ELECTRIC [ CHAP 4 ]

ELECTRIC

 

Author: Shin Heesa

Cast:

  • EXO
  • Kim Heesa

 

Disclaim: Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Ps:

  • Don’t be silent reader
  • Don’t copy – paste my imaginations!!
(Author POV)

Luhan tidak sedang merokok. Ia tengah sibuk dengan sesuatu yang lain, yang sepertinya lebih menarik.

Ia tidak sendiri.

Heesa menatap kedua orang itu dengan marah sambil meremas kertas pesan yang diberikan oleh Luhan untuknya. Heesa membuang kertas itu sembarang dan berbalik untuk kembali menuju kelas.

Heesa tersenyum sinis mengingatnya. Apa Luhan hanya ingin memperlihatkan ciumannya dengan posisi Chaeri yang berada di atasnya? Apa hanya itu? Atau Luhan ingin mengajaknya untuk berciuman juga? Haha.

Heesa menggertakkan giginya kesal. Ternyata penilaiannya ketika ia bertemu dengan Luhan tidak salah. Seharusnya ia tidak boleh sempat dekat dengannya seperti hari kemarin. Benar-benar memalukan jika Heesa berpikiran bahwa Luhan adalah namja yang baik.

***

Luhan menyesap rokoknya kuat-kuat. Ia masih menunggu Heesa untuk datang ke atap setelah ia memberikan pesan lewat secarik kertas di atas mejanya lima menit yang lalu.

Luhan terkejut ketika ada seseorang yang membuka pintu atap. Ia segera melihat ke arah pintu itu dan ternyata dirinya tidak mendapati Heesa yang berada disana, namun Chaeri yang kini tengah tersenyum manis ke arahnya.

Luhan sedikit kecewa, namun akhirnya ia membalas senyuman itu dengan setengah hati.

“Ternyata kau merokok,” ucap Chaeri ketika ia berada dekat dengan Luhan. Luhan hanya tersenyum kecil dan menghisap lagi rokoknya. “Boleh aku minta?”

Luhan menatap Chaeri yang kini sudah duduk di sebelahnya, dan akhirnya ia memberikan rokoknya pada Chaeri. Chaeri mencapit rokok itu dan menghisapnya sedikit, lalu memberikannya kembali pada Luhan.

“Ada apa kau kemari?” tanya Luhan sedikit sinis. Chaeri mengangkat halisnya dan tersenyum miring.

“Bukannya kau akan memberitahuku tentang mengapa kau pindah sekolah dari Cina? Aku ingat, sewaktu kau pertama kali datang kemari dan memperkenalkan dirimu, kau hanya akan membahas itu berdua saja denganku,” jelas Chaeri panjang lebar. Luhan sedikit tertegun, lalu kemudian mengangguk.

“Ah.. kau yang bertanya itu,” ujar Luhan ketika teringat pada saat itu. Chaeri tertawa kecil karena Luhan hampir melupakan apa yang ia janjikan padanya.

“Jadi.. apa alasan itu?”

Luhan terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Aku diperintah oleh orangtuaku untuk tinggal sementara di Korea. Kini mereka tengah berbisnis besar di Cina dengan perusahaan terbesar di Korea. Dan pemilik perusahaan itu berkenalan baik dengan kedua orangtuaku. Dan kata pemilik perusahaan itu, mereka meninggalkan putrinya di Korea sendiri, dan mereka merasa khawatir akan hal itu sehingga mereka tidak bisa berlama-lama di Cina. Maka dari itu orangtuaku mengusulkan agar aku sementara tinggal di Korea untuk menemani putri mereka itu agar mereka bisa tenang berbisnis dengan orangtuaku,” jelas Luhan panjang lebar. Chaeri mengangguk mengerti

“Apa kau sudah tahu perempuan itu? Yang kau harus menemaninya?”

Luhan menggeleng. “Aku lupa nama kedua orangtuanya siapa. Dan nomor ponsel Cinaku hilang ketika di bandara, sehingga aku tidak dapat menghubungi kedua orangtuaku di Cina. Juga.. percuma lewat jejaring sosial. Kedua orangtuaku sedikit kuno tentang hal itu,” jawab Luhan disusul tawa kecilnya. Chaeri ikut tertawa, lalu kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas aspal yang bersih itu.

“Aah.. udara pagi di kampus memang lebih baik,” ujar Chaeri. Luhan mengangguk tanda setuju. “Ah ya, Luhan. Aku ingin menyampaikan sesuatu.”

Luhan menyesap rokoknya terlebih dahulu sebelum mengalihkan pandangannya pada Chaeri. Dan dengan satu gerakan cepat, Chaeri duduk di atas tubuh Luhan dan memegang kepalanya agar terangkat ke atas. Chaeri menatap lurus pada mata Luhan yang kini tengah terheran-heran dengan perbuatan Chaeri, lalu menciumnya.

Awalnya Luhan menolak ciuman Chaeri dengan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Namun dengan posisi seperti itu, Luhan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia juga seorang lelaki. Nalurinya mulai menguasai dirinya ketika ciuman Chaeri mulai memanas. Dan akhirnya, Luhan membalas ciuman itu.

Disela ciumannya dengan Luhan, Chaeri melihat pintu atap terbuka dari ujung matanya. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis sebelum melanjutkannya kembali dengan Luhan. Heesa melihatnya. Ia bahagia karena rencananya telah berhasil.

 Setelah beberapa saat, Chaeri melepas ciumannya dan bangkit untuk berdiri. “Terimakasih, Luhan. Aku sudah puas.”

Luhan mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Maksudmu?”

“Aku hanya tidak suka jika kau berada dekat dengan seseorang.” Setelah mengatakan itu, Chaeri pergi meninggalkan Luhan. Luhan menatap kepergian Chaeri sambil menyusut bibirnya. Apa yang terjadi pada perempuan itu? Dan.. dimana Heesa? Apa anak itu tidak membaca pesannya, atau sengaja tidak datang ke atap?

Luhan menyesap rokoknya untuk terakhir kali dan membuangnya dengan sembarang. Sebaiknya ia segera pergi ke kelas, jam pelajaran sebentar lagi akan dimulai.

*

Chaeri berjalan cepat menulusuri lorong kampus. Kini langkahnya menuju kelas teknik pertanian yang jaraknya lumayan jauh dari kelasnya. Ia berniat untuk menemui seseorang disana, seorang yang akan menuruti keinginannya untuk melakukan sesuatu.

Akhirnya sampai. Chaeri membuka pintu kelas itu dan melihat penduduknya tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Chaeri mengedarkan pencariannya ke seluruh kelas, dan akhirnya ia menemukan siapa yang akan ditemuinya.

“Baekhyun-ah! Baekhyun!” teriak Chaeri. Orang yang dipanggil itu akhirnya menatap ke arah Chaeri dan tersenyum tipis.

“Ah, Chaeri!” sahut Baekhyun. Namja itu pun bangkit dari kursinya dan berjalan cepat menghampiri Chaeri. “Ada apa?”

Chaeri tersenyum manis dan memasang tampang aegyo-nya. “Aku ingin meminta pertolongan darimu. Bolehkah?”

