…”

Heesa menghembuskan nafas panjang. Sudah sering sekali Dio menceritakan hal itu padanya, yang akhirnya lama-lama membuat Heesa menjadi kesal.

“Mengapa kau tidak putuskan saja? Kau selalu seperti ini semenjak kau menjadi kekasihnya,” ujar Heesa mengungkapkan kekesalannya. Dio mengerjapkan matanya lambat, berusaha mencerna kata-kata Heesa dalam mabuknya.

“Aku tidak bisa,” jawab Dio akhirnya. Heesa menatap Dio heran. “Aku terlanjur menyayanginya.”

“Hah! Bullshit! Kalau kau terus mempertahankannya seperti ini, siapa yang akan merasa rugi, hah? Katakan padaku!”

Dio kembali memikirkan jawaban yang tepat. “Aku kah?”

Heesa tertawa mendengus. Dasar namja. Apa cara namja mencintai yeoja seperti ini? Sungguh.

“Kau sudah tahu itu.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Dio dengan mata yang hanya terbuka setengahnya. Heesa tersenyum simpul.

“Putuskan dia. Aku jamin kau akan merasa lebih baik. Kau tahu? Aku ikut merasa lelah melihatmu selalu diperlakukan seenaknya oleh Chaeri setiap hari.”

Dio tertawa malas. Ia menundukkan kepalanya karena lelah berpikir. “Aku mengantuk, Heesa..”

“Ya! Bodoh! Kau tidak boleh tidur!”

*

Dua hari telah berlalu setelah Heesa memberikan usul pada Dio agar memutuskan hubungan dengan Chaeri. Namun sepertinya namja itu memang terlalu menyayangi Chaeri, sehingga sulit untuknya berpisah dengan yeoja itu.

Heesa kini tengah berjalan di koridor kampus. Ia membawa tas gitar kesayangannya, berniat menuju ruang musik untuk meminta usul kepada Baek Sonsaengnim tentang lagu yang baru saja ia buat.

Namun ketika ia melintasi toilet wanita, tiba-tiba ada yang menariknya ke dalam lalu mengunci pintu toilet itu. Han Chaeri.

“Ah, Chaeri-sshi. Ada apa?”

Chaeri segera menuangkan sabun pencuci tangan seluruhnya ke rambut Heesa, yang kini mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Chaeri kini tersenyum sinis pada Heesa.

Heesa memandang Chaeri penuh dendam. “Mengapa kau selalu melakukan hal ini padaku, hah?!”

“Itu tidak seberapa dengan kau yang telah merebut Dio dariku.”

Heesa menatapnya tidak percaya. Hah? Ia merebut Dio darinya? Apa ia tidak salah dengar?

“Hah? Apa kau bilang? Ya! Aku sama sekali tidak berniat untuk merebut Dio darimu! Mungkin Dio saja yang tidak betah denganmu lalu berpaling padaku!”

Chaeri mendesis kesal. “Tidak betah? Hello~ dia selalu setia padaku dan selalu berada disampingku, sampai kau datang diantara kami.. kau benar-benar perebut!”

“Han Chaeri, haha. Apa kau tidak sadar?” tanya Heesa, membuat Chaeri menatapnya dengan penasaran bercampur marah. “Dio sudah sering bercerita padaku tentang dirimu. Dan kau tahu? Dia sudah memberimu julukan spesial di hatinya,” ucap Heesa sambil membersihkan sisa sabun di rambutnya. Chaeri menggigit bibir bawahnya kesal.

“Apa julukan itu?” tanya Chaeri dengan nada rendah. Heesa tertawa sesaat.

“Perempuan.. jalang.”

Setelah mengucapkan itu, Heesa segera membuka pintu toilet dan berjalan keluar dengan segera. Sementara Chaeri hanya terdiam di tempatnya.

“Perempuan jalang…”

Kini Chaeri merasa sangat marah. Tanpa pikir panjang lagi ia segera keluar dari toilet dan berjalan tidak santai di sepanjang koridor. Ia mencari keberadaan Dio.

Setelah lama Chaeri mencari, akhirnya ia menemukannya. Dengan perasaan yang sedang naik ia berjalan menuju Dio dan segera menampar pipinya setelah ia berhadapan dengannya. Dio terdiam di tempatnya dengan wajah yang tersentak ke kiri karena tamparan Chaeri

“Ya! Dio! Jujur padaku! Kau ini menganggapku apa, hah?”

