ELECTRIC [ CHAP 3 ]

ELECTRIC

 

Author: Shin Heesa

Cast:

  • EXO
  • Kim Heesa

 

Disclaim: Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Ps:

  • Don’t be silent reader
  • Don’t copy – paste my imaginations!!

(Author POV)

Hari ini libur bagi Heesa. Ia tidak ada jadwal mata kuliah di kelasnya. Dan Heesa belum juga bangun dari tidurnya ketika matahari sudah terbit. Ia masih terlelap dalam tidurnya.

Suara motor yang gagah terdengar dimatikan di depan rumah Heesa. Si pengendara motor itu meletakkan helmnya di bagasi motor dan setelah itu ia berjalan dengan sangat hati-hati ke dalam rumah Heesa.

Pintunya tidak terkunci setelah Kai pergi dari rumahnya, sehingga si pengendara itu bebas masuk ke dalamnya. Dan tanpa berlalu-lalang di lantai pertama, ia segera naik ke lantai dua dengan langkah yang cepat tetapi tidak tidak menimbulkan suara.

Si pengendara itu membuka pintu kamar Heesa secara sekaligus. Matanya terbelalak ketika ia mendapati Heesa tengah tertidur pulas. Tubuhnya tidak tertutup selimut, sehingga si pengendara itu bisa melihat tubuh Heesa yang hanya dibaluti oleh tanktop putih longgar dan celana panjang berwarna putih. Rambutnya berantakan dan entah mengapa.. ia terlihat cantik dan polos.

Si pengendara itu tersenyum kecil dan mendekati Heesa. Ia berjongkok di sebelah ranjang dan menatap Heesa sambil tersenyum. Ia mengambil beberapa helai rambutnya dan memainkannya perlahan.

“Chajata,” ucap namja itu pelan. Heesa bergulat kecil dalam tidurnya. Ia menguap dan mengelus pipinya kecil. Namja itu tertawa kecil melihatnya.

Merasa ada sesuatu yang janggal, Heesa akhirnya membuka matanya dengan terpaksa. Matanya menyipit sebelum seluruhnya terbuka lebar.

“Hmmm…”

“Hmmm..” ulang namja itu sambil tertawa jail. Heesa menatapnya dengan penuh heran. Ia mengenal wajah itu, senyum itu, dan suaranya..

“Lu.. Luhan?”

*

“Mengapa kau bisa berada di rumahku pagi-pagi?” tanya Heesa ketus. Luhan hanya tersenyum ringan.

“Aku tidak tahu.”

“Dan.. bagaimana kau bisa masuk ke dalam rumahku? Lalu mengapa kau tidak membangunkanku ketika kau berada di kamarku? Atau.. harusnya kau membiarkanku terlelap! Jika aku tahu kau akan ke rumahku, aku akan mengunci semua pintu dan jendela! Aargh.. aku merasa bingung pada situasi ini. Kau datang pagi-pagi dan melihatku tidur? You are so disturbed me!!”

Luhan tercengang menatap Heesa yang tidak bisa berhenti bersuara dari kekesalannya.

Namun detik kemudian Luhan tertawa kecil dan memandang Heesa penuh maksud. “Sebaiknya kau bergegas mandi dan berpakaian.”

Heesa tertawa mendengus lalu ia segera berlari masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya ke atas ranjang kembali. Luhan mendesah sedikit kesal dan bersender di mulut pintu.

“Pergilah. Kumohon.”

Luhan terkikik kecil. “Setelah aku berjuang mendapatkan alamat rumahmu? Tidak.”

“Aku tidak peduli seberapa berusahanya kau mendapatkan alamat rumahku. Lagipula aku tidak mengharapkan kau kemari,“ cetus Heesa sambil mendelik ke arah Luhan.

“Ah,” ucap Luhan tiba-tiba, berusaha memancing Heesa. “apa kau tahu? Hari ini ada festival musik di taman kota,” lanjut Luhan dengan tatapan seolah tidak peduli apa Heesa akan menerima ajakannya atau tidak.

“…”

“Aku akan melihat-lihat kesana. Awalnya aku ingin mengajakmu, tetapi sepertinya.. lebih baik aku pergi sendiri.”

“….”

“Aku pergi dulu. Aku tidak ingin melewatkannya.”

Luhan melangkah ringan menjauh dari kamar Heesa dengan perlahan, menunggu apakah Heesa benar-benar membiarkannya pergi.

Setelah Luhan mnginjak anak tangga pertama, Heesa belum juga mencegahnya. Hah.. mungkin Heesa benar-benar tidak ingin ikut dengannya..

“Baik baik! Tunggu lima belas menit,” tukas Heesa sambil membawa handuknya dan berlalu menuju kamar mandi. Luhan tertawa puas dan bahagia, ternyata Heesa mudah dibujuk seperti anak kecil.

*

“Ayo naik!” suruh Luhan setelah ia memakai helmnya dan memberikan satu helmnya pada Heesa. Luhan menaikki motornya dan menutup muka helmnya, sementara Heesa baru memakai helmnya.

“Mengapa kau mengendarai motor? Lebih baik mobil atau apapun itu yang tertutup..”

“Kau mau ikut atau tidak?”

“Arasso..” Heesa segera duduk di belakang Luhan dan berpegangan pada jaket kulit Luhan.

“Pegangan.”

“Sudah.”

“Maksudku bukan seperti itu..”

“Memang harus bagaimana? Apa aku harus memelukmu? Aku tidak mau!”

