(SHINee) HELLO SMART PLAYBOY [ CHAP 11 ]

Untitled-2 copy

HELLO SMART PLAYBOY

Cast:

  • SHINee
  • Choi Sarang (YOU)

Minor Cast:

  • G-Dragon (Big Bang)

Keterangan:

  • Lee Taemin at Lucifer Japan era
  • Choi Minho at Juliette Japan era
  • Kim Keybum at Juliette era
  • Kim Keybom at RDD wears black tuxedo era
  • Lee Jinki at Shawol 1st Japan concert
  • Kim Jonghyun at Replay Japan era
  • G-Dragon at Heartbreaker era

Disclaim: Tuhan yang menciptakan mereka, lima bintang besar yang bersinar, SHNee. Pemeran lain hanyalah fiksi yang tidak diketahui keberadaan aslinya. Tapi itu terserah dirimu.

Aku menulis cerita ini murni dari imajinasiku yang selalu saja terlihat berlebihan dan sulit berhenti mencetak ide baru. Tid

ak ada salahnya juga menyampaikan karya yang tidak terlalu dilirik ini pada kalian, hei para pembacaku.

Selamat membaca!

…………………………………………………………

Last chapter…

“Han Youngjin..”

“Apa?” Sarang merasakan napasnya tercekat di tenggorokan.

“Ya, dia ayah kandungmu..”

“Apa Bunda yakin dia ayah kandungku? Itu mustahil! Aku tidak percaya!”

“Sarang..”

“Mana mungkin ayah Jiyoung adalah ayah kandungku!!!”

Sarang menutup wajahnya dan menangis dengan isakan cukup keras. Dengan cepat ibunya memeluk yeoja itu.

……………………………………………

CHAPTER 11

 

“Sarang, putriku, maafkan Bunda..”

Selama beberapa menit Sarang menangis di dalam pelukan ibunya. Sampai beberapa menit tangisan itu reda. Sarang menghapus air mata yang membasahi wajahnya lalu menatap ibunya dengan pasrah.

“Jadi.. jadi aku adalah anak haram?” tanya Sarang dengan suara bergetar.

“Kau tetap putriku! Tidak seharusnya kau berbicara seperti itu, Sarang! Kau tidak salah. Bunda yang bersalah..” bantah Alamanda pada putrinya.

“Tapi tetap saja statusku di keluarga ini bukan siapa-siapa, Bunda! Aku bukan Choi Sarang putri dari Choi Minseok! Jadi selama ini aku hanya diam menumpang dan berlagak seperti putri besar! Bagaimana jika semua tahu bahwa aku bukan anak kandung Tuan Besar Minseok?! Aku malu, Bunda!”

“Saraaang!” tekan Alamanda sambil kembali memeluk anaknya itu dengan erat. Keduanya menangis.

Sarang melepas pelukan ibunya. “Ceritakan semuanya padaku,” pinta Sarang. Alamanda terdiam. “Mengapa? Mengapa Bunda tidak ingin menceritakannya padaku? Untuk apa Bunda memberitahu bahwa aku bukan anak kandung Tuan Minseok tetapi Bunda tidak menceritakan bagaimana awal semua ini terjadi?”

Alamanda hanya menarik napas cukup panjang dan mengangguk lemah karena tekanan dari Sarang. Alamanda sudah mengira keadaan akan menjadi seperti ini.

“Semua ini dimulai sembilan belas tahun yang lalu..”

 

FLASHBACK

 

“Youngjin! Kita menginap disini. Tidak ada pilihan lain.”

“Apa kau tidak salah memilih tempat? Rumah sederhana seperti ini? Tidak ada yang sedikit lebih mewah? Oh, ayolah, Minseok..”

Tanpa menunggu banyak keluhan menyusul dari mulut sahabatnya, Minseok langsung saja memasuki penginapan yang sederhana itu sambil membawa semua barangnya. Dengan dengusan keras, terpaksa Youngjin mengekori Minseok yang berjalan lebih dulu.

“Ya, kita hanya menginap untuk dua minggu,” jawab Minseok.

“Baiklah, meskipun penginapan ini tidak semewah dengan penginapan lain, tapi saya jamin Anda semua akan merasa nyaman karena pemandangannya langsung menghadap pantai pribadi,” jelas pemilik penginapan ini. Siapa lagi kalau bukan kakek Sarang. “Alamanda!!” panggil pemilik penginapan.

“Ya, Ayaaah?”

“Bantu tamu kita untuk membawa semua barangnya ke dalam kamar!”

Seorang wanita cantik umur 20-an terlihat dengan rambutnya yang panjang sepinggang dan bunga mawar putih yang tersangkut di telinga kanannya.

“Mari, Tuan. Saya bantu..” ucap Alamanda dengan bahasa asing.

Minseok menepis tangan Alamanda dengan lembut dan tersenyum manis. “Kau cukup mengantar kami menuju kamar. Biar aku saja yang membawa koper ini..”

“Uh, baiklah..” jawab Alamanda sambil tersipu malu.

“Kalau begitu kau bawakan saja punyaku, gadis cantik..” ucap Youngjin. Alamanda hanya mengangguk patuh dan membawa sebagian barang Youngjin. Minseok hanya menghembuskan napas panjang dan mengikuti Alamanda yang sudah berjalan di depannya.

*

Saat itu Youngjin tidak pernah berhenti menggoda dan mendekati Alamanda sampai hubungan mereka cukup dekat. Padahal status Youngjin sudah menjadi seorang ayah dari satu anak perempuan. Dan Alamanda tidak mengetahui itu.

“Selamat, Minseok. Kau yang mendapat kesempatan besar itu. Aku kalah darimu. Kau memang hebat..” puji Youngjin atas keberhasilan Minseok mendapatkan kerjasama dengan negara Indonesia untuk bisnis perbengkelannya.

“Terimakasih. Mungkin usahamu akan berhasil setelah ini. India!” seru Minseok dengan senyuman lebarnya.

“Ya. Haah, baru satu minggu kita menetap disini. Di Bali, tempat yang sangat indah, romantis dan menakjubkan. Apa yang harus kita lakukan satu minggu kedepan? Tujuan kita sudah selesai di sini,” tanya Youngjin. Mereka tengah menikmati udara sejuk di balkon penginapan.

“Aku akan terus mencari relasi untuk bisnis,” jawab Minseok sambil masuk ke dalam kamarnya. “Aku mengantuk. Hari sudah malam..”

“Apa? Baru saja pukul sembilan..”

“Sudahlah, aku akan menghubungi istri pertamaku dulu di Jepang..”

Youngjin hanya terkekeh pelan. Tidak lama dirinya melihat Alamanda yang baru saja datang dari satu tempat. Bibirnya tersenyum. Cantik sekali yeoja Indonesia itu..

“Tuan..” sapa Alamanda. Dan tiba-tiba Youngjin menahan tangan Alamanda dan menatapnya penuh keinginan.

“Badanku pegal. Apa kau bisa memijat?”

Alamanda berpikir sejenak dan mengangguk pelan.

Akhirnya mereka berdua berada di dalam satu kamar dan kejadian yang tidak diinginkan pun terjadi.

……….

Dua hari selanjutnya Alamanda merasakan mual yang tidak wajar. Sebisa mungkin dirinya berpikir positif. Tidak! Aku tidak mungkin mengandung anak dari orang asing itu, batinnya.

Tapi rasa penasaran itu terus saja menghantuinya sampai dia pergi ke salah satu bidan terdekat untuk membeli testpack (nulisnya gitu bukan sih? Maaf gatau. Soalnya belum pernah nyobain -00-?).

Setelah sampai di dalam kamarnya, dengan cepat dia masuk ke dalam kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, jantungnya berdebar ketika menggengam benda kecil itu. Alamanda memejamkan matanya berlebihan, tidak siap untuk melihat hasil yang keluar. Dengan perlahan dia membuka matanya dan seketika mata bulat itu terbelalak ketika terlihat dua garis merah yang tidak dia inginkan untuk muncul. Positif.

*

“Youngjin!” panggil Alamanda pada Youngjin yang tengah berjalan menuju pintu keluar untuk berselancar di pantai.

“Yes, Hon?” saut Youngjin dengan senyuman memukaunya sambil meraih tangan kanan Alamanda. Tapi dengan cepat Alamanda menghempaskan tangan Youngjin dengan muka suram. “Hey, what’s going on?”