*

Heesa berusaha fokus pada pelajaran kesenian yang disampaikan dosen di depan kelas. Berusaha fokus? Ya. Kini Luhan menendang kembali kursinya berulang kali. Siapapun yang diperlakukan seperti itu, pasti akan merasa jengkel. Maka dari itu, Heesa berusaha bersabar dan fokus pada pelajaran.

Dan sepanjang pelajaran juga, Luhan memanggil-manggil nama Heesa dengan manja, dan itu membuat telinga Heesa sedikit sakit dan terasa seperti akan mengeluarkan darah beberapa liter. Demi apapun, kini Heesa tidak akan peduli pada Luhan. Ia bukan lelaki yang baik, seharusnya ia tidak mengenalnya sejak awal.

“Heesaaa…”

Heesa memejamkan matanya dan mengepalkan kedua tangannya. Sabar. Ia ingin satu kata itu menguasai dirinya saat ini.

*

“Hei, Heesa! Ada apa denganmu?” tanya Luhan sambil membereskan buku pelajarannya, begitu pula dengan Heesa. Kelas baru saja dibubarkan.

Namun Heesa tidak menjawab. Ia tidak mengalihkan pandangannya pada Luhan dan tetap membereskan buku-bukunya.

“Mengapa sepanjang hari ini kau bersikap dingin padaku?” tanya Luhan terheran-heran. “Apa aku melakukan suatu kesalahan? Jika iya, ayo katakan padaku. Aku akan meminta maaf padamu,” ujar Luhan memaksa. Heesa menggigit bibir bawahnya karena menahan kesal. Apa Luhan tidak mengerti? Heesa hanya ingin ia pergi dari kehidupannya.

Heesa berjalan melewati Luhan, berusaha pergi dari kelas secepat mungkin agar bisa berada jauh dari Luhan. Namun seketika itu Luhan mencegahnya pergi dengan mencengkram lengan Heesa kuat.

“Ya! Lepaskan..”

“Aku akan melepaskanmu, asalkan kau memberitahuku mengapa kau bersikap dingin padaku,” paksa Luhan, namun Heesa tetap membungkam mulutnya. “Dan juga, mengapa kau tidak datang ke atap? Jelas-jelas aku menaruh pesanku padamu di atas mejamu. Aku curiga kau tidak membacanya..”

“Luhan! Hentikan. Aku tidak mengenalmu, dan kau tidak mengenalku. Dan aku.. tidak ingin mengenalmu. Sama sekali tidak berniat. Sebaiknya kau lepaskan tanganku.”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti..”

“Lepaskan.” Heesa menatap tajam pada Luhan. Dan seketika ujung matanya menangkap Chaeri tengah menatap tajam pada mereka. Heesa mendelik ke arahnya, lalu menatap Luhan kembali. “Selain aku, masih banyak yang ingin mengenalmu lebih jauh.”

Heesa memaksa melepaskan tangannya dari cengkraman Luhan dan pergi meninggalkan ruangan. Luhan menatapnya dengan heran. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dirasakan Heesa saat ini.

Chaeri menghampiri Luhan dengan senyum kemenangan tersungging dibibirnya. “Luhan? Maafkan aku atas kejadian tadi pagi. Aku tahu aku egois..”

Tidak sempat mengakhiri kalimatnya, Luhan pergi meninggalkan Chaeri sendiri di dalam kelas itu dan berlari menyusul Heesa. Setelah berlari beberapa langkah, akhirnya matanya menangkap sosok Heesa tengah berjalan terburu-buru di lorong. Ia segera mempercepat langkahnya untuk menyusulnya.

Namun seketika langkahnya terhenti ketika ia melihat Heesa menubruk seseorang dan membuat mereka terjatuh. Heesa segera memprbaiki penampilannya lalu meminta maaf kepada yang ditabraknya. Luhan mengatur nafasnya sesaat.

Kejadian ini, sama sepertinya ketika ia juga ditubruk oleh yeoja itu, di lorong ini. Apakah kebiasaan Heesa salah satunya adalah tidak melihat ke sekelilingnya ketika sedang terburu-buru lalu menabrak orang-orang disekitarnya? Luhan tersenyum kecil menanggapi pendapatnya sendiri.

Namun senyumnya perlahan memudar ketika ia melihat Heesa yang berjalan terseok-seok karena tubrukan keras tadi. Ketika Luhan akan menghampirinya untuk membantunya berjalan, namja yang ditubruknya tadi sedikit lebih dulu menawarkan bantuan kepada Heesa daripada Luhan.

Byun Baekhyun. Teman barunya beberapa minggu yang lalu.

Luhan mendengus kesal. Sial. Mungkin ini bukan kesempatannya untuk berbicara baik-baik dengan Heesa.

Jauh dari jangkauan Luhan, perlahan Chaeri tersenyum sinis melihatnya.

*

“Ah! Mianhae! Gwenchanaseyo?” tanya Heesa masih dalam posisi jatuhnya. Namja yang ditubruknya hanya meringis sedikit lalu mengangguk kecil.

“Kau juga. Apa kau tidak apa-apa?” tanya namja itu sambil bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya lalu membersihkan bajunya. Heesa melihat siapa yang baru saja ditabraknya, dan ia baru sadar saat itu. Baekhyun. Baekhyun? Apa ia tidak salah menabrak orang? Baekhyun? Salah satu namja yang populer di kampus? Ash.. mengapa ia selalu menabrak namja yang populer di kampus? Dulu, ia pernah menabrak Chanyeol dan Lay. Beberapa hari yang lalu ia juga menabrak Luhan yang kini menjadi populer di kampus. Sekarang? Ia menabrak Baekhyun? Hhh… sebabnya pun sama, karena ia terburu-buru dan tidak melihat langkahnya.

“Hm. Gwenchana,” jawab Heesa berbohong. Sebenarnya ia merasa sangat kesakitan di lutut dan tulang keringnya. Baru kali ini ia merasa sakit ketika menabrak orang. Karena tabrakan tadi itu.. terasa sangat keras.

Heesa berusaha bangkit dari posisinya. Namun ketika ia berdiri, ia merasakan sakit yang amat pada kedua lutut dan tulang keringnya. Ketika ia berusaha berjalan, ia malah terjatuh kembali ke lantai lorong yang dipenuhi oleh siswa kampus itu. Baekhyun yang melihat Heesa tidak mampu berjalan itu segera menolongnya bangkit dan merangkul pundaknya, membantunya berjalan.

“Ah, Baekhyun-sshi. Aku benar tidak apa-apa. Kau tidak perlu membantuku.”

“Benarkah?”

“Iya. Sungguh aku tidak apa-apa… KYA!”

Baekhyun seketika melepaskan rangkulannya sekaligus pada Heesa dan membuat Heesa terjatuh kembali. Heesa terkejut dengan perbuatan Baekhyun lalu ia merasa sakit kembali di bagian kakinya. Baekhyun tertawa terbahak melihat Heesa terduduk tidak berdaya di lantai. Dan ketika ia melihat ekspresi Heesa yang kesal, akhirnya Baekhyun membantunya berdiri kembali.

“Kurasa kau perlu kuangkat ke punggungku..”