Kini semua pandangan yang berada di taman kampus tertuju pada Dio dan Chaeri. Perlahan mereka membentuk sebuah lingkaran untuk melihat adegan yang jarang terjadi di kampus.

Dio memandang Chaeri dengan kesal. “Kau ingin aku menjawab apa?”

Chaeri mendengus sinis. “Apakah sebagai kekasihmu? Masih pantaskah?” tanya Chaeri dengan tatapan tajamnya. Dio balas menatapnya.

“Masih pantaskah? Maksudmu apa?”

“Haha, lucu sekali. Aku tahu aku selalu mengacuhkanmu, Dio. Tetapi kau tahu? Aku selalu menyayangimu! Tidak seperti kau yang selingkuh dengan yeoja lain!”

Dio yang tidak terima dipermalukan seperti itu, akhirnya ia membalas ucapan Heesa. “Selingkuh? Hah! Apa maksusmu selingkuh? Bukannya kau yang selalu selingkuh dengan namja lain? Bahkan ketika kita sedang berdua saja, kau selalu menerima telepon dari namja lain dihadapanku!”

“Kim Heesa! Kau selingkuh dengannya!”

“Jangan membawa namanya dalam masalah ini!”

Seluruh orang-orang yang berada di sekitar mereka berbisik satu dengan yang lainnya. Kini mereka mulai mengerti masalah apa yang terjadi diantara mereka.

Heesa yang baru saja mengganti bajunya dengan yang baru langsung tertarik pada sebuah kerumunan ramai di taman. Akhirnya ia berjalan menuju kerumunan itu, ingin tahu apa yang tengah terjadi.

Ketika ia menembus orang-orang yang tengah mengeremuni sesuatu itu, ia pun melihat siapa yang tengah mereka perbincangkan itu. Dio dan Chaeri. Heesa kini melihat mereka tengah memandang penuh kebencian satu sama lain.

“Aku tidak mengerti apa yang sedang kau pikirkan,” ucap Dio dengan mata yang disipitkan. Chaeri melipat kedua tangannya di depan dadanya.

“Kau memang selalu tidak mengerti apapun! Kau tidak mengerti aku, kau tidak mengerti semua masalahku! Kau tidak mengerti semuanya!”

“Lalu selama ini aku yang selalu berada disisimu, kau anggap apa?” balas Dio semakin bernafsu. Nafas keduanya sama-sama memburu. “Haha.. benar sekali. Aku namja yang bodoh, benar? Selama ini aku selalu menyayangimu sepenuh hatiku, tetapi aku ternyata tidak ada apa-apanya di hadapanmu. Tidak dianggap. Apa aku penghalang bagimu?”

Chaeri hanya terdiam.

“Ah! Atau mungkin aku memang tidak menjadi penghalang untuk bersama namja lain karena kau tidak menganggapku ada?” Dio tertawa miris. “Geurae. Lebih baik kita berakhir sampai sini.”

Dio kini berjalan melewati Chaeri, lalu melewati Heesa. Heesa hanya terdiam di tempatnya. Tidak menyangka bahwa kejadiannya akan seperti ini.

“Kau perempuan jalang!”

Plak!

Tiba-tiba Chaeri sudah berada di hadapan Heesa lalu menampar pipinya dengan keras. Heesa tersentak. Ia memegang pipinya yang dalam beberapa detik tidak bisa merasakan apapun, kemudian terasa sakit yang luar biasa.

Seketika Dio berhenti dari langkahnya. Ia berbalik dan kini menatap Heesa yang mulai meneteskan air mata, menahan sakit yang mulai menyebar ke seluruh permukaan pipinya.

Dio melangkah cepat menuju Chaeri, lalu menampar pipinya sama kerasnya. “Apa kau tidak berpikir? Kaulah yang perempuan jalang!” ucap Dio dengan nada rendah namun menusuk. Chaeri terdiam sambil memegang pipinya.

Dio segera memegang lengan Heesa, berniat mengajaknya pergi dari kerumunan itu. “Ayo, Heesa! Kita pergi darisini!”

“Andwae!” Dengan satu sentakan Heesa melepaskan tangannya dari genggaman Dio. Dio menatapnya heran.

