ELECTRIC [ CHAP 2 ]

ELECTRIC

 

Author: Shin Heesa

Cast:

  • EXO
  • Kim Heesa

 

Disclaim: Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Ps:

  • Don’t be silent reader
  • Don’t copy – paste my imaginations!!
……………………………………………………….
(Author POV)
 

“SHIIIIIT!!!!!”

Heesa menunduk lemas di depan sebuah piano kayu. Ia tidak menangis, ia hanya merasa sangat kesal pada Luhan. Bisa-bisanya ia mempermalukan dirinya di depan orang-orang populer di kampus. Benar-benar..

Heesa menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan sangat perlahan. Ia menegakkan tubuhnya kembali dan sedikit memperbaikki posisi duduknya. Jarinya ia mulai letakkan di beberapa tuts piano, dan detik kemudian ia mulai memainkan sebuah lagu yang sudah tidak asing lagi. Canon in D.

Selain jago memasak, ia juga bisa memainkan piano, biola, gitar, bahkan drum. Ia sangat menyukai musik, sehingga ketika ia memainkan salah satu di antara mereka, maka ia bisa melupakan sejenak masalahnya dengan cepat. Seperti sekarang ini.

Matanya selalu terpejam ketika memainkan piano, seolah ia memang sudah terbiasa dengan tuts piano yang rumit itu. Bulu matanya yang lentik menghiasi matanya dengan indah. Ia terlihat sangat natural dan cantik, sehingga ia termasuk gadis yang menarik.

Setelah lagu itu selesai, Heesa membuka matanya perlahan, dan saat itu juga ia terkejut.

“…Oh Sonsaengnim?”

Sehun hanya tersenyum manis. “Halo.”

Heesa segera tersadar dan akhirnya bangkit dari duduknya. Ia berdiri di samping piano dan membungkukkan badannya. “Annyeong haseyo.”

Sehun tersenyum kecil. “Permainanmu bagus. Sangat bagus. Kau ternyata lebih ahli dariku,” komentar Sehun dan berhasil membuat pipi Heesa bersemu merah.

“Terimakasih.”

Sehun berjalan mendekat pada Heesa. “Apa kau sudah terbiasa memainkan piano dengan mata tertutup?” tanya Sehun penasaran. Heesa menunduk.

“Ya, karena kurasa aku bisa lebih menghayati permainanku,” jawab Heesa seadanya. Sehun tersenyum lembut.

“Bukankah kau yang berada di kelas musik itu?”

“Nde, Oh Sonsaengnim.”

Sehun tersenyum lagi, dan Heesa sepertinya harus bisa terbiasa dengan senyum yang diberikan oleh Sehun.

“Jangan memanggilku seperti itu. Itu mwmbuatku merasa lebih tua dibanding denganmu.”

“Sebenarnya aku juga merasa canggung memanggil..mu Sonsaengnim.”

Sehun tertawa kecil. Ia mendekat ke arah Heesa dan mengelus puncak kepalanya lembut. “Kalau begitu, panggil aku Sehun saja. Aku seumur denganmu.”

Seketika mata Heesa terbelalak. “MWO?”

“Hm? Ada yang salah? Apa aku terlihat tua?” tanya Sehun sambil membulatkan matanya.

Heesa menggeleng kuat. “Ti.. tidak. Kau sama sekali tidak terlihat tua.”

“Ara.” Sehun tersenyum manis. Heesa membalasnya dengan senyuman tipis.

Dengan langkah yang lambat, Sehun menghampiri piano dan duduk di kursi, lalu tatapannya mengarah pada Heesa. “Ayo, duduk di sampingku. Kau bisa memainkan Romance de Amor?”

Heesa mengangguk semangat. Ketika ia hendak duduk di samping Sehun, tiba-tiba ada sebuah suara yang mengusik pendengarannya. Dan ternyata itu adalah getar ponselnya yang ia letakkan di dalam tas.

Dengan cepat Heesa membuka tasnya dan menjawab teleponnya.

“Yoboseyo?”. Lama Heesa bercakap-cakap dengan yang menghubunginya, akhirnya ia memasukkan ponselnya ke dalam tas kembali.

“Se.. Sonsaengnim, mianhae.”

“Ada apa?”

“Eum.. kakakku menelepon bahwa aku harus segera pulang.”

“Ah, okay. Tidak masalah. Kalau begitu kita bisa bermain piano dilain kesempatan?”

