ELECTRIC [ CHAP 1 ]

ELECTRIC

 

Author: Shin Heesa

Cast:

  • EXO
  • Kim Heesa

 

Disclaim: Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tidak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Ps:

  • Don’t be silent reader
  • Don’t copy – paste my imaginations!!
(Author POV)

Heesa meniup-niup kecil kopi espresso panasnya, berharap kopi itu berubah suhu menjadi lebih hangat dengan cepat. Udara di pagi hari itu memang sedikit terasa dingin, jadi gadis yang satu ini lebih memilih mampir ke kedai kopi terlebih dahulu untuk menyesap satu cangkir sebelum pergi ke kampusnya, Seoul International University.

Heesa mencicipnya sedikit demi sedikit, hingga bibir dan lidahnya terbiasa dengan suhu kopi itu, dan akhirnya Heesa menghabiskan kopi itu dengan nikmat dalam beberapa menit. Ia sangat menyukai kopi.

Setelah habis, ia segera mengambil tasnya lalu membayar kopinya menuju kasir. Tanpa berbasa-basi lagi, setelah itu ia segera keluar dari kedai dan berjalan cepat menuju kampusnya. Heesa mengeratkan syal yang tengah membungkus lehernya secara menyeluruh dengan pandangan yang terarah pada syal tebal miliknya..

BRUUK!!

Okay, Heesa telah menubruk seseorang yang berbadan cukup besar darinya dengan keras. Orang yang ditabrak Heesa itu hanya mengaduh kecil, sedangkan Heesa kini tengah terduduk tak berdaya di hadapannya.

Orang itu menarik napas panjang dan melirik ke arah Heesa yang masih terduduk pasrah dihadapannya.

“Kau.. tidak apa-apa?”

Heesa mendongkakkan kepalanya dan menemukan orang itu tengah menatapnya tanpa ekspresi.

“Jangan memasang tampang seperti itu padaku! Cepat bangunkan akuu!!”

Lelaki itu tertawa kecil. “Tidak mau.”

“Ya! Cepat bangunkan aku! Kau yang menbuatku jatuh seperti ini!”

Lelaki itu hanya mendengus kecil dan mengangkat bahunya. Tetapi tidak lama kemudian ia akhirnya menarik tangan Heesa dengan paksa. Heesa mengaduh kecil dan segera mengusap lengan tangannya yang sakit karena dicengkram keras oleh lelaki itu setelah ia terbangun dan berdiri di hadapannya.

“Bisakah kau lembut sedikit?” protes Heesa sambil mengulum bibirnya kesal. Tetapi orang itu mengacuhkannya dan melengos pergi meninggalkan Heesa. Heesa berbalik dengan kesal, ingin segera meneriakki namanya.

“Kaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaiii!!!! Aku benci padamuuu!!!”

Kai berbalik dengan perlahan sambil memasang senyum mematikannya. “Memang aku tidak membencimu?” Kai tersenyum licik dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi. Heesa berusaha mengatur napasnya yang terburu-buru karena kesal.

“Benar-benar bocah ini… Ash! Jangan pedulikan dia, Heesa!”

Meskipun dengan hati yang kesal, toh, rasa kesal itu tidak menghalangi langkah Heesa untuk tetap berjalan ke arah kampus. Heesa memilih agar melonggarkan syalnya, karena tiba-tiba ia merasa panas setelah bertemu teman kecilnya yang menyebalkan itu. Kim Jongin alias Kai.

*

Heesa memasuki pintu utama kampus itu dengan sukacita. Entah mengapa setiap ia masuk ke dalam gedung sekolahnya, ia selalu merasakan sensasi yang berbeda. Seperti sebuah tantangan.

Heesa segera berjalan cepat menuju kelasnya, karena jam pelajaran akan segera dimulai. Heesa berjalan sangat terburu-buru, sehingga ia tidak berkonsentrasi sampai menabrak seseorang hingga terjatuh, dan tentu saja Heesa juga ikut terjatuh.

Heesa mengaduh kecil dan mengusap bagian pantatnya yang sakit. Mengapa hari ini ia bisa menabrak dua orang dalam waktu dekat? Apakah ini sebuah pertanda? Heesa menggelengkan kepalanya karena tidak tahu apa jawaban dari pertanyaan yang bermunculan dikepalanya.

Setelah sadar akan situasi, Heesa segera bangkit dan melihat siapa yang telah ditabraknya tadi.

“Ah, kau tidak apa-apa?” tanya Heesa khawatir sambil mendekat pada orang itu. Sambil meringis kesakitan, orang itu memegang dadanya kuat-kuat seperti menahan sakit. Dengan perlahan ia menengadahkan kepalanya untuk menatap Heesa.

“Kau..”

Heesa terdiam, lalu membelalakkan matanya seketika. Orang ini… tampan sekalii!!!! Matanya yang kecil namun bulat, hidungnya yang mancung, rambutnya yang berwarna coklat, juga bibirnya yang cukup mungil..

“Helloo? Nona? Bisakah kau membantuku untuk berdiri? Sepertinya aku butuh bantuan sedikit disini,” ujar orang itu menyadarkan lamunan Heesa. Heesa segera tersadar dan menatap orang itu dengan tatapan khawatir.