“Heesa! Ada apa denganmu-“

“-Aku saja yang pergi,” ucap Heesa kemudian, dengan nada suara sepelan mungkin. “Maaf aku telah mengganggu hubungan kalian. Maaf aku sudah membuat hubungan kalian hancur seperti ini. Maafkan aku..”

Heesa melangkah pergi dari kerumunan itu dengan hati yang sangat terasa sakit. Tetapi kemudian Dio mengejarnya dan mencegahnya pergi dengan memegang lengannya.

“Heesa! Ini bukan salahmu! Kita memang sudah tidak cocok satu sama lain!”

Sekali lagi Heesa melepaskan tangannya dengan paksa dari genggaman Dio. “Aku berharap kita tidak pernah saling mengenal, Dio-sshi.”

Heesa membalikkan badannya lalu menatap Dio dengan tatapan terluka. “Kau tahu? Sejujurnya aku lelah berada di dekatmu! Aku selalu merasa rugi!” ungkap Heesa dengan nafasnya yang tidak teratur karena kesal. “Lihat! Ini salah satu bukti nyata! Aku selalu diperlakukan seperti ini olehnya! Mengapa kau tidak mengerti, hm?”

Dio terdiam. Ia menatap kosong pada Heesa yang kini tengah menahan tangis. “Mianhae..”

“Sudah tidak ada gunanya kata itu di ucapkan olehmu.” Setelah itu, Heesa pergi menjauh dari Dio dengan tangisan yang merebak keluar dari matanya. Dio berdiri mematung.

Benar. Ia memang tidak mengerti siapapun. Bahkan, ia mungkin tidak mengerti dirinya sendiri.

FLASHBACK END

Heesa menghela nafas panjang. Itulah yang menyebabkan mengapa kini Chaeri selalu bersikap sinis dan menyebalkan padanya. Ia menerima keadaan itu dengan lapang dada, karena hal itu adalah hal wajar.

Akhirnya Heesa memutuskan untuk memesan choco oreo dan pancake strawberry. Luhan pun pergi ke foodcourt untuk memesan makanannya dan makanan Heesa.

Ketika Luhan pergi, ia tidak tahu harus berbuat apa selain menunggunya kembali. Kini ia berada satu meja dengan namja-namja populer di kampus. Bagaimana tidak ia menjadi sorotan sinis dan penasaran dari para yeoja yang berada di kantin itu? Heesa hanya mengeluh kesal menanggapinya.

Ketika Heesa tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba Chaeri datang ke meja mereka dan menarik lengan Heesa paksa.

“Kau, ikut denganku sebentar.”

Terpaksa Heesa bangkit dari duduknya lalu mengikuti kemana langkah Chaeri akan membawanya. Dio menatap Heesa khawatir. Apa masalah mereka belum selesai ketika Dio pergi ke Amerika selama empat bulan? Mengapa Chaeri masih bersikap kasar pada Heesa?

Dio mengkhawatirkannya. Ia mengkhawatirkan keberadaan Heesa.

*

“Heesa, sudah lama kita tidak mengobrol seperti ini,” ucap Chaeri mengawali pembicaraan. Heesa tertawa sinis.

“Tentu saja. Kita selalu bersikap sinis satu sama lain,” balas Heesa sambil meneguk kopi sodanya. Chaeri tertawa pelan.

“Ah, ya. Heesa-sshi, kau pasti tahu tentang aku yang mencium Luhan di atap..”

“Ya, aku tahu,” sangkal Heesa cepat. Ia tidak mau merasa kesal lagi pada Luhan setelah mereka berbaikan tadi pagi.

“Dan, aku tidak mau masalah kita seperti empat bulan yang lalu terulang kembali,” lanjut Chaeri dengan mengangkat kedua halisnya. “Luhan milikku. Jangan sampai kau merebutnya lagi dariku,” ungkap Chaeri akhirnya.

Heesa terkejut mendengar perkataan Chaeri. Ia menatap Chaeri dengan tatapan tertuduh. “Memang kau sudah menjadi kekasihnya?”

“Belum.”

“Belum?”

“Artinya aku akan menjadi kekasihnya sebentar lagi,” jawab Chaeri meyakinkan. Heesa hanya diam menanggapinya. “Maka dari itu, sebaiknya kau menjauh dari Luhan. Dia milikku.”