“Tentu. Sekali lagi maafkan aku, Sonsaengnim. Aku pergi, jaga dirimu.”

Heesa segera berlari kecil keluar ruang musik itu, meninggalkan Sehun yang kini memainkan tuts piano itu dengan lancar dan lincah.

“Menarik,” ucapnya pelan disela-sela permainannya. Bibirnya menyunggingkan seringaian tipis.

**

“Apa kau tidak memperdulikanku yang mengkhawatirkanmu?”

“Maafkan aku..”

“Kau sudah meminta maaf sepuluh kali, tidak sebanding dengan aku yang meneleponmu sebanyak dua puluh lima kali.”

“Kalau begitu, aku akan menambah permohonan maafku sampai seimbang dengan berapa kali kau meneleponku.”

“Tidak usah.”

Heesa mengerucutkan bibirnya kesal. Ia menatap Kai yang kini tengah memalingkan muka darinya. Heesa menghembuskan nafasnya perlahan. Ia tahu Kai begitu khawatir padanya, namun tidak seharusnya ia memojokkan Heesa seperti ini. Lagipula mereka satu kampus, jadi apa yang perlu dikhawatirkan?

“Kai, please don’t be over. Kita satu kampus,” sangkal Heesa kesal. Kai masih tidak menatapnya.

“Aku tahu itu.”

“Kalau begitu jangan terlalu khawatir padaku.”

“Tetapi kau masih berada di kampus saat jam tujuh malam. Apa saja yang kau lakukan, hah?”

“Aku hanya bermain piano di ruang musik..”

“Apapun itu, aku tidak peduli. Yang penting aku masih merasa kesal karena kau tidak mengangkat teleponku.”

“Dengar, Kai. Aku sudah besar! Aku sudah dewasa. Aku yakin aku bisa menjaga diriku sendiri,” tutur Heesa dengan nada suaranya yang sedikit meninggi. Akhirnya detik itu juga Kai memutar kepalanya dan langsung menatap lurus pada Heesa. Mereka terdiam sesaat. Dan entah mengapa Heesa berharap Kai tidak mendengarkan kata-katanya tadi, karena jika Kai mengiyakan kata-katanya, maka bisa jadi Kai tidak akan sekhawatir seperti ini lagi padanya. Dan yang terjadi..

“Jika kau yakin, kalau begitu aku merasa lega.” Kai berjalan lambat menuju pintu gerbang halaman rumah Heesa. Heesa memejamkan matanya rapat, menahan emosi yang bergejolak dihatinya.

“Mengapa seperti ini..” rutuk Heesa lirih.

***

Heesa sudah siap untuk berangkat ke kampus. Ia memakai tanktop putih pas dan jaket berwarna hijau tua sepanjang setengah pahanya. Juga memakai celana hitam jeans yang panjangnya sampai setengah betis dan sepatu kets hak tinggi berwarna merah. Dengan rambut yang ia gulung ke atas, penampilannya terlihat sangat natural.

Heesa berjalan cepat menuruni tangga. Mata kuliah pertama hari ini adalah Bahasa Inggris, salah satu pelajaran favoritnya. Dan ia tidak ingin terlambat satu detik pun.

*

Heesa memarkirkan mobil getz putih kesayangannya dengan mulus. Setelah ia mematikan mesin mobil, ia segera membawa tas putihnya dan keluar dari mobil.

Heesa berjalan tergesa di lorong kampus. Sudah jam delapan pagi. Sebenarnya, ia tahu bahwa ia datang terlalu pagi karena kelas dimulai jam sepuluh. Tetapi entah mengapa, ia hanya ingin datang lebih awal dari yang lainnya, karena suasana kampus di pagi hari sangat segar dan menyenangkan.

Heesa membuka pintu kelasnya dan mendapati kelasnya kosong. Ia tersenyum tipis dan segera duduk di kursi tempat dimana ia biasa duduk. Tetapi, sekejap Heesa melihat secarik kertas di atas kursinya. Ia meletakkan tasnya di atas meja sebelum membacanya.

“Kim Heesa, selamat pagi.. aku tahu kau akan datang lebih awal dari yang lainnya, sehingga aku mengusahakan datang lebih dulu daripadamu. Haha..” Heesa mengerutkan kening membacanya. Lalu ia melanjutkan, “datanglah ke atap. Aku berada disana, aku tunggu kau~”

Heesa berpikir keras. Siapa yang mengirim surat ini? Hah, jangan-jangan Luhan. Heesa menghela nafas kesal. Meskipun ia tidak yakin bahwa yang memberinya surat adalah Luhan, tetapi langkahnya tetap membawanya ke atap gedung kampus itu.