Alamanda menghembuskan napasnya kasar dan singkat. Matanya melihat kearah kanan dan kiri, berharap kedua orang tuanya sedang tidak berada di sekitar. “Kau harus bertanggung jawab, Youngjin..” bisik Alamanda di telinga Youngjin. Youngjin hanya mengerutkan keningnya dalam-dalam. Jantungnya mulai berdebar.

“Bertanggung jawab? Untuk apa?” taya Youngjin menatap mata Alamanda dengan terpaku.

“Aku.. aku hamil!” seru Alamanda. Dengan cepat Youngjin membekap mulut gadis itu dan menyuruhnya untuk diam dengan mata yang membulat.

“Katakan bahwa  itu semua tidak benar, Manda!” pinta Youngjin hampir tidak terdengar dengan napasnya yang mulai memberat.

Manda hanya menggeleng lemah sambil menahan suara tangisan keluar dari mulutnya. “Kau harus bertanggung jawab, Youngjin..” ulang Alamanda.

“Sebaiknya kau gugurkan saja kandungan itu! Biaya kutanggung sepenuhnya!” seru Youngjin. Alamanda hanya terbelalak dan dengan otomatis tanganya menampar pipi mulus Youngjin.

“Berani-beraninya kau!”

“Aku tidak akan tega membunuh janin ini, Youngjin! Ini anak kita!”

“Omong kosong! Sampai kapan pun aku tidak akan bertanggung jawab! Jadi lebih baik kau gugurkan saja atau kau tanggung sendiri!” teriak Youngjin sambil berlalu menuju kamarnya.

Alamanda hanya terduduk lemas di atas lantai yang terbuat dari kayu itu. Air matanya keluar dengan deras dan tidak tertahan. Tangan kanannya memegang perutnya sendiri dengan bergetar dan tangisannya semakin keras sambil meremas bajunya sendiri.

Tapi tiba-tiba sepasang tangan merengkuh pundaknya dan membantunya untuk bangkit. Lalu membawa Alamanda ke dalam pelukannya. Choi Minseok.

“Jangan menangis. Aku yang akan bertanggung jawab..”

Beberapa saat Alamanda menghentikan tangisannya. Tapi tidak lama tangisannya kembali dan tangannya memeluk Minseok semakin erat.

“Jadilah milikku selamanya, dan kita besarkan anak ini bersama, Alamanda..”

 

FLASHBACK END

 

(Sarang POV)

 

Aku menatap kosong ke satu titik di depanku. Air mata kembali terasa mengalir di pipiku. Namun kini terkesan tenang. Karena aku sudah tidak mempunyai sisa tenaga untuk menangis. Hey, semuanya sudah terjadi! Dan aku bukanlah anak kandung Dad.

Ya, jujur saja. Aku masih tidak percaya. Ternyata masih ada orang berhati malaikat seperti Dad. Yang menerima Bunda. Dan menerimaku, yang sama sekali tidak mempunyai darah dan dagingnya.

“Dan tadi itu.. Dad bertengkar kecil dengan Youngjin-sshi,” lanjut Bunda.

“Bertengkar? Untuk apa?”

“Youngjin-sshi ingin mengambilmu, Dear. Dia ingin kau masuk ke dalam keluarganya. Bersama istrinya dan kedua putrinya..”

Aku membuang napas sekaligus. “Tapi aku tidak mau, Bunda! Aku membenci dia! Han Youngjin ahjusshi! Dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai ayahku!” ucapku penuh amarah. Kedua tanganku terkepal erat.

“Jangan berkata sepeti itu, dear..” ucap Bunda sedikit bergetar dan mengusap punggungku.

“Bunda, bagaimana kalau kita pergi dari sini? Bukan hanya dari rumah ini. Tapi dari Korea. Aku ingin kita tinggal di Indonesia. Bunda, tolong penuhi permintaanku! Aku yakin ini yang terbaik.”

“Tapi…”

“Aku malu, Bunda. Aku yakin kau bisa merasakan bagaimana jika berada di posisiku sekarang. Aku, Choi Sarang, satu-satunya putri yang dimiliki oleh Tuan Besar Choi Minseok ternyata bukan putri kandungnya. Melainkan putri dari sahabat dekatnya. Semua orang akan mengetahuinya dan memandangku jelek, Bunda. Apalagi jika aku masuk ke dalam keluarga Youngjin-sshi. Itu akan sangat memalukan.”

“Kalau begitu Bunda akan bercerai dengan Choi Minseok..”

DEG!

“Bunda..”

“Minseok pasti akan mengerti. Kau tenang saja, Sayang..”

“Tapi mengapa harus bercerai?”

“Kau ingin kita keluar dari masalah ini? Kau sudah besar. Bunda yakin kau mengetahui bagaimana perasaan Bunda saat ini..”

“Baiklah..” ucapku pasrah. Jika itu pilihan yang terbaik untuk Bunda, aku tidak bisa berbuat apa-apa.

“Tapi bagaimana dengan pertunanganmu bersama Jinki?”

“Jika Youngjin-sshi ayah kandungku, berarti Jiyoung adalah saudaraku. Dia sangat mencintai Jinki, Bunda. Aku akan mengusahakan pertunangan itu tidak akan batal dan Jiyoung akan mendapatkan Jinki kembali.”

“Kau yakin?” tanya Bunda sedikit tidak yakin dengan jawabanku.

“Bunda tidak usah khawatir. Aku sudah tidak mencintai Jinki..” jawabku kini dengan sanyuman. Bunda ikut tersenyum dan mengelus pipiku lembut.

“Kalau begitu, kapan kita pergi?” tanya Bunda sambil menatap mataku dengan lembut.

“Besok malam. Sehari sebelum pertunanganku dengan Jinki,” jawabku sedikit serak.

“Apa kau yakin? Kau sudah tidak mencintai Jinki?”

“Sudah ku katakan, tidak, Bunda! Tidak sama sekali,” jawabku. “Bunda, jangan sampai ada yang mengetahui rencana kita.”

“Baiklah, Sayang. Tidurlah dengan nyenyak. Kehidupan baru sudah terlihat di depan mata kita..”

**

Pagi ini aku terbangun terlalu cepat. Bagaimana bisa? Tidur terlalu larut dan bangun terlalu cepat? Apa aku sudah tidak sabar untuk meninggalkan negeri Korea yang sudah menjadi tempatku berpijak selama tujuh belas tahun satu hari ini?

Baiklah, Sarang. Ini adalah hari terkahirmu berada di rumah ini. Kau harus membuat kesan yang tidak terlupakan bersama semua saudara lelakimu. Ya, saudara yang ternyata bukan kandung.

Pukul enam pagi. Apa yang harus aku laukan dan bersama siapa? Olah raga? Hmm, Keybom oppa. Baiklah..

Aku membuka pintu kamarku dan kembali menutupnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Sepertinya mereka semua belum juga bangun.

“Keybom oppa!!” teriakku sambil mengetuk pintu kamarnya. Setelah berpuluh-puluh kali aku mengetuknya dengan keras, akhirnya namja bermata abu itu keluar dengan penampilan abstrak. Matanya yang sipit menjadi semakin sipit. Masih mengantuk, eh?

“What do you want, hah?” tanyanya lalu menguap lebar. Tahan, Sarang. Jangan menangis. Melihat wajah Keybom oppa yang tegas namun berkesan arogan. Ia akan selalu aku rindukan. Percayalah.

“Oppa, bagaimana kalau kita berolahraga? Kau tidak akan menolak ajakanku, bukan?” tanyaku sambil memasang wajah termanis namun tetap menyembunyikan kesedihanku baik-baik.

Keybom oppa tertawa kecil dan mengacak rambutku. “Pukul enam pagi? Baiklah, aku akan berganti baju. Kau juga.. Hm, jarang-jarang adik perempuanku ini mengajakku berolahraga..”

DEG! Adik? Adik perempuan? Mengapa hatiku sakit mendengarnya? Karena kini aku mengetahui bahwa sebenarnya aku bukan siapa-siapa di keluarga ini? Tentu saja.

Aku menutup pintu kamarku dengan lemah lalu segera berganti baju.

*

“Bukan seperti itu!” seru Keybom oppa. Aku hanya mengeluh. Memang bagaimana cara mengangkat burble seberat lima kilogram?

“Jadi harus bagaimana?” tanyaku sedikit putus asa.