“Tidak! Cukup membantuku berjalan saja.. kumohon,” pinta Heesa sambil berusaha berjalan dalam rangkulan Baekhyun. Baekhyun tertawa kembali.

“Arasso. Dan.. apa aku perlu mengobatimu juga?” tanya Baekhyun sedikit ada nada jail di dalamnya. Heesa memanyunkan bibirnya kesal. Mengapa semua namja populer di kampusnya selalu bersifat menyebalkan?

“Tidak terimakasih. Aku bisa melakukannya sendiri,” jawab Heesa sedikit kesal. Baekhyun kembali tertawa terbahak. Ternyata menyenangkan juga menggoda seorang yeoja. Ia tidak pernah melakukan hal seperti ini kepada perempuan manapun. Dan karena itu, kini mereka menjadi pusat perhatian anak-anak kampus. Mereka pasti merasa heran, karena kini Baekhyun yang dikenal selalu bersikap dingin pada yeoja, sedang sibuk membantu seorang yeoja yang tidak terlalu dikenal oleh kampus berjalan keluar dari kampus.

*

“Apa kau bisa menyetir?” tanya Baekhyun asal. Heesa mengangguk.

“Tentu saja. Aku akan baik-baik saja,” jawab Heesa. “Terimakasih karena kau sudah membantuku berjalan sampai mobilku. Benar-benar membantu,” lanjut Heesa sambil tersenyum tulus pada Baekhyun.

Percaya atau tidak, Baekhyun sedikit terkejut dengan senyum yang diberikan Heesa. Namun detik kemudian ia berusaha sadar dari terkejutnya. “Kalau begitu, hati-hati.”

“Tentu.”

Heesa memberikan senyum terakhirnya sebelum menaikkan kaca jendela. Ketika ia sudah siap menjalankan mobilnya, kakinya merasa sakit ketika menekan gas. Heesa meringis kesakitan, dan ia mencoba lagi. Namun semakin dipaksakan, kakinya merasa semakin tidak membaik. Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan? Ah, Kai. Dimana anak itu? mungkin ia bisa membantu.

Heesa segera mengambil ponselnya lalu mengetik nomor ponsel yang sudah dihapalnya diluar kepala. Ketika ia menunggu teleponnya dijawab, ia melihat dari dalam mobilnya sosok Kai yang kini tengah membenarkan rambut pendek Sera yang brterbangan karena hteritup angin. Heesa segera membatalkan panggilannya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Great, sekarang apa yang bisa ia perbuat?

Suara ketukan dikaca jendela mobilnya membuat Heesa tersadar dari pikirannya. Ia segera menurunkan kaca jendela ketika ia tahu siapa yang mengetuk kaca jendelanya.

“Baekhyun-sshi..”

“Aku sudah menduga kau tidak bisa menyetir dengan kondisi seperti itu,” tebak Baekhyun dan membuat Heesa menunduk malu. “Buka pintunya.”

Heesa membuka pintu mobilnya. Dan seketika dengan mudahnya Baekhyun membawa tubuh Heesa dengan kedua tangannya menuju mobilnya yang diparkir tidak terlalu jauh dari mobil Heesa. Heesa terkejut dengan perbuatan Baekhyun sehingga ia meronta di pelukan Baekhyun. Namun Baekhyun menjulurkan lidahnya dan tertawa jail. Heesa membulatkan matanya dan semakin meronta untuk turun dari gendongan Baekhyun.

Kai yang melihat kejadian itu hanya bisa diam dan mengerutkan keningnya kesal. Ia tidak tahu harus berbuat apa.

**

“Duduklah yang manis,” perintah Baekhyun sambil menurunkan Heesa dari gendongnya ke kursi sofa apartemennya. Heesa meringis sakit ketika ia merasakan denyutan di kakinya.

Baekhyun meletakkan tasnya di atas perut Heesa kasar dan berjalan asal menuju dapur, hendak mengambil es untuk mengompres luka Heesa. Heesa mendesis kesal lalu meletakkan tas Baekhyun di sebelahnya. Ia bingung harus berbuat apa lagi selain menunggu Baekhyun yang memaksanya untuk mengobati lukanya. Sungguh egois.

Beberapa saat kemudian, Baekhyun kembali ke tempat Heesa sambil menggenggam kompresan yang berisi es. Baekhyun menyingkirkan tasnya dan duduk di sebelah Heesa.

“Buka celanamu.”

“MWO?”

“Maksudku bukan seluruhnya. Hanya menggulung bawah celanamu sampai lukamu terlihat,” jelas Baekhyun diselingi tawa gelinya. Heesa memanyunkan bibirnya lalu menggulung celananya sampai atas lutut.

Kini terlihatlah empat memar di kaki Heesa. Dua memar di masing-masing lutut kanan dan kiri Heesa, lalu duanya lagi di tulang kering kanan Heesa. Mereka sudah terlihat menghijau.

Baekhyun meringis, seperti merasakan sakit yang Heesa rasakan. Dan dengan perlahan Baekhyun berlutut lalu meletakkan kaki Heesa di atas meja agar bisa mengompresnya dengan mudah. Heesa membiarkan Baekhyun meletakkan kakinya di atas meja dan mengompresnya, karena itu memang maunya. Lagipula ia tidak merasa rugi diperlakukan seperti ini oleh salah satu namja populer di kampus.

Heesa meringis ketika Baekhyun mulai mengompres memarnya dilututnya dan menekannya cukup kuat. Baekhyun menatap Heesa yang terfokus pada kompresannya.

“Sakit?” tanya Baekhyun sambil mengangkat kedua halisnya. Heesa mengangguk lemah.

“Mengapa bisa separah ini..”

“Aneh. Kau yang menabrakku, tetapi kau yang terluka,” tutur Baekhyun jujur. Heesa menata kesal pada Baekhyun.

“Kau namja. Wajar saja jika aku yang terluka,” lawan Heesa. Baekhyun tertawa geli menanggapinya.

Lama mereka terdiam, akhirnya Baekhyun bangkit dan berjalan menuju kamarnya. “Aku ingin mengganti bajuku. Cuaca terasa sangat panas.”

Heesa menatap Baekhyun yang pergi menuju kamarnya. Seketika ia terpukau pada apartemen Baekhyun. Sangat rapi dan elegan. Dengan kaca yang menjadi sebagian dinding apartemen ini, sehingga cahaya yang masuk ke dalam apartemen pun sangat banyak. Ia suka dengan suasananya. Sangat menenangkan.

Namun, benar kata Baekhyun. Cuaca hari ini sangat panas. Meskipun sudah ada AC di dalamnya, sepertinya tidak cukup untuk menutupi kegerahannya. Tetapi, Heesa harus menahannya. Ia tidak boleh membuka jaketnya disini, jika tidak ia berarti akan membiarkan Baekhyun menatapnya memakai tanktop hitam yang tengah Heesa pakai.

Tidak lama kemudian, Baekhyun datang dengan pakaian santai yang kini ia kenakan. Baju putih longgar dengan celana pendek hitam selutut. Ditambah dengan kini Baekhyun memakai headset di telinganya, ia terlihat sangat nyaman.