Setelah mengucapkan itu, Chaeri meninggalkannya dengan senyuman yang dipaksakan. Heesa menghembuskan semua nafasnya. Ia tidak percaya Chaeri memperingatkannya seperti itu, seolah ia akan merebut semua kekasih Chaeri seumur hidupnya.

*

Heesa berjalan menuju ke arah kantin dengan pikirannya yang tengah sibuk memikirkan sesuatu. Sesuatu antara Luhan, Chaeri, juga dengannya. Tidak masalah baginya untuk menjauhi Luhan demi keselamatannya, namun apakah Luhan bisa menjauh darinya setelah tahu namja itu selalu mengikutinya dimana pun ia berada? *pd*

Heesa mengulum bibirnya. “Ah! Molla molla! Huh, Chaeri. Ada apa dengan yeoja itu? Apa ia salah satu maniak namja?” tanya Heesa lebih pada dirinya sendiri. Entahlah, Heesa mengangkat bahunya singkat.

Setelah sampai kantin, ia telah melihat Chaeri yang sudah duduk manis di samping Luhan. Dan Luhan sepertinya menikmati perbincangan dengan Chaeri, begitu pula dengan yang lainnya.

Dan, Heesa menyayangkan sesuatu. Tas dan makanan yang telah dipesannya masih berada di meja sana. Apakah ia harus mengambilnya dan memilih bangku lain yang masih tersedia di kantin? Tentu saja.

Dengan cepat Heesa berjalan menuju meja itu. seetelah sampai, ia segera mengambil tas dan makanannya dengan cepat. Luhan mengalihkan tatapannya pada Heesa lalu tersenyum manis.

“Ayo, Heesa! Duduk di sebelah Chaeri!” ajak Luhan polos. Heesa tersenyum terpaksa.

“Luhan, apa kau tidak melihat? Meja ini sudah penuh. Aku tidak mungkin duduk disini. Lebih baik aku pindah saja,” ucap Heesa berbohong. Luhn menatapnya bingung. “Jeongmal gwenchana.”

Heesa memberikan senyum manisnya sebelum pergi dari menjauh dari mereka. Kini ia mencari meja yang kosong di kantin itu. Hampir semua penuh. Ah, pusing sekali. Terlalu banyak orang di kantin.

“Kajja!”

Luhan segera merangkul pundak Heesa lalu mengajaknya ke tempat duduk paling pojok. Ya, tempat duduk itu kosong. Sementara Luhan menuntun Heesa ke tempat duduk itu, Baekhyun dan Dio hanya berdecak kesal. Mereka terlambat dalam mengambil alih.

Heesa akhirnya duduk dengan tenang dan dapat memakan makan siangnya dengan leluasa. Luhan duduk di hadapannya lalu menopangkan dagunya dengan tangannya.

“Luhan, seharusnya kau tetap berada disana bersama Chaeri,” ujar Heesa sambil melahap pancakenya. Luhan mengangkat halisnya.

“Memang kenapa?”

“Kau tahu? Dia sangat menyukaimu. Bahkan sampai-sampai ia ingin menjadi kekasihmu,” ujar Heesa terang-terangan. Luhan membulatkan matanya tidak percaya. Heesa menatapnya dengan datar. “Maka dari itu, sewaktu Chaeri menciummu di atap, itu karena dia mencintaimu..”

“Ya! Berhenti berbicara. Habiskan saja makananmu,” perintah Luhan kesal karena Heesa terus saja berbicara.

“Ah, dan kau tahu? Dia sampai mengancamku agar tidak dekat-dekat denganmu. Dia bilang bahwa kau miliknya dan sebentar lagi kau akan menjadi kekasihnya-“

“MWO?” teriak Luhan tidak percaya. Heesa membulatkan matanya terkejut, sementara Luhan mengatur nafasnya yang terburu-buru. “Tidak mungkin.”

“Eh, sumpah! Coba saja kau tanyakan padanya,” ucap Heesa lempeng. Sebenarnya ia tidak suka berbicara terang-terangan pada orang lain seperti ini. Namun ini masalahnya berbeda. Heesa harus melakukannya demi keselamatannya.

“Ah, shireo,” jawab Luhan sambil menopangkan dagunya kembali. heesa hanya mengangkat bahunya.

“Tetapi kau harus tahu, suatu saat nanti pasti akan terjadi sesuatu. Seperti empat bulan yang lalu-“

“Empat bulan yang lalu?”