*

Heesa membuka pintu atap kampus dan terasa angin membelai mukanya dengan perlahan. Heesa bergidik kedinginan, namun ia menikmatinya.

Heesa mengedarkan pandangannya untuk menemukan siapa yang memberinya surat konyol itu. Heesa berjalan kecil menyusuri atap gedung itu, hingga matanya menemukan satu sosok yang perlahan ia kenal. Kini si pemberi surat itu tengah duduk di pagar atap itu.

Heesa melangkah mendekatinya, dan ketika orang itu sadar akan kehadiran Heesa, orang itu segera memberikan senyum terbaiknya.

“Annyeong.”

“Annyeong haseyo, Oh Sonsaengnim,” balas Heesa sedikit gugup.

“Kau membaca pesanku?” tanya Sehun santai dengan pandangannya yang menatap indahnya Seoul di pagi hari dari atap gedung itu.

“Aku berada disini karena aku membacanya,” jawab Heesa. Sehun menatap ke arahnya sambil turun dari duduknya di atas pagar.

“Ah, ada apa Sonsaengnim mencariku?” tanya Heesa polos. Sehun tertawa kecil.

“Tidak ada. Hanya ingin mengajakmu menghirup udara pagi dari sini,” jawabnya sambil memejamkan matanya dan menghirup udara pagi itu dalam-dalam. “Dan juga, ini pertama kalinya aku berada disini.”

Heesa tersenyum kecil. “Ini juga pertama kalinya aku berada disini.”

Sehun menatapnya heran. “Jadi selama ini kau belum pernah ke atap?”

Heesa menggeleng pasti. “Ya.”

“Kalau begitu, aku memilih orang yang tepat untuk berbagi,” timpal Sehun. Heesa tertawa geli.

“Ya, Sonsaengnim memilih orang yang tepat,” jawab Heesa lempeng. Tiba-tiba Sehun meliriknya jail, sehingga Heesa menjadi salah tingkah. “Eh.. apa?”

Sehun membenarkan rambut coklatnya sambil tersenyum geli. “Tidak.”

Heesa menatapnya aneh, namun kemudian ia mengalihkan perhatiannya pada matahari yang sudah bersiap meninggi ke atas langit. Heesa menyipitkan matanya karena sialunya matahari.

Sehun memandangnya penuh arti. Ia memang tidak salah menilai. Gadis ini tidak seperti gadis lain di matanya.

Sehun mengambil beberapa helai rambut panjang Heesa dan memainkannya tanpa Heesa sadari. Sehun sangat menikmati suasana itu, suasana yang aman dan teduh.

*

Sepanjang pelajaran bahasa Inggris, Luhan tidak henti-hentinya menendang kursi Heesa. Heesa sebenarnya ingin sekali nerteriak kesal di depan mukanya saat itu juga, namun sayangnya hal itu mustahil terjadi. Akhirnya Heesa memilih menahan rasa amarahnya dan berusaha fokus pada materi-materi yang diberikan.

“Hei, Heesa,” panggil Luhan dengan suara sepelan mungkin, sehingga hanya Heesa yang mendengarnya.

Tanpa memandangnya, Heesa menyahut, “Hm?”

“Aku bosan belajar,” tutur Luhan. Heesa mengerjapkan matanya malas.

“Kalau begitu keluarlah.”

“Apa boleh?”

“Tentu. Tidak ada yang melarang,” jawab Heesa asal sambil mendengus kecil.

“Jangan membuatku menjadi orang bodoh, Heesa.”

“Aku tidak membuatmu bodoh, aku hanya memberikan solusi untukmu.”

“Jangan menipuku, gadis cantik. Aku tidak akan…”

“LUHAN!”

Tiba-tiba suara Yoon Sonsaengnim menghentikan percakapan kecil mereka. Yoon Sonsaengnim terlihat sangat marah kepada Luhan. Heesa menarik napas legaketika mengetahui bahwa bukan dirinya yang akan dimarahi oleh Yoon Sonsaengnim.

“Coba kau praktikan speech yang benar pada teman-temanmu. Aku khawatir kau bisa mengobrol tetapi tidak bisa speech dengan lancar.”

Luhan menatap sekilas pada Heesa lalu berdiri. “Speech tentang?”