“Berikan tanganmu,” perintah Heesa. Orang itu memberikan tangannya dan segera saja Heesa menarik tangan orang itu sampai berdiri. Dan saat itu juga Heesa merasakan kakinya sangat lemas, tangannya halus..

“Bagian mana yang sakit?” tanya Heesa lalu menggigit bibir bawahnya, berharap ia baik-baik saja. Orang itu hanya mengerutkan mimik wajahnya dan semakin mencengkram erat pada dadanya.

“Sakit..”

“Bagian mana?” tanya Heesa khawatir. Namun orang itu semakin meringis.

“Kau menyakitiku..”

“Bagian mana?” ulang Heesa semakin tidak sabar.

“Sungguh, sakit sekali!”

“Tolong katakan padaku bagian mana yang sakit?” ulang Heesa sekali lagi, dan kesabarannya kini hampir habis.

Orang itu meringis kesakitan, yang kemudian dengan perlahan ia mengambil salah satu tangan Heesa dan meletakannya di atas dadanya. Dan kini Heesa merasa ingin mati saat itu juga. Ia salah tingkah.

Seketika pandangan mereka bertemu. “Kau.. menyakiti.. hatiku.”

Napas Heesa tercekat. Apa-apaan orang ini? Apakah hanya ingin mempermainkannya?

“Kau…serius?” tanya Heesa tidak percaya. Orang itu mengangguk lemah.

Tetapi beberapa saat kemudian orang itu menyingkirkan tangan Heesa dalam sekejap dan tersenyum jail. “Bingo! Aku tidak merasakan sakit apapun, lady. Hahaha.. jangan dibawa serius seperti itu.” ucap orang itu acuh. Heesa membulatkan mulutnya tidak percaya. “Aku duluan.”

Dengan santainya orang itu melengos pergi meninggalkannya yang masih tetap terpaku di tempatnya. Sungguh.. ia tidak akan melupakan kejadian menyebalkan yang baru saja ia alami. Dan yang terakhir, orang itu tidak terlihat tampan lagi di hadapannya.

*

“Pagi ini, kita akan menyambut mahasiswa baru. Ayo nak, perkenalkan dirimu,” perintah Lee Sonsaengnim pada seorang laki-laki tampan yang siapa pun melihatnya, pasti akan langsung berpendapat bahwa ia itu sempurna.

“Annyeong haseyo. Namaku Luhan. Aku mahasiswa dari China dan pindah ke Korea karena…alasan tertentu.”

Sedikit murid perempuan yang berada dikelas seni musik itu bersorak kecil. Namun ada satu murid perempuan yang mengacungkan tangannya, berniat untuk mengajukan sebuah pertanyaan.

“Bisa kau ceritakan pada kami alasanmu pindah kemari? Ayolah..” rajuknya manja. Heesa mendelik kearah murid perempuan yang memang dia termasuk terpopuler di Seoul University. Tentu saja, karena dia artis drama Korea yang terkenal. Shin Chaeri.

Luhan hanya tersenyum manis. “Mungkin kita bisa membahasnya hanya berdua saja?”

Sontak seluruh kelas bersorak ramai. Chaeri menatap Luhan penuh maksud. Luhan hanya membalasnya dengan ramah. Sedangkan Heesa menghembuskan napas muak melihatnya.

“Baik Luhan. Kau bisa duduk dimana pun. TerHeesah, kau bisa memilih.”

Luhan mengerutkan keningnya, berusaha menemukan bangku yang pas untuknya. Dan ketika ia melihat Heesa tengah mencorat-coret buku catatannya dengan kasar, akhirnya Luhan memilih duduk di samping gadis itu.

Heesa yang tidak menyadarinya meneruskan tetap berkonsentrasi pada coretannya, dan coretannya berhenti ketika tiba-tiba ada yang menendang kursinya.

Heesa berusaha tidak memalingkan mukanya dan melanjutkan coretan tidak jelasnya itu. Namun detik kemudian ia merasa kursinya ditendang dua kali. Heesa meletakkan pensilnya kasar lalu akhirnya ia memilih untuk melihat siapa yang berbuat sedemikian kurang ajar seperti itu padanya.

“Halo.”

Heesa membulatkan matanya.

“Ternyata, kita bertemu lagi, lady.”

Heesa menggemelutukkan giginya karena kesal. Ia memutar kedua bola matanya dan beralih menuju dosen yang sudah mengajar sejak Luhan selesai memperkenalkan dirinya. Namun sepanjang pelajaran, Luhan terus menerus menendang kecil kursinya sehingga Heesa sulit untuk memahami pelajaran yang diberikan.

*

“What’s your name?” tanya Luhan setelah mata kuliah mereka selesai. Namun Heesa mengacuhkannya dan membereskan buku-buku dan alat tulisnya. Luhan tersenyum manis dan tetap menatap Heesa dengan lempeng.

“Give me your name, girl. Oh common..” pinta Luhan sekali lagi. Tepat pada saat itu Heesa telah selesai membereskan barang-barangnya dan segera meninggalkan kursinya dengan langkah yang ia lebarkan selebar mungkin agar ia bisa cepat menghindar dari namja itu. Luhan hanya terdiam menatapnya, lalu tersenyum.