Haruskah Heesa menceritakannya pada Luhan?

Ya, harus.

“Dulu aku pernah dekat dengan Dio,” ucap Heesa memulai kisahnya. Luhan membalikkan badannya lalu menatap Dio yang kini tengah asik berbincang dengan Baekhyun. “Aku dan dia bersahabat baik. Kami berdua selalu bersama kemana pun kami pergi. Dan suatu saat, Chaeri memintanya untuk menjadi kekasihnya. Tentu saja Dio tidak menolak, Chaeri adalah yeoja yang populer, cantik, juga pintar dalam memainkan musik.

“Lalu..” Heesa memasukkan potongan kecil pancake ke dalam mulutnya. “Pada akhirnya Chaeri selalu mencampakkan Dio dan pergi dengan namja lain. Awalnya Dio bersabar dengan perlakuan Chaeri selama dua bulan, namun tidak lama kemudian mereka berpisah, dan semua itu gara-gara aku.

“Dan kau tahu? Tidak jarang Chaeri menyiksaku. Dia selalu menumpahkan minumannya, makanannya, bahkan sabun pencuci tangan. Dan penyiksaan yang terkahir ia berikan padaku adalah sebuah tamparan. Plak!” ungkap Heesa sambil memeragakan bagaimana Chaeri memukulnya. “Dan itu sangat sakit sekali.”

Luhan tertegun. Ia tidak menyangka bahwa hubungan Chaeri dan Heesa separah itu.

“Ah, Luhan? Mianhae. Sepertinya aku bercerita terlalu jauh. Hanya saja kau harus tahu semua itu sebelum berada dekat dengannya-“

“Tenang saja. Aku akan berada jauh dengannya,” ucap Luhan memutuskan. Namun Heesa menggeleng cepat.

“Ah, bukan seperti itu! Kau kan sudah tahu bahwa dia menyukaimu, setidaknya kau harus mengenalnya lebih baik, lalu menjauh dariku..”

“Menjauh darimu?”

“Hm! Jika tidak aku akan tersiksa seperti empat bulan yang lalu.”

Luhan terdiam, ia berpikir apa yang harus ia lakukan untuk berhadapan dengan Chaeri, juga melindungi Heesa dari perbuatan Chaeri.

“Tenang saja, Heesa. Kita harus tetap berdekatan seperti ini. Meskipun nanti akan ada Chaeri yang akan mengganggu kita, tetapi kita harus tetap bersama,” ucap Luhan sungguh-sungguh. Heesa seketika mengeluarkan seluruh tawanya. Ada apa dengan namja ini? Polos sekali.

“Hahaha.. arasso arasso.. terserah padamu, Luhan.”

Luhan tersenyum bahagia. Ia bertekad, apapun yang terjadi, ia akan melindungi Heesa semampunya.

Sengaja Heesa menceritakan seluruh kebusukan yang Chaeri punya, ia tidak mau orang yang berada di dekatnya tersiksa sama seperti Dio dulu. Yah, yang penting ia sudah menceritakan semuanya. Biarlah Luhan yang memutuskan apa yang akan ia lakukan.

*

Luhan dan Heesa kini tengah berbincang asik tentang kehidupan pribadi mereka. Tentang Heesa yang memang selalu susah dibangunkan setiap pagi, tentang Luhan yang selalu menangis ketika hal yang disuakinya direbut oleh orang lain.. semua itu menyenangkan untuk diketahui.

Ketika Heesa tengah mendengarkan cerita Luhan, ia melihat dua orang yang datang ke kantain dengan tangan yang saling merangkul satu sama lain. Mereka terlihat mesra dan bahagia.

Haah.. Kai dan Sera.

Sebenarnya Heesa sudah berusaha semaksimal mungkin agar bisa menerima  mereka dengan status hubungan mereka. Namun ternyata sulit. Sepercik rasa suka pada Kai masih ia simpan dalam hatinya.

Dan akhirnya Heesa berusaha fokus kembali pada Luhan yang bercerita tentang mainannya yang tercebur ke kolam renang.

Disamping itu.. Han Chaeri.

Jangan ditanya, kini yeoja itu tengah memandang penuh dendam pada Heesa. Apakah yeoja itu ingin mati di tangannya? ucap Chaeri kesal dalam hati.