Baekhyun berjalan menuju Heesa dan mengalihkan kompresannya ke memar yang lain. Setelah itu ia duduk di sebelah Heesa dan menaruh kakinya di meja, sama seperti Heesa. Baekhyun menatap layar iPod nya dan mengalihkan lagu yang ia dengar ke lagu yang lain. Ketika ia mendengarkannya, mengangguk-angguk kecil mengikuti iramanya dan sesekali menyanyi. Terlihat lucu di mata Heesa karena kini Baekhyun tampak seperti anak kecil.

“Mikael boda neon naege nunbusin jonjae, gamhi nuga neoreul geoyeokhae naega yongseoreul an hae..”

Heesa termenung mendengar Baekhyun menyanyi. Suaranya tidak buruk juga. Bagus. Sangat bagus malah. Merdu dan nyaman didengar.

Karena penasaran dengan lagu yang dinyanyikan Baekhyun, Heesa menepuk pundak Baekhyun dan membuatnya menatap padanya. “Lagu apa yang kau nyanyikan?”

“Ini.. Into Your World. Kau pernah mendengarnya?” tanya Baekhyun. Heesa menggelengkan kepalanya. Baekhyun berdecak meremehkan. “Kau ini ketinggalan zaman atau apa. Lagu populer seperti ini kau tidak tahu? Hah..”

Heesa menarik nafas panjang karena kesal. “Iya, aku ketinggalan zaman. Mengapa? Kau ingin protes, hah?” ucap Heesa kesal. Heesa mengalihkan pandangannya menuju kompresnya lalu mengalihkannya ke memar yang lain.

Baekhyun tertawa kecil, lalu dengan perlahan ia mengambil rambut yang menutupi telinga Heesa dan menyimpannya ke belakang telinga Heesa. Heesa sedikit terkejut.

“Kau ingin mendengarkannya?” tanpa menunggu jawaban Heesa, Baekhyun menyimpan salah satu headsetnya di telinga Heesa dengan mudah. Dan kini.. Heesa mendengarkan lagu yang dinyanyikan Baekhyun tadi. Jujur, dalam satu detik ia langsung menyukai lagu itu.

“…neoi sesangeuro.. yeorin barameul tago, ne gyeoteuro eodiseo wannyago, haemarkge mutneun nege bimirira malhaesseo, manyang idaero hamkke georeumyeon, eodideun cheongulgiteni..”

Ketika Baekhyun menyanyi, Heesa bukannya terfokus pada lagu yang didengarkannya, tetapi ia menatap Baekhyun dengan terkagum-kagum. Suaranya.. indah. Menyihir pikiran Heesa sesaat dan terkunci di dalamnya.

Merasa diperhatikan, Baekhyun memutar kepalanya sembilan puluh derajat dan menattap Heesa yang memang benar, kini tengah memperhatikannya. Salah tingkah, Heesa segera memalingkan mukanya ke arah lain. Baekhyun tertawa geli melihatnya.

Seketika Baekhyun melihat keringat yang berada kening Heesa mulai menuruni pelipisnya lalu ke pipinya. Refleks Baekhyun mengambil tisu dan mengelap keringat itu.

“Kau merasa panas? Mengapa kau tidak membuka jaketmu?” tanya Baekhyun sambil mengelap keringat di kening Heesa. Heesa segera mengambil tisu itu dan mengelap keringatnya sendiri.

“Tidak apa-apa.”

“Ayolah. Aku tidak nyaman melihatmu berpakaian tebal seperti itu,” ucap Baekhyun terus terang. Heesa terdiam, mengapa orang-orang tidak merasa nyaman jika melihatnya memakai pakaian tebal?

“Yah, tidak apa-apa jika kau tidak mau membuka jaketmu. Aku juga tidak merasa rugi,” ucap Baekhyun melanjutkan.

Heesa masih bertahan berada dalam jaket tebalnya sepuluh menit kedepan, namun kini ia tidak tahan. Akhirnya Heesa membuka jaketnya dan menyimpannya di senderan kursi. Baekhyun menatapnya sambil terkikik geli.

“Nah, begitu lebih nyaman,” ucap Baekhyun merasa lega. Heesa mencibir ke arahnya lalu menyenderkan pundaknya kembali.

Setelah beberapa lama, Baekhyun seketika sadar mengapa Heesa bisa berada di apartemennya. Ia mencabut headsetnya dan berlutut di samping kaki Heesa untuk memeriksa memarnya. “Apa masih sakit?”

Heesa berpikir sejenak, lalu menggeleng kecil. “Tidak terlalu..”

“Sungguh?” Dengan satu kali sentakkan Baekhyun menekan seluruh memar Heesa kuat-kuat. Heesa berteriak kesakitan dan dengan refleks memukul punggung Baekhyun.

“Ya! Kau tahu itu masih terasa sakit!”

“Tadi kau bilang tidak terlalu, jadi aku mengetesnya,” ucap Baekhyun sambil tertawa puas. Heesa memandangnya kesal. “Kalau begitu, kau menginap saja disini.”

Heesa membulatkan matanya seketika. “MWO?”

Baekhyun hanya mengangkat pundaknya acuh, lalu mengambil iPod-nya dan mendengarkan lagu kembali. “Aku tidak ingin mengantarmu pulang. Jadi tinggalah.. hanya untuk semalam?”

Heesa termenung sesaat. Lalu ia teringat Kai. Apakah anak itu meneleponnya berkali-kali seperti kejadian waktu itu?

Tangan Heesa langsung meraba-raba saku jaket untuk mencari ponselnya. Dan setelah menemukannya, Heesa membuka kunci layar, dan.. tidak ada apa-apa. Kosong. Tidak ada panggilan tidak terjawab atau pun pesan dari Kai. Hhh.. kini Kai benar-benar sudah tidak peduli lagi padanya.

Baekhyun menatap ekspresi kecewa Heesa. Baekhyun mengerutkan keningnya, mengapa Heesa memasang ekspresi seperti itu, dan akhirnya ia mengambil ponsel dari tangan Heesa dan memasukkannya ke dalam saku celana.

“Tidak ada pesan, atau panggilan.”

“Ya! Kembalikan ponselku!”

“Tidak. Pokoknya tidak ada komunikasi! Mengerti?” perintah Baekhyun sok galak. Heesa hanya membuang nafasnya sekaligus dan mendelik ke arah namja itu.

“Kau menyebalkan.”

“You don’t know me,” timpal Baekhyun sambil tertawa jail. Heesa meringis kesal dan memukul pundak Baekhyun. Lama-lama Heesa ikut terlarut dalam tawanya.

*

Malam sudah tiba. Pukul delapan malam. Heesa kini sudah merasa sangat lapar, mereka tidak henti-hentinya mengobrol, bercanda, dan melontarkan pukulan satu sama lain. Dan kini pada saat penghujungnya, akhirnya perut mereka meminta jatah makan mereka.

“Heesa, kau ingin makan apa?” tanya Baekhyun sambil bangkit dari duduknya. Heesa berpikir sejenak.