Keybom oppa tersenyum penuh arti dan melingkarkan tangan kirinya di pinggangku dan tangan kanannya mengajariku bagaimana cara mengangkat burble.

“Seperti ini..” ujarnya sambil mengangkat burble itu dengan tanganku yang berada di genggamannya.

Aku menoleh ke arahnya lalu mata sayuku menatapnya dalam. Keybom oppa.. maafkan aku..  Waktu yang tersisa untukku menetap di Korea semakin sedikit. Kita tidak dapat menikmati waktu luang seperti ini lagi.

“Mengapa menatapku seperti itu? Apa kau tahu? Tatapanmu ini membuatku bernafsu untuk menciummu sekarang juga..” kata Keybom oppa sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku hanya mendengus disusul tawa kecil. Keybom oppa ikut tertawa dan menatap pantulan kami di cermin besar gym ini.

Aku melepas pelukan Keybom oppa dan menyimpan burble itu. Lalu ku ambil handuk kecil untuk menyusut keringat yang mulai membasahi bajuku. Ya, sudah satu jam kami berolahraga.

“Sauna?” tawar Keybom oppa dengan senyum jahilnya.

*

“Aku masih tidak menyangka. Kau akan mendahului semua kakakmu. Berbahagialah..” ujar Keybom oppa di dalam sauna ini yang mulai terasa panas.

“Ya. Tapi itu sama sekali tidak ku inginkan. Bagaimana perasaanmu jika kau bertunangan dengan orang yang tidak kau cintai, Oppa?” tanyaku.

“Mengapa kau tidak menyukai Jinki?”

“Siapa yang mengatakan itu? Aku menyukainya. Aku menyukainya sebagai teman. Tidak lebih.”

“Jadi..”

“Jadi kita berganti topik saja.”

“Hei..”

Aku segera memotong perkataannya. “Oppa! Sudahlah..”

“Lihat saja, hari pertunangan dan pernikahanku akan diadakan bersamaan,” ujarnya dengan tawa di akhir.

Aku ikut tertawa. “Aku berpesan padamu. Jangan lepaskan Sera. Dia yeoja yang istimewa. Jika kau melakukannya, aku tidak akan mengenalmu lagi,” ucapku sambil menarik cuping telinganya.

“Aaaw! Ya! Asal kau tahu, sekarang statusku bukan sebagai playboy setia seperti dulu..”

“Oppa..” ucapku manja dan memeluknya dengan berselimut kepulan asap di dalam sauna ini.

“Ya?” sahut Keybom oppa. Suaranya sedikit tercekat. Mengapa? Terkejut karena aku tiba-tiba memelukmu seperti ini?

“Aku menyayangimu, Oppa..” ucapku. Ingin rasanya aku menangis sejadi-jadinya di dalam pelukannya yang hangat ini. Tapi aku harus bisa menahan tangisan yang terus saja mendesak untuk keluar dari mataku.

“Ah? So do I. But, why? Suddenly you told me that you love me? You make me..”

“Baiklah kalau begitu.” Aku melepaskan pelukanku. Tapi dengan tawa rendah Keybom oppa kembali menarikku ke dalam pelukannya.

“Nado saranghaeyo, chagi..”

*

Kini aku berhasil tidak mengeluarkan air mataku di depan Keybom oppa. Dan aku harap air mataku ini tidak keluar juga di depan Keybum oppa, Minho oppa, GD oppa dan Taemin.

Jujur saja. Aku sangat sedih jika membayangkan wajah mereka yang selalu memberikan senyuman terbaiknya untukku. Tidak hanya itu! Kasih sayang dan semuanya yang mereka miliki.

Aku merasa orang lain kali ini. Aku bukan siapa-siapa. Tapi mereka begitu baik dan memperlakukanku seperti saudara kandung. Tentu saja. Karena mereka tidak tahu bahwa sebenarnya aku adalah anak haram dan Dad adalah malaikat penolongku.

“Sarang..” panggil seseorang. Aku menoleh ke asal suara. Keybum oppa rupanya. Dia terlihat lucu dengan kaca mata berbingkai hitam itu.

Aku tersenyum sambil mengeringkan rambutku yang basah di balkon taman belakang ini. “Oppa..”

Hmm, kira-kira apa yang akan aku lakukan bersama Keybum oppa di hari terakhirku ini?

“Kajja! Bantu aku membuat pudding coklat.” Keybum oppa menarik tanganku menuju dapur. Sounds good.

“Tolong ambil air dan sendok,” pinta Keybum oppa. Matanya sudah berkonsentrasi dengan bahan-bahan istimewa yang sudah terkumpul di meja dapur ini.

Aku mengambil air ke dalam wadah cukup tinggi beserta sendok bertungkai panjang lalu diberikan padanya.

“Anything else?” tanyaku. Dia menggeleng sambil mengulum bibirnya lalu mengangguk mantap.

“Kau diam saja. Simpan semua dalam otakmu, bagaimana urutan membuat pudding by Cheff Key! Haha..” seru Keybum oppa sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Aku hanya duduk dan tertawa sambil menatapnya penuh arti. Kakakku yang satu ini. Dulu aku jarang sekali melihatnya tersenyum. Apalagi mendengarnya tertawa. Dan kini aku bisa melihatnya tertawa dengan lepas dan dia terlihat sangat tampan.

Okay, aku mulai merasakan mataku memanas. Jangan sampai aku menangis. Di depan Keybom oppa saja aku berhasil tidak mengeluarkan air mataku.

Jika kau ingin tahu, aku merasa sangat tidak pantas berada di rumah ini, berada di antara lima namja istimewa yang ternyata bukan saudaraku. Aku takut mereka tahu dan membenciku. Jadi, keputusanku untuk pergi dari kehidupan mereka sangatlah tepat.

Aku tidak bisa menyalahkan siapapun dengan takdir ini. Mungkin ini sudah menjadi jalan nasibku. Jika Dad tidak menikahi Bunda, aku tidak akan merasakan kebahagiaan yang sangat lebih dari cukup selama hidup di keluarganya.

“Ya!” seru Keybum oppa sambil mengoleskan coklat kental di ujung hidungku dengan sengaja.

“Keybum oppaaaa!” rengekku sambil menyusut coklat itu yang mulai meleleh dari ujung hidungku.

Akal jahilku muncul. Langsung saja kubalas mengoles pipinya dengan coklat yang berada di mangkuk ukuran sedang itu. “Hahahaha!” tawaku sangat terhibur dengan melihat ekspresi wajahnya yang terkejut.

“Untung saja coklat ini dalam keadaan steril! Awas kau, Saraaaang!”

Aku berteriak dan berperang coklat layaknya anak kecil di dapur ini. Baiklah, beberapa coretan coklat sudah terpampang jelas di permukaan wajahku. Begitu pun Keybum oppa.

Sampai akhirnya aku lemas dan menahan tangannya yang berniat menyerangku kembali.

Aku langsung memeluknya dan memejamkan mataku. Keybum oppa, aku tahu kau tidak menyadari bahwa ini adalah pelukan perpisahanku. Ingin sekali aku mengatakan permintaan maaf untuk segalanya dan terimakasih untuk segalanya. Dia terlalu baik untukku.

“Aku tahu kau memelukku karena bermaksud jahat, Sarang!” ujar Keybum oppa lalu melepas pelukanku.

Aku membentuk bibirku melengkung ke bawah sambil menatapnya sebal. “Kau jahat sekali, oppa. Aku sama sekali tidak mempunyai pikiran seperti itu. Aku tidak akan menyerangmu dengan coklat ini..” ucapku sambil melahap habis coklat yang berada di ujung telunjuk kananku.

Keybum oppa tersenyum lalu mengikuti melahap habis coklatnya. “Mianhada..” Keybum oppa merentangkan tangannya dan aku pun kembali ke dalam pelukannya. Tanpa tangisan. Tentu saja. Mungkin aku akan menangis dengan histeris ketika di dalam pesawat nanti.

“Cherry,” panggil seseorang. Aku melepas pelukan Keybum oppa lalu berbalik. Dad. Jantungku berdegup sangat kencang.

“Dad. Sudah bangun? Lihat, Aiden membuat pudding coklat spesial,” ucapku. Dad menghampiriku lalu merengkuh pundakku.