Chaeri mendengus kecil. Apakah rencana pertamanya tidak berhasil? Apakah Baekhyun melakukannya dengan baik atau tidak?

Chaeri menatap Baekhyun dengan penuh selidik. “Ya~ Baekhyun-ah..”

Baekhyun terkejut lalu memandang Chaeri. “Ada apa?”

Chaeri berdecak kesal. “Ikut denganku. Ada yang harus kita bicarakan.”

Baekhyun menangkat bahunya. “Arasso. Kalian, aku duluan.”

Ke empat temannya hanya menganggukkan kepala.

*

Chaeri melipat kedua tangannya. Matanya menyipit, menatap Baekhyun tajam. Baekhyun menipiskan bibirnya.

“Apa Heesa sudah mulai menyukaimu?”

“Hah?”

Heesa mendesis kecil. “Jangan berpura-pura bodoh seperti itu, Baekhyun. Kita sudah merencanakan ini sebelumnya.”

Baekhyun mematung sejenak, lalu ia membuka mulutnya. “Ah, ne. Aku hampir lupa.”

Chaeri menghembuskan nafas panjang. “Intinya aku tidak mau tahu. Kau harus bisa menjauhkan Luhan dengan Heesa. Arasso? Jika tidak, foto kita sedang tidur bersama.. kau sudah tahu akibatnya.” Chaeri mengacungkan ponselnya lalu tertawa kemenangan. Baekhyun hanya tersenyum miris menanggapinya.

……………………………………………………………………………

ini diah chap 5. aku rubah nama Heera jadi Chaeri ga papa kan? hehe

terus ada kesalahan, kalo kalian baca Kim Chaeri, nama sebenarnya itu Han Chaeri. pokoknya maafin aku. jangan kecewa yaa bacanyaa :D

ditunggu komen! maaf kalo aku baru ngepublish semuanya sekarang!

annyeoooong!!! XD

…………………………………………………………………………………………

26 thoughts on “ELECTRIC [ CHAP 5 ]

  1. Awalnya bingung pas bacanya chaeri hah siapa lagi ternyata nama nya di ganti XD ehehehhehe seperti biasa eon keren!!!!!!!! Hehehehhee tapi aku jauh lebih milih kai sama heesa dari pada sama sera -_-V kkkk~ di tunggu kelanjutan cerita btw eon aku bisa ngebayangin si kai manly bgt pas mukul sehun :3 trus trus heesa beruntung amat di sukai smua namja -_- kkkk~

    • hehehehe, habis kan heera sama heesa deketan namanya, jadi aku ganti :D mian eaaaah haha
      wahaha, aku juga! lebih setuju sama heesa!! >_<
      hehehe, makasih ya udah komeeeeeeeeeeeeeennn!!! ^^

  2. OOOOO BAEK PERNAH BOBO BARENG SAMA CHAERI TERNYATAAAAA *aura gelap* HEH CHAERI, MANEH HAYANG DISEBLOK KU CAI GOT HAH?! #abaikan
    SEHUUUN AKU KECEWAAAAA T^T TEGANYA KAMU MENGKHIANATIKU!! KENAPA KAMU JADI COWOK PENGGODA HAH?? *ditampar
    ECIEEEEE KAI BILANG AJA SIH MAU CIUM HEESA *cium kai* NAHA NYA ABI NGARASA SI DIO BOGOH OGE KA HEESA .______. CHANYEOOOL SUAMIKUUUU KAMU NONGOL JUGA YA, VIRUS!!! *kecup *baekngamuk *lupakan
    LUHAN NTAR SERUMAH SAMA HEESA? NTAR DIRUMAH HEESA ADA 2 COWOK DONG? HALIG SIAH HEESA, MANEH PIGALAUEUN SAIMAH JEUNG LALAKI KASEP ~
    PEK TAH SIAH RASAKEUN BONGAN SAHA LOBA DIBOGOHAN KU LALAKI KASEP *sirik
    AAAAAAA NEXT CHAP NEXT CHAP NEXT *ngacung bareng luhan*

    • hahaha, kata heesa gapapa diseblok juga, asalkan bareng luhan atau kai atau dio atau sehun, ia rela. hahaha *dijauhin exo*
      hahaha, aku juga bingung sama sehun. kenapa dia jadi kayak gitu? MAGNAE MEEEEN!!!
      haha eta pisan. abi ge ngarasa da *liat langit*
      hahaha, heesa mah ga keberatan disukain exo, apalagi sampe serumah *jadi pembantu*
      hehe, okeeeeh!!!!!!! makasih yaa udah bacaaa dan komen!!!! XD