“Bolehkah aku meminta apapun disini?” tanya Heesa berharap apa yang ingin ia makan bisa ia lahap di tempat Baekhyun. Dan Baekhyun mengangguk meyakinkan. “Kalau begitu.. aku ingin beef teriyaki? Jangan bilang kau tidak memilikinya.”

Baekhyun berdecak sombong. “Tentu aku punya. Coba kau lihat ini.” Baekhyun segera membuka lemari esnya dan mengeluarkan satu bungkus daging sapi yang masih segar. Mata Heesa membulat senang melihatnya.

“Kalau begitu cepat buatkan untukku! Kyaaa.. senangnya!” Heesa menggoyangkan badannya kesana kemari saking bahagianya. Baekhyun tertawa kecil.

Baekhyun segera mengambil celemeknya lalu memakainya. “Lalu apa yang harus aku lakukan?”

Heesa seketika terdiam, lalu ia menatap Baekhyun dengan tatapan menusuk. “Apa maksudmu apa yang harus kau lakukan? Tentu saja kau harus memasaknya, Byun Baekhyun.”

“Aku tahu.. tapi aku harus mulai darimana?”

Heesa menarik nafas panjang dan mengeluarkannya sekaligus. Ia menatap Baekhyun tidak percaya. “Kukira kau bisa memasak..”

“Yang kaukira, Heesa. Ternyata tidak seperti perkiraanmu? Apa kau menyesal mengira aku bisa memasak?” tanya Baekhyun bertubi-tubi sambil tertawa puas. Heesa mendengus sebal. Anak ini..

“Ash.. lalu mengapa kau mengiyakan ketika aku bertanya bisa meminta makanan apapun disini?”. Baekhyun hanya tertawa puas dan meleletkan lidahnya pada Heesa.

Heesa memanyunkan bibirnya, lalu beberapa saat kemudian akhirnya pikirannya memutuskan karena didesak perutnya yang sudah meronta minta jatahnya. “Baiklah! Terlanjur aku menginginkan beef teriyaki, aku akan mengajarimu memasaknya,” ucap Heesa memutuskan. Baekhyun menatap Heesa heran. “Bawa aku ke kursi bar. Aku akan memberikanmu petunjuk apa-apa saja yang harus kau lakukan.”

Baekhyun tersenyum manis. Akhirnya ia membantu Heesa berjalan menuju kursi bar dan mendudukannya disana.

“Baiklah.. sekarang kau cuci daging itu dulu dan membuat beberapa racikan bumbu.”

“Kau serius ingin aku membuatkannya untukmu?” tanya Baekhyun mencari keyakinan Heesa. Heesa mengangkat pundaknya acuh.

“Aku tidak peduli. Perutku terlanjur menginginkannya.”

Baekhyun tertawa kecil lalu mencubit ujung hidung Heesa dengan kedua jarinya.

“Arasso..”

Untuk kedua kalinya, Heesa tersenyum tulus pada Baekhyun di hari itu. Dan untuk kedua kalinya juga, seketika Baekhyun terdiam sesaat.

Jika Chaeri tidak memberinya perintah, apakah ia masih tetap bisa bertemu dengan Heesa dan melihat senyum yang sangat ia suka dari yeoja itu? Entahlah. Yang penting, kini ia hanya ingin menikmati semua ini.

***

 “Kai?”

“Hm?”

“Apa kau menyesal?”

Kai memalingkan mukanya agar bisa menatap Sera. “Menyesal apa?”

“Kita.. menjadi sepasang kekasih..”

Kai menarik nafas panjang. “Kau ingin aku menjawab apa?”

Sera menatap mata Kai penuh harap. “Terserah padamu. Aku hanya takut kau menyesal..”

Kai memegang kedua pipi Sera dengan kedua telapak tangannya dan mendongkakakkan kepalanya agar bisa menatap matanya. “Maka dari itu, jangan buat aku menyesal, Sera. Tetaplah seperti ini, jangan berubah. Tetap disisku, arasso?”

Sera tersenyum bahagia. Ia memeluk Kai dengan erat. “Gomawo. Kau juga, tetaplah berada disisiku.”

Kai balas memeluk Sera dan mengelus puncak kepalanya lembut. “Tentu. Saranghae.”

“Saranghae,” balas Sera. Akhirnya Kai melepas pelukannya dan membiarkan Sera berlari ke dalam rumahnya. Kai menghembuskan nafasnya perlahan sebelum menaikki motornya untuk kembali ke rumah.

Heesa.

Nama itu terlintas begitu saja di pikirannya. Apa yeoja itu sudah pulang? Kai melihat jam tangannya, pukul sembilan malam. Seharusnya yeoja itu sudah tertidur di ranjangnya. Sebaiknya ia mengeceknya terlebih dahulu.

*

Kai memarkirkan motornya di depan rumah Heesa lalu memasuki pagarnya. Kai mengerutkan keningnya, mengapa lampu-lamu luar tidak menyala? Apa Heesa lupa menyalakannya?

Ketika Kai berusaha membuka pintu utama rumah itu, ternyata terkunci. Apa Heesa benar-benar di dalam?

Akhirnya Kai mengetuk pintu itu dengan keras. “Heesa! Kim Heesa! Buka pintunya! Heesa-ya!”. Beberapa menit kemudian, pintu itu tetap tidak ada yang membukakan. Kai dengan kesal menendang pintu rumah Heesa. Kemana anak itu? Ini sudah malam! Jangan mengatakan kalau ia berada di tempat yang tidak seharusnya ia kunjungi.

Kai segera mengambil ponsel di dalam sakunya dan mengetik nomor ponsel yang sudah ia hapal. Dan setelah ia menyambungkannya, ternyata tidak aktif. Kai mencobanya lagi, dan hasilnya tetap sama. Kemana Kim Heesa? Kemana dia?

Kini Kai merasa cemas. Dan ia terduduk lemas di depan pintu besar berwarna hitam itu. Apa yang harus ia lakukan?

***

Luhan menyesap rokoknya kuat-kuat, dan menghembuskannya ke arah langit yang sudah terlihat gelap.

Heesa.

Memikirkan namanya saja ia sudah merasa gelisah. Mengapa yeoja itu membuatnya seperti ini? Diantara semua yeoja yang pernah dekat dengannya, belum pernah ia menemukan yang seperti Heesa. Ia cantik dan mempunyai daya tarik tersendiri.

Dan kini, Heesa sedang marah padanya. Marah? Marah karena apa? Apa yang ia perbuat sehingga Heesa berkata tidak ingin mengenalnya kembali? Apa alasannya?

Sudah beberapa batang rokok ia habiskan untuk mencari alasan mengapa Heesa bisa semarah itu padanya. Luhan menghembuskan nafas panjang. Kini Heesa tengah melakukan apa? Apakah ia sedang bermain musik atau membaca buku? Atau tidur.. atau mungkin merokok sama sepertinya? Haha, tidak mungkin.

Luhan membuang puntung rokoknya sembarangan dan segera menaikki motornya. Sebaiknya ia pulang. Hari sudah malam.

***

“Ayo! Tahap terakhir, Baekhyun-ah! Hwaiting!”

“Hwaiting? Kau menyemangatiku? Lihat! Jari-jariku sudah banyak luka karena irisan pisau..”