Luhan tertawa geli, lalu menyalakan mesin motor. “Baiklah,” timpal Luhan dengan sisa tawa di akhirnya. Heesa memajukan bibirnya sedikit kesal. Dasar, namja ini.

***

Kai terbangun dari tidurnya karena merasakan getaran ponsel di bawah tubuhnya. Kai mengucek matanya dan segera mengangkat panggilan yang mengganggu itu.

“Ah.. yoboseyo..”

“Pagi Kai! Ayo bangun banguun! Hari ini akan menjadi hari yang indah jika kau bangun di pagi hari!”

Seketika kantuk Kai menghilang ketika ia mengetahui siapa si pengganggunya di pagi hari ini. Bibirnya menyunginggingkan senyum kecil.

“Pagi, Sera.. kau bersemangat sekali.”

“Tentu. Hari ini aku akan menghabiskan waktuku di luar rumah. Seharian! Aku tidak ingin hari liburku sia-sia dengan hanya tidur di rumah.”

Kai menghembuskan nafas panjang. “Sepertinya kau menyinggungku dengan tidur di rumah.”

Terdengar suara tawa terbahak dari ujung sana. “Rupanya kau selalu membuang hari liburmu seperti itu.”

Tidak juga, Kai selalu bermain di rumah Sera dari pagi sampai malam. Dan mereka berdua selalu mempunyai waktu yang menyenangkan meskipun hanya berada di rumah.

“Ah, Kai? Maukah kau pergi denganku? Ayo kita berjalan-jalan bersama. Kita bisa pergi ke taman kota, atau kolam renang, atau tempat manapun yang kau suka. Bagaimana?”

Kai kini tersenyum manis. Dan tanpa berpikir panjang, ia telah memutuskan. “Tentu. Tempat pertama mana yang akan kau kunjungi? Kita bertemu disana.”

Sera tersenyum lebar. “Di Namsan Tower. Aku tunggu kau lima belas menit lagi.”

Telepon tertutup. Kai tertawa geli sambil menatap layar ponselnya. “Mungkin aku harus mencoba pergi dengannya. Artinya aku harus memberitahu Heesa kalau aku tidak bisa bermain ke rumahnya hari ini.”

***

Kling!

Bunyi pesan diponsel Heesa berbunyi ketika ia dengan Luhan tengah menikmati festival musik yang sudah berlangsung dua puluh menit yang lalu. Dengan terpaksa Heesa mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan membaca isi pesan itu, yang ternyata dari Kai.

To: Heesa

From: Kai

Heesa~

Mianhae, hari ini aku tidak bisa bermain ke rumahmu. Hari ini aku ada janji dengan seseorang, hehe.. tidak apa-apa kan?

Heesa mendesah panjang sebelum membalas pesannya.

To: Kai

From: Heesa

Bersenang-senanglah, boy. Lagipula seharian ini aku tidak akan berada di rumah.

Ketika Heesa hendak memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku, dengan cepat ponselnya berbunyi kembali, sehingga Heesa membawa layar ponsel itu ke depan tatapannya kembali.

To: Heesa

From: Kai

Seharian ini kau tidak berada di rumah? Kau pergi kemana?

Dengan secepat kilat Heesa membalas pesan itu dengan singkat.

To: Kai

From: Heesa

Festival musik.

Kini Heesa benar-benar memasukkan ponselnya ke dalam saku dan tidak akan peduli lagi terhadap pesan yang akan Kai balas. Ia ingin benar-benar memperhatikan permainan piano dan alat-alat musik lain yang tengah dimainkan oleh para pemusik handal. Mereka benar-benar mengagumkan. Dan lagipula.. ia menjadi merasa tidak terlalu bersemangat karena mengetahui Kai akan pergi keluar dengan ’seseorangnya’.

“Hey, Heesa! Kemari!”

Perhatian Heesa teralihkan ketika Luhan memanggilnya. Heesa melihat Luhan sedang duduk di atas sebuah piano tua dan besar. Ia tersenyum manis pada Heesa lalu menepuk kursi di sebelahnya, mengisyaratkan agar Heesa duduk di sebelahnya. Sebelum memutuskan, Heesa menatap ke sekelilingnya yang kini orang-orang tengah menatap padanya. Tetapi ketika ia melihat Luhan sudah duduk seperti itu, rasanya kasihan juga meninggalkannya dan membuatnya malu di depan umum. Akhirnya Heesa menghampiri Luhan dengan langkah penuh ragu.

“Apa yang kau lakukan, Luhan? Kau membuatku malu!” bisik Heesa kesal sambil duduk di sebelahnya. Luhan tersenyum geli.

“Ayolah.. kita bersenang-senang sedikit,” jawab Luhan dibalas dengan bisikan juga. Heesa mendelik.

“Apa yang akan kita lakukan disini? Orang-orang sudah melihat kita. Apa kau tidak merasa malu?” ucap Heesa bertubi-tubi. Luhan menempelkan jari telunjuknya di atas bibirnya, kemudian membimbing tangan Heesa untuk diletakan di atas piano.

“Kau bisa memainkan Ballade Pour Adeline?” tanya Luhan. Wajahnya kini terlihat sangat lucu dan tampan di mata Heesa.

“Tentu.”

“Kalau begitu, aku mulai. Kau bisa bermain berdua bukan?”

Heesa mendelik sekaligus mendengus kecil. Apa Luhan tidak mengerti kata kontroversi? Kini ia tengah mengaplikasikan kata tersebut di sebuah festival besar, festival yang bukan sembarangan festival bagi Heesa.