“Kau harus sering mengajarinya memasak, Aiden. Dad ingin Cherry pintar memasak untuk calon suaminya,” ujar Dad dengan tawa di akhir. Keybum oppa ikut tertawa.

“Sebelum aku kembali ke Amerika, aku akan mengajarinya. Tapi tentu saja harus ada imbalan. Haha!”

Aku hanya menundukkan kepalaku ketika mereka berdua tertawa bahagia.

“Cherry, setelah acara tunangan, kau akan tinggal di rumah Jinki. Jadi kau harus lebih dewasa. Meskipun seperti itu, kau tetap putri Dad yang paling sempurna..” jelas Dad sambil mencium keningku dengan penuh kasih sayang. Aku hanya tersenyum simpul.

*

“Sarang.. kau terlihat murung pagi ini..” komentar Taemin sambil menghampiriku yang tengah menikmati pudding coklat by Cheff Keybum. Sekarang sudah pukul sepuluh pagi tapi cuaca terasa tidak bersahabat denganku.

“Mungkin hanya perasaanmu saja, Bambino. Jangan sok tahu..” timpalku malas tanpa menatapnya.

“Aku harap begitu.” Taemin duduk di sampingku dan menarik napas panjang. “Hari ini fitting dress untuk acara pertunanganmu dengan Jinki hyung, bukan? Pukul berapa kalau aku boleh tahu..”

“Pukul sebelas.”

“Chukkae..” ucap Taemin. Terdengar nyaris berbisik. Aku menoleh ke arahnya. Dia menundukkan wajahnya sambil memainkan jemarinya.

“Ne?” tanyaku. Dia mendongak dan tersenyum sangat manis. Tapi senyuman ini sedikit terlihat tidak sepenuh hatinya. Ada apa dengan Taemin?

“Chukkaeyo, Saraaaang!” seru Taemin sambil menyenggol bahuku jahil. Aku tertawa kecil dan mendorong pipinya dengan kedua jari kananku pelan.

“Kau tidak cemburu?” tanyaku mengajaknya bercanda. Biasanya dia selalu mengajakku bercanda lebih dulu. Tapi mengapa dia yang terlihat murung pagi ini?

“Tentu saja aku cemburu. Kau milikku, Sarang. Bisa-bisanya kau selingkuh,” respon Taemin meladeni bercandaanku.

“Karena kau membosankan! Hahaha!”

Taemin menarik jemari kananku ke dalam genggaman tangannya. Saat itu juga tawaku berhenti karena wajahnya berubah menjadi serius. “Berjanjilah untuk tidak melepaskan cincin ini..”

“Gomawo, Bambino, adikku yang otoriter..” kataku. Taemin tertawa rendah dan mengacak rambutku pelan.

“Dasar singa betina..”

*

Tidak lama mobil Jinki sudah terparkir rapi di depan pintu masuk utama rumah ini. Aku berdiri dan membersihkan baby doll berwarna biru elektrik bawah lutut yang kupakai.

Seorang pelayan membukakan pintu utama dan mempersilakanku. Kini mataku melihat satu sosok namja, yang sudah tidak asing lagi, keluar dari mobil ford merah. Apalagi senyumnya yang membuat hati menjadi lebih tenang. Lee Jinki.

“Chagi..” sapa Jinki sambil mengecup puncak kepalaku singkat dan membukakan pintu mobil untukku. Aku hanya tersenyum simpul dan masuk ke dalam mobil. Bagaiamana ini? Mungkin ini waktu yang tepat. Ya..

Jinki meraih tangan kiriku dan digenggamnya sambil diremas kecil. Aku meliriknya cepat dan jantungku berdetak lebih cepat.

“Kau tidak perlu khawatir. Jiyoung tidak akan mengganggu hubungan kita, Sarang,” ucapnya sambil mengeluarkan senyuman manisnya padaku. Aku hanya menunduk dan bergumam kecil.

Jika aku berada di posisi Jinki, aku merasa menjadi manusia paling bahagia karena tidak lama lagi, seseorang yang dicintainya akan menjadi miliknya. Tapi bagaimana jika seseorang yang dicintainya itu pergi tanpa kabar dan tidak diketahui keberadaannya? Ah, Jinki.

“Sarang? Kau sakit?” tanya Jinki penuh kekhawatiran. Mobil berhenti karena lampu merah menyala di ujung belokan sana.

Jinki menempelkan telapak tangannya di kening dan leherku. Aku tersenyum dan menggeleng pelan.

“Aku baik-baik saja, Jinki. Sudahlah, kau konsentrasi saja di belakang kemudi,” ucapku. Tiba-tiba jemarinya menarik daguku dan mendekat.

Jantungku berdetak kencang dan akhirnya Jinki mencium pipi kananku dengan lembut. Kurasakan tangan kirinya membelai pipi kiriku.

“Saranghae..” bisiknya di telinga kananku lalu kembali mengemudikan mobil karena lampu hijau telah menyala.

Jinki, jangan membuatku semakin tersiksa secara perlahan..

*

“Sarang..” panggilnya. Aku hanya menyahutnya kecil dari dalam.

Aku menatap pantulan diriku di cermin besar bridal ini. Mengenakan long dress simpel berwarna merah muda yang membuat lekukan tubuhku terlihat indah. Ku buka ikatan rambutku dan mengumpulkannya di  depan samping kanan. Jinki, maafkan aku. Aku tidak akan mengenakan gaun indah ini di hari esok. Di hari pertunangan yang sama sekali tidak aku inginkan.

Aku tidak tahu. Aku merasa ada seseorang yang telah mengisi hatiku. Tapi aku tidak tahu dia siapa. Yang pasti aku merasakan dia selalu dekat dan tidak pernah lepas dari sisiku.

“Chagi..” panggil Jinki dan membuka tirai ruangan fitting ini. Dia terlihat tampan dengan balutan tuxedo hitam gagahnya. Jinki tersenyum lepas dan segera memelukku dengan sayang dari belakang. Aku hanya tersenyum simpul kembali dan memejamkan mataku.

“Aku tidak sabar menunggu hari esok, Hon..” bisik Jinki di telingaku. Matanya menatap mataku di pantulan cermin cukup dalam.

Aku terkekeh dan melepaskan pelukannya lalu mengambil handphone dari dalam tas kecilku.

“Kita berfoto..” ajakku. Dia tersenyum dan mendekatkan wajahnya padaku.

Aku bisa tertawa di sampingnya kali ini. Berfoto memakai pakaian formal seperti ini dengan gaya bebas itu sangat menyenangkan. Apalagi ketika seorang pelayan terlibat dan kami memintanya untuk mengambil foto.

Beberapa puluh menit kemudian, aku dan Jinki sudah berganti baju dan hanya duduk-duduk saja di cafe bridal itu sambil mendengarkan musik klasik yang mengalun merdu.

“Jinki.. Apa pendapatmu tentang Jiyoung?” tanyaku tiba-tiba yang membuatnya menelan minuman lebih cepat.

“Mengapa kau bertanya tentangnya? Aku menjadi tidak berselera untuk bernapas,” jawabnya diakhiri dengusan singkat dengan senyuman miris.

“Jawab aku..”

“Aku tahu kau juga mengetahuinya bahwa dia itu yeoja yang membahayakan. Aku tidak menyukainya.”

“Dan bagaimana pendapatmu tentang Jiyoung sebelum kau mengenalku?” tanyaku lagi. Kali ini wajah Jinki terlihat sedikit terkejut lalu menarik napas panjang.

“Come on, Hon. Dont talkin about her. Just thinking about our day tomorrow..”

“Sebaiknya kau bertunangan saja dengan Jiyoung. Bukan bersamaku. Aku sudah tidak mencintaimu lagi. Aku lebih menyukaimu sebagai sahabat. Apa kau tidak mengerti perasaanku dari dulu, hm?” tanyaku. Jinki hanya terdiam dan menatapku dalam. Napasnya terdengar naik turun menahan amarah.

“Aku tahu kau berbohong.”

“Tidak,” sergahku. “Jinki, apa kau tidak menyadarinya? Jika kau berada dalam posisi Jiyoung. Aku yakin kau juga akan melakukan semua yang dia inginkan. Orang yang kau sayangi telah bersama orang lain. Sementara kau sudah menunggunya bertahun-tahun.

“Sedangkan aku? Aku datang hanya untuk menghancurkan hubungan kalian. Jinki, kau tidak bisa berbohong. Aku tahu kau masih menyimpan perasaan sayang pada Jiyoung!”