“Ara, lady. Aku masih bisa bertemu denganmu esok hari,” ujar Luhan sambil tertawa kecil. Diam-diam Heesa mendengus kesal dan mempercepat langkahnya menuju pintu utama kampus. “Esoknya lagi, esoknya lagi, dan esoknya lagi..”

“Terserah padamu.”

Heesa berjalan cepat meninggalkan kelas itu tanpa acuh pada Luhan yang kini mengejarnya dekat di belakang Heesa. Heesa tidak ingin menatap wajahnya yang tampan dan menyebalkan itu. Tunggu, tampan? Oh, tentu saja ia ingin menatapnya, namun tidak saat ini. 

Tepat ketika Heesa telah melewati halaman kampusnya, sebuah motor tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Seketika Heesa terdiam, dan menghembuskan napasnya cepat ketika ia menyadari bahwa sepersekian detik ia telah menahan napasnya.

Heesa melipat kedua tangannya ketika ia tahu siapa pengendara motor itu. “Pamer, hah?”

Kai hanya tersenyum sombong. “You knew it. Ayo naik, aku akan mengantarmu ke rumah.”

Heesa memutar kedua bola matanya. “Kau membolos lagi?”

“Hanya satu kali ini. Ayolaah.. aku ingin sedang bersantai sekarang,” sela Kai sambil memasang wajah memelas. Heesa hanya bisa bersabar dan akhirnya ia menaiki motor itu juga.

Setelah motor itu melesat meninggalkan kampus, Luhan menatap kepergian motor itu dengan kening mengkerut. Namun detik kemudian ia mengangkat bahunya acuh dan segera berjalan menuju mobilnya.

*

Heesa menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya. Semua beban Heesasa lenyap seketika ketika sebagian kulitnya menyentuh seprai kasurnya yang halus. Memang, kamarnya adalah surga baginya.

Bruk!

Heesa meringis kesal ketika Kai ikut membaringkan tubuhnya di sebelahnya. Heesa menatap Kai yang tengah memejamkan matanya dengan damai. Kai, kini ia berbeda menjadi menyebalkan. Tidak seperti dulu, ia anak yang sangat baik.

“Apakah aku mengijinkanmu untuk berbaring di atas ranjangku?” tanya Heesa sinis. Kai mengacuhkannya dan tetap memejamkan matanya. “Jangan berpura-pura tidak mendengarku, Kai.”

“Aku kan selalu seperti ini. Seharusnya kau sudah biasa menghadapinya,” jawab Kai asal. Heesa hanya bisa pasrah dan kembali menatap langit-langit kamarnya.

Udara yang lembut memasuki kamar Heesa melewati jendela-jendela yang terbuka lebar, menerbangkan sedikit kain putih tipis yang menutupi jendela tersebut. Seketika perasaan tenang menggerayapi siapa pun yang berada di dalam kamar itu.

Heesa tersenyum kecil menikmati sensasi itu. Sensasi yang damai dan.. menggelitik. Tunggu, menggelitik?

Heesa membuka matanya dan mendapati Kai tengah menelusuri rahangnya dengan telunjuknya.

Dengan kesal Heesa merubah posisinya menjadi duduk dan menatap marah pada Kai.

“Kai! Kautahu aku tidak suka digelitik seperti itu!”

Kai ikut merubah posisinya menjadi duduk seperti Heesa. “Kaubilang aku menggelitikmu? Hanya seperti itu saja kau sudah merasa geli?”

Heesa mendengus kecil. “Aku salah satu tipe manusia yang mudah tergelitik.”

Detik kemudian Heesa mendapati Kai tengah menatap jail padanya. Heesa mengerutkan keningnya, sedikit takut dan sedikit tidak mengerti.

“A..apa yang kau lihat, hah?” tanya Heesa sedikit salah tingkah. Kai mulai menyeringai menakutkan dan mendekati Heesa dengan perlahan. “Ya! Apa maksudmu.. Kyaaa!!! Geliii!!”

Dengan semangat Kai menggelitik pinggang kecil Heesa itu. Heesa hanya bisa berteriak meminta tolong agar Kai menghentikan gelitiknya. Namun Kai tetap bertahan untuk membuatnya tergeletak tidak berdaya di hadapannya.

Tiba-tiba kegiatan mereka terhenti ketika sebuah suara menyela di antara keributan mereka.

“Suara apa itu?” tanya Heesa penasaran. Ia menatap Kai penuh selidik. “…kau?”

“Hehe, aku lapar, Heesa. Ayo kita makan!”

Kai beranjak dari ranjang dan melesat pergi menuju dapur. Heesa menarik napas cepat dan akhirnya ia ikut menyusul di belakang Kai.

Heesa memang tinggal di rumah ini sendirian. Ia ingin mulai hidup mandiri setelah ia masuk universitas, tidak mau tergantung lagi pada orangtuanya, selain satu hal. Uang. Dan juga ia tidak mau selalu bersama-sama dengan kakak perempuannya yang selalu memaksanya berpakaian sama jika akan pergi berjalan-jalan. Bukankah itu akan membuatnya malu? Hey, mereka sudah besar.

Heesa menaangkap Kai tengah mengotak-atik lemari esnya. Heesa tersenyum lalu mendekatinya.