“Byun Baekhyun, hwaiting! Hwaitiing! Kau pasti bisaa!!”

Baekhyun menggelengkan kepalanya melihat Heesa yang menyemangatinya dari awal sampai akhir. Apa yeoja ini memang pantang menyerah atau apa.. tetapi seyiap ia melakukan kesalahan, bukannya yeoja itu menyerah dan lebih memilih makan ramen dan soju, tetapi ia semakin mendukung Baekhyun untuk menyelesaikan masakannya. Sungguh..

Baekhyun meratakan bumbu beef teriyaki di atas daging yang sudah matang dan siap untuk disantap. Dan beberapa detik kemudian, akhirnya masakan itu selesai. Selama satu jam mereka berusaha membuatnya, dan kini telah berhasil dan siap untuk disantap.

“Kyaaa! Baekhyun chukae! Kau bisa memasak! Ayo cepat berikan padaku! Aku lapar sekali!!”

“Ya! Apa kau pikir aku tidak lapar? Aku lebih lapar darimu, kau tahu?” timpal Baekhyun sedikit kesal. “Dan kau tahu? Jari-jariku hampir semuanya terbeset pisau saat memotong daging dan sayuran.” Heesa hanya tertawa.

“Arasso.. kau bisa mendapatkan lebih banyak dariku. Ah, kau tidak akan melupakan nasi, bukan? Ayo cepat kita makan!” teriak Heesa bergembira. Ia menarik piring yang berisi beef teriyaki empat potong besar, sedangkan Baekhyun mengisi mangkuk nasi dengan nasi secukupnya.

“Here..”

“Aaah Tuhan! Aku suka ini!”

Ketika Heesa mengambil sumpit yang sudah tersedia, Heessa segera memotong daging itu dan menyuapkan potongan kecilnya ke dalam mulutnya. Heesa juga melihat Baekhyun mengambil sumpitnya dan langsung memotong daging itu dengan usahanya. Usaha? Ya, Baekhyun terlihat kesusahan untuk memotong daging itu. Sesekali Baekhyun seperti mengiris kesakitan. Akhirnya Baekhyun menyerah dan menyimpan sumpit itu lalu meniup-niup tangannya. Seperti ada yang kesakitan di setiap jari-jarinya.

“Ada apa?” tanya Heesa sambil tetap mengunyah dagingnya. Baekhyun menatap Heesa dengan tatapan seperti menahan sakit.

“Jariku terluka semua. Aku tidak bisa memegang sumpit dengan baik,” jawab Baekhyun seperti anak kecil sambil menyedot luka-lukanya. Heesa menatap heran pada Baekhyun.

“Lalu sekarang bagaimana?”

Baekhyun mendesis kecil. “Aku akan memplester semua lukaku dulu.” Setelah mengucapkan itu, Baekhyun pergi menuju kamarnya dan mengambil kotak obat-obatan. Setelah itu ia membuka kotak itu dan mengambil lima plester lalu kembali ke ruang makan. Heesa menatap Baekhyun dengan pandangan bingung, namun mulutnya tetap sibuk mengunyah makan malamnya.

Baekhyun duduk di samping Heesa lalu mulai membuka satu plester dan menempelkannya di ibu jari tangan kanannya. Sedikit kesusahan, namun ia bisa melakukannya.

Lalu Baekhyun membuka plester kedua. Ia ingin menempelkannya di jari tengahnya, namun ia kini merasa susah, karena ketika ia akan menempelkan plester itu ke lukanya, plester itu malah menempel di jari yang lain. Baekhyun merasa jengkel setengah mati.

Melihat ekspresi Baekhyun yang terlihat kesal, Heesa tertawa kecil. “Biar kubantu.”

Heesa meletakkan sumpitnya lalu mengambil plester dari tangan Baekhyun. “Berikan jarimu.”

Baekhyun menyodorkan tangannya pada Heesa. Heesa memegang tangan Baekhyun lalu memeriksa luka-luka goresan yang harus ia plester. Setelah itu, Heesa mulai memplesternya satu per satu.

“Kau tahu, Byun Baekhyun?” tanya Heesa sambil matanya yang tetap terfokus memplester luka Baekhyun.

“Apa?” tanya Baekhyun dengan matanya yang juga terfokus pada luka-lukanya yang kini mulai terplester satu per satu.

“Sejujurnya, teriyaki ini enak,” ungkap Heesa sambil memberikan senyum manisnya singkat. Baekhyun menahan nafasnya sejenak. Mengapa Heesa selalu memberikan senyum seperti itu padanya?

“Sungguh?” sahut Baekhyun, berusaha fokus pada percakapan. Heesa mengangguk.

“Yah, meskipun terasa lebih asin dan dagingnya terasa sangat keras.. namun aku menikmatinya. Mungkin karena kau yang membuatnya dengan tulus atau… ah! Berikan tanganmu yang kiri. Aku kira masih ada luka disini.”

Baekhyun segera memberikan tangan kirinya pada Heesa. Heesa memegang tangan Baekhyun dan memeriksanya. Ia mengusap-usap permukaan kulitnya, mungkin saja terasa beberapa goresan yang tidak bisa ia lihat.

Baekhyun seketika merasa jantungnya mulai berdegup dengan cepat. Entah apa alasannya, tetapi ia berusaha menutupi semua itu. Dan Heesa juga merasa jantungnya berdegup sangat cepat. Otomatis Heesa meletakkan tangan kanannya di atas dadanya, mencari tahu mengapa ia bisa merasa sesak seperti ini.

“Sepertinya tangan kirimu baik-baik saja,” ucap Heesa sambil melepaskan tangan Baekhyun dengan paksa. Baekhyun merasa heran dengan perbuatan Heesa, namun akhirnya ia menarik tangannya kembali.

“Gomawo,” ucap Baekhyun sambil tersenyum simetris. Heesa membalasnya dengan senyum juga.

Heesa mengambil sumpitnya dan mulai menyuapkan daging teriyaki ke mulutnya kembali. Namun ketika Baekhyun mengambil sumpit dan berniat untuk makan, ternyata jari-jarinya yang tertutup plester membuatnya sulit memegang sumpit karena licin, akhirnya sumpit itu selalu terjatuh ketika ia memegangnya.

“Aaaah~”

Baekhyun terkejut dan langsung berpaling ke arah Heesa yang kini tengah menyodorkan daging teriyaki ke arahnya. Namun perlahan Baekhyun membukan mulutnya dan menerima suapan Heesa.

“Terimakasih,” ucap Baekhyun disela kunyahannya. Heesa tersenyum tipis.

“Aku hanya kasihan padamu karena tidak bisa memegang sumpit dengan benar. Jadi, makanlah dengan baik selama aku masih ingin menyuapimu. Mengerti?” ucap Heesa meminta Baekhyun mengiyakannya. Baekhyun mengangguk seperti anak kecil.

“Aaah~” Baekhyun menerima suapan itu kembali. Heesa tertawa kecil melihat sikap Baekhyun yang seperti anak kecil saat ini.

Suapan demi suapan telah diterima oleh Baekhyun, dan namja itu sangat menikmatinya. Meskipun beef teriyaki itu terasa tidak seperti rasa beef teriyaki seharusnya, namun makanan itu sangat terasa nikmat dilidah Baekhyun. Apa mungkin karena Heesa yang menyuapinya.