Namun hal-hal tersebut seketika menghilang ketika Luhan mulai menekan satu tuts piano dan dilanjut dengan tuts yang lain. Heesa selalu mengenal semua nada hanya dengan cara mendengarnya. Matanya mulai terpejam dan jarinya kini ikut menari di atas tuts piano itu, bersama Luhan.

Semua orang yang tengah menikmati festival tersebut seketika terpaku pada Luhan dan Heesa yang tengah mengkolaborasi permainan mereka. Banyak dari mereka yang memilih untuk diam di sekitar piano dan menikmati alunan musik klasik yang indah dan menyentuh hati yang dimainkan Luhan dan Heesa itu.

Tuts terakhir akhirnya sukses tercapai oleh mereka berdua. Semua penonton terdiam. Mata Heesa masih tertutup dan jarinya pun masih menempel di tutsnya masing-masing. Luhan yang melihat Heesa dalam keadaan seperti itu merasa sangat senang dan.. sangat menyukainya. Ini dia, ini yang Luhan suka. Heesa yang memejamkan mata dan menikmati setiap permainan pianonya. Dan tanpa sadar, Luhan mendekatkan bibirnya pada pipi Heesa dan mengecupnya kecil dan lembut.

Sontak semua penonton bersorak ramai dan bertepuk tangan ricuh setelah melihat adegan itu. Heesa seketika tersadar lalu membuka matanya dan melihat keadaan sekitar, kemudian pandangannya berhenti ketika menatap Luhan. Beruntung bagi Luhan, rupanya Heesa tidak menyadari bahwa Luhan telah mencium pipinya.

Luhan segera meraih tangan Heesa dan mengajaknya berdiri. Mereka akhirnya tersenyum bahagia dan membungkukkan badan pada penonton sebagai tanda terimakasihnya.

Untuk pertama kali, Heesa merasa lepas dan bahagia bersama piano asing namun tua di tempat ramai, seperti sekarang ini.

***

“Sudah lama menunggu?”

Tiba-tiba Sera membalikkan badannya dan pandangannya menemukan Kai sudah berdiri di ambang pintu. Terlihat tampan dengan Vogo hitam yang ia pakai.

Sera meloncat bahagia dan segera menghampiri Kai. “Kai! Lihat! Pemandangan darisini sangat indah sekali! Kita bisa melihat Seoul seperti sebuah negeri kecil dengan miniatur-miniatur gedung yang mewah!” Sera segera menarik Kai menuju pagar yang kini sudah dipenuhi oleh gembok-gembok yang berpasangan dipagar itu. Konon, jika kita menyimpan gembok kita bersama gembok pasangan kita di pagar itu, maka cinta kita akan selamanya abadi. Dan kunci gembok itu dibuang ke tumpukan ribuan kunci yang berada di bawah Namsan Tower itu.

Kai melihat ke arah yang ditunjuk oleh Sera. Sesekali mereka tertawa kecil karena candaan yang mereka buat. Udara pagi yang tersisa masih terasa terhirup oleh Heesa dan Kai. Mereka sangat menikmati suasana itu.

“Hey, aku sudah membeli gembok untuk kita berdua,” ucap Heesa sambil mengacungkan kantong kecil yang sedari tadi ia pegang. Kai membalasnya dengan memiringkan kepalanya. “Ayolah, aku hanya ingin membuat kenang-kenangan denganmu. Ara ara? Please..”

Kai tertawa kecil dan akhirnya membawa kantong kertas itu dari tangan Sera. Kai mengeluarkan gembok itu dan melihatnya dengan seksama. Gembok.. bebek?

“Bagaimana? Kau menyukainya? Aku sangat menyukainya, kau tahu. Gembok ini sangat menarik perhatianku ketika aku akan pergi ke atap,” jelas Sera panjang lebar.

“Aku menyukainya jika kau menyukainya,” jawab Kai yang membuat Sera tersenyum lega. “Kalau begitu, kita akan menulis apa di gembok ini?”

Sera menggigit bibir bawahnya, sedang berusaha menemukan kata-kata yang tepat untuk dituliskan di gembok mereka. Akhirnya ide itu pun tiba dan Sera segera menarik tangan Kai menuju meja yang tersedia disana.

“Kita akan menuliskan ini di atasnya, ‘Kai and Sera was here’.”

Seketika tawa Kai meledak setelah mendengarnya. Sera hanya tersenyum malu-malu dan berusaha menuliskan kata itu dengan baik digemboknya.

***

“Kita akan pergi kemana?” tanya Heesa sambil memasang helm dikepalanya. Luhan tersenyum simetris.

“Ke tempat terbuka.”

Heesa mengerutkan keningnya tidak mengerti. Namun apa yang harus ia lakukan sekarang selain menuruti kemauan Luhan kemanapun ia akan pergi? Ia hanya berusaha untuk menerima semuanya.

“Ayo naik.”

Luhan menaikki motornya lalu Heesa menyusul setelahnya. “Pegangan.”

“Sudah,” timpal Heesa sambil memegang erat pada jaket kulit yang dipakai Luhan. Mendengar jawaban Heesa seperti itu, Luhan mendengus kecil karena merasa sedikit kesal. Ia berpura-pura tidak mengerti atau memang tidak mengerti?