“Kau mau apa? Aku akan memasakkannya untukmu,” ujar Heesa sambil menyingkirkan Kai dari hadapan lemari es dengan lembut. Kai tersenyum lebar.

“Aku ingin mie ramen ayam saja. Sepertinya enak,” jawab Kai. Heesa mengangguk dan mengeluarkan beberapa bahan masakan.

“Kau tunggu saja di ruang makan,” perintah Heesa sambil meletakkan semua bahan masakan itu di atas counter dapur. Kai duduk di salah satu counter dapur dan menopang dagunya.

“Aku akan menunggumu saja disini,” sangkal Kai santai. Heesa mengangkat bahunya acuh dan mulai meracik beberapa bumbu untuk masakannya. Ia memotong bawang-bawang, juga bahan bumbu lain dengan cekatan. Ya, ia bisa memasak karena diajarkan oleh mibunya sejak ia masih kelas 3 sekolah dasar, dan hasilnya sekarang ia bisa memasak apapun dengan kedua tangannya sendiri.

Aroma beef teriyaki, mie ramen ayam dan sup jagung sudah tercium oleh hidung Kai sejak tadi. Karena ia bosan menunggu di ruang makan, akhirnya ia menghampiri Heesa yang kini tengah membersihkan sisa rempah-rempah di dapur.

“Ada yang bisa kubantu, nona?” tanya Kai sambil menopangkan tubuhnya ke pinggir meja dapur dengan kedua tangannya. Heesa menggeleng singkat dan tetap berkonsentrasi pada pekerjaan dapurnya. Kai mengerutkan keningnya. “Kau selalu seperti ini.”

Heesa menghentikan kegiatannya sejenak dan beralih pada Kai. “Maksudmu?”

“Kau tidak bisa diganggu jika jiwa dan ragamu sudah bersatu dengan dapur.”

Heesa tertawa kecil dengan tangannya yang kini tengah mengelap counter.

“Kau berlebihan.”

“Memang.”

Mata Kai masih terpaku pada Heesa yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Penampilan gadis itu berantakan. Rambutnya yang awalnya diikat rapi kini beberapa helai darinya telah lepas dari ikatannya. Celemek yang dipakainya pun talinya telah longgar dan siap terlepas jika Heesa bertingkah.

Dan benar, kini tali celemek itu terlepas dan rambut Heesa masih tergerai tidak nyaman di sekitar wajahnya. Heesa yang tangannya kotor dengan bumbu-bumbu dapur tentu tidak bisa memperbaikinya, akhirnya ia membiarkannya tidak nyaman begitu saja sampai semuanya berakhir.

Kai tersenyum geli dan menghampiri Heesa yang sedang ribet dengan rambut, celemek, dan kerjaannya. Tanpa Heesa sadari, Kai mengambil tali celemek itu dan menalikannya cukup kuat di pinggang Heesa sehingga Heesa sadar dari kesibukannya. Heesa memutar kepalanya sebisa mungkin agar bisa menatap Kai, namun sebagian rambutnya menghalangi penglihatannya.

Kai kini tertawa cukup keras melihat gerakan Heesa yang aneh itu. Dengan lembut Kai memutar kepala Heesa agar menghadap kedepan. Setelah itu, Kai melepas ikatan rambut Heesa dan memperbaikinya dengan ia gulung ke atas. Heesa kini merasa lebih baik dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang hampir selesai.

“Terimakasih, Kai.”

“Sama-sama.”

Namun setelah itu, Kai tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Ia hanya diam dan menatap tengkuk Heesa yang putih dan berkeringat. Menggoda.

Hanya satu detik, Kai menggodanya dengan meniupkan sebagian kecil nafasnya ke arah tengkuk Heesa. Heesa terperanjat dan kini ia berbalik menghadap Kai.

“Ya! Apa yang kaulakukan?” tanya Heesa sedikit kesal. Kai tertawa kecil dan tatapannya menatap lurus ke arah mata Heesa. Heesa membalas menatapnya, namun tidak sampai sepuluh detik, akhirnya Heesa menyerah dan berusaha menyelesaikan masakannya.

“Kau berkeringat. Mau kuhapus keringatmu?” tawar Kai. Heesa menggeleng.

“Tidak perlu. Nanti akan kuhapus sendiri,” sangkal Heesa sambil mengambil sesendok air sup dan mencicipinya. “Hm! Enak! Mau coba?” tawar Heesa pada Kai. Kai mengangguk kecil sementara Heesa mengambil satu sendok lagi untuk Kai. “Aaaah..”

Kai membuka mulutnya kecil dan menyeruput air sup itu sedikit karena panas. Detik kemudian ia tersenyum manis. “Enak. Kau memang pintar memasak.”

Heesa tersenyum senang. “Tentu saja. Haha..” sahut Heesa bangga. Kai tertawa kecil.

Heesa kembali menghadap pada sup dan teriyakinya. Ia kembali berkutat pada mereka, dan Kai kembali diacuhkannya.

Perhatian Kai tidak bisa dipindahkan. Ia kembali menatap tengkuk Heesa. Lama seperti itu, akhirnya Kai memeluk pinggang Heesa dari belakang dan meletakkan ujung hidungnya ditengkuk Heesa yang basah dengan perlahan. Ia menggerakkan kepalanya kecil sehingga hidungnya sedikit bergesekkan dengan tengkuknya.