“Sarang.. besok hari pertunangan kita. Tolong jangan kau gagalkan kembali rencana yang sudah disusun jauh-jauh ini.”

“Jinki-ya, apa kau menyayangiku?” tanyaku.

“Dan jika aku menjawab bahwa aku menyayangimu, kau akan memintaku untuk meninggalkanmu dan bertunangan dengan Jiyoung. Benar, bukan?” tanya Jinki. Kini pergelangan tanganku di genggamnya keras.

“Kau berbeda.. Kau bukan Jinki yang kukenal sebelumnya. Kini kau berubah menjadi Jinki yang egois. Kau sudah tahu bahwa aku sudah tidak mencintaimu lagi. Tapi mengapa kau terus saja memaksa?! Aku membencimu, Lee Jinki!!”

Aku menangis dan bangkit dari kursi itu. Dengan cepat aku berjalan dan berharap ada satu mobil taksi yang sedang mencari penumpang.

Tapi tiba-tiba Jinki menarik lenganku dan memelukku erat. Aku bisa mendengarnya. Dia menangis. Jinki..

“Baiklah, Sarang. Kita batalkan pertunangan kita. Tapi tolong.. Jangan membenciku. Jika kau membenciku, aku tidak tahu bagaimana keadaanku nanti.”

Aku melepas pelukannya dengan perlahan dan menatapnya yang tengah menangis dengan sayu.

“Aku tahu orang tua kita sudah mempersiapkan tempat dan segalanya untuk acara pertunangan kita. Daripada semua itu sia-sia, lebih baik kau bertunangan dengan Jiyoung. Sebenarnya dia yeoja yang baik dan menyayangimu,” ucapku sambil tersenyum dan menyusut air mata yang membasahi kedua pipinya. “Jangan menangis. Aku tidak akan membencimu, Jinki. Kau sahabat terbaikku..” Kini aku memeluknya sambil berjinjit.

Maafkan aku Jinki. Tapi aku merasa mempunyai kepuasan tersendiri. Akhirnya Jiyoung, kakak kandungku, memilikimu juga. Mungkin disini aku yang sedikit egois. Tapi aku tahu kau masih menyukai Jiyoung sekecil apapun perasaan itu.

“Maafkan aku, Sarang..” ucapnya. Aku tertawa kecil.

“Maafkan aku juga..”

Tidak lama handphoneku berdering. Ternyata Minho oppa yang meneleponku. Aku senang sekali ketika dia mengajakku untuk berjalan-jalan dan menjalankan satu rencana. Ya, rencana yang sudah aku susun bersama Minho oppa untuk menjodohkan Jonghyun oppa dengan Hara onnie.

“Minho oppa sudah menjemputku. Terimakasih untuk semuanya, Jinki. Ingatlah, aku tidak akan pernah membencimu sampai kapanpun. I love you!” seruku sambil berlari menuju mobil Minho oppa dan melambaikan tangan ke arahnya. Ini pertemuan terakhirku dengan Jinki. Sangat mengesankan.

*

“Okay, aku menunggumu bersama teman Minho oppa, oppa!”

KLIK!!

Aku dan Minho oppa tertawa kecil dan mengawasi meja nomor tujuh yang masih belum berpenghuni. Cukup jauh dari tempat duduk kami berdua namun masih bisa terpantau.

Tidak lama Jonghyun oppa meneleponku dan mengatakan bahwa dirinya sudah sampai. Lalu aku jawab, aku sedang di toilet dan memintanya untuk sabar menunggu.

Padahal kini aku tengah menahan tawa melihatnya dari jauh.

Ponsel Minho oppa berdering.

“Ne? Aku di meja nomor tujuh. Palli!”

KLIK!!

 

(Author POV)

 

“Uh, mian. Kau siapa?” tanya Hara sambil mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi pada Jonghyun.

“Jonghyun imnida,” jawab Jonghyun tidak kalah dingin dan tidak memberikan bungkukkan badan bahkan anggukan kepala pun tidak. Keterlaluan.

“Jonghyun-sshi, meja ini sudah dipesan dan meja kosong di sekitar ini masih banyak.”

“Kau teman Minho? Choi Minho?” tanya Jonghyun meyakinkan tanpa menghiraukan perkataan yeoja di hadapannya itu.

“Ne. Kau temannya?”

“Tidak nyaman jika kita berbincang seperti ini. Duduk saja..”

Yeoja cantik itu duduk dengan sedikit ragu di hadapan Jonghyun. Tangannya merapikan topi rajut berwarna putih. Rambut panjang ikal berwarna coklatnya dia biarkan tergerai dan terlihat kontras dengan kulit putihnya. Yeoja bernama Hara itu terlihat sangat modis. Sweater abu tua longgar sampai atas lutut ditambah legging hitam. Badan sempurnanya terlihat indah.

“Sepertinya aku pernah melihatmu, Jonghyun-sshi. Tapi..” ucap Hara menggantung. Jonghyun mengangkat kedua alisnya. “Aku lupa. Mungkin salah orang.”

“Kau..”

“Mwo?”

“Siapa namamu?”

“Hara. Jung Hara. Wae?”

“Benar dugaanku! Kau, Jung Hara, yeoja yang datang ke dalam club dan kau tertarik dengan musik yang kumainkan, lalu kau ikut bermain di papan DJ denganku dan membuat suasana musik baru. Bukankah itu kau?” tanya Jonghyun dengan wajahnya yang sangat antusias. Begitupun dengan wajah Hara kini.

“Ya! Itu benar. Aku tidak percaya kau masih mengingatnya. Padahal kejadian itu sudah dua tahun yang lalu.”

Dari sudut lain, dua orang anak muda malah mengeluh panjang.

“Sepertinya mereka memang sudah saling mengenal, Oppa. Jadi untuk apa kita menjodohkan mereka?” tanya Sarang sambil menyedot coffe milk milonya.

“Atau mungkin alasan mereka berdua tidak ingin berpacaran karena sudah lama berpisah?”

“Aku tidak mengerti..” ucap Sarang.

“Lihat, saking asyiknya mereka sampai melupakan kita yang mengajak untuk bertemu. Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Minho sambil menoleh kecil pada Sarang yang berada tepat di sampingnya sedari tadi.

“Kita hampiri mereka dan pergi.”

Sebelum Sarang mendengar kata setuju atau tidak dari mulut Minho, dirinya langsung saja bangkit dari kursinya dan berjalan cantik ke arah meja nomor tujuh.

“Hello. Kalian pasangan yang cocok. Menikahlah dan buat anak yang banyak! Annyeong!” ucap Sarang riang diakhiri tawa dan berjalan meninggalkan mereka begitu saja. Minho yang mengikutinya dari belakang hanya membungkukkan badannya, tersenyum, memberi semangat dan tujuan mengajak bertemu lalu cepat menyusul Sarang yang sudah menunggu dirinya di samping mobil.

“Kemana tujuan kita kali ini?” tanya Minho setelah mereka sudah berada di dalam mobil.

“Bagaimana kalau taman bermain?”

“No problem. Let’s go!”

“Yeay!”

*

“Mempunyai adik perempuan itu memang mengasyikkan,” ujar Minho sambil melirik dengan senyuman sempurna pada Sarang yang tengah memakan lollipop besar di sampingnya.

“Mengasyikkan seperti apa?”

“Aku bisa memanjakannya, berbeda dengan aku memanjakan kekasih. Ini lebih dengan sayang. Kau merasakannya?”

“Uh-uh. Oppa, bagaimana jika sebenarnya kau tidak mempunyai adik perempuan?” tanya Sarang sedikit membuat jantungnya berdebar dengan pertanyaannya sendiri.

“Aku akan tetap menjadi playboy seperti saat aku tinggal di Amerika,” jawab Minho disusul tawa kecil lalu merangkul pinggang adiknya itu agar mendekat. “For the last. Kajja, kita naik biang lala!”

Akhirnya mereka berdua sudah berada di dalam bola biang lala. Minho menatap mata adiknya yang berbinar itu dengan tanpa ekspresi. Sarang yang tengah tersenyum lepas setelah mendapati Minho yang tengah menatapnya langsung merubah ekspresinya menjadi keheranan.

“Apa mungkin ini adalah hari terakhir kita bersenang-senang?” tanya Minho lirih.