“Maksudku peluk. Kali ini aku benar-benar akan mengebutkan motorku,” paksa Luhan sambil menyalakan mesin motor. Heesa menggelengkan kepalanya, meskipun ia yakin Luhan tidak melihatnya. “Ayolah..” rujuk Luhan lagi setelah mesin motor itu menyala. Heesa menggelengkan kepalanya kembali. “Baiklah..”

Dengan satu sentakan, Luhan menggas motornya dengan cepat sehingga membuat Heesa terkejut. Otomatis Heesa memeluk Luhan dengan erat dan memejamkan matanya ketakutan. Sedangkan Luhan hanya tersenyum jail menanggapinya.

*

Setelah sampai disebuah tempat yang memang benar-benar terbuka –danau yang besar juga pohon-pohon yang teratur mengelilingi danau itu, Luhan mengajak Heesa untuk duduk di bawah pohon. Heesa menurut, dan kini akhirnya Heesa tengah menyenderkan punggungnya di bawah pohon itu. Terasa sangat teduh dan nyaman.

“Hey, kau mau satu?” tawar Luhan sambil menyodorkan satu batang rokok pada Heesa. Heesa mengerutkan keningnya dalam-dalam, lalu menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak merokok,” jawab Heesa sambil menjauhkan batang rokok itu. Luhan tertawa kecil lalu mencapit rokok itu di bibirnya. Ia merogoh saku untuk mencari pemantuk api. Dan setelah menemukannya, ia segera menyalakan ujung rokoknya dan menghisapnya dengan perlahan.

“Sejak kapan kau suka merokok?” tanya Heesa skeptis. Luhan menghembuskan asapnya sambil menoleh pada Heesa.

“Sejak sekolah menengah. Mengapa? Apa kau pernah merokok?” tanya Luhan sambil menghisap rokoknya kembali. Heesa mengibaskan asap rokok disekitarnya dengan kedua tangannya. Luhan tertawa puas melihatnya.

“Kau mau aku jujur?” tanya Heesa balik. Luhan menganggukkan kepalanya. “Pernah, ketika aku sekolah menengah.”

Luhan menatap Heesa terkejut dengan tangannya yang mengetukkan serpihan-serpihan rokok ke akar pohon. “Benarkah?” tanya Luhan berusaha mencari tahu kebenarannya, dan Heesa menganggukkan kepalanya pasti. “Lalu mengapa kau tidak merokok lagi?”

Heesa menghembuskan nafasnya perlahan. “Teman kecilku menghentikanku untuk merokok. Ia tidak suka jika melihatku merokok. Kau tahu? Ketika itu kita berkelahi sangat sangat parah. Ia sampai membantingkan beberapa barang di rumahku.” Luhan mengerutkan keningnya, lalu menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

Lama mereka terdiam, hingga akhirnya Heesa mengangkat bicara. “Apa aku boleh meminta satu hisap?” pinta Heesa sambil tersenyum malu. Luhan terkikik geli lalu memberikan rokoknya.

“Aku yakin kau merindukan masa-masamu bersama rokok,” ucap Luhan sekenanya. Heesa tertawa lalu menghisap rokok itu. Heesa sedikit mengerutkan kening ketika menghisapnya karena sudah tidak terbiasa. “Tetapi sebaiknya kau memang tidak merokok.”

Heesa menoleh heran padanya. “Hm?”

“Kau yeoja. Kau tidak boleh merokok.”

“Hey, bukan hanya yeoja saja. Kau pun tidak boleh merokok.”

“Tetapi yeoja lebih dilarang daripada namja.”

“Namja juga sama dilarangnya seperti yeoja.”

Satu detik keduanya terdiam, lalu terdengar tawa geli dari mulut masing-masing.

“Yah, sebaiknya manusia tidak merokok,” timpal Luhan berusaha meluruskan.

“Ya, memang seharusnya seperti itu,” ucap Heesa menyetujuinya. Mereka berdua tersenyum geli lalu memandang kembali ke arah danau.

“Hey, aku tidak menyangka aku akan menghabiskan waktu libur satu hariku denganmu,” ucap Heesa sambil memberikan rokoknya pada Luhan. Luhan menerimanya dan menjilat ujungnya kecil sebelum ia menghisapnya kembali.

“Mengapa kau tidak menyangkanya?” tanya Luhan sambil merubah posisi agar menghadap ke Heesa. Ia sedikit tertarik pada percakapan ini.

“Kau tahu? Sejak aku bertemu denganmu pada saat di lorong kampus.. awalnya kita bertubrukan tidak sengaja, lalu aku merasa bersalah karena aku merasa aku yang menubrukmu. Dan.. aslinya aku.. jujur, aku mengangumimu. Kau tampan, manis, dan terlihat tampan. Tetapi setelah kau berbohong kepadaku sewaktu aku bertanya apakah ada yang sakit dan kau menjawab aku telah melukai hatimu, dari sana aku mulai membencimu. Aku langsung menarik kesimpulan kalau kau bukan namja baik-baik,” cerita Heesa panjang lebar. Luhan tertawa terbahak mendengarnya. Ia tidak menyangka bahwa pada saat itu Heesa benar-benar menanggapinya dengan serius.

“Ah, arasso. Jadi gara-gara itu kau selalu menjauhiku?” tebak Luhan. Heesa mengangkat halisnya satu detik, tanda mengiyakan. Luhan tertawa kembali dan menghisap rokoknya.

“Kau begitu menyebalkan.”

“Kau tahu itu.”

“Maka dari itu aku tidak menyangka bahwa aku akan menghabiskan waktu liburku denganmu,” Heesa mengulang perkataan tadi. Luhan mengangguk mengerti.