“Anything.”

“Allright,” timpal Luhan setuju. “I can speech about girl, ma’am,” ucap Luhan datar, padahal disisi lain semua teman sekelasnya menyorakinya habis-habisan. Yoon Sonsaengnim hanya menatap lurus padanya.

Dan ketika Luhan memulai speechnya, semua tertegun, tidak ada yang mengeluarkan kegaduhan sekecil apapun. Percaya atau tidak, Heesa kini merasa mulai terkalahkan dalam kemampuan bahasa Inggrisnya, karena awalnya yang bisa lancar berbahasa Inggris di kelas ini hanyalah dia. Namun, kini Luhan berdiri di depan kelas dan melakukan speech dengan lancar dan benar.

Heesa hanya bisa menopangkan dagunya dan membiarkan telinganya mendengarkan ocehan Luhan tentang perempuan. Hah, menyebalkan.

*

Pelajaran bahasa Inggris telah selesai dua jam yang lalu. Kini pelajaran utama kelas ini adalah musik telah tiba. Semua murid kelas musik berbondong-bondong berjalan menuju ruang musik, siap menunjukkan talent mereka. Termasuk Heesa dan Luhan. Kini mereka tengah berjalan berdampingan.

“Hei, kau mau kita bergandengan?” tanya Luhan sengaja menggodanya. Heesa mendelik ke arahnya dan bergidik kecil.

“Tidak usah.”

Luhan mengembungkan pipi kirinya. “Bagaimana dengan aku merangkul bahumu?”

“No, thanks,” sangkal Heesa kembali. Luhan pura-pura menampakkan putus asanya dengan sedikit membungkukkan badannya.

“Kalau begitu..”

“Luhan!”

Tiba-tiba ada seorang gadis menyerobot ke tengah-tengah mereka dan langsung menggamit lengan Luhan dengan erat. Luhan terperanjat kaget dan menatap heran pada Chaeri. Ya, Shin Chaeri.

“Hei, jangan menggenggam terlalu erat..”

“Kau mau ke ruang musik kan? Ayo, kita berjalan bersama.”

Dengan cepat Chaeri menarik Luhan pergi dari sisi Heesa disertai delikkan yang tajam darinya. Heesa hanya mendengus meremehkan. Chaeri pikir hal itu akan membuat Heesa kesal? Eat that, Chaeri.

*

“Everyone, selamat datang di kelas musik. Program pembelajaran bersama saya sama seperti Baek Sonsaengnim. Jadi tidak perlu bingung lagi, silahkan tempati alat musik yang kalian bisa. Kita akan berlatih Cocour Fragille, Richard Clayderman.”

Heesa segera berjalan cepat menuju salah satu dari kedua piano yang ada di ruangan itu. Ia segera duduk di atasnya dan memandang tuts piano itu dengan bersemangat.

“Ah, Oh Sonsaengnim, boleh kauulangi instrumen apa yang akan kita mainkan?” tanya Heesa sedikit berhati-hati. Sehun tersenyum lembut dan menghampiri Heesa.

“Cocour Fragille.”

“Cocour Fragille?” ulang Heesa, kemudian bibirnya menyunggingkan senyum lebar. “Aku bisa memainkannya dengan lancar! Aku pernah berlatih sewaktu aku masih sekolah menengah.”

Sehun membulatkan matanya. “Benarkah? Kalau begitu, mainkan. Aku akan mendengarkannya sambil mengajari yang lainnya.”

Heesa mengangguk semangat. Setelah Sehun pergi, dengan satu tarikan nafas, Heesa meletakkan jari-jarinya di atas tuts piano dan mulai memejamkan matanya.

Alunan piano yang indah mulai terdengar di ruangan itu. teman-teman yang tengah mempelajari instrumen itu seketika terdiam dan menatap Heesa dengan takjub. Mereka memang sudah terbiasa dengan permainan Heesa yang memang selalu indah, tetapi mereka selalu merasakan ada sesuatu yang menarik dalam permainannya, selain Heesa memainkan pianonya dengan menutup mata.

Tiba-tiba terdengar alunan biola yang mengiringi permainan piano Heesa dengan lembut. Suara biola itu pun tidak kalah indahnya dengan alunan piano Heesa. Kedua alat musik itu, kini seperti menghipnotis seluruhnya yang berada di ruang musik itu.