Jantung Sarang tersentak hebat bersamaan dengan mulai berputarnya biang lala. “Uh, apa maksudmu?”

“Besok kau akan bertunangan dengan Jinki. Dan sebagian besar waktumu pasti akan terambil olehnya,” jelas Minho. Sarang masih bisa bernapas lega. Dia kira Minho sudah mengetahui rencananya dan ibunya.

“Tidak seperti itu juga, oppa. Sudahlah..”

Sarang mulai terlihat murung dan tidak bersemangat. Matanya hanya melihat cuaca yang sudah hampir malam. Lampu-lampu taman hiburan ini mulai dinyalakan dan membuat suasana semakin indah.

‘Tuhan, jangan biarkan hari ini cepat berakhir..’

“Ya..” ucap Minho menyadarkan lamunan Sarang sambil tertawa lebar. “Mengapa kau menjadi diam seperti ini?” tanya Minho sambil berpindah tempat tepat di samping Sarang dan mencubit dagu ‘adiknya’ itu gemas.

“Aku takut..”

“Apa yang kau takutkan?” potong Minho. “Aku ada disini..” sambungnya lalu memeluk Sarang dengan erat dan mencium puncak kepala Sarang cukup lama.

‘Aku tahu, setelah Sarang bertunangan, aku tidak akan mempunyai banyak waktu dan memanjakannya seperti dulu. Aku akan merindukanmu, Sarang..’

Sarang balas memeluk Minho dengan erat. Ini yang terakhir kalinya..

*

Hari sudah malam. Minho masih menggenggam jemari Sarang setelah mereka berdua memasuki ruang utama di rumah istana itu.

“Segelas soft drink?” tawar Minho sambil menunjuk kulkas. Sarang menggeleng sambil tersenyum.

“Aku sudah lelah, Oppa. Aku naik.. Terimakasih untuk hari ini!” seru Sarang dan kakinya langsung saja berlari kecil menuju tangga.

Tangan kanannya sudah menekan knop pintu. Tapi tiba-tiba satu tangan kuat membalikkan pundak kanan Sarang sampai berhadapan.

“Aku lelah, Bambino.”

“Dari mana saja kau? Aku mencarimu seharian.” Taemin tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Hanya menatap mata Sarang dalam.

“Mencariku? Untuk apa?” tanya Sarang sambil mengerutkan keningnya.

Tiba-tiba Taemin memeluknya. Sarang sedikit terperangah.

“Mengapa kau memelukku?” tanya Sarang di dalam pelukan Taemin.

“Aku juga tidak mengerti. Sepertinya aku merindukanmu, Sarang,” jawab Taemin lalu melepaskan pelukannya. “Pukul delapan aku akan mengunjungi kamarmu. Tunggu aku..” katanya sambil berjalan menuju tangga dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.

“Geundae.. wae?” tanya Sarang tidak mengerti. Taemin mendengus kecil dengan senyuman singkat yang keluar.

“Kau lelah, bukan? Beristirahatlah..”

Kini Taemin benar-benar berjalan meninggalkan Sarang yang masih tidak mengerti dengan sikapnya yang aneh.

Sarang mengeluarkan napas panjang melewati mulut setelah melihat punggung Taemin tenggelam di belokan sana.

BRUG!!

Sarang melempar tubuhnya di atas sofa super empuk miliknya. Hm, bukan. Milik Tuan Minseok.

“Sarang, kita pergi dari rumah secara diam-diam pukul satu pagi. Bersiaplah. Bunda akan menjemputmu di pintu masuk belakang rumah,” kata Sarang membaca pesan yang masuk dari ibunya yang kini tengah mengurus transport untuk meninggalkan Korea ini.

Matanya melirik ke arah jam dinding yang terpasang. Pukul setengah tujuh. Tapi dirinya sudah merasakan kantuk yang cukup membuatnya menyerah untuk tetap membuka mata. Akhirnya yeoja itu tertidur tanpa mengganti bajunya. Untungnya semua barang yang akan dia bawa ke Indonesia sudah dikirim lebih dulu kemarin malam.

*

Seperti biasa Taemin masuk ke dalam kamar Sarang tanpa mengetuk pintu. Sekarang tepat pukul delapan malam. Mulutnya terbuka melihat Sarang yang sudah tertidur di atas sofa tanpa beralaskan bantal yang menyangga kepala bagian bawahnya.

“Aaaah, jinja..” gumam Taemin lalu mendekat ke arah Sarang.

Namja itu duduk di sofa kecil, samping sofa panjang yang ditiduri Sarang. Matanya menyapu permukaan wajah cantik Sarang dengan teliti.

“Aku membencimu, Sarang. Secepat itukah kau akan meninggalkanku?” tanyanya pada sosok yang tengah terlelap dengan damai. “Kau mengatakan bahwa kau tidak mencintainya. Tapi mengapa kau tetap akan bertunangan dengan Jinki hyung? Pengecut. Kau lawan saja Dad. Katakan padanya kau tidak ingin bertunangan! Aku masih belum siap tinggal seorang diri di rumah ini. Minggu depan hyungs kembali ke Amerika.”

Yeoja yang sedari tadi diajaknya berbincang hanya diam. Matanya tetap tertutup. Taemin menghembuskan napas panjang dan menepuk-nepuk pipi Sarang agar yeoja itu terbangun.

“Ya~ bangun, Sarang! Sudah pukul setengah sembilan malam. Jika kau tidak bangun, aku bisa saja menetap di kamarmu sampai pagi,” kata Taemin dengan suara sedikit kencang. Sarang hanya menggeram kecil dan membalikkan posisi tidurnya. “Singa betinaaa!!” teriak Taemin yang kini sudah bangkit dari tempat duduknya dan beralih menimpa tubuh Sarang di atas sofa besar itu. Bahkan cukup untuk dua orang dewasa berbaring di sana.

“Bangun, atau aku akan terus mengganggumu seperti ini?” tanya Taemin sangat dekat dari wajah Sarang. Kedua kakinya terpisah dengan tubuh Sarang yang berada di antaranya.

“Aaah, aku lelah, Bambinoooo,” ucap Sarang sambil mendorong dada Taemin agar sedikit menjauh dan membuatnya bisa bernapas bebas.

Taemin tidak menyerah untuk membuat Sarang terbangun dan menemaninya malam ini. Tangan jahilnya memencet hidung Sarang, mencubit pipi Sarang dan menepuk-nepuknya. Bahkan menarik-narik bulu mata Sarang sudah dilakukan. Tapi tidak ada respon. Kini giginya yang beralih mengerjakan tugas. Giginya menggigit telinga Sarang dengan keras. Tetap tidak berhasil.

“Kalau begitu aku akan tidur di sampingmu sampai besok.” Taemin membaringkan tubuhnya di samping Sarang dengan tangan kanannya memeluk pinggang Sarang. Mereka berhadapan. Mata bulat Taemin kembali memperhatikan wajah Sarang.

Tiba-tiba mata Sarang terbuka seratus persen dan memasang posisi duduk. Taemin menutup matanya rapat-rapat.

‘Jika Taemin tidur di sini, aku tidak bisa pergi..’ batin Sarang.

“Baiklah, aku tidak akan tidur. Sekarang cepat, apa yang akan kau katakan padaku?!” tanya Sarang sambil menoleh ke arah Taemin. Namja itu tertidur. Sarang memutar kedua bola matanya.

“Ya!” teriak Sarang sambil memukul lengan Taemin. Namja itu tidak bergeming. “Jangan tertidur di dalam kamarku, Bambinooo!”

Tidak henti-hentinya Sarang berusaha untuk membangunkan Taemin. Ketika Sarang mencoba menarik lengan Taemin, tiba-tiba Taemin balik menarik lengan Sarang sampai yeoja itu yang kini terbaring di atas sofa. Lagi. Jarak wajah mereka sangat dekat. Taemin menatapnya berbeda. Sangat dalam. Bahkan Sarang pun terdiam. Dia bukan Taemin..

“Ah! Lepas, Bambino!”
teriak Sarang. Tapi Taemin tidak mengubah ekspresi wajahnya. Jeratan tangannya semakin kuat di lengan Sarang.

“Biarkan aku menatapmu seperti ini..” ucapnya dengan suara setengah berbisik.