“Apa kau menyesal?”

Heesa terdiam. Ia menatap Luhan dengan pikiran yang berputar. Ia harus menjawab apa? Jika ia menjawab tidak, sejujurnya ia sangat menikmati hari ini.

“Aku…”

“Luhan oppa!”

Tiba-tiba perhatian keduanya teralihkan ketika ada seseorang memanggil Luhan dengan panggilan akrab. Heesa melihat ke arah orang yang memanggil Luhan dengan tambahan oppa di akhirnya. Dan ia kini melihat seorang gadis berambut pendek yang disampingnya berdiri seorang namja yang sangat ia kenal. Kai.

“Sera? Sedang apa kau disini?” tanya Luhan sambil membuang rokoknya dan menghampiri adiknya. Sedangkan Heesa dan Kai tengah sibuk beradu pandang satu sama lain.

**

“Terimakasih untuk hari ini,” ucap Heesa sebelum masuk ke dalam rumah. Luhan menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangannya kecil.

“Sampai jumpa di kampus,” balas Luhan sambil menaikki motornya. Heesa meleletkan lidahnya.

“Kau tetap menyebalkan,” Heesa ikut membalas. Luhan tertawa terbahak sebelum memakai helm dan sarung tangan kulit berwarna hitam miliknya.

Mesin motor sudah dinyalakan. Luhan menggerakkan keempat jarinya kecil pada Heesa sebelum melajukan motornya menjauh dari rumahnya.

Heesa menghembuskan napasnya dan masuk ke dalam rumahnya. Akhirnya, ia pulang setelah seharian menghabiskan waktu libur bersama Luhan. Bibir Heesa menyunggingkan senyum kecil mengingat namja itu.

***

“Kai?”

“Hm?”

“Mmmm.. apa kau mau berfoto bersama denganku?” tanya Sera dan terlihat berhati-hati ketika memintanya. Kai mengerutkan keningnya. “Ayolah.. aku belum memiliki fotomu diponselku.”

“Ara,” jawab Kai sambil tersenyum. Kai masih dibilang pemula untuk hal berpacaran, jadi ia tidak tahu harus berbuat apa ketika sedang mengadakan date dengan kekasihnya. Dan hasilnya ia hanya menunggu yeojachingu-nya itu memintanya untuk melakukan sesuatu yang ‘berbau’ date.

Sera mengeluarkan ponselnya dan mulai mengarahkannya padanya dan Kai.

“Ayo Kai.. mendekat. Nanti kau hanya ada setengah dalam foto jika jarak kita seperti ini,” pinta Sera sambil melihat ke arah kamera. Kai tersenyum kecil lalu mendekat ke arah Sera. Sangat dekat.

Pipi mereka kini bersentuhan. Sera merasa jantungnya berdegup dengan cepat, begitupula dengan Kai. Mereka sedikit merasa canggung.

“Ayo, kapan akan dimulai?” tanya Kai menyadarkan Sera. Sera sedikit terlonjak lalu bersiap mengambil gambar.

“Hana.. dul.. set!”

Cekrek.

Dengan latar suasana jalan raya yang ramai, mereka berdua tersenyum bahagia difoto itu sambil mengangkat kedua jari mereka. Kai dan Sera tersenyum senang melihatnya.

“Ayo, kita mengambil banyak foto! Kau tidak keberatan bukan?” Kai tertawa keci lalu mengelus puncak rambut Sera.

“Baiklah..”

Akhirnya mereka berfoto kembali. Dengan berbagai gaya yang lucu dan romantis, sedikit demi sedikit foto-foto mereka mulai terkumpul banyak digaleri Sera.

Kai merasa bahagia. Ia melihat ke arah Sera yang kini tengah mengembungkan pipinya, bersiap mengambil foto kembali. Ia memang cantik. Apalagi ketika cahaya lampu kota menyinarinya dengan cahaya redup.

Cekrek.

Foto itu akhirnya tersimpan digaleri. Sera merasa sedikit terkejut. Ia melihat ke arah Kai yang kini tengah tersenyum manis padanya.

“Boleh aku minta foto-foto itu? aku ingin memilikinya juga.” Sera tersenyum lebar dan mengangguk semangat.

***

Heesa segera memakai baju hangatnya karena entah mengapa malam ini terasa sangat dingin. Ia membutuhkan hal-hal yang hangat. Dan sepertinya ia harus menyeduh coklat panas untuk meredakan dinginnya udara di sekitarnya.

Heesa berjalan menuruni anak tangga satu persatu sambil mendekap tubuhnya dengan jangkauan kedua lengannya. Rumahnya selalu sepi, dan semenjak orangtuanya selalu kerja keluar negeri, rumah yang indah dan teduh ini menjadi sedikit kotor karena jarang dibersihkan.

Setelah sampai di dapur, Heesa segera membuat coklat panas. Ia mengaduk isi gelas itu dengan perlahan, seolah ia harus membuat coklat itu sedemikian enak dan panas untuk diminum.

“BOO!”

“AH!”

Sendok yang dipegang Heesa terjatuh ke lantai ketika seseorang memeluknya dari belakang. Jantung Heesa berdegup sangat cepat, ia sangat terkejut..

“Kai! Urrrgh!!” teriak Heesa marah. Ia meronta dari pelukan Kai agar Kai melepaskannya. Namun sepertinya tidak semudah itu, karena Kai memeluknya sangat erat.

“Sedang apa kau?” tanya Kai, tidak peduli pada Heesa yang masih memberontak dipelukannya.