Luhan dan Heesa. Mereka sama-sama memejamkan kedua mata mereka, menikmati melodi-melodi yang tercipta oleh gerakan jari dan tangan mereka.

Setelah selesai, sontak semua orang bertepuk tangan ricuh, seakan mereka baru saja melihat konser besar dengan tatanan panggung yang mewah. Perlahan Heesa dan Luhan membuka kedua matanya. Mereka saling tatap dan terdiam. Namun detik kemudian Heesa tersenyum manis pada Luhan. Dan untuk pertama kalinya, jantung Luhan berdetak sepuluh kali lebih cepat dibandingkan biasanya. Luhan hanya membalasnya dengan senyum salah tingkah.

Chaeri. Ia melihat kejadian itu. Dan seperti mobil balap yang melintas di depannya, Chaeri mendapatkan sebuah ide untuk menjauhkan Heesa dari hadapan Luhan.

*

Pukul dua siang. Mahasiswa-mahasiswa Seoul University sudah mulai berhamburan keluar untuk pulang ke rumah masing-masing atau melakukan kegiatan-kegiatan anak muda seperti biasanya. Dan Heesa lebih memilih pulang ke rumahnya.

Ketika ia akan berjalan ke mobilnya, tiba-tiba pandangannya menangkap Kai yang kini tengah bersama seorang gadis yang cantik. Rambutnya pendek, tetapi penampilannya sangat manis. Tidak seperti dirinya. Dan.. jujur, Heesa seperti mendapatkan hantaman kecil dihatinya ketika melihat Kai bersama gadis lain. Sebenarnya apa yang terjadi pada perasaannya pada Kai? Heesa pun tidak mengetahuinya.

“Woy!”

Tiba-tiba Luhan menepuk pundaknya keras dan membuat Heesa terkejut dari pikirannya. Luhan hanya tertawa puas melihat ekspresi Heesa.

“Ada apa kau kemari? Pergilah,” ucap Heesa ketus. Luhan berhenti dari tawanya.

“Aku hanya ingin menawarkanmu tumpangan untuk pulang,” tutur Luhan disertai senyumnya yang manis. Heesa mendelik, lalu detik kemudian ia mengacungkan kunci mobil di depan wajah Luhan.

“Aku sudah mempunyai tumpanganku sendiri.”

Luhan menghembuskan nafas besar. “Kalau begitu tinggalkan saja mobilmu disini dan kuantar kau pulang.”

“Micheoso?” timpal Heesa dingin. Luhan hanya memasang mimik muka ‘sesukaku’ pada Heesa dan tersenyum geli.

“Hei, Luhan!”

Heesa dan Luhan sontak mengarahkan mata mereka ke arah siapa yang berteriak barusan. Heesa mendenguskan nafas kecilnya ketika tahu itu adalah keempat teman terbaiknya.

Dengan langkah santai Heesa berjalan meninggalkan Luhan menuju mobilnya yang masih terparkir rapi sejak pagi ia tinggalkan bersama mobil yang lainnya.

*

Heesa merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk di dalam kamarnya yang dekat dengan jendela besar. Matanya menerawang ke langit-langit, dan pikirannya pun ikut melayang memikirkan sesuatu.

Kai.

Nama itu yang pertama kali melintas di pikirannya. Yaitu ketika tangannya menggenggam tangan gadis lain, dan ketika ia berikan senyum manis padanya.. entah mengapa Heesa merasa sakit. Tanpa sadar, Heesa mengepalkan tangannya erat, ia merasa marah pada dirinya sendiri karena telah merasa cemburu pada gadis itu.

Cemburu? Heesa segera membuang pikiran itu jauh-jauh. Ia menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Sebaiknya ia berganti baju terlebih dahulu. Hari ini sangat terasa panas.

Heesa segera bangkit dari posisi berbaringnya dan berjalan malas menuju lemari. Ia membuka pintu lemari itu dan mulai memilih baju yang tepat. Akhirnya ia memilih tanktop pas berwarna biru tua yang tidak sampai menutupi pusarnya dan memakai celana sangat minim berwarna abu. Rambutnya ia gulung ke atas kembali seperti semula. Ia hanya berpakaian minim seperti ini hanya jika berada di dalam rumah. Jika keluar rumah, celana yang paling pendek ia pakai yaitu panjangnya sampai betis, dan baju pun minimal tangan pendek setengah lengan.

Setelah berganti baju, tepat sekali ponselnya berdering. Heesa segera mengambil ponselnya dan mendapati sebuah nama yang sudah tidak asing lagi tertera rapi disana.