  3. Bagussssss <3
    Ah aku makin suka luhan heesa.
    Si chaerin jahat bgt! -___-
    Ilfeel liat dia disini.
    Ah chaerin diganti sm heera? Kenapa? ._.
    Part 6ny ditunggu yah :D

  4. Haha pantes bingung awalnya tor ternyata cast heeranya diganti :D tapi tetep daebak kok :D ditunggu chap selanjutnya author hwaiting! Btw sehun disini suka juga yah ._. Envy sma heesa thor u.u

  5. Baekhyun pernah tidur sama heesa-kah?!
    perasaan enak juga jadi heesa. Banyak yang suka sama dia. yaaah walaupun ada 1 bebenyit yang masih muncul.

    banyakin adegan kai sama heesa dong.. saya sih lebih suka heesa sama kai ketimbang sama luhan. hehe….

  6. waaaah ffnya keren.. si heesa keenakan ini di taksir sama banyak namja *lirik Kai, Luhan, Baekhyun, D.O, sama Sehun* -_-”
    lanjutannya di tunggu yaaa~ hehe sebelumnya salam kenal, pengunjung baru nih :D

  7. IMAAAAA INI TETEEEEEHH!!!
    HUAAAA ATUHLAAAAHH SUKA KE SI KAAAAII!!
    TAPI DIA TUH KADANG2 BIKIN DEGDEGSERRR KADANG2 BIKIN NGESELIINNNSS XP
    PENGEN SERUMAH SAMA KAI PUHLEAASE KYAAH XD

    ITU APA BEUDT GUE ILPIL SAMA SEHUN!! PERGEEH KAOOH!!
    SEENAKNYA AJE MAEN CIUM BIBIR ANE!! YANG BOLEH CUMA BACON YEE???? AKAKAKAKAK XD

    SUKAAASUKASUKASUKA KALO NGEBAYANGIN LUHAAAAN LUCU BANGET IIIIHH KEBAYAANG~ SINI GEGE AKU CIUUUUM *CIPOK BASAH SPESIAL*

    SUMPAH LAH SI HEESA EDUUUUUNN!!
    SETELAH TETEH ITUNG….. UEDAAAANN!!!
    KAI, LUHAN, SEHUN, DIO, BAEKHYUN!! LIMA MEN LIMAAAA!! TEU KAGOK IM?? TAMBAHAN XIUMIIIIINN XD

    OKEH SI SERA EMANG SUPER NYEBELIN BEUUDDHHTTZZKKHHHSSTT~~~~ *tebar heos*

    BACA CHAP 6 AH YUUUUKKSS XD
    JI DABEL O DI JI O BI GOOD JOOOB XD

  8. Puhlis ya itu Chaeri. B*tch bgt.

    Aku nobatkan Kim Heesa sbg orang tersabar di exo planet (?) Asli ya itu emang orang2 di sekitar Heesa itu kelakuannya sungguh menguras kesabaran. Good job, Heesa!

    Aelaaah Sehun, sembarangan maen nyosor aja lo *toyor
    eh tapi asli ya, serem bgt tuh scene Sehun yg maksa nyium Heesa.

    Oke, mengejutkan itu sejarah perang dingin Heesa-Chaeri. Ada Dio meeen. Dio! Oh, I lost my mind~ Jadi kayanya Chaeri ini ada obsesi tersendiri buat ngerebut apa yg Heera punya gegara masa lalu mereka sm Dio ya. Kayanya emang begitu. Sip! *sotoy kumat

    Aku meluncur ke chap 6~ WUSSH!!

  9. setelah luhan , kai , baekhyun, sekarang nambah dio…???
    waaahhhh….
    makin bingung aja..
    itu ga kebalik ya chaeri..??
    harusnya kan cewe yg diancem cowo sama fto ke bgtu..

  10. kyaaa sehunnaa :3
    eh itu ada D.O ?? kyaaa bias kuu :D hehehh :p
    thor, chaerinya nyebelin amaat ssii :3 ngenekin –”
    tp FFnya bagus kok (y)
    ak lanjut baca ke chap selanjutnya ya thor ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s