Sarang terdiam. Jantungnya benar-benar tidak dapat dikendalikan. Ini bukan Taemin, ini bukan Taemin. Hanya kata-kata itu yang terus saja terngiang di otaknya. Terbesit di pikirannya, ada satu rasa yang berbeda yang ia rasakan pada namja ini. Tatapan mata Sarang berubah menjadi semakin dalam.

“Hahaha!” tawa Taemin terbahak.

Dengan cepat Sarang memasang posisi duduk dan memanyunkan bibirnya. Kini bukan kata ‘ini bukan Taemin’ yang berputar di otaknya. Tapi ‘Taemin, ku kutuk kau!’

“Kau terpesona padaku, Sarang? Haha! Kau tahu? Kau tidak berkedip selama aku menatapmu. Hahahaha!” Taemin tertawa sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan kanan.

“Jinjja..” geram Sarang kesal. Matanya memanas. Air mata sudah terbendung. Dirinya langsung membawa baju ganti dan masuk ke dalam kamar mandi.

Taemin menghentikan tawanya dan melihat Sarang sampai dia masuk ke dalam kamar mandi. Langsung saja kakinya berjalan cepat menuju kamar mandi Sarang dan mengetuknya.

“Sarang, kau baik-baik saja? Kau marah padaku?” tanya Taemin sambil mengetuk pintu kamar mandi Sarang beberapa kali.

“Keluar! Aku tidak ingin melihatmu!” teriak Sarang dari dalam.

“Mengapa kau seperti ini? Sensitif..” Taemin mengerutkan kedua alisnya.

“Memangnya seperti apa Sarang yang kau tahu?! Selalu tertawa? Selalu berpikiran positif? Aku tidak selalu seperti itu, Taemin!”

“Tapi ini terlalu berlebihan! Cepat ganti bajumu dan keluar!”

“Aku tidak akan keluar jika kau masih berdiri di depan pintu!” teriak Sarang kembali. Kini disertai suara isakan.

“Jangan seperti anak kecil!” Kini Taemin balas berteriak. Dirinya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ada di dalam pikiran Sarang.

“Kau ingin aku mati kedinginan, hah? Keluar! Aku tidak ingin melihatmu lagi!”

DEG!

Kini jantung Taemin benar-benar berdebar sangat keras. Sebesar itukah Sarang membencinya saat ini? Tidak masuk akal. Hanya masalah kecil dan sudah biasa terjadi.

“Baiklah, aku akan keluar!”

“Cepat pergi!!”

“Jangan harap aku akan menyapa bahkan tersenyum padamu, Choi Sarang!” ucap Taemin penuh penekanan dan sedikit bergetar. Kakinya melangkah cepat menuju pintu kamar Sarang.

Tapi tiba-tiba Sarang membuka pintu kamar mandi dan berlari kearah Taemin yang tengah membuka knop pintu kamar Sarang.

Yeoja itu memeluk punggung Taemin dengan erat dan menangis sejadi-jadinya. Taemin yang mendapat perlakuan itu hanya menundukkan kepalanya dan tidak berbuat apa-apa sebelum Sarang mengucapkan sepatah kata saja. Namja itu kebingungan.

“Jangan.. jangan pergi..” isak Sarang. Tangannya yang bergetar dapat dirasakan Taemin.

Taemin mendengus lembut dan tersenyum diam-diam lalu membalikkan badannya sampai berhadapan dengan Sarang. “Wajahmu terlihat mengkhawatirkan jika menangis,” ucapnya sambil mengangkat dagu Sarang lalu menghapus air mata Sarang dengan jemarinya lembut. Senyumnya belum terlihat di hadapan Sarang.

“Taemin, maafkan aku. Mungkin pikiranku sedang tidak beres atau apa aku sendiri tidak mengerti. Padahal aku sedang tidak datang bulan. Aku tahu aku..”

“Ssssssshhh..” potong Taemin sambil menempatkan telunjuknya di bibir Sarang. “Sarang, annyeong..” sapa Taemin. Kini senyumannya mengembang sangat manis dan terlihat tampan. “Aku sudah menyapamu dan memberimu senyuman kembali. Sudah, aku tidak bisa melihat yeoja menangis di hadapanku. Apalagi jika yeoja itu kau, Singa betina..” ujarnya sambil tertawa rendah dan mengacak rambut Sarang lembut.

Kini senyuman di bibir Sarang pun terlihat. Tapi dengan tiba-tiba Sarang kembali memeluk Taemin dengan erat. Air matanya keluar. Bahkan suara tangisan terdengar lebih keras.

“Ya, Singa betinaaaa. Apa aku mengeluarkan kata-kata yang salah? Katakan! Kata-kataku kurang romantis? Apa kurang dewasa? Apa terlalu dewasa untuk namja seusiaku? Mengapa kau kembali menangis? Jangan membuatku kebingungan seperti orang bodoh..”

“Aku menyayangimu, Bambino..” ucap Sarang. Kini jantung Taemin yang berdetak keras.

Sarang melepas pelukannya dan menatap Taemin dengan teliti. “Aku lebih menyukaimu dengan rambut merah. Ah, cepat tidur! Sudah malam.” Yeoja itu tersenyum dan menyerbu tempat tidurnya tanpa mempedulikan Taemin yang tengah berdiri mematung.

“Ya, selamat malam.” Taemin berjalan menuju pintu kamar Sarang lalu, “kalau kau ingin tahu, aku lebih menyayangimu, Sarang..”

Blam!

Diam-diam Sarang tersenyum di dalam selimutnya.

‘Aku yakin, aku tidak akan bisa tertidur malam ini. Sampai Bunda menjemput. Menjemputku untuk pergi jauh dari Korea. Pergi, aku pergi untuk kebaikan diriku sendiri juga keluarga ini. Sebelum semua terbongkar secara perlahan.’

Air mata Sarang kembali keluar dengan deras. Namun kali ini sebisa mungkin dia menahan jangan sampai suara tangisannya keluar. Karena dia yakin, sekecil apapun, Taemin akan mendengarnya.

 

*

 

“Jiyoung..”

“Jangan ganggu aku, Onnie!”

“Baiklah, aku keluar. Tapi kumohon, berhentilah menangis dan terima semua yang sudah terjadi..”

Blam!

Jiyoung kembali menangis di atas tempat tidurnya.

“Appa jahat! Mengapa Appa tidak memberitahuku sebelumnya? Bagaimana bisa.. ternyata.. Sarang adalah adik kandungku!! Aaaarrghh!!” teriaknya sambil memukul-mukul pahanya sendiri.

“Kalau begini, tidak ada harapan untuk aku mendapatkan Jinki kembali. Jadi, aku terpaksa datang melihat kebahagiaan adikku bersama orang yang sangat aku cintai, bertunangan? Tidaaak!!! Kalau seperti ini rencanaku untuk menggagalkan pertunangan mereka gagal sudah!! Semua ini salah Appaaaa!!”

Kini Jiyoung memandangi foto Jinki yang tengah merangkul dirinya sekitar dua tahun yang lalu. Memang sangat indah. Bibirnya tersenyum secara tidak sadar. Tapi tiba-tiba bayangan Sarang muncul dan merebut Jinki dari sisinya. Tangisan Jiyoung kembali meledak.

“Tidak tinggal disini saja aku sudah merasa frustasi. Apalagi nanti! Dad akan meminta Sarang untuk tinggal satu atap bersamaku? Itu gilaaaaa!”

“Jiyoung..” panggil Youngjin, ayahnya, sambil mengetuk pintu kamar Jiyoung beberapa kali.

“Aku benci Appaa!!”

“Jinki mencarimu..” lanjut Youngjin.

“Aku tahu kau berbohong! Untuk apa Jinki mencariku? Untuk memintaku agar tidak mengganggu Sarang? Hah! Aku sudah bosan!!”

“Jiyoung..”

Jiyoung terdiam. Tangisannya berhenti menjadi isakan. Pendengarannya dipertajam. Apakah benar suara yang dia dengar tadi adalah suara Jinki?

“Ini aku, Jinki..”

CKLEKK!!

BLAM!

DEG DEG DEG DEG DEG!!

Jantung Jiyoung berdetak tidak normal ketika sosok Jinki memasuki kamarnya dan duduk di sampingnya, di atas tempat tidur.

Jinki tersenyum dan menatap wajah Jiyoung secara seksama. Selintas ada kemiripan dengan Sarang pikirnya. Bagaimana bisa? Apakah dia masih tidak dapat menerima bahwa pertunangannya dengan Sarang dibatalkan? Rasa frustasi terasa sangat mengganggu, eh?