“Ayo suapan terakhir. Aaah~”

“Mwo? Potongan ini terlalu besar!”

“Ah, makan saja! Kau bisa memakannya sekaligus,” sangkal Heesa. Baekhyun memanyunkan bibirnya sekejap, lalu tersenyum jail.

Baekhyun membuka mulutnya, dan ketika sumpit itu berada di dalam mulutnya, Baekhyun menggigit sumpit itu dengan keras. Dan ketika Heesa menarik sumpit itu keluar dari mulut Baekhyun, kepala Baekhyun ikut tertarik ke depan dan membuat jarak wajahnya dengan wajah Heesa semakin sempit. Heesa berusaha menarik sumpit itu keluar kembali, namun Baekhyun tetap menggigitnya dan membuat jarak mereka semakin sempit.

“Ya! Baekhyun! Lepaskan sumpitnya!” perintah Heesa sambil menarik-narik sumpit itu. baekhyun tertawa kecil lalu menggelengkan kepalanya. Heesa merasa semakin kesal, dan akhirnya ia menarik sumpit itu sekaligus.

Beberapa detik, ujung hidung mereka bersentuhan satu sama lain. Mata mereka saling memandang lurus satu sama lain. Heesa menahan nafasnya tanpa sengaja. Sedangkan Baekhyun, ia kini tersenyum jail.

Baekhyun memegang dagu Heesa, memastikan yeoja itu tidak merubah posisinya. “Ciuman rasa beef teriyaki?”

Heesa terdiam, lalu berusaha memberontak. “Ya! Apa yang kau lakukan?”

Baekhyun tertawa jail beberapa detik. “Apa kau sudah melakukannya?”

“Ya!”

“Ayo jawab, Heesa. Kau sudah melakukannya, bukan?”

“Melakukan apa?”

“Kiss..”

“Tidak!”

“Apa? Kau belum melakukannya?” tanya Baekhyun meyakinkan. Nafas Heesa terasa memburu di wajahnya. Haha, ripanya yeoja ini sedang kesal padanya.

“Memang kenapa? Apa itu salah?” tanya Heesa balik. Jantungnya terasa berdegup sangat cepat. Wajah Baekhyun sangat sangat dekat dengannya..

“Tidak. Apa kau ingin melakukannya denganku?” tanya Baekhyun tanpa basa-basi. Heesa menahan nafasnya. Apa katanya? Berciuman dengannya? Rasa beef teriyaki? Andwae!

“Aku tidak mau ciuman rasa beef teriyaki!” teriak Heesa otomatis. Baekhyun terdiam dan menatap mata Heesa lurus-lurus, lalu beberaa detik kemudian ia melepaskan pegangannya pada dagu Heesa dan tertawa terbahak.

Heesa memegang kedua pipinya. Ah, panas. Ia merasa sangat malu sekarang. Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan?

“Heh, berhenti tertawa seperti itu!”

“Hahaha..”

“Baekhyun!”

“Hahaha!”

“Baekhyun-sshi!”

“Hahahahahahaha..”

“BYUN BAEKHYUN!!”

Seketika tawa Baekhyun terhenti karena teriakan Heesa yang lebih kerasa dari tawanya. Baekhyun mengulum tawanya ketika melihat ekspresi kesal dan malu bercampur dalam mimik Heesa.

“Ah! Molla! Aku ingin pulang!”

Baekhyun tertawa jail, lalu seketika ia membawa tubuh Heesa dengan ringan ke dalam gendongannya.

“Ya!! Byun Baekhyun!!”

“Ayo kita menyikat gigi kita~ agar ciuman kita nanti bukan rasa beef teriyaki. Kau setuju?”

“Andwae!!”

“Hahaha..”

*

“Heesa~”

“Hm?”

“Bolehkah aku meminta tolong?”

“Hm.”

“Kau tahu tanganku terluka dan tidak bisa berbuat apa-apa. Maukah kau menyikat gigiku dan mencuci mukaku?” tanya Baekhyun tanpa basa-basi. Heesa yang tadinya tengah sibuk menyikat giginya di depan cermin langsung memindahkan perhatiannya pada Baekhyun yang berdiri di sebelahnya dengan senyum polosnya. Heesa mendengus kasar lalu melanjutkan menyikat giginya.

“Sebentar.” Baekhyun tersenyum bahagia dan akhirnya ia berdiri menunggu Heesa menyelesaikan tugasnya.

Setelah selesai menyikat gigi dan mencuci mukanya, Heesa mengambil sikat gigi yang ditunjuk Baekhyun dan mengoleskan pasta gigi di atasnya.

“Iii..”

Baekhyun menampakkan gigi depannya dan membiarkan Heesa menyikatnya. Tetapi sepertinya Heesa merasa kesulitan karena Baekhyun lebih tinggi darinya.

“Kau mau aku duduk?” tanya Baekhyun tidak jelas namun Heesa mengerti perkataannya. Heesa mengangguk lalu membiarkan Baekhyun mengambil kursi di ujung kamar mandi, lalu duduk di depannya. Heesa melanjutkan kegiatannya kembali.

“Aaa..”

Baekhyun membuka mulutnya. Heesa menyikat gigi dalam Baekhyun yang tersusun rapi. Baekhyun merasa nyaman diperlakukan seperti ini. Ternyata tidak buruk bisa berada dekat dengan seorang yeoja seperti yang ia pikirkan sebelumnya.

Setelah selesai menyikat semua giginya, Heesa memberikan gelas kumur pada Baekhyun dan membiarkannya berkumur untuk menghilangkan sisa pasta gigi.

“Apa aku harus mencuci mukamu juga?” tanya Heesa setelah meletakkan gelas kumur dan sikat gigi ke tempatnya. Baekhyun mengangguk. Heesa berdecak kecil lalu mengambil pencuci muka.

Heesa mulai mencuci muka Baekhyun setelah ia membasahinya. Baekhyun membiarkan Heesa mengusap-usap wajahnya dengan lembut. Ia menikmatinya.

“Heesa..”

“Hmm?”

“Maukah kau menjadi baby-sitterku?” tanya Baekhyun asal. Dengan otomatis Heesa memukul pipi Baekhyun. “Aw..”

“Micheoso? Aku masih ingin meneruskan pendidikanku,” jawab Heesa asal juga. Baekhyun tertawa dalam mulutnya yang terbungkam.

Heesa segera membersihkan muka Baekhyun dan setelah itu memberikannya krim dan menepuk-nepuk sekitar wajahnya dengan lembut.

“Kau bekerja di salon?”

Sekali lagi sebuah pukulan mendarat di pipi Baekhyun. “Apa maksudmu?”

Baekhyun meringis kesakitan sebelum menjawab. “Kau melakukannya dengan baik. Aku merasa lebih baik sekarang,” ucap Baekhyun sambil menepuk pipinya pelan. Heesa mencibir ke arah Baekhyun.

Baekhyun menatap wajah Heesa dengan seksama. Ia cantik, menarik. Entah mengapa Baekhyun menyukai semua.. tunggu. Baekhyun melihat sedikit busa di dagu Heesa.