Kai. Namja itu.. ada apa dia menelepon?

Dengan malas Heesa mengangkat ponsel itu dan menempelkannya ke telinga setelah berpikir lima kali. “Yoboseyo..”

“Heesa?” tanya Kai terdengar santai. Kini Heesa merebahkan diri di atas ranjangnya.

“Ada apa kau meneleponku?” tanya Heesa sedikit ketus.

“Aku hanya rindu padamu. Ada yang salah?”

Hah, tidak salah ia merindukanku? Bukannya ia sudah mempunyai seseorang yang lebih pantas ia rindukan? tanya Heesa dalam hatinya karena kesal.

“Tidak. Kukira kau masih marah padaku.”

“Marah? Karena apa?”

“Kejadian waktu itu, yang kau meneleponku beberapa puluh kali dan aku tidak mengangkatnya.”

“Ah.. itu masalah kecil. Tidak perlu kita ungkit lagi.”

“Ara..”

Kini Kai tidak berbicara, Heesa pun tidak. Mereka sama-sama bingung harus membicarakan apa lagi. Namun beberapa detik kemudian Kai mengangkat bicara.

“Kau berada dimana sekarang?”

“Di rumah.”

“Di rumah..”

“Di kamarku.”

“Kau sedang apa?”

“… sedang ditelepon olehmu.”

Terdengar sangat dekat sekali oleh Heesa Kai kini tertawa renyah. “Selain itu?”

“Hmm.. berbaring di atas kasur tercintaku.”

“Berbaring? Terdengar sangat santai dan menyenangkan.”

“Tentu saja.”

“Apa aku boleh menemanimu berbaring?” tanya Kai disusul tawa jailnya. Heesa tersenyum geli mendengarnya.

“Tentu saja.”

“Kalau begitu aku masuk..”

Cekrek!

Dengan sekejap jantung Heesa berdegup sangat cepat. Ia menegakkan badannya ketika ia mendapati Kai sedang berdiri santai di mulut pintu. Bibirnya menyunggingkan senyum yang manis.

“Halo.”

“KAAAI!! MENGAPA KAU TIBA-TIBA BERADA DISITU?!” tanya Heesa tidak santai. Ia segera mengambil jaket hijaunya dan ia pakai dengan tergesa. Kai hanya melihatnya dengan diam tanpa mengerjapkan matanya. Setelah Heesa pakai dan ia kancingkan dengan benar, ia menatap penuh dendam pada Kai.

“Seharusnya kau mengetuk pintu dulu sebelum kau membuka pintunya!”

“ Aku kan sudah memberitahumu..”

“Lagipula kapan kau masuk ke dalam rumahku? Seperti pencuri saja!”

“Mian.. aku hanya ingin membuat kejutan untukmu..”

“Kau tahu aku sedang berpakaian terbuka? Aku kan tidak pernah memakai baju seminim ini di hadapanmu sebelumnya!”

“Seharusnya kau tidak bermasalah dengan itu..”

“Aku dan kau sudah besar, Kai! Lagipula..”

Dengan satu kali dorongan Kai menjatuhkan Heesa di atas ranjang dan Kai segera mengambil posisi di atasnya dan memegang tangan Heesa kuat.

Jantung Heesa berdegup sangat cepat..

“Diamlah. Jangan berisik. Atau kucium kau.” Dengan cepat Kai mengunci kedua tangan Heesa dengan tangan kirinya dan tangan kanannya perlahan membuka kancing atas jaket Heesa. Heesa menggigit bibir bawahnya ketakutan.

“Apa yang kau..”

“Shuut. Aku bilang diam.”

Ekspresi itu. ekspresi Kai yang sangat tidak ingin Heesa lihat. Ekspresi yang serius terhadap sesuatu. Tunggu.. serius terhadap sesuatu? Sesuatu.. tidak mungkin hal itu.

“Kai, berhenti disana..”

“Diam. Kubilang diam. Apa perlu aku mencium bibirmu hingga kau tidak bisa berbicara?” tanya Kai dingin. Heesa menahan nafasnya dan mengulum bibirnya kuat. Sebenarnya, apa yang terjadi pada Kai?

Kini kancing jaket Heesa sudah terbuka seluruhnya. Tanpa Heesa melawan, Kai menanggalkan jaket Heesa dengan cepat dan melemparkannya ke sudut ruangan. Jantung Heesa semakin berdegup tidak teratur.