Heesa terkejut. Ia hanya terkejut, dan tidak berusaha melawannya. Akhirnya ia membiarkannya seperti itu. Terus begitu, selalu begitu. Dan juga, ia memang ingin dipeluk Kai seperti itu.

*

“SELAMAT MAKAAAN!!”

Kai menatap Heesa dengan tatapan datar. “Kau begitu bersemangat.”

“Tentu saja. Kedua makanan yang kumasak ini adalah kedua makanan favoritku.”

“Bukannya semua makanan adalah favoritmu?” tanya Kai lempeng. Heesa yang mendengarnya hanya mengerutkan bibirnya kesal.

Tepat ketika Heesa sudah memasukkan sepotong daging kecil teriyaki ke dalam mulutnya, ia teringat sesuatu yang baru saja ia alami di kampus pagi hari tadi. Ya, ia bertemu dengan seorang namja yang menyebalkan.

“Hei, Kai,” panggil Heesa dengan mulut yang sibuk mengunyah dagingnya. Kai menoleh pada Heesa dengan ekspresi datarnya. “Aku ingin bercerita sedikit padamu.”

“Silahkan.”

Heesa memasukkan beberapa potongan wortel ke dalam mulutnya sebelum ia memulai kisahnya. “Tadi pagi, aku bertemu dengan seseorang. Em.. tepatnya bukan bertemu, tetapi kebetulan bertemu. Awalnya aku sedang berjalan terburu-buru, lalu tiba-tiba aku menabraknya dan ia meringis kesakitan. Kukira awalnya ia memang merasakan sakit, tetapi kemudian ia berkata seperti ini, ‘kau..menyakiti..hatiku’. Dan kau tahu? Ekspresinya saat itu sangat menyebalkan! Ia lalu tertawa puas dan meninggalkanku begitu saja… ah! Yang lebih mengejutkan, dia murid pindahan dari Cina.”

Heesa berhenti berkecoh dan kembali menyantap makanannya, sementara Kai mengamati Heesa dengan seksama. Ia sangat penasaran siapa orang itu. Entah mengapa, ia merasakan sesuatu yang aneh.

“Dia murid pindahan?”

“Mm.”

“Siapa namanya?”

“…. sebentar. Kalau tidak salah, namanya Luhan.”

Kai terdiam. Meskipun ia tidak mengetahuinya, entah mengapa tiba-tiba suatu rasa takut sedikit melingkupi hatinya. Rasa takut akan.. kehilangan bidadari yang kini tengah melahap daging teriyakinya dengan rakus.

**

“Ya mam? Hm.. kenapa? Ah, oke. Arasso.. aku akan baik-baik saja disini. Appa ada disana? Ah tidak, sampaikan saja salamku padanya. Jangan terlalu lama di Cina, aku takut kalian melupakanku disini.. haha. Okay, bye.”

Heesa mematikan teleponnya dan menarik napas panjang. Selalu saja hal ini terjadi padanya. Semenjak ia berada di sekolah menengah, Heesa tidak pernah benar-benar bersama orangtuanya dalam satu hari karena kesibukan yang di alami kedua orangtuanya. Dan Heesa merasa sedikit kesal akan hal itu, namun ia hanya membiarkan kedua orangtuanya bekerja. Selama kedua orangtuanya tidak meninggalkannya.

Tiba-tiba ponselnya berdering kembali, kali ini dari Ayahnya. Heesa berdehem kecil terlebih dahulu sebelum mengangkat teleponnya.

“My darling.”

“Appa!! Appa.. kapan appa akan pulang? Aku merindukan kalian. Apa kalian sadar? Kalian sudah meninggalkanku selama dua minggu! Dan kini kalian akan tinggal dua bulan lagi disana? Keterlaluan..”

“Ibumu sudah meneleponmu?” tanya Appa santai.

“Nde. Dia memberitahuku bahwa kalian akan tinggal lebih lama..” jawab Heesa lirih. Ia memang sangat merindukan kedua orangtuanya.

“Jangan sedih seperti itu, Darling. Appa akan mengusahakan untuk pulang secepatnya. Ara?” ujar Appa meyakinkan Heesa. Heesa menarik napas panjang. “Jangan menarik napas seperti itu. Kau terlihat menyedihkan.”

“Appa..”

“Lagipula ada Kai bukan? Appa yakin ia bisa menjagamu dengan baik,” potong Appa dengan nada suara yang bijaksana. Heesa mengangguk kecil, meskipun ia yakin Appa-nya tidak mungkin melihatnya.

“Baiklah,” sambung Appa. “Appa harus menghadiri rapat dulu, Darling. See you later.”

“Hmm..”

“Dont be angry.”

Telepon ditutup.

Heesa menggigit bibir bawahnya, menahan tangisnya yang hendak merebak keluar dari matanya. Ia merasa kesepian.

*

Malam sudah tiba. Karena lelah menangis, Heesa sudah tidur lebih dahulu sebelum matahari terbenam. Dalam ekspresi tidurnya, tergambar rasa kesepian yang dalam. Ia hanya menginginkan kedua orangtuanya ada disini, membelai kepalanya lembut dan memberinya beberapa nasihat. Ia merindukan mereka.