“Apa kau bersedia bertunangan denganku, Jiyoung?” tanya Jinki. Kini tidak ada tatapan benci pada Jiyoung.

Jiyoung mengerutkan keningnya. “Ah? Mengapa..”

“Kau bersedia? Hapus air matamu. Karena aku sudah menjadi milikmu kembali, Jiyoung..”

 

**

 

—Quasimodo. Play now!—

Keesokan harinya Taemin bangun lebih awal karena mendapat berita bahwa Jinki membatalkan pertunangannya dengan Sarang dan memilih Jiyoung untuk menjadi pasangannya.

Bibirnya tersenyum bahagia sambil menekan knop pintu kamar Sarang.

“Sarang..” panggilnya lembut.

Kakinya melangkah masuk dengan perlahan sambil tidak berhenti memanggil nama Sarang.

Matanya terbelalak melihat kondisi tempat tidur Sarang yang sudah rapi. Tidak biasanya sepagi ini Sarang sudah bangun.

Tanpa berpikir apapun, dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memanggil Jinki.

“Ya, Hyung! Apa Sarang sudah berada di tempat pertunanganmu?” tanya Taemin.

“Tidak. Dia tidak ada di sini. Jangan banyak bercanda, Taemin. Cepatlah datang. Aku menunggu kedatangan dari keluarga kalian. Tamu istimewa. Terutama Sarang.”

“Tapi dia tidak ada, Hyung!”

“Rumahmu sangat luas, Taemin. Berdandanlah yang tampan. Annyeong!”

“Baiklah..”

KLIK!

Taemin berkacak pinggang sambil membuang napas panjang dari mulutnya. Matanya berlarian kesana-kemari. Kedua alisnya mengerut dalam ketika menemukan secarik kertas yang tergeletak di atas meja belajar. Ada yang tidak beres, pikirnya. Tiba-tiba jantungnya berdebar. Tangannya bergetar hanya mengangkat secarik kertas yang tidak seberapa berat itu.

‘Aku tahu ini kau, Bambino. Maafkan aku, aku harus pergi. Aku sayang kalian semua. GD oppa, Minho oppa, Keybom oppa, Keybum oppa, Ummadeul, Dad dan kau, Taemin. Jaga dirimu baik-baik. Hey, jangan kau kerutkan keningmu seperti itu! Tersenyumlah jika kau mengingatku.. Terimakasih banyak atas segalanya yang telah kalian berikan untukku. Terutama kasih sayang yang kudapat sangatlah besar. Aku tidak akan melupakan kalian. With love, Sarang..’

Napas namja itu mulai berat. Kedua kakinya lemas sampai tidak bisa menahan tubuhnya. Kini Taemin terduduk lemas, menyandar di satu kaki meja belajar Sarang.

Kedua matanya sudah tidak bisa membendung air mata yang sedari tadi memberontak keluar.

“Aaaarrrggghhh!!! Saraaaaang!!!” teriaknya sambil meremas surat itu tanpa sadar. Pikirannya kacau. Yang dia pikirkan hanya Sarang telah pergi dan dia tidak tahu apa penyebabnya dan harus mencari kemana.

Kedua alisnya mengerut dalam sambil meringis karena menahan tangis. Kini jemarinya meremas rambut keemasannya dengan kuat lalu namja itu kembali berteriak. Hidupnya terasa hancur. Bagaimana bisa kakaknya yang sangat dicintai itu pergi begitu saja tanpa memberitahunya terlebih dahulu.

Dia bangkit sebisa mungkin walaupun kakinya sudah tidak dapat menopang berat tubuhnya. Air mata masih mengalir di kedua ujung matanya. Napasnya tetap sesak.

Emosinya semakin meluap ketika melihat satu foto yang terpajang di atas meja belajar milik Sarang. Foto dirinya yang tengah memeluk Sarang dari belakang dengan senyuman lepas. Diambilnya foto itu dan dipandangnya beberapa saat. Taemin menggeleng lemah. Kedua lututnya lemas.

“Sarang.. mengapa kau meninggalkanku seperti ini? Apa kau tidak tahu bahwa aku.. bahwa sebenarnya, aku..”

 

TBC ;]

About these ads

18 thoughts on “(SHINee) HELLO SMART PLAYBOY [ CHAP 11 ]

  1. ih dasar si han apa”an banget, kemana aja lo baru ngakuin sarang -.-jiyoung ama jinki, pasti taemin ama sarang/? xD yaampun sefrustasi gitu ditinggal sarang ._. aaaa penasaran nexttt xD

  2. nyesek ini mah…. :( taemin…sarang…huaaaa
    kasihan liat Taemin. *puk-puk Taem… semoga sarang bisa ditemukan mereka… ;(
    apa yang mau dibilang tamin? bahwa sebenernya dia mencintai sarang, iya, itu pasti yang mau dibilang taemin kan ya. pasti #pletak….hoaaaa ditunggu lanjutannya saeng…ditungguuu ..tbc bener-bener minta ditendang, hoaaa *gigit tembok
    hahahah..ditunggu bagian akhirnya saeng.. pokokny ditunggu …hwaiting

  3. huaaaaaaaaaaa sarang tega sekali meninggalkan mas taemin……….. Sarang balik dongggg aku suka couple taemin-sarang……. Huaaaaaaaaaa daebak unniiiiiiiii……… Lanjut yaaaaaaa :D

  4. arghhhh… thor knp hrs tbc sih… ganggu bget.. huaaaaaaaaaaa…cptan min susul sarang noh dia mau ke indo palliii… cptan.. jgn kelamaan nangisx… nti kburu ditgl pesawatx..

  5. unniiiiieeeeee T.T
    aku gatau aku yang lagi sensitif atau ini emang sedih banget tp aku nangis bacanya :'(
    sampeeeee banget di hati un , nusuk banget :'(
    chapter yang paliiiiing sedih ini pokoknyaa :(

  6. Yeay! Finnaly~ Ah. Banjir malam-malam. Pft. Ciee Taemin, sebenarnya kau mencintaiku kan?;; Mau protes dikit ya, itu kenapa adegan/? Sarang-Keybom dikit bingit? Padahal mereka kopel fav kedua setelah Taerang<3 Oke gapenting. Yang penting kutunggu capt selanjutnya eon! 12, 13, 14,…100! Taerang yi sheng yi shi~<3 FIGHTING EON~~ *berisik, unfoll*-_-

    • fayana doyannya sama part NCnya -_- sebernarnya taem pingin bilang bahwa dia mencintaiku bukan mencintai mu fay -_- /abaikan/ kalo bisa cepet juga ya thor next chapnya :3 nanti di part berikutnya taem nyusul ke INA buat jemput aku :3 /tendang -_-

  7. Waa~ Sudah di post~. Air mata nurun pelan2 setiap baca adegan Sarang bersama mantan saudaranya(?). Tapi kenapa bagian Taemin-Sarangnya sedikit? Tak apalah hehe~. Ditunggu next chap-nya, Hwaiting!

  8. Huaaaaaaaaa part ini sukses bikin aku nangis T.T padahal dari awal udah ngarep onew sama sarang akhirnya :( tapi sama taemin juga ngga apa-apa deh :D next pastnya di tunggu ^^

  9. annyeong^^
    author-nim? ini ff bagus sangatt~
    tetep lanjut yaa! ;)
    ditunggu lhoo :3

    KEEP WRITING & FIGHTING!
    *ngabur bareng jjong

  10. kyaaa thor aku suka fict kamu hehe. halo aku baru readers baru aku baca dari awal ampe sini dan baru komen di sini._.v ah di chap ini sedih banget :” taeminie terpuruk bgt kayanya, tp sarang bikin kenangan-kenangan /? yah ama GD?
    oke lanjut thorrrr

  11. BAHWA SEBENARNYA KAU MENCINTAINYA SEBAGAI SEORANG YEOJA KAN TAEMIN?!!!! AAAA BAMBINO SARANG ADA DI INDONESIA CEPAT SUSUL DIA /capslock jebol/
    Aishhh trnyata tuan Han jahat..knp ktika sarang sdh bhgia dgn hidupnya kau baru menginginkannya? errrr -_-
    Choi minseok ajhussi kau sungguh baik :’)
    Lanjutt dulu..udh mau end kn ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s