“Lepaskan!”

“Kau sedang membuat sesuatu?”

“Lepaskan, Kai!”

“Waw! Coklat panas! Apa boleh kau membuatkan satu untukku?”

Heesa merasa napasnya memburu karena lelah memberontak. Ia akhirnya memutar badannya dalam pelukan Kai dan menatap mata namja itu dengan tajam.

“Lepaskan, baru akan kubuatkan,” pinta Heesa tegas. Kai tertawa kecil lalu melepas pelukannya.

“Tentu. Kau menggemaskan sekali kalau marah,” ucap Kai sambil tertawa puas. Heesa mendengus kasar dan mengambil satu gelas untuk membuatkan Kai coklat panas sama sepertinya.

“Aku akan ke kamar kecil,” ujar Kai  sambil berlalu menghilang dari dapur. Heesa menggelengkan kepalanya, berusaha sabar menghadapi Kai.

Setelah coklat panas itu dibuat, Heesa meletakkan cangkirnya di atas meja makan. Ia menyeruput kecil coklat panasnya dan memegang cangkir itu dengan kedua tangannya yang dingin.

Heesa melihat ponsel Kai di atas meja makan, tidak jauh darinya. Ia mengambil ponsel itu dan meletakkan cangkirnya di atas meja.

Ketika kunci layar terbuka, Heesa melihat foto Kai bersama Sera tersenyum ke arah kamera. Sepertinya ini diambil barusan, karena pakaian Kai sama seperti yang dipakainya tadi –sepertinya Kai pulang ke rumahnya untuk berganti pakaian terlebih dahulu sebelum pergi ke rumahnya.

Heesa penasaran. Dan akhirnya ia memutuskan untuk melihat foto-foto Kai dan Sera lebih banyak.

Heesa melihat foto-foto Kai bersama Sera satu persatu. Dan entah mengapa, suasana hati Heesa menjadi lebih buruk ketika ia melihat foto-foto itu. ia merasa kesal.

Dan.. ia berhenti menggeserkan layar ketika ia melihat satu foto. yang di dalamnya ada satu pose foto yang sangat sangat menjengkelkan.. foto itu, Kai mencium bibir Sera dengan lembut.

Heesa segera menutup galeri dan mengunci layar itu seperti semula. Ia menyimpan ponsel Kai di tempatnya kembali.

Tepat pada saat itu Kai datang ke meja makan. Heesa mengambil cangkirnya kembali dan meminum sedikit demi sedikit coklatnya yang masih terasa panas dibibirnya.

“Terimakasih, Heesa,” ucap Kai sambil mengambil cangkirnya lalu mengecup pipi Heesa sekilas, tanda terimakasih yang lain. Entah mengapa Heesa merasa marah dan segera menghapus bekas kecupan Kai dipipinya.

“Mengapa kau menciumku?” protes Heesa sambil tetap menghapus kecupan itu. Dan akhirnya Heesa beranjak dari tempat duduknya sambil membawa cangkirnya dan berjalan meninggalkan dapur menuju ruang tengah. Heesa merasa tidak tahan jika berada di dekat Kai setelah melihat foto itu. Dan mengapa ia mengecupnya? Bibirnya sudah diperuntukkan untuk kekasihnya, bukan untuknya. Dan ia tidak mau Kai mengecup pipinya seperti tadi, ia hanya merasa telah dikhianati oleh Kai. Kau tahu? Satu bibir untuk dua yeoja? Tidak, terimakasih.

Heesa segera duduk di atas sofa dan menghabiskan coklat panasnya. Heesa menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan tangis yang sebentar lagi akan merebak keluar dari matanya. Heesa menyeruput tegukan terakhir coklatnya dan menyimpan cangkir itu di atas meja kecil yang berada di hadapannya. Heesa melipat kakinya di atas sofa sambil memeluknya dengan kedua tangannya, berusaha mencari kehangatan dan ketenangan.

Kai datang dan duduk di samping Heesa. Ia meletakkan cangkir coklatnya di atas meja makan lalu menatap Heesa lurus, berusaha menemukan masalah yang terjadi pada Heesa.

“Apa yang terjadi denganmu?” tanya Kai skpetis. Heesa hanya menggelengkan kepalanya. “Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Kai lagi. Heesa hanya diam menanggapinya. “Apa karena aku mengecup pipimu tadi?”

Akhirnya Heesa menatap Kai. Namun Kai mengetahui bahwa Heesa hendak menangis ketika Kai melihat genangan air dimatanya. Kai semakin merasa heran, ia melakukan kesalahan apa?

“Apa aku salah mencium pipimu? Bukannya sewaktu kita kecil kita selalu melakukannya setelah mengucapkan terimakasih? Bahkan sewaktu kecil kita tidak hanya mengecup pipi, tetapi bibir juga..”

Heesa menghapus air matanya yang mulai mengalir menuruni pipinya. Ia tidak ingin membahas hal ini, ia hanya tidak ingin.

Setelah menghapus air matanya, Heesa menyilangkan kakinya dan melipat kedua tangan di depan dadanya, lalu menatap Kai. “Apa kau merasa kedinginan?” tanya Heesa mengalihkan topik. Kai menarik napas panjang, berusaha menenangkan perasaannya.

Ini dia, Heesa yang tidak ingin membahas hal yang tidak disukainya pasti akan dialihkan kepada hal yang lain. Seharusnya Kai bersyukur Heesa mempunyai sifat itu, tetapi ia penasaran apa salahnya tadi sehingga Heesa bisa menangis.