Tanpa gadis itu sadari, ternyata Kai sudah berada di kamar Heesa semenjak Heesa tertidur. Kini Kai sedang duduk di samping Heesa yang tengah terlelap dalam tidurnya. Kai tersenyum tipis melihat air mata yang berada di sekitar mata Heesa, air mata itu kini mulai mengering.

Kai mengusap air mata itu dengan ujung telunjuknya. Lalu ia ikut berbaring di sebelah Heesa, dan perlahan merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.

***

Heesa segera duduk di bangkunya dan menyimpan tasnya di atas meja. Ia mengeluarkan buku musiknya dan membaca-baca beberapa halaman sebelum pelajaran dimulai. Dan juga, suasana kelas yang sepi ini membuatnya bisa berkonsentrasi untuk membaca.

“Fuuuh…”

Heesa terbatuk-batuk ketika ia menerima semburan asap rokok dari arah kanannya. Dan yang menyemburkan asap itu hanya tertawa puas.

Heesa menatap Luhan tajam dan dingin. Penuh dendam. Luhan seketika terdiam dari tawanya sambil menyesap rokoknya kembali.

“Apa kau tidak merasa bodoh merokok di dalam kelas?” tanya Heesa sinis sambil mengibaskan udara di sekitarnya, berharap asap penyakit itu tidak mengganggu pernafasannya. Namun Luhan tetap menyemburkan asap itu di dekat Heesa, menyebalkan.

“Aku pintar, kau tahu. Jadi, jika kau menganggapku bodoh karena merokok di  kelas, itu tidak masalah. Karena aku tahu aku pintar dan tidak merasa bodoh jika merokok di dalam kelas,” jelas Luhan panjang disusul dengan menyesap rokoknya dan menyemburkannya sembarangan. Heesa mendelik ke arah Luhan dan akhirnya ia mengambil buku musiknya lalu bangkit dari kursi, hendak meninggalkan kelas. Tetapi Luhan dengan sigap memegang lengan Heesa  untuk mencegahnya pergi.

“Baiklah, aku yang salah. Kau tidak usah pergi, aku yang pergi.”

Dengan langkah santai Luhan berjalan keluar kelas masih dengan menyesap rokoknya. Heesa menghembuskan nafas panjang dan berusaha berkonsentrasi pada buku musiknya kembali.

Namun ia tidak bisa.

*

“Selamat pagi, anak-anaku,” sapa kepala dewan pada murid kelas musik.

“Pagi, Jo Sonsaengnim.”

“Guru pelajaran musik kita sementara tidak bisa hadir karena ia harus melakukan konser solo ke berbagai negara. Maka dari itu, untuk sementara ini akan ada guru pengganti. Silahkan anak muda, giliranmu,” ujar kepala dewan setelah menjelaskan beberapa hal pada muridnya. Guru baru itu tersenyum sangat manis, dan tentunya tampan.

“Annyeong haseyo, nama saya Oh Sehun. Sementara Baek Sonsaengnim mengadakan konser, disini saya akan menggantikannya sampai beliau selesai dari konsernya. Harap kerjasamanya,” ucap Sehun panjang lebar. Semua murid perempuan di dalam kelas bersorak bahagia.. atau mungkin mereka kecentilan. Dan untuk sekali lagi, Heesa sama seperti murid laki-laki yang lain, ia hanya diam dan menatap lurus pada guru baru itu yang kini sibuk tebar senyum pada semua murid perempuan yang bersorak padanya.

Luhan menatap pada Heesa yang tengah menopang dagunya di atas tangannya dengan siku yang bertumpu pada meja. Tatapannya terlihat melamun, tetapi tertuju pada guru baru itu.

Tiba-tiba Luhan tersenyum jail. Dengan satu kali sentakan ia mendorong tangan Heesa sehingga kepala Heesa tertunduk ke bawah sekaligus. Luhan menyengir bersalah ketika Heesa melemparkan tatapan menusuk padanya.

“Mian,” ucap Luhan singkat. Heesa mendelik dan mendengus sebal. Kemudian, ia tidak berkata apapun, atau menggerutu padanya. Luhan sedikit kecewa dengan reaksinya, tapi ia berusaha menutupinya. “Kau tidak tertarik padanya?” tanya Luhan membuka pembicaraan.

“Aku tertarik. Tetapi aku tidak berlebihan seperti mereka,” jawab Heesa datar sambil melihat sekilas pada teman perempuannya yang kini tengah menghujani beberapa pertanyaan pada Sehun. Luhan tertawa tertahan karena melihat reaksi Heesa yang berbeda dari perempuan yang lain.

“Kalau begitu, kau menyukainya?”

Heesa menoleh sekilas. “Tentu saja. Dia tampan, dan juga guru musik.”

Luhan tertawa kecil dan mendekatkan bibirnya pada telinga Heesa untuk berbisik. “Bagaimana denganku? Apa kau menyukaiku? Aku tampan, dan aku pun pintar dalam musik.”

Nafas hangat Luhan membuat Heesa sedikit bergidik. Dengan otomatis ia mendorong kepala Luhan menjauh. Luhan tertawa pelan. Jika ia tertawa keras, mungkin perhatian yang aslinya untuk guru baru itu akan teralihkan padanya.