Perlahan Kai melepas cengkramannya di tangan Heesa dan berdiri dengan santai. “Aku lebih nyaman melihatmu berpakaian seperti ini. Apa kau tidak akan merasa panas jika memakai jaket tebal itu?” tanya Kai tanpa merasa bersalah. Heesa memandangnya heran. “Ayo, buatkan makanan untukku. Aku lapar.”

Kai segera menarik tangan Heesa dan menariknya keluar dari kamar. Heesa hanya menurutinya, ia masih takut dengan kejadian tadi.

*

Heesa memasukkan potongan daging yang telah ia beri bumbu ke dalam katel dan menyatukannya dengan bahan-bahan yang lain. Seperti sebelumnya, Kai memeluk pinggangnya dengan erat sambil menopangkan dagunya ke pundak kanan Heesa.

Hawa panas dari katel membuat perut Heesa yang terbuka menjadi sedikit basah. Kai yang merasakannya hanya mengusapnya kecil.

“Apa kau selalu berkeringat setiap kali kau masak?” tanya Kai sambil melihat daging yang baru saja Heesa masukkan ke dalam katel sudah mulai matang.

“Mungkin,” jawab Heesa singkat. Sungguh ia tidak bisa diganggu ketika ia sedang memasak.

“Sepertinya kau sudah ahli dalam hal ini,” ucap Kai menanggapi. Heesa hanya bergumam pendek.

“Waw, kau memotongnya dengan cepat,” goda Kai sambil tertawa kecil. Heesa tidak menanggapinya.

“Ah.. apa itu tidak akan gosong? Kau hanya memotong itu sedari tadi,” lanjut Kai. Heesa mulai merasa jengkel.

“Aku hanya mengingatkanmu agar masakanmu tidak terlalu asin,” lanjut Kai sambil terkikik. Heesa kini merasa kesal dan tanpa sadar tangannya memotong wortel itu dengan kasar.

“Waw.. auramu masakmu keluar. Kau terlihat begitu liar..”

“Kai!” seketika Kai terdiam dan menatap wajah Heesa yang sudah menampakkan kekesalannya. “Pergi. Kau mengganggu.”

Kai tertawa puas. Ia mencubit pipi kiri Heesa dengan gemas. “Arasso. Aku hanya menggodamu, nona. Jangan marah.”

“Kalau begitu diamlah.”

“Nde.”

Heesa mulai berkonsentrasi kembali pada masakannya, sementara Kai tetap memeluk Heesa seperti itu. Bibirnya menyunggingkan senyum bahagia.

*

Heesa berusaha menarik napas sebanyak-banyaknya. Kini ia tengah dipeluk oleh Kai dengan erat. Sangat erat. Dan anehnya, Kai memeluknya erat seperti itu setelah ia menerima pesan di ponselnya. Entah dari siapa.

“Kai.. hentik..”

“Heesa!! Aku bahagia sekalii!!”

“Ya, aku yahu! Tappiih..”

“Heesaaa!! Kau begitu menggemaskan!”

“Kai! LEPASKAAAN!!”

Dengan cengiran jailnya Kai melepaskan Heesa dari pelukannya. Dengan segera Heesa menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.

“Kau ingin membunuhku?” tanya Heesa ketus. Kai terkikik kecil.

“Aku hanya ingin memelukmu, Heesa.”

“Tanpa sebab?” Kai memasang mimik yang berseri-seri.

“Ada sebabnya, sebenarnya..”

“Kau harus menceritakannya padaku.”

Senyum Kai semakin merekah. Ia meraih satu tangan Heesa dan menariknya menuju sofa.

Setelah mereka duduk di atas sofa, Kai duduk menghadap Heesa sambil menggenggam tangannya erat.

“Apa?”

“Aku.. mempunyai seseorang.”

Deg! Jantung Heesa tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat. “Se..seorang?”

“Ya. Dia adalah Kim Sera. Apa kau mengenalnya?” tanya Kai dengan mata yang berbinar. Heesa hanya bisa terdiam menanggapinya. “Kau tidak tahu? Dia dari fakultas hukum. That’s great listen, hah?” Kai tertawa kecil, terlihat bahagia ketika membayangkan wajah seseorang yang ia namakan Kim Sera itu.

Heesa memaksakan senyumnya mengembang. “Aku tidak tahu. Tetapi sepertinya ia cantik.”