“Ya, aku kedinginan,” jawab Kai jujur. Heesa tersenyum lirih. Mungkin nanti teman kecilnya ini tidak akan mengunjunginya sesering seperti sekarang ini.

“Kalau begitu, sebaiknya kau pulang. Kau lebih baik berselimut di kamarmu,” ucap Heesa sambil merapatkan baju hangatnya. Kai hanya diam menanggapinya.

Heesa pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tangga, berniat untuk tidur dan berselimut untuk mencari kehangatan. Lama Kai diam dalam duduknya, akhirnya ia mengikuti Heesa menuju kamarnya.

Heesa merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya lalu menyelimuti dirinya dengan selimut tebal miliknya. Kai pun datang dan menyelinap masuk ke dalam selimut. Perlahan ia memeluk tubuh Heesa ke dalam rengkuhannya.

Sayup-sayup terdengar suara tangis. Heesa sudah berusaha menahannya, namun ia sudah tidak tahan lagi. Heesa membalikkan badannya menghadap Kai dan menangis disana.

“Ada apa denganmu, Heesa? Mengapa kau menangis?” tanya Kai sedikit berbisik. Heesa berusaha menahan sesengukkannya, namun tangisannya semakin keras. “Sssh..”

Heesa mencengkram baju Kai kuat-kuat. Ia benar-benar tidak mau kehilangan teman kecilnya ini. Kai begitu sangat berarti baginya.

Suara tangis Heesa semakin kencang. Kai pun semakin memeluknya erat dan mengelus puncak kepalanya, berusaha menenangkan. “Sssh.. Heesa.. jangan menangis. Kau tahu? Aku bingung mengapa kau menangis seperti ini..”

“Meskipun kau melupakanku nanti, aku tidak akan melupakanmu, Kai..” ucap Heesa disela-sela tangisannya. Kai hanya terdiam, memikirkan kata-kata Heesa yang baru saja terlontarkan. “Aku tidak mau kehilanganmu.. kita teman sedari kecil, Kai. Aku akan merasa kesepian jika tidak ada kau..”

“Sssh.. aku mengerti. Sudah, jangan menangis lagi. Sekarang tidurlah..”

“Tidak mau. Kau pasti akan pergi..”

“Heesa, aku menyayangimu. Aku tidak akan pergi. Aku akan disini menemanimu,” ujar Kai menenangkan. Heesa mengangguk kecil dan memeluknya dengan erat.

Kai mengelus puncak kepalanya perlahan, lalu mengecup keningnya. Setelah itu, Heesa tertidur sangat-sangat lelap. Kai benar-benar tidak mengerti terhadap apa yang Heesa rasakan saat ini.

***

Heesa terbangun dari tidurnya setelah mendengar alarm dari ponselnya. Heesa segera bangkit dan mengambil ponselnya lalu memberhentikan alarmnya.

Dan ia baru sadar, ternyata Kai sudah tidak berada disini.

Heesa membuka baju hangatnya dengan malas dan melangkah keluar dari kamar. Ia menuruni anak tangga dengan perlahan dengan pikiran tentang kejadian tadi malam yang masih menghantuinya. Ia menangis karena Kai yang sudah mempunyai kekasih. Apakah.. Heesa merasa cemburu? Seharusnya seorang teman tidak menangis teman terbaiknya ketika ia mendapatkan hal yang baik dalam hidupnya. Seharusnya ia merasa ikut bahagia. Seharusnya Heesa ikut bahagia.

Heesa tersenyum pahit menanggapi pikirannya sendiri. Ia mengusap-usap wajahnya dengan telapak tangannya, berusaha berpikir normal setelah bangun dari tidurnya.

Heesa berjalan ke arah ruang makan untuk menyediakan sarapan untuknya. Tetapi Heesa terkejut ketika ia menemukan semangkuk sereal dan satu pasang roti berselai coklat kacang sudah tersedia di atas meja makan. Dan disana juga, ia melihat sebuah surat. Dari Kai.

Heesa mengambil surat itu dan duduk di atas kursi.

To: Heesa

Selamat pagi, Heesa! Mian aku pergi dari rumahmu tanpa sepengetahuanmu. Tiba-tiba aku teringat bahwa pagi ini aku harus menjemput Sera dan ergi ke kampus bersama. Kau bisa menyetir mobil sendiri, bukan? Sayang sekali Sera tidak bisa melakukannya. :D

Annyeong. Jangan lupa kau habiskan sarapanmu.

Heesa menghirup nafas panjang setelah membaca itu. ternyata dugaannya benar, sekarang Kai benar-benar akan meninggalkannya.

Heesa membawa surat itu ke tempat sampah dan membuangnya dengan perasaan hampa. Lalu ia menghampiri sereal yang disediakan Kai dan menyuapnya dengan perlahan.

Ketika Heesa akan menyuap satu sendok sereal ke dalam mulutnya, ponselnya berbunyi, tanda ada pesan.

Heesa membuka pesan itu dan membaca isinya.

From : XXX

Heesa, annyeong. Ayo cepat pergi ke kampus. Pagi disini sangat terasa segar, kita bisa merokok dulu kalau kau mau :p

Heesa menghembuskan nafasnya sekaligus setelah ia membaca ‘merokok’ dalam pesan itu. Luhan. Darimana ia tahu nomor ponselnya?

Akhirnya Heesa memberi nama pada nomor Luhan dan membalas pesannya.