“Harap jaga jarak denganku. Kita tidak saling mengenal,” ucap Heesa ketus. Luhan mengerjapkan matanya terkejut. “Kau baru satu hari disini. Seharusnya kau sadar akan hal itu.”

Setelah lama Luhan menatap Heesa, bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman yang manis. “Well, can we get closer?”

Dan saat itu juga, Luhan berhasil membuat jantung Heesa tidak bisa berdetak dengan normal.

*

Tidak terasa waktunya pulang telah tiba. Heesa melihat Luhan terburu-buru meninggalkan kelas, entah namja itu akan pergi kemana. Heesa berusaha tidak peduli.

Heesa berjalan di lorong kampus dengan sepatu kets oranye yang ia pakai. Tatapannya melamun, tidak terfokus pada sekitar. Seperti langkahnya lah yang memimpin kemana ia akan pergi.

“Hei, cantik.”

Dengan sekejap Heesa menolehkan kepalanya ke arah sumber suara itu. memang ia tidak merasa cantik, namun ia merasa panggilan itu ditujukkan untuknya. Dan ternyata yang memanggilnya adalah.. Luhan. Parahnya, dia tidak sendiri, tetapi dengan orang-orang yang sudah tidak asing lagi di kampus.

Disana ada Baekhyun. Dia adalah murid paling pintar dijurusan Teknik Pertanian. Selain itu, dia juga ketua klub English’s Urs disini. Pelengkapnya, dia adalah namja yang tampan dan menggemaskan, yah, meskipun ia memang selalu cuek pada yeoja.

Lalu, ada Tao. Otaknya memang sangat pas-pasan. Namun ia tampan dan pintar dalam kungfu, sangat pintar. Sehingga ia mendirikan klubnya sendiri di kampus, tentu saja mempelajari ilmu kungfu.

Disitu juga ada Lay. Dia sangat pintar dalam menari. Selain menari, ia juga pintar dalam sejarah-sejarah dunia. Dia tampan, kaya, dan… playboy. Namun itulah khas darinya, jika putus dengan yeojachingu-nya, maka detik itu juga dia akan mendapatkan yeoja yang lain.

Satu lagi, Chanyeol. Meskipun wajahnya bisa dikategorikan sangat imut, tetapi dia sombong. Dia selalu meremehkan orang lain. Yah, dia memang perfect. Kaya, tampan, pintar.. intinya, sempurna.

Heesa menahan nafas untuk beberapa saat ketika matanya menangkap lima sosok tampan berada tidak jauh di depannya. Setelah ia mendeskripsikan namja-namja itu diotaknya, akhirnya ia tersadar dan mengambil nafas sebanyak mungkin. Dan ada satu pertanyaan yang mengganggu pikirannya saat ini.

Kapan.. kapan Luhan berteman baik dengan mereka??! Dan kini terlihat seperti Luhan lah ketua dari kelompok itu. Oh my God, sebenarnya sesuatu apa yang dimiliki oleh anak itu sehingga keempat manusia itu bisa bersama dengannya?

“Hello? Heesa?” tanya Luhan sambil melambaikan tangannya di depan mata Heesa. Jujur, Heesa tidak melamun. Namun ia hanya sedang menemukan jawaban itu.

“Luhan? Apa ia temanmu?” tanya Baekhyun sambil membenarkan sweater hitam yang ia kenakan. Luhan mengangkat bahunya.

“Entahlah, ia seperti tidak mau berteman denganku.”

“Tidak mau berteman, berarti ingin menjadi kekasihmu,” ujar Lay asal. Heesa tercekat seribu kata, dan kini oksigen terasa menipis di sekitarnya.

“Mwoya? Haha. Bahkan kita belum saling mengenal,” sangkal Luhan, dan perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Heesa, sehingga hanya menyisakan lima sentimeter diantara ujung hidung mereka. Jantung Heesa berdegup cepat. “Bukankah begitu, Kim Heesa?”

Heesa hanya menahan nafasnya. Matanya terpaku oleh mata Luhan yang menatap lurus padanya. Keempat temannya hanya tersenyum geli.

“Waw, jarak yang sangat dekat. Kesempatan untuk kau menciumnya sangat besar, Lu,” timpal Chanyeol asal. Luhan tertawa kecil, lalu detik kemudian diikuti oleh yang lainnya.

“Yah, memang. Apalagi.. melihatnya diam seperti ini. Apa tandanya ia mau?” tutur Luhan dan membuat semuanya tertawa keras.

Heesa merasa wajahnya menjadi memerah. Ia merasa dipermalukan oleh Luhan. Namja ini.. apa maunya?

Dengan segera Heesa meninggalkan Luhan yang masih berada dalam posisi membungkuknya, dan juga teman-temannya yang masih juga tertawa terbahak.

……………………………………………………………………………..

maaf ._.