“Heesa, berikan wajahmu,” ucap Baekhyun. Heesa mengerutkan keningnya. “Cepat..”

Heesa mendekatkan wajahnya ke arah Baekhyun dan Baekhyun menyambutnya dengan memegang kedua pipinya.

“Ada busa disini..” Dengan satu tangan yang masih memegang pipi Heesa yang lain, tangan Baekhyun yang lainnya mengusap busa yang ada di rahang itu. Dan setelah itu, pandangan mereka bertemu kembali.

“Byun Baekhyun..”

“Hm?” sangkal Baekhyun cepat dengan sahutannya. Heesa mengerjapkan matanya salah tingkah. Baekhyun terlihat sangat tampan dari jarak manapun, apalagi dari jarak sedekat ini.

“Sudah malam..”

“Lalu?” sangkal Baekhyun lagi disertai senyum simpul. Heesa meneguk ludahnya dengan paksa, gugup.

“Kita harus tidur..”

“Ciuman rasa mint.. bagaimana? Lebih baik dari ciuman rasa beef teriyaki?” tanya Baekhyun diselingi tawa kecilnya. Heesa merasa jantungnya akan keluar dan berlari-lari sebentar lagi. Mengapa namja ini menggodanya seperti ini?

“Euh..” Heesa tidak tahu harus menjawab apa. Kini ia merasa sangat gugup. “Ah, i.. iya lebih.. ba..ik. tapi… ini sudah.. malam..” ucap Heesa terbata-bata. Baekhyun tertawa sebentar, lalu memfokuskan kembali pada mata Heesa, dan entah mengapa.. kini pandangannya turun menuju bibirnya. Bibir Heesa, kini terlihat merah dan menggoda, membuat Baekhyun sulit untuk menahannya. Oh my God..

“Apa aku boleh menciumnya?” tanya Baekhyun tanpa sadar. Heesa menahan nafasnya kembali, entah untuk keberapa kalinya. Heesa merasa akan terjatuh lemas di lantai karena Baekhyun yang bertanya seperti itu padanya. Ada apa dengan namja ini? Apa ia termasuki arwah.. atau apa?

Tanpa persetujuan Heesa, Baekhyun mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Heesa. Heesa segera menutup matanya otomatis dan menunggu apa yang akan terjadi.

Perlahan tapi pasti, bibir mereka sudah sedikit bersentuhan, namun Baekhyun menghentikannya sampai sana dan mengalihkannya untuk mencium ujung hidungnya. Heesa membuka matanya dan menatap Baekhyun yang tengah meleletkan lidahnya padanya.

“Kau membuatku kehilangan akalku, Heesa. Kajja! Kita harus mengompres memarmu lalu tidur.”

Baekhyun menggendong Heesa dengan kedua tangannya kembali dan membawanya ke ruang tengah untuk mengompres memarnya, sementara Heesa masih tertegun dengan kejadian tadi.

***

Heesa membuka pintu rumahnya setelah ia membuka kuncinya. Hah.. satu malam tidak berada di rumah. Terasa sedikit berbeda.

Heesa berjalan masuk menuju ruang tengah dan menyimpan tasnya di atas sofa. Heesa merebahkan dirinya di atas sofa lalu mengusap wajahnya sambil mengeluarkan nafas panjang. Ia harus segera mandi dan berganti pakaian untuk pergi ke kampus. Hah.. mengapa saat-saat malas seperti ini harus ada jadwal pelajaran?

Heesa bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Setelah sampai, ia membuka pintunya dan masuk ke dalam lalu menguncinya. Ia kini membuka pakaiannya satu per satu.

“Fuuh.. melelahkan sekali.. ash! Luka memarku belum sembuh. Hah.. bagaimana ini? Aku harus lebih berhati-hati,” rutuk Heesa lebih pada dirinya sendiri. Ia melemparkan celana dan bajunya ke sembarang tempat, lalu ia membuka lemarinya dan mengambil jubah mandi untuk ia pakai. Setelah ia menalikan jubah itu, Heesa membuka ikatan rambutnya dan berjalan menuju kamar mandi, berniat untuk menyegarkan tubuhnya sebelum berkegiatan.

Tepat ketika Heesa akan membuka pintu, seketika pintu kamar mandi itu terbuka dari dalam. Heesa terkejut, karena kini ia melihat Kai hanya berbalutkan handuk di sekitar pingganya. Jantung Heesa kini berdegup sangat cepat..

“Kai..” ucap Heesa setelah tersadar dari lamunannya. Heesa menggigit bibir bawahnya karena gugup, ia bingung harus melakukan apa, karena kini namja itu menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.

25 thoughts on “ELECTRIC [ CHAP 4 ]

  1. Luhan~ Kai~
    22nya mikirin heesa
    Kasian luhan dijebak chaeri ;;
    Chaerin nyuruh si baekhyun juga tuh pasti buat nabrak heesa.
    Kya heesa >< ngebayangin dia nyikatin gigi bacon aa :33
    Ah kai? Dia mandi dirumah heesa?
    /brb baca part 5

  2. sekarang beralih pikiran
    heesa sama byunbaek aja hehehe
    sumpah adegan demi adegannya bikin deg2an
    kai, jangan kecewa ya, kan kamu udah punya sera
    hihihi
    dadah luhaaann

  3. Adakah mantra yg bikin deket cwo kece gegara tabrakan kaya heesa? Tell me….

    Oh tidak. Aku cemburu berat ama heesa. Bacon jelas bukan biasku ya. Tapiii…oh my! Deg2 ser ama pesona bacon disini.

    Plis ya luhan. Merokok itu tidak baik untuk kesehatan. Gegara ngerokok mulu jd ga tau knp heesa marah kn lo « Oke, ini ga nyambung -_-v

    Kok aku ngerasa ada yg janggal ya antara Kai-Sera #sotoykumat

    Oke, aku meluncur ke chap 5 :D

  4. Oh no!!! Kai gak pake baju…#siapin kamera#plaaak….kai nginep dtmpt heesa???…
    Baekkie…drimu ada suka2an ma heesa…chaeri jlek amat ya kelakuanx…nice ff…next chapt…

  5. oh jadi heesa ngambek gara gara luhan ciuman. aku dari awal udah nebak kalo luhan itu suruhan orangtua heesa wkwkw. baekhyun kenapa mesum gitu sih sebel ish-_- kai kenapa marah ke heesa kan heesanya bukan siapa siapa kai, sekedar temen doang kan aneh. lanjutkan terus thor! makin chapter makni bagus (y)

  6. sebenernya heesa sukanya sama siapa sih, dia itu gampang tertarik sama orang ya?
    luhannya ngga peka banget sihhhh…
    aaaaaa luhan jadi bad boy disini

  7. Annyeong thor :)
    saya readers baru, mian ya thor saya langsung comennt ke chap 4,
    oh iya FF nya bagus thor (y)
    ak lanjut baca ya thor ;)

  8. omoo.. hidup eon heesa enak banget — helehh mau juga huhuhu T.T baekhyun oppa knp gk nyium eon heesa ajah wkwk ><, next ne

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s