To: Monkey

Kau mencemari pagi yang segar ini dengan asap rokokmu? Apa itu sudah menjadi kebiasaan tiap pagimu?

Heesa menyimpan ponsel itu kasar di atas meja makan dan berjalan ke arah kamar mandi, bersiap untuk belajar pelajaran musik selanjutnya. Tidak peduli lagi dengan sereal Kai yang masih tersisa banyak di dalam mangkuk Pororo favoritnya.

**

Heesa meletakkan tasnya di atas bangku yang sudah menjadi miliknya. Di kelas masih sepi, hanya ada tiga tas yang dia lihat di atas bangku –termasuk miliknya. Tentu saja, ini masih jam setengah delapan pagi, dan jam pelajaran dimulai satu jam lagi. Dan apa yang harus dilakukan Heesa selama satu jam itu?

Ketika Heesa tengah memikirkan apa yang harus ia lakukan, ia menemukan secarik kertas di atas meja bangkunya. Ia mengambil kertas itu yang ternyata di dalamnya ada sebuah pesan singkat untuknya. Dari Luhan.

Hei, jika kau sudah datang, aku sudah berada di atap. Aku menunggumu datang, Heesa~

Heesa menggelengkan kepalanya kecil. Ia membawa kertas itu dengan langkahnya yang kini berjalan dengan perlahan menuju atap. Kali ini, apa yang akan dia lakukan? Apakah hal-hal yang menyenangkan seperti hari libur kemarin? Diam-diam, Heesa tersenyum senang mengingat hari kemarin ketika ia berjalan-jalan dengan Luhan satu hari penuh.

Heesa sudah sampai di depan pintu atap. Ia membuka pintu itu dengan perlahan. Langkahnya perlahan keluar dari pintu itu dan membiarkan angin pagi menyapanya dengan lembut. Heesa mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Luhan. Dimana ia?

Dan.. satu detik kemudian, pandangannya terkunci pada sosok Luhan yang jarinya kini tengah mencapit satu batang rokok. Ia berbaring santai di atas aspal atap yang bersih, membiarkan rokok itu habis terbakar. Ia membiarkan rokok itu habis oleh api kecil yang menyala di puntung rokoknya dan menyisakan asap yang terbawa terbang ke atas langit.

Luhan tidak sedang merokok. Ia tengah sibuk dengan sesuatu yang lain, yang sepertinya lebih menarik.

Ia tidak sendiri.

Heesa menatap kedua orang itu dengan marah sambil meremas kertas pesan yang diberikan oleh Luhan untuknya. Heesa membuang kertas itu sembarang dan berbalik untuk kembali menuju kelas.

…………………………………………………………………………….

maaf ._.v

…………………………………………………………………………….

23 thoughts on “ELECTRIC [ CHAP 3 ]

  1. Heesa suka kai kan._.
    Ah masih bingung sm perasaan heesa ><
    Heesa luhan <3 mereka liburan bareng :3
    Itu eh luhan knp?
    Kok heesa mrh?
    /brb baca part 4

  2. Heeyy~ aku sekarang lagi cinta ama si Luhaan~ kyaaa my monkey! xD #eh *abaikan
    baguuuss! si Heesaa ama luhaaan ajaa deh~ tapi sma Kai jga gpp siih,kan ntar nya mreka itu kyaknya ‘sahabat jadi cinta’ deh yaa *sotoy* Akakak
    dan spertinya itu ada yg typo ya :| pas part ini:

    “Kai melihat ke arah yang ditunjuk oleh Sera. Sesekali mereka tertawa kecil karena candaan yang mereka buat. Udara pagi yang tersisa masih terasa terhirup oleh Heesa dan Kai. Mereka sangat menikmati suasana itu.

    “Hey, aku sudah membeli gembok untuk kita berdua,” ucap Heesa sambil mengacungkan kantong kecil yang sedari tadi ia pegang. Kai membalasnya dengan memiringkan kepalanya. “Ayolah, aku hanya ingin membuat kenang-kenangan denganmu. Ara ara? Please..”

    mksudnya sera kan ya, hmm psti ini gra2 diedit itu ya, emg knpa sih ma nympe diedit lgi? ._. *kepo lagi* Haha
    Eh iyah dan itu si luhaan ngerokok?! O.o Jedeeerr! Oh dia tidak kewajahaaan bad boy! XD Akakak
    *terbang ke next chapt breng Luhan~* ==’

  3. Sip! Aku baca di waktu yg tepat. Kagak kaya dulu lg sampe ga bisa komen. Hehe

    Gini deh. Jd Heesa ga ‘suka’ sm Kai sbg namja kn? Iya kn iya? Iya deh. Aku ngerasa Heesa ini murni takut kehilangan sahabatnya. Aku ngerti deh klo emang perasaan Heesa kaya gitu.

    Oke, aku meluncur ke next chap!

  4. Luhan jd preman ya???ngajarin yg sesat mlu ma heesa….hadeeeh….
    Kai drimu itu gak peka ya…heesa udh sakit hati bgitu…#putusin sera *demo!!!
    Nice ff….next chapt….

  5. si heesa marah kenapa ya ngeliat paan. kai nya juga gitu yaaaaa kurang peka apa emang bodo/? tau deh terserah authornya wkwk. nice ff thor aku suka suka><

  6. jadi sebenernya sukanya sama luhan apa kai.???
    luhan sama chaeri yah???
    ahhhh kasian heesa….
    uda kamu sma sehun aja *ehhhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s