…………………………………………………………………………………

38 thoughts on “ELECTRIC [ CHAP 1 ]

  1. Kai ternyata sahabatan yah sama heesa
    Aku kira musuh ._. Pas di nabrak heesa mereka saling bilang benci sih wk
    Aa Luhan disini nakal yah ._.
    /brb baca part 2

    • hehehe, kan karena deketnya jadi ngungkapin benci juga nyantai aja #apacoba
      haha
      iyaa, entah kenapa dia itu cocok2 aja nakal di imajinasi aku mah, hehe
      maf yaaaa
      makasih udah komeeeeeeeeeeen ^^

  2. JAKLDHSJKDFGD my baby Lulu kok disini jadi gitu sih T^T #cakartembok
    tapi over all bagus sih :D keep going!
    btw, karakternya Kai nakalin dikit terus Lulu diturunin (?) agak gak cocok gitu #apaannih #dibakar

  3. Klo ak bca ff’a Eon nih yahh ..
    Pasti bagus aj ..
    Kenapa cba ?
    Aku suka susunan kata2’a yg rapi dan baku gtu ..
    Niatnya ga mw bca2 ..
    Ehh jd malah baca beneran ..
    Bagusssss sihh !!
    Daebakk (y)

  4. Huwaw! Imaaaaaa~ maaf tteh baru bsa comment niih~ :) pdahal bacanya uda dari kpan tau! XD akakak tapi ttep saya mau meninggalkan jejak di sni! B)
    HUWOW! Daebaks laah as usual! :) This is the First FF EXO your own, right? X)
    Ehhiyaaah betewe mau nanya nih, knpa ff ini smpet ngilang dari blog ma ? ._. dulu pas bgt pngen lanjutin baca eeh malah ngilang entah ke mna(?) =__=’ knpa ma? *kepo
    Kyaaaahh Kai nya garang2 tapi tetep co cwiiit yaaah~ kbayang bgt mukanyaa!
    Trus tatapannya yg menggoda! XD Kyaaahh! *cipok Kai*
    Dan ini maaf dulu saya msih blom bsa membda kan luhan & sehun masaa ==’ wkaakak! abis mreka miriip siih~ Sma2 ganteng! X*
    Dan ituu apaah ada “TerHeesa” heey! Maksudnya trserah kan?! XD Lols!
    ngakak laah! XD
    Yuuks! *brb fly to next chap~* XD

  5. Ah, ada yg di edit ya? Kaget waktu itu ff ini tiba2 ngilang. Kenapose?

    Alur dn inti cerita ga berubah ya. Tp ada nama tokoh yg diubah. Shin Heera jd Shin Chaeri. Bnr ga? Ehehe

    Krn sempet ngilang, makin penasaran sm ff ini. Walau chap 1 ini ga ada perubahan inti cerita, tp chap 2 kn belum tentu ga berubah jg. Tapi, lg ga bs rajin baca ff nih. So sorry

    Aku sempetin baca2 disini kok. Tp bakal jarang bgt ._.v

    Akhir kata, HWAITING!!

  6. kyaaaa luhan!!!!!!
    kamu kok genit bgt, jadi pengen nampol
    gyahahahahah
    kalo baca partnya kai nahan nafas terus
    baca partnya luhan nafas dibuang terus
    hehe
    lanjut baca ahh

  7. Luhan jdi badboy ya…*—-_____—-‘ sedikit kurang menyakinkan#kejaran ma luhan bwa golok; imut2 sadis#plaaakk…
    Kai kirain d awal rival ternyata sahabatan…
    Kai suka heesa ya…#kai waspada ma luhan…
    Nice ff…next chapt…

  8. masih belum bisa baca alurnya thor hehe mungkin chapter selanjutnya baru bisa. oya aku reader baru disini jadi pas luhan kaya jadi ketua geng itu langsung kepikiran wolf drama version wkwk. awal yang bagus thor aku suka :D lanjutkan!

  9. wa~ aku suka bngt sma cerita ini. wlupun msh bnyk typo, tpi ceritana daebak!!

    luhan jdi badboy ya disini. ?, emm.., hubungan kai sm heesa aku ngerasaanya udah ky hub suami istri.

    annyeong tor, aku reader bru disini bangeupsemnida tor :-)

  10. keren .. aaa>< si Kai itu wkwk
    Luhan Masya Allah kenapa dibikin jadi anak nakal? haha
    gapapa sih, cocok-cocok aja
    jadi? cast utama disini Luhan atau Kai? wwkww

  11. aku reader baru disini dan ini adalah ff pertama yang aku baca disini:)

    kai nya soo sweet banget, akhirnya nemu juga ff yg kai nya sweet :D kerennn thor

  12. Anyeong :)
    kebetulan aku ngubek2 google trus nemuin fanfic di fanpage ini, kesan pertama pas baca ini ff Menarik, aku suka. Aku izin baca ne^ gomawo J

  13. Aw, gasengaja searching tentang ff Luhan, dan nyasar di blog ini. Serius, keren ceritanya :)
    Udah baca sampe part 12, tapi baru ngasi jejak sekarang, mian ;)
    By the way, suka banget sama pasangan Heesa-Kai, dan ini ada kisah segitiga di antara mereka. Suka sama kisah kaya beginian <3
    Oh iya kak, kayanya buat part selanjutnya aku cuma bisa kasih like, soalnya binggung banget mau ngomentarin gimana lagi, serius, aku bungkam banget T___T

  14. annyeong chinguu ^^ aku new reader disini kkk >,<
    eohh langsung ajah deh, knp bukan kai ajah yang nanti sama heesa kkk, kasian oppa ku. sini kai oppa sama aku ajah xD /plak. next ne, mungkin skinshipnya di chapter dua udh mulai ada bhak (?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s