“Exactly! Dia anggun dan cantik. Rambutnya potongan sebahu berwarna coklat. Matanya bulat, hidungnya lancip, juga bibirnya pun berwarna merah,” jelas Kai dengan pandangan yang menerawang bahagia. Heesa mendengus kecil mendengarkannya.

“Lalu kapan kau akan memutuskan untuk menjadi kekasihnya?”

“Hah? Kau bercanda? Aku dan dia sudah menjadi kekasih dua hari yang lalu.”

Deg deg deg..

Entah mengapa hati Heesa kini terasa sangat sakit. Ia telah mengetahui Kai sudah.. mempunyai kekasih? Kenapa Kai tidak memberitahunya sedari dulu? Mengapa dia baru memberitahunya sekarang?

“Apa? Ada masalah?”

Heesa memalingkan mukanya lalu bangkit dari duduknya. “Aku mengantuk, Kai. Ini sudah malam. Kau juga harus pulang.”

Dengan langkah yang diseret, Heesa berjalan menaikki tangga dengan perlahan. Dan diam-diam, Heesa meneteskan air matanya lirih. Sementara Kai hanya menatap punggungnya yang kian menjauh dengan terheran-heran.

……………………………………………………………………….

maaf ._.v

…………………………………………………………………………

29 thoughts on “ELECTRIC [ CHAP 2 ]

  1. Huaaah!! Huaaah! Huuaahh!! aku hampir ngos2an nih ma baca part ini! Deg2an mulu deh bawaannya! -..-‘
    Daaan ituuhh si Kai dikirain mau ngpain! Bkin jantungan aja kaaan!? ==”
    Hiyaaaaahhh!! dan kenpa yeoja yg dipunyai Kai itu harus KIM SERA?! HAAH!? *syok
    si ijem atoh moal yeeuhh?! xD #eh HAHA
    Eehh dan ituh apaah? sama Baekhyun?! Ooowh tidaaks! Andawe! sama Luhan ajaa deh yaa~ Haha *lanjuts yuuks next chapt*

  2. sumpah kai dodol
    udah buka2, peluk2, raba2
    eh malah jadian sama cewek lain
    heesa sama luhan gapapa kok

  3. Hoaaam!! *keluar dr goa*

    Akhirnya bisa baca ff juga. Tau lah sebahagia apa aku bisa baca ff lg. Setelah sebulanan perasaan dibikin ga karuan gegara snmptn, huaaa! Aku bebas! (?)

    oke, back to topic. Hm…boleh ga shin chaeri aku toyor? Auranya ga enak bgt. Terus itu Sehun, plis ya…errr. Luhan luhan luhan. Aku bukan luhan biased, tp suka bgt karakter luhan disini. Ya walaupun agak2 tengil, tp justru itu daya tariknya.

    Sip! Aku meluncur ke next part! ;)

  4. Kai udah punx pacar masih aja maen peluk2 heesa…buka2 jaket lg…#nepsong amat bang…
    #plaak…
    Sehun jd guru gimna ya *ngayalin…
    Apaan maksud sehun “menarik”????
    Nice ff…next chapt ^_^v

  5. demi apapunnnnnnn
    aku kira kai ada rasa sma heesaaa… –”
    abis mesra mesraan begitu. sahabat tapi mesra gitu/? ._.a
    dohhhh kaii ;;;;
    sebelumnya maap thor bru bisa coment di chap 2nya. chap sblmbnya ga bisa komen maap–v hhehhee good job thor’-‘b

  6. waktu seru serunya eh malah tbc-_- gapapa. enak banget jadi heesa mau dong tukeran nasib wkwk direbutin cowo ganteng hehe. chapter ini bagus kok thor lanjutkan :D

  7. Kai sama Heesa kaya suami istri serius! ._.v
    kenapa Kai kaya gitu sih? gak kasian sama Heesa .
    dan lagi, Luhan?
    seru seru seru

  8. kaiiii!!! gk peka bgt sm perasaan heesa, kira in kai suka sama heesa, soalnya suka bgt mesra begitu pas lagi masak, n perhatian bgt sm heesa, ternyata suka sama cewe lain, heesa sama cocoknya sama baekhyun, kepribadian nya gmn gt lhooo

  9. kayanya mulai muncul peran antagonis *lirik chaeri*
    ohhh.. ternyata kai uda punya pacar kirain dia suka sama heesa..
    kayanya sehun sama luhan suka sama heesa,,???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s